• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paket Layanan HIV Komprehensif yang Berkesinambungan. 106

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Masukan (Input)

5.2.4 Paket Layanan HIV Komprehensif yang Berkesinambungan. 106

Puskesmas Bestari memiliki jenis layanan berupa Konseling dan Tes HIV , skrining TB-HIV dan Layanan IMS. Berdasarkan pernyataan informan di Puskesmas Bestari pelaksanaannya sudah baik.

Menurut KEMENKES RI (2012), paket LKB ini diterapkan sesuai strata dari layanan dengan peran dan tanggung jawab yang jelas. Isi paket dapat diadaptasi sesuai keadaan, sumber daya, dan situasi epidemi HIV, dan juga dapat berkembang sesuai kebutuhan. Implementasi keseluruhan paket di fasyankes sekunder dan tersier (rumah sakit kabupaten dan RS provinsi ataupun RS sekelas lainnya), fasyankes primer (puskesmas, klinik dll) dan layanan komunitas dapat dikembangkan bertahap sesuai kondisi sumber daya (keuangan, tenaga), kapasitas dan prioritas kebutuhan.

Dengan demikian, paket LKB untuk setiap puskesmas yang menerapkan program LKB akan diterapkan sesuai dengan keadaan, sumber daya, situasi

epidemi HIV di puskesmas tersebut. Pembagian paket LKB ini dibagikan secara jelas sesuai kondisi sumber daya (keuangan, tenaga), kapasitas dan prioritas kebutuhan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan sebagai penanggung jawab program LKB di kota Medan. Ketetapan itu dirincikan secara jelas pada Profil Kesehatan Kota Medan Tahun 2015 yaitu sebagai berikut :

Tabel 5.1 Jenis Jumlah dan Tempat Layanan HIV-AIDS dan IMS di Kota Medan

No Jenis Layanan Jumlah Tempat Layanan

1 LASS (Layanan Alat Suntik Steril)

3 Puskesmas Teladan, Puskesmas Sunggal, Puskesmas Padang Bulan

2 PTRM (Program Terapi Rumatan Metadone)

2 RS.H.Adam Malik, Rutan Tj.Gusta

3 PPIA (Pencegahan Penularan Ibu ke Anak

2 RS Haji Medan RS H. Adam Malik 4 Konseling dan Tes

HIV melalui KTS (Konseling Testing Sukarela) dan TIPK (Tes Inisiatif

Petugas Kesehatan) 20

RS H.Adam Malik, RS Pirngadi, RS Bhayangkara, RS Kesdam, RS Haji, RS Imelda, Rutan Tj.Gusta, Klinik Veteran, Klinik Bestari, Puskesmas Teladan, Puskesmas Padang Bulan, Puskesmas Medan Deli, Puskesmas Helvetia, KKP Belawan, Puskesmas Glugur Darat, Puskesmas Pasar Merah, Puskesmas Sering, Puskesmas M.Area Selatan, Puskesmas Bromo, Puskesmas Belawan. 5 PDP (Perawatan

Dukungan dan Pengobatan)

10 RS H.Adam Malik, RS Pirngadi, RS Bhayangkara, RS Kesdam, RS Haji, RS Imelda, RS Bina Kasih, Puskesmas Teladan, Puskesmas Padang Bulan, Puskesmas Helvetia.

6 Pencegahan PMTS (Penularan Melalui Transmisi Seksual)

Outlet Kondom 140 Tersebar di kota Medan

Layanan IMS 12

Klinik Veteran, Klinik Bestari, Puskesmas Teladan, Puskesmas Padang Bulan, Puskesmas Medan Deli, Puskesmas Helvetia, KKP Belawan,Puskesmas

M.Area Selatan, Puskesmas Bromo 7 PABM (Pencegahan

Adiksi Berbasis Masyarakat)

2 PABM Kampus Tirai PABM Caritas PSE Sumber : Bidang PMK Dinas Kesehatan Kota Medan

Berdasarkan tabel di atas, jenis layanan HIV-AIDS dan IMS di Kota Medan meliputi LASS (Layanan Alat Suntik Steril), PTRM (Program Terapi Rumatan Metadone), PPIA (Pencegahan Penularan Ibu Ke Anak, Konseling dan Tes HIV melalui KTS (Konseling Tes Sukarela) dan TIPK (Tes Inisiatif Petugas Kesehatan), PDP (Perawatan Dukungan dan Pengobatan), Pencegahan PMTS (Penularan Melalui Transmisi Seksual), Outlet kondom, layanan IMS dan PABM (Pencegahan Adiksi Berbasis Masyarakat).

Menurut KEMENKES RI (2012), fasyankes yang memiliki layanan HIV paling komprehensif, yaitu layanan IMS, KT (KTS, KTIP), PDP (IO dan ART), TB-HIV, LASS, PTRM, PPIA, dan laboratorium (IMS dan HIV). Puskemas Bestari memang belum menjadi layanan HIV yang paling komprehensif karena hanya memiliki 3 jenis layanan terkait HIV/AIDS yang tercakup dalam Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan (LKB) yaitu Layanan IMS, Konseling dan Tes HIV, dan skrining TB-HIV. Pelaksanaan ketiga layanan tersebut menurut pernyataan informan sudah berjalan dengan baik.

5.2.5 Sistem Rujukan dan Jejaring Kerja

Sistem rujukan merupakan suatu sistem pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal dalam arti dari unit yang

berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam arti antar unit-unit yang setingkat kemampuannya (Azwar, 2010).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, menyatakan bahwa mekanismenya dimulai dari kader LKB membawa klien/pasien kemudian diperiksa oleh pihak puskesmas, apabila positif maka akan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut. Puskesmas Bestari biasanya melakukan rujukan agar pasien mendapatkan ART (Terapi Antiretroviral) dikarenakan Puskesmas Bestari tidak memiliki layanan ART. Jejaring kerja tempat merujuk antara lain RS Pirngadi, RS Bhayangkara, RS Haji, dan RS Adam Malik. Selain itu, rujukan juga dilakukan pada puskesmas yang memiliki layanan ART tercakup pada layanan PDP (Perawatan Dukungan dan Pengobatan) termasuk puskesmas Teladan, Puskesmas Padang Bulan dan Puskesmas Helvetia. Tetapi, Puskesmas Bestari lebih sering merujuk ke puskesmas Padang Bulan.

Menurut KEMENKES RI (2012), sistem rujukan dalam LKB mengikuti sistem rujukan yang ada, yaitu meliputi rujukan pasien, dan rujukan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.

Cara untuk merujuk pasien di Puskesmas Bestari adalah mengisi form rujukan untuk klien yang berisi format : tanggal rujukan dibuat, rujukan dibuat oleh, dirujuk kepada, alamat instansi yang dirujuk, nomor telepon, no faximile, kemudian terdapat catatan khusus yang diisi oleh petugas. Pasien akan membawa form rujukan tersebut ke puskesmas atau rumah sakit yang dituju.

Menurut KEMENKES RI (2012), formulir rujukan memuat informasi,antara lain: Alamat tujuan rujukan yang jelas, waktu rujukan harus

dilakukan, Nama orang yang harus ditemui, jenis layanan yang dibutuhkan, alasan dilakukannya rujukan, apa yang sudah dilakukan sebelumnya di layanan yang melakukan rujukan.

5.2.6 Akses Layanan Terjamin

Menurut KEMENKES RI (2012), untuk menjamin bahwa layanan dapat diakses oleh masyarakat dan kelompok populasi kunci serta sesuai dengan kebutuhannya maka diperlukan suatu lingkungan yang mendukung baik yang berupa kebijakan maupun peraturan perundangan. Model layanan komprehensif berkesinambungan harus meliputi intervensi terarah, guna memenuhi kebutuhan spesifik dari kelompok populasi kunci dan kelompok rentan lainnya. LKB menawarkan kesempatan luas untuk mengurangi stigma dan diskriminasi serta meningkatkan akses pada layanan – khususnya bagi kelompok kunci. Dalam mengakses layanan HIV & IMS yang dibutuhkan,kelompok populasi kunci (seperti PS, Penasun, LSL, WBP, dan sebagainya) dan kelompok rentan lainnya (anakanak, remaja dan masyarakat miskin) biasanya mendapat hambatan. Setiap kabupaten/kota harus membuat strategi yang memudahkan kelompok populasi kunci dan kelompok rentan lainnya dalam mengakses layanan yang mereka butuhkan. Untuk mengurangi hambatan dalam mengakses layanan bagi populasi kunci diperlukan strategi dalam pengembangan LKB salah satunya adalah sosialisasi kepada pemimpin/tokoh kunci setempat tentang kebutuhan populasi kunci dan bahaya dari pelecehan, pengucilan dan penangkapan populasi kunci.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kegiatan sosialisasi kepada pemimpin/tokoh kunci setempat, menyatakan bahwa sosialisasi

telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bestari yang menghasilkan kelompok kerja (pokja) HIV-AIDS kecamatan yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh masyarakat yang mempunyai 3 divisi yaitu : divisi advokasi, divisi layanan dan divisi sosialisasi. Tokoh-tokoh/pemimpin setempat masuk dalam tim tersebut. Advokasi dalam segi peraturan, layanan dalam melakukan testing dan konseling. Sosialisasi dalam penyebarluasan informasi dari program.

Sosialisasi yang telah dilakukan pada pemimpin/tokoh kunci setempat tetapi masih memiliki kendala dalam prakteknya. Dari tokoh masyarakatnya sendiri masih melekat stigma/diskriminasi pada ODHA. Tidak hanya dari tokoh masyarakatnya saja, bahkan tenaga kesehatan yang berada di Puskesmas Bestari sendiri masih tertanam stigma atau diskriminasi tersebut. Hal tersebut dijelaskan oleh dokter koordinator LKB yang sekaligus menjadi dokter gigi bahwa saat pasien HIV ingin periksa gigi, tenaga kesehatan yang tidak termasuk tim LKB yang berada dalam pelayanan gigi akan melayani pasien tersebut tanpa mengetahui pasien tersebut menderita HIV. Tapi saat diberitahu dokter koordinator tadi bahwa itu adalah pasien HIV, tenaga kesehatan panik dan justru mendiskriminasi pasien dengan tidak mau melayani pasien dan menyerahkan pada dokter koordinator tadi untuk memberikan pelayanan gigi. Sosialisasi yang dilakukan pada tokoh/pemimpin setempat menjadi kurang maksimal dalam prakteknya disebabkan oleh tenaga kesehatan pun masih memiliki pemikiran terkait stigma atau diskriminasi tersebut.

Menurut Waluyo, dkk (2011) sikap terhadap ODHA secara signifikan berbeda antara perawat yang memiliki pelatihan HIV dan yang tidak, perawat

dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, dan perawat yang merasa kompeten atau tidak kompeten untuk merawat ODHA. Masalah ini juga dijelaskan oleh KEMENKES RI (2012), bahwa stigma dan diskriminasi merupakan kendala besar bagi klien untuk mengakses LKB di Indonesia.

Dokumen terkait