TINJAUAN PUSTAKA 2.1Sungai
1.1 Latar Belakang
Sungaiadalah aliran air besar dan memanjang yang mengalir secara terus- menerus dari hulu menuju hilir. Sungai merupakan sumber air yang sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia. Sungai juga merupakan salah satu komponen lingkungan yang dapat memengaruhi makhluk hidup yang ada di sekitarnya termasuk manusia dikarenakan terjadinya pencemaran air secara alamiah dan akibat buangan limbah industri yang mengandung berbagai bahan organik maupun logam berat ( Cunningham, 2004).
Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 menyebutkan bahwa pencemaran air adalah masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Mulia, 2005). Pencemaran air dapat menyebabkan penurunan kualitas air baik itu secara fisik, kimia, biologi, maupun estetika dikarenakan masuknya bahan-bahan pencemar baik itu bahan pencemar organik, anorganik dan logam-logam berat yang berasal dari kegiatan manusia (Fardiaz,1992).
Berbagai kasus pencemaran perairan telah terjadi di berbagai belahan dunia. Di negara-negara kurang berkembang seperti Amerika Selatan, Afrika, dan Asia, 95% limbah yang berasal dari industri maupun rumah tangga di buang ke sungai tanpa proses pengolahan yang baik. Sungai Amazon merupakan salah satu
contoh sungai yang telah tercemar oleh logam berat merkuri (Hg) yang di gunakan para penambang emas, diperkirakan terdapat 130 ton merkuri tiap tahunnya di sungai ini. Selain itu di India, dua pertiga dari air permukaan dianggap berbahaya bagi kesehatan manusia dikarenakan adanya peningkatan jumlah bakteri koliform mencapai 24 juta sel per 100 ml. Sungai Donau juga telah tercemar oleh logam berat seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), kromium (Cr) yang berasal dari kegiatan industri dan pertambangan ( Cunningham, 2004).
Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar perairan di Indonesia baik itu sungai maupun laut telah mengalami pencemaran oleh logam berat berbahaya seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), arsen (As), cadmium (Cd), dan nikel (Ni). Tidak hanya mencemari air akan tetapi logam berat tersebut juga
terakumulasi pada biota air seperti ikan, kerang-kerangan, dan tumbuhan air. Salah satu perairan laut yang kualitas perairannya sudah melewati ambang baku
mutu kualitas perairan menurut kriteria Menteri Lingkungan Hidup tahun 1988 adalah Teluk Jakarta. Sejak tahun 1972 perairan teluk Jakarta telah mengalami pencemaran bahan organik dan logam berat yang telah melampaui ambang batas (Bangun, 2005).
Kandungan logam merkuri (Hg), timbal (Pb) dan kromium (Cr) pada perairan Teluk Jakarta berfluktuatif antara 0,00004 – 0.056 ppm dan rata-rata nilai kandungan logam di dalam tubuh kerang hijau (Perna viridis L.) sebesar 0,062 – 47,813 ppm (Apriadi, 2005). Di kelurahan Barombong, Makassar konsentrasi timbal (Pb) pada air laut sebesar 0,516 mg/L dan pada ikan baronang berkisar 1,023-1,761 mg/kg. Sedangkan di kelurahan Tallo konsentrasi timbal (Pb) pada
air laut sebesar 0,395 mg/L dan pada ikan baronang berkisar 0,967-1,754 mg/kg. Setelah dibandingkan dengan standar kualitas air menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 dan untuk ikan yaitu berdasarkan BPOM RI No. HK.00.06.1.52.4011, ternyata keduanya telah melebihi nilai ambang batas yang telah ditentukan yaitu 0,05 mg/L untuk air dan 0,3 ppm untuk ikan (Zulfikar, 2013).
Di Sumatera Utara, telah dilakukan penelitian terhadap kualitas air sungai Percut dengan mengambil 3 stasiun sebagai sampel yaitu stasiun I pada Kecamatan Medan Amplas, stasiun II pada Kecamatan Medan Tembung, dan stasiun III pada kecamatan Percut Sei Tuan. Dengan didasarkan pada PP No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran, kandungan timbal (Pb) yang diperbolehkan ada dalam air yaitu 0,03 mg/L. Hasil pengukuran menunjukkan di stasiun I terdapat timbal (Pb) sebesar 0,08 mg/L, stasiun II 0,04 mg/L, stasiun III 0,06 mg/L. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kandungan timbal (Pb) pada air telah melampaui nilai ambang batas yang telah ditetapkan yaitu 0,03 mg/L (Alhusainy, 2014).
Aliran sungai Percut kaya akan biota airnya seperti ikan, kerang, dan kepiting. Pada daerah muara sungai Percut banyak menghasilkan ikan, seperti ikan nila, ikan mujair, ikan gabus, ikan bandeng, kepiting dan kerang. Dari hasil wawancara dengan warga pada tahun 2011 didapatkan bahwa produksi ikan nila 0,6 ton/ha, ikan mujair 0,5 ton/ha, kepiting 0,05 ton/ha. Sedangkan produksi ikan mujair pada bulan Juni tahun 2015 yaitu 10000 ekor tiap panen 3-4 bulan, sedangkan penangkapan ikan menggunakan boat rata-rata diperoleh 30 kg-300 kg.
Sungai Percut merupakan sungai yang alirannya melewati kawasan pemukiman kota Medan dan Deli Serdang yang bermuara ke Selat Malaka. Padatnya masyarakat disekitarnya yang memanfaatkan sungai Percut untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan aktifitas lainnya dengan aktivitas tersebut menyebabkan masuknya berbagai limbah domestik. Adanya aktivitas industri karet, kertas, baterai, PVC, pencucian celana jeans, pencucian getah, serta polusi dari bahan bakar kendaraan bermotor di sekitar kawasan sungai Percut menyebabkan masuknya berbagai limbah industri ke badan sungai. Berbagai sumber polutan yang ada di kawasan aliran sungai Percut tersebut menjadi penyebab timbulnya pencemaran logam berat seperti timbal (Pb) di sungai Percut (Safitri, 2014).
Air yang tercemar timbal (Pb) mencapai 188 mg/L dapat di akumulasi oleh ikan dan dapat menyebabkan ikan-ikan yang berada di muara sungai Percut mati dan apabila ikan yang mengakumulasi logam berat timbal (Pb) di konsumsi oleh manusia maka akan berdampak buruk bagi kesehatan karena timbal (Pb) dapat merusak sistem hematopoetik, susunan syaraf, serta dapat mengganggu fungsi sistem reproduksi (Palar, 2008).
Fenomena pencemaran yang terjadi sepanjang aliran sungai membuat peneliti tertarik untuk menganalisis kadar timbal (Pb) yang ada pada ikan mujair (Oreochromis mossambicus) yang terdapat di aliran muara sungai Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan. Hasil yang di peroleh penulis akan disesuaikan dengan Standar Nasional Departemen Kesehatan RI tahun 2009. Ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dipilih untuk di teliti dengan alasan produksi dan
konsumsi ikan yang cukup tinggi pada masyarakat sekitar, disamping itu sekitar muara sungai terdapat restoran yang menjajakan berbagai jenis ikan dan kerang yang bersumber dari muara. Selain itu, ikan ini mudah menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan disekitarnya dan berpotensi mengakumulasi logam berat dan ikan ini juga merupakan bioindikator untuk monitoring polusi yang ada pada air tawar dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap kadar garam atau salinitas (Setianto, 2012).