Lampung Timur merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata – rata 50 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 5.325,03 km2. Berdasarkan posisi geografisnya, Kabupaten Lampung Timur memiliki batas – batas: Utara Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Tulang Bawang; Selatan Kabupaten Lampung Selatan; Timur Laut Jawa; Barat Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah. Wilayah Kabupaten Lampung Timur, serta terdapat dua buah sungai utama, yaitu sungai Way Sekampung dan Way Seputih (Badan Pusat Statistik, 2020). Sungai – sungai tersebut bermuara di perairan Labuhan Maringgai dan digunakan untuk berbagai kegiatan oleh masyarakat.
Labuhan Maringgai merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lampung Timur dan salah satu pangkalan pendaratan ikan di Kabupaten Lampung Timur yang telah memiliki pelabuhan perikanan pantai (PPP). Selain itu perairan Labuhan Maringgai juga digunakan untuk berbagai kegiatan yaitu perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan pariwisata (Damora dan Nurdin, 2016). Dari potensi sumber daya alam di perairan tersebut dihasilkan sumber daya perikanan yang berlimpah dengan berbagai macam komoditas ikan laut maupun kerang segar yang di tangkap di wilayah perairan Labuhan Maringgai.
pemanfaatan komoditas laut oleh masyarakat dapat membahayakan kualitas komoditas laut akibat adanya potensi pencemaran. Pembuangan limbah industri ke laut, tumpahan minyak dari transportasi laut akibat aktivitas pelabuhan maupun logistik industri, dan limbah yang berasal dari darat menuju laut melalui sungai mengakibatkan pencemaran logam sehingga menurunkan kualitas perairan (Triantoro et al., 2017). Menurut Rizky Amalia et al (2014) pencemaran lingkungan mayoritas terjadi di lingkungan laut karena perairan ini merupakan tempat bermuaranya sungai dan tempat berkumpulnya zat-zat pencemar yang terbawa oleh aliran sungai.
Logam berat adalah salah satu polutan yang mungkin berasal dari aktivitas alam dan manusia dan bisa menjadi masalah / ancaman serius karena toksisitasnya, persistensi yang lama, dan bioakumulasi serta biomagnifikasi logam dalam rantai makanan. Logam berat dapat bereaksi dengan berbagai kandungan air lingkungan dan dapat berasosiasi dengan berbagai fase geokimia dalam sedimen. Spesiasi geokimia dan distribusi logam dalam fraksi kimia yang ditentukan juga telah digunakan dalam memprediksi kontaminasi potensial, ketersediaan hayati, dan mobilitas (Khan Iftikhar et al., 2018).
Logam berat tidak dapat terurai oleh organisme hidup dan dapat terakumulasi pada lingkungan, sehingga mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks dengan bahan organik dan anorganik dengan adsorpsi dan kombinasi.
Logam berat di perairan dipengaruhi oleh pola arus. Aliran air
3
menyebabkan logam berat yang terlarut di permukaan air laut dapat menyebar ke segala arah. Keberadaan logam berat dalam air tidak baik untuk kerang karena logam berat terikat pada jaringan lendir. Kondisi ini akan semakin meningkatkan jumlah lendir yang dikeluarkan, sehingga dengan sendirinya kemampuan respirasi dan filtrasi akan menurun, serta jumlah oksigen dan makanan yang dapat diserap oleh kerang semakin berkurang. Berdasarkan sifat akumulator tinggi terhadap logam berat, kerang digunakan sebagai sampel untuk pemantauan pencemaran logam berat di lingkungan perairan (Rahmatsyah et al., 2018)
Kerang merupakan salah satu sumberdaya laut yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan yang mengandung gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi (Indrawan Gede et al., 2018). Masuknya logam berat ke dalam tubuh kerang dapat berdampak negatif pada organisme tersebut dan juga kepada manusia yang mengkonsumsi kerang tersebut. Mengonsumsi makanan berbahan Timbal dalam jumlah besar, menyebabkan kesulitan belajar, keterbelakangan mental dan kerusakan ginjal. Akibat yang timbul dalam jangka waktu lama pada akumulasi logam Mangan yang sudah melewati baku mutu adalah dapat
mengakibatkan gangguan neurologis permanen (Kamaruzzaman et al., 2011).
Menurut Prabowo et al (2016) mengonsumsi makanan berbahan Kadmium bisa menimbulkan rasa sakit, panas pada bagian dada, penyakit paru - paru akut dan menimbulkan kematian.
Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan analisis kandungan logam berat Timbal (Pb), Kadmium (Cd), dan Mangan (Mn) dan pada kerang darah (Anadara
granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquate) di perairan Labuhan Maringgai.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menentukan kadar logam berat Pb, Cd, dan Mn pada kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan Labuhan
Maringgai Kabupaten Lampung Timur dengan menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) dan mengetahui kelayakan kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan Labuhan Maringgai untuk dikonsumsi berdasarkan kandungan logam berat dalam dagingnya.
2. Mengetahui tingkat pencemaran logam berat Pb, Cd, dan Mn kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur.
C. Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah sebagai salah satu sumber informasi untuk mengetahui tingkat pencemaran logam berat Pb, Cd, dan Mn pada kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan
Labuhan Maringgai Kabupaen Lampung Timur sehingga dapat dijadikan masukan bagi masyarakat, industri, serta pemerintah daerah dalam mengelola kegiatan rumah tangga atau industri yang berwawasan lingkungan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Labuhan Maringgai
Berdasarkan posisi geografisnya, Kecamatan Labuhan Maringgai memiliki batas- batas: Utara – Kecamatan Braja Selebah dan Taman Nasional Way Kambas;
Selatan – Kecamatan Pasir Sakti dan Gunung Pelindung; Timur – Laut Jawa;
Barat – Kecamatan Melinting, Bandar Sribawono dan Mataram Baru. Kecamatan Labuhan Maringgai memiliki Lima pulau, yaitu Segama Besar, Segama Kecil, Pulau Gosong/Sekopong, Batang Kecil, dan Batang Besar. Terdapat juga enam buah sungai utama, yaitu Sungai Nibung, Sungai Perigi, Way Curup, Way Jepara, Sungai Alam dan Sungai Kuala Penet (Lampung Timur Dalam Angka, 2019).
Peta Labuhan Maringgai dapat dilihat pada Gambar 1.
Labuhan Maringgai
Gambar 1. Labuhan Maringgai, Lampung Timur (BPS Kabupaten Lampung Timur, 2018).
Kegiatan utama di wilayah perairan Labuhan Maringgai meliputi perikanan tangkap, perikanan budidaya (tambak udang) dan pelabuhan perdagangan ikan.
Aktivitas perekonomian, pariwisata, dan pemukiman menyebabkan timbulnya banyak pencemaran yang akan merusak lingkungan apabila pengelolaan dan pengawasan tidak dilakukan dengan baik. Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan di uji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis.
B Pencemaran Lingkungan
Permasaahan lingkungan di negara berkembang seperti Indonesia berbeda dengan permasalahan lingkungan di negara maju. Masalah lingkungan di Indonesia disebabkan keterbelakangan pembangunan (Adhriana, 2017). Menurut Rochmani (2015) berbagai masalah lingkungan di Indonesia berakibat pada penurunan kualitas lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pencemaran lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan pada UU No. 32 tahun 2009.
7 7
Berdasarkan cara masuknya ke dalam lingkungan, polutan dikelompokkan menjadi 2 yaitu sebagai berikut :
1. Polutan alamiah adalah polutan yang masuk ke dalam lingkungan secara alami, misalnya akibat letusan gunung berapi.
2. Polutan antropogenik adalah polutan yang masuk ke lingkungan akibat aktivitas manusia, misalnya kegiatan domestik (rumah tangga), dan kegiatan industri.
C Pencemaran Perairan oleh Logam Berat
Air adalah kebutuhan dasar bagi manusia dan organisme lain. Manusia membutuhkan air seperti air minum, mandi, cuci, pertanian, sanitasi, dan transportasi. Selain itu, manusia juga menggunakan air untuk mendukung kegiatan industri dan teknologi. Air juga sangat penting sebagai habitat bagi organisme yang hidup di perairan seperti ikan, rumput laut, udang, dan lainnya.
Masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air termasuk jumlah air yang tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan dan penurunan kualitas air.
Menurunnya kualitas air disebabkan oleh polusi. Polusi air adalah pencemaran air karena masuknya zat asing dalam jumlah yang melebihi daya dukung air. Salah satu zat yang menyebabkan polusi adalah logam berat (Dian, 2020).
Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 01 tahun 2010, air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia dan apabila air sudah tercemar logam – logam berbahaya akan mengakibatkan hal yang buruk bagi kehidupan lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga
melampaui baku mutu air. Logam berat adalah bahan beracun yang dapat menyebabkan kerusakan pada organisme akuatik. Sumber pencemaran logam sebagian besar berasal dari pertambangan, peleburan logam, industri lainnya, dan juga dapat berasal dari limbah domestik yang menggunakan logam, serta lahan pertanian yang menggunakan pupuk yang mengandung logam (Lestari dan Trihadiningrum, 2019).
Rahmatsyah et al (2018) menyatakan tinggi rendahnya kadar logam berat dalam suatu perairan tidak hanya dipengaruhi oleh keterpencilan pantai, tetapi juga sangat bergantung pada kondisi air laut setempat. Banyak logam yang bersifat toksik dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut. Jika pencemaran air karena logam terjadi maka organisme pertama yang terpengaruh akibat
penambahan polutan logam ke perairan adalah organisme dan tumbuhan yang tumbuh di perairan atau habitat tertentu. Dalam tubuh makhluk hidup, logam mengalami biokonsentrasi dan bioakumulasi sehingga kadar logam di dalam tubuh makhluk hidup lebih besar daripada di lingkungan perairan. Logam juga mengalami biomagnifikasi, kadarnya semakin meningkat dengan peningkatan posisi organisme pada rantai makanan. Karena interaksi antar organisme di dalam suatu ekosistem maka dampak dari limbah logam tersebut pada akhirnya akan sampai pada hierarki rantai makanan tertinggi yaitu manusia (Susanto dan Fahmi, 2012).
9 9
D. Logam Berat
Logam berat diklasifikasikan menjadi tiga kategori berdasarkan toksisitasnya:
berpotensi beracun (contoh, arsenik, kadmium, timbal), kurang beracun (nikel) dan esensial (tembaga, seng, mangan). Logam esensial juga dapat menghasilkan efek toksik bila melebihi ambang batas atau terkandung dalam tubuh dengan konsentrasi rendah pada jangka waktu lama (Salimullah et al., 2014). Adapun sifat-sifat logam berat adalah sebagai berikut :
1. Sulit didegradasi sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).
2. Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan yang dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut.
3. Mudah terakumulasi di sedimen sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi logam di dalam air.
4. Mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu.
Logam berat biasanya ditemukan sangat sedikit dalam air secara alami yang kurang dari 1 µg. Tingkat konsentrasi logam dalam air dibagi sesuai dengan tingkat polusi, seperti polusi berat, polusi sedang, dan non-polusi. Air yang mengalami polusi berat biasanya memiliki kandungan logam berat yang tinggi di dalam air dan organisme yang hidup di dalamnya. Pada tingkat polusi sedang, kandungan logam berat dalam air dan organisme dalam air berada dalam batas marginal. Adapun pada tingkat nonpolusi, kandungan logam berat dalam air dan
organisme sangat rendah dan bahkan tidak terdeteksi (Lestari dan Trihadiningrum, 2019). Sumber dan efek toksikologi logam berat dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Sumber dan efek toksikologi logam berat (Kamaruzzaman et al., 2011).
Logam Berat Sumber Efek
Tembaga (Cu) Kegiatan pengiriman, Pestisida dan Insektisida
Anemia,
radang sendi, insomnia, pembesaran hati, dan masalah jantung Kromium (Cr) Baja dan tekstil industri Masalah pernapasan,
sistem kekebalan yang melemah, kerusakan hati, ginjal, dan kanker paru-paru Nikel (Ni) Elektroplating dan Sakit kepala,
industri baterai nyeri dada
dan kanker paru-paru Timbal (Pb) Kegiatan pengiriman,
baterai dan cat
Kesulitan belajar, keterbelakangan mental dan kerusakan ginjal Arsen (As) Aktivitas pengiriman Kanker kulit
Seng (Zn) Pembuatan cat dan limbah Kelesuan Mangan (Mn) Industri pembuatan cat
dan farmasi
Gangguan neurologis permanen
Logam berat dapat masuk ke tubuh organisme perairan melalui insang,
permukaan tubuh, saluran pencernaan, otot dan hati. Logam berat tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh organisme perairan (Azaman et al., 2015). Indirawati (2017) menyatakan logam berat tidak dapat terurai (persisten) dan dapat
terakumulasi melalui rantai makanan (bioakumulasi), dengan efek jangka panjang
1 1 11
yang merugikan pada makhluk hidup. Maka semakin tinggi tingkatan rantai makanan yang ditempati oleh suatu organisme, akumulasi logam berat di dalam tubuhnya juga semakin bertambah. Dengan demikian manusia yang merupakan konsumen puncak, akan mengalami proses bioakumulasi logam berat yang besar di dalam tubuhnya.
1. Timbal (Pb)
Timbal merupakan unsur yang terbanyak di alam, timbal sebagai logam berat yang nampak mengkilap ketika baru dipotong. namun, akan menjadi buram jika terjadi kontak dengan udara terbuka (Yatimah, 2014). Beberapa sifat fisik logam Pb dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Sifat Fisik Logam Timbal (Pb)
Nomor atom 82
Densitas (g/cm3) 11,34
Titik lebur (oC) 327,46
Titik didih (oC) 1,749
Kalor fusi (kJ/mol) 4,77
Kalor penguapan (kJ/mol) 179,5
Kapasitas panas pada 250 C (J/mol K) 26,650 Konduktivitas termal pada 300 K (W/m K) 35,5 Ekspansi termal pada 250 C (μm/m K) 28,9 Kekerasan (skala Brinell = Mpa) 38,3
Logam Pb termasuk ke dalam logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia. walaupun bersifat lunak dan lentur, timbal sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas dan asam (Fernanda Lidya, 2012). Timbal merupakan jenis logam yang lunak, mempunyai titik lebur yang rendah, tahan terhadap karat, memiliki kerapatan yang besar, dan merupakan penghantar listrik yang baik. Banyak logam berat baik yang bersifat toksik
maupun esensial terlarut dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut (Supriyantini et al., 2017).
Timbal adalah logam berat yang manfaatnya tidak diketahui untuk organisme air.
Namun, jumlah timbal diatas ambang batas dapat mengganggu kelangsungan hidup organisme akuatik dan juga manusia (Yolanda et al., 2017). Efek kesehatan akut akibat kandungan Timbal (Pb) dapat menyebabkan gangguan pencernaan, kerusakan hati dan ginjal, hipertensi dan efek neurologis yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan kematian. Sedangkan efek kronisnya adalah terjadinya
penumpukan pada pada organ manusia.
2. Kadmium (Cd)
Kadmium (Cd) adalah logam putih-silver yang lunak. Pada tabel periodik, kadmium berada di bawah seng (Zn) dan di atas raksa (Hg). Bilangan oksidasi yang mungkin terbentuk dari kadmium adalah 0 dan + 2. Beberapa sifat fisik logam Cd dapat dilihat pada Tabel 3.
1 3 13
Tabel 3. Sifat fisik Kadmium (Cd)
Nomor atom 48
Kadmium yang ada di air berasal dari berbagai proses yaitu masuk ke dalam perairan karena adanya proses erosi tanah, pelapukan batuan induk. Kadmium lebih banyak masuk ke dalam air karena kegiatan manusia seperti perindustrian dimana limbah hasil dari pabrik tersebut dibuang langsung ke dalam perairan yang akan terakumulasi di dasar perairan yang membentuk sedimen. Cd juga dapat masuk ke dalam organisme yang hidup di air dimana Cd dapat masuk melalui oral, inhalasi atau dermal (Indirawati, 2017).
Kadmium dapat memasuki perairan melalui berbagai aktivitas manusia seperti kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga. Diperairan, toksisitas kadmium akan lebih tinggi pada salinitas rendah. Hal ini dikarenakan pada salinitas rendah akan menyebabkan peningkatan konsentrasi kation Cd bebas sehingga
menurunkan pembentukkan molekul komplek anorganik maupun organik. Kation Cd bebas akan masuk ke dalam tubuh organisme sehingga meningkatkan
toksisitas. Kenaikan toksisitas juga dapat disebabkan karena adanya perubahan kemampuan osmotik dan regulasi ionik pada salinitas rendah (Baloch et al., 2020). Kadmium sangat berbahaya memiliki bahaya yang sama dengan raksa.
Semua senyawa kadmium berpotensi berbahaya dan beracun. Keracunan
kadmium bisa menimbulkan rasa sakit, panas pada bagian dada, penyakit paru - paru akut dan menimbulkan kematian (Prabowo et al., 2016)
3. Mangan (Mn)
Mangan (Mn) merupakan logam komponen penyusun dari sebuah baja yang berfungsi untuk mengurangi sifat rapuh karena panas dan meningkatkan kekakuan pada baja, dimana baja adalah komponen penting pada suatu mesin produksi (Binudi, 2014). Mangan adalah suatu unsur kimia yang mempunyai nomor atom 25 dan memiliki simbol Mn. Mangan ditemukan oleh Johann Gahn pada tahun 1774 di Swedia. Logam mangan berwarna putih keabu-abuan dan berbentuk padat dalam keadaan normal. Mangan termasuk logam berat dan sangat rapuh tetapi mudah teroksidasi. Mangan adalah elemen pertama dari golongan 7B, memiliki titik lebur yang tinggi kira-kira 1250 oC. Mangan bereaksi dengan air hangat membentuk mangan (II) hidroksida dan hidrogen (Gabriel, 2001).
Beberapa sifat fisik logam Mn dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Sifat Fisik Logam Mangan (Mn)
Nomor atom 25 Titik lebur (K) 1519 Titik didih (K) 2334 Densitas (g/cm3) 7.21 Kalor fusi (kJ/mol) 12.91 Kalor penguapan (kJ/mol) 221 Kapasitas panas pada 25
o
C (J/mol.K) 26.32 Energi ionisasi (kJ/mol) 1.55
1 5 15
Adanya Mangan (Mn) dalam perairan dengan konsentrasi yang relatif tinggi, dapat meracuni kehidupan organisme perairan, sedangkan dalam konsentrasi yang relatif rendah, akan diserap oleh organisme perairan tingkat rendah, seperti plankton yang kemudian terakumulasi di dalam plankton. Apabila logam Mn tersebut terakumulasi dalam tubuh manusia, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius seperti gangguan syaraf otak pada anak-anak, gangguan ginjal yang akut, dan dapat menyebabkan kematian (Palar H, 1994).
E. Kerang
Perkembangan industri telah menimbulkan potensi pencemaran faktor
antropogenik seperti limbah pelabuhan, limbah industri, limbah rumah tangga yang menyebabkan kerusakan biota laut, termasuk kerang. Kelimpahan polutan merupakan ancaman serius bagi konservasi hewan laut seperti kerang.
Kerang adalah hewan yang makan dengan filter, yang memakan plankton di perairan. Biasanya hidup di perairan dengan lumpur berpasir atau menempel pada substrat yang keras seperti batu atau kayu. Kelarutan dari polutan pada badan air dikendalikan oleh jenis, konsentrasi logam, komponen mineral yang teroksidasi.
Komponen logam berat di dalam air dapat dipengaruhi oleh parameter oseanografi antara lain (Rahmatsyah et al., 2018).
Menurut Mahmudi dan Musa (2015) Kerang hidup dan tumbuh lebih lama di perairan yang tercemar akumulasinya akan semakin tinggi. Logam berat yang ada pada perairan, suatu saat akan turun dan mengendap pada dasar perairan,
membentuk sedimentasi dan hal ini akan menyebabkan biota laut yang mencari
makan di dasar perairan (seperti udang, kerang, dan kepiting) akan memiliki peluang yang sangat besar untuk terkontaminasi logam berat tersebut. Jika biota laut yang telah terkontaminasi logam berat tersebut dikonsumsi, dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia.
1. Kerang Darah (Anadara granosa)
Kerang darah, kerang dagu, kopiri atau kosa yang dikenal sebagai cockle adalah sekelompok kerang yang memiliki belahan cangkang yang sama melekat satu sama lain pada batas cangkang. Cangkang berukuran sedikit lebih panjang dibanding tingginya tonjolan (umbo). Setiap belahan cangkang memiliki 19 - 23 cm. Lapisan luar cangkang umumnya berwarna putih, berselaputkan suatu lapisan berwarna kecokelatan. Pada spesies Anadara granosa, jalur - jalur radier terputus - putus. Kerang darah hidup terbenam dibawah permukaan tanah pada kedalaman perairan 0 - 1 m, serta memiliki substrat pasir berlumpur. Pertumbuhan kerang darah tergolong lambat,hanya 0,098 mm/hari. Kerang darah memakan makanan dengan cara menyaring (filter feeder) (Ghufran, 2011).
Klasifikasi dari kerang darah Anadara granosa L. adalah sebagai berikut (Saxena, A, 2005):
Phylum : Molusca Class : Bivalvia Ordo : Taxodonta 22 Familia : Arcidae Genus : Anadara
Spesies : Anadara granosa Linneaus.
1 7 17
Gambar 2. Kerang darah (Anadara granosa) (Azis Y et al., 2015).
Kerang merupakan indikator pencemaran dalam perairan, ini dikarenakan sifat hidupnya yang sesil (menetap) dan cara pengambilan makanannya dengan hanya menyaring makanan (filter feeding) yang terlarut dalam air. Kerang hanya
memperoleh makanan dari benda-benda yang terhanyut dalam air. Hal ini sangat memungkinkan untuk mengakumulasi pencemaran di air khususnya pencemaran logam berat. Selain makanannya hanya yang terhanyut dalam air ditunjang pula oleh proses pernafasannya yang menggunakan insang. Kerang memperoleh oksigen lewat air yang masuk ke dalam insang yang apabila mengandung logam berat, maka secara otomatis logam berat tersebut dapat terakumulasi di dalam tubuh kerang (Eka Apriyanti, 2018).
2. Kerang Bulu (Anadara antiquata)
Kerang bulu merupakan salah satu biota laut yang termasuk ke dalam famili arcidae. Kerang bulu hidup di laut tropis seperti Indonesia, terutama di perairan pantai dan melekatkan diri secara tetap pada benda-benda keras yang ada di sekelilingnya.
Menurut Suwigyo (2002), kerang bulu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Bivalvia Ordo : Taxodanta Family : Arcidae Genus : Anadara
Spesies : Anadara antiquata
Gambar 3. Kerang Bulu
Kerang bulu termasuk dalam subkelas Lamellibranchia dimana filamen insang memanjang dan melipat dan juga termasuk jenis hewan herbivora. Makanan utamanya adalah plankton, alga, rumput laut dan sponge. Juvenil Anadara antiquata tumbuh pesat bila mendapatkan makanan yang melimpah di sekitar daerah bersubstrat dan berlumpur (Suwigyo 2002). Menurut Yennie dan Murtini (2005) kerang merupakan biota yang potensial terkontaminasi logam berat karena sifatnya yang fillter feeder. Kerang dapat mengakumulasi logam lebih besar dari pada hewan air lainnya karena sifatnya yang menetap, lambat untuk dapat
menghindarkan diri dari pengaruh polusi, dan mempunyai toleransi yang tinggi
1 9 19
terhadap konsentrasi logam tertentu (Pagoray H, 2001).
F. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) merupakan teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi unsur logam dan metaloid dengan konsentrasi sangat kecil (ppm) dan ultratrace (ppb) (Settle, 1997). Spektrofotometer Serapan Atom didasarkan pada proses penyerapan radiasi sumber oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar. Proses penyerapan energi terjadi pada panjang gelombang yang spesifik dan karakteristik untuk setiap setiap unsur. Proses penyerapan tersebut menyebabkan atom penyerapan tereksitasi, di mana elektron dari kulit atom berpindah ke tingkat energy yang lebih tinggi. Banyaknya
intensitas radiasi yang diserap sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat penyerapan radiasi atau (absorbansi) atau mengukur radiasi yang
diteruskan (transmitansi), maka konsentrasi unsur di dalam cuplikan dapat ditentukan.
Analisis logam ini didasarkan pada banyaknya sinar yang diserap berbanding lurus denga kadar zat, oleh karena yang mengadsorbsi sinar adalah atom maka ion dan senyawa logam harus diubah menjadi bentuk atom. Perubahan bentuk ion menjadi bentuk atom dilakukan dengan suhu tinggi melalui pembakaran. Unsur logam dilepaskan dari jaringan daging contoh dengan cara digesti kering
(pengabuan). Logam dalam abu selanjutnya diikat dalam asam klorida (HCl) 6 M dan asam nitrat (HNO3) 0,1 M. Larutan yang dihasilkan selanjutnya diatomisasi menggunakan graphite furnace. Atom - atom unsur logam berinteraksi dengan sinar dari lampu logam. Interaksi tersebut berupa serapan sinar yang besarnya