BAB III ANALISIS LATAR CERITA HIROSHIMA KARYA JOHN
3.3 Latar Cerita Hiroshima Pasca Peristiwa Pemboman
Cuplikan 1 (halaman 30-31) :
Di bukit itu, Tanimoto melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Pemandangan itu sungguh mengguncang batinnya. Perkiraannya ternyata salah. Melalui udara yang berkabut, ia melihat jelas bahwa seluruh wilayah Hiroshima mengepulkan debu yang tebal. Ternyata tidak hanya sebagian Koi saja yang dibom, tapi seluruh Hiroshima! Menara asap, baik yang dekat maupun jauh mulai bermunculan melewati gumpalan debu. Ia sangat terkejut melihat banyaknya kerusakan parah yang terjadi. Padahal langit sangat sunyi dan tidak memberi kesan kalau sebuah bom baru saja dijatuhkan. Begitu sunyinya hingga
jika ada sebuah pesawat saja, walaupun jauh di atas sana, ia pasti bisa mendengarnya.
Analisis:
Cuplikan di atas menunjukkan latar tempat pasca ledakan bom atom terjadi di Hiroshima. Hal ini merujuk pada penjelasan daerah atau lokasi dan seperti apa yang dilihat, didengar dan dirasakan tokoh setelah peristiwa tersebut terjadi. Pernyataan ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Sogang University bahwa latar tempat dapat ditentukan dengan unsur lokasi di mana kejadian tersebut berlangsung dan seperti apa yang dilihat, didengar dan dirasakan tokoh. Unsur-unsur ini mempengaruhi karakter secara mendalam, ‘Pemandangan itu sungguh mengguncang batinnya’.
Kembali John Hersey mendeskripsikan latar cerita Hiroshima dengan narasi yang baik dan detail. mulai dari suasana di langit hingga di daratan di kota Hiroshima. Dalam fungsi lain, latarmemberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk menciptakan suasana seolah-olah pembaca ada di lokasi peristiwa dan dapat merasakan suasana pada saat kejadian (verisimilitude).
Putri Hoshijima, guru lokal misionari, berlari ke arah Pastur Kleinsorge dan berkata kalau ibu dan adik perempuannya terkubur di bawah reruntuhan rumah mereka. Rumah itu berada di belakang kompleks misionari Jesuit. Gadis itu terlihat sangat panik dan kacau. Pada waktu yang bersamaan, para pastur melihat rumah guru taman kanak-kanak Katolik yang berada di depan kompleks telah runtuh menimpa penghuninya. Bersama Nyonya Murata, Pastur LaSalle menggali reruntuhan untuk mengeluarkan sang guru. Sementara itu, Pastur Kleinsorge pergi ke reruntuhan rumah Tuan Hoshijima dan mulai membongkar reruntuhan rumah itu. Ia sudah cukup lama menggali, tapi tidak terdengar suara apa pun. Ia pun yakin kalau para korban sudah tewas. Akhirnya, di bawah reruntuhan bekas dapur rumah, ia melihat kepala Nyonya Hoshijima. Pastur Kleinsorge menganggap Nyonya Hoshijima sudah tewas karena kepala itu hanya diam saja. Matanya pun tertutup. Ia lalu menarik rambutnya dengan keras untuk membuktikan perkiraannya. Tiba-tiba Nyonya Hoshijima berteriak, “Itai! Itai!” ‘Sakit! Sakit!’
Ternyata Nyonya Hoshijima masih hidup. Ia hanya lemas karena terjepit runtuhan rumah.
Analisis:
Pastur Kleinsorge segera menggali lebih dalam dan mengeluarkan Nyonya Hoshijima dari reruntuhan. Setelah itu, sang Pastur juga menemukan anak perempuan lainnya di antara reruntuhan. Ia pun cepat-cepat membebaskannya. Untung saja luka kedua korban tidak terlalu parah. Andai mereka ditemukan sedikit terlambat, pastilah mereka sudah mati.
Cuplikan di atas menunjukkan latar tempat pasca terjadinya ledakan bom atom. Hal ini merujuk pada lokasi-lokasi para tokoh yang menjadi korban pasca
rumah guru taman kanak-kanak Katolik, dan reruntuhan bekas dapur rumah. John Hersey juga menggambarkan apa yang dilihat, didengar dan dialog singkat apa yang yang dirasakan tokoh (Tiba-tiba Nyonya Hoshijima berteriak, “Itai! Itai!” ‘Sakit! Sakit!’ Ternyata Nyonya Hoshijima masih hidup).
Detail-detail seperti ini dibutuhkan dalam karya sastra dengan latar belakang sejarah dan ditulis dengan narasi. Hal ini mendukung informasi berupa fakta tanpa mencampurinya dengan fiksi.
Cuplikan 3 (halaman 85) :
Dokter Sasaki terbangun dan mulai bekerja lagi.
Analisis:
Pagi itu, untuk pertama kalinya ia teringat pada ibunya, teringat pada rumah mereka di pedesaan Mukaihara. Biasanya ia pulang ke rumah setiap malam. Ia takut ibunya menganggapnya sudah mati.
Cuplikan di atas menunjukkan latar tempat pasca ledakan bom atom. Hal ini merujuk pada nama lokasi yang jelas tertulis dalam cerita yakni, Pedesaan Mukaihara. Pernyataan ini sesuai dengan teori Sogang University bahwa latar tempat dapat ditentukan dengan daerah atau lokasi yang jelas. Latar tempat dalam cuplikan ini juga didukung pernyataan Lukens bahwa dalam sebuah karya sastra, latar dapat terjadi di mana saja termasuk di dalam benak tokoh, dalam hal ini daerah pedesaan Mukaihara muncul dalam ingatan Dokter Sasaki, salah satu dari enam tokoh utama John Hersey dalam Hiroshima.
3.3.2 Latar Waktu
Cuplikan 1 (halaman 77-78) :
...
Pemandangan sebuah kapal kecil yang bagus dengan seorang pemuda berseragam rapi dan janji bantuan medis membuat orang-orang di taman bersorak gembira.
Seorang perwira muda berdiri di atas kapal kecil dan berseru melalui sebuah pengeras suara. “Bersabarlah! Sebuah kapal rumah sakit akan datang untuk mengurus kalian!”
Untuk pertama kalinya, suara mereka terdengar bersemangat. Pantaslah. Pengumuman itu adalah kata-kata pertama tentang kemungkinan datangnya bantuan setelah 12 jam menyedihkan.
Cuplikan 2 (halaman 89) :
Pagi hari sekali, tanggal 7 Agustus, untuk pertama kalinya penyiar radio Jepang menyampaikan pengumuman yang singkat. Sangat sedikit orang yang dapat mendengarnya, mereka adalah penduduk Hiroshima yang selamat. Kata penyiar itu, “Hiroshima mengalami kerusakan cukup parah karena serangan beberapa pesawat B-29. Diperkirakan mereka menggunakan sebuah bom atom jenis baru. Perinciannya sedang diselidiki.
Analisis cuplikan 1 dan 2:
Para korban tentu saja tidak bisa mendengarkan siaran gelombang pendek yang mengulangi pengumuman luar biasa dari Presiden Amerika Serikat itu. Menurut Amerika, bom yang baru ini adalah sebuah bom atom. “Bom itu memiliki kekuatan lebih dari 20.000 ton TNT. Kekuatan ledakannya lebih besar 2000 kali daripada Bom Grand Slam milik Inggris yang merupakan bom terbesar
yang pernah digunakan dalam sejarah peperangan.”
Latar waktu pasca ledakan bom atom pada cuplikan 1 dan 2 dapat dengan mudah dikenali dengan adanya periode dan perjalanan waktu yang jelas dituliskan yakni, pukul, tanggal dan bulan. Pernyataan ini sesuai dengan teori Sogang University bahwa latar waktu diidentifikasi lewat periode, berapa lama waktu yang dibutuhkan sebuah tindakan terjadi dan perjalanan waktu yang dirasakan karakter. Keseluruhan memiliki peran penting untuk memahami karakter bagaimana sebuah latar waktu dalam cerita mempengaruhi karakter dan struktur cerita.
Meski memiliki analisis latar waktu yang sama, kedua cuplikan peristiwa sengaja dicantumkan karena merupakan dua periode cukup penting dalam peristiwa sejarah meledaknya bom atom di Hiroshima. Kata-kata pertama tentang kemungkinan datangnya bantuan, pengumuman pertama dari radio Jepang, dan pengumuman luar biasa dari Presiden Amerika Serikat menjadi sebuah harapan di tengah-tengah kondisi krusial pasca ledakan bom atom yang menelan ratusan ribu korban jiwa.
3.3.3 Latar Lingkungan Sosial Cuplikan 1 (halaman 110-111) :
...Saat menyadari ajalnya semakin dekat, ia minta untuk didamaikan oleh agama apa pun.
Pendeta Tanimoto datang membantunya. Tak ada gunanya menyimpan dendam pada orang yang membutuhkan pertolongan. Pendeta Tanimoto segera datang ke rumah Tuan Tanaka...
...Ia mengerang lemah, minta dibimbing menjelang akhir hidupnya.
Sambil berdiri di tangga lubang perlindungan untuk mendapatkan cahaya, Pendeta Tanimoto membaca sebuah Injil saku berbahasa Jepang dengan suara keras. “Selama ribuan tahun dalam pandangan-Mu, tetapi seakan kemarin ketika waktu berlalu dan seperti penunjuk waktu di malam hari. Engkau membawa anak- anak manusia pergi seakan bersama banjir; pada saat mereka tertidur; di pagi hari mereka seperti rumput yang tumbuh. Di pagi hari, rumput itu berkembang dan tumbuh, di sore hari dia ditebas dan layu. Karena kami musnah akibat kemarahan- Mu dan kami kesusahan akibat kemurkaan-Mu, kesalahan-kesalahan yang kami sembunyikan terlihat jelas di hadapan-Mu. Semua hari kami lalui dalam
kemurkaan-Mu: kami menghabiskan tahun-tahun kami bagai sebuah cerita yang diceritakan....”
Tuan Tanaka meninggal saat Pendeta Tanimoto tengah membaca ayat tersebut.
Analisis:
Cuplikan di atas menunjukkan latar lingkungan sosial pasca ledakan bom atom. Hal ini merujuk pada ritual yang dilakukan oleh Pendeta Tanimoto terhadap Tuan Tanaka atas permintaannya sendiri. Karena menyadari ajalnya semakin dekat, Tuan Tanaka meminta didamaikan oleh agama apapun. Dalam kasus ini ritual dilakukan secara Kristen oleh Pendeta Kiyoshi Tanimoto, seorang pendeta Gereja Metodis Hiroshima yang membacakan doa untuk Tuan Tanaka.
Identifikasi latar lingkungan sosial pada cuplikan ini sesuai dengan teori Sogang University yang menyatakan latar lingkungan sosial dapat ditentukan dengan mengenali sopan santun, adat istiadat, kebiasaan, ritual, dan kode etik masyarakat dalam cerita.
Ritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring adalah hal yang berkenaan dengan ritus atau tata cara di upacara keagamaan.
BAB IV