• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI RUSNIATI C (Halaman 20-0)

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Adapun beberapa manfaat dari penelitian, yaitu : 1. Manfaat Teoritis

Adapun manfaat teoritis dari penelitian ini yakni sebagai referensi bagi pihak-pihak yang membutuhkan serta sebagai wadah menambah ilmu dan wawasan dalam memahami masalah Pajak BPHTB, khususnya mengenai penerapan tata cara pemungutan dan perhitungan BPHTB.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan manfaat yang berguna dalam menentukan kebijakan selanjutnya, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi mengenai perpajakan, serta diharapkan dapat memberikan motivasi yang berguna dalam melaksanakan pemungutan dan perhitungan pajak khususnya mengenai Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pajak

Menurut buku Simanjuntak dan Mukhlis (2012:9), pengertian pajak memiliki dimensi yang berbeda-beda. Menurut Mangkoesoebroto (1998:181) Pajak adalah suatu pungutan yang merupakan hak preogratif pemerintah, pungutan tersebut didasarkan pada undang-undang, pemungutannya dapat dipaksakan kepada subjek pajak untuk dimana tidak ada balas jasa yang langsung dpat ditunjukkan penggunaannya.

Definisi atau pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro,SH, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditujukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Dari definisi diatas tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:

1. Iuran dari rakyat kepada negara.

Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).

2. Berdasarkan undang-undang.

Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Menurut Mardiasmo (2011:1) Pajak adalah iuran kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat cara timbal balik (kontra prestasi), yang langsung dapat ditunjukan dan di gunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Menurut Siahaan (2013:7) Pajak adalah pungutaan dari masyarakat oleh Negara (Pemerintah) berdasarkan undang-undang yang bersifat dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya dengan tidak mendapat prestasi kembali secara langsung, yang dihasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran negara dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pajak adalah iuran atau pungutan yang digunakan oleh suatu badan yang bersifat umum (negara) untuk memasukkan uang ke dalam kas negara dalam menutupi segala pengeluaran yang telah dilakukan dimana pemungutannya dapat dipaksakan oleh kekuatan publik.

Berdasarkan definisi pajak, dapat ditarik kesimpulan tentang ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak, yaitu:

1. Pajak dipungut oleh Negara, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintahan daerah, berdasarkan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaan.

2. Pembayaran pajak harus masuk kepada kas Negara, yaitu kas pemerintah pusat atau kas pemerintah daerah.

3. Tidak ada hubungan langsung antara jumlah pembayaran pajak dengan kontrak prestasi secara individual.

4. Penyelenggaraan pemerintah secara umum merupakan manifestasi kontrak perstasi dari Negara kepada para pembayar pajak.

5. Pajak dipungut karena adanya kejadian, keadaan, dan perbuatan yang menurut peraturan perundang-undangan pajak dikenakan pajak.

6. Pajak memiliki sifat dipaksakan.

B. Sumber Penerimaan Daerah

Salah satu kemampuan yang dituntut terhadap daerah adalah kemampuan daerah tersebut untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri (selfsupporting) dalam bidang keuangan. Bidang keuangan merupakan suatu faktor yang penting dalam mengukur suatu daerah atas keberhasilan otonominya. Adapun sumber-sumber penerimaan dari suatu daerah menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah terdiri dari :

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) a. Pajak Daerah

Pajak Daerah adalah iuran wajib pajak yang dilakukan oleh daerah kepada orang pribadi atau Badan tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.

b. Penerimaan Retribusi Daerah

Retribusi daerah adalah pungutan yang telah secara sah menjadi pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik pemerintah daerah yang bersangkutan. Retribusi daerah mempunyai sifat-sifat:

pelaksanaannya bersifat ekonomis, ada imbalan langsung walaupun memenuhi persyaratan-persyaratan formil dan materil, tetapi tetap ada alternatif untuk mau tidak mau membayar, merupakan pungutan yang pada umumnya bersifat budgetairnya tidak menonjol, dalam hal-hal tertentu retribusi daerah digunakan untuk sesuatu tujuan tertentu, tetapi dalam banyak hal retribusi daerah tidak lebih dari pengembalian biaya yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan anggota masyarakat.

c. Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan.

Hasil perusahaan milik daerah yang merupakan pendapatan daerah adalah keuntungan bersih perusahaan daerah yang berupa dana pembangunan daerah dan bagian untuk anggaran belanja daerah yang disetor ke kas daerah, baik perusahaan daerah yang dipisahkan, sesuai dengan motif pendirian dan pengelolaan, maka sifat perusahaan daerah adalah suatu kesatuan produksi yang bersifat menambahkan penghasilan daerah, memberi jasa penyelenggaraan kemanfaatan umum, dan memperkembangkan perekonomian daerah.

d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Lain yang tidak termasuk ke dalam jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah dan pendapatan dinas-dinas. Lain-lain usaha daerah yang sah mempunyai sifat pembuka kemungkinan bagi pemerintah daerah untuk melakukan berbagai kegiatan yang menghasilkan baik berupa materi dalam hal kegiatan tersebut bertujuan untuk menunjang, melapangkan atau memantapkan suatu kebijakan pemerintah daerah suatu bidang tertentu. Beberapa macam lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah yaitu : Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan Jasa giro, Pendapatan bunga, Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

2. Dana Perimbangan

Dana perimbangan diperoleh melalui bagian daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan baik dari sektor pedesaan, perkotaan, perkebunan, pertambangan dari sumber daya alam serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.

3. Pinjaman Daerah

Pinjaman daerah adalah pinjaman dalam negeri yang bersumber dari pemerintah, lembaga komersial dan atau penerbitan obligasi daerah dengan diberitahukan kepada pemerintah sebelum tidaknya usulan pinjaman daerah diproses lebih lanjut. Sedangkan yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman daerah adalah kepala daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah atas persetujuan DPRD,

4. Lain-lain Pendapatan Yang Sah

Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya, dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

C. Peranan Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dijelaskan bahwa untuk membiayai pembangunan di daerah, Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara penerimaannya bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil perusahaan milik daerah, Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain

pendapatan daerah yang sah). Pemerintah daerah melakukan upaya maksimal dalam pengumpulan pajak daerah dan retribusi daerah. Besarnya penerimaan daerah dari sector Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan sangat membantu pemerintah dalam melaksanakan kegiatan pembangunan di daerah serta dapat mengurangi ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat sesuai dengan harapan yang diinginkan dalam otonomi daerah.

D. Aspek Ekonomi Dari Perpajakan

Dari sudut pandang ekonomi pajak merupakan penerimaan negara untuk menghidupkan masyarakat menuju kesejahteraan. pajak sebagai penggerak kehidupan ekonomi masyarakat. Untuk menjalankan roda pemerintahan yang mampu menggerakan secara efektif mekanisme pasar bebas pemerintahan memerlukan pajak dari pemerintah. Pelayanan yang diberikan pemerintah merupakan suatu kepentingan umum ( public utilities) untuk kepuasan bersama sehingga pajak mengalir dari masyarakat yang akhirnya kembali lagi untuk masyarakat.

Ada dua prinsip keadilan yang digunakan yaitu prinsip manfaat atau benefit principle dan prinsip kemampuan atau ability to pay. Norma keadilan

yang ada disini untuk mengenakan pajak yang sama untuk hal-hal yang sama dan tidak sama untuk hal-hal yang tidak sama. Suatu pajak dapat disebut progresif, proporsional atau regresif jika membebani pendapatan orang lain lebih besar dibanding mereka yang miskin dalam proporsi yang sama.

E. Fungsi Pajak

Peraturan pajak dibuat dengan didasarkan pada tujuan meningkatkan kesejahteraan umum. Untuk meningkatkan kesejahteraan umum aturan pajak tidak semata-mata dibuat untuk memasok uang sebanyak-banyaknya ke dalam kas negara, akan tetapi harus memiliki sifat yang mengatur guna meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Penerimaan atas uang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat harus ditingkatkan lagi serta pemungutannya harus berdasarkan Peraturan-peraturan yang berlaku.

Fungsi pajak menurut (Mardiasmo:2011) dalam bukunya yang berjudul

“Perpajakan” adalah sebagai berikut :

1. Fungsi budgetair (penerimaan),, yaitu pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya.

2. Fungsi regulered (mengatur), yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.

3. Fungsi redistribusi pendapatan berarti pajak digunakan sebagai alat untuk mengalihkan kekayaan dari sebagian masyarakat ke golongan masyarakat lain yang berpenghasilan rendah. Fungsi Demokrasi dimaksudkan bahwa pajak merupakan salah satu perwujudan dari sistem kekeluargaan dan kegotongroyongan rakyat yang sadar akan baktinya kepada Negara.

Fungsi pajak bukan hanya menerima, yaitu untuk memasukkan sebanyak-banyaknya ke dalam kas Negara, melainkan masih ada fungsi lain

yaitu mengatur. Meskipun fungsi budgetair dilakukan berdasarkan peraturan undang-undang pajak, tetapi tidak semua orang dikenakan pajak. Secara yuridis, suatu pajak akan terutang apabila telah memenuhi syarat-syarat subjektif dan objektif.

Menurut Simanjuntak dan Mukhlis (2012:29) dalam bukunya yang berjudul “Dimensi Ekonomi Perpajakan Dalam Pembangunan Ekonomi”

Dalam usaha meningkatkan penerimaan pajak seiring dengan kemajuan kegiatan ekonomi diperlukan suatau sistem perpajakan yang dapat menjadi pendukung utama perekonomian. Oleh karena itu, fungsi pajak adalah :

1. Menciptakan kondisi ekonomi yang mampu memberi ransangan tehadap peningkatan produksi sektor-sektor rill dalam rangka menghasilkan tingkat pendapatan perkapita masyarakat yang meningkat.

2. Menekan kesenjangan ekonomi terutama dalam mengurangi ketimpangan pendapatan masyarakat.

3. Menggerakkan sumber-sumber ekonomi masyarakat, sehingga dapat ditransfer menjadi penerimaan Negara, sehingga dapat meningkatkan investasi.

4. Menata pengelolaan investasi yang produktif sehingga dapat menigkatkan investasi.

5. Memperlambat peningkatan konsumsi masyarakat sehingga dapat meningkatkan investasi.

6. Meningkatkan hasrat menabung masyarakat yang selanjutnya dapat menjadi

F. Asas Pungutan Pajak

Menurut (Mustaqiem, 2008:70) dalam buku yang berjudul “Pajak Daerah Dalam Transisi Otonomi Daerah” Kebijakan pemungutan pajak yang dilakukan oleh Negara didasarkan atas tiga macam asas yaitu :

1. Asas Domisili (asas tempat tinggal)

Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak dalam negeri.

2. Asas Sumber

Negara Berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal wajib pajak.

3. Asas Kebangsaan

Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu Negara.

Ada pula asas pemungutan pajak yang dikemukakan oleh Adam Smith (Waluyo,2005) didasarkan pada asas berikut :

a. Equality, Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu pajak dikenakan kepada orang atau pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to pay dan sesuai dengan manfaat yang diterima.

b. Certainty, Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenang-wenang.

Oleh karena itu, wajib pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti

besarnya pajak terutang, kapan harus dibayar, serta batas waktu pembayaran.

c. Convenience, Kapan wajib pajak itu harus membayar wajib pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang tidak menyulitkan wajib pajak.

d. Economy, Secara ekonomi bahwa biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi wajib pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yg dipikul wajib pajak.

G. Macam-Macam Pajak

Menurut golongannya menurut Mardiasmo (2011:5) dalam bukunya

“Perpajakan” adalah sebagai berikut:

1. Pajak langsung ,yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh : Pajak Penghasilan.

2. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contohnya pajak pertambahan nilai.

Menurut sifatnya menurut Mardiasmo (2011: 5) dalam buku “Perpajakan”

adalah sebagai berikut:

a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak.

Contohnya: pajak penghasilan.

b. Pajak objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contohnya: pajak pertambahan

1. Menurut Lembaga Pungutnya a. Pajak Negara

Menurut Mardiasmo (2011:6) Pajak Negara yang berlaku di Indonesia sampai saat ini adalah Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, Contoh :

1. Pajak Penghasilan (PPh) dasar hukum pengenaan pajak penghasilan adalah Undang-Undang No 7 Tahun 1984 sebagimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang No.36 Tahun 2008. Undang–undang Pajak Penghasilan berlaku mulai tahun 1984 dan merupakan pengganti UU Pajak Perseroan 1925, UU Pajak Pendapatan 1944 UU PBDR 1970.

2. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPN &

PPnBM) dasar hukum pengenaan PPN & PPn BM adalah undang-undang no.8 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan undang-undang No.42 tahun 2009. Undang-undang No.42 Tahun 2009. Undang-undang PPn & PPn BM efektif mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985 dan merupakan pengganti UU Pajak Penjualan 1951.

3. Bea Meterai Dasar hukum penggunaan bea meterai adalah Undang-Undang No.13 Tahun 1985. Undang-Undang-Undang-Undang bea meterai berlaku mulai 1 Januari 1986 menggantikan peraturan undang-undang bea meterai yang lama (aturan bea meterai 1921). Pajak Bumi Bangunan

(PBB) Dasar hukum penggunaan Pajak Bumi Bangunan adalah Undang-Undang No.12 tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.12 Tahun 1994. Undang-Undang PBB berlaku mulai tanggal 1 Januari 1986 dan merupakan pengganti.

b. Pajak Daerah

Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Daerah. Pajak Daerah terbagi menjadi 2 yaitu :

1. Pajak Provinsi,terdiri dari :

a. Pajak Kendaraan Bermotor,

b. Pajak Balik Nama Kendaraan Bermotor, c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, d. Pajak Air Permukaan dan pajak rokok.

2. Pajak Kabupaten/Kota terdiri dari : a. Pajak Hotel,

b. Pajak Restoran, c. Pajak Hiburan, d. Pajak Reklame,

e. Pajak Penerangan Jalan,

f. Pajak Mineral Bukan Logam Dan Batuan, g. Pajak parkir,

h. Pajak Air Bawah Tanah (ABT),

j. Perdesaan dan Perkotaan, dan

k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Menurut UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU Nomor 34 tahun 2004 tentang Pajak daerah dan Retribusi Daerah “Pajak daerah adalah iuran wajib yang dialihkan oleh orang pribadi dan badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah”.

H. Sistem pemungutan Pajak Daerah 1. Sistem Official Assessment

Pemungutan pajak daerah berdasarkan penetapan kepala daerah dengan menggunakan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau dokumen lainnya yang dipersamakan. Wajib Pajak setelah menerima SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan tinggal melakukan pembayaran menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) pada kantor pos atau bank persepsi. Jika Wajib Pajak tidak atau kurang membayar akan ditagih menggunakan Surat Tagihan Pajak Daerah.

2. Sistem Self Assessment

Wajib Pajak menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri pajak daerah yang terutang. Dokumen yang digunakan adalah Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD). SPTPD adalah formulir untuk menghitung, membayar dan melaporkan pajak yang terutang. Jika wajib pajak tidak atau kurang membayar atau terdapat salah hitung atau salah tulis

dalam SPTPD maka akan ditagih menggunakan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD).

3. Semi Self Assessment Sistem

Suatu sistem pemungutan pajak yang memberikan kewenangan menentukan berapa jumlah pajak yang terhutang berada pada kedua bela pihak (pemungutan pajak dan wajib pajak). Apabila pelaksanaan pemungutan pajak menggunakan sistem ini, maka di awal tahun pajak, wajib pajak diberi kewenangan melakukan kewajiban menghitung atau menafsirkan dan menentukan besar kecilnya pajak terhutang yang harus dibayar.

4. With Holding system

Sistem pemungutan pajak ini memberi kewenangan kepada pihak ketiga untuk menghitung dan menetepkan besar kecilnya jumlah pajak yang terhutang. Pihak ketiga tersebut akan yang akan menghitung jumlah pajak terhutang dan kemudian melakukan pemotongan atau pemungutan pajak.

Selain memungut pajak, Pemerintah daerah juga bisa memungut retribusi.

Adapun yang dimaksud retribusi menurut Undang-undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah: retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pembayaran wajib dari penduduk kepada Negara karena jasa tertentu yang diberikan oleh Negara bagi penduduknya secara perorangan.

Seperti pajak, retribusi juga ditetapkan dengan peraturan daerah.

dokumen lain yang dipersamakan. Berdasarkan hal tersebut diatas maka seharusnya masyarakat menyadari bahwa tujuan pemungutan pajak dan retribusi adalah untuk pembangunan daerah dan untuk lebih menegakkan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan daerah, sebab kemungkinan pada dasarnya akan lebih menjamin ketahanan daerah khususnya ketahanan dibidang ekonomi.

Kesadaran yang tinggi dalam melakukan pembayaran pajak akan menjadikan pembangunan dapat lebih digiatkan lagi, sebaliknya apabila masyarakat menyadari maka penerimaan atau pemasukan uang akan berkurang, dengan sedirinya pembangunan kurang lancar. Demikian pula penerimaan pendapatan yang dikelola oleh pemerintah terutama pajak daerah seluruhnya untuk kepentingan daerah sendiri dan untuk melaksanakan pembangunan daerah.

I. Pengertian Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah bea yang dikenakan pada setiap pemindahan hak atau hibah wasiat atas harta tetap dan hak-hak kebendaan atas tanah yang pemindahan haknya dilakukan dengan akta.

Menurut peraturan Undang-undang bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah pajak yang dikenakan atas tanah dan bangunan, yang selanjutnya disebut dengan pajak, sedangkan pengertian Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan bangunan oleh orang pribadi atau badan. Yang termasuk Hak atas tanah adalah hak pengelolaan beserta

bangunan diatasnya sebagaimana dalam Undang-Undang No 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar pokok-pokok Agraria, Undang-Undang No 16 tentang Rumah Susun dan ketentuan peraturan Perundang-Undangan lainnya.

Dasar pengenaan atas bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dari nilai perolehan objek pajak dengan besaran tarif sebesar 5% dari nilai perolehan objek pajak. Pada awalnya, BPHTB dipungut oleh pemerintah pusat, tetapi sesuai dengan amanat Undang-Undang No 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), mulai 1 Januari 2011, BPHTB dialihkan menjadi pajak daerah yang dipungut oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

J. Subjek dan Objek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan atau bangunan.

Pengertian Subjek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menurut pasal 4 ayat (1) UU SPHTS adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan.

Subjek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan antara lain sebagai berikut :

1. Perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan azas perlakuan timbal balik.

2. Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum.

3. Badan atau perwakilan orgnisasi internasional yang ditetapkan dengan keputusan menteri keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain diluar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut.

4. Orang pribadi atau badan karena wakaf.

5. Orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah Objek pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah perbuatan (disengaja) atau peristiwa hukum yang mengakibatkan di perolehnya hak atas tanah dan bangunan oleh orang pribadi atau badan.

Objek perolehan hak atas dan atau bangunan meliputi pemindahan hak karena jual beli, tukar menukar, hibah, hibah wasiat, waris, pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya, pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, penunjukan pembeli dalam lelang, pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap, penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha dan hadiah. Adapun yang meliputi hak atas tanah yaitu :

a. Hak milik, yaitu hak turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah..

b. Hak guna usaha (HGU), yaitu hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku.

c. Hak guna bangunan (HGB), yaitu hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.

d. Hak pakai, yaitu hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang didalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian

d. Hak pakai, yaitu hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang didalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian

Dalam dokumen SKRIPSI RUSNIATI C (Halaman 20-0)

Dokumen terkait