BAB III TRADISI NAIK DANGO PADA MASYARAKAT DAYAK
A. Sejarah Naik Dango
1. Latar Belakang Upacara Naik Dango
Suku Dayak Kanayatn mempercayai bahwa padi yang merupakan
makanan pokok manusia berasal dari Jubata. Menurut kepercayaan adat suku
Dayak Kanayatn, padi diturunkan dari Kayangan oleh Nek Baruakng Kulub1
(manusia yang tinggal di kayangan). Di Kayangan Nek Baruakng Kulub tinggal
bersama ibunya bernama Tamula. Ayah Nek Baruakg Kulub bernama Tagah,
Tagah adalah manusia biasa dan tinggal di Bumi. Nek Baruakng Kulub
diam-diam membawa padi ke bumi tanpa sepengetahuan ibunya ketika dia masih kecil.
Padi yang dibawa Nek Baruakng Kulub jatuh dan ditemukan pertama kali di bumi
oleh Tagah ketika pergi Mengayo (mengayo adalah mencari kepala munsuh atau
lawan untuk mempertahankan daerahnya dan untuk unjuk keberanian). Ketika
dalam perjalanan mengayo, Tagah melihat padi dibawa oleh burung pipit, karena
penasaran kepada benda yang dibawa burung pipit Tagah mengejar burung pipit
untuk mengambil padi itu. Dalam pengejarannya Tagah bertemu dengan Tabut
(Tabut menurut orang Kanayatn adalah hantu yang menyerupai seperti manusia)2.
Padi yang dibawa oleh burung pipit jatuh ke tanah dan diambil oleh tikus
yang langsung membawa padi ke dalam lubang. Tagah yang merasa tidak bisa
1 Kasimin. Wawancara 1 Februari 2007, di Kantor Dinas Perhubungan,
Telekomunikasi, Kebudayaan dan Pariwisata.
2Rakep. Wawancara 15 April 2007, di rumahnya.
mengambil padi dari tikus meminta bantuan kepada Tabut. Tabut menyanggupi
permintaan Tagah dengan persyaratan bahwa dia ingin dilayani dengan makanan
yang banyak. Selama tujuh hari tujuh malam Tabut masuk ke lubang dan
membawa keluar padi sebanyak tujuh biji, setelah mendapatkan padi Tagah
menanamnya di samping rumah.
Padi yang ditanam semakin hari semakin banyak dan akhirnya dipanen.
Tagah menepati janjinya kepada Tabut, dengan memanggil Tabut untuk
menikmati makanan yang terbuat dari padi, yang sudah dimasak dan diolah
menjadi bermacam-macam makanan. Poe, tumpi, beras sunguh, babi, ayam dan
lain-lain merupakan makanan yang disajikan oleh Tagah untuk Tabut. Makanan
itu sampai sekarang menjadi sesaji pada waktu upacara Naik Dango. Tagah, Tabut
dan Nek Baruakng Kulub merayakan hasil panen di Dango. Maka dari situlah
dinamakan Naik Dango3, dan sampai sekarang Naik Dango masih dilakukan
setelah panen padi berlangsung.
Pelaksanaan upacara Naik Dango dilakukan sebagai tanda ucapan syukur,
karena padi yang ditanam semakin bertambah banyak dan menjadi makanan yang
berharga bagi manusia, sebab pada masa lalu sebelum adanya padi manusia masih
makan singkong dan jamur seperti kulat karak4. Semakin banyaknya padi di bumi
maka manusia tidak akan kekurangan dan karena itulah suku Dayak Kanayatn
merasa perlu untuk mengucap syukur kepada Jubata. Ucapan syukur dilakukan
3Ibid.
4 Kulat karak adalah jamur yang tumbuh dari kayu yang sudah dibakar, bentuknya kecil dan biasanya tumbuh dengan jumlah yang sangat banyak.
sebagai ungkapan terimakasih orang Kanayatn kepada Jubata yang telah
memberkati mereka.
Meski generasi orang Kanayatn terus mengalami pergantian, tradisi Naik
Dango masih tetap dilakukan, walaupun terjadi perubahan-perubahan dalam
proses pelaksanaan, waktu pelaksanaan dan lain-lain. Pada masa lalu setiap
kampung Kanayatn melakukan upacara Naik Dango bersama-sama perwilayah
dan dalam jangka waktu yang lebih panjang dari tanggal 27 April-30 Mei5.
Pemilihan waktu dari bulan April-Mei, karena pada batas waktu itulah
orang-orang Kanayatn tidak memiliki kegiatan sebab mereka selesai panen padi. Di
bulan Juni orang Kanayatn sudah mulai menebas hutan dan berladang kembali.
Pelaksanaan upacara yang dilakukan secara serempak tidak semuanya
dilaksanakan pada tanggal yang sama di setiap kampung. Berbedanya tanggal
pelaksanaan digunakan oleh orang-orang Kanayatn untuk bertemu dengan
keluarga dan teman-teman mereka. Naik Dango pada masa lalu dilaksanakan pada
setiap rumah dengan sajian makanan yang berbeda-beda, tergantung pada
penghuni rumah.
Palaksanaan upacara yang dilakukan setiap rumah di kampung-kampung
dengan jangka waktu satu bulan, membuat upacara tradisional Naik Dango
menjadi sangat meriah. Masing-masing orang Kanayatn malaksanakan upacara
Naik Dango dengan alasan dan bentuk yang berbeda-beda. Ada yang
melaksanakan upacara Naik Dango karena mereka telah bernazar dan ada juga
yang bertujuan meminta perlindungan dan berkat yang melimpah.
Bentuk upacara yang mereka lakukan tergantung dari masing-masing
rumah. Mereka memasak ayam dan babi dengan jumlah yang berbeda-beda
disertai upacara baremah6. Semua itu dilakukan untuk menyampaikan keinginan
mereka agar ada perubahan-perubahan baik dalam hidup di masa yang akan
datang seperti selalu diberkati, dilindungi dan dijauhkan dari bencana dan
sakit-penyakit. Segala alasan dan bentuk yang berbeda-beda dalam pelaksanaan upacara
Naik Dango tetap tidak mengubah tujuan dari pelaksanaan upacara. Mereka tetap
melakukan semua kegiatan dengan mengikuti segala aturan-aturan yang ada
dalam adat-istiadat.
Pada masa lalu orang-orang Kanayatn membuat lancang kuning yang
berguna sebagai simbol untuk menandakan akan adanya upacara adat Naik Dango
di kampung tersebut. Lancang kuning terbuat dari kayu yang berbentuk seperti
perahu. Perahu yang dibuat bernama perahu “janji” (disebut perahu janji dimana
setiap orang yang bernazar menaruh simbol dari nazarnya di dalam perahu)7 yang
sudah dipahat dan dicat. Isi perahu tersebut bermacam-macam ada poe, tolor,
ayam, babi, padi dan lain-lain. Perahu dipikul, diarak keliling kampung dan
barang-barang yang ada dalam perahu dibawa pulang ke kampung masing-masing
agar disimpan oleh temenggung atau ketua kampung untuk menunjukkan bahwa
setiap tahun mereka melakukan upacara Naik Dango.
Kegiatan ritual yang dilakukan oleh orang Kanayatn di masa lalu
merupakan penghormatan terbesar mereka kepada Jubata yang telah memberikan
6 Baremah adalah memanggil Jubata untuk meminta berkat, perlindungan dan kesehatan yang baik.
padi. Upacara adat Naik Dango yang dilakukan melambangkan kebulatan hati
mereka. Orang Kanayatn zaman dulu menghormati upacara Naik Dango karena
ritual yang dilakukan bersifat religius dan sangat sakral, tapi berbeda pada masa
sekarang yang hanya melakukan upacara Naik Dango untuk pelestarian saja.
Bukan karena penghormatan tertinggi kepada Jubata tapi hanya karena pelestarian
budaya dan kepentingan pariwisata. Begitu juga dengan orang-orang yang datang
menghadiri upacara, tidak lagi sungguh-sungguh hadir mengikuti ritual dalam
acara tapi hanya sekedar datang dan melihat upacara Naik Dango yang dianggap
sebagai hiburan, ajang bisnis dan tempat pariwisata semata.
b. Berdasarkan realita lapangan
Berdasarkan perkembangan selanjutnya, upacara tradisional Naik Dango
tidak hanya bertujuan sebagai ucapan syukur orang Kanayatn kepada Jubata
terhadap hasil panen dan rejeki yang diperoleh setiap tahun, tetapi juga bertujuan
untuk memohon kepada Jubata yang menguasai Keramat Ae Tanah8 untuk
memulihkan keadaan pertanian dan perkebunan masyarakat Dayak Kanayatn.
Tahun 1967 setelah terjadinya pengusiran Cina yang mengakibatkan
pembunuhan massal, khususnya di Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Landak
hasil pertanian dan perkebunan masyarakat Kanayatn sangat tidak baik. Mulai dari
tahun 1967-1980 segala tanaman dan pertumbuhan pertanian tidak
menguntungkan. Buah-buahan yang ditanam masyarakat tidak memuaskan,
karena tidak bisa dimakan apalagi dijual. Buah kelapa banyak yang busuk,
8
Karamat Ae Tanah adalah tempat orang Kanayatn meminta izin atau memberitahukan kepada Jubata bahwa mereka akan mengadakan upacara Naik Dango. Biasanya yang disebut keramat ae tanah adalah bukit dan nanga ae (simpang sungai brsar dan sungai kecil).
dimakan tupai dan jatuh sebelum tua. Begitu juga buah nangka, durian dan
rambutan banyak terdapat ulat dan selalu merekah sebelum matang. Padi-padi
yang ditanam tumbuh tidak subur, berbuah kecil dan tidak berisi.
Darah orang-orang yang tidak bersalah dianggap telah mengotori tanah
dan air di sekitar pembunuhan. Selain itu pembunuhan massal membuat
orang-orang Kanayatn sibuk memikirkan perang dan cara menyelamatkan diri mereka
sehingga tanaman-tanaman yang mereka tanami dan buah-buahan yang ada tidak
bagus, karena tidak dipelihara dan dirawat. Tidak adanya perhatian dan perawatan
yang baik membuat tanaman-tanaman orang-orang Kanayatn tidak tumbuh baik.
Pada tahun 1973 pemerintah membuat satu gerakan yang bernama
“Bimnas” (Bimbingan masyarakat tentang pertanian)9. Tanaman-tanaman itu
disemprot dengan Endrin (SIC)10 anti hama tetapi tetap tidak tumbuh bagus dan
selalu diserang hama. Hasil pertanian dan perkebunan masyarakat sangat buruk,
banyak tanaman dan buah-buahan terbuang begitu saja.
Melihat kondisi itu, para tokoh masyarakat adat berfikir semua hal yang
terjadi berkaitan dengan air tanah yang sudah kotor akibat pembunuhan.
Pembersihan air tanah yang sudah kotor dilakukan dengan upacara-upacara ritual
dalam upacara Naik Dango, dimana upacara Naik Dango merupakan upacara
untuk memberkati pertanian masyarakat yang berupa padi dan barang pertanian
lainnya. Doa-doa yang diucapkan dalam upacara Naik Dango kebanyakan
mengarah pada kesejahteraan dan pemberkatan hasil pertanian agar lebih
9 Kasimin. Wawancara 1 Februari 2007, di Kantor Dinas Perhubungan dan
Telekomunikasi, Kebudayaan dan Pariwisata.
10 Ibid.
melimpah dan selalu subur, karena itulah agar tanam tumbuh masyarakat
Kanayatn kembali membaik dilakukan upacara Naik Dango. Dewan-dewan adat
kemudian melakukan Musyawarah Adat I dan hasil keputusan menetapkan bahwa
upacara tradisional Naik Dango akan dilaksanakan secara bergantian di setiap
tempat terjadinya pembunuhan. Seperti yang dikatakan oleh Kasimin:
“Itu sebabnya diadakan bergilir, sampai sekarang tidak bisa dipusatkan pada satu tempat. Karena ini upacara adat sambil nyimah nagari artinya membersihakn, menyapu lantai dari kotoran-kotoran dari bangkai orang-orang yang dibunuh segara tidak wajar”11.
Tahun 1985 di Pontianak Bahudin Kay dan Kasimin memprakarsai semua
sanggar-sanggar Dayak dan mengadakan Gawai Adat Naik Dango di Pontianak
secara serempak. Mulai dari tahun 1985-sekarang kondisi pertanian dan
perkebunan secara perlahan-lahan kembali membaik, tanaman-tanaman dan
buah-buahan dapat tumbuh baik bisa dimakan dan dijual, meski masih ada tanaman dan
buah yang dimakan tupai atau terserang hama, tapi tidak semuanya.
2. Tiga Aspek Pendukung Timbulnya Upacara Naik Dango.