BAB IV UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN KANTOR
C. Peran Badan Pertanahan Nasional Dalam Mengatasi
Prinsip penting yang harus dipegang oleh Negara hukum adalah terjaminnya penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka. Arti merdeka disini adalah bebas dari pengaruh kekuasaan lain saat menyelenggarakan peradilan guna menegakkan keadilan. Konflik ataupun sengketa pertanahan dapat diselesaikan melalui pengadilan yaitu antara lain135:
1. Peradilan umum
Hal yang dapat disampaikan ke peradilan umum antara lain: (a)sengketa tentang kepemilikan tanah. Persengketaan tanah yang
muncul umumnya disebabkan oleh anggapan masing-masing pihak yang merasa berhak atas tanah yang dinyatakan sebagai objek sengketa;
(b)sengketa tentang keabsahan dokumen kepemilikan tanah. Sengketa ini muncul umumnya karena penerbitan hak atas tanah secara illegal;
(c)sengketa ganti rugi tanah. Persoalan pembayaran ganti rugi tanah bukanlah pekerjaan yang gampang. Selain tanah memiliki nilai ekonomis yang tinggi, tanah juga memiliki nilai religious magis. Sebagian besar masyarakat adat menganggap bahwa tanah mempunyai hubungan religious
135
magis dengan pemilik atau pihak yang mendiaminya. Hal ini yang dapat membuat sulit pelaksanaan kompensasi/ganti rugi tanah.
Sengketa pertanahan yang ada unsur tindak pidananya baik yang terdapat pada ketentuan KUHPidana maupun ketentuan dalam UUPA diajukan ke peradilan umum juga. Tindak Pidana dalam sengketa pertanahan diatur dalam sejumlah ketentuan. Kejahatan berupa penggelapan hak atas barang tidak bergerak seperti tanah, rumah dan sawah, ini biasa disebut kejahatan
stellionaat diatur dalam pasal 384 KUHP. Undang-undang Pokok Agraria
juga mengatur ketentuan tentang sengketa pertanahan yang ada unsur pidananya. Pasal 52 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria berbunyi:
(1) Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan dalam pasal 15 dipidana dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp.
10.000,-(2) Peraturan Pemerintah dan peraturan perundangan yang dimaksud dalam pasal 19, 22, 24, 26, ayat (1), 46, 47, 48, 49, ayat (3) dan 50 ayat (2) dapat memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 bulan dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 10.000,-.
(3) Tindak pidana dalam ayat (1) dan (2) pasal ini adalah pelanggaran; Masalah-masalah tersebut masuk ranah hukum pidana sehingga pembuktiannya melalui proses pemeriksaan perkara pidana di pengadilan negeri. Hukum acara pidana yang termuat dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana yaitu Undang-undang nomor 8 tahun 1981 yang dipakai. Putusan perkara pidana tersebut sifatnya hanya memberikan hukuman kepada pelaku tindak pidana, bukan menentukan kepemilikan atas tanah136.
2. Pengadilan Tata Usaha Negara
Hal yang dapat disampaikan ke Pengadilan Tata Usaha Negara adalah:
(a) sengketa atas surat keputusan Badan Pertanahan Nasional antara lain sengketa yang timbul karena ketidakcermatan Pejabat BPN, dan pejabat Negara yang terkait seperti Lurah, Camat, Walikota atau Gubernur setempat yang berwenang dalam mengeluarkan surat keterangan atas tanah ataupun surat keterangan letak tanah. Ada pula faktor kesengajaan atau ketidaksengajaan mengeluarkan surat-surat atas tanah tanpa terlebih dahulu meneliti riwayat tanah.
(b) Sertipikat palsu.
Sertipikat palsu, sertipikat aspal maupun sertipikat tumpang tindih banyak dijumpai dikalangan masyarakat. Sebagaimana diketahui sertipikat hak atas tanah adalah tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian mengenai pemilikan tanah, sehingga dengan demikian merupakan surat berharga. Karena mempunyai nilai yang tinggi baik dari aspek ekonomi, aspek hukum dan yang lainnya, maka dalam penerbitannya diperlukan suatu proses yang memerlukan waktu dan penelitian yang diperlukan sebagai upaya untuk menghindari kekeliruan.
136
(c) Sertipikat aspal (asli tapi palsu) dan sertipikat cacat hukum
Beberapa kasus mengenai sertipikat terungkap bahwa terdapat penerbitan sertipikat oleh Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya yang ternyata surat-surat bukti sebagai dasar penerbitan sertipikatnya tidak benar atau dipalsukan.
(d) Sertipikat ganda
Ini terjadi akibat kesalahan penunjukan batas oleh pemohon/pemilik sendiri waktu petugas kantor pertanahan melakukan pengukuran atau permohonan yang bersangkutan137.
Penelitian terhadap permasalahan nomor 3 dari tesis ini ditemukan data bahwa sengketa antara ‘X’ dengan Pihak ‘Y’ (yang mengklaim sebagai pemilik tanah ulayat marga Ujung), tidak disampaikan ke Kantor Pertanahan Kabupaten Dairi. Pihak ‘X’ sebagai pemilik hak atas tanah merasa bahwa haknya atas tanah tersebut telah dirampas dan merasa dirugikan, maka dilakukan pengaduan ke pihak kepolisian. Jadi sengketa pertanahan yang terjadi diproses secara pidana.
Pada awalnya pihak pemilik hak atas tanah, telah berusaha melakukan pertemuan dengan pihak yang menguasai tanah dimaksud dengan tujuan untuk menyadarkan pihak dimaksud bahwa tindakannya itu telah melanggar hukum dan harus mengembalikan/menyerahkan tanah tersebut kepada pemiliknya. Penyelesaian sengeta tanah dengan cara musyawarah / mediasi merupakan cara paling aman dalam hal penyelesaian masalah tanah, sebab permasalahan sengketa tanah ini merupakan masalah yang rumit dan sensitif sekali karena menyangkut
137
aspek-aspek kehidupan manusia, yaitu sosial, ekonomis, politis dan psikologis. Dalam proses musyawarah tidak ada pihak yang dirugikan karena pada hakekatnya hasil musyawarah adalah keputusan bersama dari semua pihak yang bersengketa, sehingga masalah tersebut dapat terselesaikan dengan baik.Tetapi ternyata pihak yang dimaksud tidak memiliki niat baik untuk menyelesaikan masalah secara musyawarah, dan tetap pada pendiriannya bahwa tanah tersebut adalah tanah milik ulayat marga Ujung. Oleh karena sikap tersebut, pihak pemilik tanah memilih penyelesaian masalah tersebut secara pidana.
Pihak ‘Y’ didakwa telah melakukan kejahatan Stellionnaat (penggelapan atas barang-barang tidak bergerak) dalam hal ini telah melanggar pasal 385 KUHP yang menyatakan barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, menjual, menukar atau menjadikan tanggungan utang sesuatu hak rakyat dalam memakai tanah pemerintah adat tanah partikulir atau sesuatu rumah, pekerjaan, tanaman atau bibit di tanah tempat orang menjalankan hak rakyat.
Dan Hakim Pengadilan Negeri Sidikalang memutuskan melalui Putusan Nomor 232/Pid.B/2011/PN.SDK bahwa ‘Y’ telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak Pidana “dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri dengan melawan hak memakai tanah di tanah orang lain menjalankan hak rakyat, sedang diketahuinya bahwa ada orang lain yang berhak atas tanah itu. Dan menjatuhkan pidana terhadap ‘Y’ dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan.
Dalam kasus ini yang mengajukan keberatan/yang merasa haknya dirugikan adalah Pihak pemilik sertipikat hak atas tanah. Pihak ‘Y’ yang mengklaim sebagai pemilik tanah ulayat marga Ujung, telah mengambil alih/ merampas tanah milik ‘X’ secara semena-mena dan dengan arogansi, tanpa memiliki alas hak. Dan tentu saja ini adalah pelanggaran dan bertentangan dengan hukum. Pengambilan tanah secara nekat dan paksa tanpa alas hak seperti okupasi
(pendudukan), intimidasi dan arogansi akan semakin meningkat bila hukum tidak ditegakkan. Hal semacam ini akan menimbulkan konflik secara horizontal yang akan meluas di tengah masyarakat.
Sesuai dengan teori hukum yang digunakan dalam tesis ini yaitu Teori Konflik yang dikemukakan Karx Marx, dimana walaupun dalam masyarakat terdapat konflik/sengketa, tetapi ada saatnya terjadi suatu penyelesaian terhadap konflik tersebut, sehingga tercipta ketertiban dalam masyarakat138. Dan juga teori Kepastian Hukum yang dikemukakan oleh Ronald Drorkin139dimana ‘X’ sebagai pemilik sah dari tanah yang diklaim masyarakat ulayat marga Ujung sebagai miliknya, telah diberikan perlindungan hukum dan kepastian hukum.
Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan dipimpin oleh Kepala. (Sesuai dengan Perpres No. 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional). Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral.
138
Bernhart Limbong,Op.Cit.,hlm 32 139
Dan sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2011 menyatakan pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan merupakan salah satu fungsi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dalam rangka menanggulangi sengketa, konflik dan perkara pertanahan guna mewujudkan kebijakan pertanahan bagi keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
Setiap kasus pertanahan yang disampaikan kepada Badan Pertanahan Nasonal maka dilakukan pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan karena hal tersebut merupakan salah satu fungsi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dalam rangka menanggulangi sengketa, konflik dan perkara pertanahan guna mewujudkan kebijakan pertanahan bagi keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan merupakan sarana untuk menyelesaikan sengketa, konflik dan perkara pertanahan dan memperkecil potensi timbulnya masalah pertanahan.
Kasus Pertanahan adalah sengketa, konflik, atau perkara pertanahan yang disampaikan kepada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia untuk mendapatkan penanganan penyelesaian sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau kebijakan pertanahan nasional.
Sertipikat sebagai tanda dan atau sekaligus alat bukti hak kepemilikan atas tanah merupakan produk hukum yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia didalamnya memuat data fisik dan yuridis. Oleh karena itu apabila ada pihak yang merasa keberatan terhadap munculnya sebuah sertipikat
atau yang merasa haknya dirugikan karena terbitnya sertipikat hak atas tanah maka dapat mengajukan keberatan atau gugatan ke pengadilan.
Apabila yang terjadi adalah sengketa tentang kepemilikan tanah, sengketa tentang keabsahan dokumen kepemilikan tanah (sengketa ini muncul umumnya karena penerbitan hak atas tanah secara illegal), maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan gugatan ke pengadilan umum, bila yang menjadi pihak tergugat adalah pemilik sertipikat, maka dalam hal ini pihak BPN kedudukannya sebagai turut tergugat. Dalam hal ini pihak BPN sebagai turut tergugat karena Pihak BPN sebagai lembaga Negara yang mengeluarkan sertipikat hak atas tanah sebagai bukti kepemilikan. Apabila yang diklaim adalah produk tata usaha Negara atau sengketa atas surat keputusan Badan Pertanahan Nasional, Sertipikat palsu, sertipikat ganda, maka dilakukan gugatan ke Pangadilan Tata Usaha Negara140.
Badan Pertanahan Nasional mengupayakan solusi penyelesaian sengketa pertanahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memperhatikan rasa keadilan dan menghormati hak dan kewajiban masing-masing pihak. Pada dasarnya langkah-langkah awal yang ditempuh adalah musyawarah. Mereka berwenang melakukan mediasi, negosiasi, dan fasilitasi terhadap pihak-pihak yang bersengketa dan menggagas kesepakatan diantara para pihak.
BPN, Kantor Wilayah BPN Provinsi, Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota menyelesaikan sengketa tanah garapan, masalah ganti rugi dan santunan tanah untuk pembangunan, masalah tanah kosong, dan masalah tanah ulayat.
140
Wawancara dengan Bapak Syafrizal Pane (Kepala seksi Hak tanah dan Pendaftaran tanah, Kantor Pertanahan Kabupaten Dairi),tanggal 11 April 2013
Pemerintah kabupaten/kota hanya sampai pada putusan penyelesaian masalah, sedangkan tindak lanjut administrasi pertanahan, tetap dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional141.
Dalam struktur organisasi kantor pertanahan, maka pengkajian dan penanganan sengketa dan konflik pertanahan merupakan bidang seksi sengketa, konflik dan perkara. Seksi bidang ini membawahi: Sub Seksi sengketa dan Konflik, Sub Seksi Perkara pertanahan.
Struktur Organisasi Kantor Pertanahan Kabupaten/ Kota, yang dipimpin oleh Kepala Kantor dalam bagan dapat dilihat sebagai berikut:
141
(Sumber: Website BPN RI, www.bpn.go.id, diakses tanggal 17 Juli 2013) Sengketa pertanahan adalah perselisihan pertanahan antara orang perorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosio politis (sesuai Keputusan Kepala BPN RI Nomor 34 tahun 2007 tentang petunjuk Teknis Pelaksanaan dan Penyelesaian Masalah Pertanahan). Sengketa dapat timbul karena adanya perbedaan/benturan nilai (cultural), perbedaan tafsir mengenai informasi, data atau gambaran objektif kondisi pertanahan setempat
(teknis), atau perbedaan/ benturan kepentingan ekonomi yang terlihat pada kesenjangan struktur pemilikan dan penguasaan tanah.
Dalam menangani dan menyelesaikan sengketa tanah , Badan Pertanahan Nasional memiliki mekanisme, diantaranya142:
1. Sengketa pertanahan biasanya diketahui oleh Badan Pertanahan Nasional dengan adanya Pengaduan;
2. Adanya pengaduan ditindaklanjuti dengan mengidentifikasi masalah untuk mengenali masalah tersebut menjadi kewenangan Badan Pertanahan Nasional atau kewenangan Instansi lainnya ;
3. Meneliti permasalahan yang menjadi kewenangan Badan Pertanahan Nasional, untuk membuktikan kebenaran pengaduan, serta menentukan apakah pengaduan yang bersangkutan beralasan untuk diproses lebih lanjut;
4. Jika hasil penelitian perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan data fisik dan administrasi serta yuridis, maka Kepala Kantor dapat mengambil langkah-langkah pengamanan berupa pencegahan mutasi (status quo). 5. Jika permasalahan bersifat strategis, maka diperlukan pembentukan tim
terpadu dari beberapa unit kerja, jika bersifat politis, sosial, ekonomis, maka tim melibatkan lembaga lain, seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Departemen Dalam Negeri, Pemerintah Daerah dan Instansi terkait lainnya;
6. Tim akan menyusun laporan hasil penelitian untuk menjadi bahan
142
http://d5er.wordpress.com/2011/01/12/strategi-penanganan-sengketa-pertanahan/, di akses tanggal 28 April 2013, Pukul 20.00 Wib.
rekomendasi penyelesaian.
Menurut Keputusan Kepala BPN RI Nomor 34 tahun 2007 tentang petunjuk Teknis Pelaksanaan dan Penyelesaian Masalah Pertanahan, konflik adalah perbedaan nilai, kepentingan, pendapat atau persepsi antara warga atau kelompok masyarakat dan atau warga atau kelompok masyarakat dengan badan hukum (privat atau publik), masyarakat dengan masyarakat mengenai status penguasaan dan atau status kepemilikan dan atau status penggunaan atau pemanfaatan atas bidang tanah tertentu oleh pihak tertentu, atau status Keputusan Tata Usaha Negara menyangkut penguasaan, pemilikan dan penggunaan atau pemanfaatan atas bidang tanah tertentu, serta mengandung aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya.
Untuk menangani dan menyelesaikan sebuah konflik pertanahan diperlukan kerangka kerja yang tepat dan efektif. Kerangka kerja tersebut dapat dibagi atas 3 (tiga) bagian yaitu pengkajian konflik, penanganan konflik, dan penyelesaian konflik. Tindakan pengkajian, penanganan, dan penyelesaian konflik pertanahan bertujuan untuk memberikan kepastian hukum akan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah di negeri yang penuh sumber daya alam ini143.
Dalam menangani konflik pertanahan, hal pertama yang harus dikerjakan oleh pihak berwenang adalah menerima pengaduan. Pengaduan adalah pemberitahuan dan atau keterangan yang disampaikan oleh pengadu kepada petugas loket tentang telah terjadi suatu peristiwa atau perbuatan yang
143
menimbulkan akibat hukum atas bidang tanah, baik bersifat teknis, administratif, perdata maupun pidana. Hal kedua yang harus dilakukan oleh pihak yang berwenang adalah mengumpulkan dan lalu mengolah data konflik yang telah ada. Lalu diupayakan musyawarah yaitu mempertemukan kedua belah pihak untuk mengklarifikasi data yang ada pada masing-masing pihak dalam upaya mengupayakan perdamaian. Perdamaian adalah kesepakatan dari para pihak untuk mengakhiri sengketanya. Apabila usaha melalui musyawarah tidak berhasil maka penyelesaian dilakukan melalui instansi yang berwenang yaitu melalui pengadilan144. Dimana BPN menfasilitasi kedua belah pihak yang bertikai untuk dicarikan jalan keluarnya. Namun jika kedua belah pihak tidak menemukan solusi dan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi di mediasi, kasus tersebut akan dilanjutkan ke pengadilan. Dan pengadilan yang akan memutuskan nantinya.
Sebuah konflik atau sengketa berkembang menjadi perkara bila pihak yang merasa dirugikan telah menyatakan rasa tidak puas atas keprihatinannya, dengan melakukan pengaduan atau gugatan melalui badan peradilan umum baik secara langsung maupun melalui kuasa hukum kepada pihak yang dianggap sebagai penyebab kerugian.
Penanganan kasus pertanahan dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum atas penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah. Penanganan kasus pertanahan tersebut untuk memastikan tidak terdapat tumpang
144
Lihat Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2011 tentangpengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan.
tindih pemanfaatan, tumpang tindih penggunaan, tumpang tindih penguasaan dan tumpang tindih pemilikan tanah145.
D. Peran Lembaga Adat Sulang Silima Dalam Menangani Sengketa