6 ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
6.5 Validasi Daerah Potensial Penangkapan Ikan
Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) telah secara rutin memberikan informasi tentang daerah potensial penangkpan ikan pelagis di seluruh wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Indonesia dalam bentuk Peta Prakiraan Daerah Penangkapan Ikan Nasional (PPDPI Nasional). Sebagai upaya peningkatan terutama terkait nilai validasi produk PPDPO. Penelitian ini bertujuan untuk mevalidasi produk PPDPI menggunakan metode experimental fishing dengan focus kajian pada WPP RI 714 (Perairan laut Banda dan Teluk Tolo). Tingkat akurasi PPDPI dilakukan dengan mengkaji perbandingan antara dara experimental fishing dan data hasil prediksi (PPDPI). Penentuan titik validasi dilakukan dengan menggunakan Rerata bulanan September produk PPDPI yang diterbitkan pada periode tahun 2012-2016 Produk PPDPI yang diterbitkan pada saat pelaksanaan survey tanggal 22-24 September 2017.
Penelitian validasi daerah potensial penangkapan ikan terus dilakukan. Ada tiga aspek penelitian dan pengembangan yang dilakukan yaitu (1) frekuensi penerbitan, (2) metode yang digunakan, serta (3) akurasi informasi. Berkaitan dengan metode prediksi, diharapkan PPDPI mampu memberikan informasi daerah penangkapan ikan untuk jenis ikan tertentu, khususnya yang bernilai ekonomis tinggi, misalnya: tuna, cakalang, maupun lemuru dengan tingkat keakurasian yang baik. Hal ini penting karena ikan hidup di habitat yang dinamis, sehingga keberadaan dan kelimpahan ikan pun mengikuti variasi lingkungan tempat ikan hidup. Informasi yang akurat akan sangat membantu nelayan dalam membuat rencana kegiatan operasional penangkapan dengan baik.
Sejalan dengan tuntutan untuk meningkatkan efisiensi dalam pembuatan PPDPI serta keakuratan daerah potensial penangkapan ikan, maka BPOL telah berhasil membangun sebuah sistem pemrosesan yang semiotomatis dalam pembuatan PPDPI. Dengan otomatisasi ini proses pembua tan PPDPI akan menjadi lebih cepat dan juga dapat meminimalkan human error. PELIKAN Tuna adalah salah satu produk yang sudah dilakukan secara semiotomatis dengan memanfaatkan hasil model HYCOM (HYbrid Coordinate Ocean Model) dan pemodelan statistika nonlinear serta menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem otomatisasi juga sudah diterapkan pada penyusunan PPDPI Nasional dan Pelabuhan. Penentuan lokasi potensi penangkapan ikan didasarkan pada keberadaan thermal fronts di perairan. Identifikasi thermal fronts menggunakan metode Single Image Edge Detection (SIED) dari data suhu permukaan laut (Aqua MODIS). Selain itu, saat ini masih dilakukan penelitian untuk pengembangan sistem otomatisasi PPDPI Ikan Cakalang dan Lemuru. Keduanya menggunakan pemodelan statistika nonlinear dan Sistem Informasi Geografis (SIG). PPDPI ikan cakalang memanfaatkan data pemodelan MyOcean dengan parameter suhu permukaan laut, salinitas, dan arus baik pada lapisan permukaan air maupun lapisan di bawahnya sampai kedalaman 50 meter. Sedangkan PPDPI ikan lemuru menggunakan pendekatan rantai makanan, yaitu berdasarkan kelimpahan zooplankton di perairan. Lemuru adalah plankton feeder dengan.
91
Lokasi Kegiatan Penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan di Balai Penelitian dan Observasi Laut dengan wilayah kajian validasi di WPP-RI 714 Laut Banda dan Teluk Tolo (Gambar II.1) yang dilaksanakan pada periode Januari - Oktober 2016. Pengambilan data lapangan dilakukan di 4 stasiun pada tanggal 19 s.d. 25 September 2016, parameter yang diamati adalah kelimpahan ikan, suhu (suhu permukaan dan suhu vertical kedalaman), salinitas, klorofil-a serta kondisi lingkungan perairan (pH, DO, nitrit, nitrat, fosfat, suspended sediment).
Gambar 43. Peta Lokasi Kegiatan Penelitian
Metode Pengumpulan Data
Data satelit yang digunakan adalah data Aqua/Terra MODIS level 3 komposit 3 harian dengan resolusi spasial 4 km yang diperoleh dari website ocean color (http://oceancolor.gsfc.nasa.gov). Data satelit tersebut menghasilkan informasi suhu permukaan laut dan sebaran klorofil-a yang akan digunakan sebagai dasar untuk penyusunan PPDPI. Data satelit yang digunakan merupakan data SPL dan klorofil-a rerata bulanan Januari – Desember 2016 yang sesuai dengan tanggal pembuatan PPDPI. Selain itu digunakan juga data satelit data SST dan klorofil-a engan tanggal pelaksanaan survei tanggal 20-24 September 2016.
Tabel 51. Data Satelit untuk kegiatan riset validasi.
No Parameter Sumber Waktu
1 2 3 4
Suhu Permukaan Laut Klorofil-a Front Suhu PPDPI Modis Aqua/Terra Level 3 Modis Aqua/Terra Level 3 Jan-Des 2016, 20-24 Sep 2016 Jan-Des 2016, 20-24 Sep 2016 Jan-Des 2016, 20-24 Sep 2016 Jan-Des 2016, 20-24 Sep 2016
92
Secara umum data lapangan terbagi menjadi dua, yaitu data lapangan yang diukurdengan menggunakan alat ukur portable sehingga hasilnya langsung diketahuisaat itu juga dan data lapangan yang memerlukan analisis lanjutan di laboratorium. Data lapangan yang diukur dengan menggunakan alat ukurportable dilakukan dengan cara mencelupkan alat ukur kedalam perairan hingga pada kedalaman yang diinginkan kemudian direkam sehingga diketahui informasikondisi perairannya. Sedangkan data lapangan yang memerlukan analisis lanjutan dilakukan dengan mengambil sampel air laut sampai pada volume tertentu, lalu sampel air laut inilah yang akan diuji di laboratorium untuk mengetahui parameter yang diinginkan. Pengukuran akan dilakukan pada 4 stasiun pengamatan.
Tabel 52. Posisi Koordinat Pengambilan Data.
Stasiun Koordinat Latitude Longitude 1 2 3 4 02, 57016 ⁰LU 02, 65237 ⁰LU 02,74917 ⁰LU 02,92087 ⁰LU 122.70107 ⁰BT 122.63751 ⁰BT 122.565985 ⁰BT 122.57716 ⁰BT
Alat ukur portable yang digunakan pada survei ini adalah multiparameter Water Quality Checker (WQC) yang terdiri dari 6 sensor, untuk mendeteksi pH, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen=DO), konduktivitas, turbiditas, temperatur, dan salinitas. Pengukuran dilakukan pada tiap stasiun dari permukaan hingga kedalaman 30 meter. Hasil pengukuran akan langsung tersimpan pada laptop yang sebelumnya telah terkoneksi dengan perangkat multiparameter WQC tersebut.
Tabel 53. Alat ukur parameter
No Parameter Alat Ukur
1 2 3 4 Suhu, Klorofil-a Salinitas
Nutrien (nitrat, nitrit, silikat, fosfat, ammonia)
CTD, WQC CTD, WQC CTD
Analisis laboratorium
Hasil kegiatan Penelitian
Analisis variabilitas suhu permukaan laut (SPL), klororil-a dan PPDPI selama satutahun (Januari–Desember 2016) sangat penting dilakukan untuk mengetahuifrekuensi kemunculan daerah penangkapan ikan dan daerah potensi ikan di WPP RI 714. SPL rendah terjadi pada 15 Juli sampai dengan 15 September 2016 (GambarIII.1), karena pada bulan tersebut terjadi angin muson timur yang membawa suhudingin dari arah timur perairan dengan kisaran SPL 22-23 ⁰C, sedangkan bulanbulan lain saat musim barat kisaran SPL relative lebih hangat 26 29 ⁰C.
93
Gambar 44. Suhu Permukaan laut Januari – Desember 2016
Kondisi oseanografi di daerah penelilitian terutama Suhu permukaan laut (SPL) di4 stasiun pengukuran berkisar 29,-29,5 oC, relatif konstan sampai dengankedalaman 10-16 m. Memasuki kedalaman 20-45 m suhu turun sampai dengan 28- 28,5 oC, kisaran ini tidak berbeda jauh dengan hasil pengukuran WQC (27,90 –28,57 oC (Tabel III.1) dengan rata-rata 28,17 oC). Pada kedalaman 75-100 m suhuturun drastis 24-22 oC. Suhu semakin turun dengan bertambahnya kedalaman. Kedalaman dibawah 110 meter suhu berkisar 19 - 21 oC. Konsentrasi klorofilpermukaan berkisar 0,04 – 0,08 mg/m3 dan relative konstan sampai dengankedalaman 25 m. Konsentrasi klorofil maksimum di kedalaman 45-50 m berkisar 0,66-0,88 mg/m3 dan konsentrasi klorofil akan bergerak turun mulai kedalaman 75meter dan kembali ke konsentrasi minimum di batas kedalaman pengukuran 100m. Sedangkan konsentrasi klorofil mengalami penurunan pada kedalaman tersebut yaitu <0,1 mg/m3.
Gambar 45. Kondisi Distribusi Vertikal Suhu dan Klorofil-a
Parameter oseanografi kimia uji kualitas perairan pada lokasi surveiberikut meliputi nitrat, nitrit, amonia, fosfat,silika merupakan zat – zat yang berperan penting sebagai zat hara dalam perairanyang merupakan salah satu indikator kesuburan perairan.
94
Tabel 54. Hasil Uji Kualitas Perairan pada Lokasi Survei ST.
Nitrat Nitrit Amonia Fosfat Silika TSS Klo-a
mg/L mmol N/m3 mg/L mmol N/m3 mg/L mmol N/m3 mg/L mmol P/m3 mg/L Mmol Si/m3 mg/L mg/m3 mg/m3 1 0.004 0.286 0.000 0.000 0.016 0.873 0.000 0.000 0.016 0.561 37.00 37,000 0.20 2 0.012 0.857 0.000 0.000 0.019 1.067 0.011 0.355 0.019 0.685 17.00 17,000 0.10 3 0.014 1.000 0.000 0.000 0.020 1.131 0.000 0.000 0.020 0.727 42.00 42,000 0.10 4 0.012 0.857 0.000 0.000 0.027 1.518 0.002 0.065 0.027 0.975 32.00 32,000 0.10
Gambar 46. Kondisi Oseanografi kimia (nitrat, nitri, ammonia, TSS, Fosfat, SIlika, Klorofil-a
Validasi PPDPI dilakukan dengan mengoverlay antara PPDPI yang dihasilkan pada bulan September 2016 (daerah penangkapan ikan/merah dan daerah potensi ikan/ hitam) dengan koordinat experimental fishing yang dilakukan pada tanggal 22-25 September 2016 seperti terlihat pada Gambar III.16. Koordinat experimental fishing berjumlah 4 titik koordinat (titik hijau stasiun 1-4) di sekitar Perairan Teluk Tolo, terlihat dari hasil overlay koordinat experimental fishing stasiun 1 bertampalan/bersinggungan dengan daerah penangkapan ikan dan koordinat stasiun 4 bertampalan/bersinggungan dengan daerah potensi ikan, sedangkan 2 koordinat lainnya yaitu Stasiun 2 dan Stasiun 3 hanya berdekatan saja dengan daerah potensi ikan. Bila dikaitkan dengan jumlah ikan yang tertangkap di Stasiun 1 dan Stasiun 4, stasiun 1 sebanyak 850 kg masing-masing 80 % skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) dan 20 % yellow fin tuna (Thunnus albacares), sedangkan untuk stasiun 4 sebanyak 900 kg masing-masing 60 %
95
skipjack tuna, 30 % yellow fin tuna dan 10 % tongkol (Euthynnus sp) dan lemadang/mahi-mahi (Coryphaena hippurus).
1. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Validasi PPDPI dengan metode experimental fishing pada periode musim timur dari 4 titik tangkapan diperoleh 1 titik yang bertampalan dengan daerah penangkapan, 2 titik bertampalan dengan daerah potensi penangkapan, dan 1 titik tidak bertampalan keduanya.
2. Nilai persen validasi PELIKAN Cakalang dengan metode experimental fishing pada periode musim timur sebesar 48,8 %.
3. Informasi oseanografi yang didapatkan di daerah penelitian pada saat muson tenggara adalah SPL 29 – 29,5 oC, konsentrasi klorofil maksimum pada kedalaman 45 – 50 m sebesar 0,66 -0,88 mg/m3, salinitas permukaan 33,72 – 33,86 psu dengan nilai salinitas maksimum di kedalaman 5 - 60 m berkisar 34,2 psu, konsentrasi nitrat 0,004 – 0,014 mg/L, fosfat 0,002 – 1,011 mg/L, silika 0,016 – 0,027 mg/L.
4. Validasi yang dilakukan saat ini mewakili waktu sesaat, yaitu muson timur dan perlu dilakukan validasi di muson baratlaut dengan memperbanyak jumlah titik experimental fishing untuk menghasilkan nilai akurasi yang lebih akurat.