• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. DESKRIPSI TEMUAN ANALISIS DATA DAN

B. Deskripsi Data

1. Latar Belakang Sejarah Terbentuknya Kekanta

Alex Lanur, OFM (Pembimbing Kekanta) merujuk pada maklumat Paus Yohanes Paulus II dalam Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara-Saudari Ordo Ketiga Regular St. Fransiskus Assisi (1984:3) mengatakan bahwa:

Sama seperti pada masa yang lalu, demikian juga pada zaman kita ini cita-cita hidup Fransiskan (Franciscanum vitae propositum) tetap memikat banyak orang, pria maupun wanita yang haus akan kesempurnaan Injil serta merindukan Kerajaan Allah. Kutipan ini, paling tidak, mau menyatakan adanya cita-cita hidup (cara hidup) yang mempuyai hubungan yang khusus dengan St. Fransiskus dari Assisi (1181/1182-1226). Cara hidup itu terbuka untuk pria dan wanita yang berupaya untuk mengejar kesempurnaan Injil (menepati Injil Suci) menurut jalan yang ditunjukkan oleh St. Fransiskus Assisi kepada para pengikutnya. Hubungan khusus dengan St. Fransiskus itu diungkapkan dengan pernyataan bahwa dia adalah Pendiri (Fundator) cara hidup yang terbuka untuk pria dan wanita yang berusaha untuk mengejar kesempurnaan Injil (menempati Injil suci) tersebut.

Rm. Alex Lanur, OFM bertolak dari perspektif Isabell (1979:123-144) untuk menjelaskan perkembangan tarekat pengikut spiritualitas St. Fransiskus Assisi yang mengatakan bahwa:

Nyatanya ada tiga cara atau gaya hidup untuk menepati Injil suci yang didirikan oleh St. Fransiskus dan bernaung di bawah spiritualitas St. Fransiskus Assisi. Ketiganya adalah Ordo Pertama St. Fransiskus, Ordo Kedua St. Fransiskus (Ordo St. Clara), dan Ordo Ketiga St. Fransiskus (Ordo Para Pentobat). Dalam sejarahnya Ordo Pertama St. Fransiskus bercabang tiga yaitu OFM (Ordo Fratrum Minorum), OFM Cap (Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum) dan OFM Conv (Ordo Fratrum Minorum Conventualium). Ordo Kedua St. Fransiskus yakni OSC (Ordo Santae Clarae) terdiri atas OSC (Ordo Santae Clarae) dan OSCCap (Ordo Santae Clarae Capuccinarum) lalu Ordo Ketiga St. Fransiskus (Ordo Para Pentobat) terdiri atas OFR/TOR (Ordo Franciscanus Regularis) dan OFS (Ordo Franciscanus Saecularis).

Rm. Alex Lanur, OFM merujuk pada Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia (2017:279-661) untuk menjelaskan tentang ordo dan kongregasi yang mengikuti spiritualitas St. Fransiskus Assisi yang berkarya di Indonesia dari ordo pertama sampai dengan ordo ketiga sebagai berikut:

Ketiga Ordo St. Fransiskus itu juga hidup dan berkarya di Indonesia. Ordo Pertama St. Fransiskus yang hidup dan berkarya di Indonesia adalah: OFM (Ordo Fratrum Minorum) (1929), OFM Cap (Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum) (1905), OFM Conv (Ordo Fratrum Minorum Conventualium) (1937). Ordo Kedua yang hidup dan berkarya di Indonesia adalah: OSC (Ordo Santae Clarae) (1934) dan OSC Cap. (Ordo Santae Clarae Capuccinarum) (1937). Dari antara Ordo Ketiga St. Fransiskus yang hidup dan berkarya di Indonesia adalah: MTB (Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda) (1921), DSY (Suster-suster Dina Santo Yoseph (1938), FCh (Suster-suster Santo Fransiskus Charitas) (1926), FCJM (Franciscanae Cordis Jesu et Mariae) (1930), FMM (Franciscan Missionaries of Mary) (1933), FSE (Suster-suster Fransiskan Santa Elisabeth) (1925), FSGM (Suster-suster Fransiskan Santo Georgius Martir) (1932), KFS (Kongregasi Fransiskanes Sambas) (1924), KSFL (Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia) (1925), OSFSemarang (Ordo Sancti Francisci) (1870) OSFSibolga (Suster-suster Fransiskanes Sibolga) (1964), SFD (Suster-suster Fransiskus Dina) (1923), SFIC (Sororum Fransciscalium ab Immaculata Conceptione A Beata Matre Dei) (1906), SFS (Suster-suster Fransiskan Sukabumi) (1933), SMFA (Suster-suster Misi Fransiskan Santo Antonius) (1931) dan OFS (Ordo Ketiga Sekular St. Fransiskus) (1980-an).

Rm. Alex Lanur, OFM menjelaskan gambaran umum tentang kerjasama Antar Fransiskan di Negeri Belanda pada tahun 1962 yang diberi nama

Franciskaanse Samenwerking (Kerjasama Antar Fransiskan). Dikatakan bahwa ada hubungan antara apa yang terjadi di Negeri Belanda dan di Indonesia. Kejadian itu ada kaitan dengan St. Fransiskus Assisi, dikatakan bahwa:

Pada tahun 1976 para Fransiskan di seluruh dunia, termasuk, paling tidak, anggota Ordo Pertama St. Fransiskus di Indonesia memperingati dan merayakan 750 tahun wafatnya St. Fransiskus Assisi. Kalau tidak keliru, menjelang akhir tahun itu atau pada permulaan tahun berikutnya diadakan pertemuan para pemimpin (Provinsial) Ordo/Kongregasi di Indonesia yang bernaung di bawah spiritualitas St. Fransiskus Assisi. Pertemuan tersebut diadakan di Biara Santa Klara, Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat. Dalam pertemuan tersebut diputuskan agar dibentuk satu wadah Kerjasama Antar para Saudara dan Saudari yang bernaung dibawah spiritualitas St. Fransiskus Assisi. Para peserta mengalami betapa mendesaknya kebutuhan dan betapa kuatnya kerinduan mereka serta para Saudara-saudari yang diwakilinya untuk berjalan bersama dan saling membantu dalam upaya mengikuti jejak Tuhan kita Yesus Kristus menurut jalan yang ditunjukkan oleh St. Fransiskus kepada mereka. Untuk itu mereka sepakat membentuk satu wadah Kerjasama Antar Fransiskan. Bentuk kongkret dari wadah tersebut berupa Sekretariat Kerjasama Antar Fransiskan di Indonesia (SEKAFI).

Lebih lanjut diputuskan bahwa untuk memperlancar proses kerjasama ini, maka hasil pertmuan itu diputuskan:

Mengangkat beberapa Saudara dan Saudari sebagai ‘pengurus’ yang mengolah dan mengelola kerjasama tersebut. Juga diputuskan untuk mengangkat seorang Sekretaris Eksekutif yang menangani secara langsung Kerjasama Antar Fransiskan tersebut. Dalam pertemuan tersebut juga disuarakan perlunya menerbitkan sebuah Majalah Intern Fransiskan Indonesia secara berkala. Dan diharapkan agar dalam Majalah tersebut disajikan pokok-pokok yang membantu mewujudkan upaya untuk mengikuti jejak Tuhan kita Yesus Kristus menurut jalan yang ditunjukkan oleh St. Fransiskus. Nyatanya Majalah tersebut kemudian benar-benar diterbitkan untuk pertama kalinya berupa stensilan pada tahun 1978. Dan nama yang diberikan adalah PERANTAU. Juga dalam rangka mendalami serta menghayati cara hidup St. Fransiskus dan cara hidup yang diwariskannya diharapkan agar disediakan buku-buku yang dapat membantu untuk mendalami dan menghayatinya dengan tepat, dengan benar dan dengan setia.

Dalam uraian selanjutnya Rm. Alex Lanur, OFM menjelaskan bahwa kehadiran Ordo atau Kongregasi di atas, tersebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Di antaranya di Keuskupan Agung Semarang. Ada beberapa kongregasi kongregasi Fransiskan di Keuskupan Agung Semarang, diantaranya “OFM, OSC, MTB, DSY, FCh, FCJM, FMM, FSGM, FSE, KFS, KSFL, OSF, SFD, SFS dan SMFA. Dari sekian jumlah kongregasi ini, ada beberapa kongregasi yang memiliki lebih dari satu komunitas.”

Rm. Alex Lanur, OFM menguraikan tentang keberadaan para pengikut spiritualitas St. Fransiskus Assisi di Yogyakarta yang mendengar baik hasil pertemuan para Propinsial di Biara St. Clara, Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat, yang mengatakan bahwa:

Bukan hanya para pemimpin (Provinsial) masing-masing kongregasi saja yang merindukan adanya dan terbentuknya satu wadah Kerjasama Antar Fransiskan itu. Para saudara dan saudari yang berkarya dan hidup di Keuskupan Agung Semarang, khususnya yang hidup dan berkarya di Daerah Istimewa Yogyakata (DIY) juga merindukan hal yang sama. Hal itu terungkap baik dalam pertemuan informal (sambil lalu) antar pribadi para Fransiskan maupun dalam pertemuan yang formal sebagai kelompok. Namun kerinduan itu mesti dibicarakan bersama antar para saudara dan saudari yang hidup dan berkarya dalam wilayah Keuskupan Agung Semarang, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebab, kalau tidak, kerinduan itu akan berada dan berkobar dalam hati saja dan tidak akan mendapat wujudnya yang konkret.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pengaruh perkembangan dan kehadiran Ordo Ketiga Regular Fransiskan di Yogyakarta menjadi lebih konkret dalam membangun kerjasama yang menghasilkan kesepakatan bersama untuk secara konkret dalam mewujudkan semangat St. Fransiskus Assisi, dikatakan bahwa:

Ternyata jumlah Ordo dan Kongregasi para saudara dan saudari yang hidup dan berkarya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan mayoritas dari jumlah Ordo dan Kongregasi para saudara dan saudari yang

hidup dan berkarya di wilayah lain dalam Keuskupan Agung tersebut. Merekalah yang mengambil prakarsa untuk mengadakan pembicaraan bersama itu. Pembicaraan bersama itu diprakarsai oleh para Saudara Dina OFM yang menghuni Biara St. Bonaventura, Jl. Legi, Papringan, Yogyakarta. Dan pembicaraan tersebut, yang diikuti oleh para saudara dan saudari yang hidup dan berkarya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilangsungkan pada tahun 1977/1978. Dalam pembicaraan bersama itu disepakati terbentuknya wadah Kerjasama Antar Fransiskan di Keuskupan Agung Semarang, yang berkedudukan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Wadah tersebut diberi nama KEKANTA (Keluarga Fransiskan Yogyakarta).

Menurut Br. Bram Homel, MTB selaku pendamping Kekanta menguraikan tentang sejarah berdirinya Kekanta sebagai berikut:

Tahun 1972 waktu saya tiba di Yogyakarta belum ada Kekanta. Namun, menjelang perayaan bersama transitus Fransiskus Keluarga Fransiskan di Yogyakarta (OFM, OSF Semarang, MTB dan OFS) mengadakan tridium bersama di susteran OSF Kidul Loji yang biasanya dipimpin oleh Rm. Cletus Groenen OFM (alm). Saya tidak ingat sampai kapan situasi ini berlangsung. Tetapi waktu saya kembali ke Yogyakarta pada tahun 1981 seingat saya sudah ada. Dasawarsa 60-80 an boleh dilihat sebagai masa peralihan. Pengaruh budaya dan tokoh Indonesia berkembang, sementara pengaruh budaya Belanda makin berkurang.

Lebih lanjut Br. Bram Homel MTB menerangkan bahwa:

Selain masa peralihan budaya yang juga disebut Indonesianisasi atau dalam skope dunia indigenisasi masih ada faktor lain, yakni himbauan “aggiornamento” Konsili Vat II serta dokumen gereja mengenai pembaharuan hidup religius. Waktu itu, mungkin sama dengan sekarang, banyak perubahan sedang berlangsung namun ada dua yang paling relevan untuk sejarah awal Kekanta. Masa peralihan budaya (Indonesianisasi) boleh dilihat sebagai suatu proses reinkarnasi. Spiritualitas hidup membiara sedang mencari wujud budaya yang baru. Himbauan “aggiornamento” pun mengajak semua tarekat untuk menggali dan menemukan kembali semangat para pendiri dan spiritualitasnya. Kebutuhan akan pendalaman spiritualitas, yang didukung baik oleh proses Indonesianisasi maupun oleh himbauan gereja melatarbelakangi kerja sama antar tarekat yang bersemangat Fransiskan.

Menurut Br. Petrus Handoko, MTB anggota Kekanta yang sejak tahun 1973 bergabung dalam Kongregasi Bruder MTB sebagai novis menjelaskan

tentang sejarah terbentuknya Keluarga Fransiskan-Fransiskanes di Yogyakarta bermula sebagai berikut:

Ketika masuk menjadi calon bruder MTB di Jln. Ngadikan No. 01 Yogyakarta tahun 1973 hampir setiap bulan anggota komunitas Novisiat Alverna MTB menghadiri pertemuan di susteran OSF Kidoloji mendengarkan ceramah uraian hal-ikhwal tentang St. Fransiskus Assisi. Yang mengikuti pertemuan pada waktu itu adalah Ordo OFM, Kongregasi Suster OSF Semarang, Kongregasi Bruder MTB dan OFS. Yang menjadi nara sumber adalah Rm. Groenen, OFM. Pada tahun 1976 saya mendapat tugas belajar di Yogyakarta, pengikut spiritualitas St. Fransiskus Assisi bertambah.

Br. Petrus Handoko, MTB menguraikan lebih lanjut tentang sejarah perkembangan Kekanta pada saat menjalani studi sebagai mahasiswa di Universitas Sanata Dharma, sebagai berikut:

Sebelum tahun 1983 di Yogyakarta tampaknya saudara-saudari pengikut St. Fransiskus semakin bertambah banyak. Pada tahun itu, di Yogyakarta ‘lahir’ saudara-saudari pengikut spiritualitas St. Fransiskus Awam (ordo ketiga). Melihat keadaan ini semakin jelas dan besar kebutuhan akan memperkaya tentang spiritualitas atau semangat hidup St. Fransiskus Assisi. Pada tahun 1983 wadah yang disebut Kekanta disepakati oleh pimpinan komunitas dan pengurus ordo ketiga awam. Pada waktu itu, Rm. Yan Laju OFM (alm) sebagai moderator Kekanta dan untuk pelaksanaan praktis dipercayakan kepada para frater-frater OFM yang teologan.

2. Penghayatan spiritualitas St. Fransiskus Assisi dalam Karya Pelayanan

Dokumen terkait