• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Proposal Penelitian Mandiri) Oleh. Diky Hidayat, S.Si., M.Sc. NIDN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "(Proposal Penelitian Mandiri) Oleh. Diky Hidayat, S.Si., M.Sc. NIDN"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN KANDUNGAN LOGAM BERAT Pb, Cd, DAN Mn PADA KERANG DARAH (Anadara granosa) DAN KERANG BULU (Anadara

antiquata) DI PERAIRAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER

SERAPAN ATOM

(Proposal Penelitian Mandiri)

Oleh

Diky Hidayat, S.Si., M.Sc.

NIDN 0009067406

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2021

(2)
(3)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ...i

DAFTAR TABEL ...iii

DAFTAR GAMBAR...iv

I. PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Tujuan Penelitian ...4

C. Manfaat Penelitian ...4

II. TINJAUAN PUSTAKA ...5

A. Labuhan Maringgai ...5

B. Pencemaran Lingkungan ...6

C. Pencemaran Perairan oleh Logam Berat ...7

D. Logam Berat ...9

1. Timbal...11

2. Kadmium ...12

3. Mangan ...14

E. Kerang ...15

1. Kerang Darah (Anadara granosa)...16

2. Kerang Bulu (Anadara antiquata) ...17

F. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) ...19

G. Validasi Metode Analisis...23

III. METODE PENELITIAN ...27

A. Waktu dan Tempat ...27

B. Alat dan Bahan...27

(4)

C. Prosedur Kerja ...28

1. Pembuatan Larutan ...28

2. Metode Pengambilan Sampel...28

3. Preparasi Sampel serta Penentuan Kadar Pb, Cd dan Mn ...29

4. Pembuatan Kurva Kalibrasi ...30

5. Validasi Metode ...32

DAFTAR PUSTAKA...34

(5)

3 iii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Sumber dan efek toksikologi logam berat ... 10

Tabel 2. Sifat Fisik Logam Timbal (Pb) ... 11

Tabel 3. Sifat fisik Kadmium (Cd) ... 13

Tabel 4. Sifat Fisik Logam Mangan (Mn) ... 14

(6)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Labuhan Maringgai, Lampung Timur ... 5

Gambar 2. Kerang darah (Anadara granosa)... 17

Gambar 3. Kerang Bulu ... 18

Gambar 5. Hallow cathode lamp ... 20

(7)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lampung Timur merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata – rata 50 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 5.325,03 km2. Berdasarkan posisi geografisnya, Kabupaten Lampung Timur memiliki batas – batas: Utara Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Tulang Bawang; Selatan Kabupaten Lampung Selatan; Timur Laut Jawa; Barat Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah. Wilayah Kabupaten Lampung Timur, serta terdapat dua buah sungai utama, yaitu sungai Way Sekampung dan Way Seputih (Badan Pusat Statistik, 2020). Sungai – sungai tersebut bermuara di perairan Labuhan Maringgai dan digunakan untuk berbagai kegiatan oleh masyarakat.

Labuhan Maringgai merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lampung Timur dan salah satu pangkalan pendaratan ikan di Kabupaten Lampung Timur yang telah memiliki pelabuhan perikanan pantai (PPP). Selain itu perairan Labuhan Maringgai juga digunakan untuk berbagai kegiatan yaitu perikanan tangkap, perikanan budidaya, dan pariwisata (Damora dan Nurdin, 2016). Dari potensi sumber daya alam di perairan tersebut dihasilkan sumber daya perikanan yang berlimpah dengan berbagai macam komoditas ikan laut maupun kerang segar yang di tangkap di wilayah perairan Labuhan Maringgai.

(8)

pemanfaatan komoditas laut oleh masyarakat dapat membahayakan kualitas komoditas laut akibat adanya potensi pencemaran. Pembuangan limbah industri ke laut, tumpahan minyak dari transportasi laut akibat aktivitas pelabuhan maupun logistik industri, dan limbah yang berasal dari darat menuju laut melalui sungai mengakibatkan pencemaran logam sehingga menurunkan kualitas perairan (Triantoro et al., 2017). Menurut Rizky Amalia et al (2014) pencemaran lingkungan mayoritas terjadi di lingkungan laut karena perairan ini merupakan tempat bermuaranya sungai dan tempat berkumpulnya zat-zat pencemar yang terbawa oleh aliran sungai.

Logam berat adalah salah satu polutan yang mungkin berasal dari aktivitas alam dan manusia dan bisa menjadi masalah / ancaman serius karena toksisitasnya, persistensi yang lama, dan bioakumulasi serta biomagnifikasi logam dalam rantai makanan. Logam berat dapat bereaksi dengan berbagai kandungan air lingkungan dan dapat berasosiasi dengan berbagai fase geokimia dalam sedimen. Spesiasi geokimia dan distribusi logam dalam fraksi kimia yang ditentukan juga telah digunakan dalam memprediksi kontaminasi potensial, ketersediaan hayati, dan mobilitas (Khan Iftikhar et al., 2018).

Logam berat tidak dapat terurai oleh organisme hidup dan dapat terakumulasi pada lingkungan, sehingga mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks dengan bahan organik dan anorganik dengan adsorpsi dan kombinasi.

Logam berat di perairan dipengaruhi oleh pola arus. Aliran air

(9)

3

menyebabkan logam berat yang terlarut di permukaan air laut dapat menyebar ke segala arah. Keberadaan logam berat dalam air tidak baik untuk kerang karena logam berat terikat pada jaringan lendir. Kondisi ini akan semakin meningkatkan jumlah lendir yang dikeluarkan, sehingga dengan sendirinya kemampuan respirasi dan filtrasi akan menurun, serta jumlah oksigen dan makanan yang dapat diserap oleh kerang semakin berkurang. Berdasarkan sifat akumulator tinggi terhadap logam berat, kerang digunakan sebagai sampel untuk pemantauan pencemaran logam berat di lingkungan perairan (Rahmatsyah et al., 2018)

Kerang merupakan salah satu sumberdaya laut yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan yang mengandung gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi (Indrawan Gede et al., 2018). Masuknya logam berat ke dalam tubuh kerang dapat berdampak negatif pada organisme tersebut dan juga kepada manusia yang mengkonsumsi kerang tersebut. Mengonsumsi makanan berbahan Timbal dalam jumlah besar, menyebabkan kesulitan belajar, keterbelakangan mental dan kerusakan ginjal. Akibat yang timbul dalam jangka waktu lama pada akumulasi logam Mangan yang sudah melewati baku mutu adalah dapat

mengakibatkan gangguan neurologis permanen (Kamaruzzaman et al., 2011).

Menurut Prabowo et al (2016) mengonsumsi makanan berbahan Kadmium bisa menimbulkan rasa sakit, panas pada bagian dada, penyakit paru - paru akut dan menimbulkan kematian.

Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan analisis kandungan logam berat Timbal (Pb), Kadmium (Cd), dan Mangan (Mn) dan pada kerang darah (Anadara

granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquate) di perairan Labuhan Maringgai.

(10)

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menentukan kadar logam berat Pb, Cd, dan Mn pada kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan Labuhan

Maringgai Kabupaten Lampung Timur dengan menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) dan mengetahui kelayakan kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan Labuhan Maringgai untuk dikonsumsi berdasarkan kandungan logam berat dalam dagingnya.

2. Mengetahui tingkat pencemaran logam berat Pb, Cd, dan Mn kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur.

C. Manfaat Penelitian

Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah sebagai salah satu sumber informasi untuk mengetahui tingkat pencemaran logam berat Pb, Cd, dan Mn pada kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiquata) di perairan

Labuhan Maringgai Kabupaen Lampung Timur sehingga dapat dijadikan masukan bagi masyarakat, industri, serta pemerintah daerah dalam mengelola kegiatan rumah tangga atau industri yang berwawasan lingkungan.

(11)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Labuhan Maringgai

Berdasarkan posisi geografisnya, Kecamatan Labuhan Maringgai memiliki batas- batas: Utara – Kecamatan Braja Selebah dan Taman Nasional Way Kambas;

Selatan – Kecamatan Pasir Sakti dan Gunung Pelindung; Timur – Laut Jawa;

Barat – Kecamatan Melinting, Bandar Sribawono dan Mataram Baru. Kecamatan Labuhan Maringgai memiliki Lima pulau, yaitu Segama Besar, Segama Kecil, Pulau Gosong/Sekopong, Batang Kecil, dan Batang Besar. Terdapat juga enam buah sungai utama, yaitu Sungai Nibung, Sungai Perigi, Way Curup, Way Jepara, Sungai Alam dan Sungai Kuala Penet (Lampung Timur Dalam Angka, 2019).

Peta Labuhan Maringgai dapat dilihat pada Gambar 1.

Labuhan Maringgai

Gambar 1. Labuhan Maringgai, Lampung Timur (BPS Kabupaten Lampung Timur, 2018).

(12)

Kegiatan utama di wilayah perairan Labuhan Maringgai meliputi perikanan tangkap, perikanan budidaya (tambak udang) dan pelabuhan perdagangan ikan.

Aktivitas perekonomian, pariwisata, dan pemukiman menyebabkan timbulnya banyak pencemaran yang akan merusak lingkungan apabila pengelolaan dan pengawasan tidak dilakukan dengan baik. Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan di uji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan mikrobiologis.

B Pencemaran Lingkungan

Permasaahan lingkungan di negara berkembang seperti Indonesia berbeda dengan permasalahan lingkungan di negara maju. Masalah lingkungan di Indonesia disebabkan keterbelakangan pembangunan (Adhriana, 2017). Menurut Rochmani (2015) berbagai masalah lingkungan di Indonesia berakibat pada penurunan kualitas lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pencemaran lingkungan adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia

sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan pada UU No. 32 tahun 2009.

(13)

7 7

Berdasarkan cara masuknya ke dalam lingkungan, polutan dikelompokkan menjadi 2 yaitu sebagai berikut :

1. Polutan alamiah adalah polutan yang masuk ke dalam lingkungan secara alami, misalnya akibat letusan gunung berapi.

2. Polutan antropogenik adalah polutan yang masuk ke lingkungan akibat aktivitas manusia, misalnya kegiatan domestik (rumah tangga), dan kegiatan industri.

C Pencemaran Perairan oleh Logam Berat

Air adalah kebutuhan dasar bagi manusia dan organisme lain. Manusia membutuhkan air seperti air minum, mandi, cuci, pertanian, sanitasi, dan transportasi. Selain itu, manusia juga menggunakan air untuk mendukung kegiatan industri dan teknologi. Air juga sangat penting sebagai habitat bagi organisme yang hidup di perairan seperti ikan, rumput laut, udang, dan lainnya.

Masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air termasuk jumlah air yang tidak mampu memenuhi peningkatan kebutuhan dan penurunan kualitas air.

Menurunnya kualitas air disebabkan oleh polusi. Polusi air adalah pencemaran air karena masuknya zat asing dalam jumlah yang melebihi daya dukung air. Salah satu zat yang menyebabkan polusi adalah logam berat (Dian, 2020).

Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 01 tahun 2010, air sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia dan apabila air sudah tercemar logam – logam berbahaya akan mengakibatkan hal yang buruk bagi kehidupan lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga

(14)

melampaui baku mutu air. Logam berat adalah bahan beracun yang dapat menyebabkan kerusakan pada organisme akuatik. Sumber pencemaran logam sebagian besar berasal dari pertambangan, peleburan logam, industri lainnya, dan juga dapat berasal dari limbah domestik yang menggunakan logam, serta lahan pertanian yang menggunakan pupuk yang mengandung logam (Lestari dan Trihadiningrum, 2019).

Rahmatsyah et al (2018) menyatakan tinggi rendahnya kadar logam berat dalam suatu perairan tidak hanya dipengaruhi oleh keterpencilan pantai, tetapi juga sangat bergantung pada kondisi air laut setempat. Banyak logam yang bersifat toksik dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut. Jika pencemaran air karena logam terjadi maka organisme pertama yang terpengaruh akibat

penambahan polutan logam ke perairan adalah organisme dan tumbuhan yang tumbuh di perairan atau habitat tertentu. Dalam tubuh makhluk hidup, logam mengalami biokonsentrasi dan bioakumulasi sehingga kadar logam di dalam tubuh makhluk hidup lebih besar daripada di lingkungan perairan. Logam juga mengalami biomagnifikasi, kadarnya semakin meningkat dengan peningkatan posisi organisme pada rantai makanan. Karena interaksi antar organisme di dalam suatu ekosistem maka dampak dari limbah logam tersebut pada akhirnya akan sampai pada hierarki rantai makanan tertinggi yaitu manusia (Susanto dan Fahmi, 2012).

(15)

9 9

D. Logam Berat

Logam berat diklasifikasikan menjadi tiga kategori berdasarkan toksisitasnya:

berpotensi beracun (contoh, arsenik, kadmium, timbal), kurang beracun (nikel) dan esensial (tembaga, seng, mangan). Logam esensial juga dapat menghasilkan efek toksik bila melebihi ambang batas atau terkandung dalam tubuh dengan konsentrasi rendah pada jangka waktu lama (Salimullah et al., 2014). Adapun sifat-sifat logam berat adalah sebagai berikut :

1. Sulit didegradasi sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).

2. Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan yang dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut.

3. Mudah terakumulasi di sedimen sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi logam di dalam air.

4. Mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu.

Logam berat biasanya ditemukan sangat sedikit dalam air secara alami yang kurang dari 1 µg. Tingkat konsentrasi logam dalam air dibagi sesuai dengan tingkat polusi, seperti polusi berat, polusi sedang, dan non-polusi. Air yang mengalami polusi berat biasanya memiliki kandungan logam berat yang tinggi di dalam air dan organisme yang hidup di dalamnya. Pada tingkat polusi sedang, kandungan logam berat dalam air dan organisme dalam air berada dalam batas marginal. Adapun pada tingkat nonpolusi, kandungan logam berat dalam air dan

(16)

organisme sangat rendah dan bahkan tidak terdeteksi (Lestari dan Trihadiningrum, 2019). Sumber dan efek toksikologi logam berat dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Sumber dan efek toksikologi logam berat (Kamaruzzaman et al., 2011).

Logam Berat Sumber Efek

Tembaga (Cu) Kegiatan pengiriman, Pestisida dan Insektisida

Anemia,

radang sendi, insomnia, pembesaran hati, dan masalah jantung Kromium (Cr) Baja dan tekstil industri Masalah pernapasan,

sistem kekebalan yang melemah, kerusakan hati, ginjal, dan kanker paru-paru Nikel (Ni) Elektroplating dan Sakit kepala,

industri baterai nyeri dada

dan kanker paru-paru Timbal (Pb) Kegiatan pengiriman,

baterai dan cat

Kesulitan belajar, keterbelakangan mental dan kerusakan ginjal Arsen (As) Aktivitas pengiriman Kanker kulit

Seng (Zn) Pembuatan cat dan limbah Kelesuan Mangan (Mn) Industri pembuatan cat

dan farmasi

Gangguan neurologis permanen

Logam berat dapat masuk ke tubuh organisme perairan melalui insang,

permukaan tubuh, saluran pencernaan, otot dan hati. Logam berat tersebut dapat terakumulasi dalam tubuh organisme perairan (Azaman et al., 2015). Indirawati (2017) menyatakan logam berat tidak dapat terurai (persisten) dan dapat

terakumulasi melalui rantai makanan (bioakumulasi), dengan efek jangka panjang

(17)

1 1 11

yang merugikan pada makhluk hidup. Maka semakin tinggi tingkatan rantai makanan yang ditempati oleh suatu organisme, akumulasi logam berat di dalam tubuhnya juga semakin bertambah. Dengan demikian manusia yang merupakan konsumen puncak, akan mengalami proses bioakumulasi logam berat yang besar di dalam tubuhnya.

1. Timbal (Pb)

Timbal merupakan unsur yang terbanyak di alam, timbal sebagai logam berat yang nampak mengkilap ketika baru dipotong. namun, akan menjadi buram jika terjadi kontak dengan udara terbuka (Yatimah, 2014). Beberapa sifat fisik logam Pb dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Sifat Fisik Logam Timbal (Pb)

Nomor atom 82

Densitas (g/cm3) 11,34

Titik lebur (oC) 327,46

Titik didih (oC) 1,749

Kalor fusi (kJ/mol) 4,77

Kalor penguapan (kJ/mol) 179,5

Kapasitas panas pada 250 C (J/mol K) 26,650 Konduktivitas termal pada 300 K (W/m K) 35,5 Ekspansi termal pada 250 C (μm/m K) 28,9 Kekerasan (skala Brinell = Mpa) 38,3

(18)

Logam Pb termasuk ke dalam logam golongan IV-A pada tabel periodik unsur kimia. walaupun bersifat lunak dan lentur, timbal sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas dan asam (Fernanda Lidya, 2012). Timbal merupakan jenis logam yang lunak, mempunyai titik lebur yang rendah, tahan terhadap karat, memiliki kerapatan yang besar, dan merupakan penghantar listrik yang baik. Banyak logam berat baik yang bersifat toksik

maupun esensial terlarut dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut (Supriyantini et al., 2017).

Timbal adalah logam berat yang manfaatnya tidak diketahui untuk organisme air.

Namun, jumlah timbal diatas ambang batas dapat mengganggu kelangsungan hidup organisme akuatik dan juga manusia (Yolanda et al., 2017). Efek kesehatan akut akibat kandungan Timbal (Pb) dapat menyebabkan gangguan pencernaan, kerusakan hati dan ginjal, hipertensi dan efek neurologis yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan kematian. Sedangkan efek kronisnya adalah terjadinya

penumpukan pada pada organ manusia.

2. Kadmium (Cd)

Kadmium (Cd) adalah logam putih-silver yang lunak. Pada tabel periodik, kadmium berada di bawah seng (Zn) dan di atas raksa (Hg). Bilangan oksidasi yang mungkin terbentuk dari kadmium adalah 0 dan + 2. Beberapa sifat fisik logam Cd dapat dilihat pada Tabel 3.

(19)

1 3 13

Tabel 3. Sifat fisik Kadmium (Cd)

Nomor atom 48 Berat atom (g/mol) 112,414 Densitas (g/cm3) 8,650 Densitas cairan (g/cm3) 7,996 Titik didih (°C) 767 Titik lebur (°C) 321.07 Fase Padat Warna Perak

Kadmium yang ada di air berasal dari berbagai proses yaitu masuk ke dalam perairan karena adanya proses erosi tanah, pelapukan batuan induk. Kadmium lebih banyak masuk ke dalam air karena kegiatan manusia seperti perindustrian dimana limbah hasil dari pabrik tersebut dibuang langsung ke dalam perairan yang akan terakumulasi di dasar perairan yang membentuk sedimen. Cd juga dapat masuk ke dalam organisme yang hidup di air dimana Cd dapat masuk melalui oral, inhalasi atau dermal (Indirawati, 2017).

Kadmium dapat memasuki perairan melalui berbagai aktivitas manusia seperti kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga. Diperairan, toksisitas kadmium akan lebih tinggi pada salinitas rendah. Hal ini dikarenakan pada salinitas rendah akan menyebabkan peningkatan konsentrasi kation Cd bebas sehingga

menurunkan pembentukkan molekul komplek anorganik maupun organik. Kation Cd bebas akan masuk ke dalam tubuh organisme sehingga meningkatkan

toksisitas. Kenaikan toksisitas juga dapat disebabkan karena adanya perubahan kemampuan osmotik dan regulasi ionik pada salinitas rendah (Baloch et al., 2020). Kadmium sangat berbahaya memiliki bahaya yang sama dengan raksa.

Semua senyawa kadmium berpotensi berbahaya dan beracun. Keracunan

(20)

kadmium bisa menimbulkan rasa sakit, panas pada bagian dada, penyakit paru - paru akut dan menimbulkan kematian (Prabowo et al., 2016)

3. Mangan (Mn)

Mangan (Mn) merupakan logam komponen penyusun dari sebuah baja yang berfungsi untuk mengurangi sifat rapuh karena panas dan meningkatkan kekakuan pada baja, dimana baja adalah komponen penting pada suatu mesin produksi (Binudi, 2014). Mangan adalah suatu unsur kimia yang mempunyai nomor atom 25 dan memiliki simbol Mn. Mangan ditemukan oleh Johann Gahn pada tahun 1774 di Swedia. Logam mangan berwarna putih keabu-abuan dan berbentuk padat dalam keadaan normal. Mangan termasuk logam berat dan sangat rapuh tetapi mudah teroksidasi. Mangan adalah elemen pertama dari golongan 7B, memiliki titik lebur yang tinggi kira-kira 1250 oC. Mangan bereaksi dengan air hangat membentuk mangan (II) hidroksida dan hidrogen (Gabriel, 2001).

Beberapa sifat fisik logam Mn dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Sifat Fisik Logam Mangan (Mn)

Nomor atom 25 Titik lebur (K) 1519 Titik didih (K) 2334 Densitas (g/cm3) 7.21 Kalor fusi (kJ/mol) 12.91 Kalor penguapan (kJ/mol) 221 Kapasitas panas pada 25

o

C (J/mol.K) 26.32 Energi ionisasi (kJ/mol) 1.55

(21)

1 5 15

Adanya Mangan (Mn) dalam perairan dengan konsentrasi yang relatif tinggi, dapat meracuni kehidupan organisme perairan, sedangkan dalam konsentrasi yang relatif rendah, akan diserap oleh organisme perairan tingkat rendah, seperti plankton yang kemudian terakumulasi di dalam plankton. Apabila logam Mn tersebut terakumulasi dalam tubuh manusia, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius seperti gangguan syaraf otak pada anak-anak, gangguan ginjal yang akut, dan dapat menyebabkan kematian (Palar H, 1994).

E. Kerang

Perkembangan industri telah menimbulkan potensi pencemaran faktor

antropogenik seperti limbah pelabuhan, limbah industri, limbah rumah tangga yang menyebabkan kerusakan biota laut, termasuk kerang. Kelimpahan polutan merupakan ancaman serius bagi konservasi hewan laut seperti kerang.

Kerang adalah hewan yang makan dengan filter, yang memakan plankton di perairan. Biasanya hidup di perairan dengan lumpur berpasir atau menempel pada substrat yang keras seperti batu atau kayu. Kelarutan dari polutan pada badan air dikendalikan oleh jenis, konsentrasi logam, komponen mineral yang teroksidasi.

Komponen logam berat di dalam air dapat dipengaruhi oleh parameter oseanografi antara lain (Rahmatsyah et al., 2018).

Menurut Mahmudi dan Musa (2015) Kerang hidup dan tumbuh lebih lama di perairan yang tercemar akumulasinya akan semakin tinggi. Logam berat yang ada pada perairan, suatu saat akan turun dan mengendap pada dasar perairan,

membentuk sedimentasi dan hal ini akan menyebabkan biota laut yang mencari

(22)

makan di dasar perairan (seperti udang, kerang, dan kepiting) akan memiliki peluang yang sangat besar untuk terkontaminasi logam berat tersebut. Jika biota laut yang telah terkontaminasi logam berat tersebut dikonsumsi, dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia.

1. Kerang Darah (Anadara granosa)

Kerang darah, kerang dagu, kopiri atau kosa yang dikenal sebagai cockle adalah sekelompok kerang yang memiliki belahan cangkang yang sama melekat satu sama lain pada batas cangkang. Cangkang berukuran sedikit lebih panjang dibanding tingginya tonjolan (umbo). Setiap belahan cangkang memiliki 19 - 23 cm. Lapisan luar cangkang umumnya berwarna putih, berselaputkan suatu lapisan berwarna kecokelatan. Pada spesies Anadara granosa, jalur - jalur radier terputus - putus. Kerang darah hidup terbenam dibawah permukaan tanah pada kedalaman perairan 0 - 1 m, serta memiliki substrat pasir berlumpur. Pertumbuhan kerang darah tergolong lambat,hanya 0,098 mm/hari. Kerang darah memakan makanan dengan cara menyaring (filter feeder) (Ghufran, 2011).

Klasifikasi dari kerang darah Anadara granosa L. adalah sebagai berikut (Saxena, A, 2005):

Phylum : Molusca Class : Bivalvia Ordo : Taxodonta 22 Familia : Arcidae Genus : Anadara

Spesies : Anadara granosa Linneaus.

(23)

1 7 17

Gambar 2. Kerang darah (Anadara granosa) (Azis Y et al., 2015).

Kerang merupakan indikator pencemaran dalam perairan, ini dikarenakan sifat hidupnya yang sesil (menetap) dan cara pengambilan makanannya dengan hanya menyaring makanan (filter feeding) yang terlarut dalam air. Kerang hanya

memperoleh makanan dari benda-benda yang terhanyut dalam air. Hal ini sangat memungkinkan untuk mengakumulasi pencemaran di air khususnya pencemaran logam berat. Selain makanannya hanya yang terhanyut dalam air ditunjang pula oleh proses pernafasannya yang menggunakan insang. Kerang memperoleh oksigen lewat air yang masuk ke dalam insang yang apabila mengandung logam berat, maka secara otomatis logam berat tersebut dapat terakumulasi di dalam tubuh kerang (Eka Apriyanti, 2018).

2. Kerang Bulu (Anadara antiquata)

Kerang bulu merupakan salah satu biota laut yang termasuk ke dalam famili arcidae. Kerang bulu hidup di laut tropis seperti Indonesia, terutama di perairan pantai dan melekatkan diri secara tetap pada benda-benda keras yang ada di sekelilingnya.

(24)

Menurut Suwigyo (2002), kerang bulu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phylum : Mollusca Class : Bivalvia Ordo : Taxodanta Family : Arcidae Genus : Anadara

Spesies : Anadara antiquata

Gambar 3. Kerang Bulu

Kerang bulu termasuk dalam subkelas Lamellibranchia dimana filamen insang memanjang dan melipat dan juga termasuk jenis hewan herbivora. Makanan utamanya adalah plankton, alga, rumput laut dan sponge. Juvenil Anadara antiquata tumbuh pesat bila mendapatkan makanan yang melimpah di sekitar daerah bersubstrat dan berlumpur (Suwigyo 2002). Menurut Yennie dan Murtini (2005) kerang merupakan biota yang potensial terkontaminasi logam berat karena sifatnya yang fillter feeder. Kerang dapat mengakumulasi logam lebih besar dari pada hewan air lainnya karena sifatnya yang menetap, lambat untuk dapat

menghindarkan diri dari pengaruh polusi, dan mempunyai toleransi yang tinggi

(25)

1 9 19

terhadap konsentrasi logam tertentu (Pagoray H, 2001).

F. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) merupakan teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi unsur logam dan metaloid dengan konsentrasi sangat kecil (ppm) dan ultratrace (ppb) (Settle, 1997). Spektrofotometer Serapan Atom didasarkan pada proses penyerapan radiasi sumber oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar. Proses penyerapan energi terjadi pada panjang gelombang yang spesifik dan karakteristik untuk setiap setiap unsur. Proses penyerapan tersebut menyebabkan atom penyerapan tereksitasi, di mana elektron dari kulit atom berpindah ke tingkat energy yang lebih tinggi. Banyaknya

intensitas radiasi yang diserap sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat penyerapan radiasi atau (absorbansi) atau mengukur radiasi yang

diteruskan (transmitansi), maka konsentrasi unsur di dalam cuplikan dapat ditentukan.

Analisis logam ini didasarkan pada banyaknya sinar yang diserap berbanding lurus denga kadar zat, oleh karena yang mengadsorbsi sinar adalah atom maka ion dan senyawa logam harus diubah menjadi bentuk atom. Perubahan bentuk ion menjadi bentuk atom dilakukan dengan suhu tinggi melalui pembakaran. Unsur logam dilepaskan dari jaringan daging contoh dengan cara digesti kering

(pengabuan). Logam dalam abu selanjutnya diikat dalam asam klorida (HCl) 6 M dan asam nitrat (HNO3) 0,1 M. Larutan yang dihasilkan selanjutnya diatomisasi menggunakan graphite furnace. Atom - atom unsur logam berinteraksi dengan sinar dari lampu logam. Interaksi tersebut berupa serapan sinar yang besarnya

(26)

dapat dilihat pada tampilan (monitor) spektrofotometer serapan atom (Atomic Absorption Spectrofotometer) ( SNI 2354.5:2011).

Metode Spektrofotometri Serapan Atom merupakan salah satu metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan unsur-unsur di dalam suatu bahan bahkan dapat menganalisis sampel dalam jumlah sedikit, karena metode ini memiliki kepekaan, ketelitian dan selektifitas yang sangat tinggi. Beberapa komponen utama pada instrumentasi spektrofotometer serapan atom adalah sebagai berikut :

1. Sumber radiasi

Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga (hollow cathode lamp). Lampu ini terdiri dari tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. Tabung logam ini diisi dengan gas mulia (neon atau argon) dengan tekanan rendah. Bila antara anoda dan katoda diberi suatu selisih tegangan yang tinggi (600 volt), maka katoda akan memancarkan berkas - berkas elektron yang bergerak menuju anoda yang mana kecepatan dan energinya sangat tinggi.

Elektron - elektron dengan energi tinggi ini dalam perjalanannya menuju anoda akan bertabrakan dengan gas - gas mulia yang diisikan tadi (Gandjar dan Rohman, 2007).

Gambar 4. Hallow cathode lamp (Ebdom et al., 1998).

(27)

2 1 21

2. Tempat Sampel

Dalam analisis dengan spektrofotometri serapan atom, sampel yang akan

dianalisis harus diuraikan menjadi atom - atom netral yang masih dalam keadaan asas. Ada berbagai macam alat yang dapat digunakan untuk mengubah suatu sampel menjadi uap atom - atom yaitu: dengan nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless) (Gandjar dan Rohman, 2007).

3. Monokromator

Pada spektrofotometri serapan atom, monokromator dimaksudkan untuk

memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan dalam analisis dari sekian banyak panjang gelombang yang dihasilkan lampu katoda berongga (Gandjar dan Rohman, 2007).

4. Detektor

Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman (Gandjar dan Rohman, 2007). Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube).

5. Readout

Readout merupakan suatu alat penunjuk atau pencatat hasil. Hasil pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi (Gandjar dan Rohman, 2007).

6. Tabung gas

Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asitilen. Gas asitilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20.000 K, dan ada juga

(28)

tabung gas yang berisi N2O yang lebih panas dari gas asitilen, dengan kisaran suhu ±30.000 K. Regulator pada tabung gas asitilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan dan gas yang berada didalam tabung.

7. Ducting

Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa

pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan agar asap yang dihasilkan pada AAS tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS diolah sedemikian rupa didalam ducting agar polusi yang dihasilkan tidak berbahaya.

8. Kompresor

Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat ini

berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS pada waktu pembakaran atom.

9. Burner

Burner merupakan bagian paling penting didalam main unit, karena burner berfungsi sebagai tempat pencampuran gas asitilen dan aquabides agar tercampur merata dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. Lubang yang berada pada burner merupakan lubang pemantik api, dimana pada lubang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api.

Menurut (Gandjar dan Rohman, 2007), gangguan - gangguan yang terjadi pada spektrofotometri serapan atom adalah:

1. Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang mana dapat mempengaruhi

(29)

2 3 23

banyaknya sampel yang mencapai nyala.

2. Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah atau banyaknya atom yang terjadi di dalam nyala.

3. Gangguan oleh absorbansi yang disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang dianalisis, yakni absorbansi oleh molekul - molekul yang tidak terdisosiasi di dalam nyala.

4. Gangguan oleh penyerapan non - atomik. Gangguan jenis ini berarti

terjadinya penyerapan cahaya dari sumber sinar yang bukan berasal dari atom – atom yang akan dianalisis

G. Validasi Metode Analisis

Validasi metode merupakan evaluasi dan pengujian kembali untuk memastikan bahwa suatu metode tersebut mampu menghasilkan data yang valid dan sesuai dengan tujuan. Validasi metode digunakan untuk pembuktian apakah suatu metode pengujian sesuai untuk maksud atau tujuan tertentu dan untuk jaminan mutu hasil uji yang dievaluasi secara objektif. Parameter yang digunakan antara lain:

1. Linieritas

Linearitas diperoleh dengan memplotkan absorbansi terukur dengan konsentrasi larutan standar yang konsentrasinya dibuat meningkat menurut deret ukur

(Panggabean et al., 2013). Tujuannya adalah untuk memperoleh persamaan garis linear (linearitas) yang nantinya akan digunakan untuk menentukan konsentrasi analit di dalam sampel. Linieritas dapat diukur dengan melakukan pengukuran

(30)

tunggal pada konsentrasi yang berbeda – beda. Data yang diperoleh selanjutnya diproses dengan metode kuadrat terkecil, untuk selanjutnya dapat ditentukan nilai slope, intersep dan koefisien korelasinya.

2. Batas deteksi dan batas kuantitasi

Batas deteksi (LOD) merupakan parameter uji batas analit minimal yang masih dapat dibedakan antara sampel dengan standar. Penentuan nilai LOD bertujuan mengevaluasi kemampuan metode dalam mengkuantitasi analit. Batas kuantisasi (LOQ) adalah jumlah terkecil dari analit yang terkandung di dalam sampel yang masih dapat dikuantifikasi secara presisi dan akurasi (Adi et al., 2019).

Batas deteksi dan batas kuantifikasi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan blangko, yaitu dengan menggunakan persamaan berikut :

LoD = 3 × Sb

SI

LoQ = 10 × Sb SI

(1)

(2) Keterangan :

LoD : limit deteksi LoQ : limit kuantifikasi

Sb : simpangan baku respon analitik dari blanko

SI : arah garis (kepekaan arah) dari kurva antar respon terhadap konsentrasi = slope (b) pada persamaan garis y = a + bx

3. Presisi (ketelitian)

Presisi merupakan ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual ketika suatu metode dilakukan secara berulang untuk sampel yang

(31)

2 5 25

homogen. Keseksamaan atau presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi) (Harmita, 2004).

Metode ini menggunakan persamaan berikut : SD = √ ( Σ( x− x)

2 )

n−1

(3)

Keterangan :

SD : Standar Deviasi (simpangan baku) x : konsentrasi hasil analisis

n : jumlah pengulangan analisis x : konsentrasi rata-rata hasil analisis

RSD = SD x 100% ……….(4)

Keterangan :

RSD : Relatif Standar Deviasi (%) SD : Standar Deviasi (simpangan baku) x : konsentrasi rata-rata hasil analisis

4. Akurasi (kecermatan)

Ketepatan (akurasi) merupakan suatu besaran yang menyatakan kedekatan hasil pengukuran dengan hasil sebenarnya (standar). Akurasi dinyatakan sebagai persentase perolehan kembali (% recovery) (Riyanto, 2014). Menurut Adi et al (2019) recovery merupakan perbandingan dari hasil yang diperoleh dan hasil sebenarnya.

Hasil dari prosedur ini diperoleh dengan cara membandingkan hasil dari sampel dengan penambahan standar dan sampel tanpa penambahan standar. Kecermatan

(32)

ditentukan dengan dua cara, yaitu: metode simulasi (Spiked-placebo recovery) dan metode penambahan baku (standart addition method). Volume larutan standar yang ditambahkan dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut :

Vol spike = K onsen t r asi spik e x volu me samp el Konsentrasi larutan standar

(5)

Persen perolehan kembali dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut :

Persen perolehan kembali = ( 𝐶𝐹 − 𝐶𝐴 )

x100% (6)

𝐶�

Keterangan :

CF : Konsentrasi total sampel yang diperoleh dari pengukuran CA : Konsentrasi sampel sebenarnya

CA* : Konsentrasi analit yang ditambahkan

(33)

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan April 2021.

Preparasi sampel dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas

Lampung. Analisis Spektrofotometer Serapan Atom dilakukan di Laboratorium Analisis Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat - alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah alat - alat gelas laboratorium, oven, desikator, ayakan 106 mesh, mortar dan alu, neraca analitik dengan ketelitian ± 0,0001 gram, termometer, botol polypropylene, dan seperangkat alat Spektrofotometer Serapan Atom.

Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kerang darah, kerang bulu, HNO3 69%, H2O2 30% (Merck), kertas saring, kertas saring Whatmann No.42, Cd(NO3)2 (Fischerchem), Pb(NO3)2 (Merck), MnSO4, dan akuades.

(34)

C. Prosedur Kerja

1. Pembuatan Larutan

1.1 Larutan HNO3 5%

Sebanyak 72,46 mL HNO3 69% dimasukkan ke dalam labu ukur 1000 mL yang telah ditambahkan sedikit akuades lalu diencerkan dengan menambahkan akuades hingga tanda batas kemudian dihomogenkan.

1.2 Larutan standar kadmium (Cd) 1000 ppm

Cd(NO3)2 ditimbang sebanyak 0,210 gram lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dilarutkan dan ditambahkan akuades hingga tanda batas kemudian dihomogenkan.

1.3 Larutan standar timbal (Pb) 1000 ppm

Pb(NO3)2 ditimbang sebanyak 0,159 gram lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dilarutkan dan ditambahkan akuades hingga tanda batas kemudian dihomogenkan.

1.4 Larutan standar mangan (Mn) 1000 ppm

MnSO4 ditimbang sebanyak 0,2748 gram lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, dilarutkan dan ditambahkan akuades hingga tanda batas kemudian

dihomogenkan.

2. Metode Pengambilan Sampel

2.1 Persiapan pengambilan sampel

Persiapan pengambilan sampel terlebih dahulu dilakukan dengan cara mencuci bersih wadah sampel dengan sabun lalu dibilas dengan air, kemudian wadah

(35)

29 29

sampel direndam dengan larutan HNO3 5% selama 24 jam untuk menghilangkan kontaminasi logam-logam pada wadah sampel. Selanjutnya proses pengeringan dan penyimpanan wadah sampel dilakukan dalam keadaan tertutup.

2.2 Pengambilan sampel

Pengambilan sampel sampel kerang darah dan kerang bulu dilakukan dengan menggunakan metode purposive random sampling yaitu dengan mengambil secara langsung di Perairan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur.

Sampel yang telah diambil dari lokasi tersebut kemudian dicuci bersih, dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sudah diberi label, ditempatkan di dalam ice box,dan siap dibawa ke laboratorium untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

3. Preparasi Sampel serta Penentuan Kadar Pb, Cd, dan Mn

Sampel kerang mula-mula dipisahkan dari cangkangnya dan diambil bagian dalamnya kemudian masing-masing sampel dicuci dan dibilas dengan

menggunakan akuades. Selanjutnya sampel dikeringkan dengan oven pada suhu 65 oC, kemudian sampel yang telah kering digerus dengan mortal dan alu dan diayak menggunakan ayakan 106 mesh. Sampel kerang darah dan kerang bulu yang ditelah halus ditimbang sebanyak ± 5 gram dan dimasukkan ke dalam gelas kimia, kemudian didestruksi menggunakan 20 mL HNO3 69% dan 10 mL H2O2

30%, kemudian dipanaskan di atas penangas air pada suhu 60 – 70 oC hingga larutan jernih kurang lebih selama 2 – 3 jam dan didinginkan selanjutnya disaring menggunakan kertas saring Whatman No. 42. Filtrat sampel uji ditempatkan pada labu ukur 50 mL dan ditambahkan HNO3 5% sampai tanda batas kemudian

(36)

dihomogenkan. Filtrat sampel uji siap diukur menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA) (Riski Rahmadani, 2017).

4. Pembuatan Kurva Kalibrasi

4.1 Kurva kalibrasi Timbal (Pb)

Larutan standar Timbal 1000 ppm diencerkan menjadi 10 ppm dengan cara dipipet sebanyak 1 mL, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan

ditambahkan akuades ke dalam labu ukur sampai tanda batas lalu dihomogenkan.

Hasilnya adalah larutan dengan konsentrasi 10 ppm. Selanjutnya larutan tersebut dipipet sebanyak 1, 3, 5, 7, dan 9 mL, kemudian masing-masing larutan

dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, diencerkan dengan ditambahkan akuades sampai tanda batas, dan dihomogenkan sehingga diperoleh larutan dengan

konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7 dan 0,9 ppm. Larutan-larutan standar Timbal tersebut diukur serapannya menggunakan spektrofotometer serapan atom (Apri Welda, 2018).

4.2 Kurva kalibrasi Kadmium (Cd)

Larutan standar Kadmium 1000 ppm diencerkan menjadi 10 ppm dengan cara dipipet sebanyak 1 mL, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan akuades ke dalam labu ukur sampai tanda batas lalu dihomogenkan.

Hasilnya adalah larutan dengan konsentrasi 10 ppm. Selanjutnya larutan tersebut dipipet sebanyak 1, 3, 5, 7 dan 9 mL, kemudian masing-masing larutan

dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, diencerkan dengan ditambahkan akuades ke dalam labu ukur sampai tanda batas dan dihomogenkan sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7 dan 0,9 ppm. Larutan – larutan

(37)

31 31

standar Kadmium tersebut diukur serapannya menggunakan spektrofotometer serapan atom (Apri Welda, 2018).

4.3 Kurva kalibrasi Mangan (Mn)

Larutan standar Mangan 1000 ppm diencerkan menjadi 10 ppm dengan cara dipipet sebanyak 1 mL, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan akuades ke dalam labu ukur sampai tanda batas lalu dihomogenkan.

Hasilnya adalah larutan dengan konsentrasi 10 ppm. Selanjutnya larutan tersebut dipipet sebanyak 1, 3, 5, 7 dan 9 mL, kemudian masing-masing larutan

dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, diencerkan dengan ditambahkan akuades ke dalam labu ukur sampai tanda batas dan dihomogenkan sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,1; 0,3; 0,5; 0,7 dan 0,9 ppm. Larutan-larutan standar Mangan tersebut diukur serapannya menggunakan spektrofotometer serapan atom.

Dari grafik kurva standar terdapat korelasi antara konsentrasi (x) dan absorbansi (y). Dengan menggunakan persamaan regresi linier, maka konsentrasi dari sampel dapat diketahui sebagai berikut :

y = a + bx (7) Keterangan :

y : Absorbansi sampel b : Slope

x : Konsentrasi sampel a : Intersep

(38)

Konsentrasi pengukuran setelah diketahui, maka konsentrasi sebenarnya dari dalam sampel dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

M = 𝐹 (8) Keterangan :

M : Konsentrasi logam dalam sampel (mg/Kg)

C : Konsentrasi yang diperoleh dari kurva kalibrasi (ppm) V : Volume larutan sampel (L)

B : Bobot sampel (Kg) F : Faktor Pengenceran

5. Validasi Metode

Penelitian ini menggunakan 4 validasi metode diantaranya Linieritas, Limit Deteksi dan Limit Kuantitasi, Presisi (Ketelitian), dan Akurasi (Ketepatan).

5.1 Linieritas

Uji ini dilakukan dengan membuat kurva kalibrasi standar dari masing-masing logam dengan lima macam konsentrasi untuk standar Pb, Cd dan Mn, dan yaitu 0,1; 0,3; 0,5; 0,7 dan 0,9 ppm. Nilai absorbansi kemudian diproses dengan metode kuadrat terkecil untuk selanjutnya dapat ditentukan nilai kemiringan (slope), intersep, dan koefisien korelasinya.

5.2 Limit deteksi (LOD) dan limit kuantitasi (LOQ)

Penentuan nilai LOD dan LOQ untuk logam Pb, Cd dan Mn. diperoleh dari pengukuran sampel masing-masing sebanyak 5 kali pengulangan yang selanjutnya hasil pengukuran diproses dengan metode perhitungan persamaan

(39)

33 33

kurva kalibrasi secara statistik. Perhitungan dapat dilihat pada persamaan 1 dan 2.

5.3 Presisi

Penentuan presisi dilakukan dengan mengukur konsentrasi sampel dengan 5 kali pengulangan. Nilai absorbansi yang diperoleh dari hasil analisis tersebut

kemudian ditentukan nilai konsentrasi (kurva kalibrasi), lalu nilai simpangan baku (SD) serta nilai relative standar deviasi (RSD). Metode dengan presisi yang baik ditunjukan dengan perolehan relatif standar deviasi (RSD) < 5%.

Perhitungan dapat dilihat pada persamaan 3 dan 4.

5.4 Akurasi

Penentuan akurasi dilakukan dengan penambahan larutan standar ke dalam larutan sampel. Akurasi dinyatakan sebagai persen peroleh kembali (recovery) larutan standar yang ditambahkan. Akurasi ini bertujuan untuk mengetahui kedekatan antara nilai yang diterima sebagai nilai kebenaran dibandingkan dengan nilai yang diperoleh. Persen perolehan kembali dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan 5 dan 6.

5.4.1 Uji perolehan kembali Pb

Sebanyak 0,1 mL larutan standar Pb 100 ppm ditambahkan ke dalam labu ukur 50 mL yang berisi larutan sampel, dihomogenkan dengan menggunakan stirrer, kemudian ditentukan serapannya.

(40)

5.4.2 Uji perolehan kembali Cd

Sebanyak 0,1 mL larutan standar Cd 100 ppm ditambahkan kedalam labu ukur 50 mL yang berisi larutan sampel, lalu dihomogenkan dengan menggunakan stirrer kemudian ditentukan serapannya.

5.4.3 Uji perolehan kembali Mn

Sebanyak 0,1 mL larutan standar Mn 100 ppm ditambahkan ke dalam labu ukur 50 mL yang berisi larutan sampel, dihomogenkan dengan menggunakan stirrer, kemudian ditentukan serapannya.

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Adhriana Y. 2017. Penataan dan Penegakan Lingkungan pada Pembangunan Infrastruktur dalam Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan (Studi Kasus Pembangunan PLTU II di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon),

Padjajaran, Jurnal Ilmu Hukum. 61–83.

Adi Yugatama. 2019. Analisis Kandungan Timbal dalam Beberapa Sediaan Kosmetik yang Beredar di Kota Surakarta, Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research, (1). 52–59.

Apri Welda. 2018. Kajian Kandungan Logam Berat Pb, Cd, Cu, Cr, Dan Mn Pada Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) Di Perairan Teluk Lampung Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Skripsi. FMIPA Universitas Lampung.

Azaman A. 2015. Heavy Metal in Fish: Analysis and Human Health- A Review, Jurnal Teknologi, 77(1). 61–69.

Azis Y. 2015. Facile Synthesis of Hidroxyapatite Particels from Cockle Shells (Anadara granosa) by Hidrothermal Method. Journal of Chemistry, 2. 31.

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2020. Kebupaten Labuhan Maringgai Dalam Angka 2020. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Timur. Kabupaten

Lampung Timur.

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2019. Kecamatan Labuhan Maringgai Dalam Angka 2019. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Timur. Kabupaten Lampung Timur.

(42)

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2018. Kecamatan Labuhan Maringgai Dalam Angka 2018. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Timur. Kabupaten

Lampung Timur.

Badan Standarisasi Nasional. 2011. SNI 2354.5:2011 Cara uji kimia – Bagian 5:

Penentuan Kadar Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) Pada Produk Perikanan. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.

Baloch. 2020. Occupational Exposure of Lead and Cadmium on Adolescent and Adult Workers of Battery Recycling and Welding Workshops: Adverse.

Science of The Total Environment, 720.

Binudi. 2014. Pengaruh Unsur Ni, Cr dan Mn Terhadap Sifat Mekanik Baja Kekuatan Tinggi Berbasis Laterit. Tangerang Selatan: Pusat Penelitian Metalurgi LIPI.

Damora A and Nurdin E. 2016. Beberapa Aspek Biologi Rajugan (Portunus Pelagicus) di Perairan Labuhan Maringgai Lampung Timur. Widyariset Perikanan Tangkap Jakarta, 8(1). 13–20.

Dian Yuni Pratiwi. 2020. Dampak Pencemaran Logam Berat (Timbal, Tembaga, Merkuri, Kadmium, Krom) Terhadap Organisme Perairan dan Kesehatan Manusia. Jurnal Akuatek, 1(1).

Ebdom. 1998. An Introduction to Analytical Atomic Spectrometry. John Wiley and Sons Ltd. England.

Eka Apriyanti. 2018. Analisis Kandungan Logam Berat Timbal Pb pada Kerang Polymesoda erosa L di Perairan Tanjung Bunga Makassar. International Journal of Educational and Environmental Education (IJEEM), 3.

Fernanda Lidya. 2012. Studi Kandungan Logam Berat Timbal (Pb), Nikel (Ni), Kromium (Cr) dan Kadmium (Cd) pada Kerang Hijau (Perna Viridis) Dan Sifat Fraksionasinya pada Sedimen Laut. Jakarta: Skripsi Universitas Indonesia.

(43)

37 37

Gabriel, J. F. 2001. Fisika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Hipokrates.

Gandjar, I, G and Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Ghufran, M. 2011. Budidaya 22 Komoditas Laut untuk Konsumsi Lokal dan Ekspor.Lily Publisher. Yogyakarta.

Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya.

Majalah Ilmu Kefarmasian, 3(1). 117–135.

Iftikhar Khan M. 2018. Bioaccumulation of Heavy Metals in Water, Sediments, and Tissues and Their Histopathological Effects on Anodonta cygnea (Linea, 1876) in Kabul River, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. BioMed Research International. 10.

Indrawan Gede S, Arthana Wayan I, dan Yusup Deny S. 2018. Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) pada Kerang di Kawasan Perairan Serangan Bali The Content of Lead Heavy Metal (Pb) in Shellfish at Serangan Coastal Area Bali. Jurnal Metamorfosa, 5(2). 144–150.

Indirawati. 2017. Pencemaran Logam Berat Pb dan Cd dan Keluhan Kesehatan pada Masyarakat di Kawasan Pesisir Belawan. Jurnal Jumantik, 2(2).

Kamaruzzaman, Mohd Zahir, M.S, dan Akbar John. 2011. Bioaccumulation of some heavy metal by green mussel Perna viridis (Linnaues 1758) from Pekan, Pahang, Malaysia. International Journal of Biological Chemistry, 5(1). 54–60.

Kastawi, Y. 2003. Zoologi Avertebrata. UNM Press. Malang.

Lestari P dan Trihadiningrum. 2019. The Impact of Improper Solid Waste Management to Plastic Pollution in Indonesian Coast and Marine Environment. Marine Pollution Bulletin, 149.

(44)

Mahmudi M dan Musa. 2015. Accumulation of Lead (Pb) in Blood Clams.

Anadara granosa L.. Inhabiting Densely Industrial Area in Sidoarjo. East Java. Indonesia. Agricultural and Medical Sciences. 10 – 11.

Pagoray, H. 2001. Kandungan Merkuri dan Kadmium Sepanjang Kali Donan Kawasan Industri Cilacap. Jurnal Frontir, (33).

Palar, H (1994) Toksikologi dan Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta.

Panggabean, A.S. 2013. Gas-liquid Separator Integrated to HG-QFAAS Method for Determination of Tin at Trace Levels in The Water Samples. Indones. J.

Chem. Sci, 8(1). 17–27.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. (2001). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.

Prabowo, Purwanto, dan HR Sunoko. 2016. Akumulasi Cadmium (Cd) pada Ikan Wader Merah (Puntius Bramoides C.V), di Sungai Kaligarang. Jurnal MIPA, 39(1). 1–10.

Rahmatsyah, Rita Juliani, dan Nusyirwan. 2018. Study of Distribution Metal From Shellfish at Coastal Beach in District of Central Tapanuli, Indonesia.

Journal of Physics:

Riski Rahmadani. 2017. Kajian Kandungan Beberapa Logam Berat pada Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta) di Pesisir Teluk Lampung Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Skripsi.FMIPA Universitas Lampung.

Rizky Amalia, Sugeng W, dan H. 2014. Analisis Logam Berat Timbal pada Sedimen Dasar Perairan Muara Sungai Sayung Kabupaten Demak. Jurnal Oseanografi, 3(2). 167–172.

Rochmani. 2015. Perlindungan Hak Atas Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat di Era Globalisasi. Jurnal Masalah - Masalah Hukum, 44(1). 18–25.

(45)

39 39

Salimullah, Das, K.C, dan Islam, M.S. 2014. Recent Advancements and

Challenges in Microbial Bioremediation of Heavy Metals Contamination.

JSM Biotechnology and Biomedical Engineering. 2(1).

Saxena, A. 2005. The Books of Mollusca. Discovery Publishing House. New Delhi.

Suwigyo, 2002. Avertebrata Air. Penebar Swadaya : Bogor.

Supriyantini E, Dewi C. P, dan Azizah R. 2017. Daya Serap Mangrove Rhizopora sp Terhadap Logam Berat Timbal (Pb) di Perairan Mangrove Park,

Pekalongan. J. Kel Trop, 20(1). 16–24.

Susanto dan A. S. Fahmi. 2012. Senyawa Fungsional dari Ikan, Aplikasinya dalam Pangan. Semarang: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro.

Triantoro, Suprapto D, dan Rudiyanti S. 2017. Kadar Logam Berat Besi (Fe), Seng (Zn) pada Sedimen dan Jaringan Lunak Kerang Hijau (Perna viridis) di Perairan Tambak Lorok Semarang. Maquares, 6(3). 173–180.

Vakily. 1989. The Biology and Culture of Genus Perna, ICLARM. Studies and Reviews. Germany: Eschborn Federal Republik.

Yatimah. 2014. Analisis Cemaran Logam Berat Kadmium dan Timbal pada Beberapa Merek Lipstik yang Beredar di Daerah Ciputan dengan

Menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta.

Yennie dan Murtini. 2005. Kandungan Logam Berat Air Laut, Sedimen dan Daging Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Menthok dan Tanjung Jabung Timur. Jurnal Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, 12(1). 27.

Yolanda. 2017. Pengaruh Paparan Timbal (Pb) Terhadap Histopatologis Insang Ikan Nila (Oreochromis Nilloticus)’, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Veteriner, 4(1). 736–741.

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan dan penelitian ini adalah: (1) Lembar observasi terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran

Dimasa pandemi ini orang tua sangat berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini untuk mendukung, mengarahkan, dan memotivasi dalam kegiatan

Motif prososial yang ada dalam diri mahasiswa Program Studi Keperawatan akan berguna bagi profesi yang ditekuninya kelak yaitu menjadi seorang perawat

g. Hendaklah seorang penuntut ilmu mencontoh akhlak dan kepribadian guru. Mencontoh kebiasaan dan ibadahnya. Bila pelajaran sudah dimulai, hendaklah bagi seorang penuntut

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan penulis yaitu Studi Penggunaan Layar sebagai Sumber Utama Penggerak Kapal, maka dapat disimpulkan bahwa dengan

Pada bab ini penulis akan menjelaskan teori-teori yang akan digunakan untuk membantu analisis penulis terhadap makna simbol kadomatsu, penulis menggunakan beberapa teori seperti

Pengadilan Negeri Pangkalpinang dalam memeriksa dan mengadili perkara atas nama Terdakwa Terdakwa I Andi Rozano bin Bastian dan Terdakwa II Rudi Burnama bin Nurdin

BSB Bila gambar sudah membentuk pola batik dengan sempurna sesuai ciri khas Batik Bondowoso motif daun singkong dan KOPI.. PENILAIAN ANEKDOT Nama Anak :