BAB IV HASIL PENELITIAN
4.4 Hasil Penelitian
4.4.2 Proses
4.4.2.3 Layanan Terintegrasi dan Terdesentralisasi Sesuai
4.4.2.3.1 Pelaksanaan Layanan Skrining TB
Hasil penelitian mengenai pelaksanaan layanan skrining TB di Puskesmas Bestari, dijelaskan oleh informan sebagai berikut :
“Jadi semua penderita HIV kita tes TB, semua penderita TB kita tes HIV. Itu kolaborasi. Itu ada, selalu kita lakukan. Berjalan dengan baik.
Itu pas abis konseling pasca tadi ya, langsung dilakukan skrining itu tadi.”(Informan 2)
Berdasarkan kutipan di atas dapat diperoleh informasi bahwa setiap penderita HIV dilakukan tes TB dan setiap penderita TB dilakukan tes HIV, hal tersebut dinamakan kolaborasi TB-HIV. Hal ini ditambahkan oleh informan lain sebagai berikut :
“Ada. Petugas TB kita secara langsung. Jadi kan apabila pasien TB langsung memeriksakan TBnya. Apabila positif dan juga positif HIV, HIV nya dulu yang diobatin kemudian TBnya. Tapi kalau dia positif TB saja, ya TB nya kita obati secara tuntas.” (Informan 4)
Berdasarkan kutipan informan di atas dapat diperoleh informasi bahwa apabila pasien TB diketahui positif HIV, maka HIV diberikan pengobatan terlebih dahulu lalu setelah itu diberikan pengobatan untuk TB nya.
Tentang alat skrining yang digunakan, dijelaskan oleh informan sebagai berikut :
“Skrining TB ada. Kita memakai alat skrining ya pake kuesioner yang sederhana untuk tanda dan gejalanya.” (Informan 7)
Berdasarkan kutipan di atas dapat diperoleh informasi bahwa alat skrining yang digunakan berupa kuesioner yang sederhana untuk mengetahui tanda dan gejala yang diderita pasien yang didiagnosa HIV atau positif TB.
Skrining TB perlu dilakukan secara rutin untuk setiap ODHA. Epidemi HIV menunjukkan pengaruhnya terhadap peningkatan jumlah penderita TB di tengah masyarakat. Sehingga ada program kolaborasi TB/HIV yang diluncurkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2007. Di Puskesmas Bestari dilaksanakan skrining TB/HIV semenjak program LKB mulai
dilaksanakan, yaitu pada tahun 2012 dengan menggunakan kuesioner sederhana untuk dapat mendiagnosa lebih lanjut.
4.4.2.3.2 Pelaksanaan Terapi ARV
Hasil penelitian mengenai pelaksanaan Terapi ARV di Puskesmas Bestari, dijelaskan oleh Kepala Puskesmas sebagai berikut :
“Terapi ARV kita belum ada” (Informan 2)
Berdasarkan kutipan di atas dapat diperoleh informasi bahwa layanan Terapi ARV tidak ada di Puskesmas Bestari. Kutipan tersebut di atas juga didukung oleh informan lain yang mengemukakan :
“ARV kita belum izin dilaksanakan. Tapi ada kerja sama dengan yang di padang bulan. Kita saling roker juga. mereka pun gitu, kalo ada kesulitan dia lempar ke kita juga. Tapi bukan ARV, mungkin yang lain.” (Informan 3)
Berdasarkan kutipan di atas, dapat diperoleh informasi bahwa ada kerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti Puskesmas Padang Bulan untuk layanan ARV yang tidak dimiliki Puskesmas Bestari. Dan sebaliknya, apabila Puskesmas Padang Bulan mengalami kesulitan dalam layanan yang berkaitan dengan program LKB, Puskesmas Bestari dapat membantu. Selain kerja sama dengan Puskesmas Padang Bulan, Puskesmas Bestari juga bekerja sama dengan berbagai rumah sakit dalam hal rujukan. Hal ini dijelaskan dalam kutipan informan :
“ARV itu didapat di pelayanan tingkat lanjut contohnya Puskesmas yang sudah membuka layanan HIV, kalau kita belum. Jadi kita biasanya merujuk ke RS, ke salah satu RS yang bekerja sama dengan kita contohnya Rumah Sakit Pirngadi, Rumah Sakit Bhayangkara, Rumah Sakit Haji dan Rumah Sakit Adam Malik. ”(Informan 4)
Berdasarkan kutipan di atas, dapat diperoleh informasi bahwa terapi ARV dapat dilakukan di pelayanan kesehatan yang bekerja sama dengan Puskesmas Bestari seperti Puskesmas padang bulan, selain itu merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder yaitu rumah sakit rujukan seperti Rumah Sakit Pirngadi, Rumah Sakit Bhayangkara, Rumah Sakit Haji dan Rumah Sakit Adam Malik.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terapi ARV tidak ada dalam Puskesmas Bestari sehingga dibuat rujukan ke Puskesmas Padang Bulan dan ke RS yang bekerja sama denga Puskesmas Bestari seperti RS Pirngadi, RS Bhayangkara, RS Haji, dan RS Adam Malik.
4.4.2.3.3 Pelaksanaan Konseling dan Tes HIV (KTH)
Hasil penelitian mengenai pelaksanaan Konseling dan Tes HIV di Puskesmas Bestari, dijelaskan oleh informan sebagai berikut :
“Konseling dan Tes HIV juga ada. Ada dua tipe pasien yang datang berobat kesini, satu dia datang sendiri satunya emang berobat disini ya. Yang datang sendiri tadi untuk memeriksakan HIV nah ini kita langsung tempatkan dia di KTS ya atau VCT untuk konseling sebelum tes namanya konseling pra tes oleh konselor ya bisa dari tim bisa saya atau biasanya dr.Indra yang emm menghandle. Nah kalau pasien setuju, ambil darah, tes darahnya, baru kasih hasilnya dilakukan lagi konseling pasca tes tergantung hasil nya tadi, positif apa ngga.” (Informan 3)
Berdasarkan kutipan di atas dapat diperoleh informasi bahwa apabila klien yang datang dengan atas kesadaran diri sendiri untuk melakukan tes HIV, maka akan langsung ditempatkan ke ruang VCT/KTS untuk dilakukan konseling yang dinamakan konseling pra tes yang dilakukan oleh konselor, dapat berupa dokter koordinator LKB atau Kepala Puskesmas langsung. Jika pasien setuju
maka lanjut ke tahapan berikutnya yaitu pengambilan darah dan dilakukan tes darah. Selanjutnya hasil diberikan apakah pasien positif atau negatif HIV dan dilakukan kembali konseling yang disebut konseling pasca tes. Konseling yang diberikan tergantung pada hasil yang diperoleh positif HIV atau negatif HIV. Hal ini juga diperjelas oleh informan lain sebagai berikut :
“Konseling dan tes HIV itu pasti ada lah. Itu salah satu program ya, namanya VCT. Kalo program VCT ini kan, Voluntery Counseling And Testing atau kalo sekarang KTS ya (Klinik Tes Sukarela) di indonesiakan. Itu VCT suatu kegiatan dimana seorang pasien atau klien atau pelanggan itu mendapatkan proses konseling pra tes dulu. Diberikan pemahaman apa itu penyakit HIV, bagaimana penanganannya, gejalanya dan tanda serta bagaimana mengetahui seseorang itu terinfeksi HIV, kalau dia sudah paham terus dilakukan tes, sesudah tes hasilnya itu pun sebelum diberitahukan dilakukan lagi konseling pasca tes untuk mempersiapkan secara psikis si pasien siap menerima hasilnya apakah itu positif ataupun negatif termasuk tindak lanjutnya kalau hasilnya positif atau negatif seperti apa.” (Informan 2)
Dari pernyataan informan di atas dapat diperoleh informasi bahwa konseling pra tes mencakup pemberian pemahaman tentang penyakit HIV, penanganannya, gejala dan tanda untuk mengetahui seseorang itu terinfeksi HIV. Setelah pasien paham dan dengan sukarela melaksanakan testing HIV, artinya pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Kemudian dilakukan konseling pasca tes untuk mempersiapkan psikis pasien atas hasil tes yang dilakukan untuk kemudian ditindaklanjuti.
Jenis pasien kedua yang datang untuk berobat ke Puskesmas Bestari dijelaskan oleh informan sebagai berikut :
“....Kalau yang memang berobat disini dan kita curiga kayanya ini ada risiko tinggi kena HIV, nah kita kasih informasi buat dites. Terutama untuk ibu hamil juga kita sarankan biar tes HIV”(Informan 3)
Berdasarkan kutipan di atas, pasien jenis kedua adalah pasien rawat jalan yang berobat di Puskesmas Bestari dan dicurigai oleh tenaga kesehatan terkena HIV dan dianjurkan untuk melakukan tes HIV setelah diberikan terlebih dahulu informasi tentang HIV. Hal ini juga dijelaskan oleh informan sebagai berikut :
“Untuk yang inisiatif petugas juga ada, artinya saat pasien berobat misalnya di layanan KIA atau KB itu ya termasuk ibu hamil, kita inisiatif buat tes HIV. Ada. Kasus yang ketika dia periksa ternyata HIV.Kemudian di layanan IMS juga ada, pasien IMS juga disarankan untuk tes HIV. Itu sudah dilakukan lah.” (Informan 2)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa Tes HIV yang dilakukan atas inisiatif petugas dilakukan pada layanan KIA dan KB dengan sasaran ibu hamil dan layanan IMS dengan sasaran pasien IMS. Namun, berdasarkan data Pasien IMS tahun 2015 sebanyak 983 pasien dan pasien yang disarankan melakukan tes HIV sebanyak 652 pasien. Untuk pihak Puskesmas Bestari sudah memberikan anjuran pada setiap pasien IMS, tetapi kendala yang ditemukan bahwa tidak semua pasien bersedia untuk melakukan tes dengan berbagai alasan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua jenis pasien yang datang ke Puskesmas Bestari yaitu pasien yang khusus datang sendiri untuk tes HIV dan pasien rawat jalan yang dicurigai tenaga kesehatan yang terkena HIV/AIDS. Pasien yang datang sendiri untuk melakukan tes HIV langsung ditempatkan ke ruang VCT/KTS untuk dilakukan konseling pra tes. Jika pasien setuju maka lanjut ke tahapan berikutnya yaitu pengambilan darah dan dilakukan tes darah. Selanjutnya hasil diberikan dan dilakukan konseling pasca
tes. Pasien rawat jalan yang dicurigai tenaga kesehatan yang terkena HIV/AIDS akan diberikan informasi terlebih dahulu sebelum dilakukan tes dan setelah pasien setuju maka dilakukan pengambilan dan tes darah dan dilakukan konseling pasca tes terhadap hasil yang diperoleh pasien.
4.4.2.4 Paket Layanan HIV Komprehensif yang Berkesinambungan 4.4.2.4.1 Isi Paket Layanan HIV Komprehensif
Hasil penelitian mengenai isi paket layanan HIV komprehensif, dijelaskan oleh pegawai bidang PMK Dinas Kesehatan Kota Medan selaku penanggung jawab program LKB sebagai berikut :
“Ada LASS layanan alat suntik steril, PDP,PTRM program terapi rumatan metadone, PPIA, KT HIV itu sama ya dengan VCT bisa melalui TIPK juga. TIPK itu Tes inisiatif Petugas Kesehatan , ada preventif kaya PMTS, perawatan, pengobatan juga. Tapi jenis layanan tadi ngga setiap Puskesmas punya. Kaya LASS tadi ngga semua Puskesmas yang menerapkan program LKB punya itu tadi. PPIA misalnya itu adanya di RS haji sama di RS Adam Malik. Jadi yang belum ada layanannya tadi bekerja sama, artinya ada integrasi untuk itu. Semacam rujukan, jadi ada kerja sama lah. Kalau sejauh ini berjalan dengan baik.” (Informan 1)
Berdasarkan kutipan di atas dapat diperoleh informasi bahwa Isi paket layanan HIV yang komprehensif terdiri dari Layanan Alat Suntik Steril (LASS), Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP), Program Terapi Rumatan Metadone (PTRM), Pencegahan Penularan Ibu Ke Anak (PPIA), Konseling dan Tes HIV melalui KTS (Konseling Tes Sukarela) dan Tes Inisiatif Petugas Kesehatan (TIPK) dan Penularan Melalui Transmisi Seksual (PMTS). Selain itu, tidak semua layanan yang tercakup dalam layanan HIV komprehensif terdapat pada Puskesmas yang menerapkan LKB. Menurut peryataan di atas, setiap pelayanan
kesehatan mempunyai pembagian masing-masing dalam hal jenis layanan HIV. Misalnya layanan PPIA hanya ada di Rumah Sakit Haji dan Rumah Sakit Adam Malik. Begitu juga dengan jenis layanan lainnya. Untuk Puskesmas Bestari, berikut kutipan dari informan :
“Paket layanan ya seperti itu tadi, ada skrining TB nya, konselingnya, tes HIV nya, layanan IMS, pengobatannya lah ya. Banyak ya sebenarnya jenis layanannya cuma kan di kitanya hanya itu ya. Pelaksanaannya baik. Cukup baik.” (Informan 3)
“Layanan konseling nya kaya VCT, layanan TB nya, tes HIV nya ada, layanan IMS ya Sudah berjalan dengan baik.” (Informan 7)
Dari kedua kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis layanan di Puskesmas Bestari terdapat layanan skrining TB-HIV, Konseling dan Tes HIV dan Layanan IMS. Untuk layanan lainnya, Puskesmas Bestari menjalin kerja sama dengan sesama Puskesmas yang terjaring dalam program LKB, dan rujukan ke rumah sakit agar pasien menjalankan ART (Terapi Antiretroviral).
4.4.2.5 Sistem Rujukan dan Jejaring Kerja