BAB II KAJIAN TEOR
2.3 Layanan Storytelling di Perpustakaan
Kemajuan teknologi informasi zaman sekarang ini membuat fungsi layanan di perpustakaan semakin berkembang. Perpustakaan yang dulunya sebagai tempat penyimpanan buku sekarang sudah mulai digital. Perkembangan ini terlihat pada banyaknya variasi layanan yang dipromosikan perpustakaan. Seperti layanan storytelling yang sudah diubah tata cara penyampaiannya agar menjadi menarik bagi pendengarnya terutama anak-anak.
2.3.1 Storytelling
Storytelling atau dongeng merupakan dunia hayalan dan imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi (id.m.wikipedia.org/). Latif menjelaskan bahwa dongeng adalah bertutur dengan intonasi yang jelas, menceritakan sesuatu hal yang berkesan, menarik, memiliki nilai-nilai khusus dan tujuan khusus (Latif 2012, 14). Dalam kamus bahasa Indonesia, dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi. jadi, dongeng merupakan cerita hayalan yang diceritakan kepada generasi selanjutnya dengan menyajikan secara jelas dan memiliki nilai dan tujuan khusus.
Asfandiyar (200, 719) menyatakan bercerita merupakan suatu proses kreatif anak-anak. Jadi, dengan bercerita dapat memancing proses berfikir, emosi dan imajinasi anak-anak. Dari bercerita, anak-anak memperoleh banyak hal diluar dari pengalaman mereka. Anak-anak dikenalkan dengan berbagai macam pola dan tingkah laku manusia.
Kegiatan mendongeng tidak hanya sekedar hiburan saja, melainkan memiliki tujuan yang lebih luhur yakni mengenalkan alam lingkungan, budi pekerti dan mendorong anak berperilaku positif. Di samping itu, mendongeng merupakan cara termudah, tercepat untuk membina hubungan antara guru-murid, dan salah satu cara paling efektif untuk membentuk tingkah laku di kemudian hari. Dengan kata lain tujuan utama mendongeng adalah memperkaya pengalaman batin anak dan menstimulir reaksi sehat atasnya (Priyono 2001, 14). Selain itu, tujuan mendongeng menurut Priyono (2001, 15) untuk:
a. Merangsang dan menumbuhkan imajinasi dan daya fantasi anak secara wajar. b. Mengembangkan daya penalaran sikap kritis serta kreatif.
c. Mempunyai sikap kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa.
d. Dapat membedakan perbuatan yang baik dan perlu ditiru dengan yang buruk dan tidak perlu dicontoh.
e. Punya rasa hormat dan mendorong terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada anak-anak.
Selain memiliki tujuan, dongeng juga memiliki banyak manfaat bagi anak- anak. Beberapa manfaat dongeng untuk anak-anak (Latif 2012, 86-89) yaitu: a. Merangsang kekuatan berfikir
b. Sebagai media efektif
c. Mengasah kepekaan anak terhadap bunyi-bunyian d. Menumbuhkan minat baca
e. Menumbuhkan rasa empati f. Menambah kecerdasan
g. Menumbuhkan rasa humor yang sehat. 2.3.2 Jenis-jenis Storytelling
Dalam kegiatan storytelling ada berbagai jenis dongeng yang dapat dipilih oleh pustakawan/pendongeng untuk diceritakan. Menurut Asfandiyar (2007, 85- 87) ada 6 (enam) jenis-jenis dongeng:
a. Dongeng Tradisional
Berkaitan dengan cerita rakyat yang disampaikan secara turun temurun. Dongeng ini disajikan sebagai pengisi waktu istirahatpenuh humor dan menarik. Misalnya, Malinkundang, Asal Mula Danau Toba, Sangkuriang, dan lain-lain.
b. Dongeng Futuristik (Modern)
Dongeng yang disajikan secara modern dan biasanya bercerita tentang masa depan. Misalnya, Jumanji, Star Trek, dan lain-lain.
c. Dongeng Pendidikan
Dongeng yang disampaikan dengan misi pendidikan. Misalnya, menggugah sikap hormat kepada orang tua.
d. Fabel
Dongeng yang bercerita tentang kehidupan binatang yang bisa bicara seperti manusia. Misalnya, dongeng kancil, kelinci dan kura-kura, dan lain-lain. e. Dongeng Sejarah
Dongeng yang berkaitan dengan peristiwa sejarah. Misalnya, kisah para sahabat Rasulullah SAW, sejarah perjuangan Indonesia, dan lain-lain.
f. Dongeng Terapi
Dongeng yang diceritakan untuk anak-anak korban bencana atau anak-anak yang sakit. Dongeng ini bisa membuat rileks saraf otak dan membuat hati menjadi tenang.
2.3.3 Proses Storytelling
Storytelling atau mendongeng dilakukan dengan beberapa cara (Priyono 2001, 16-17) yaitu
a. Mendongeng tanpa alat peraga, seperti yang dilakukan ibu pada sore hari sambil bersantai atau sebelum anaknya tidur dan sambil mengusap/membelai rambut.
b. Mendongeng dengan menggunakan alat peraga, yaitu mendongeng yang dilakukan dengan menggunakan boneka, buku gambar, dan lain-lain yang dapat membuat cerita menjadi lebih menarik lagi.
Karena kegiatan storytelling ini sangat penting bagi anak, maka kegiatan tersebut dikemas sedemikian rupa agar menarik. Untuk itu dibutuhakan adanya tahapan-tahapan dalam storytelling, teknik yang digunakan dalam storytelling serta siapa saja pihak yang terlibat dalam kegiatan storytelling yang turut menentukan lancer tidaknya proses kegiatan ini.
a. Tahapan Storytelling
(Bunanta 2008, 24) menyebutkan tahap-tahapan dalam storytelling, yaitu: 1) Persiapan sebelum Storytelling
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memilih judul buku yang menarik dan mudah diingat. Studi linguistik membutikan bahwa judul mempunyai kontribusi terhadap memori cerita. Melalui judul, anak-anak maupun pembaca akan memanfaatkan latar belakang pengetahuan untuk isi cerita isi cerita secara top down. Storytelling yang pernah didongengkan waktu kecil yang masih diingat dapat dipilih untuk mulai mendongeng kepada anak-anak, seperti Bawang Merah Bawang Putih, Si Kancil, maupun cerita legenda tanah air yang pernah didengar.
Setelah memilih dan memahami cerita, selanjutnya yaitu mendalami karakter tokoh-tokoh dalam cerita yang akan disampaikan. Karena kekuatan sebuah cerita terletak pada bagaimana karakter tersebut dimunculkan. Semakin jelas pembawaan karakter tokoh, semakin mudah
cerita tersebut dipahami. Agar dapat menampilkan karakter tokoh, pendongeng terlebih dahulu harus dapat menghayati sifat-sifat tokoh dan memahami relevansi antara nama dan sifat-sifat yang dimilikinya.
Ketika memerankan tokoh-tokoh tersebut, pendongeng diharapkan mampu menghayati bagaimana perasaan, pikiran, dan emosi tokoh pada saat mendongeng. Dengan demikian ketika mendongengkannya tidak ragu- ragu lagi karena sudah mengenal ceritanya, sifat tokoh-tokohnya, tempat kejadiannya, serta pilihan kata yang digunakan dalam menyampaikan cerita dengan baik dan lancar.
Tahapan terakhir persiapan storytelling yaitu latihan. Bagi pendongeng profesional yang sudah terbiasa mendongeng mungkin tahap ini sudah tidak diperlukan lagi. Namun bagi pustakawan, guru maupun pendongeng pemula tahap latihan ini cukup penting. Dengan latihan terlebih dahulu kita dapat mengevaluasi kekurangan-kekurangan pada saat mendongeng, memikirkan durasi yang dibutuhkan, mengingat kembali jalan cerita dan mempraktikannya sehingga pada saat storytelling nanti dapat tampil prima. Latihan ini juga dapat menumbuhkan kepercayaan diri si pendongeng dan memperbaiki kualitas dalam storytelling.
2) Saat Storytelling Berlangsung
Saat terpenting dalam proses storytelling adalah pada saat kegiatan berlangsung. Saat akan memasuki sesi acara storytelling, pendongeng harus menunggu kondisi hingga anak-anak siap untuk menyimak dongeng yang akan disampaikan. Jangan memulai storytelling jika suasana masih
belum cukup tenang. Acara storytelling dapat dimulai dengan menyapa terlebih dahulu, ataupun membuat sesuatu yang dapat menarik perhatian. Awalan ini harus membuat anak tertarik karena awalan juga mementukan akhir dongeng yang akan diceritakan. Kemudian secara perlahan pendongeng dapat membawa anak-anak memasuki cerita dongeng. Pada saat mendongeng ada beberapa faktor yang dapat menunjang berlangsungnya proses storytelling agar menjadi menarik untuk disimak yaitu Kontak mata, Mimik wajah, Gerak tubuh, Suara, Kecepatan, Alat Peraga.
Tata cara yang perlu diperhatikan saat mendongeng (Priyono 2001, 19- 20) adalah sebagai berikut.
1) cerita dongeng harus diambil dari dunia anak sesuai dengan usia mereka.
2) mengandung unsur nilai-nilai pendidikan dan hiburan. 3) usahakan selalu tercipta suasana gembira saat mendongeng. 4) bahasa harus sederhana, sesuai dengan tingkat pengetahuan
anak.
5) dalam mendongeng harus menghayati benar isi cerita yang dibawakan meresapi seluruh bagian dari cerita yang didongengkan.
6) susunlah gambar-gambar peraga sesuai dengan urutan ceritanya dan jangan sampai membingungkan
7) hapalkan nyanyian yang akan dibawakan dengan irama tertentu untuk menambah suasana.
8) senantiasa mengamati perkembangan rekasi emos pada diri anak-anak, seraya tetap mempertahankan kesan menyenangkan.
9) Saat mendongeng usahakan mengucapkan kata-kata dengan jelas dan jangan menggumam.
10)Ajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak-anak secara tiba- tiba dan libatkan mereka dalam tokoh cerita yang didongengkan.
11)Usahakan selalu memelihara kerahasiaan jalan cerita sehingga perhatian anak-anak tetap terpusat pada tiap adegan
yang dimainkan dan sesekali beri kejutan untuk merangsang pengekspresian emosi mereka secara wajar.
12)Lama waktu mendongeng dapat disesuaikan dengan situasi yang berkembang dan kondisi kemampuan anak-anak dalam mendengarkan dongeng tersebut.
3) Sesudah Kegiatan Storytelling Selesai
setelah kegiatan mendongeng selesai maka pendongeng memberi anak waktu sejenak untuk beristirahat setelah mendengarkan cerita kemudian jelaskan apa maksud dan tujuan dari cerita yang sudah dsampaikan tadi agar anak-anak paham dan mengerti dengan maksud yang disampakan pendongeng.
b. Teknik dalam Storytelling
Berikut ini ada beberapa teknik yang menjadi pengetahuan dasar kita bercerita kepada anak-anak:
1) Banyak membaca dari buku-buku cerita atau dongeng yang benarbenar sesuai untuk anak-anak, serta banyak membaca dari pengalaman atau kejadian sehari-hari yang pantas diberikan kepada anak-anak. Banyak membaca akan memperkaya “bank” cerita kita, sehingga cerita yang kita bacakan lebih variatif dan tidak membuat anak bosan.
2) Biasakan untuk ngobrol dengan anak karena dengan mengobrol kita bisa mengetahui dan memahami gaya bahasa anak kita, istilah yang dia gunakan, serta sejauh mana pemahamannya akan sesuatu. Dengan menaggapai obrolannya, ceritanya, pembicaraannya, kita jadi lebih paham apa yang ia sukai dan ia tidak sukai, sehingga memudahkan kita bercerita
kepadanya. Kemauan mendengar merupakan realisasi dari cinta dan kasih sayang kita kepadanya.
3) Berikan penekanan pada dialog atau kalimat tertentu dalam cerita yang kita bacakan atau kita tuturkan, kemudian lihat reaksi anak. Ini untuk mengetahui apakah cerita kita menarik hatinya atau tidak, sehingga kita bisa melanjutkannya atau menggantinya dengan cerita yang lain.
4) Ekspresikan ungkapan emosi dalam cerita, seperti marah, sakit, terkejut, bahagia, gembira atau sedih agar anak mengenal dan memahami bentuk- bentuk emosi. Bila perlu sertakan benda-benda tambahan seperti boneka, bunga atau benda lain yang tidak membahayakan.
5) Berceritalah pada waktu yang tepat, yaitu di waktu anak kita bisa mendengarkan dengan baik, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam cerita bisa diserap dengan baik. Storytelling dapat dijadikan sebagai media membentuk kepribadian dan moralitas anak usia dini. Sebab, dari kegiatan mendongeng terdapat manfaat yang dapat dipetik oleh pendongeng beserta para pendengar (dalam hal ini adalah anak usia dini). Manfaat tersebut adalah, terjalinnya interaksi komunikasi harmonis antara pendongeng dengan anak, sehingga bisa menciptakan relasi yang akrab, terbuka, dan tanpa sekat.
c. Pihak yang Terkait Saat Storytelling 1) Pendongeng/Pencerita
Kriteria pendongeng yang baik:
b) Sang pendongeng harus menyukai dan menikmati cerita maupun proses penyampaiannya
c) Berkaitan dengan isi cerita dan cara bercerita d) Ikatan batin dengan anak-anak
e) Memperhatikan kebutuhan dan keinginan audiencenya f) Menjadikan diri sebagai bagian dari audience
2) Audience/Pendengar (Anak-anak)
Macam-macam gaya belajar menurut (Gardner 2008, 2), seorang anak belajar dengan menggunakan tiga cara, yaitu:
a) Audio
Anak yang memiliki gaya belajar audio, belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya.
b) Visual
Anak yang memiliki gaya belajar visual, belajar dengan menitikberatkan ketajaman penglihatan.
c) Kinestetik
Anak yang memiliki gaya belajar kinestetik mengharuskan anak tersebut menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya.
2.3.4 Storytelling dan Minat Baca Anak
Perpustakaan dapat menjadi alat untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca bila perpustakaan dapat berfungsi sebagai pusat minat baca (Bunanta 2008, 122). Namun pada kenyataannya masih banyak perpustakaan yang belum
mampu menjadi alat dalam peningkatan minat baca. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Bunanta menyatakan:
a. Perpustakaan belum dianggap sebagai sarana yang penting dalam menunjang pendidikan dan pengajaran.
b. Penempatan ruang baca untuk anak pada perpustakaan umum belum mendapat prioritas terbaik atau memadai.
c. Perpustakaan sekolah beralih fungsi menjadi ruang penyimpanan alat-alat olahraga.
d. Kurangnya petugas perpustakaan yang professional dalam bidang bacaan anak dan perpustakaan.
e. Kurangnya koleksi bacaan yang tersedia, baik dalam jenis bacaan maupun jumlahnya.
f. Hampir tidak ada program yang dapat memotivasi anak untuk gemar membaca.
Jadi, gambaran perpustakaan sebagai sebuah pusat minat baca yaitu perpustakaan yang nyaman dan tenang serta mencirikan suatu tempat yang ramah dan menyenangkan bagi anak-anak dan remaja. Aktif memiliki program bacaan sebagai cara untuk menarik minat anak agar berkunjung keperpustakaan dan memanfaatkan bahan bacaan yang disediakan perpustakaan.
Langkah-langkah yang dilakukan perpustakaan untuk menarik minat anak-anak (Bunanta 2008, 123-125) yaitu:
a. Menciptakan suasana membaca
1) Fisik: ruangan yang bersih dan nyaman, buku-buku tersusun rapi di rak dan terawatt dengan baik.
2) Mental: orang tua/guru tidak hanya mengajar membaca, tetapi juga memotivasi anak untuk menyukai perpustakaan
3) Sarana: anak-anak harus dikeliling dengan buku. Untuk itu, perpustakaan harus mempunyai banyak koleksi yang mudah didapat.
b. Menyelenggarakan berbagai program
1) Melalui acara yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan buku 2) Melalui program sastra, yaitu yang berkaitan dengan buku
c. Mengadakan kerjasama dengan masyarakat (Orang Tua, Sukarelawan, Penerbit, Organisasi Soasial, dll)
d. Membangun jaringan kerja (Networking) antar sekolah, antarperpustakaan, antarguru/antarpustakawan
e. Mempromosikan perpustakaan, misalnya melalui media cetak/brosur, buku telepon, dll.
f. Mencari dana
Untuk menjadikan anak memiliki budaya baca yang baik, maka perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Pembinaan minat baca anak merupakan modal dasar untuk memperbaiki kondisi minat baca masyarakat, salah satu cara dalam rangka menumbuhkan minat baca anak sejak dini adalah dengan memperkenalkan kegiatan storytelling. Dalam
storytelling terdapat pesan moral yang dalam dan komprehensif, sehingga cerita bisa dijadikan cara mendidik yang tanpa disadari anak.
Dari beberapa pendapat pakar di atas dapat disimpulkan bahwa storytelling atau dongeng adalah cerita hayalan yang diceritakan kepada generasi selanjutnya dengan menyajikan secara jelas dan memiliki nilai dan tujuan khusus. Dengan aspek-aspek sebagai berikut. a) Persiapan kegiatan storytelling; b) Saat kegiatan storytelling berlangsung; c) Setelah kegiatan storytelling berlangsung.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Arikunto (2003, 234) penelitian deskriptif adalah penelitian yang tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis, tetapi hanya untuk menggambarkan tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Dalam penelitian ini data yang akan diuraikan merupakan data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner sebagai instrument penelitian.