• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen SKRIPSI RUSNIATI C (Halaman 14-19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan seluas-luasnya dan tanggung jawab kepada daerahnya, diwujudkan dengan pembagian, pengaturan, pemanfaatan sumber daya yang berkeadilan. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan berdasarkan potensi daerah. Untuk memperlancar pelaksanaan kebijakan Pemerintah tersebut diberlakukan Undang-Undang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yaitu:

dalam rangka penyelenggaraan Pemerintah Daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemerintah Daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan Pemerintahan menurut asas otonomi Daerah dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan dari kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri adalah mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat, memudahkan masyarakat untuk memantau dan mengontrol penggunaan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah (APBN), menciptakan persaingan yang sehat antara daerah dan mendorong timbulnya inovasi. Sejalan dengan kewenangan tersebut diatas, diharapkan pemerintah daerah lebih mampu menggali sumber-sumber keuangan khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di Daerahnya melalui Pendapatan Asli Daerah.

Menurut Mardiasmo (2011:1), Pajak adalah iuran wajib rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik yang langsung dapat ditujukan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Pajak ada dua macam yaitu pajak negara dan pajak daerah. Pajak daerah merupakan salah satu sektor utama dalam penerimaan daerah, oleh karena itu memegang peranan sangat penting bagi perkembangan dan pembangunan daerah. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah memberikan kekuasaan kepada daerah untuk melaksanakan otonomi yaitu mampu mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Pemerintah daerah perlu untuk lebih meningkatkan secara potensi-potensi yang ada pada pajak daerah. Harapannya kontribusi terhadap pendapatan asli daerah meningkat dan daerah tidak selamanya menggantungkan harapan pada pemerintah pusat serta mampu berusaha sendiri sesuai dengan cita-cita daerah yang telah ditetapkan. Pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang penting, gunanya untuk membiayai

penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah untuk memantapkan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab.

Menurut Mardiasmo (2011:13) dalam buku perpajakan, Pajak daerah dibagi menjadi dua bagian, yaitu pajak provinsi dan pajak kabupaten atau kota. Pajak profinsi terdiri dari pajak kendaraan bermotor dan kendaraan diatas air, pajak bea balik nama kendaraan bermotor dan kendaraan diatas air, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, sedangkan pajak kabupaten atau kota terdiri pajak hotel, pajak hiburan, pajak restoran, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak galian golongan c, pajak parkir, dan pajak lain-lain.

Pajak bagi pemerintah berperan sebagai sumber pendapatan yang utama dan juga sebagai alat pengatur. Daerah yang digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah, seperti membiayai administrasi pemerintah, membangun dan memperbaiki infrastruktur, menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan, membiayai anggota polisi, dan membiayai kegiatan pemerintah daerah dalam menyediakan kegiatan pemerintah daerah dalam menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat disediakan oleh pihak swasta yaitu berupa barang-barang publik.

Melihat dari fenomena tersebut dapat dilihat bahwa pentingnya pajak bagi suatu daerah, terutama dalam menyokong pembangunan daerah merupakan pemasukan dana yang sangat potensial karena besarnya penerimaan pajak akan meningkat seiring laju pertumbuhan penduduk, perekonomian dan

stabilitas politik. Dalam pembangunan suatu daerah, pajak memegang peranan penting dalam suatu pembangunan

Sesuai dengan Undang-Undang nomor 34 tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang mana pajak daerah ini banyak jenisnya dan pemungutannya berbeda-beda. Diantaranya adalah jenis pajak daerah yang ditangani oleh pemerintah daerah propinsi terdiri atas pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan satu jenis pajak pusat yang di kenakan setiap orang pribadi atau badan yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) sesuai dengan yang di harapkan, maka perlu merencanakan terlebih dahulu anggaran bea perolehan atas tanah dan bangunan (BPHTB) yang merupakan pedoman pelaksanaan operasional perusahaan untuk di gunakan dalam jangka waktu tertentu yang akan datang, agar perusahaan dapat dengan mudah merealisasikan pemungutan BPHTB sesuai dengan yang diharapkan.

Pemungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) didasarkan pada Undang-Undang No. 21 tahun 1997 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2000. Pada perkembangan berikutnya sejak 1 Januari 2011 Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dialihkan pengelolaannya ke Pemerintah Daerah sehingga menjadi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) dengan Undang-Undang No. 28 tahun 2009. Sebelum resmi menjadi Pajak Daerah,

merupakan penerimaan negara yang harus dibagi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi dan Kabupaten/Kota. Pemerintah Pusat mendapatkan 20% dari hasil penerimaan BPHTB, sedangkan imbangan pembagian kepada pemerintah daerah sekurang-kurangnya 80% dengan rincian :

1. 16% untuk Daerah Provinsi yang bersangkutan dan disalurkan ke rekening kas Daerah Provinsi

2. 64% untuk Daerah Kabupaten/Kota penghasil dan disalurkan ke rekening kas Daerah Kabupaten/Kota.

Era reformasi telah memberikan warna baru dalam proses pemerintah negara dengan di keluarkannya peraturan baru tentang otonomi daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintah daerah. Paradigma baru dari sentralisasi tentunya membutuhkan usaha dan upaya dari pemerintah untuk menegakkan kemandirian didalam melaksanakan pembangunan.

Pemerintah daerah harus berjalan sesuai dengan tujuannya yaitu melaksanakan pembangunan yang sesuai serta menjamin perkembangan pembangunan daerah, mengingat tidak semua pembiayaan pembangunan dapat di berikan kepada daerah-daerah, maka daerah tersebut di tuntut untuk menggali sumber keuangan sendiri berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Sumber pendapatan daerah merupakan sumber keuangan yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, dan sumber pendapatan lainnya. Dengan demikian, akan diketahui dengan jelas sisi

perbedaan antara target dianggarkan dengan hasil realisasi yang diperoleh dalam jangka waktu yang tertentu. Seperti halnya juga pada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar yang melakukan pemungutan pajak terutama BPHTB, yaitu berpedoman pada anggaran yang telah ditetapkan untuk menerima hasil realisasi yang optimal.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dapat di jadikan suatu ukuran untuk melakukan penelitian secara mendalam mengenai BPHTB yang selanjutnya dituangkan dalam judul penelitian Evaluasi Terhadap Penerapan Tata Cara Pemungutan dan Perhitungan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) pada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar.

Dalam dokumen SKRIPSI RUSNIATI C (Halaman 14-19)

Dokumen terkait