BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL, NILAI MORAL
2.1 Defenisi Novel
2.1.2 Unsur-Unsur dalam Novel
2.1.2.4 Latar ( Setting )
Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1998:126) latar (setting) mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan.
Dalam karya sastra, latar merupakan lingkungan tempat peristiwa terjadi. Latar bukan hanya menunjukkan tempat saja tetapi juga ada hal-hal lainnya seperti waktu, keadaan sekitar dan sebagainya. Latar dan unsur-unsur lain saling melengkapi agar bisa menampilkan cerita yang utuh.
Di dalam novel Furinkazan terdapat beberapa setting seperti latar tempat, latar waktu dan latar budaya.
20 a. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Biasanya dapat dihubungkan dengan waktu faktual atau waktu yang ada kaitannya dengan peristiwa sejarah.
Latar waktu pada novel Furinkazan berlangsung pada masa sengoku-azuchi momoyama. Zaman Sengoku (戦 国 時 代 sengoku jidai, zaman negara-negara berperang) (sekitar1493 – sekitar 1573) adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sekitar tahun 1493. Hal ini jelas terlihat pada kalimat berikut “Pada pertengahan Februari tahun Tenbun ke-12 utusan dari klan Takeda di Provinsi Kai mendatangi Yamamoto Kansuke di Sunpu untuk menawari pekerjaan.” (hal 21)
Tenbun juga dikenal sebagai Tembun atau Temmon merupakan nama era di Jepang sebelum Koji dan sesudan Kyoroku. Periode tahun Tenbun adalah Juli 1532-Oktober 1555. Dan periode Sengoku Jidai sekitar1493 – sekitar 1573. Itu artinya tahun Tenbun yang disebutkan di dalam novel merupakan salah satu era di dalam Sengoku Jidai.
b. Latar Tempat
Latar tempat menjelaskan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam karya sastra. Adapun latar tempat terjadinya peristiwa di dalam cerita adalah sebagai berikut :
21
1. Sunpu dan Provinsi Kai : “Pada pertengahan Februari tahun Tenbun ke-12, utusan dari Klan Takeda di Provinsi Kai mendatangi Yamamoto Kansuke di Sunpu.” (hal.21)
Provinsi Kai (甲斐国 kai no kuni) adalah nama provinsi lama Jepang, dilewati jalur Tokaido dan sekarang menjadi prefektur Yamanashi. Daerah bekas provinsi Kai juga dikenal dengan nama Kōshū (甲州).Terletak di bagian tengah pulau Honshu, sebelah barat Tokyo, wilayah terkurung daratan dan sebagian besar merupakan kawasan pegunungan, termasuk di antaranya Gunung Fuji di perbatasan dengan prefektur Shizuoka.
Provinsi Kai sudah ada sejak abad ke-7, dilewati percabangan jalur Tokaido yang menuju provinsi Suruga.Ibu kota provinsi Kai diperkirakan berada di tempat yang sekarang disebut Kasugai-chō atau di Ichinomiya-chō di kota Fuefuki. Kantor penguasa provinsi belum diketahui dengan jelas, tapi sejak akhir zaman Kamakura diperkirakan berada di Isawa yang masih berada di dalam kawasan kota Fuefuki. Kota Kōfu menjadi pusat pemerintahan sejak tahun 1519 sesudah Takeda Shingen membangun rumah kediaman megah bernama Tsutsujigasaki.
2. Kofu : “Sudah berapa kali kau ke Kofu?” tanya Itagaki. (hal. 27)
Kōfu (甲府市 Kōfu-shi) merupakan sebuah ibu kota Prefektur Yamanashi. Kota ini letaknya di bagian barat di negara itu. Pada tahun 2006, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 201.184 jiwa dengan memiliki luas wilayah 212,41 km².Kota ini terkenal dengan sebuah industri dan kebudayaannya. Hasil industri utama di kota ini ialah permata.
3. Provinsi Suwa : “Malam ini, Kansuke meninggalkan kota benteng Kofu bersama beberapa prajurit menuju Provinsi Suwa.” (hal 91).
22
Suwa adalah kota di Prefektur Nagano. Kota ini didirikan pada tanggal 10 Agustus 1941. Kota ini terletak di pinggir Danau Suwa. Wilayah Suwa adalah kawasan industri terkemuka di Nagano dan dulu dikenal sebagai “The Oriental Swiss” di Jepang.
4. Shinano : “Harunobu menghancurkan Benteng Shiga di wilayah Shinano kemudian memasuki dan tinggal di Benteng Komuro bersama 10.000 prajurit.” (hal. 117)
Provinsi Shinano (信濃国 shinano no kuni) adalah provinsi lama Jepang yang dilewati jalur Tokaido dan mempunyai batas-batas wilayah yang hampir sama Prefektur Nagano sekarang. Wilayah Shinano sampai sekarang dikenal sebagai Shinshū (信州). Provinsi Shinano dikelilingi provinsi Echigo, Etchu, Hida, Kozuke, Mikawa, Mino, Musashi, Suruga dan Tōtōmi.Ibu kota berada di dekat kota yang sekarang bernama Matsumoto . Di zaman Sengoku, wilayah Shinano dibagi-bagi menjadi wilayah han yang lebih kecil dengan istana penguasa yang berada di kota Komoro, Ina dan Ueda. Shinano merupakan pusat kekuasaanTakeda Shingen selama perang berulang-ulang dengan Uesugi Kenshin. Provinsi Shinano berganti nama menjadi Prefektur Shizuoka setelah pemberlakuan sistem prefektur pada tahun 1871.
c. Latar Budaya
Latar budaya yang mencakup dalam novel Furinkazan adalah ruang lingkup kehidupan masyarakat Bushi. Jadi jelas berhubungan dengan kehidupan dan etos bushi yaitu Bushido.
23
Bushido merupakan konsep pengabdian diri bushi pada zaman feodal Jepang. Bushido terdiri dari kata “bushi” (ksatria atau prajurit) dan “do” (jalan). Bushido atau “jalan ksatria” merupakan suatu sistem etika atau aturan moral keksatriaan yang berlaku dikalangan samurai khususnya di zaman feodal Jepang (abad 12-19).
Di dalam ajaran bushido terdapat nilai-nilai kejujuran, kesopanan, kesetiaan, kehormatan, kebajikan dan keteguhan hati. Pada awalnya konsep pengabdian diri bushi disebut dengan bushido yang ditandai dengan pengabdian diri yang mutlak dari anak buah terhadap tuannya. Makna bushido secara umum adalah sikap rela mati negara atau kerajaan dan kaisar. Bushi merupakan golongan masyarakat birokrat pada zaman Edo. Sejarah bushi sangat identik dengan sejarah feodalisme di Jepang, karena bushi itu sendiri lahir dari fungsinya sebagai pengawas di daerah pertanian yang pada mulanya mereka adalah petani, tetapi mereka dipersenjatai untuk menjalankan fungsi keamanan di wilayah tuannya.
Meski masa feodalisme di Jepang berakhir dan memasuki masa modern yang ditandai dengan adanya restorasi Meiji, nilai-nilai bushido ini tetap dianut sebagian besar orang Jepang karena sudah terinternalisasi dalam masyarakat secara kuat melalui proses selama ratusan tahun.
Di dalam novel Furinkazan juga mencakup latar budaya masyarakat Jepang berupa giri dan ninjō. Dalam kehidupan masyarakat Jepang, konsep giri dan ninjō menjadi nilai yang mempengaruhi tindakan mereka dalam berinteraksi satu sama lain. Nilai giri merupakan konsep nilai yang berlaku timbal balik yang