• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu : 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan berupa tambahan pengetahuan yang berkaitan denganpengaruhsumber daya manusia, audit internal pada system pengendalian internal pemerintah terhadap kualitaslaporan keuangan pemerintah daerah.yang dapat digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan untuk penelitian para akademisi dan praktisi di bidang akuntansi dimasa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dalam ilmu pengetahuan dan wawasan terutama yang berkaitan dengan pengaruh sumber daya manusia, audit internalpada system pengendalian internal pemerintah terhadap kualitas kualitas laporan keuangan pemerintah daerah

b. Bagi instansi pemerintah

Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atas seberapa besar terkait pengaruh sumber daya manusia, audit internal pada system pengendalian internal pemerintah terhadap kualitaslaporan keuangan pemerintah daerah.

c. Bagi pihak lain

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan sebagai sumber referensi bagi peneliti selanjutnya apabila ingin melakukan dengan kajian yang sama.

d. Bagi peneliti selanjutnya

Dapat digunakan sebagai tambahan wawasan dan referensi untuk melakukan penelitian yang sejenis dengan adanya pengembangan

2.1. Landasan Teori

2.1.1. KualitasLaporan Keuangan Pemerintah Daerah

a) Pengertian KualitasLaporan Keuangan Pemerintahan Daerah.

(s

b) Komponen Laporan Keuangan pemerintahan Daerah.

(Indonesia, 2010) Adapun komponen laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah nomor 71 tahun 2010 tentang standar akuntansi pemerintahan (SAP) meliputi:

1. Laporan realisasi anggaran (LRA),

laporan realisasi anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya keuangan yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.

2. Laporan perubahan saldo anggaran lebih (Laporan Perubahan SAL) Laporan perubahan saldo anggaran lebih menyajikan informasi kenaikan atau penurunan saldo anggaran lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

3. Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu.

12

4. Laporan Operasional (LO),

Laporan operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu periode pelaporan.

5. Laporan arus kas (LAK),

Laporan arus kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah pusat/daerah selama periode tertentu.

6. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE),

Laporan perubahan ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

7. Catatan atas laporan keuangan (CALK)

Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam laporan realisasi anggaran, laporan perubahan sal, laporan operasional, laporan perubahan ekuitas, neraca, dan laporan arus kas.catatan atas laporan keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam standar akuntansi pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar.

c) Peranan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ( LKPD)

Laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh pemerintah daerah selama satu periode pelaporan.LKPD terutama digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan dan belanja dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, menilai efektivitas dan efisiensi pemerintah daerah, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan.

Sondakh, (2016) Peraturan pemerintah nomor 71 tahun 2010, pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan:

1. Akuntabilitas

Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada pemerintah daerah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik.

2. Manajemen

Membantu para pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pemerintah daerah dalam periode pelaporan sehingga memudahkan fungsi perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian

atas seluruh aset dan ekuitas dana pemerintah daerah untuk kepentingan masyarakat.

3. Transparansi

Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan.

4. Keseimbangan antargenerasi (Intergenerational Equity)

Membantu para pengguna laporan untuk mengetahui apakah penerimaan pemerintah daerah pada periode laporan cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.peranan laporan keuangan pemerintah daerah adalah mencakup akuntabilitas, manajemen, tranparasi dan kesinambungan antar generasi d) Tujuan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah

Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya.secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan

untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan:

a. Menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;

b. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah;

c. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;

d. Menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;

e. Menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan mendanai aktivitasnya;

f. Menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiaya penyelenggaraan kegiatan pemerintahan;

g. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.

Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan prediktif dan prospektif, menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan, sumber daya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan, serta risiko dan ketidakpastian yang terkait.pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi pengguna mengenai:

a. Indikasi apakah sumber daya daapat diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran.

b. Indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan, termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh DPR/DPRD.

Untuk memenuhi tujuan umum ini, laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal seperti aset kewajiban, ekuitas dana pendapatan,belanja,transfer, pembiayaan, dan . arus kas.

informasi dalam laporan keuangan tersebut relevan untuk memenuhi tujuan laporan keuangan pemerintah, namun tidak dapat sepenuhnya memenuhi tujuan tersebut. informasi tambahan, termasuk laporan non keuangan, dapat dilaporkan bersama-sama dengan laporan keuangan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai aktivitas suatu entitas pelaporan selama satu periode.

e) Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

(Widia, 2020) Agar laporan keuangan bermanfaat bagi para pemakainya, maka diperlukan karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari: dapat dipahami, relevansi, keandalan, dapat diperbandingkan (Standar Akuntansi Keuangan, 1999 ; 9 -14):

1. Dapat dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalahkemudahannya untuk segera dapat di pahami oleh

pemakai.untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.

2. Relevansi

Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.

3. Keandalan

Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable).informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

4. Dapat dibandingkan

Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasikan kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan.pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relative.

2.1.2.Sumber Daya Manusia

a. Definisi Kompetensi Sumber Daya Manusia

Dalam penyusunan laporan keuangan pemerintah yang berkualitas sangatlah dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman mengenai akuntansi pemerintahan.sumber daya manusia merupakan suatu acuan dalam membuat laporan keuangan yang berkualitas karena seseorang yang menyusun laporan keuangan adalah mereka yang sudah menguasai standar akuntansi pemerintah.

Khoirina, (2018) Sumber daya manusia adalah pilar penyangga utama sekaligus penggerak roda organisasi dalam usaha mewujudkan visi dan misi tujuannya”.suatu sistem yang baik tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak ditunjang oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai, khususnya kualitas pribadi sumber daya manusia yang terdiri dari potensi pendidikan, pengalaman, dan pelatihan

(khoirina, 2018)Menyatakan bahwa ada tiga buah komponen utama pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan, keterampilan dan perilaku individu yang dimiliki oleh masing-masing individu.

1. pengetahuan

Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dimiliki seorang pegawai untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai bidang tertentu.informasi yang dimiliki oleh seorang pegawai dapat digunakan untuk melaksanakan pekerjaan dalam kondisi nyata.berhasil atau tidaknya sebuah tugas akan dipengaruhi oleh seberapa banyak pengetahuan yang

dimiliki seorang pegawai. maka dari itu pegawai yang memiliki pengetahuan cukup baik akan lebih meningkatkan efisiensi kerja dalam melaksanakan tugasnya.

2. keterampilan

Keterampilan (skill) merupakan suatu upaya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada seorang pegawai dengan baik dan maksimal, misalnya keterampilan sama dengan memahami dan memotivasi orang lain baik secara individu maupun kelompok. didalam melaksanakan tugasnya, selain memiliki pengetahuan cukup pegawai juga perlu memiliki keterampilan khusus. keterampilan ini diperlukan untuk menduduki jabatan tertentu, karena keterampilan ini diperlukan saat berkomunikasi, memotivasi orang lain, maupun dalam menjalankan tugasnya agar terlaksana dengan mudah dan mencapai hasil yang sesuai dengan tujuan perusahaan atau sebuah instansi.

3. Perilaku/Sikap

Sikap (attitude) merupakan pola tingkah laku seorang pegawai didalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan peraturan perusahaan.pegawai diharapkan memiliki sikap yang mendukung tujuan sebuah organisasi dalam perusahaan.apabila pegawai sudah memiliki sikap tersebut maka secara otomatis segala tugas yang dibebankan kepadanya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pegawai akan merasa memiliki tanggung jawab penuh atas tugas yg telah diberikan.

2.1.3. PeranAudit Internal

Audit internal hanya terdapat hanya terdapat pada perusahaan yang relatif besar.dalam perusahaan ini pimpinan membentuk banyak departemen.bagian, seksi, atau suatu organisasi yang lain dan mendelegasikan sebagai wewenangnya kepada kepala-kepala unit organisasi tersebut. terdapat definisi mengenai audit internal menurut hery (2017) sebagai berikut: “audit internal adalah suatu fungsi penilian yang dikembangkan secara bebas dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatankegiatan sebagai wujud pelayanan terhadap organisasi perusahaan.

Pemeriksaan internal melaksanakan aktivitaspenilaian yang bebas dalam suatu organisasi untuk menelaah kembali kegiatan-kegiatan dalam bidang akuntansi, keuangan dan bidang-bidang operasi lainya sebagai dasar pemberian pelayanannya pada manajeman’’.Menurut The Institute of Internal Auditors (2017: 29) yang terdapat dalam Standard for Professional Practice of Internal Auditing, menyatakan bahwa: “Internal auditing is an independent appraisal function established within an organization to examine and evaluate as a service to the organization”.

Yang mempunyai arti sebagai berikut audit internal adalah fungsi penilaian independen yang ditetapkan dalam sebuah organisasi untuk diperiksa dan dievaluasi sebagai layanan untuk organisasi.

a. Fungsi Audit Internal dan Ruang Lingkup Audit Internal

Pada mulanya internal auditor dalam suatu perusahaan mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu mengadakan pengawasan atas pembukuan,

namun sejalan dengan meningkatnya sistem, aktivitas internal auditor tidak lagi berputar pada pengawasan pembukuan informasi akuntansi semata-mata.Akan tetapi mencakup pemeriksaan dan evaluasi terhadap kecukupan dan efektivitas sistem organisasi, sistem internal kontrol dan kualitas kertas kerja manajemen dalam melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.

Menurut Mulyadi (2010) fungsi audit internal dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Fungsi audit internal adalah menyelidiki dan menilai pengendalian internal dan efisiensi pelaksanaan fungsi sebagai tugas organisasi.

Dengan demikian fungsi audit internal merupakan bentuk pengendalian yang fungsinya adalah untukmengukur dan menilai efektifitas dari unsur-unsur pengendalian internal yang lain.

b. Fungsi audit internal merupakan kegiatan penilaian bebas, yang terdapat dalam organisasi, dan dilakukan dengan cara memeriksa akuntansi, keuangan, dan kegiatan lain, untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam melaksanakan tanggung jawab mereka. Dengan cara menyajikan analisis, penilaian rekomendasi, dan komentar-komentar penting terhadap kegiatan manajemen, auditor internal menyediakan jasa-jasa tersebut.

Auditor internal berhubungan dengan semua tahap kegiatan perusahaan, sehingga tidak hanya terbatas pada unit atas catatan akuntansi.

Dari uraian di atas sampai pada pemahaman penulis bahwa fungsi audit

internal adalah sebagai alat bantu manajemen untuk menilai efisisensi dan efektivitas pelaksanaan struktur pengendalian intern perusahaan, kemudian memberikan hasil berupa sarana atau rekomendasi dan member nilai tambah bagi manajemen yang akan dijadikan landasan untuk mengambil keputusan atau tindakan selanjutnya. Menurut Mulyadi (2010 )

Ruang lingkup pemeriksaan internal menilai kefektifan pada sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang diberikan, pemeriksaan internal harus:

1. Mereview keandalan (reliabilitas dan integritas) 2. Mereview berbagai sistem yang telah ditetapkan 3. Merview berbagai cara yang dipergunakan 4. Mereview berbagai operasi atau program.

Adapun penjelasan dari ruang lingkup audit internal di atas adalah:

1. Mereview keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi finansial dan operasi serta cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklarifikasi dan melaporkan informasi tersebut.

2. Mereview berbagai sistem yang telah ditetapkan untuk memastikan kesesuaian dengan berbagai kebijakan, rencana, prosedur, hukum dan peraturan yang dapat berakibat penting terhadap kegiatan organisasi, serta harus menentukan apakah organisasi telah mencapai kesesuaian dengan halhal tersebut.

3. Merview berbagai cara yang dipergunakan untuk melindungi harta dan bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan harta-harta tersebut.

4. Menilai keekonomisan dan keefisienan penggunaan berbagai sumber daya.

5. Mereview berbagai operasi atau program untuk menilai apakah hasilnya akan konsisten dengan tujuan dan sarana yang telah ditetapkan dan apakah kegiatan atau program tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.

b. Tujuan Audit Internal

Pada umumnya, tujuan dilakukannya audit internal dalam suatu perusahaan adalah untuk membantu seluruh anggota organisasi khususnya pihak manajeman dalam menganalisis dan mengawasi tanggung jawab masing-masing anggota, apakah telah berjalan efektif dan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Menurut Sukrisno Agoes (2013)tujuan audit internal menyatakan bahwa: “Tujuan Audit Internal adalah untuk membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam menyelesaikan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, dan komentar mengenai kegiatan pemeriksaan.”Menurut Alfred F.

Kaunang (2013), terdapat 2 (dua) tujuan atau sasaran dilakukannya aktivitas audit internal, yaitu:

1. Penilaian yang independen dan rekomendasi kepada manajemen.

2. Melayani kepentingan manajemen.

Penjelasan lebih dalam terkait dua hal tersebut diatas adalah sebagai berikut:

1. Sasaran atau tujuan secara menyeluruh dari internal audit department (departemen audit internal ) adalah memberikan penilaian yang idependen (tidak memihak) atas catatan-catatan akuntansi, keuangan, dan segala aktivitas di dalam suatu perusahaan atau grup dari perusahaan dan memberikan rekomendasi yang berhubungan dengan penilaian tersebut kepada manajeman perusahaan untuk mengambil keputusan.

2. Memberikan gambaran kepada semua pihak bahwa tugas bahwa internal audit department adalah untuk melayani kepentingan manajeman. Dalam memberikan pelayanan kepada manajeman tersebut, audit internal dituntut oleh untuk: Tahapan Pelaksanaan Audit Internal Setiap pelaksanaan kegiatan pasti memiliki suatu urutan tahapan tertentu yang harus dilakukan secara berurutan agar kegiatan tersebut dapat memberikan suatu hasil yang sesuai dengan harapan atau sesuai dengan seharusnya. Sama halnya dengan kegiatan atau aktivitas-aktivitas dalam lingkup suatu perusahaan atau organisasi, c. Tahapan Pelaksanaan Audit Internal

Setiap pelaksanaan kegiatan pasti memiliki suatu urutan tahapan tertentu yang harus dilakukan secara berurutan agar kegiatan tersebut dapat memberikansuatu hasil yang sesuai dengan harapan atau sesuai dengan seharusnya. Sama halnya dengan kegiatan atau aktivitas- aktivitas

dalam lingkup suatu perusahaan atau organisasi, termasuk di dalamnya adalah kegiatan pemeriksaan internal, kegiatan pemeriksaan internal harus dilaksanakan dengan memperhatikan urutan-uruta atau tahapan pelaksanaannya, karena ketika dilaksanakan tidak sesuai dengan tahapan yang seharusnya atau dengan kata lain dilaksanakan dengan secara tidak berurutan, maka kegiatan pemeriksaan internal tersebut akan menghasilkan suatu output yang tidak sesuai dengan seharusnya atau tidak dapat diandalkan untuk kemudian dijadikan referensi bagi manajemen untuk melakukan tindak lanjut darihasil kegiatan pemeriksaan tersebut

Menurut Hiro Tugiman (2014: 53-75), tahapan-tahapan dalam pelaksanaan kegiatan audit internal adalah sebagai berikut:

1. Tahap perencanaan audit

2. Tahap pengujian dan pengevaluasian informasi 3. Tahap penyampaian hasil audit

4. Tahap tindak lanjut hasil pemeriksaan 2.1.4. Sistem Pengendalian Internal pemerintah

a) Pengertian Sistem pengendalian Internal

(Tamodia, 2018) Sistem pengendalian Internal (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sistem Pengendalian

Intern Pemerintah (SPIP) adalah Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.” Jadi, sistem pengendalian intern merupakan proses yang dilakukan secara berkelanjutan dan menyeluruh melalui tindakan dan kegiatan untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas tujuan sistem pengendalian intern yaitu kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

b) Unsur Sistem Pengendalian Internal

Sistem Pengendalian Intern memiliki unsur-unsur di dalamnya yang terdiri dari lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan.Unsur-unsur tersebut tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Adapun unsur-unsur sistem pengendalian intern sebagai berikut:

1. Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian menggambarkan keseluruhan sikap organisasi yang memengaruhi kesadaran dan tindakan personel organisasi mengenai pengendalian. Menurut setjen, deptan.go.id, lingkungan pengendalian adalah kondisi dalam Instansi Pemerintah yang mempengaruhi efektivitas pengendalian intern.

(Salomo 2018)Menurut Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008:Pimpinan instansi pemerintah wajib menciptakan dan

memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan sistem pengendalian intern dalam lingkungan kerjanya, melalui:

a. Penegakan integritas dan nilai etika.

b. Komitmen terhadap kompetensi.

c. Kepemimpinan yang kondusif.

d. Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan.

e. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat.

f. Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan sumber daya manusia.

g. Perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif.

h. Hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait.”

2. Penilaian Resiko

Penilaian risiko adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan dan sasaran instansi pemerintah. Unsur ini memberikan penekanan bahwa pengendalian intern harus memberikan penilaian atas risiko yang dihadapi unit organisasi baik dari luar maupun dari dalam.Menurut Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, Pimpinan instansi pemerintah wajib melakukan penilaian resiko, yang terdiri atas:

a. Identifikasi risiko.

b. Analisis risiko.

Identifikasirisiko sekurang-kurangnya dilaksanakan dengan menggunakan metodologi yang sesuai untuk tujuan instansi pemerintah dan tujuan pada tingkatan kegiatan secara komprehensif, menggunakan mekanisme yang memadai untuk mengenali risiko dari faktor eksternal dan faktor internal serta menilai faktor lain yang dapat meningkatkan risiko. Sedangkan analisis resiko dilaksanakan untuk menentukan dampak dari risiko yang telah diidentifikasi terhadap pencapaian tujuan Instansi Pemerintah dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.

Dalam rangka penilaian risiko pimpinan Instansi Pemerintah perlu menetapkan tujuan Instansi Pemerintah dan tujuan pada tingkatan kegiatan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Tujuan Instansi Pemerintah memuat pernyataan dan arahan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, realistis, dan terikat waktu. Tujuan Instansi Pemerintah tersebut wajib dikomunikasikan kepada seluruh pegawai, sehingga untuk mencapainya pimpinan Instansi Pemerintah perlu menetapkan strategi operasional yang konsisten dan strategi manajemen yang terintegrasi dengan rencana penilaian risiko.

3. KegiatanPengendalian

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memastikan pelaksanaan petunjuk yang dibuat oleh manajemen.

Menurut setjen, deptan.go.id, kegiatan pengendalian adalah tindakan yang

diperlukan untuk mengatasi risiko serta penetapan dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur untuk memastikan bahwa tindakan mengatasi risiko telah dilaksanakan secara efektif.Menurut Pasal 18 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008:“Pimpinan instansi pemerintah wajib . menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi instansi pemerintah yang bersangkutan, yang terdiri atas:

a. Reviu atas kinerja instansi pemerintah yang bersangkutan.

b. Pembinaan sumber daya manusia.

c. Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi.

d. Pengendalian fisik atas aset.

e. Pemisahan fungsi.

f. Penetapan dan reviu atas indikator dan ukuran kinerja, dilakukan dengan cara menetapkan ukuran dan indikator kinerja serta mereviu secara periodik atas ketetapan dan keandalan ukuran dan indikator kinerja.

g. Otorisasi atas transaksi dan kejadian yang penting.

h. Pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dalam kejadian.

i. Pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya.

i. Pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya.