7 LAYANAN IPTEK
7.4 Layanan Laboratorium Penginderaan Jauh Laut
Dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya, maka Balai Penelitian dan Observasi Laut memanfaatkan Instrumen tersebut untuk observasi kondisi perairan laut Indonesia. Penginderaan jauh saat ini berkembang dengan hasil yang luar biasa, dan merupakan salah satu cara untuk mendapatkan gambaran permukaan bumi secara keseluruhan termasuk gambaran permukaan laut. Pemanfaatan teknologi remote sensing atau penginderaan jauh juga dapat digunakan untuk mendukung kegiatan perikanan tangkap. Dengan menggunakan citra satelit dan mempelajari perilaku ikan yang dikaitkan dengan kondisi hidup ikan di perairan seperti konsentrasi klorofil-a, suhu permukaan laut, arah angin, gelombang, dan anomali tinggi muka air laut maka Balai Penelitian dan Observasi Laut mampu menghasilkan data pendugaan wilayah perairan Indonesia yang berpotensi terdapat ikan. Pembuatan data pendugaan daerah potensi penangkapan ikan atau yang sering disebut
137
dengan peta prakiraan daerah penangkapan ikan (PPDPI) ini telah dilakukan secara kontinyu sejak tahun 2002, dimana peta ini dapat membantu meningkatkan hasil tangkapan para nelayan dan membuat kegiatan penangkapan ikan lebih efektif dan efisien. Hingga saat ini, proses pembuatan PPDPI secara umum masih dilakukan secara manual melalui analisis dan interpretasi visual. Berdasarkan pada roadmap BPOL yang disusun tahun 2010, ditargetkan pada tahun awal tahun 2014 seluruh proses pembuatan PPDPI sudah dapat dilakukan secara otomatis sehingga proses produksinya dapat dilakukan secara cepat serta dapat memperkecil faktor kesalahan yang disebabkan oleh manusia (human error). Saat ini proses semi otomatis telah dilakukan dengan baik, sehingga faktor human error dapat dikurangi secara signifikan.
Metode Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan operasional PPDPI dilakukan swakelola menggunakan metode pelaksanaan sebagai berikut :
a. Inventarisasi
Melakukan inventarisasi data dengan menyimpan semua informasi yang ada ke dalam media yang mudah digunakan. Data bersumber dari data satelit, data klimatologi kelautan maupun data model (jika dibutuhkan)
b. Pengolahan data dan penyusunan otomatisasi PPDPI
Melakukan pengolahan dan analisis data inderaja untuk memprediksi daerah fishing ground dan pemantauan klimatologi kelautan. Data yang dihasilkan adalah data suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature), konsentrasi klorofil-a, serta data angin dan gelombang dari BMKG untuk dapat digunakan sebagai dasar pembuatan PPDPI secara manual dan juga formula untuk sistem otomatisasi
c. Disseminasi Informasi
Mengirimkan informasi hasil pengolahan data secara rutin kepada instansi-instansi pemerintah yang telah ditentukan dan disepakati sebelumnya. Selain itu juga dilakukan sosialisasi kepada pelabuhan perikanan, Dinas KP ataupun badan diklat atau lembaga/kelompok yang terkait bidang KP
Hasil pelaksanaan kegiatan Layanan Laboratorium 1) Inventarisasi Data.
Proses inventarisasi data dilakukan bersamaan ketika proses pembuatan peta PPDPI. Adapun data yang disimpan adalah data citra Aqua/Terra MODIS Level 2 (SST dan CHL-a) dan Level 3 (SST dan CHL-a) yang diunduh dari situs http://oceancolor.gsfc.nasa.gov.
Selain itu juga dilakukan proses pengunduhan data angin dan gelombang yang berasal dari situs FTP BMKG yaitu di ftp://peta-maritim.bmkg.go.id . BMKG telah menyediakan data angin dan gelombang kepada BPOL dan pada server yang sama, BPOL melakukan upload data daerah potensi ikan di server BMKG.
138
Pada beberapa kondisi dimana data BMKG tidak tersedia, salah satu pilihan data untuk angin dan gelombang adalah data reanalisis NCEP / National Center for Environmental Prediction.
Data Bulan Jumlah
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Aqua/terra MODIS 101 159 145 135 110 91 96 209 117 128 127 143 1.561
Wind Wave BMKG 42 14 26 29 13 18 22 13 20 23 10 3 233
Total 143 173 171 164 123 109 118 222 137 151 137 146 1.794
Jumlah seluruh data citra level 2 dan level 3 dari MODIS adalah 1.561 data. Sedangkan data wind wave BMKG yang berhasil di inventarisasi adalah sebanyak 233 data.
2). Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan
Penggunaan teknologi penginderaan jauh juga dapat digunakan untuk mendukung kegiatan perikanan tangkap. Dengan menggunakan citra satelit dan mempelajari perilaku ikan yang dikaitkan dengan kondisi hidup ikan di perairan seperti konsentrasi klorofil-a, suhu permukaan laut, arah angin, gelombang, dan anomali tinggi muka air laut maka BPOL mampu menghasilkan data pendugaan wilayah perairan Indonesia yang berpotensi terdapat ikan. Pada dasarnya PPDPI dibuat dengan tujuan memberi informasi lokasi koordinat area (lintang dan bujur) yang diperkirakan berpotensi terdapat ikan. Dengan adanya informasi tersebut maka nelayan akan dapat langsung menuju lokasi yang dimaksud pada peta dengan berbekal alat navigasi seperti GPS, Kompas, maupun fish finder. PPDPI yang dihasilkan selama tahun 2016 terdapat beberapa jenis yaitu:
5 wilayah PPDPI Nasional meliputi, Sumatera, Jawa Bali dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Papua 10 PPDPI Wilayah Pelabuhan Perikanan meliputi
139
PPS Belawan (Medan), PPS Bitung Ternate, PPS Cilacap, PPN Ambon, PPN Palabuhan Ratu, PPN Sungailiat, PPN Muncar Pengambengan, PPP Tamperan (Pacitan), PPN Kejawanan, dan PPN Pemangkat. 4 Wilayah Perairan Khusus meliputi Laut Sawu, Bali Utara, Bali Timur (Selat Lombok), dan Pulau Lombok.
Gambar 85. Flowchart Pengolahan Data PPDPI
Untuk mengurangi kesalahan pembuatan PPDPI di tahun 2015 telah dilakukan proses otomatisasi PPDPI sehingga faktor human error dapat terreduksi. Proses pembuatan otomatisasi PPDPI telah diinisiasi sejak tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Otomatisasi dijalankan menggunakan script python ArcGIS.
Tabel 71. Hasil pembuatan Peta PPDPI Tahun 2016
Output
Bulan Total
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des
PPDPI Nasional 12 12 11 13 9 13 10 13 12 13 13 11 142 PPS Belawan 2 3 4 1 0 0 0 0 0 0 0 0 10 PPS Bitung-Ternate 10 10 6 8 2 2 4 7 3 1 3 3 59 PPS Cilacap 3 1 2 1 0 1 0 0 0 0 0 0 8 PPN Ambon 11 4 5 6 5 5 3 5 1 1 4 0 50 PPN Pelabuhan Ratu 0 3 5 7 3 5 1 3 0 0 0 0 27 PPN Sungai Liat 3 4 8 3 4 5 3 0 2 4 3 1 40 PPP Muncar-Pengambengan 3 1 0 9 8 5 2 4 3 0 0 0 35 PPP Tamperan 0 0 3 2 0 1 0 0 3 0 0 0 9 PPN Kejawanan 2 1 4 7 4 10 5 4 0 1 0 0 38 PPN Pemangkat 9 4 13 9 5 6 2 1 4 4 5 4 66
140 Output
Bulan Total
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des
Laut Sawu 14 1 8 18 9 11 12 7 1 17 8 1 107
Bali Utara 5 2 2 7 8 3 2 7 2 6 2 0 46
Selat Lombok (Bali Timur)
4 1 4 16 9 7 4 7 1 5 1 0 59
Pulau Lombok 6 1 4 10 7 5 5 8 5 4 3 0 58
Jumlah Per Bulan 84 48 79 117 73 79 53 66 37 56 42 20 754
Gambar 86. Peta perkiraan daerah penangkapan Ikan Wilayah, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara
Pelikan Tuna
Ikan tuna mata besar sebagai salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi telah dipilih sebagai salah satu jenis ikan yang dikembangkan PPDPI-nya. Melalui sebuah kajian yang mendalam, sebuah sistem prakiraan untuk menentukan lokasi penangkapan ikan tuna mata besar semi otomatis dengan nama PELIKAN TUNA (Peta Lokasi Penangkapan Ikan Tuna Mata Besar) telah dibuat oleh BPOL untuk keperluan tersebut dengan memanfaatkan data dinamika laut.
141
Gambar 87. Peta Lokasi Penangkapan Pelikan Tuna Mata Besar
Kondisi fisika oseanografi 4 dimensi yang diperoleh dari HYCOM memungkinkan untuk dilakukannya analisis karakteristik habitat ikan tuna mata besar secara lebih proporsional. Kombinasi antara analisis data HYCOM, pemodelan statistika non linear, dan Sistem Informasi Geografis (SIG) memungkinkan PELIKAN TUNA versi terbaru untuk memperkirakan lokasi penangkapan ikan tuna mata besar secara spasial sampai dengan lima hari ke depan. Proses penentuan lokasi penangkapan ikan pada sistem PELIKAN TUNA versi terbaru ini sudah dilakukan secara semi otomatis, dimana dengan sistem ini waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan peta hanya 30 menit saja. Keunggulan dari PELIKAN TUNA adalah :
1. Proses Semi Otomatis
2. Prediksi hingga 5 hari kedepan 3. Peta tersedia secara online 4. Ketersediaan Fitur Arsip peta 5. Informasi spasial yang lebih baik
Sejak pertengahan tahun 2015 hingga saat ini, PELIKAN TUNA telah menggunakan data model fish population dynamics dari INDESO. Adapun dataset yang digunakan adalah INDESO Big Eye Real Time Model.
Tabel 72. Jumlah produksi Peta PELIKAN TUNA
Output Bulan Total
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des
142
Pelikan Cakalang
Ikan Cakalang, yang bernama latin Katsuwonus pelamis, merupakan salah satu komoditas unggulan yang menjadi fokus dalam program industrialisasi di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Berkaitan dengan hal tersebut, Balai Penelitian dan Observasi Laut berusaha untuk memberikan konstribusi dalam penyediaan informasi daerah penangkapan ikan Cakalang tersebut melalui Peta Lokasi Penangkapan Ikan (PELIKAN) Cakalang di Wiayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) dimana jenis ikan ini banyak ditemukan, yaitu WPP-NRI 715, 716, dan 717 yang mencakup Laut Sulawesi, Laut Maluku, dan Samudera Pasifik bagian barat. Indonesia bagian timur yang meliputi Laut Sulawesi, Laut Maluku dan Samudera Pasifik bagian barat. Wilayah perairan ini merupakan lumbung ikan cakalang dengan tingkat produksi yang menjanjikan dan dengan status pemanfaatannya yang relatif masih di bawah potensi sumberdaya yang tersedia.
Gambar 88. Flow Pelikan Cakalang
PELIKAN Cakalang mulai di produksi sejak akhir tahun 2014. Pada awal produksi, sumber data pembuatan PELIKAN Cakalang adalah berasal dari data model yang diproduksi oleh MyOcean. Namun sejak akhir smester 1 tahun 2015, sumber data untuk pembuatan PELIKAN Cakalang berasal dari model physical model INDESO dengan dataset name Phys_1dAv-RTJumlah produksi PELIKAN TUNA dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 73. Jumlah produksi Peta PELIKAN CAKALANG
Output Bulan Total
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des
143
Gambar 89. Peta Lokasi Penangkapan Ikan Cakalang
Pelikan Lemuru
Ikan Lemuru, yang bernama latin Sardinella lemuru, merupakan salah satu komoditas utama industri perikanan tangkap pelagis kecil di perairan Selat Bali. Dalam upaya mensukseskan program Industrialisasi di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Balai Penelitian dan Observasi Laut telah mengembangkan Peta Lokasi Penangkapan Ikan (PELIKAN) Lemuru. Dengan PELIKAN Lemuru, BPOL mampu memperkirakan daerah penangkapan ikan lemuru di perairan Selat Bali berdasarkan pendekatan rantai makanan berdasarkan data citra satelit Aqua MODIS. Dari hasil kajian yang telah dilakukan selama ini mengenai komposisi makanan lemuru pada siang dan malam hari didapatkan bahwa zooplankton adalah makanan utama ikan ini, dimana sekitar 90% komposisi makanannya berupa Copepoda. Menurut Eko Susilo (2014), kelimpahan zooplankton yang tinggi ditemui pada kisaran SST antara 25-260C, SSC antara 0,5-0,7 mg/m3 dan Photosynthetically Available Radiation (PAR) antara 40-45 einstein/m2/day.
144
Tabel 74. Jumlah produksi Peta PELIKAN LEMURU
Output Bulan Total
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sept Okt Nov Des
Pelikan Lemuru 21 19 19 18 14 21 20 19 18 19 27 21 236
Gambar 91. Peta lokasi pelikan Lemuru Diseminasi dan distribusi kegiatan Lab. Penginderaan Jauh
Selama tahun 2016 telah dilaksanakan sosialisasi PPDPI di beberapa daerah Institusi di Indonesia. Selain dilaksanakan secara mandiri oleh BPOL, juga dilaksanakan sosialisasi bersama dengan BMKG dan P3SDLP dalam rangka kegiatan Nelayan Pintar. Adapun sosialisasi yang telah dilakukan sebagai berikut.
.
Gambar 92. Sosialisasi PPDPI Kupang, dan Sosialisasi BMKG di staklim Negara
Distribusi dan disseminasi melalui website dapat diakses melalui situs BPOL yaitu di
www.bpol.litbang.kkp.go.id/peta-ppdpi . data yang tersedia di situs tersebut meliputi peta
145
PELIKAN Cakalang dan PELIKAN Lemuru. Data tersedia dalam bentuk JPEG (*.JPG) dan dapat diakses secara bebas oleh masyarakat.
Gambar 93. Tampilan jumlah pengunjung PPDPI di CMS website BPOL
Selain melakukan distribusi dan disseminasi melalui website, juga telah dilakukan distribusi dan disseminasi melalui FTP server BMKG. Sejak awal tahun 2015, BMKG telah secara rutin mengirimkan data angin dan gelombang di seluruh perairan Indonesia melalui FTP Server BMKG.
146