KESEHATAN SEKSUAL PEREMPUAN“Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Perempuan” 85
2. Mintalah peserta untuk berpendapat layanan layanan apa yang sebaiknya ada untuk Kesehatan Seksual dan Reproduksi.
3. Tulis kata kunci setiap orang yang berpendapat di atas flicpchart yang sudah disiapkan sehingga opini setiap orang merasa dihargai. Usahakan supaya setiap peserta mengemukakan pendapatnya dengan memancing dengan pertanyaan probing dan kontak mata yang inten. 4. Diskusikan dengan peserta semua bentuk bentuk layanan yang sudah
mereka ungkapkan dan tambahkan lagi bentuk bentuk layanan lain bila kurang.
5. Hentikan sementara diskusi dan bagilah peserta dalam 4 kelompok dengan mengajak bermain ”rujakan” atau Alternatif lain membagi kelompok adalah dengan memutarkan lagu berjudul ”Alamat Palsu” dari Ayu Ting Ting, kemudian setiap saat menyebutkan sebuah alamat dengan Nomor 2 sampai 5, sehingga peserta berebutan membentuk satu kelompok sesuai nomor sang disebutkan oleh fasilitator)
6. Masing masing kelompok diberikan tugas selama 30 menit, yang isinya: Tugas Kelompok:
Ø Menentukan bersama di dalam kelompok, jenis layanan minimal apa yang sebaiknya ada dalam lingkup layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi.
Ø Menyebutkan dengan membuat listing layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang ada di wilayahnya saat ini (jenis layanan dengan nama Lembaga pemberi layanan)
Ø Mengidentifikasi hambatan atau Kendala yang ada untuk mengakses Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi
Ø Membuat usaha usaha apa saja yang bisa dilakukan untuk mewujudkan layanan Kesehatan Seksual Reproduksi yang sangat dibutuhkan di daerahnya
AKTIVITAS 2: PRESENTASI HASIL KERJA KELOMPOK
7. Dampingi Pembicara Kelompok mempresentasikan kerja kelompoknya secara bergiliran dari kelompok pertama sampai terakhir.
8. Diskusi dilakukan dengan hasil kerja Kelompok sebagai bahan diskusi dengan peserta dengan fokus pada Topik (Layanan yang ada,
Bagaimana kondisinya saat ini, Bagiamana tantangannya saat ini, Bagaimana cara mencari alternatif/solusi sementara dan Bagaimana melakukan usaha usaha untuk membantu mencarikan layanan Kesehatan seksual pada Perempuan di wilayahnya)
9. Rangkum setiap kesepakatan tentang topik topik pada Layanan SRH yang didiskusikan di atas kertas flipchart.
10. Jika waktu sudah habis, tutuplah sesi dengan menyampaikan terima- kasih atas partisipasinya, dengan catatan peserta diminta menindaklan- juti apa yang sudah sepakati di dalam kelas untuk mencari cara membantu akses layanan di saerahnya masing masing dengan strategi yang sesuai dengan kondisi daerahnya masing masing. Hal ini perlu dilakukan supaya peserta bersama sama memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah maupun kualitas layanan di wilayahnya, supaya termotivasi pikiran kritis peserta dan tidak hanya menuntut hak untuk dilayani saja. Sehingga peserta menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan SRH yang ada dan yang belum ada.
CATATAN FASILITATOR
1. Dalam sesi 9 ini tidak menggunakan Slide Power Point
2. Fasilitator harus kreatif untuk meningkatkan dinamika kelompok dengan membuat games/permainan (seperti contoh lagu ”alamat palsu” di atas) dalam membagi kelompok, karena merupakan sesi terakhir, sehingga kontak untuk menciptakan dinamika kelompok perlu dilakukan dengan intensif.
Lembar Bacaan Modul 9:
A. Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi (KSR) yang ideal
Harus ada tempat layanan khusus untuk KSR yang memenuhi kebutuhan kebutuhan yang meliputi pemenuhan dari layanan informasi komprehensif, konseling, laboratorium, medis dengan sumber daya manusia yang sudah terlatih. Bentuk layanan KSR tersebut adalah:
b) Konseling (Pre dan Post Test) HIV, termasuk konselor terlatih sensitif gender dan isu-isu perempuan
c) Layanan Medis dan Laboratorium untuk KSR d) Layanan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
e) Layanan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan
f) Ketersediaan Obat dengan akses terjangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah (termasuk obat ISR, IMS, OI dan ARV)
g) Pemerataan ketersediaan Layanan KSR di seluruh Indonesia h) Layanan Aborsi Aman dan Sehat
i) Layanan Layanan terkait Disfungsi Seksual
j) Integrasi antara Layanan HIV (termasuk PPTCT), Kekerasan Terhadap Perempuan, Kesehatan Seksual dan Reproduksi
B. Hambatan atau Kendala pada Layanan SRH saat ini
Sebagai dampak dari masih rendahnya pengetahuan perempuan terhadak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, Tidak tersediannya informasi yang komprehensif tentang KSR, Kesadaran untuk mengakses layanan KSR, terbatasnya sumber daya manusia yang terlatih tentang KSR dan biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan layanan beberapa kendala yang masih ada saat ini terkait ketersediaan Akses Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi adalah:
a) Budaya Patriarki dan ketabuan membicarakan Seksualitas meskipun dari sudut pandang pendidikan dan kesehatan
b) Promosi Kesehatan tidak berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kesehatan akan Kesehatan Seksual dan Reproduksi c) Layanan KSR yang tersedia terpisah pisah dan tidak ada dalam satu
atap
d) Petugas Layanan yang ada belum sensitif dengan isu terkait perempuan dan KSR, beberapa kasus tentang larangan untuk tidak punya anak bagi ODHA perempuan dan sterilisasi tanpa persetujuan perempuan yang terinfeksi masih ada
e) Masih terjadinya stigma dan diskriminasi di beberapa tempat layanan sehingga perempuan terinfeksi diperlakukan berbeda oleh pemberi layanan
f) Keberanian membuka status HIV dan IMS lainnya sangat rendah diikuti dengan rendahnya kesadaran mencari layanan SRH di daerah terpencil di Indonesia.
g) Jarak dan luasnya wilayah geografis di Indonesia sehingga akses layanan terbatas dan terhambat. Di Papua di daerah daerah Pegunungan Jaya Wijaya harus membayar transportasi lebih dari 2 juta rupiah hanya untuk mendapatkan pengobatan IMS di distrik atau kota terdekat, keadaan ini tidak terjangkau oleh penduduk. Sehingga jika ada yang terinfeksi HIV atau IMS lainnya banyak yang tidak tertolong dan meninggal atau mendapatkan layanan karena tidak mampu.
C. Peran Perempuan terinfeksi untuk mengatasi kendala
Untuk mengatasi kendala di atas, perempuan secara umum ataupun perempuan terinfeksi HIV khususnya secara aktif menjadi bagian dari solusi dengan melakukan kegiatan kegiatan untuk:
a) Meningkatkan permintaan (demand) perempuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan perempuan terinfeksi atau perempuan umumnya untuk mendapatkan layanan SRH dengan berbagai kegiatan pemberian informasi dan edukasi SRH.
b) Membangun koordinasi dan jaringan (aliansi layanan) pada layanan KSR yang ada saat ini di daerah masing masing, meskipun masih terbatas kuantitas maupun kualitasnya.
c) Meningkatkan kapasitas layanan yang ada untuk memberikan layanan SRH di daerah
d) Mengidentifikasi data dengan penelitian maupun identifikasi kasus kasus terkait pembiaran dan pelanggaran terhadap hak seksual dan hak reproduksi di daerah masing masing
e) Avokasi untuk penyediaan layanan SRH di wilayah masing masing dengan menggunakan data yang tersedia.
f) Monitoring terhadap perkembangan layanan SRH setiap saat di daerah untuk mendorong terbentuknya layanan SRH yang komprehensif.
87
Daftar Pustaka
Rifka Annisa Media, Modul Training Analisis Gender
Ann E. Biddleco, Beth Frederick, and Susheela Singh, “Women, Gender and HIV-AIDS,” Countdown 2015 magazine, p.66; available online at www.populationaction.org/2015/magazine/sec6_HIVAIDS.php
Buku Pedoman, Modul dan Referensi. Pencegahan HIV melalui Transmisi Seksual. HCPI-KPAN, 2009.
Radhika Chandiramani. Good times for everyone. Sexuality questions, feminist answers. New Delhi : 2008
Report on the global AIDS epidemic. UNAIDS, 2008. P. 65 Sexual and Reproductive Health of Wom
Buku Kesehatan Seksual HCPI-KPAN. 2009
It's all one curriculum. Guidelines and activities for a unified approach to sexuality, gender, HIV and human rights education. The Population Council. 2009
McKinley Health Center. Healthy Sexuality. http://www.mckinley. illinois.edu
Yayasan Spiritia; http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1001#HIV WHO, 2006, Sexual and Reproductive Health of Women living with HIV Kementerian Kesehatan RI, 2011, Draft akhir – Pedoman Nasional
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak 2011
WHO, 2010, Report of A WHO technical Consultation Towards elimination of prevention mother-to-child transmission of HIV
WHO, 2010, Guidelines on HIV and Infant Feeding Principles and recommendations for infant feeding in the context of HIV and a summary of evidence
HCPI/KPAN, 2009 , Buku kesehatan seksual (Buku Ungu)
WHO, 2005, Integrating STI/RTI care for reproductive health: sexually transmitted and other reproductive tract infection – A guide to essential service
Mayo clinic, Female Sexual dysfunction, http://www.mayoclinic.com/ health/female-sexual-dysfunction/DS00701 retrieved 22 Dec 2011