• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencegahan Kecelakaan

3. Praktik atau Tindakan (Practice)

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, alih fungsi lahan pertanian merupakan masalah yang krusial dan merupakan fenomena yang banyak terjadi pada saat ini dalam pemanfaatan lahan. Perubahan alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan kelapa sawit ini antara lain disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan pembangunan sehingga mengakibatkan semakin tinggi dan bertambahnya permintaan dan kebutuhan terhadap lahan yang dipergunakan untuk menyelenggarakan kegiatan, baik yang bergerak dalam sektor pertanian dan non pertanian, serta rendahnya nilai ekonomi lahan pertanian yang memicu para petani untuk menjual lahan pertanian dan beralih menjadi perkebunan kelapa sawit. Mereka merasa tidak mendapat keuntungan ekonomis dari lahan pertaniannya, sehingga pergeseran lahan beralih ke aktivitas non pertanian yang lebih menguntungkan seperti alih fungsi lahan pertanian yang beralih menjadi tanaman kelapa sawit ( Saili dan Purwadio, 2012).

Perubahan alih fungsi lahan dari pertanian menjadi aktivitas non pertanian sudah banyak terjadi di daerah-daerah, khususnya di daerah Sumatera Utara. Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara selalu menunjukkan pertumbuhan yang positif, dan menjadi pusat perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan menyerap banyak tenaga kerja. Perkebunan kelapa sawit yang ada di daerah Sumatera Utara bergerak dalam sektor formal maupun informal, dan sudah menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat di daerah Sumatera Utara.

2

Dengan banyaknya perubahan alih fungsi lahan pertanian menjadi aktivitas non pertanian seperti tanaman kelapa sawit, dan perkembangan perkebunan yang berskala besar, serta penerapan teknologi yang semakin berkembang maka alat-alat yang digunakan sudah semakin canggih dan serba modern, sehingga dapat menimbulkan efek negatif bagi para pekerja jika tidak digunakan sesuai dengan prosedur. Untuk menghindari efek negatif bagi tenaga kerja, maka diperlukan keselamatan dan kesehatan kerja bagi petani tersebut. Karena pertumbuhan industri yang semakin pesat, harus diseimbangkan dengan upaya keselamatan dan kesehatan kerja dan pencegahan terhadap masalah – masalah keselamatan dan kesehatan kerja yang mungkin terjadi terhadap petani kelapa sawit khususnya di sektor informal yang masih kurang diperhatikan keselamatan dan kesehatan kerjanya ( Sinaga dan Hendarto,2012).

UUD 1945 pasal 27 ayat 2 mencantumkan kewajiban Negara menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Demikian juga sebagai anggota ILO, Indonesia telah meratifikasi konvensi ILO yang substansinya adalah memberikan perlindungan kepada tenaga kerja yang karena posisinya cenderung berada di pihak lemah. Indonesia memiliki seperangkat undang-undang, kepres, dan keputusan menteri beserta aturan pelaksanaannya untuk maksud tersebut. Tujuannya memberikan perlindungan agar pekerja terhindar dari kesewenang-wenangan, sehingga mereka dapat bekerja dengan tenang di bidangnya tanpa dihantui rasa ketakutan dan kekhawatiran dalam menjalankan tugasnya (Ghani,2003).

Pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja bagi para pekerja ini juga telah diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003, yang menegaskan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja (pasal 86, ayat (1). Upaya keselamatan dan kesehatan yang dimaksud untuk meningkatkan derajat kesehatan pekerja atau buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, dan pengendalian bahaya di tempat kerja yang dimaksudkan dalam pasal 86 ayat 2 UU No. 13 Tahun 2003.

Keselamatan kerja merupakan keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahkan dalam proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya, serta cara-cara melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja mencakup segala tempat kerja, baik di darat, didalam tanah, di permukaan air, didalam air, maupun di udara. Keselamatan kerja merupakan sarana untuk mencegah kecelakaan, cacat, dan kematian akibat dari kecelakaan kerja

(Suma’mur, 2009).

Perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu ekspor andalan bagi Indonesia yang dapat menghasilkan keuntungan bagi Negara Indonesia, dan merupakan salah satu sarana yang dijadikan oleh pemilik modal untuk mendapatkan keuntungan yang besar dengan cara melakukan sistem kerja buruh harian lepas. Karena, sektor perkebunan merupakan salah satu sektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Di daerah Sumatera Utara, petani atau buruh- buruh perkebunan kelapa sawit ini tidak mendapatkan perlindungan sosial dari pengusaha yang memperkerjakan mereka. Mereka di upah dengan gaji yang

4

sedikit, dan resiko yang mereka hadapi dalam setiap proses pekerjaannya ditanggung sendiri. Pekerja atau buruh perkebunan sangat rentan mengalami kecelakaan dalam melaksanakan pekerjaannya sehingga harus ada jaminan yang diberikan pengusaha terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pekerja atau buruhnya ( Riyanto,2012).

Di dalam Undang-undang No. 03 Tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja sudah dijelaskan bahwa pengusaha wajib melaporkan kecelakaan kerja yang menimpa tenaga kerja kepada kantor Departemen Tenaga Kerja, tetapi peraturan tersebut tidak diindahkan oleh para pengusaha khususnya yang bergerak di sektor informal dimana para buruhnya sering menjadi korban kecelakaan kerja

(Suma’mur,2009).

Perkebunan kelapa sawit pada umumnya merupakan komoditi perkebunan yang selalu dilakukan oleh perusahaan yang besar baik oleh pemerintah maupun swasta. Karena, perkebunan kelapa sawit membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk membangun perkebunan kelapa sawit. Kebutuhan teknologi yang canggih juga diperlukan untuk pengolahan kebun dan pemeliharaan perkebunan kelapa sawit yang membuat para petani tidak mampu menguasainya dan memilih untuk menjadi buruh kelapa sawit ( Siti, 2011).

Mengingat kecelakaan kerja yang terjadi tidak hanya di sektor formal, maka upaya keselamatan dan kesehatan kerja di sektor informal juga penting untuk diperhatikan. Seperti halnya disektor kerja perkebunan, umumnya kecelakaan kerja disebabkan oleh kesalahan sikap Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menggunakan alat seperti egrek, bahan kimia, dimana Sumber Daya

Manusia (SDM) yang pendidikannya relatif rendah, kurang menyadari adanya ancaman kecelakaan kerja yang mungkin terjadi akibat sikap kurang hati-hati, merasa mampu dan tahu, bekerja di luar wewenang, suka mengambil jalan pintas, bekerja dengan kurang peralatan, dan lain-lain. Dalam penelitian ini pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja yang dibahas khususnya pada petani kelapa sawit sektor informal yang berhubungan dengan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) (Nurdin, 2002).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Khamdani (2009) terhadap 80 responden diperoleh bahwa hasil uji chi square diketahui nilai p value pengetahuan yaitu sebesar 0,001 (p<0,05), sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan pemakaian alat pelindung diri pestisida semprot pada petani di Desa Angkatan Kidul Pati tahun 2009. Sikap p=0,001 (p<0,05), sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan antara sikap dengan pemakaian alat pelindung diri pestisida semprot pada petani di Desa Angkatan Kidul Pati tahun 2009.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan ke lapangan, kebun kelapa sawit yang terletak di Dusun Binasari, Kec. Angkola Selatan, Kab. Tapanuli Selatan. Masyarakat sekitar bekerja sebagai petani untuk mengurus tanaman kelapa sawit tersebut, mulai dari merawat bibit kelapa sawit, menanam kelapa sawit, membersihkan lahan sekitar pohon, pemeliharaan tanaman kelapa sawit, pemupukan, penyemprotan hama, panen, mulai dari mendodos hasil panen, kemudian mengumpulkan Tandan Buah Segar (TBS), dan memasukkannya kedalam gerobak dorong untuk membawa Tandan Buah Segar TBS tersebut.

6

Dalam melakukan pekerjaannya hanya sebagian petani yang memakai Alat Pelindung Diri (APD) seperti : ada sebagian petani yang memakai topi, sepatu boot, pakaian pelindung, menggunakan masker dan sarung tangan. Seringkali dalam melakukan pekerjaannya tidak sedikit para petani kelapa sawit mengalami kecelakaan kerja seperti : kakinya terkena duri, kulitnya tergores akibat sering tidak memakai pelindung badan, terkena jatuhan buah karena tidak memakai pelindung kepala pada saat bekerja.

Dokumen terkait