Soft denture liner (SDL) atau resilient denture liner adalah pelapis sementara atau defenitif pada permukaan intaglio gigi tiruan lengkap lepasan, gigi tiruan sebagian lepasan dan prosthesis maksilofasial intraoral (Glossary of Prosthodontics Terms, 2017). Soft denture liner menurut pengertian ISO merupakan bahan pelapis lunak yang paling sering digunakan dalam prostodontik yang sifat softnya tetap bertahan setelah polimerisasi (Banarjee KL dkk, 2015; Chladek G dkk, 2014). Soft denture liner diindikasikan pada pasien dengan kasus resorpsi linggir yang parah, linggir yang tajam, mukosa yang tipis dan non resilien, pasien dengan undercut tulang yang berat, pasien dengan defek palatum kongenital atau didapat (Zarb, 2013), gigi tiruan imidiat, sebagai relining pasca pemasangan implan, gigi tiruan penuh yang berkontak dengan gigi asli, pasien dengan bruksisme dan xerostomia (Banerjee dkk, 2015; Chladek G dkk, 2014). Soft denture liner diaplikasikan pada permukaan intaglio basis gigi tiruan, terutama pada bagian yang berkontak langsung dengan linggir atau mukosa yang bermasalah sehingga berfungsi sebagai bantalan yang memberikan efek cushioning, menyalurkan beban fungsional secara merata pada mukosa jaringan pendukung gigi tiruan, mencegah konsentrasi tekanan lokal serta meningkatkan retensi dan stabilisasi gigi tiruan (Zarb, 2013; Anas B dkk, 2017; Kaur G dkk, 2011; Hashem MI, 2015; Chladek G, 2014; Salloum AM, 2013).
Soft denture liner dapat diklasifikasikan berdasarkan jangka waktu penggunaannya, komposisi serta proses aktifasinya ( Zarb, 2013; Yankova M dkk, 2019). Berdasarkan jangka waktu penggunaannya terdiri dari SDL jangka pendek (tissue conditioner) dan SDL jangka panjang. SDL jangka pendek (Tissue conditioner) merupakan bahan resilien yang bersifat sementara, yang berfungsi untuk jangka waktu yang pendek atau beberapa hari, paling lama 30 hari sedangkan long term SDL dapat digunakan selama berbulan-bulan sampai satu tahun (Zarb, 2013;
Kreve S dkk, 2019; Rathi S dkk, 2018; Banerjee KL dkk, 2015; Anas B dkk, 2017;
Kaur G dkk, 2011). Berdasarkan komposisi bahannya, SDL jangka panjang terdiri dari plasticized acrylic resin, silicone rubber, plasticized vinyl polymers dan copolymers, hydrophilic polymers, polyphosphazine fluoropolymers, fluoroethylene dan polyvinyl siloxane addition silicones (Zarb, 2013), namun bahan yang paling umum digunakan adalah plasticized acrylic dan silicone rubber (Kreve S dkk, 2019;
Rathi S dkk, 2018; Anas B dkk, 2017; Mohammed HS dkk, 2016; Hashem M, 2015).
Berdasarkan teknik aktifasinya yaitu chemically activated atau room temperature vulcanizing (RTV) (swapolimerisasi) dan heat activated atau heat temperature vulcanizing (HTV) (polimerisasi panas) (Rathi S dkk, 2018; Anas B dkk, 2017;
Hashem M, 2015).
Sebagai salah satu bahan kedokteran gigi soft denture liner memiliki beberapa sifat sebagai berikut: a). Sifat biologis yang biokompatibel yaitu bahan dapat diterima dan tidak beracun, tidak mengiritasi jaringan serta bebas dari kolonisasi Candida albicans dan mikroorganisme lainnya, b). Sifat mekanis SDL berupa kekuatan lekat
yang tinggi sehingga dapat mencegah terjadinya microleakage yang menyebabkan kolonisasi Candida albicans dan sifat kekerasan dimana bahan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama, beberapa bulan sampai beberapa tahun, yang tidak mudah terpengaruh oleh faktor seperti perendaman dalam air, c). Sifat fisik SDL berupa kekasaran permukaan, memiliki stabilitas dimensi dan stabilitas warna, yaitu kemampuan untuk mempertahankan bentuk dan warna selama pemakaian di dalam rongga mulut maupun perendaman dalam larutan pembersih, d). Sifat kimia SDL berupa penyerapan air dan solubilitas bahan yang harus minimal saat direndam dalam air atau bahan pembersih gigi tiruan. (Hashem M, 2015; Chladek G, dkk, 2014;
Mahajan N dkk, 2010; Anas B dkk, 2017).
Pemakaian SDL dalam jangka panjang baik dalam rongga mulut maupun sewaktu peredaman menggunakan larutan pembersih gigi tiruan dapat menyebabkan berbagai masalah sepert kegagalan ikatan antara SDL dan basis, hilangnya sifat lunak, terjadinya porositas, perubahan warna dan larut dalam cairan saliva maupun bahan pembersih gigi tiruan serta terbentuknya kolonisasi mikroorganisme (Anas B dkk, 2017; Badaro MM dkk, 2017; Rabah A, 2017; Mohammed HS dkk, 2016; Narwal A, 2015). Kekerasan merupakan salah satu faktor yang menjadi tantangan dalam pemakaian bahan lining gigi tiruan penuh sebab ketidakstabilannya terhadap kelembaban seperti dalam rongga mulut. Hilangnya sifat lunak SDL dapat diakibatkan oleh lepasnya plasticizer dan komponen-komponen lainnya ketika terpapar dengan air maupun saliva (Rabah A, 2017; Narwal A, 2015; Pahuja RK dkk, 2013), sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan dalam kekerasan dan hilangnya
elastisitas dan efek bantalan dari SDL (Narwal A, 2015). Lepasnya komponen plasticizer juga dapat menyebabkan terbentuknya ruang kosong yang seiring lama pemakaian ukurannya bertambah dan menciptakan terbentuknya kawah-kawah sehingga dapat meningkatkan kekasaran permukaan dan menambah akumulasi dan kolonisasi dari Candida albicans (Rabah A, 2017; Narwal A, 2015; Pahuja RK dkk, 2013; Mohammed H, dkk, 2016). Perubahan kekasaran permukaan bahan SDL akibat pemakaian jangka panjang dapat diperparah oleh kondisi kebersihan gigi tiruan yang buruk, yang pada akhirnya menyebabkan kandidiasis oral. Oleh karena itu, pengguna gigi tiruan harus lebih memperhatikan kebersihan gigi tiruan mereka dan melakukan pembersihan gigi tiruan secara rutin untuk menghilangkan dan mencegah akumulasi plak berulang, menghilangkan debris, mencegah diskolorasi dan mencegah kolonisasi dan infeksi mikroorganisme terutama Candida albicans (Badaro MM dkk, 2017;
Mohammed HS dkk, 2016; Narwal A, 2015).
Pembersihan gigi tiruan yang bertujuan untuk menyingkirkan plak, stain dan lapisan biofilm dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti metode mekanis, kimia, dan gabungan kimia dan mekanis. Pembersihan mekanis merupakan metode yang populer untuk membersihkan gigi tiruan. Metode ini sederhana, ekonomis, dan efektif dalam menghilangkan stain dan deposit organik, namun jika tidak dilakukan dengan adekuat, metode ini dapat menyebabkan kerusakan pada basis gigi tiruan maupun bahan SDL (Badaro MM dkk, 2017). Metode mekanis tidak dianjurkan untuk bahan SDL karena dapat merusak sifat resilien dan menyebabkan kekasaran permukaan (Badaro MM dkk, 2017; Pahuja dkk, 2013; Gedik H dkk, 2009).
Pembersihan kimia merupakan metode pilihan yang utama, terutama untuk pasien lansia dan pasien yang memiliki keterbatasan fisik. Pembersihan dengan cara kimia dilakukan dengan cara merendam gigi tiruan dalam larutan pembersih (Gedik H dkk, 2009). Pembersihan gigi tiruan yang tidak adekuat dapat berkontribusi terhadap terjadinya kerusakan sifat fisik dan mekanis bahan SDL.
Berdasarkan komposisinya, larutan pembersih kimia terdiri dari alkalin peroksida, hipoklorit, asam, disinfektan, dan enzim. Alkalin peroksida merupakan bahan pembersih yang paling banyak digunakan yang tersedia dalam bentuk bubuk atau tablet larut (Mohammed HS dkk, 2016; Pahuja dkk, 2013; Gedik H dkk, 2009).
Peroksida berubah menjadi larutan alkalin ketika larut dalam air. Larutan pembersih alkalin peroksida merupakan larutan yang efektif dalam melarutkan plak, dapat menghambat pembentukan kalkulus, mengurangi stain, dan memiliki efek bakterisidal serta fungisidal (Karthikeyan S dkk, 2018; Rabah A, 2017; Pahuja dkk, 2013). Penelitian Gedik dkk, 2009 membandingkan beberapa larutan pembersih golongan alkalin peroksida dan menunjukkan bahan pembersih gigi tiruan dengan merk polident memiliki efisiensi pembersih paling tinggi diantara pembersih gigi tiruan lainnya. Selain alkalin peroksida, larutan sodium hipoklorit (NaOCl) juga sering digunakan sebagai larutan pembersih gigi tiruan (Mohammed HS dkk, 2016;
Pahuja dkk, 2013; Gedik H dkk, 2009). Sodium hipoklorit merupakan bahan pembersih berspektrum luas dan dapat membersihkan gigi tiruan dalam waktu singkat. Sodium hipoklorit juga mampu menghilangkan stain, melarutkan mucin dan zat-zat organik lainnya serta memiliki sifat bakterisidal dan fungisidal. Penelitian
melaporkan bahwa sodium hipoklorit dengan konsentrasi 0,5% efektif dalam mengontrol biofilm pada gigi tiruan (Karthikeyan S dkk, 2018).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menguji efek perendaman larutan pembersih gigi tiruan terhadap kekerasan SDL silikon. Penelitian Pahuja dkk, 2013 menemukan bahwa kekerasan SDL silikon swapolimerisasi yang direndam dalam larutan pembersih sodium hipoklorit 0,5% dalam interval waktu 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan tidak signifikan. Penelitian Narwal, 2015 menemukan bahwa kekerasan permukaan meningkat pada SDL silikon swapolimerisasi setelah perendaman selama 6 bulan dalam sodium hipoklorit. Penelitian Mohammed dkk, 2016 menemukan bahwa peningkatan nilai kekerasan SDL Silikon swapolimerisasi yang direndam dalam larutan alkalin peroksida signifikan pada hari ke 7, 30 dan 90.
Penelitian Anas B dkk, 2017 menunjukkan terdapat perbedaan nilai kekerasan SDL silikon swapolimerisasi yang direndam dalam larutan pembersih golongan alkalin peroksida dengan merk pembersih yang berbeda, dimana terjadi pengurangan nilai kekerasan SDL silikon swapolimerisasi yang direndam selama 180 hari dalam fittydent namun nilainya bertambah dalam perendaman clinsodent. Penelitian Tan H dkk, 2000 menunjukkan penurunan nilai kekerasan SDL silikon polimerisasi panas yang direndam dalam berbagai larutan pembersih dimana permukaannya terlebih dahulu diberi kekasaran yang berbeda. Kekerasan yang lebih rendah adalah sifat yang diinginkan untuk bahan SDL namun faktor-faktor lainnya (mis: kekuatan lekat pada basis dan tear strength) harus juga dipertimbangkan ketika memilih SDL (Tan dkk, 2000).
Pembersihan gigi tiruan dengan cara perendaman dalam larutan pembersih juga mempengaruhi kekasaran permukaan. Terjadinya oksigenasi dalam larutan alkalin yang kuat dapat menjadi faktor yang menyebabkan porositas pada permukaan SDL (Mohammed HS dkk, 2016). Selain oksigenasi, tingginya konsentrasi ion (sodium dan potassium) menyebabkan larutnya komponen-komponen seperti plasticizer sehingga meninggalkan ruang kosong atau bubbles yang bertanggung jawab terhadap kekasaran permukaan. Seiring dengan bertambahnya waktu, bubbles akan mengalami peningkatan dalam ukuran dan membentuk krater (Rabah A, 2017;
Segundo ALM dkk, 2008). Gangguan permukaan juga dapat dikaitkan dengan porositas bahan SDL. Udara yang terperangkap selama pencampuran bahan dan beberapa bahan pembersih gigi tiruan menyebabkan peningkatan ukuran bubbles dan beberapa diantaranya bahkan mencapai permukaan sehingga menyebabkan peningkatan dalam kekasaran permukaan (Mohammed HS dkk, 2016). Penelitian Vieira dkk, 2010 membandingkan efektifitas pembersih golongan peroksida dan NaOCl 0,5% terhadap kekasaran permukaan dan menemukan bahwa penggunaan NaOCl 0,5% menyebabkan peningkatan kekasaran permukaan yang paling tinggi walaupun hasilnya tidak signifikan. Penelitian Mese A, 2008 menunjukkan nilai kekasaran yang tertinggi pada SDL silikon swapolimerisasi setelah 24 jam dan 6 bulan perendaman dalam alkalin peroksida. Penelitian Jin dkk (2003) juga menunjukkan adanya perubahan dalam kekasaran permukaan dan stabilitas warna soft denture liner silikon setelah direndam dalam larutan pembersih baik alkalin peroksida maupun larutan enzim (Jin C dkk, 2003).
Pemakaian bahan pembersih gigi tiruan sebagai rutinitas dalam menjaga kebersihan gigi tiruan dapat mempengaruhi sifat bahan SDL oleh karena itu dokter gigi harus memilih bahan pembersih gigi tiruan yang paling tepat untuk bahan SDL tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman pada larutan pembersih alkalin peroksida dan sodium hipoklorit 0,5 % terhadap kekerasan dan kekasaran permukaan SDL silicon.
1.2 Permasalahan
Soft denture liner yang diaplikasikan pada permukaan intaglio basis gigi tiruan, terutama pada bagian yang berkontak langsung dengan linggir atau mukosa yang bermasalah berfungsi sebagai bantalan diantara basis gigi tiruan dan permukaan linggir atau mukosa yang akan memberikan efek cushioning, menyerap tekanan dan mendistribusikan tekanan seimbang dan merata ke jaringan dibawahnya, menambah retensi gigi tiruan penuh dan sebagai kondisioning jaringan yang mengalami trauma.
Pemakaian SDL dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai masalah yaitu hilangnya sifat lunak, kegagalan ikatan antara SDL dan basis gigi tiruan, terbentuknya porositas, perubahan warna, kelarutan dan kolonisasi mikroorganisme. Kondisi ini dapat diperparah dengan denture hygiene yang buruk sehingga menyebabkan kandidiasis oral.
Upaya untuk mencegah kolonisasi Candida albicans dapat dilakukan dengan metode mekanis, kimia dan gabungan kimia dan mekanis. Metode mekanis tidak dianjurkan karena dapat merusak SDL. Metode kimia lebih dianjurkan terutama untuk pasien lansia dan pasien dengan gangguan motorik dengan cara perendaman dalam
larutan pembersih. Perendaman SDL dalam larutan pembersih gigi tiruan dapat memengaruhi sifat mekanis dan fisik seperti kekerasan dan kekasaran permukaan.
Kekerasan merupakan sifat penting dari bahan SDL dan harus tetap konstan untuk waktu yang lama agar dapat berfungsi secara optimal. Bertambahnya kekerasan bahan merupakan salah satu alasan terjadinya kegagalan SDL. Selain kekerasan, kekasaran permukaan juga merupakan faktor yang penting karena permukaan yang kasar juga dapat menjadi tempat perlekatan dan adhesi Candida albicans oleh karena itu pemilihan bahan pembersih gigi tiruan harus dilakukan dengan tepat. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka peneliti merasa perlu untuk mengetahui pengaruh perendaman pada larutan pembersih alkalin peroksida dan sodium hipoklorit 0,5%
terhadap kekerasan dan kekasaran permukaan. SDL silikon.