• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen SKRIP KARYA SENI ING KALI CIMANUK (Halaman 12-16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1 Latar Belakang

Ada berbagai macam sumber daya alam di dunia ini, dari sekian banyak sumber daya alam yang ada salah satunya adalah sungai. Sungai adalah aliran air yang besar buatan alam.1 Sungai itu biasa digunakan manusia untuk mandi, mencuci, buang air, dan memancing, untuk hewan adalah tempat berkembang biaknya ikan, dan tumbuhan yang hidup di dekat sungai dapat tumbuh dan berkembang secara baik, pohonnya rindang dan banyak daunnya. Misalnya sungai Cimanuk yang berada di Kota Indramayu Jawa Barat. Sungai Cimanuk adalah salah satu dari sekian banyak sumber daya alam di Provinsi Jawa Barat yang keberadaannya juga mempunyai peranan yang cukup penting bagi kehidupan sosial masyarakat Indramayu. Sungai ini adalah bagian hilir dari daerah Pantai Utara Jawa, sedangkan hulunya melalui Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Bandung. Nama Cimanuk itu sendiri tidak hanya dikenal di daerah Indramayu saja, tetapi di daerah hulu sungai yang lainnya pun dinamakan sungai Cimanuk2.

Sungai Cimanuk banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dalam aktivitas sehari-hari seperti mencuci, mandi, buang air dan memancing. Tidak jarang juga air sungai Cimanuk digunakan untuk mencuci sayur dan beras atau digunakan sebagai air minum. Bisa dikatakan sungai Cimanuk adalah salah satu                                                                                                                          

1 Tim penyusun, 2013, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia, hal. 1356.

2  Hasil wawancara dengan bapak Drs. Umar Budi Karyadi selaku kepala departemen budaya dan pariwisata, 9-3-2014.  

sungai yang difungsikan sebagai sentra aktivitas keseharian masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas alam yang tersedia.

Suatu ketika, dalam perjalanan hendak pulang ke kampung halaman terlintas oleh angan bahwa penata ingin membuat sebuah garapan karya seni tari yang bertemakan masalah lingkungan. Manakala masyarakatnya yang tidak peduli terhadap persoalan lingkungan ditambah pula dengan pemerintah daerah setempat yang mempunyai sikap acuh tak acuh. Persoalan lingkungan itu dapat dirasakan Sungai Cimanuk yang dulunya indah, kini kondisinya tidak seindah dulu lagi.

Kondisi sungai Cimanuk sekarang dijadikan tempat pembuangan sampah, sehingga aliran airnya diam, sungai tidak dapat mengalir lagi. Maka penata merasa tergugah dengan melihat kondisi sungai yang sangat memprihatinkan.

Dalam garapan karya seni tari ini, penata ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah daerah setempat untuk mengingatkan kembali akan kondisi sungai dan pentingnya fungsi sungai Cimanuk bagi masyarakat disekitarnya. Keadaan sungai seperti ini bagi penata cukup mengganggu dan memberikan beban moral (perasaan bersalah) karena tidak dapat dipungkiri bahwa penata lahir dan tumbuh besar di daerah ini. Sehingga secara tidak langsung hal tersebut memberikan inspirasi bagi penata untuk ikut berperan serta dalam usaha pelestarian lingkungan khususnya di daerah asal penata yaitu kota Indramayu.

Kota Indramayu dengan sebutan Kota Mangga ini, memiliki berbagai macam tari tradisional, seperti tari Topeng, tari Rudat, dan juga tari Trebang Randu Kentir yang masih dilestarikan masyarakat Indramayu hingga saat ini. Tari Trebang Randu Kentir merupakan seni tari tradisional yang berkembang di

masyarakat Indramayu dan dipengaruhi oleh pola kehidupan masyarakatnya. Tari Trebang Randu Kentir merupakan kisah dari keluarga Ki Dariwan dan Nyi Dariwan, yang bertempat tinggal dipinggir sungai Cimanuk kabupaten Indramayu yang ditolong oleh Ki Kuwu Sangkan (penguasa daerah pada masa itu) kerena cuciannya hanyut (kentir). Tari Trebang Randu Kentir adalah sebuah seni tradisional yang merupakan bagian dari upacara adat, misalnya upacara adat Sangkan rahayu (tolak bala) atau kirim doa arwahi, upacara adat lepas panen, upacara adat Nadran, dan orang yang punya hajat khitanan. Dalam perkembangannya, tarian ini menjadi sarana dakwah karena mengandung nilai-nilai ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Karena itulah masyarakat menjadi takut jika meninggalkan kesenian tradisional tersebut. Pada akhirnya mendorong masyarakat untuk tetap menghadirkan tari Trebang Randu Kentir pada perayaan-perayaan atau upacara adat tepatnya di desa Jumbleng, kecamatan Losarang kabupaten Indramayu.

Oleh sebab itu, penata tertarik untuk menjadikan tari Trebang Randu Kentir sebagai dasar tarian dalam garapan, di samping ceritanya yang masih berkesinambungan dengan konsep yang penata susun yaitu kisah tentang Sungai Cimanuk.

Selain itu, penata juga terinspirasi pada motif-motif gerak lain, motif-motif gerak lain itu di antaranya adalah:

1. Motif gerak dasar tari Ballet Klasik. Tari Ballet klasik adalah ilmu tari yang mempunyai nilai atau mutu, diakui dan menjadi tolak ukur

kesempurnaan yang abadi seperti ciptaan gerakan-gerakan yang sangat dinamis dan indah.3

2. Penata juga mengkombinasi antara gerak tari Trebang Randu Kentir dan dasar gerak tari Ballet Klasik untuk mendapatkan gerak-gerak yang baru contohnya penggabungan gerak Serogan dari tari Trebang Randu Kentir dan gerak Kick dari gerak dasar tari Ballet Klasik.

3. Kemudian penata memodifikasi dari hasil kombinasi tari Trebang Randu Kentir dan gerak dasar tari Ballet Klasik agar memudahkan penyampaian pesan dari gerak-gerak yang terkandung dalam garapan karya seni tari ini.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penata tertarik untuk menceritakan kisah Sungai Cimanuk dalam sebuah garapan karya seni tari kontemporer. Tari kontemporer adalah tari yang lebih menonjolkan kebebasan untuk mengekspresikan jiwa dari penciptanya yang sifatnya sementara, dan mengungkapkan dimensi kekinian (sesuai dengan perkembangannya).4 Ada pula yang mengatakan bahwa “Tari kontemporer adalah sebuah genre tari konser yang menggunakan sistem dan metode yang ditemukan di tari modern dan postmodern, serta balet klasik”.5 Tari kontemporer ini tidak mengikuti pakem-pakem yang ada didalam gerakan tari klasik, melainkan terbebas dari pakem-pakem tersebut atau tidak terstruktur.

                                                                                                                         

3  GENECELA  DANCE  CENTRE.  2009.  CLASSICAL  BALLET.  Online:  www.genecela.com, diakses: 15 Februari 2014.  

4  I Wayan Dibia, 1993, Festifal Seni Masa Kini Denpasar, Sekolah Tinggi Seni Indonesia. hal. 13  

5  Surya  Aris  Gunawan.  2010.  Kontemporer  Dance.  Online:  Surya  aris  Gunawan,blogspot.com,  diakses:  8  Februari  2014.  

Dalam dokumen SKRIP KARYA SENI ING KALI CIMANUK (Halaman 12-16)

Dokumen terkait