SUPERVISI PENGAWAS MELALUI TEKNIK
1.1. LATAR BELAKANG
Sekolah merupakan lembaga formal yang
dijadikan wadah dalam mewujudkan penyelenggaraan
sistem pendidikan yang dapat menghasilkan output
dalam bidang pendidikan. Output yang baik erat
kaitannya dengan kualitas sekolah yang baik pula. Sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang memiliki standar pelayanan yang berkualitas. Kualitas sekolah dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya kompetensi guru, sarana prasarana, kualitas kegiatan
pembelajaran dan kompetensi kepala sekolah.
Ketercapaian aspek-aspek tersebut tidak dapat
terlepas dari peran seorang Kepala Sekolah sebagai pemimpin.
Kepala sekolah merupakan personel sekolah yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan yang terjadi di sekolah. sehingga, kepala sekolah memiliki tanggung jawab dan wewenang penuh terhadap penyelenggaraan pendidikan yang ada di sekolah. Mulyasa (2012:87) mengungkapkan bahwa salah satu indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif yaitu dapat menjawab pertanyaan mengenai cara yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu dan produtivitas sekolah. Indikator tersebut menunjukkan
128
bahwa kepala sekolah memiliki peran penting dalam mewujudkan manajemen sekolah yang baik.
Kemampuan yang harus dimiliki kepala sekolah
tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 13 Tahun 2007 tentang standar sebagai kepala sekolah, kompetensi yang harus dimiliki yaitu kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Salah satu kompentensi yang berpengaruh dalam keberhasilan sistem pendidikan adalah kompetensi supervisi dalam bidang akademik.
Menurut Daryanto (2010:91-92) supervisi
merupakan usaha yang dilakukan untuk mengetahui situasi lingkungan sekolah dalam segala kegiatan. Kegiatan ini dimaksudkan agar kepala sekolah dapat mengetahui secara keseluruhan dari setiap aktivitas, baik besar maupun kecil yang terjadi di lingkungan sekolah. Supervisi dilakukan dalam arti membina, mengarahkan, melatih, dan mendorong seluruh personal sekolah dan para guru agar memiliki wawasan baru untuk sebuah pengembangan, salah satunya kegiatan supervisi akademik.
Selain itu Mulyasa (2012: 92) menyatakan bahwa supervisi merupakan bantuan profesional kepada guru
melalui kegiatan perencanaan yang sistematis,
pengamatan yang cermat, dan umpan balik yang objektif dan segera.
129 Dalam kegiatan pembelajaran, seringkali guru mengalami kesulitan-kesulitan, baik kesulitan dalam
menghadapi siswa maupun kesulitan dalam
menyampaikan materi yang harus dipahami oleh siswa. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka perlu menjadi perhatian bagi guru untuk membuat perencanaan proses pembelajaran atau yang biasa
disebut dengan RPP. Nehtry (2016) dalam
penelitiannya menyampaikan bahwa guru belum menunjukkan kinerja yang memadai dalam tugas
keprofesionalannya. Hal tersebut dilihat dari
kemampuan siswa kurang maksimal dalam
memahami pelajaran, masih lemahnya karakter siswa dalam sikap, dan rendahnya kemampuan membaca, menulis dan berhitung dari siswa.
Kemampuan siswa yang rendah tentu akan dikaitkan dengan kemampuan guru dalam kinerjanya. Sehingga, kinerja guru yang rendah juga akan berdampak pula pada mutu pendidikan yang rendah pula. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas profesinya, diperlukan pembinaan bagi guru secara terstruktur. Pembinaan tersebut dapat dilakukan oleh kepala sekolah yang bertindak sebagai supervisor. Sebagai supervisor, kepala sekolah dapat membantu guru meningkatkan kualitas dalam pembelajaran dengan melakukan supervisi pembelajaran. Kegiatan
130
membimbing, memberikan masukan, membantu
memecahkan masalah yang dihadapi guru terkait dengan kegiatan pembelajaran.
Rasyidah (2012) dalam penelitiannya
menerangkan bahwa kepala sekolah memiliki peran penting dalam meningkatkan kompetensi guru dalam kaitannya dengan implementasi KTSP khususnya dalam pelaksanaan supervisi akademik.
Supervisi pembelajaran merupakan kegiatan
pembinaan dengan memberikan bantuan secara teknis
kepada guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan profesional guru dan dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui
peningkatan profesional guru, diharapkan guru semakin siap dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan melakukan persiapan mengajar dan juga proses belajar mengajar yang lebih baik.
Berdasarkan dari beberapa kajian tersebut, kegiatan supervisi pembelajaran tentunya menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas sekolah. Dalam pelaksanaan program supervisi kepala sekolah perlu memiliki pemahaman yang mendalam sebagai supervisor. Akan tetapi, sebagaimana tugas kepala sekolah sebagai supervisor yang terjadi di lapangan belum sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
131 Kepala sekolah belum serta merta melaksanakan program supervisi secara terstruktur.
Program supervisi tentunya sudah disusun oleh kepala sekolah dengan menyesuaikan kebutuhan sekolah. Namun, dalam kenyataannya program tersebut belum sepenuhnya terlaksana sesuai dengan rancangan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan, diketahui adanya beberapa alasan kurang
berhasilnya program supervisi pembelajaran,
diantaranya yaitu terbenturnya jadwal supervisi dengan kegiatan sekolah atau dinas, kegiatan kepala sekolah yang harus sering ke luar, sehingga menyebabkan kedisiplinan guru yang rendah, bahkan alasan kurangnya controling dari pengawas sekolah.
Kendala-kendala tersebut sejatinya dapat diatasi salah satunya, apabila kepala sekolah mendapatkan bimbingan dan pengawasan secara terprogram dari pengawas sekolah. Pengawas memiliki peran dalam keberhasilan pelaksanaan program supervisi dari kepala sekolah untuk meningkatkan kinerjanya. Harahap Diniyah Putri (2004) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa penerapan supervisi dengan
teknik workshop dapat meningkatkan pembelajaran
yang efektif. Penelitian senada juga dilakukan oleh
Heri Sukamto yang bertujuan meningkatkan
kompetensi guru dalam membuat PTK melalui
132
meningkatkan kualitas program yang sudah dirancang diperlukan juga kegiatan pengawasan yang tepat. Melihat minimnya pelaksanaan program supervisi oleh kepala sekolah tersebut, diperlukan model supervisi dari pengawas kepada kepala sekolah melalui teknik workshop untuk meningkatkan kualitas supervisi kepala sekolah.
1.2. TUJUAN
Tujuan dari pengembangan model supervisi
pengawas melalui teknik workshop untuk
meningkatkan kompetensi supervisi kepala sekolah adalah sebagai berikut:
1. Memberikan acuan bagi pengawas, kepala sekolah,
dan pihak-pihak terkait dalam melaksanakan program supervisi secara efektif sehingga dapat
mengoptimalkan kompetensi guru dalam
meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Terselenggaranya supervisi oleh pengawas melalui
teknik workshop untuk meningkatkan kompetensi
atau kemampuan kepala sekolah dalam
melaksanakan supervisi pembelajaran.
1.3. SASARAN
Sasaran utama dari penerapan model ini adalah pengawas, kepala sekolah, dan guru sebagai pelaku dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
133 1.4. LANDASAN HUKUM
1. Undang- undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013
tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
4. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah.
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13
Tahun 2007 tentang Standar Kepala
Sekolah/Madrasah.
7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28
Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.
8. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008
134
BAB II