BAB II. KAJIAN PUSTAKA
C. Nilai-Nilai Spiritualitas Santo Fransiskus Assisi
Dalam Dokumen Konsili Vat II tentang Konstitusi Pastoral LG 43, menjelaskan bahwa:
Nasihat-nasihat Injil tentang kemurniaan yang dibaktikan kepada Allah, kemiskinan dan ketaatan, didasarkan pada Sabda dan teladan Tuhan, dan diajurkan oleh para Rasul, para Bapa, para guru dan gembala Gereja. Maka nasihat-nasihat itu merupakan karunia Ilahi yang oleh Gereja diterima dari Tuhan dan selalu dipelihara dengan bantuan rahmat-Nya.
Untuk mendukung perspektif di atas dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang penyesuai dan pembaharuan hidup religius dikatakan bahwa:
Akan bermafaat bagi Gereja, bila tarekat-tarekat mempunyai corak serta perannya yang khas. Maka hendaknya diakui dan dipelihara dengan setia semangat para pendiri serta maksud-maksud yang khas, begitu pula tradisi-tradisi yang sehat yang kesemuanya merupakan pusaka warisan setiap tarekat.
Conti (2005:XX-XXII) menulis empat (4) nilai-nilai penghayatan spiritualitas St. Fransiskus Assisi yang menjadi dasar cara hidup pengikut St.
Fransiskus Assisi. Keempat nilai yang dimaksud adalah pertobatan, kemiskinan, kedinaan, dan berdoa. Keempatnya memiliki ciri khas seperti semangat kesederhanaan, semangat kegembiraan, semangat untuk menjadi misionaris perdamaian dan keadilan.
1. Pertobatan
Menurut Conti (2005:XXI) menjelaskan bahwa St. Fransiskus Assisi hidup dalam pertobatan merupakan suatu perjalanan hidup menurut Injil, hidup dalam pertobatan terus-menerus mesti dipadang sebagai suatu anugerah dari Tuhan. Semangat itu diterima dengan menghayati perubahan total secara batiniah dan lahiriah dalam hidup. Lebih lanjut Conti (2005:9) menjelaskan bahwa:
Pertobatan sejati menurut Injil menjadi ciri khas identitas ordo ketiga regular St. Fransiskus Assisi. Sebagai unsur yang sama yang bernaung dibawah semangat St. Fransiskus Assisi, pertobatan sejati memberikan ciri khas pada pola pertobatan dalam mengenal dan menyembah Tuhan, serta mendorong anggota ordo untuk melayani Tuhan dalam sesama melalui kegiatan apostolik dan atau karitatif.
Dister (1997:127) menjelaskan bahwa pertobatan Fransiskus membiarkan Tuhan meresapi seluruh hati sedalam-dalamnya, dikatakan bahwa:
Orang yang bertobat dalam hati yang sesungguhnya, berhenti mencari jaminan dalam dirinya sendiri. Ia melepaskan pemutlakan terhadap nilai duniawi seperti hak milik, tugas, kuasa, seksualitas, pangkat, mobil, ijasah dan lain-lain. Semua itu tidak didewakannya lagi. Ia berbalik dari segala berhala dari semacam itu dan membuka diri seluruhnya bagi Kristus saja sebagai “tuan yang baru” (Mat 6:24). Sebaliknya, orang berdosa ialah orang yang pada dasarnya tidak mau percaya kepada Allah sebagai jaminan hidup yang sebenarnya. Tinggal dalam dosa berarti tetap nekad dalam usaha untuk mencari perlindungan hanya dalam dirinya sendiri, sambil menolak masuknya Kerajaan Allah ke dalam hidupnya.
Lanur (2019:21-22) dalam majalah Gita Sang Surya mengatakan bahwa buah pertobatan adalah bahwa Roh Allah tinggal pada mereka yang menemukan tempat istrahat-Nya pada mereka. Karena itu mereka menjadi anak-anak Bapa Surgawi, karena berkat hidup mereka dalam pertobatan mereka melaksanakan karya Bapa. Buah pertobatan kedua adalah bahwa mereka menjadi mempelai, saudara dan saudari, dan ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Lanur mengutip 2SurBerim 33-38 menegaskan bahwa buah pertobatan juga cinta akan sesama dan mengamalkan belas kasihan, memberi sedekah, berpuasa dan bepantang, serta mengunjungi gereja-gereja, menaruh rasa hormat dan takzim kepada para rohaniwan dan mengambil bagian dalam Ekaristi Kudus.
Marpaung (2006:59) memberikan petunjuk yang jelas bagaimana “melakukan pertobatan” (facere poenitentiam) dan menyebutkan apa yang termasuk ke dalamnya atau yang diperlukan untuk pertobatan. Marpaung mengutip alinea pertama dalam Surat Kedua Orang Beriman (2SurBerim) ada lima (5) elemen dasar, yakni: Cinta Allah, cinta sesama, melawan kecenderungan pada dosa, menerima sakramen terutama sakramen Ekaristi dan melakukan apa yang sesuai dengan pertobatan.
2. Kemiskinan
Conti (2005:XXI) menjelaskan bahwa “Kemiskinan bagi St. Fransiskus, lahir dari penghayatan Kristus yang ‘walaupun ilahi’ tetapi melepaskan keilahiannya dan mengosongkan diri” (Flp 2:7). Menurut Anggaran Dasar yang diteguhkan dengan Bulla (dalam Esser, 2001:179) kemiskinan itu dilaksanakan
dalam cara hidup mengikuti Kristus menurut gaya St. Fransiskus, sebagai “musafir dan perantau” di dunia ini, dikatakan bahwa:
Saudara-saudari tidak boleh membuat sesuatupun menjadi miliknya, baik rumah maupun tempat kediaman dan barang apapun. Sebagai musafir dan perantau di dunia ini, yang mengabdi kepada Tuhan dalam kemiskinan dan kerendahan, hendaklah mereka pergi minta sedekah dengan penuh kepercayaan dan mereka tidak perlu merasa malu, sebab Tuhan sendiri telah mebuat diri-Nya menjadi miskin di dunia ini bagi kita. Inilah puncak kemiskinan yang amat luhur itu, yang menetapkan kamu, saudara-saudaraku yang terkasih, menjadi ahli waris dan raja kerajaan surga, membuat kamu miskin akan harta benda, tetapi membumbung tinggi dalam keutamaan-keutamaan.
Kemiskinan itu mengubah cara membawa diri berhadapan dengan segala sesuatu, semua orang, Allah sendiri, sambil menuntut sikap mengosongkan diri atau menolak barang-barang material, melayani sesama secara timbal balik, serta sikap percaya dan bersyukur kepada Allah. Paus Yohanes II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis, 1987, No. 42 yang dikutip oleh Suharyo (2009:175-177) mengatakan demikian:
Perlulah ditegaskan sekali lagi asas karateristik ajaran sosial Kristiani, harta benda di dunia ini pada mula dimaksudkan bagi semua orang. Hak milik perorangan memang berlaku dan perlu juga, tetapi tidak menghapus prinsip itu. Kenyataannya milik perorangan itu terikat pada kewajiban sosial, artinya pada hakikatnya mempunyai fungsi sosial justru berdasarkan prinsip bahwa harta benda diperuntukkan bagi semua orang. Dalam Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium et Spes 69 dijelaskan bahwa Allah menghendaki supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian semua bangsa, sehingga harta benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedomaan pada keadilan, diiringi dengan cinta kasih. Bagaimana pun bentuk-bentuk pemilikan, sesuai dengan ketetapan-ketetapan hukum bangsa-bangsa, pun menurut situasi yang serba berbeda-beda dan berubah-ubah, selalu harus diindahkan bahwa harta benda bumi diperuntukkan bagi semua orang. Oleh karena itu manusia, sementara menggunakannya, harus memandang hal-hal lahiriah yang dimilikinya secara sah bukan hanya sebagai miliknya sendiri, melainkan juga milik umum, dalam arti bahwa
hal-hal itu dapat berguna, tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi sesamanya.
3. Kedinaan
Ciri khas para pengikut spiritualitas St. Fransiskus Assisi dalam perjalanan hidup di dunia, dalam bersikap terhadap orang lain, baik dalam komunitas, dalam lingkungan kerja dan kerasulan. Santo Fransiskus menghendaki para pengikutnya berada sebagai saudara dina, paling kecil dari semua, sama semua orang. Kehinadinaan adalah suatu dimensi dasariah dari keberadaan sebagai pengikut Fransiskus Assisi. Aspek kehinadinaan ini mengandung pembebasan dari segala bentuk penguasaan atau manipulasi terhadap orang lain. Itulah suatu gaya hidup hina-dina. Karena dengan gaya hidup seperti itulah, warta perdamaian dapat dibawa dan persekutuan dengan semua orang dapat ditumbuhkan.
4. Berdoa
Kitab Suci mengatakan “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Semangat doa adalah nilai dasariah yang mengandung kekayaan dan vitalitas dari dimensi kontemplatif hidup para Fransiskan-Fransiskanes. Untuk mendukung gagasan di atas Esser (2001:234) mengutip Surat Kedua Kepada Kaum Beriman (2SurBerim) untuk menegaskan “Doa yang ditandai oleh pujian dan syukur kepada Allah, Bapa Mahapencipta, membina diri untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan sehingga mampu menciptakan dan
mempersembahkan kepada Tuhan tempat tinggal yang stabil dan pasti dalam diri.” Menurut Jacobs (1989:65) doa seorang religius monastik adalah kerasulan, tidak ada kerasulan disamping doa. Kita berbicara mengenai doa dan kerasulan. Bukan mengenai waktu doa dan waktu kerasulan, tetapi mengenai kegiatan doa dan kegiatan kerasulan.