• Tidak ada hasil yang ditemukan

Layanan Unggulan

Dalam dokumen RENCANA STRATEGI BISNIS (Halaman 10-0)

BAB II KONDISI RS MATA MAKASSAR

A. Profil

3. Layanan Unggulan

Sebagai rumah sakit khusu mata, RS Mata Makassar memiliki Layanan unggulan yaitu : a. Operasi Katarak Teknik Phacoemulsifikasi

b. Glaukoma c. Yag Lazer d. Retina B. Gambaran Kinerja

1. Kinerja RSB Periode 2015-2019

Pencapaian kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Bisnis Periode sebelumnya yaitu:

Tabel 1. Capaian Kinerja Rencana Strategis Bisnis Periode 2016 - 2020

Sasaran Strategis Key Performance Indicator Capaian

2016 2017 2018 2019 2020

Terwujudnya Efisiensi Pelayanan

1 % Utilisasi Peralatan Kesehatan 100 100 100 100 92 2 % POBO (Perbandingan Pendapatan

Operasional dengan Biaya

Operasional) 100 214 190 133 31,97

3 Pendapatan BLU 83,43 107,18 96,79 64,46 13.43

Terwujudnya Public

Private Partnership 4 Jumlah KSO NA NA 100 100 200

6

Sasaran Strategis Key Performance Indicator Capaian

2016 2017 2018 2019 2020 8 Angka Infeksi Endofthalmistis

pasca operasi katarak 100 100 100 100 100

9 Incidenci Katarak 49,5 57,9 60,8 54,3 68,17

10 Incidenci Glaucoma 25,8 30 24,6 35,7 50,27

11 Jumlah Operasi Katarak (Surgical

Katarak Rate) 89,75 85,1 83,9 84,3 68,76

12 Waktu Tunggu Operasi elektif NA NA 40 100 100 Terwujudnya rumah

sakit khusus mata

rujukan unggulan 13 % Peningkatan jenis pelayanan

unggulan NA NA 70,22 62,42 50

Terwujudnya Pusat wahana Pendidikan, Pelatihan dan penelitian kesehatan mata 17 Kepatuhan penggunaan Formularium Nasional 100 114 111 100 100

18 Emergency Response Time 100 100 100 100 100

19 Pengembalian Rekam medis dalam

waktu 1x24 jam 100 100 100 100 100

22 Persentase Penerapan Patient

Safety 100 100 500 100 100

Terwujudnya Budaya

Berkinerja 23 Indeks Budaya Berkinerja 100 100 400 125 100

Terwujudnya

manajemen SDM yang

ekselen 24 % Tersusunnya sistem manajemen

SDM 80 113 113 200 100

Terwujudnya sarana dan prasarana yang handal RSK Mata Kelas A Unggulan

25 Persentase Kelengkapan Sarana dan prasarana RSK Mata 100 100 100 100 100

Terwujudnya sistem ICT

yang terintegrasi 26 Persentase Road Map ICT

implementasi 100 107 106 100 100

Dari 26 indikator, hanya terdapat 5 indikator yang tidak mencapai target yang diharapkan, yang disebabkan karena adanya perubahan struktur organisasi yang berdampak pada operasional secara keseluruhan terutama pemutusan layanan pasien JKN.

7 2. Aspek Layanan

a. Kunjungan Layanan Periode Tahun 2016 – 2020

Grafik 1. Kunjungan Layanan Periode Tahun 2016 – 2020

b. Tindakan Operasi Periode Tahun 2016 – 2020

Grafik 2. Tindakan Operasi Periode Tahun 2016 – 2020

c. Persentase Surgical Rate Periode Tahun 2016 – 2020

8 Grafik 3. Persentase Surgical Rate Periode Tahun 2016 – 2020

3. Aspek Mutu

d. Waktu Tunggu Rawat Jalan

Grafik 4. Capaian Waktu Tunggu Rawat Jalan Tahun 2016 – 2020

b. Waktu Tunggu Pemeriksaan USG Mata

Grafik 5. Capaian Waktu Tunggu USG Mata Tahun 2016 – 2020

9 c. Insiden Katarak

Grafik 6. Insiden Katarak Tahun 2016 – 2019

d. Insiden Glaukoma

Grafik 7. Insiden Glaukoma Tahun 2016 – 2020

4. Aspek Keuangan

Tabel 4. Indikator Aspek Keuangan 2015 – 2020

NO INDIKATOR 2016 2017 2018 2019 2020

a Rasio Kas 425757,94 86913,85 1100,44 35839,86 1128,82 b Rasio Lancar 646152,89 137423,42 1410,48 68799,43 1346,17

c Periode Penagihan Piutang 58,81 54,50 38 54 2,04

D Perputaran Aset Tetap 80,06 62,61 59,04 44,62 2,61

e Imbalan atas Aset Tetap 41,9 44,35 4,63 3,25 -6

f Imbalan Ekuitas 30,73 36,23 4,21 2,83 -5,76

g Perputaran Persediaan 28,47 26,3 22 64 323,4

h Rasio Pendapatan PNBP

Terhadap Biaya Operasional 93,7 83,99 112 106,75 31,47

i Rasio Subsidi Biaya Pasien 0 0 0 0 0

10 5. Aspek SDM

Grafik 8. Proporsi SDM Menurut Ketenagaan Tahun 2019

6. Aspek Sarana dan Prasarana 1) Tanah, Gedung dan Jaringan

Tabel 5. Kondisi Tanah, Gedung dan Jaringan

2) Alat Kesehatan Canggih

Tabel 6. Kondisi Alkes Canggih dan Tahun Perolehan

11 C. Tantangan Strategis

1) Gelombang Emerging Diseases

2) Tingginya tuntutan standar pelayanan yang berkualitas 3) Keselamatan Pasien belum menjadi budaya

4) Pemenuhan hak dan kesejahteraan karyawan 5) Keamanan Pelayanan di masa pandemi

6) Perkembangan alat Kesehatan yang sangat cepat 7) Daya saing SDM berdasarkan kompetensi

8) Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi 9) Kemampuan tata kelola organisasi secara profesional

10) Modernisasi sarana prasarana sesuai perkembangan ilmu dan teknologi D. Analisis SWOT

Untuk mengantisipasi berbagai pengaruh pada kondisi lingkungan strategis yang berubah dengan cepat maka terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap berbagai potensi yang ada melalui Analisis SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat). Analisis SWOT dilakukan melalui identifikasi terhadap faktor-faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan, serta identifikasi faktor-faktor ekternal berupa peluang dan ancaman. Selanjutnya dipetakan untuk menentukan kekuatan aktual organisasi yang akan dijadikan dasar pertimbangan untuk menyusun suatu rencana strategis yang baik melalui upaya memaksimalkan kekuatan-kekuatan (Strengths) dan

12 peluang (Opportunity) yang merupakan pendorong bagi tercapainya tujuan organisasi, serta dengan meminimalkan kelemahan-kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats) yang dapat merintangi tercapainya tujuan.

1. Analisis Internal

Tabel 8. Hasil Analisis Internal (Kekuatan)

No Kekuatan Bobot Rating Skor

1 Status Badan Layanan Umum 0,14 70 9,80

2 Perubahan Status Organisasi 0,15 80 12,00

3 Lokasi yang Strategis 0,14 60 8,40

4 Memiliki SDM yang Berkualitas 0,14 70 9,80

5 Memiliki alat kesehatan canggih 0,13 60 7,80

6 Brand image sudah dikenal masyarakat 0,15 70 10,50 7 Komitmen bersama yang kuat untuk

kemajuan organisasi 0,15 80 12,00

1,00 70,30

Tabel 9. Hasil Analisis Internal (Kelemahan)

No Kelemahan Bobot Rating Skor

1 Keterbatasan SDM dari jenis dan jumlah 0,15 80 12,00 2 Layanan sub-spesialistik masih perlu

dikembangkan 0,14 70 9,80

3 Luas lahan masih terbatas 0,13 70 9,10

4 Sistem Informasi masih parsial 0,15 80 12,00

5 Sarana dan prasarana masih terbatas 0,13 70 9,10 6 Belum optimalnya tata kelola organisasi 0,15 70 10,50 7 Belum optimalnya budaya kinerja dan

peningkatan berkelanjutan 0,15 80 12,00

1,00 74,50

2. Analisis Eksternal

Tabel 10. Hasil Analisis Eksternal (Peluang)

No Peluang Bobot Rating Nilai

1 Penetapan The Right to Sight Vision 2020 sebagai

inisiatif global oleh WHO 0,16 70 11,20

2 Semakin tingginya daya beli masyarakat terhadap

pelayanan kesehatan 0,18 80 14,40

3 Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan

pelayanan kesehatan mata 0,16 70 11,20

4 Tingginya angka kebutaan dan gangguan penglihatan

di Indonesia 0,17 80 13,60

13

No Peluang Bobot Rating Nilai

5 Revolusi Industri 4.0 0,18 80 14,40

6 Peluang bekerja sama dengan pihak lain sangat besar 0,15 70 10,50

1,00 75,30

.Tabel 11. Hasil Analisis Eksternal (Ancaman)

No Ancaman Bobot Rating Nilai

1 Jaminan mutu layanan kesehatan di era pandemi 0,20 80 16,00 2 Semakin tingginya tuntutan hukum dan aspek legal pasca

pemberian layanan medis 0,17 70 11,90

3 Regulasi JKN yang sering berubah 0,16 70 11,20

4 Ketidakpastian dukungan regulasi untuk penanggulangan

gangguan penglihatan & kebutaan 0,17 60 10,20

5 Tingginya Tingkat Persaingan dengan rumah sakit mata

swasta 0,15 70 10,50

6 Adanya sistem rujukan berjenjang 0,15 80 12,00

1,00 71,80

E. Diagram Kartesius dan Pilihan Prioritas Strategis

Untuk memberikan kejelasan tentang gambaran posisi daya saing RS Mata Makassa dalam memenuhi visi RS Mata Makassarpada kurun waktu periode Rencana Strategis Bisnis RS Mata MakassarTahun 2020 - 2024, maka digunakan analisis diagram kartesius 4 (empat) kuadran. Diagram kartesius dinyatakan dalam sumbu X dan sumbu Y. Sumbu X menggambarkan resultante dari total nilai kekuatan dan total nilai kelemahan. Sumbu Y menggambarkan resultante dari total nilai peluang dan ancaman.

Dari Hasil Analisis SWOT diperoleh nilai: X = -4,20 Y = 3,50, sehingga posisi RS Mata Makassar dapat dilihat seperti pada tabel diagram kartesius berikut:

Grafik 17. Diagram Kartesius

14 Jika melihat pada Diagram Kartesius di atas, maka posisi RS Mata Makassar jatuh pada posisi KUADRAN II. Oleh karena itu maka untuk memfokuskan arah pengembangannya di masa mendatang untuk menjaga kestabilan organisasi atau penguatan mutu kelembagaan (stability). Artinya, melakukan prioritas strategis untuk melakukan investasi penyempurnaan dan penataan kemampuan organisasi, kemampuan sistem manajemen dan proses bisnis, serta kemampuan personilnya dan sambil memantapkan tingkat penguasaan layanannya.

F. Analisa TOWS

Dari Hasil Analisis SWOT dan Pilihan Prioritas Strategis maka dirumuskan Analisa TOWS sebagaimana tertuang dalam Matriks berikut:

Tabel 14. Matriks TOWS

Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness) 1. Status Badan Layanan

Umum

2. RS Mata Vertikal di Indonesia Timur

3. Lokasi yang

Strategis

4. Memiliki SDM yang Berkualitas

5. Memiliki alat kesehatan canggih

6. Brand image sudah dikenal masyarakat 7. Komitmen bersama

yang kuat untuk kemajuan organisasi

1. Keterbatasan SDM dari jenis dan jumlah 2. Layanan

sub-spesialistik masih perlu dikembangkan

3. Luas lahan masih terbatas

4. Sistem Informasi masih parsial

5. Sarana dan prasarana masih terbatas

6. Belum optimalnya tata kelola organisasi

7. Belum optimalnya budaya kinerja dan peningkatan berkelanjutan Peluang (Opportunity) Strength - Opportunity Weakness - Opportunity 1. Penetapan The Right to Sight

Vision 2020 sebagai inisiatif global 1. Mewujudkan Pelayanan

yang berkualitas dan 1. Mewujudkan Pemenuhan dan

15 oleh WHO

2. Semakin tingginya daya beli masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

3. Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan mata

4. Tingginya angka kebutaan dan gangguan penglihatan di Indonesia 5. Revolusi Industri 4.0

6. Peluang bekerja sama dengan pihak lain sangat besar

berkelanjutan yang

terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian (S2, S4, S5, S6, O1, O2, O3)

2. Mewujudkan layanan promotif dan preventif yang komprehensif (S2, S4, O3, O4, O6) 2. Mewujudkan Sistem

Informasi RS yang terintegrasi dan mandiri (O5, W4)

3. Mewujudkan Keandalan Sarana dan Prasarana (O2, O3, W2, W5)

Kekuatan Kelemahan

1. Status Badan Layanan Umum 2. RS Mata Vertikal di Indonesia

Timur

3. Lokasi yang Strategis 4. Memiliki SDM yang

Berkualitas

5. Memiliki alat kesehatan canggih

6. Brand image sudah dikenal masyarakat

7. Komitmen bersama yang kuat untuk kemajuan organisasi

1. Keterbatasan SDM dari jenis dan jumlah

2. Layanan sub-spesialistik masih perlu dikembangkan 3. Luas lahan masih terbatas 4. Sistem Informasi masih

parsial

5. Sarana dan prasarana masih terbatas

6. Belum optimalnya tata kelola organisasi

7. Belum optimalnya budaya kinerja dan peningkatan berkelanjutan

Ancaman Strength - Threath Weakness - Threath

1. Jaminan mutu layanan kesehatan di era pandemi 2. Semakin tingginya

tuntutan hukum dan aspek legal pasca pemberian layanan medis

3. Regulasi JKN yang sering berubah

4. Ketidakpastian dukungan regulasi untuk penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan 5. Tingginya Tingkat

Persaingan dengan rumah sakit mata swasta

6. Adanya sistem rujukan berjenjang

1. Mewujudkan kepuasan

stakeholder (S1, S2, S4, S7, W1, W2, W5)

2. Mewujudkan Tata Kelola Klinis yang Baik (S2, S4, S7, W1, W2, W3, W6)

3. Mewujudkan Pengelolaan Keuangan yang Sehat dan Akuntabel (S1, S2, S6, S7, W2, W3, W6)

1. Mewujudkan Budaya Kinerja yang Mengutamakan Pasien (W6, T1, T2, T5)

2. Mewujudkan Sistem Tata Kelola Organisasi yang Efektif dan Efisien (W6, T1, T3, T6)

G. Hasil Mitigasi Risiko

Tabel 16. Hasil Mitigasi Risiko

NO SASARAN

STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI

RISIKO PIC

1 Terwujudnya Pemenuhan dan Peningkatan Kompetensi SDM

Tidak terpenuhinya usulan formasi

pegawai Sangat

Besar Mayor Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan

SDM Berkelanjutan Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian Analisa kebutuhan pegawai yang

kurang tepat Besar Medium Tinggi Kuning

Belum terpenuhinya Kompetensi

SDM sesuai kebutuhan organisasi Besar Mayor Ekstrim Merah Penyusunan Standar

Kompetensi SDM Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian Kurangnya kegiatan diklat

peningkatan kompetensi Sedang Medium Tinggi Kuning

Penempatan SDM tidak sesuai

kompetensi Besar Mayor Ekstrim Merah

Penilaian kinerja oleh atasan

langsung belum objektif Besar Mayor Ekstrim Merah Penyusunan Pedoman

Penilaian Kinerja Individu dan Unit

Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian Belum ada pola penjenjangan karir Besar Mayor Ekstrim Merah

Kurangnya motivasi kerja SDM Besar Malapetaka Ekstrim Merah 2 Terwujudnya

Sistem Informasi RS yang

terintegrasi dan mandiri

Keterbatasan Sarana prasarana IT Sangat

Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan sarana prasarana IT Berkelanjutan

Koord. Organisasi dan Umum

Tidak terlaksananya program kerja

SIRS secara baik Besar Mayor Ekstrim Merah

Terbatasnya kapasitas/skill tenaga IT Besar Mayor Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan

SDM Berkelanjutan Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian

NO SASARAN

STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI

RISIKO PIC

3 Terwujudnya Keandalan Sarana dan Prasarana

Program pemeliharaan tidak

berjalan dengan baik Sangat

Besar Malapetaka Ekstrim Merah Optimalisasi Program

Pemeliharan Alkes Koordinator Pelayanan Penunjang

Belum tersedianya Analisa

kelayakan pengadaan alat medik Besar Mayor Ekstrim Merah

Sensitifitas alkes mata yang tinggi Besar Mayor Ekstrim Merah Kalibrasi alkes tepat

waktu Koord. SDM,

Rendahnya komitmen SDM Besar Mayor Ekstrim Merah Penerapan Reward dan

Konsekuensi Kurangnya Internalisasi budaya

korporat Besar Malapetaka Ekstrim Merah Internalisasi Budaya

Korporat Berkelanjutan Rendahnya komitmen SDM Sangat

Besar Malapetaka Ekstrim Merah Penerapan Reward dan Konsekuensi

Kurangnya sosialisasi budaya

keselamatan pasien Besar Mayor Ekstrim Merah Internalisasi Budaya

Keselamatan Pasien Koordinator Pelayanan Medik dan

Keperawatan 5 Terwujudnya

Sistem Tata Kelola Organisasi yang Efektif dan Efisien

Sosialisasi program yang kurang Sedang Medium Tinggi Kuning Optimalisasi Penerapan

SPIP Koord. Organisasi dan

Umum Rendahnya kepatuhan penerapan

SPIP Besar Mayor Ekstrim Merah

Kurangnya monitoring dan evaluasi

penerapan SPIP Besar Mayor Ekstrim Merah

Kelebihan beban kerja Sedang Medium Tinggi Kuning Revisi Analisa Beban Kerja

Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Tidak maksimalnya implementasi

SOP Besar Mayor Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi

Pelayanan Berkala Koord.Pelayanan Medik dan Keperawatan Monev terhadap indikator waktu

tunggu layanan masih rendah Besar Mayor Ekstrim Merah

NO SASARAN

STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI

RISIKO PIC

Rendahnya komitmen SDM untuk

meningkatkan kinerja Besar Mayor Ekstrim Merah Penyusunan Pedoman

Penilaian Kinerja Individu dan Unit

Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Belum ada regulasi terkait unit

pelayanan yang berkinerja baik Besar Mayor Ekstrim Merah Penilaian Kinerja belum

mempertimbangkan indikator kualitas

Besar Mayor Ekstrim Merah

6 Terwujudnya Tata Kelola Klinis yang Baik

Rendahnya kepatuhan terhadap

Penerapan Clinical Pathway Besar Mayor Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi

CP Koord.Pelayanan

Medik dan Keperawatan Monitoring dan Evaluasi Clinical

Pathway belum berjalan Besar Malapetaka Ekstrim Merah

Overload pelayanan Sedang Medium Tinggi Kuning

Tidak terlaporkannya KTD Sangat

Besar Malapetaka Ekstrim Merah Audit Medik Audit Medik Belum dilaksanakan Sangat

Besar Malapetaka Ekstrim Merah Belum optimalnya Monitoring dan

Evaluasi Pelayanan Besar Malapetaka Ekstrim Merah

7 Terwujudnya layanan promotif dan preventif yang komprehensif

Kurangnya daya tarik kerjasama Sedang Medium Tinggi Kuning Layanan Berfokus ke Pelanggan (Customer Focus Care)

Koord. Organisasi dan Umum

Layanan Unggulan belum siap Besar Malapetaka Ekstrim Merah Belum optimalnya promosi layanan

unggulan kepada perusahaan swasta dan BUMN

Besar Mayor Ekstrim Merah

Pelayanan yang kurang memuaskan

pelanggan Besar Malapetaka Ekstrim Merah

Promosi layanan yang tidak optimal Besar Mayor Ekstrim Merah Program Layanan Pelanggan kurang

menarik Besar Mayor Ekstrim Merah

NO SASARAN

STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI

RISIKO PIC

8 Terwujudnya pengembangan layanan unggulan

Keterbatasan SDM (Jumlah dan

Kompetensi) Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan

SDM Berkelanjutan Koord.SDM, Pendidikan Dan Penelitian Belum Ada Roadmap Pengembangan

layanan Unggulan Sedang Medium Tinggi Kuning Mapping dan Penyusunan

Pedoman Pengembangan Layanan

Koord.Pelayanan Medik dan Keperawatan Belum ada regulasi yang mengatur

pengembangan layanan Besar Mayor Ekstrim Merah

Keterbatasan Sarana dan Prasarana

(alat canggih) Sangat

Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan Sarpras

secara Bertahap Koord. Organisasi dan Umum

9 Terwujudnya Pelayanan yang

Kurangnya alokasi anggaran pemenuhan standar akreditasi untuk sapras

Besar Mayor Ekstrim Merah Pemenuhan Sarpras

secara Bertahap Koord. Organisasi dan Umum

Program peningkatan kualitas pelayanan belum dilakukan secara simultan

Sangat Besar

Malapetaka Ekstrim Merah Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien Terpadu

Koord.Pelayanan Medik dan Keperawatan Rendahnya kepatuhan terhadap SOP Besar Mayor Ekstrim Merah

Kurangnya kepedulian SDM untuk

kegiatan akreditasi Besar Mayor Ekstrim Merah Penerapan Reward dan

Konsekuensi Koord. SDM,

Pendidikan Dan Penelitian Keterbatasan Jumlah SDM Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan

SDM yang Kompeten dan Berkelanjutan

Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Profesional Pemberi Asuhan (PPA)

yang tidak/kurang kompeten Besar Malapetaka Ekstrim Merah Sistem pendidikan belum berjalan

dengan baik Besar Mayor Ekstrim Merah Monoring dan Evaluasi

Program Pendidikan Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Rotasi Peserta Didik yang terlalu

cepat Sedang Medium Tinggi Kuning

Tidak optimalnya pelaksanaan

pengayaan peserta didik Besar Mayor Ekstrim Merah

NO SASARAN

STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI

RISIKO PIC

Kurangnya advokasi internal untuk

implementasi hasil penelitian Besar Mayor Ekstrim Merah Program Pelayanan

Berbasis Peneltiian Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Masih kurangnya minat SDM untuk

melakukan penelitian Besar Mayor Ekstrim Merah

10 Terwujudnya kepuasan stakeholder

Validitas Hasil Survey Kepuasan Besar Malapetaka Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi Tindak Lanjut Hasil Survey Kepuasan Pasien

Koord. Organisasi dan Umum

Belum optimalnya tindak lanjut hasil

survey kepuasan pasien Besar Mayor Ekstrim Merah

Keterbatasan anggaran untuk tindak

lanjut hasil survey kepuasan pasien Besar Mayor Ekstrim Merah Ketidakpuasan Pelanggan dengan

hasil layanan Sangat

Besar Malapetaka Ekstrim Merah Layanan Berfokus ke Pelanggan (Customer Focus Care)

Koord. Organisasi dan Umum

Kurangnya komunikasi kepada

pasien Besar Mayor Ekstrim Merah

Kurangnya Kepercayaan pelanggan Besar Malapetaka Ekstrim Merah Sistem Perhitungan remunerasi

yang tidak memperhatikan kinerja Besar Malapetaka Ekstrim Merah Penerapan Reward dan

Konsekuensi Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Sistem reward dan punishment tidak

berjalan Besar Mayor Ekstrim Merah

Pemenuhan hak pegawai belum

optimal Besar Mayor Ekstrim Merah

11 Terwujudnya Pengelolaan Keuangan yang Sehat dan Akuntabel

Kurangnya komitmen SDM Besar Malapetaka Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi

Program Berbasis Kinerja Koord. Keuangan dan barang milik Negara

Monitoring dan Evaluasi Program

dan Kegiatan belum berjalan dengan baik

Besar Mayor Ekstrim Merah

Rendahnya kepatuhan terhadap

regulasi Besar Malapetaka Ekstrim Merah

21

BAB III ARAH DAN PRIORITAS STRATEGI

Rencana Strategis Bisnis RS Mata Makassar mengacu kepada Visi Kementerian Kesehatan dalam Rencana Stratetis Tahun 2020 – 2024 yaitu Terwujudnya Masyarakat Sehat, Produktif, Mandiri, dan Berkeadilan yang tentunya merupakan penjabaran dari Visi Presiden RI 2020 – 2024 yaitu Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian berlandaskan Gotong Royong, sebagai pernyataan komitmen bersama mengenai upaya terencana dan sistematis untuk meningkatkan kinerja serta cara pencapaiannya melalui pengelolaan manajemen internal yang terpadu, sarana/prasarana kerja yang memadai, sehingga menciptakan pelayanan Kesehatan Mata berkualitas yang berkesinambungan untuk mencapai tugas pokok dan fungsi RS secara keseluruhan sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 83 Tahun 2020.

Untuk menyatukan persepsi dan fokus arah tindakan dimaksud, maka pelaksanaan tugas dan fungsi dilandasi suatu visi dan misi yang ingin diwujudkan. Visi dan misi merupakan panduan yang memberikan pandangan dan arahan kedepan sebagai dasar acuan dalam menjalankan tugas dan fungsi dalam mencapai sasaran atau target yang ditetapkan.

A. Rumusan Pernyataan Visi, Misi, Tujuan dan Tata Nilai a. Visi

Rumusan Visi RS Mata Makassar adalah :

“Menjadi RS Rujukan Mata Unggulan di Kawasan Timur Indonesia”

b. Misi

Untuk mencapai Visi RS Mata Makassar maka dirumuskan misi sebagai berikut : 1. Melaksanakan Pelayanan Kesehatan Mata yang Unggul dan Berkualitas

2. Melaksanakan Pendidikan dan Penelitian yang Terintegrasi dengan Pelayanan Kesehatan Mata

3. Mengembangkan Tata Kelola yang Efektif dan Efisien

4. Meningkatkan Kualitas SDM yang Profesional dan Kompetitif

c. Tujuan

Adapun tujuan RS Mata Makassar adalah:

1. Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Mata yang Berkelanjutan

2. Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Penelitian di Bidang Pelayanan Kesehatan Mata 3. Peningkatan Kualitas SDM

4. Peningkatan Kualitas Sistem Tata Kelola Organisasi yang Baik, Bersih dan Inovatif

22 d. Indikator Pencapaian Tujuan

1. Terselanggaranya Pelayanan Kesehatan Mata yang berkualitas dan sesuai standar serta memberikan kepuasan bagi seluruh stake holder.

2. Terselenggaranya Proses Pendidikan dan Penelitian di Bidang Pelayanan Kesehatan Mata yang efektif dan menghasilkan inovasi-inovasi yang dapat diaplikasikan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan mata.

3. Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi sesuai dengan standar kebutuhan pelayanan.

4. Terlaksananya Sistem Tata Kelola Organisasi yang baik, bersih, dan Inovatif berorientasi pada pelayanan dan kepuasan stake holder.

e. Tata Nilai

Melayani (M) : Melayani dengan Profesional dan Komprehensif

Adil (A) : Memberikan Pelayanan Sesuai dengan Hak Pasien secara Adil tanpa Membedakan Suku, Bangsa dan Agama

Tulus (T) : Memberikan pelayanan yang tulus dan ikhlas Akurat (A) : Memberikan Pelayanan yang Akurat dan Terpercaya B. Arah dan Kebijakan Stakeholder Inti

Aspirasi stakeholder inti dalam bentuk harapan dan kekhawatiran diuraikan sebagai berikut : Tabel 22. Aspirasi Stakeholder Inti

NO STAKEHOLDER HARAPAN KEKHAWATIRAN

1 Kementerian Kesehatan RSB sejalan dengan Renstra Kemenkes dan Rencana Aksi Ditjenyankes

Pencapaian target kinerja

2 Dewan Pengawas RS Mata Unggulan di Kawasan Timur Indonesia

Komitmen Manajemen 3 Dinas Kesehatan Provinsi

Sulsel

Mitra bagi Fasilitas Kesehatan yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan

Pemenuhan layanan kesehatan sesuai standar

4 Dinas Kesehatan Kota Makassar

Pelayanan kesehatan sesuai Visi Komitmen Pelayanan

5 BPJS Kesehatan Pemenuhan layanan untuk peserta JKN

Komitmen pelayanan pasien JKN

6 Pasien Pelayanan yang berkualitas dan mengutamakan keselamatan pasien

Adminsitrasi yang berbelit-belit dan sikap petugas

23 7 Karyawan Peningkatan kesejahteraan SDM Komitmen SDM untuk

pencapaian kinerja

C. Rancangan Peta Strategis Balance Scorecard (BSC)

Gambar 3. Peta Strategis Balanced Scorecard

D. Indikator Kinerja Utama 1. Matriks Indikator Kinerja Utama

Tabel 23. Matriks Indikator Kinerja Utama 2020 – 2024

PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS NO KEY PERFORMANCE INDICATORS BO

BOT PIC TARGET

BASE

LINE 2020 2021 2022 2023 2024 FINANSIAL Terwujudnya Efisiensi

Pelayanan

1 Persentase Utilisasi Peralatan Kesehatan 4 Dir.

PMKP 15% 17% 20% 20% 30% 40%

2 Persentase POBO (Perbandingan Pendapatan Operasional dengan Biaya Operasional)

3 Dir. SKU 65% 67% 69% 35% 35% 50%

3 Pendapatan BLU 5 Dir. SKU 25 M 30 M 35 M 59,7M 46,6M 46,7M

Terwujudnya Public Private

Partnership 4 Jumlah KSO 5 Dir. SKU N/A 1 1 10 12 15

STAKEHOLDER Terwujudnya Kepuasan Stakeholder

7 Angka infeksi Endofthalmitis pasca

operasi katarak 5 Dir. sub-spesialistik dan pelayanan penunjang

9 Persentase Jenis pelayanan

sub-spesialistik 6 Dir.

PMKP 20% 33% 53% 67% 87% 100%

10 IDO (Infeksi Daerah Operasi) 6 Dir.

PMKP < 2 < 2 < 2 < 2 < 2 < 2 11 Kepatuhan penggunaan Formularium

Nasional 6 Dir. 13 Pengembalian Rekam Medis dalam

Waktu 1x24 jam 5 Dir.

PMKP 100% 100% 100% 100% 100% 100%

14 Persentase Penerapan Patient Safety 7 Dir.

PMKP 5% 10% 15% 40% 45% 50%

PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS NO KEY PERFORMANCE INDICATORS BO

BOT PIC TARGET

BASE

LINE 2020 2021 2022 2023 2024 PEMBELAJARAN

DAN

PERTUMBUHAN

Terwujudnya Budaya

Berkinerja 15 Indeks Budaya Berkinerja 6 Dirut 5% 10% 15% 20% 25% 30%

Terwujudnya manajemen

SDM yang ekselen 16 Persentase Tersusunnya sistem

manajemen SDM 6 Dir. SKU 10% 35% 50% 45% 50% 60%

Terwujudnya sarana dan prasarana yang handal RSK Mata Kelas A Unggulan

17 Persentase Kelengkapan sarana dan

prasarana RSK Mata Kelas A 6 Dir.

PMKP 30% 50% 70% 70% 75% 85%

Terwujudnya sistem ICT

yang terintegrasi 18 Persentase Road map ICT

terimplementasi 6 Dir. SKU 20% 30% 50% 65% 80% 100%

27 2. Kamus Indikator Kinerja Utama

KPI-1: Persentase Utilisasi Peralatan Kesehatan

Perspektif Financial

Sasaran Strategis Terwujudnya efisiensi layanan

Judul KPI Persentase Utilisasi Peralatan Kesehatan Dimensi Mutu efisiensi

Tujuan Optimalisasi pemanfaatan peralatan kedokteran

Definisi operasional Utilisasi alat kedokteran canggih adalah pemanfaatan peralatan kedokteran canggih yang memiliki harga beli diatas Rp.500.000.000,- yang akan digunakan untuk mendukung asuhan klinik DPJP sebagai alat penentu diagnosis dan pelaksanaan tindakan medik / operatif di unit-unit pelayanan dalam upaya meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Rumah sakit menetapkan peralatan kedokteran mana saja yang nilai melebihi Rp.500.000.000 yang akan dinilai utilisasinya

Frekuensi

Pengumpulan Data Semester Periode Analisa Tahunan

Numerator Jumlah kasus / pemeriksaan yang ditangani dengan menggunakan alat kedokteran canggih untuk diagnosis dan terapi

Denominator Jumlah kapasitas maksimal kemampuan dari peralatan kedokteran canggih dalam penggunaannya sebagai alat penunjang diagnosis dan terapi

Formula Jumlah kasus / pemeriksaan yang ditangani dengan menggunakan alat kedokteran untuk diagnosis dan terapi

X 100 % Jumlah kapasitas maksimal kemampuan dari peralatan kedokteran

X 100 % Jumlah kapasitas maksimal kemampuan dari peralatan kedokteran

Dalam dokumen RENCANA STRATEGI BISNIS (Halaman 10-0)

Dokumen terkait