BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Garapan
Berdasarkan tujuan garapan tersebut di atas, adapun manfaat dari garapan yang penata pertunjukkan adalah sebagai berikut:
1.1.1 Manfaat teoritis
Dari laporan penggarapan karya seni tari ini dapat bermanfaat sebagai referensi bagi pihak terkait, seperti instansi atau lembaga pendidikan yang berbasis seni. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang seni khususnya seni tari kontemporer.
1.1.2 Manfaat praktis
Dari hasil penggarapan karya seni tari ini dapat bermanfaat bagi masyarakat tentang bagaimana pentingnya menjaga kebersihan sungai maupun di tempat lain.
2.2 Ruang Lingkup
Agar dalam penggarapan karya seni tari ini tidak keluar dari konteks ide garapan yang penata garap, maka penata membatasi ruang lingkup ide penciptaan karya seni tari ini pada fenomena terkini “Ing Kali Cimanuk”. Ing Kali Cimanuk adalah judul dari karya tari yang akan penata garap.
Judul merupakan rangkuman dari pada isi sebuah garapan, dengan judul sebuah karya seni dapat tergambarkan memalui pemikiran seseorang. Istilah Ing Kali Cimanuk penata ambil dari bahasa jawa Indramayu yang berarti “Di Sungai Cimanuk”. Ing dalam bahasa Indonesia adalah “Di”, Ing berasal dari bahasa Jawa dan Sunda. Kata Kali berasal dari bahasa Indramayu Jawa Barat yang artinya Sungai. Sedangkan untuk kata Cimanuk diambil dari nama sungai yang ada di
wilayah Indramayu Jawa Barat. Tema yang akan diangkat dalam karya seni tari ini adalah tema Persoalan Lingkungan yang disebabkan oleh manusia.
Jadi dalam hal ide garapan ini lebih difokuskan pada perubahan kehidupan Sungai Cimanuk yang dulu sampai kondisi Sungai Cimanuk sekarang yang ada di Kota Indramayu, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu-Jawa Barat.
- Gerak yang disampaikan berpijak pada tari tradisi Trebang Randu Kentir yang dikombinasikan dan dimodifikasi dengan tari Ballet klasik yang dikembangkan bernuansa modern, sehingga tercipta gerak baru.
- Ing Kali Cimanuk dibuat dalam bentuk tari kontemporer. Tari Kontemporer merupakan perkembangan tari yang terpengaruh dampak modernisasi dan bersifat sesaat. Tujuan penata menggunakan seni kontemporer agar dapat dikomunikasikan melalui sebuah pesan atau kritik sosial kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
- Garapan ini menggunakan iringan musik modern dan tradisi seperti: gitar, seruling, kendang, jimbe, karinding serta tembang. Penata musik dalam garapan tari “Ing Kali Cimanuk” ini yaitu I Ketut Lanus S.sn, dan didukung beberapa pemain lainnya.
- Garapan tari ini berbentuk kelompok dengan 8 orang penari pendukung, yakni 5 orang penari putri dan 3 orang penari putra, salah satu penari putri disini adalah sebagai seorang warga Indramayu yang peduli terhadap Sungai Cimanuk dan 2 orang penari putra dan putri sebagai sosok sampah.
Karya seni tari ini dibagi kedalam tiga bagian yaitu: awalan, isi, dan akhiran yang di uraikan sebagai berikut:
a. Menggambarkan keadaan sungai pada waktu dulu serta kehidupan masyarakatnya yang sedang melakukan aktifitas di sungai Cimanuk yang masih asri, para penari menyanyikan lagu dengan perasaan damai. Lagu yang digarap dalam karya tari Ing Kali Cimanuk diambil dari lagu Trebang Randu Kentir.
b. Terjadi konflik, muncul dua orang penari putra dan putri sebagai sosok sampah, disini masyarakat mulai tidak peduli terhadap sungai dan digambarkan melalui gerakan tari yang memberi kesan memberontak oleh para penari dalam peran penokohan pada garapan.
c. Gambaran kehidupan sungai saat ini, yang sudah dipenuhi dengan sampah, kemudian seorang warga tersebut membersihkan sampah satu persatu dengan perasaan sedih.
- Kostum yang digunakan dalam garapan tari ini, penari putri menggunakan atasan kebaya dan sarung batik tulis yang bermotif bungai teratai, bunga teratai inis biasanya tumbuh di sungai-sungai sebagai gambaran sungai yang masih asri. Menurut hasil wawancara dengan penduduk desa Paoman, Indramayu (Idah, 64) dulu di sepanjang sungai Cimanuk banyak terdapat bunga Teratai. Pada masa itu sungai Cimanuk belum tercemar oleh adanya sampah dan tumbuhan Enceng Gondok. Masyarakat mengolah sampah masing-masing dengan cara menguburnya di
pekarangan yang kemudian memanfaatkannya sebagai pupuk. Batik dengan motif Teratai mewakili penggambaran suasana sungai Cimanuk pada masa dahulu. Garis dan bidang pada motif ini bersifat dinamis dan organic sehingga memberikan kesan tenang dan asri. Pada bagian ini juga, kain dihiasi dengan warna hijau dan ungu sebagai gambaran sungai Cimanuk yang dihiasi oleh tanaman teratai, sedangkan latar putih mewakili air sungai Cimanuk yang masih jernih. Proses pembuatannya menggunakan teknik batik tulis, sehingga waktu pembuatannya lebih lama namun menurut penata akan menghasilkan nuansa yang lebih indah bila dibandingkan dengan teknik batik cap. Pada penari putra menggunakan kain sarung kotak-kotak yang dibentuk celana dan pada penari sampah menggunakan kostum lycra press body berwarna coklat tua serta menggunakan topeng yang menyimbolkan sampah.
- Properti yang digunakan pada karya seni ini yaitu dengan menggunakan Cepon (bahasa Indonesia: Bakul), Bakul adalah sebuah alat yang digunakan untuk mencuci beras dan mencuci pakaian dan masyarakat Indramayu senantiasa menggunakannya ketika mereka hendak pergi ke Sungai. Bakul terbuat dari anyaman bambu yang dibawahnya terdapat empat sisi dan bentuknya seperti mangkuk yang besar.
- Karya seni tari kontemporer ini berdurasi 13 menit dan dipentaskan di gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI).
BAB II KAJIAN SUMBER
Suatu garapan karya seni tari jika tidak ditunjang dengan sumber-sumber yang ada belumlah dinyatakan “kuat” dalam artian tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta dan fenomena yang ada. Maka dari itu, penata mengumpulkan sumber-sumber yang dapat menunjang karya seni tari ini, sebagai berikut:
2.1 Sumber Tertulis
Jacqueline Smith, terjemahan: Ben Suharto (1985) dalam bukunya Komposisi Tari Sebuah Petunjuk Praktis Bagi Guru mengatakan untuk mencapai keberhasilan penata tari harus mengetahui kemungkinan awalnya, yaitu unsur-unsur bahan sebuah tari, metode konstruksi yang menghasilkan bentuk tari, dan sebuah pengertian tentang gaya dimana penata tari “berkarya”. Relevansi buku ini penata gunakan sebagai refrensi terkait tentang pengkomposisian sebuah pertunjukan tari.
Edi Sediawati, (1984) Dalam bukunya Tari. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian pertama memuat pandangan-pandangan pencipta tari, bagian kedua memuat sudut pandangan para pembina, sedangkan bagian ketiga memuat karangan-karangan yang melihat tari dari jurusan penelitian. Buku ini penata gunakan sebagai bahan acuan dalam membuat sebuah konsep garapan tari mulai dari proses penciptaan, pembinaan, sampai dengan proses penelitian.
Y. Sumandiyo Hadi, (2005) dalam bukunya Sosiologi Tari. Buku ini merupakan sebuah telaah kritis yang mengulas tari dari zaman ke zaman: dari
primitif, tradisional, modern hingga kontemporer. Buku ini digunakan untuk pendekatan sosiologis kepada penari juga menghubungkan fungsi tari kepada masyarakat atau mencoba menghubungkan sistem simbol dengan sistem masyarakatnya.
Alma M. Hawkins terjemahan: I Wayan Dibia, (2003) dalam bukunya Bergerak Menurut Kata Hati. Buku ini merupakan sebuah referensi yang digunakan untuk penata dalam proses koreografi, yang tidak mengutamakan bentuk daripada isi, serta melalui tahap-tahap mulai dari tahap melihat, merasakan, membentuk, dan lain-lain.
Buku Tradisi dan Inovasi Beberapa Masalah Tari Di Indonesia yang ditulis oleh Sal Murgianto tahun 2004, Memaparkan tentang teori proses kreativitas dalam mencipta tari. Disebutkan juga bahwa kreativitas adalah membuat sesuatu yang baru tanpa adanya sebuah pengulangan. Dengan mengacu pada teori tersebut penata berusaha untuk membuat sesuatu yang baru berkaitan dengan originalitas karya yang akan diwujudkan. Inovasi memang sangat penting untuk menambah khasanah dan kehidupan jagat kesenian, akan tetapi inovasi yang dilakukan tidak boleh membunuh dan menghancurkan kesenian yang sudah ada.
Harijadi Kartodiharjo Dkk, (2005), buku yang berjudul Dibawah Satu Payung Pengelolaan Sumber Daya Alam ini menginspirasi penata untuk senantiasa menjaga kelestarian alam Indonesia dan sungai sebagai contoh dari salah satu sumber daya alam yang ada, selain itu buku ini penata gunakan untuk
memberikan pandangan kepada para penari figuran agar mereka mengerti dengan konsep sungai yang penata inginkan.
Arif Sumantri, (2010), buku dengan judul Kesehatan Lingkungan ini penata gunakan sebagai pengetahuan mengenai pengelolaan sumber daya air, dari buku ini penata mengetahui bagaimana pemanfaatan air dan juga mengenai air dan penyakitnya.
2.2 Sumber Observasi
Sumber observasi penata gunakan untuk melihat secara langsung kondisi Sungai Cimanuk saat ini yang ada di wilayah Indramayu-Jawa Barat. Pada hari minggu tanggal 9 Maret 2014 secara langsung penata melihat kondisi sungai Cimanuk dan melalui beberapa foto yang dikirim lewat email dari kakak saya yang bertempat tinggal tidak jauh dari sungai Cimanuk di kota Indramayu.
2.3 Sumber Wawancara
Sumber ini merupakan sumber lisan yang didapat dari penduduk setempat yang berada di bantaran sungai Cimanuk, serta pemerintah daerah yang bergerak dalam bidang air seperti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengambil air sungai Cimanuk yang kemudian diolah menjadi air minum untuk masyarakat sekitar Indramayu. Wawancara ini dilakukan oleh penata dengan kepala PDAM yaitu Bapak H. Tatang Sutardi di kabupaten Indramayu. Pada hari Sabtu, tanggal 19 April 2014 menurut beliau Indramayu adalah daerah pantai, jadi sumber air
yang bisa dimanfaatkan adalah sungai Cimanuk karena tidak ada sumber air yang lain yang bisa dimanfaatkan untuk air minum.
2.4 Sumber Diskografi
Sumber diskografi ini (DVD) berjudul Ascent dan Sporen, oleh Leine Roebana Work on tour. Video ini menginspirasi penata dalam teknik-teknik gerak dasar tari Ballet klasik dan gerakan olah tubuh yang kemudian dikembangkan dan diolah lagi agar sesuai dengan kemampuan serta potensi gerak dari penata.
BAB III PROSES KREATIF
Dalam mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk suatu proses garapan karya seni tari, tentunya mengalami sebuah proses yang panjang.
Untuk itu penata menggunakan salah satu buku sebagai pijakan teori penciptaan tari menurut Alma M. Hawkins. Buku ini menerangkan bahwa proses penciptaan terdiri dari exploration, improvisation dan forming6. Eksplorasi atau penjajagan merupakan proses pencarian, penghayatan dan pemikiran yang dalam hal ini berhubungan dengan proses pencarian terhadap ide atau gagasan yang akan dituangkan ke dalam sebuah bentuk karya seni. Improvisasi lebih dikenal dengan tahap percobaan, sedangkan tahap forming atau pembentukan berhubungan dengan bentuk akhir sebuah karya seni. Oleh sebab itu, penata membuat jadwal kegiatan dalam proses kreativitas karya seperti di bawah ini:
Tabel 1
Jadwal Kegiatan Proses Kreativitas Karya Tari Kontemporer ING KALI CIMANUK
Tahap-tahap Februari Maret April Mei
Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
6 Y. Sumandiyo Hadi. 1990. Mencipta Lewat Tari (Terjemahan Buku Creating Through Dance karya Alma M. Hawkins).
Yogyakarta : Institut Seni Indonesia hal. .27-46.
Keterangan :
= Latihan ringan selama ± 1 jam sehari
= Latihan sedikit padat selama ± 2 jam
= Latihan padat ± 2-3 jam sehari X = Gladi Bersih
O = Ujian pementasan karya seni
Maka dari itu, berdasarkan jadwal tersebut di atas penata merincinya lebih jelas sesuai konsep Alma H. Hawkins terkait dengan proses penciptaan yaitu sebagai berikut:
3.1 Tahap Penjajagan (Exploration)
Dalam tahap eksplorasi penata melakukan penjajagan melalui sebuah ide garapan dengan mengutamakan isi terlebih dahulu daripada bentuk. Tahap eksplorasi atau penjajagan adalah tahap awalan dalam sebuah proses penciptaan seni tari. Tahap ini diawali dengan pencarian ide atau gagasan yang tepat dan disesuaikan dengan fenomena yang ada, tingkat kemampuan yang dimiliki serta kebutuhan garapan, kemudian dikonsepkan sehingga dapat menjadi wujud yang nyata dalam sebuah karya tari.
Tabel 2
Tahap Penjajagan (Exploration) Bulan Februari 2014 – Maret 2014 Periode
Waktu per Minggu
Kegiatan / Usaha Yang Dilakukan Hasil Yang Didapat
Minggu I Tanggal 1-9
(Februari)
Pencarian ide ini dengan mengamati hal di sekitar juga bertukar pikiran dengan teman serta membaca beberapa buku. Ide yang digunakan penata adalah ingin menggarap sebuah karya tari yang bertemakan sosial yaitu dengan mengambil contoh antropologi Sungai. Selain itu, dalam upaya pencarian ide, penata berusaha melihat sejauh gerak yang lebih bebas dan tidak terstruktur pada pola-pola gerak yang telah ada, sehingga terwujud sebuah
identitas gerak yang sesuai
Mencari konsep dan bentuk yang akan dibuat menjadi sebuah garapan tari.
Membuat keputusan dalam garapn yakni dengan bentuk sajian kelompok yang ditarikan oleh 6 orang penari, 4 putri dan 2 putra dengan dasar pertimbangan kontemporer yang sudah ada seperti
Mendapatkan pengetahuan serta pemahaman bahwa membuat sebuah garapan tari tidak harus
karyanya Leine Roebana yang berjudul Ascent dan Sporen.
Dan menentukan alur garapan yang ditampilkan. garapan karya tari. Dalam artian sebuah garapan
Minggu I bacaan yang terkait seperti buku Tari dan Antropologi .
Bimbingan 1, dengan Dosen:
Tjok Istri Putra Padmini SST, M.Sn, I Wayan Sutirtha S.Sn, M.Sn
Mematangkan konsep dan ide sehingga dapat
memperkuat garapan.
Revisi skrip karya tari Bab I dan II pendukung tari yang sesuai dengan karakter gerak penata.
Bimbingan karya tari dengan Dosen:
Tjok Istri Putra Padmini SST, M.Sn, I Wayan Sutirtha S.Sn, M.Sn
Menemukan sebuah gerak
Minggu III
Menentukan penata musik yang bisa menggarap iringan tari kontemporer.
Melakukan diskusi dengan penata musik, terkait ide yang digunakan.
Bimbingan skrip karya tari Bab I, II, dan III dengan Dosen:
Tjok Istri Putra Padmini SST, M.Sn, I Wayan Sutirtha S.Sn, M.Sn
Penata memutuskan
Revisi skrip karya tari Bab I,II, dan III
3.2 Tahap Percobaan (Improvisation)
Tahap Improvisasi penata menggali bentuk-bentuk gerak yang mempunyai arti tentang sungai dan mencari suatu gerak yang baru yang bisa penata kembangkan mulai dari gerak tari tradisi Trebang Randu Kentir Indramayu sampai dengan pola-pola gerak dasar tari ballet klasik.
Tahap ini merupakan tahap kedua setelah tahap penjajagan. Tahap improvisasi atau percobaan diawali dengan memaparkan ide dan konsep dari garapan kepada pendukung, sehingga dapat dipahami adegan dan suasana dengan
karakter yang ada sejauh mana ruang lingkup cerita dan sejauh mana pula batasan karya dalam garapan karya seni tari ini. Dari ide tersebut kemudian dituangkan ke dalam bentuk gerak yang ditata dalam bentuk tari kontemporer.
Gerak yang digunakan dalam garapan tari ini bersumber dari tekhnik tari tradisi Indramayu Trebang Randu Kentir yang kemudian dikembangkan untuk dijadikan gerak yang lebih bebas dan lepas dari pola yang ada sehingga menjadi identitas gerak dalam garapan tari kontemporer Ing Kali Cimanuk.
Pemilihan kostum yang tepat akan meningkatkan kenyamanan penari dalam bergerak di atas pentas, maka dalam proses ini juga dilakukan percobaan terhadap penggunaan kostum dengan maksud agar dapat diketahui bagaimana tingkat keleluasaan dan kenyamanan dalam bergerak.
Pertemuan dengan penata musik tidak dapat dilakukan secara intensif pada bulan Maret 2014 penata musik dan pendukungnya berhalangan hadir dikarenakan penata musik serta pendukungkungya mempunyai jadwal pentas yang padat diluar dan juga ditambah dengan kegiatan hari raya Nyepi. Namun pada pertengahan bulan April pertemuan antara penata iringan dan juga penata tari sering dilakukan agar dapat terwujud harmonisasi antara penata tari dengan penata iringan.
Berkonsultasi secara terus menerus dengan I Ketut Lanus S.Sn, untuk mewujudkan sebuah bentuk musik yang diinginkan, dan dapat berjalan selaras serta saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Konsep iringan tidak secara mutlak dikerjakan oleh penata musik, namun penata juga terlibat langsung didalamnya agar diperoleh musik iringan yang disesuaikan dengan keinginan penata tari.
Tabel 3
Kegiatan / Usaha yang Dilakukan Hasil Yang Didapat
Minggu IV baru yang lebih bebas dan lepas dari pola-pola yang hasil-hasil motif gerak yang telah
didapatkan
Merekam hasil eksplorasi gerak dan menyaringnya dengan memilih gerakan yang tepat untuk garapan.
Menyusun kembali gerak-gerak yang telah didapat dari bagian per
Menemukan beberapa
bagian. bentuk-bentuk yang untuk mendapatkan ide yang sesuai dengan konsep garapan.
Melalui tahap ini penata membuat bentuk-bentuk gerak yang diselaraskan dengan konsep garapan karya seni Ing Kali Cimanuk.
Tahap ini adalah tahapan paling akhir dalam sebuah proses penggarapan.
Proses ini dilakukan untuk memadukan gerak dengan musik iringan dan penegasan terhadap dinamika. Pada tahap ini garapan tari kontemporer ini telah terbentuk secara keseluruhan, tetapi masih harus dilakukan latihan lebih rutin untuk memantapkan setiap gerakan, serta memantapkan ekspresi dan penjiwaan dari setiap gerakan yang dilakukan. Pada tahap ini pula dilakukan percobaan diatas panggung tempat pementasan.
Untuk mengakhiri tahapan ini adalah tahap finishing (penyelesaian). Tahap finishing dalam garapan tari kontemporer yang sudah terbentuk kemudian dihaluskan, dihayati dan dirasakan dengan baik, sehingga dapat terwujud dalam rasa estetis yang sesuai dengan harapan.
Tabel 4
Musik iringan adegan I dan II selesai.
Penata menyesuaikan gerakan pada adegan ini.
Adegan I dan II terselesaikan namun masih kasar. gerak dan musik iringan serta penyesuaian perbagian garapan.
Tanggal 23-4-14 (April)
Bimbingan karya dan Bab IV:
Tjok Istri Putra Padmini SST, M.Sn,
I Wayan Sutirtha S.Sn, M.Sn
Acc Bab IV dan perbaikan karya pada adegan ke II
Minggu IV
Bimbingan karya dan Bab V dengan :
Tjok Istri Putra Padmini SST, M.Sn,
I Wayan Sutirtha S.Sn, M.Sn
Penguasaan garapan karya
Revisi karya dan Acc Bab V
Minggu I
Tjok Istri Putra Padmini SST, M.Sn,
I Wayan Sutirtha S.Sn, M.Sn
Ujian Tugas Akhir Pagelaran
Percobaan pentas pra ujian
Penambahan kesan dramatis di adegan awal dan akhir.
Penyajian
Pertanggungjawaban karya
BAB IV WUJUD GARAPAN
Wujud merupakan suatu hal yang bisa diraba atau nyata, dalam hal ini wujud garapan adalah sebuah kesenian yang tampak secara kongkrit yang dapat disaksikan secara langsung di depan mata atau dapat dirasakan melalui audio visual. Wujud dapat diartikan sebagai kenyataan yang tampak secara kongkrit di depan kita, yang dapat ditangkap dengan mata atau telinga, juga kenyataan yang tidak nampak secara kongkrit di muka kita tetapi secara abstrak wujud itu dapat dibayangkan, seperti sesuatu yang diceritakan atau yang kita baca dalam buku7. Berdasarkan ilmu estetika, dalam semua jenis kesenian, baik visual maupun auditif, kongkrit maupun abstrak, wujud yang tampil dan dapat dinikmati oleh kita, mengandung dua unsur mendasar, yakni bentuk (form) dan susunan (structure)8.
4.1 Deskripsi Garapan
Pada pembahasan sebelumnya telah disinggung bahwa tari Ing Kali Cimanuk adalah sebuah garapan tari yang dimainkan oleh 8 (delapan) orang penari, 5 penari putri dan 3 penari putra; 1 penari putri sebagai warga masyarakat Indramayu yang peduli terhadap sungai, yang diperankan oleh penata sendiri; 5 penari lainnya adalah penari pendukung yang berperan sebagai masyarakat Indramayu dengan memainkan properti berupa bakul (cepon), sebagai
7 A.A.M. Djelantik. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, hal.17.
penggambaran aktivitas masyarakat di sungai Cimanuk serta pendukung suasana.
Karya tari ini bertemakan masalah lingkungan yang ceritanya diangkat dari fenomena kehidupan sungai Cimanuk yang berada di Indramayu.
Garapan tari Ing Kali Cimanuk mengisahkan tentang penata yang mencoba menceritakan keadaan sungai Cimanuk sejak dulu hingga sekarang. Kisah ini digambarkan melalui tokoh masyarakat Indramayu yaitu penata sendiri yang peduli terhadap arti penting menjaga kebersihan Sungai Cimanuk. Secara sukarela penata membersihkan sampah-sampah yang ada di bantaran sungai dengan harapan sungainya bisa kembali seperti dulu yaitu bersih dan asri. Namun tidak sedikitpun terpikirkan akan datangnya pujian dan ucapan terimakasih dari orang lain. Hanya rasa kecintaan terhadap lingkunganlah yang membuat penata senantiasa tulus melakukan pekerjaan ini, yaitu melalui garapan tari kontemporer.
Di lain pihak, kepedulian penata terasa sia-sia karena tingkat kesadaran masyarakat Kota Indramayu terhadap pentingnya kebersihan sungai kebanyakan masih rendah sehingga dengan seenaknya membuang sampah di tepi-tepi sungai.
Garapan ini pada prinsipnya menggunakan bentuk tari kontemporer, akan tetapi telah dikembangkan melalui pendekatan Theatrical Dance, baik dari segi pembendaharaan gerak pola lantai, properti, maupun iringan yang digunakan.
Adapun properti yang digunakan dalam pertunjukan tari ini berupa bakul (cepon) yang mampu memberikan kesan serta simbol kehidupan masyarakat Indramayu pada masa lalu ketika mereka masih menggunakan bakul untuk mencuci beras dan mencuci pakaian di sungai. Garapan ini ditata sedemikian rupa sehingga terlihat indah, penuh dinamika, dan mudah dimengerti oleh penonton.
Musik iringan dalam garapan tari ini menggunakan alat musik, antara lain:
jimbe, suling, keyboard, serta efek suara dari program komputer. Penggunaan alat musik tersebut bertujuan untuk mendukung suasana dan karakter dari garapan ini.
4.2 Analisis Pola Struktur
Struktur adalah susunan atau bangunan yang disusun dengan pola tertentu.9 Secara struktural, garapan tari kontemporer Ing Kali Cimanuk dibagi menjadi tiga adegan yang disesuaikan dengan ide serta konsep garapan. Antara bagian pertama dengan yang lain saling berkaitan sehingga mampu menampilkan keseluruhan bentuk garapan secara utuh. Tiga bagian struktural itu adalah awalan, isi, dan akhiran. Berikut ini adalah penjelasannya:
Awalan/Adegan I: Adegan pertama menggambarkan keadaan sungai yang dulu. Ada seorang perempuan warga masyarakat Indramayu yang sedang merasakan hidup tenang ia melakukan
Awalan/Adegan I: Adegan pertama menggambarkan keadaan sungai yang dulu. Ada seorang perempuan warga masyarakat Indramayu yang sedang merasakan hidup tenang ia melakukan