BAB III TRADISI NAIK DANGO PADA MASYARAKAT DAYAK
A. Sejarah Naik Dango
2. Tiga Aspek Pendukung Timbulnya Upacara Naik Dango
Kehidupan orang Kanayatn yang ditunjang oleh bidang pertanian
membuat mereka sulit untuk melepaskan tradisi yang sudah turun-temurun
bertahan. Tradisi pertanian yang dilakukan oleh orang Kanayatn sampai saat ini
masih dapat dilihat, seperti di daerah Ngabang. Orang-orang Kanayatn yang
berladang di Kota Ngabang bukan karena pendapatan ekonomi mereka rendah
tapi itu didasarkan karena kecintaan mereka dengan tradisi. Banyak juga di antara
11
orang Kanayatn yang berstatus pegawai negeri dan wiraswasta hidup dengan
ekonomi yang sangat berkecukupan, tapi masih tetap berladang.
Berladang yang merupakan budaya pertanian orang Kanayatn masih
dilakukan karena lokasi alam yang mendukung. Orang Kanayatn tetap berladang
karena mereka memiliki lahan yang masih luas dan karena suatu anggapan “dari
pada nganggur”. Meski mereka berladang bukan sepenuhnya karena mewarisi
tradisi, tapi mereka juga tidak ingin tradisi mereka yang sudah ada menghilang.
Kegiatan berladang orang Kanayatn diawali dengan Ngawah (melihat
lahan di tanah kering yang akan dijadikan ladang), kemudian kegiatan Nabas
(menebas ayas/kayu-kayu kecil), sampai kegiatan Nabakng (menebang pohon
yang besar), Nunu (membakar), Nugal (memberi lubang untuk memasukkan
beberapa butir padi di dalamnya dengan menggunakan tugal yang terbuat dari
kayu dan sudah diruncing sebelumnya).
Nugal diawali dengan upacara Nyangahatn, Ngalamo Lubak Tugal,
kemudian kegiatan Mantus Ka’ Jakat (menebas rumput di sawah), Nunu di sawah
serta membuat parit, pematang, pengaturan air dan lain sebagainya12. Kegiatan
selanjutnya Lojong (padi disemaikan kemudian ditanam disawah), Nabo ‘Uma,
Ngarumput, Ngaleko, Nurutni, Bahayi Ka’mototn, Baroan, dan Bahanyi (panen)
Ka’ Jakat (sawah)13 yang diawali dengan kegiatan Ngaleko14 dan dilanjutkan
dengan Naik Dango.
12M. Ikot Rinding dkk. Op.Cit, hlm 34.
13
Ibid., hlm 34.
14Adat Ngaleko adalah ngatam padi (panen padi pertama), disajikan pertama kali kepada Jubata yang telah memberkati talino dan penduduk kampung atau desa. Padi dibungkus di dalam daun (daun layakng) dan di Sangahatn (didoakan) oleh seorang
Naik Dango sebagai hasil tradisi pertanian telah lama menyatu dalam
kehidupan orang Kanayatn, karena itulah sampai saat ini upacara Naik Dango
masih tetap dilakukan. Menurut tradisi Suku Dayak Kanayatn bilamana
menginginkan keselamatan maka upacara Naik Dango harus dilaksanakan15,
sebab jika tidak dilaksanakan maka akan terjadi malapetaka seperti tidak
mendapat rejeki atau hasil usaha dan pertanian yang diperoleh tidak diberkati,
karena itu Naik Dango bagi orang Kanayatn merupakan wujud tanggung jawab
moral kepada keluarga.
b. Aspek Religius
Naik Dango merupakan inti dalam kepercayaan tradisi suku Dayak
Kanayatn yang dilaksanakan sebagai ucapan syukur dalam menghormati padi.
Upacara Naik Dango menjadi tradisi yang tetap dilestarikan. Nyangahatn sebelum
musim tanam, panen dan mengahiri kelender agraris adalah suatu kewajiban bagi
masyarakat Dayak Kanayatn16.
Adat Baroah kemudian dilakukan setelah panen padi. Adat baroah adalah
upacara tanda bersyukur dan berterimakasih kepada Pama, Awa, dan Jubata atas
karunia dan berkat yang diberikan kepada manusia sepanjang tahun17. Sebelum
baroh dilaksanakan, terlebih dahulu penduduk kampung yang melakukan upacara
pergi Ka’ Penyugu, Karamat Ae Tanah untuk meminta izin kepada Jubata dengan
Panyangahatn (imam) di waktu dini hari saat ayam berkokok. Baras poe dan sunguh yang
sudah dibungkus dengan daun padi kemudian dibagikan kepada Bantakng Radakng
(penduduk kampung) pada pagi hari.
15M. Ikot Rinding dkk. Op.Cit, hlm 26.
16Vincentius Julipin. Op.Cit, hlm 27.
menyuguhkan hasil panen padi, selanjutnya diadakan upacara Ngalentekatn yang
dilaksanakan pada malam hari di ruang tamu utama. Upacara Ngalentekatn
bertujuan untuk memohon restu kepada Jubata bahwa besok harinya akan
dilaksanakan tradisi Naik Dango. Perlengkapan upacara seperti tumpi’ poe,
Bontokng, Rangkakng Manok dan lain sebagainya untuk dipersembahkan kepada
Jubata dipersiapkan oleh orang-orang Suku Dayak Kanayatn.
Dalam Nyangahatn, peralatan pokok yang diperlukan adalah Plantar yang
terdiri dari baras poe, baras sunguh, talo, angkabakng, mata duit logam, dan
tumpi sunguh18. Tumpi, poe inilah yang pertama kali dilantekan (disampaikan
kepada Jubata) oleh Panyangahatn (orang yang mendoakan), doa dilakukan
dengan tujuan agar hajat pemilik gawai serta warga masyarakat yang terlibat
diterima dan mereka diberi keselamatan.
Perangkat persembahan Nyangahatn di Dango padi sekurang-kurangnya
tiga rangkakng manok (ayam panggang), sedangkan untuk di pabarasatn dan
ka’sami masing-masing satu ekor. Selain rangkakng manok terdapat juga poe,
tumpi sunguh masing-masing sepiring, tungkat saroas (sebatang tonkat) dan
baliukng man ae’ panyasahatn (beliung dan air penyuci). Bahan tambahan lain
berupa baras banyu (beras yang dicampur dengan minyak kelapa), baras sasah
(beras yang dicuci) dan langir minyak ( buah langir bercampur minyak kelapa)19.
18Ketan, beras biasa, buah tengkawang, mata uang lama, dan cucur.
c. Aspek kekeluargaan, solidaritas dan persatuan.
Pelaksanaan upacara Naik Dango juga menimbulkan sikap kekeluargaan,
solidaritas dan persatuan. Dikalangan wanita kebersamaan dapat dilihat pada saat
upacara Naik Dango berlangsung. Semua perlengkapan sebagai sesaji
dipersiapkan oleh kaum wanita dan kegiatan yang paling dapat mempersatukan
mereka adalah batutuk. Batutuk artinya menumbuk padi dengan lesung oleh kaum
ibu dan remaja (putra-putri), padi diolah menjadi bermacam-macam makanan
sebagai panganan adat yang akan disuguhkan ke esokan harinya. Melalui kegiatan
batutuk diharapkan orang Kanayatn bisa saling bergotong-royong satu sama lain
sehingga kebersamaan, integritas, solidaritas dapat terwujud dan komunikasi
diantara orang-orang Kanayatn berjalan dengan baik.
Pelaksanaan upacara Naik Dango secara bergiliran disetiap kecamatan
membuka kesempatan setiap orang untuk bisa saling kenal dan dapat saling
mengunjugi satu sama lain. Menghadiri upacara Naik Dango sekaligus
mengunjungi keluarga atau orang yang mereka kenal menambah sukacita dan
kemeriahan acara, dengan demikian diharapkan hubungan keluarga baik intern
maupun ekstern dapat dibina secara berkelanjutan. Satu sama lain dapat saling
membantu dan bergandengan tangan bersama-sama baik dalam suatu kegiatan