1
RS MATA MAKASSAR
R ENCANA S TRATEGI B ISNIS
Tahun 2020 - 2024
i
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, atas karunia dan hidayah-Nya, sehingga Dokumen Rencana Strategi Bisnis Rumah Sakit Mata Makassar dapat diselesaikan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 83 Tahun 2020 tanggal 08 Desember 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Mata Makassar dapat menjadi landasan bagi alih status BKMM Makassar dari yang awalnya terbentuk sebagai Balai menjadi Rumah Sakit Mata.
Peraturan Menteri Kesehatan ini mewajibkan RS Mata Makassar untuk mengajukan ulang status BLU-nya dari BKMM Makassar menjadi RS Mata Makassar guna merevisi Keputusan Menteri Keuangan No.56/KMK.05/2011 tentang Penepatan Balai Kesehatan Mata Masyarakat Makassar pada Kementerian Kesehatan sebagai Satuan Kerja yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Proses pengajuan tersebut harus dilengkapi dengan seluruh dokumen persyaratan pengajuan ulang status BLU RS Mata Makassar, termasuk dokumen Rencana Strategi Bisnis.
Ucapan terima kasih dan penghargaaan sebesarnya disampaikan kepada semua pihak yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya dalam penyelesaian Dokumen Rencana Strategi Bisnis RS Mata Makassar ini. Semoga penyusunan Dokumen ini dapat digunakan sebagai bahan dalam mewujudkan Standar Pelayanan Minimal Badan Layanan Umum RS Mata Makassar.
Makassar, April 2022 Plt. Direktur Utama
dr. MUJADDID,M.Kes (MMR)
Nip.196505261998031003
ii
LEMBAR PENGESAHAN
RENCANA BISNIS DAN ANGGARAN (RBA)
TAHUN ANGGARAN 2023 BADAN LAYANAN UMUM (BLU) RUMAH SAKIT MATA MAKASSAR
Makassar, April 2022 Pejabat Pengawas
dr. Wiendra Wowuruntu, M.Kes
Nip.196203301997032001
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
LEMBAR PENGESAHAN... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang ...1
B. Tujuan Rencana Strategis Bisnis ... 2
C. Dasar Hukum ... 2
D. Sistematika Penyusunan Rencana Strategis Bisnis ... 3
BAB II KONDISI RS MATA MAKASSAR ... 4
A. Profil ... 4
1. Organisasi dan Tata Kelola ... 4
2. Penghargaan dan Prestasi ...5
3. Layanan Unggulan...5
B. Gambaran Kinerja ...5
1. Kinerja RSB Periode 2015-2019...5
2. Aspek Layanan ... 7
3. Aspek Mutu ... 8
4. Aspek Keuangan ... 9
5. Aspek SDM ... 10
6. Aspek Sarana dan Prasarana ... 10
1) Tanah, Gedung dan Jaringan ... 10
2) Alat Kesehatan Canggih... 10
C. Tantangan Strategis ... 11
D. Analisis SWOT ... 11
1. Analisis Internal ... 12
2. Analisis Eksternal ... 12
E. Diagram Kartesius dan Pilihan Prioritas Strategis ... 13
F. Analisa TOWS ... 14
G. Hasil Mitigasi Risiko ... 16
BAB III ARAH DAN PRIORITAS STRATEGI ... 21
A. Rumusan Pernyataan Visi, Misi, Tujuan dan Tata Nilai ... 21
iv
B. Arah dan Kebijakan Stakeholder Inti... 22
C. Rancangan Peta Strategis Balance Scorecard (BSC) ... 24
D. Indikator Kinerja Utama ... 25
1. Matriks Indikator Kinerja Utama ... 25
2. Kamus Indikator Kinerja Utama ... 27
E. Roadmap 5 Tahun Ke Depan ... 45
F. Program Kerja Strategis ... 46
BAB IV PROYEKSI FINANSIAL ... 55
A. Estimasi Pendapatan ... 55
B. Rencana Kebutuhan Anggaran ... 55
C. Rencana Pendanaan ... 56
BAB V PENUTUP ... 58
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan masyarakat sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Program pembangunan kesehatan yang dilaksanakan telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, walaupun masih dijumpai berbagai masalah dan hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan pembangunan kesehatan. Selain itu dengan adanya globalisasi maka sebetulnya membawa dampak postif pada perkembangan manajemen pelayanan kesehatan dengan kesadaran berupaya meningkatkan kemampuan bersaing secara lokal maupun internasional.
Tiga komponen penting dalam organisasi yang perlu menjadi perhatian kita yaitu produktivitas, efisiensi dan mutu. Manajemen mutu akan meningkatkan fungsi ketiga komponen tersebut yang dampaknya adalah peningkatan hasil guna asset, penambahan margin dan meningkatkan keunggulan mutu sehingga meningkatkan kemampuan meraih dan berkembangnya pangsa pasar. Salah satu upaya yang dikembangkan dalam pelayanan kesehatan ialah Upaya Kesehatan Indera Penglihatan yang merupakan salah satu faktor penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dalam mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas, produktif, maju, mandiri, sejahtera lahir dan batin sebagaimana Visi Presiden RI 2020 – 2024 yaitu Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian berlandaskan Gotong Royong yang kemudian diterjemahkan Kementerian Kesehatan ke dalam Rencana Stratetis Tahun 2020 – 2024 dengan tujuan Terwujudnya Masyarakat Sehat, Produktif, Mandiri, dan Berkeadilan
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan Unit Utama Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan RS Mata Makassar dengan penerapan manajemen berorientasi pada hasil selanjutnya akan menerjemahkan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan dalam bentuk Rencana Strategis Bisnis (RSB) yang selanjutnya akan menjadi panduan yang memberikan pandangan dan arahan kedepan sebagai dasar acuan dalam menjalankan tugas dan fungsi untuk mencapai sasaran atau target yang ditetapkan.
Rencana Strategis Bisnis RS Mata Makassar Periode Tahun 2020 – 2024 merupakan lanjutan Rencana Strategis Bisnis Periode sebelumnya dengan beberapa penyesuaian pada pengembangan skala prioritas di masa mendatang dengan menekankan pada peran barunya sebagai pendukung road map suprastrukturalnya serta penataan tata kelola organisasi dan mutu kelembagaan.
2 B. Tujuan Rencana Strategis Bisnis
a. Menentukan arah strategi dan prioritas tindakan strategis RS Mata Makassar di periode tahun 2020 – 2024
b. Menjadi pedoman strategis bagi unit kerja dalam pola penguatan dan pengembangan mutu kelembagaan RS Mata Makassar periode tahun 2020 – 2024;
c. Menjadi rujukan untuk menilai keberhasilan pencapaian Tujuan RS Mata Makassar
d. Terdapat rumusan program strategis dalam skala prioritas yang lebih tajam untuk mewujudkan tujuan RS MAkta Makassar
e. Menjadi indikator penilaian evaluasi kinerja organisasi RS Mata Makassar
f.
Mengarahkan semua unsur kekuatan dan faktor kunci keberhasilan dalam menyelenggarakan peningkatan kualitas pelayanan RS Mata MakassarC. Dasar Hukum
Regulasi yang mendasari penyusunan Rencana Strategis Bisnis ini adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005- 2025.
3. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
4. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2020 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024
6. Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga Tahun 2020-2024
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2020 tentang Renstra Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024
8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan
9. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2020 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Mata Makassar
3 10. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 129/PMK.05/2020 Tentang
Pedoman Pengelolaan Badan Layanan Umum
11. Surat Edaran Dirjen Pelayanan Keseahtan Nomor HK.02.02/I/2627/2019 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Bisnis (RSB) UPT Vertikal Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.
D. Sistematika Penyusunan Rencana Strategis Bisnis BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan RSB 1.3. Dasar Hukum
1.4. Sistematika Penyusuna RSB BAB II PENDAHULUAN
2.1. Profil Satker 2.2. Gambaran Kinerja 2.3. Tantangan Strategis 2.4. Benchmarking 2.5. Analisis SWOT
2.6. Diagram KArtersius dan Prioritas Strategis 2.7. Analisa TOWS
2.8. Hasil Mitigasi Risiko
BAB III ARAH DAN PROGRAM STRATEGIS
3.1. Rumusan Pernyataan Visi, Mis dan Tata Nilai 3.2. Arah dan Kebijakan Stakeholders Inti
3.3. Rancangan Peta Strategi Balanced Scorecard (BSC) 3.4. Indikator Kinerja Utama
3.5. Roadmap 5 Tahun Kedepan 3.6. Program Strategis
BAB IV PROYEKSI KEUANGAN 4.1. Estimasi Pendapatan
4.2. Rencana Kebutuhan Anggaran 4.3. Rencana Pendanaan
BAB V PENUTUP
4
BAB II KONDISI RS MATA MAKASSAR
A. Profil
1. Organisasi dan Tata Kelola
Unit Pelaksana Teknis yang selanjutnya disingkat UPT adalah satuan kerja yang bersifat mandiri yang melaksanakan tugas teknis operasional tertentu dan/atau tugas teknis penunjang tertentu dari organisasi induknya yang bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Salah satunya adalah Rumah Sakit Mata Makassar yang selanjutnya disebut RS Mata Makassar adalah UPT yang melaksanakan tugas di bidang pelayanan kesehatan perorangan dengan kekhususan di bidang penyakit mata berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2020 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Mata Makassar yang sebelumnya masih dalam bentuk Balai Kesehatan Mata Masyarakat sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No.2353/Menkes/PER/XI/2011 Tentang Balai Besar Kesehatan Mata Masyarakat.
RS Mata Makassar dipimpin oleh Direktur Utama dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai berikut:
1) Penyusunan Rencana, Program, dan Anggaran;
2) Pengelolaan Pelayanan Medis dan Penunjang Medis dengan Kekhususan di Bidang Penyakit Mata;
3) Pengelolaan Pelayanan Keperawatan;
4) Pengelolaan Pelayanan Nonmedis;
5) Pengelolaan Pendidikan dan Pelatihan dengan Kekhususan di Bidang Penyakit Mata;
6) Pengelolaan Penelitian, Pengembangan, dan Penapisan Teknologi dengan Kekhususan di Bidang Penyakit Mata;
7) Pengelolaan Keuangan dan Barang Milik Negara;
8) Pengelolaan Sumber Daya Manusia;
9) Pelaksanaan Urusan Hukum, Organisasi, dan Hubungan Masyarakat;
10) Pelaksanaan Kerja Sama;
11) Pengelolaan Sistem Informasi;
12) Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan; dan 13) Pelaksanaan Urusan Administrasi Rumah Sakit.
Adapun struktur organisasi di lingkungan RS Mata Masyarakat Makassar berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 83 Tahun 2020 adalah sebagai berikut:
5 Gambar 1. Struktur Organisasi 1
2. Penghargaan dan Prestasi
a. Akreditasi KARS Edisi SNARS dengan Predikat Paripurna untuk kriteria RS Umum
3. Layanan Unggulan
Sebagai rumah sakit khusu mata, RS Mata Makassar memiliki Layanan unggulan yaitu : a. Operasi Katarak Teknik Phacoemulsifikasi
b. Glaukoma c. Yag Lazer d. Retina B. Gambaran Kinerja
1. Kinerja RSB Periode 2015-2019
Pencapaian kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Bisnis Periode sebelumnya yaitu:
Tabel 1. Capaian Kinerja Rencana Strategis Bisnis Periode 2016 - 2020
Sasaran Strategis Key Performance Indicator Capaian
2016 2017 2018 2019 2020
Terwujudnya Efisiensi Pelayanan
1 % Utilisasi Peralatan Kesehatan 100 100 100 100 92 2 % POBO (Perbandingan Pendapatan
Operasional dengan Biaya
Operasional) 100 214 190 133 31,97
3 Pendapatan BLU 83,43 107,18 96,79 64,46 13.43
Terwujudnya Public
Private Partnership 4 Jumlah KSO NA NA 100 100 200
6
Sasaran Strategis Key Performance Indicator Capaian
2016 2017 2018 2019 2020
Terwujudnya Kepuasan Stakeholder
5 Waktu Tunggu Rawat Jalan 100 83,64 95,7 100 100
6 Indeks Kepuasan Pasien 100 131 122,9 112 0
7 % Komplain yang ditindaklanjuti 100 100 142 125 100 8 Angka Infeksi Endofthalmistis
pasca operasi katarak 100 100 100 100 100
9 Incidenci Katarak 49,5 57,9 60,8 54,3 68,17
10 Incidenci Glaucoma 25,8 30 24,6 35,7 50,27
11 Jumlah Operasi Katarak (Surgical
Katarak Rate) 89,75 85,1 83,9 84,3 68,76
12 Waktu Tunggu Operasi elektif NA NA 40 100 100 Terwujudnya rumah
sakit khusus mata
rujukan unggulan 13 % Peningkatan jenis pelayanan
unggulan NA NA 70,22 62,42 50
Terwujudnya Pusat wahana Pendidikan, Pelatihan dan penelitian kesehatan mata
14 % MOU dengan institusi pendidikan NA NA 86,33 88,88 40
Terwujudnya peningkatan jenis pelayanan sub- spesialistik dan pelayanan penunjang
15 % Jenis pelayanan sub-spesialistik NA NA 38,31 38,31 80,78 16 IDO (Infeksi Daerah Operasi) 100 100 100 100 100 17 Kepatuhan penggunaan Formularium Nasional 100 114 111 100 100
18 Emergency Response Time 100 100 100 100 100
19 Pengembalian Rekam medis dalam
waktu 1x24 jam 100 100 100 100 100
Terwujudnya
peningkatan pelayanan
jejaring 20 Jumlah fasyankes jejaring 100 100 250 216 0
Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi
21 % Akreditasi KARS 0 93,59 100 100 0
22 Persentase Penerapan Patient
Safety 100 100 500 100 100
Terwujudnya Budaya
Berkinerja 23 Indeks Budaya Berkinerja 100 100 400 125 100
Terwujudnya
manajemen SDM yang
ekselen 24 % Tersusunnya sistem manajemen
SDM 80 113 113 200 100
Terwujudnya sarana dan prasarana yang handal RSK Mata Kelas A Unggulan
25 Persentase Kelengkapan Sarana dan prasarana RSK Mata 100 100 100 100 100
Terwujudnya sistem ICT
yang terintegrasi 26 Persentase Road Map ICT
implementasi 100 107 106 100 100
Dari 26 indikator, hanya terdapat 5 indikator yang tidak mencapai target yang diharapkan, yang disebabkan karena adanya perubahan struktur organisasi yang berdampak pada operasional secara keseluruhan terutama pemutusan layanan pasien JKN.
7 2. Aspek Layanan
a. Kunjungan Layanan Periode Tahun 2016 – 2020
Grafik 1. Kunjungan Layanan Periode Tahun 2016 – 2020
b. Tindakan Operasi Periode Tahun 2016 – 2020
Grafik 2. Tindakan Operasi Periode Tahun 2016 – 2020
c. Persentase Surgical Rate Periode Tahun 2016 – 2020
8 Grafik 3. Persentase Surgical Rate Periode Tahun 2016 – 2020
3. Aspek Mutu
d. Waktu Tunggu Rawat Jalan
Grafik 4. Capaian Waktu Tunggu Rawat Jalan Tahun 2016 – 2020
b. Waktu Tunggu Pemeriksaan USG Mata
Grafik 5. Capaian Waktu Tunggu USG Mata Tahun 2016 – 2020
9 c. Insiden Katarak
Grafik 6. Insiden Katarak Tahun 2016 – 2019
d. Insiden Glaukoma
Grafik 7. Insiden Glaukoma Tahun 2016 – 2020
4. Aspek Keuangan
Tabel 4. Indikator Aspek Keuangan 2015 – 2020
NO INDIKATOR 2016 2017 2018 2019 2020
a Rasio Kas 425757,94 86913,85 1100,44 35839,86 1128,82 b Rasio Lancar 646152,89 137423,42 1410,48 68799,43 1346,17
c Periode Penagihan Piutang 58,81 54,50 38 54 2,04
D Perputaran Aset Tetap 80,06 62,61 59,04 44,62 2,61
e Imbalan atas Aset Tetap 41,9 44,35 4,63 3,25 -6
f Imbalan Ekuitas 30,73 36,23 4,21 2,83 -5,76
g Perputaran Persediaan 28,47 26,3 22 64 323,4
h Rasio Pendapatan PNBP
Terhadap Biaya Operasional 93,7 83,99 112 106,75 31,47
i Rasio Subsidi Biaya Pasien 0 0 0 0 0
10 5. Aspek SDM
Grafik 8. Proporsi SDM Menurut Ketenagaan Tahun 2019
6. Aspek Sarana dan Prasarana 1) Tanah, Gedung dan Jaringan
Tabel 5. Kondisi Tanah, Gedung dan Jaringan
2) Alat Kesehatan Canggih
Tabel 6. Kondisi Alkes Canggih dan Tahun Perolehan
11 C. Tantangan Strategis
1) Gelombang Emerging Diseases
2) Tingginya tuntutan standar pelayanan yang berkualitas 3) Keselamatan Pasien belum menjadi budaya
4) Pemenuhan hak dan kesejahteraan karyawan 5) Keamanan Pelayanan di masa pandemi
6) Perkembangan alat Kesehatan yang sangat cepat 7) Daya saing SDM berdasarkan kompetensi
8) Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi 9) Kemampuan tata kelola organisasi secara profesional
10) Modernisasi sarana prasarana sesuai perkembangan ilmu dan teknologi D. Analisis SWOT
Untuk mengantisipasi berbagai pengaruh pada kondisi lingkungan strategis yang berubah dengan cepat maka terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap berbagai potensi yang ada melalui Analisis SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat). Analisis SWOT dilakukan melalui identifikasi terhadap faktor-faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan, serta identifikasi faktor-faktor ekternal berupa peluang dan ancaman. Selanjutnya dipetakan untuk menentukan kekuatan aktual organisasi yang akan dijadikan dasar pertimbangan untuk menyusun suatu rencana strategis yang baik melalui upaya memaksimalkan kekuatan-kekuatan (Strengths) dan
12 peluang (Opportunity) yang merupakan pendorong bagi tercapainya tujuan organisasi, serta dengan meminimalkan kelemahan-kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats) yang dapat merintangi tercapainya tujuan.
1. Analisis Internal
Tabel 8. Hasil Analisis Internal (Kekuatan)
No Kekuatan Bobot Rating Skor
1 Status Badan Layanan Umum 0,14 70 9,80
2 Perubahan Status Organisasi 0,15 80 12,00
3 Lokasi yang Strategis 0,14 60 8,40
4 Memiliki SDM yang Berkualitas 0,14 70 9,80
5 Memiliki alat kesehatan canggih 0,13 60 7,80
6 Brand image sudah dikenal masyarakat 0,15 70 10,50 7 Komitmen bersama yang kuat untuk
kemajuan organisasi 0,15 80 12,00
1,00 70,30
Tabel 9. Hasil Analisis Internal (Kelemahan)
No Kelemahan Bobot Rating Skor
1 Keterbatasan SDM dari jenis dan jumlah 0,15 80 12,00 2 Layanan sub-spesialistik masih perlu
dikembangkan 0,14 70 9,80
3 Luas lahan masih terbatas 0,13 70 9,10
4 Sistem Informasi masih parsial 0,15 80 12,00
5 Sarana dan prasarana masih terbatas 0,13 70 9,10 6 Belum optimalnya tata kelola organisasi 0,15 70 10,50 7 Belum optimalnya budaya kinerja dan
peningkatan berkelanjutan 0,15 80 12,00
1,00 74,50
2. Analisis Eksternal
Tabel 10. Hasil Analisis Eksternal (Peluang)
No Peluang Bobot Rating Nilai
1 Penetapan The Right to Sight Vision 2020 sebagai
inisiatif global oleh WHO 0,16 70 11,20
2 Semakin tingginya daya beli masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan 0,18 80 14,40
3 Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan
pelayanan kesehatan mata 0,16 70 11,20
4 Tingginya angka kebutaan dan gangguan penglihatan
di Indonesia 0,17 80 13,60
13
No Peluang Bobot Rating Nilai
5 Revolusi Industri 4.0 0,18 80 14,40
6 Peluang bekerja sama dengan pihak lain sangat besar 0,15 70 10,50
1,00 75,30
.Tabel 11. Hasil Analisis Eksternal (Ancaman)
No Ancaman Bobot Rating Nilai
1 Jaminan mutu layanan kesehatan di era pandemi 0,20 80 16,00 2 Semakin tingginya tuntutan hukum dan aspek legal pasca
pemberian layanan medis 0,17 70 11,90
3 Regulasi JKN yang sering berubah 0,16 70 11,20
4 Ketidakpastian dukungan regulasi untuk penanggulangan
gangguan penglihatan & kebutaan 0,17 60 10,20
5 Tingginya Tingkat Persaingan dengan rumah sakit mata
swasta 0,15 70 10,50
6 Adanya sistem rujukan berjenjang 0,15 80 12,00
1,00 71,80
E. Diagram Kartesius dan Pilihan Prioritas Strategis
Untuk memberikan kejelasan tentang gambaran posisi daya saing RS Mata Makassa dalam memenuhi visi RS Mata Makassarpada kurun waktu periode Rencana Strategis Bisnis RS Mata MakassarTahun 2020 - 2024, maka digunakan analisis diagram kartesius 4 (empat) kuadran. Diagram kartesius dinyatakan dalam sumbu X dan sumbu Y. Sumbu X menggambarkan resultante dari total nilai kekuatan dan total nilai kelemahan. Sumbu Y menggambarkan resultante dari total nilai peluang dan ancaman.
Dari Hasil Analisis SWOT diperoleh nilai: X = -4,20 Y = 3,50, sehingga posisi RS Mata Makassar dapat dilihat seperti pada tabel diagram kartesius berikut:
Grafik 17. Diagram Kartesius
14 Jika melihat pada Diagram Kartesius di atas, maka posisi RS Mata Makassar jatuh pada posisi KUADRAN II. Oleh karena itu maka untuk memfokuskan arah pengembangannya di masa mendatang untuk menjaga kestabilan organisasi atau penguatan mutu kelembagaan (stability). Artinya, melakukan prioritas strategis untuk melakukan investasi penyempurnaan dan penataan kemampuan organisasi, kemampuan sistem manajemen dan proses bisnis, serta kemampuan personilnya dan sambil memantapkan tingkat penguasaan layanannya.
F. Analisa TOWS
Dari Hasil Analisis SWOT dan Pilihan Prioritas Strategis maka dirumuskan Analisa TOWS sebagaimana tertuang dalam Matriks berikut:
Tabel 14. Matriks TOWS
Kekuatan (Strength) Kelemahan (Weakness) 1. Status Badan Layanan
Umum
2. RS Mata Vertikal di Indonesia Timur
3. Lokasi yang
Strategis
4. Memiliki SDM yang Berkualitas
5. Memiliki alat kesehatan canggih
6. Brand image sudah dikenal masyarakat 7. Komitmen bersama
yang kuat untuk kemajuan organisasi
1. Keterbatasan SDM dari jenis dan jumlah 2. Layanan sub-
spesialistik masih perlu dikembangkan
3. Luas lahan masih terbatas
4. Sistem Informasi masih parsial
5. Sarana dan prasarana masih terbatas
6. Belum optimalnya tata kelola organisasi
7. Belum optimalnya budaya kinerja dan peningkatan berkelanjutan Peluang (Opportunity) Strength - Opportunity Weakness - Opportunity 1. Penetapan The Right to Sight
Vision 2020 sebagai inisiatif global 1. Mewujudkan Pelayanan
yang berkualitas dan 1. Mewujudkan Pemenuhan dan
15 oleh WHO
2. Semakin tingginya daya beli masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
3. Semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan mata
4. Tingginya angka kebutaan dan gangguan penglihatan di Indonesia 5. Revolusi Industri 4.0
6. Peluang bekerja sama dengan pihak lain sangat besar
berkelanjutan yang
terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian (S2, S4, S5, S6, O1, O2, O3)
2. Mewujudkan layanan promotif dan preventif yang komprehensif (S2, S4, O3, O4, O6)
3. Mewujudkan pengembangan layanan unggulan (S1, S3, S6, S7, O1, O2)
Peningkatan Kompetensi SDM (O1, O2, O3, W1, W2) 2. Mewujudkan Sistem
Informasi RS yang terintegrasi dan mandiri (O5, W4)
3. Mewujudkan Keandalan Sarana dan Prasarana (O2, O3, W2, W5)
Kekuatan Kelemahan
1. Status Badan Layanan Umum 2. RS Mata Vertikal di Indonesia
Timur
3. Lokasi yang Strategis 4. Memiliki SDM yang
Berkualitas
5. Memiliki alat kesehatan canggih
6. Brand image sudah dikenal masyarakat
7. Komitmen bersama yang kuat untuk kemajuan organisasi
1. Keterbatasan SDM dari jenis dan jumlah
2. Layanan sub-spesialistik masih perlu dikembangkan 3. Luas lahan masih terbatas 4. Sistem Informasi masih
parsial
5. Sarana dan prasarana masih terbatas
6. Belum optimalnya tata kelola organisasi
7. Belum optimalnya budaya kinerja dan peningkatan berkelanjutan
Ancaman Strength - Threath Weakness - Threath
1. Jaminan mutu layanan kesehatan di era pandemi 2. Semakin tingginya
tuntutan hukum dan aspek legal pasca pemberian layanan medis
3. Regulasi JKN yang sering berubah
4. Ketidakpastian dukungan regulasi untuk penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan 5. Tingginya Tingkat
Persaingan dengan rumah sakit mata swasta
6. Adanya sistem rujukan berjenjang
1. Mewujudkan kepuasan
stakeholder (S1, S2, S4, S7, W1, W2, W5)
2. Mewujudkan Tata Kelola Klinis yang Baik (S2, S4, S7, W1, W2, W3, W6)
3. Mewujudkan Pengelolaan Keuangan yang Sehat dan Akuntabel (S1, S2, S6, S7, W2, W3, W6)
1. Mewujudkan Budaya Kinerja yang Mengutamakan Pasien (W6, T1, T2, T5)
2. Mewujudkan Sistem Tata Kelola Organisasi yang Efektif dan Efisien (W6, T1, T3, T6)
G. Hasil Mitigasi Risiko
Tabel 16. Hasil Mitigasi Risiko
NO SASARAN
STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI
RISIKO PIC
1 Terwujudnya Pemenuhan dan Peningkatan Kompetensi SDM
Tidak terpenuhinya usulan formasi
pegawai Sangat
Besar Mayor Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan
SDM Berkelanjutan Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian Analisa kebutuhan pegawai yang
kurang tepat Besar Medium Tinggi Kuning
Belum terpenuhinya Kompetensi
SDM sesuai kebutuhan organisasi Besar Mayor Ekstrim Merah Penyusunan Standar
Kompetensi SDM Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian Kurangnya kegiatan diklat
peningkatan kompetensi Sedang Medium Tinggi Kuning
Penempatan SDM tidak sesuai
kompetensi Besar Mayor Ekstrim Merah
Penilaian kinerja oleh atasan
langsung belum objektif Besar Mayor Ekstrim Merah Penyusunan Pedoman
Penilaian Kinerja Individu dan Unit
Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian Belum ada pola penjenjangan karir Besar Mayor Ekstrim Merah
Kurangnya motivasi kerja SDM Besar Malapetaka Ekstrim Merah 2 Terwujudnya
Sistem Informasi RS yang
terintegrasi dan mandiri
Keterbatasan Sarana prasarana IT Sangat
Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan sarana prasarana IT Berkelanjutan
Koord. Organisasi dan Umum
Tidak terlaksananya program kerja
SIRS secara baik Besar Mayor Ekstrim Merah
Terbatasnya kapasitas/skill tenaga IT Besar Mayor Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan
SDM Berkelanjutan Koord. SDM, Pendidikan dan Penelitian
NO SASARAN
STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI
RISIKO PIC
3 Terwujudnya Keandalan Sarana dan Prasarana
Program pemeliharaan tidak
berjalan dengan baik Sangat
Besar Malapetaka Ekstrim Merah Optimalisasi Program
Pemeliharan Alkes Koordinator Pelayanan Penunjang
Belum tersedianya Analisa
kelayakan pengadaan alat medik Besar Mayor Ekstrim Merah
Sensitifitas alkes mata yang tinggi Besar Mayor Ekstrim Merah Kalibrasi alkes tepat
waktu Koord. SDM,
Pendidikan Dan Penelitian 4
Terwujudnya Budaya Kinerja yang
Mengutamakan Pasien
Rendahnya komitmen SDM Besar Mayor Ekstrim Merah Penerapan Reward dan
Konsekuensi Kurangnya Internalisasi budaya
korporat Besar Malapetaka Ekstrim Merah Internalisasi Budaya
Korporat Berkelanjutan Rendahnya komitmen SDM Sangat
Besar Malapetaka Ekstrim Merah Penerapan Reward dan Konsekuensi
Kurangnya sosialisasi budaya
keselamatan pasien Besar Mayor Ekstrim Merah Internalisasi Budaya
Keselamatan Pasien Koordinator Pelayanan Medik dan
Keperawatan 5 Terwujudnya
Sistem Tata Kelola Organisasi yang Efektif dan Efisien
Sosialisasi program yang kurang Sedang Medium Tinggi Kuning Optimalisasi Penerapan
SPIP Koord. Organisasi dan
Umum Rendahnya kepatuhan penerapan
SPIP Besar Mayor Ekstrim Merah
Kurangnya monitoring dan evaluasi
penerapan SPIP Besar Mayor Ekstrim Merah
Kelebihan beban kerja Sedang Medium Tinggi Kuning Revisi Analisa Beban Kerja
Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Tidak maksimalnya implementasi
SOP Besar Mayor Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi
Pelayanan Berkala Koord.Pelayanan Medik dan Keperawatan Monev terhadap indikator waktu
tunggu layanan masih rendah Besar Mayor Ekstrim Merah
NO SASARAN
STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI
RISIKO PIC
Rendahnya komitmen SDM untuk
meningkatkan kinerja Besar Mayor Ekstrim Merah Penyusunan Pedoman
Penilaian Kinerja Individu dan Unit
Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Belum ada regulasi terkait unit
pelayanan yang berkinerja baik Besar Mayor Ekstrim Merah Penilaian Kinerja belum
mempertimbangkan indikator kualitas
Besar Mayor Ekstrim Merah
6 Terwujudnya Tata Kelola Klinis yang Baik
Rendahnya kepatuhan terhadap
Penerapan Clinical Pathway Besar Mayor Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi
CP Koord.Pelayanan
Medik dan Keperawatan Monitoring dan Evaluasi Clinical
Pathway belum berjalan Besar Malapetaka Ekstrim Merah
Overload pelayanan Sedang Medium Tinggi Kuning
Tidak terlaporkannya KTD Sangat
Besar Malapetaka Ekstrim Merah Audit Medik Audit Medik Belum dilaksanakan Sangat
Besar Malapetaka Ekstrim Merah Belum optimalnya Monitoring dan
Evaluasi Pelayanan Besar Malapetaka Ekstrim Merah
7 Terwujudnya layanan promotif dan preventif yang komprehensif
Kurangnya daya tarik kerjasama Sedang Medium Tinggi Kuning Layanan Berfokus ke Pelanggan (Customer Focus Care)
Koord. Organisasi dan Umum
Layanan Unggulan belum siap Besar Malapetaka Ekstrim Merah Belum optimalnya promosi layanan
unggulan kepada perusahaan swasta dan BUMN
Besar Mayor Ekstrim Merah
Pelayanan yang kurang memuaskan
pelanggan Besar Malapetaka Ekstrim Merah
Promosi layanan yang tidak optimal Besar Mayor Ekstrim Merah Program Layanan Pelanggan kurang
menarik Besar Mayor Ekstrim Merah
NO SASARAN
STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI
RISIKO PIC
8 Terwujudnya pengembangan layanan unggulan
Keterbatasan SDM (Jumlah dan
Kompetensi) Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan
SDM Berkelanjutan Koord.SDM, Pendidikan Dan Penelitian Belum Ada Roadmap Pengembangan
layanan Unggulan Sedang Medium Tinggi Kuning Mapping dan Penyusunan
Pedoman Pengembangan Layanan
Koord.Pelayanan Medik dan Keperawatan Belum ada regulasi yang mengatur
pengembangan layanan Besar Mayor Ekstrim Merah
Keterbatasan Sarana dan Prasarana
(alat canggih) Sangat
Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan Sarpras
secara Bertahap Koord. Organisasi dan Umum
9 Terwujudnya Pelayanan yang berkualitas dan berkelanjutan yang terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian
Kurangnya alokasi anggaran pemenuhan standar akreditasi untuk sapras
Besar Mayor Ekstrim Merah Pemenuhan Sarpras
secara Bertahap Koord. Organisasi dan Umum
Program peningkatan kualitas pelayanan belum dilakukan secara simultan
Sangat Besar
Malapetaka Ekstrim Merah Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien Terpadu
Koord.Pelayanan Medik dan Keperawatan Rendahnya kepatuhan terhadap SOP Besar Mayor Ekstrim Merah
Kurangnya kepedulian SDM untuk
kegiatan akreditasi Besar Mayor Ekstrim Merah Penerapan Reward dan
Konsekuensi Koord. SDM,
Pendidikan Dan Penelitian Keterbatasan Jumlah SDM Besar Malapetaka Ekstrim Merah Pemenuhan Kebutuhan
SDM yang Kompeten dan Berkelanjutan
Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Profesional Pemberi Asuhan (PPA)
yang tidak/kurang kompeten Besar Malapetaka Ekstrim Merah Sistem pendidikan belum berjalan
dengan baik Besar Mayor Ekstrim Merah Monoring dan Evaluasi
Program Pendidikan Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Rotasi Peserta Didik yang terlalu
cepat Sedang Medium Tinggi Kuning
Tidak optimalnya pelaksanaan
pengayaan peserta didik Besar Mayor Ekstrim Merah
NO SASARAN
STRATEGIS RISIKO KRK DR TR WARNA RENCANA MITIGASI
RISIKO PIC
Kurangnya advokasi internal untuk
implementasi hasil penelitian Besar Mayor Ekstrim Merah Program Pelayanan
Berbasis Peneltiian Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Masih kurangnya minat SDM untuk
melakukan penelitian Besar Mayor Ekstrim Merah
10 Terwujudnya kepuasan stakeholder
Validitas Hasil Survey Kepuasan Besar Malapetaka Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi Tindak Lanjut Hasil Survey Kepuasan Pasien
Koord. Organisasi dan Umum
Belum optimalnya tindak lanjut hasil
survey kepuasan pasien Besar Mayor Ekstrim Merah
Keterbatasan anggaran untuk tindak
lanjut hasil survey kepuasan pasien Besar Mayor Ekstrim Merah Ketidakpuasan Pelanggan dengan
hasil layanan Sangat
Besar Malapetaka Ekstrim Merah Layanan Berfokus ke Pelanggan (Customer Focus Care)
Koord. Organisasi dan Umum
Kurangnya komunikasi kepada
pasien Besar Mayor Ekstrim Merah
Kurangnya Kepercayaan pelanggan Besar Malapetaka Ekstrim Merah Sistem Perhitungan remunerasi
yang tidak memperhatikan kinerja Besar Malapetaka Ekstrim Merah Penerapan Reward dan
Konsekuensi Koord. SDM, Pendidikan Dan Penelitian Sistem reward dan punishment tidak
berjalan Besar Mayor Ekstrim Merah
Pemenuhan hak pegawai belum
optimal Besar Mayor Ekstrim Merah
11 Terwujudnya Pengelolaan Keuangan yang Sehat dan Akuntabel
Kurangnya komitmen SDM Besar Malapetaka Ekstrim Merah Monitoring dan Evaluasi
Program Berbasis Kinerja Koord. Keuangan dan barang milik Negara
Monitoring dan Evaluasi Program
dan Kegiatan belum berjalan dengan baik
Besar Mayor Ekstrim Merah
Rendahnya kepatuhan terhadap
regulasi Besar Malapetaka Ekstrim Merah
21
BAB III ARAH DAN PRIORITAS STRATEGI
Rencana Strategis Bisnis RS Mata Makassar mengacu kepada Visi Kementerian Kesehatan dalam Rencana Stratetis Tahun 2020 – 2024 yaitu Terwujudnya Masyarakat Sehat, Produktif, Mandiri, dan Berkeadilan yang tentunya merupakan penjabaran dari Visi Presiden RI 2020 – 2024 yaitu Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian berlandaskan Gotong Royong, sebagai pernyataan komitmen bersama mengenai upaya terencana dan sistematis untuk meningkatkan kinerja serta cara pencapaiannya melalui pengelolaan manajemen internal yang terpadu, sarana/prasarana kerja yang memadai, sehingga menciptakan pelayanan Kesehatan Mata berkualitas yang berkesinambungan untuk mencapai tugas pokok dan fungsi RS secara keseluruhan sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 83 Tahun 2020.
Untuk menyatukan persepsi dan fokus arah tindakan dimaksud, maka pelaksanaan tugas dan fungsi dilandasi suatu visi dan misi yang ingin diwujudkan. Visi dan misi merupakan panduan yang memberikan pandangan dan arahan kedepan sebagai dasar acuan dalam menjalankan tugas dan fungsi dalam mencapai sasaran atau target yang ditetapkan.
A. Rumusan Pernyataan Visi, Misi, Tujuan dan Tata Nilai a. Visi
Rumusan Visi RS Mata Makassar adalah :
“Menjadi RS Rujukan Mata Unggulan di Kawasan Timur Indonesia”
b. Misi
Untuk mencapai Visi RS Mata Makassar maka dirumuskan misi sebagai berikut : 1. Melaksanakan Pelayanan Kesehatan Mata yang Unggul dan Berkualitas
2. Melaksanakan Pendidikan dan Penelitian yang Terintegrasi dengan Pelayanan Kesehatan Mata
3. Mengembangkan Tata Kelola yang Efektif dan Efisien
4. Meningkatkan Kualitas SDM yang Profesional dan Kompetitif
c. Tujuan
Adapun tujuan RS Mata Makassar adalah:
1. Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Mata yang Berkelanjutan
2. Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Penelitian di Bidang Pelayanan Kesehatan Mata 3. Peningkatan Kualitas SDM
4. Peningkatan Kualitas Sistem Tata Kelola Organisasi yang Baik, Bersih dan Inovatif
22 d. Indikator Pencapaian Tujuan
1. Terselanggaranya Pelayanan Kesehatan Mata yang berkualitas dan sesuai standar serta memberikan kepuasan bagi seluruh stake holder.
2. Terselenggaranya Proses Pendidikan dan Penelitian di Bidang Pelayanan Kesehatan Mata yang efektif dan menghasilkan inovasi-inovasi yang dapat diaplikasikan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan mata.
3. Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi sesuai dengan standar kebutuhan pelayanan.
4. Terlaksananya Sistem Tata Kelola Organisasi yang baik, bersih, dan Inovatif berorientasi pada pelayanan dan kepuasan stake holder.
e. Tata Nilai
Melayani (M) : Melayani dengan Profesional dan Komprehensif
Adil (A) : Memberikan Pelayanan Sesuai dengan Hak Pasien secara Adil tanpa Membedakan Suku, Bangsa dan Agama
Tulus (T) : Memberikan pelayanan yang tulus dan ikhlas Akurat (A) : Memberikan Pelayanan yang Akurat dan Terpercaya B. Arah dan Kebijakan Stakeholder Inti
Aspirasi stakeholder inti dalam bentuk harapan dan kekhawatiran diuraikan sebagai berikut : Tabel 22. Aspirasi Stakeholder Inti
NO STAKEHOLDER HARAPAN KEKHAWATIRAN
1 Kementerian Kesehatan RSB sejalan dengan Renstra Kemenkes dan Rencana Aksi Ditjenyankes
Pencapaian target kinerja
2 Dewan Pengawas RS Mata Unggulan di Kawasan Timur Indonesia
Komitmen Manajemen 3 Dinas Kesehatan Provinsi
Sulsel
Mitra bagi Fasilitas Kesehatan yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan
Pemenuhan layanan kesehatan sesuai standar
4 Dinas Kesehatan Kota Makassar
Pelayanan kesehatan sesuai Visi Komitmen Pelayanan
5 BPJS Kesehatan Pemenuhan layanan untuk peserta JKN
Komitmen pelayanan pasien JKN
6 Pasien Pelayanan yang berkualitas dan mengutamakan keselamatan pasien
Adminsitrasi yang berbelit-belit dan sikap petugas
23 7 Karyawan Peningkatan kesejahteraan SDM Komitmen SDM untuk
pencapaian kinerja
C. Rancangan Peta Strategis Balance Scorecard (BSC)
Gambar 3. Peta Strategis Balanced Scorecard
D. Indikator Kinerja Utama 1. Matriks Indikator Kinerja Utama
Tabel 23. Matriks Indikator Kinerja Utama 2020 – 2024
PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS NO KEY PERFORMANCE INDICATORS BO
BOT PIC TARGET
BASE
LINE 2020 2021 2022 2023 2024 FINANSIAL Terwujudnya Efisiensi
Pelayanan
1 Persentase Utilisasi Peralatan Kesehatan 4 Dir.
PMKP 15% 17% 20% 20% 30% 40%
2 Persentase POBO (Perbandingan Pendapatan Operasional dengan Biaya Operasional)
3 Dir. SKU 65% 67% 69% 35% 35% 50%
3 Pendapatan BLU 5 Dir. SKU 25 M 30 M 35 M 59,7M 46,6M 46,7M
Terwujudnya Public Private
Partnership 4 Jumlah KSO 5 Dir. SKU N/A 1 1 10 12 15
STAKEHOLDER Terwujudnya Kepuasan Stakeholder
5 Waktu Tunggu rawat jalan 6 Dir.
PMKP ≤ 60' ≤ 55' ≤50' ≤45 ≤ 45" ≤ 40'
6 Indeks Kepuasan Pasien 6 Dirut 60% 63% 65% 85% 87% 90%
7 Angka infeksi Endofthalmitis pasca
operasi katarak 5 Dir.
PMKP N/A N/A N/A ≤ 2 /
1000 ≤ 2 /
1000 ≤ 2 / 1000 8 Waktu tunggu operasi elektif 6 Dir.
PMKP 1
Minggu 1
Minggu ≤ 4
hari ≤ 3
hari ≤ 2
hari ≤ 2 hari Terwujudnya peningkatan
jenis pelayanan sub- spesialistik dan pelayanan penunjang
9 Persentase Jenis pelayanan sub-
spesialistik 6 Dir.
PMKP 20% 33% 53% 67% 87% 100%
10 IDO (Infeksi Daerah Operasi) 6 Dir.
PMKP < 2 < 2 < 2 < 2 < 2 < 2 11 Kepatuhan penggunaan Formularium
Nasional 6 Dir.
PMKP 90% 95% 100% 95% 95% 95%
12 Emergency Response Time 6 Dir.
PMKP <120
menit <120
menit <120
menit <120
menit <120
menit <120 menit 13 Pengembalian Rekam Medis dalam
Waktu 1x24 jam 5 Dir.
PMKP 100% 100% 100% 100% 100% 100%
14 Persentase Penerapan Patient Safety 7 Dir.
PMKP 5% 10% 15% 40% 45% 50%
PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS NO KEY PERFORMANCE INDICATORS BO
BOT PIC TARGET
BASE
LINE 2020 2021 2022 2023 2024 PEMBELAJARAN
DAN
PERTUMBUHAN
Terwujudnya Budaya
Berkinerja 15 Indeks Budaya Berkinerja 6 Dirut 5% 10% 15% 20% 25% 30%
Terwujudnya manajemen
SDM yang ekselen 16 Persentase Tersusunnya sistem
manajemen SDM 6 Dir. SKU 10% 35% 50% 45% 50% 60%
Terwujudnya sarana dan prasarana yang handal RSK Mata Kelas A Unggulan
17 Persentase Kelengkapan sarana dan
prasarana RSK Mata Kelas A 6 Dir.
PMKP 30% 50% 70% 70% 75% 85%
Terwujudnya sistem ICT
yang terintegrasi 18 Persentase Road map ICT
terimplementasi 6 Dir. SKU 20% 30% 50% 65% 80% 100%
27 2. Kamus Indikator Kinerja Utama
KPI-1: Persentase Utilisasi Peralatan Kesehatan
Perspektif Financial
Sasaran Strategis Terwujudnya efisiensi layanan
Judul KPI Persentase Utilisasi Peralatan Kesehatan Dimensi Mutu efisiensi
Tujuan Optimalisasi pemanfaatan peralatan kedokteran
Definisi operasional Utilisasi alat kedokteran canggih adalah pemanfaatan peralatan kedokteran canggih yang memiliki harga beli diatas Rp.500.000.000,- yang akan digunakan untuk mendukung asuhan klinik DPJP sebagai alat penentu diagnosis dan pelaksanaan tindakan medik / operatif di unit-unit pelayanan dalam upaya meningkatkan mutu dan keselamatan pasien. Rumah sakit menetapkan peralatan kedokteran mana saja yang nilai melebihi Rp.500.000.000 yang akan dinilai utilisasinya
Frekuensi
Pengumpulan Data Semester Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah kasus / pemeriksaan yang ditangani dengan menggunakan alat kedokteran canggih untuk diagnosis dan terapi
Denominator Jumlah kapasitas maksimal kemampuan dari peralatan kedokteran canggih dalam penggunaannya sebagai alat penunjang diagnosis dan terapi
Formula Jumlah kasus / pemeriksaan yang ditangani dengan menggunakan alat kedokteran untuk diagnosis dan terapi
X 100 % Jumlah kapasitas maksimal kemampuan dari peralatan kedokteran
canggih dalam penggunaannya sebagai alat penunjang diagnosis dan terapi
Bobot KPI 4 %
Sumber Data a. Daftar peralatan kedokteran dengan nilai harga beli diatas 500 juta rupiah
b. Laporan pemanfaatan alat kedokteran
c. Buku catatan pemeriksaan / kasus dari setiap peralatan kedokteran
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
65% 20% 20% 20% 30%
PIC Direktur PMKP
28 KPI-2 (F1) : Persentase Perbandingan Pendapatan PNBP Terhadap Biaya Operasional
Perspektif Financial
Sasaran Strategis Terwujudnya efisiensi layanan
Judul KPI Persentase Perbandingan Pendapatan PNBP Terhadap Biaya Operasional Dimensi Mutu efisiensi
Tujuan Optimalisasi pendapatan PNBP terhadap biaya operasional Satker
Definisi operasional Pendapatan PNBP merupakan pendapatan yang diperoleh sebagai imbalan atas barang/jasa yang diserahkan kepada masyarakat termasuk pendapatan yang berasal dari hibah, hasil kerjasama dengan pihak lain, sewa, jasa lembaga keuangan, dan lain-lain pendapatan yang tidak berhubungan secara langsung dengan pelayanan BLU, tidak termasuk pendapatan yang berasal dari APBN. Biaya operasional merupakan seluruh biaya yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, yang terdiri dari belanja pegawai dan belanja barang, dan sumber dananya berasal dari penerimaan anggaran APBN dan pendapatan PNBP Satker BLU
Frekuensi
Pengumpulan Data Bulanan Periode Analisa Bulanan
Numerator Jumlah pendapatan yang diperoleh bersumber dari PNBP yang merupakan hasil kegiatan dari saturna kerja BLU selama 1 tahun anggaran berjalan
Denominator Jumlah biaya operasional yang sumbernya dari penerimaan APBN berupa rupiah murni (RM) dan PNBP Satuan Kerja BLU dalam 1 tahun anggaran berjalan Formula
Jumlah pendapatan PNBP yang diperoleh selama setahun
X 100 % jumlah biaya operasional satuan kerja yang bersumber anggaran
APBN rupiah murni dan pendapatan PNBP tahun anggaran berjalan
Bobot KPI 3 %
Sumber Data (a) Hasil rekaputilasi pendapatan PNBP yang diperoleh dari Bendahara pengelola PNBP yang direkap setiap hari dan disetor ke frekening bendahara pengelola PNBP
(b) Rekapitulasi pendapatan perhari dari kasir
(c) Rekapitulasi pendapatan dari jasa pelayanan Jamkesda dari bendahara Jamkesda
(d) Data DIPA tahun berjalan
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
45% 47% 35% 35% 50%
PIC Direktur SDM, Keuangan, dan Umum
29 KPI- 3 (F1) : Pendapatan BLU
Perspektif Financial
Sasaran Strategis Terwujudnya efisiensi layanan
Judul KPI Pendapatan BLU
Dimensi Mutu efisiensi
Tujuan Optimalisasi pendapatan PNBP Satker
Definisi operasional Pendapatan BLU merupakan realisasi pendapatan yang diperoleh sebagai imbalan atas barang/jasa yang diserahkan kepada masyarakat termasuk pendapatan yang berasal dari hibah, hasil kerjasama dengan pihak lain, sewa, jasa lembaga keuangan, dan lain-lain pendapatan yang tidak berhubungan secara langsung dengan pelayanan BLU yaitu rupiah murni (RM)
Frekuensi
Pengumpulan Data Bulanan Periode Analisa Triwulan
Numerator Jumlah pendapatan yang diperoleh bersumber dari PNBP yang merupakan hasil kegiatan dari satuan kerja BLU selama 1 tahun anggaran berjalan
Denominator -
Formula Jumlah pendapatan PNBP yang diperoleh selama setahun dari satuan kerja Badan Layanan Umum (BLU)
Bobot KPI 3 %
Sumber Data (a) Hasil rekaputilasi pendapatan PNBP yang diperoleh dari Bendahara pengelola PNBP yang direkap setiap hari dan disetor ke frekening bendahara pengelola PNBP
(b) Rekapitulasi pendapatan perhari dari kasir
(c) Rekapitulasi pendapatan dari jasa pelayanan Jamkesda dari bendahara Jamkesda
(d) Hasil pendapatan yang diperoleh dari kerjasama dengan pihak lain
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
30 M 35 M 59 M 46 M 46 M
PIC Direktur SDM, Keuangan, dan Umum
30 KPI-4 (F2) : Jumlah KSO
Perspektif Financial
Sasaran Strategis Terwujudnya Public Private Partnership Judul KPI Jumlah KSO
Dimensi Mutu efisiensi
Tujuan Optimalisasi kerjasama operasional dengan pihak lain
Definisi operasional Jumlah KSO merupakan target realisasi kerjasama yang dilakukan oleh RS Mata Makassar dengan pihak lain seperti instansi pemerintah, swasta dan atau pihak lain yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi pelayanan kepada masyarakat.
Frekuensi
Pengumpulan Data Semester Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah realisasi KSO RS MATA MAKASSAR dengan pihak lain selama 1 tahun Denominator -
Formula Jumlah realisasi KSO RS MATA MAKASSAR dengan pihak lain selama 1 tahun dari satuan kerja Badan Layanan Umum (BLU)
Bobot KPI 5 %
Sumber Data (a) Data surat masuk usulan kerjasama yang ditindaklanjuti oleh pihak terkait di RS MATA MAKASSAR untuk keperluan Tupoksi RS MATA MAKASSAR (b) Bagian Umum
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
1 KSO 1 KSO 10 KSO 12 KSO 15 KSO
PIC Direktur SDM, Keuangan, dan Umum
31 KPI 5 (S1): Waktu tunggu rawat jalan
Perspektif Perspektif Stakeholder
Sasaran Strategis Terwujudnya kepuasan Stakeholder Judul KPI Waktu Tunggu Rawat Jalan
Dimensi Mutu Aksessibilitas dan Kesinambungan Pelayanan
Tujuan Terselenggaranyan pelayanan rawat jalan pada hari kerja yang mudah dan cepat di akses oleh pasien
Definisi operasional Waktu Tunggu Rawat Jalan adalah Waktu yang diperlukan mulai dari pasien mendaftar sampai dengan dilayani oleh dokter poliklinik.Pengumpulan data dilakukan dengan survey menggunakan metode time motion study yaitu pencatatan setiap waktu pasien dilayani mulai dari loket pendaftaran, loket poliklinik dan mulai dilayani oleh dokter poliklinik
Frekuensi Pengumpulan
Data Bulanan
Periode Analisa Bulanan
Numerator Jumlah kumulatif waktu yang diperlukan seluruh pasien sejak mendaftar sampai dengan dilayani dokter
Denominator Jumlah seluruh pasien yang di survey
Formula Jumlah kumulatif waktu yang diperlukan seluruh pasien sejak mendaftar sampai dengan dilayani dokter poliklinik
Jumlah seluruh pasien yang di survey
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Hasil survey waktu tunggu rawat jalan
Target 2020 2021 2022 2023 2024
N/A ≤50' ≤ 45’ ≤ 45' ≤40'
PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
32 KPI 6 (S1): Indeks Kepuasan Pasien
Perspektif Perspektif Stakeholder
Sasaran Strategis Terwujudnya kepuasan Stakeholder Judul KPI Indeks Kepuasan Pasien
Dimensi Mutu Aksessibilitas dan Kesinambungan Pelayanan
Tujuan Terselenggaranyan pelayanan prima dari petugas pada hari kerja yang mudah dan cepat di akses oleh pasien
Definisi operasional Kepuasan pelanggan adalah angka yang diperoleh dari hasil survey kepuasan pelanggan dengan menggunakan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).
Pengukuran IKM dilaksanakan di lokasi layanan sesuai dengan metode dan ketentuan sebagaimana diatur dalam pedoman umum penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat unit layanan instansi pemerintah (KEP/25/M.PAN/2/2004) Skor tertinggi yaitu 1 atau 100 %
Frekuensi Pengumpulan
Data Tahunan
Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah hasil perhitungan indeks kepuasan masyarakat Denominator Skala maksimal indeks kepuasan masyarakat
Formula Jumlah hasil perhitungan indeks kepuasan masyarakat X 100 % Skala maksimal indeks kepuasan masyarakat
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Hasil survey indeks kepuasan pasien
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
N/A 65% 85% 87% 90%
PIC Direktur Utama
33 KPI-7: Angka Infeksi Endofthalmitis Pasca Operasi Katarak
Perspektif Proses Bisnis Internal
Sasaran Strategis Terwujudnya Penyelenggaraan Sistem Pelayanan Berbasis mutu dan keselamatan pasien dalam pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit
Judul KPI Angka Infeksi Endofthalmitis Pasca Operasi Katarak Dimensi Mutu Efektivitas dan keselamatan pasien
Tujuan Menurunnya kejadian endoftalmitis pasca bedah katarak
Definisi operasional Endoftalmitis Pasca operasi katarak adalah kejadian timbulnya endoftalmitis setelah dilakukannya operasi katarak
Frekuensi
Pengumpulan Data Bulanan Periode Analisa Bulanan
Numerator Jumlah Kejadian Endoftalmitis pasca bedah katarak Denominator Jumlah pasien operasi katarak.
Formula Jumlah endoftalmitis pasca operasi katarak X 100 % jumlah pasien katarak
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Rekam Medik
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
N/A < 2 / 1000 < 2 / 1000 < 2 / 1000 < 2 / 1000 PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
34 KPI 8 : Waktu Tunggu Operasi Elektif (WTE)
Perspektif Proses Bisnis Internal
Sasaran Strategis Terwujudnya Ketepatan Waktu Pelayanan Judul KPI Waktu Tunggu Operasi Elektif (WTE).
Dimensi Mutu Efektifitas, efisiensi dan kesinambungan pelayanan
Tujuan Tergambarnya kecepatan pelayanan bedah dalam penjadwalan operasi Definisi operasional Waktu tungu operasi elektif adalah rata-rata tenggat waktu sejak pasien
masuk rawat inap dengan rencana operasi sampai dengan operasi dilaksanakan.
Frekuensi Pengumpulan
Data Bulanan
Periode Analisa Bulanan
Numerator Jumlah waktu tunggu operasi yang terencana
Denominator Jumlah seluruh sampel atau jumlah seluruh pasien dengan operasi yang terencana
Ekslusi Operasi dibatalkan karena kondisi pasien yang tidak memungkinkan dilakukan operasi, ditunda/dibatalkan atas permintaan keluarga, fasilitas (ruangan atau peralatan tidak dapat dipakai disebabkan kondisi diluar kendali manajemen) Formula Jumlah waktu tunggu operasi yang terencana dari seluruh pasien
yang dioperasi X 100 %
jumlah seluruh sampel atau jumlah seluruh pasien dengan operasi yang terencana
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Rekam Medis
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
N/A < 4 hari < 3 hari < 2 hari < 2 hari PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
35 KPI-9 : Persentase Jenis Pelayanan Subspesialistik
Perspektif Proses Bisnis Internal
Sasaran Strategis Terwujudnya peningkatan jenis pelayanan sub-spesialistik dan pelayanan penunjang
Judul KPI Persentase Jenis Pelayanan Subspesialistik Dimensi Mutu Pengembangan Pelayanan
Tujuan Terlaksananya pengembangan pelayanan sub spesialsitik dengan target tahun 2024 sebanyak 15 jenis sub spesialistik sesuai standar RS Mata
Definisi operasional Jumlah penambahan jenis pelayanan sub spesialsitik dibagi dengan target pengembangan jenis pelayanan sampai tahun 2024 sebanyak 15 jenis sub spesialistik.
Frekuensi Pengumpulan
Data Tahunan
Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah pengembangan jenis pelayanan sub spesialsitik yang terrealisasi sampai dengan tahun berjalan.
Denominator Jumlah target pengembangan jenis pelayanan sub spsialsitik Ekslusi Penambahan Jenis Pelayanan sub spesialistik
Formula Jumlah pengembangan jenis pelayanan sub spesialsitik yang
terrealisasi sampai dengan tahun berjalan X 100 % Jumlah target pengembangan jenis pelayanan sub
spsialsitik sebanyak 15 jenis sampai tahun 2024
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Direktorat Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
20% 30% 67% 87 % 100%
PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
36 KPI-10 : Infeksi Daerah Operasi (IDO)
Perspektif Proses Bisnis internal
Sasaran Strategis Terwujudnya peningkatan jenis pelayanan sub-spesialistik dan pelayanan penunjang
Judul KPI Infeksi Daerah Operasi (IDO) Dimensi Mutu Efektivitas dan keselamatan pasien
Tujuan Menurunnya kejadian Infeksi Daerah Operasi
Definisi operasional Infeksi Daerah Operasi adalah infeksi yang terjadi pada daerah insisi daerah operasi dalam waktu 30 hari tanpa implan dan satu tahun dengan implan pasca bedah
Frekuensi
Pengumpulan Data Bulanan Periode Analisa 3 bulanan
Numerator Jumlah kasus IDO
Denominator Jumlah Kasus Operasi
Formula Jumlah kasus IDO
X 100 % Jumlah Kasus Operasi
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Rekam Medik
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
< 2% < 2% < 2% < 2% < 2%
PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
37 KPI-11 : Kepatuhan penggunaan Formularium Nasional
Perspektif Proses Bisnis Internal
Sasaran Strategis Terwujudnya peningkatan jenis pelayanan sub-spesialistik dan pelayanan penunjang
Judul KPI Kepatuhan penggunaan Formularium RS Dimensi Mutu Efektivitas dan keselamatan pasien
Tujuan Tergambarnya efisiensi pelayanan obat kepada pasien
Definisi operasional Kepatuhan penggunaan Formularium RS adalah kepatuhan staf medis / DPJP dalam membuat peresepan obat berdasarkan daftar obat yang digunakan di rumah sakit
Frekuensi
Pengumpulan Data Bulanan Periode Analisa Bulanan
Numerator Jumlah item resep (R/) yang sesuai Fornas Denominator Jumlah total Item Resep (R/)
Formula Jumlah item resep (R/) yang sesuai Fornas
X 100 % Jumlah total Item Resep (R/)
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Instalasi Farmasi
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
95% 100% 95% 95% 95%
PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
38 KPI 12: Emergency Response Time
Perspektif Proses Bisnis Internal
Sasaran Strategis Terwujudnya peningkatan jenis pelayanan sub-spesialistik dan pelayanan penunjang
Judul KPI Emergency Respon Time Dimensi Mutu Keselamatan dan Efektivitas
Tujuan Terselenggaranya pelayanan kegawatdaruratan yang cepat, responsive dan mampu menyelamatkan pasien gawat darurat
Definisi operasional Emergency Respon Time adalah Kecepatan pelayanan pasien di gawat darurat sejak pasien datang sampai mendapatkan pelayanan.Pengumpulan data dilakukan dengan survey dengan observasi langsung sejak pasien datang sampai dengan pasien dilayani
Frekuensi
Pengumpulan Data Bulanan Periode Analisa Bulanan
Numerator Jumlah kumulatif waktu yang diperlukan pasien sejak datang sampai dengan dilayani petugas triage
Denominator Jumlah seluruh pasien yang di survey
Formula Jumlah kumulatif waktu yang diperlukan pasien sejak datang sampai dengan dilayani petugas triage X 100 Jumlah seluruh pasien yang di survey %
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Instalasi Gawat Darurat
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
< 120 Menit < 120 Menit < 120 Menit < 120 Menit < 120 Menit PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
39 KPI 13: Pengembalian Rekam Medis Dalam Waktu 1x24 Jam
Perspektif Proses Bisnis Internal
Sasaran Strategis Terwujudnya peningkatan jenis pelayanan sub-spesialistik dan pelayanan penunjang
Judul KPI Waktu Pengembalian Rekam Medis dalam 1 x 24 Jam Dimensi Mutu Keselamatan dan Kesinambungan Pelayanan
Tujuan Tergambarnya tanggung jawab pemberi pelayanan dalam pengembalian rekam medis tepat waktu
Definisi operasional Waktu Pengembalian Rekam Medik adalah rata-rata jumlah rekam medik yang dikembalikan dari rawat inap ke pengelola rekam medik dalam waktu ≤ 24 jam setelah pasien pulang
Frekuensi Pengumpulan
Data Bulanan
Periode Analisa Bulanan
Numerator Jumlah seluruh rekam medis rawat inap yang dikembalikan dalam 1 x 24 jam Denominator Jumlah seluruh pasien yang pulang dalam periode yang sama
Formula Jumlah seluruh rekam medis yang dikembalikan dalam 1 x 24 jam
X 100 % Jumlah seluruh pasien yang pulang dalam periode yang sama
Bobot KPI 5 %
Sumber Data Rekam Medik
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
100 % 100 % 100 % 100 % 100 %
PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
40 KPI 14: Persentase Penerapan Patient Safety
Perspektif Proses Bisnis Internal
Sasaran Strategis Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi Judul KPI Persentase Penerapan Patient Safety
Dimensi Mutu Efektivitas, keselamatan pasien
Tujuan Terlaksananya penerapan indeks patient safety di RS
Definisi operasional Penerapan patient safety adalah proses penerapan patient safety standar KARS yang meliputi :
1. Kepatuhan penggunaan gelang identitas di ruang tindakan invasif 2. Kepatuhan penerapan SBAR saat hand over pasien shift antar petugas
kesehatan
3. Penerapan time out secara verbal di ruang tindakan invasif 4. Audit Kebersihan Tangan Petugas dan peserta didik
5. Kelengkapan pengisian penilaian ulang risiko jatuh pasien rawat inap 6. Pembuatan resume medis sesuai SPO dan tepat waktu
Frekuensi Pengumpulan
Data Tahunan
Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah patient safety rumah sakit yang sesuai dengan tugas pokok
Denominator Jumlah seluruh persyaratan patient safety yang terpenuhi dan dilaksanakan di RS
Ekslusi Patient safety
Formula Jumlah patient safety rumah sakit yang sesuai dengan tugas pokok
X 100 % Jumlah seluruh persyaratan patient safety yang terpenuhi dan
dilaksanakan di RS
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Subbagian Tata usaha
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
10 % 15 % 40 % 45 % 50 %
PIC Direktur Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang
41 KPI 15 : Indeks Budaya Berkinerja
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan Sasaran Strategis Terwujudnya budaya berkinerja Judul KPI Indeks budaya berkinerja
Dimensi Mutu Efektivitas, Efisiensi dan Kesinambungan Pelayanan
Tujuan Tergambarnya budaya berkinerja dari petugas dalam melaksanakan tugas pokoknya di unit kerja
Definisi operasional Indeks budaya berkinerja adalah jumlah pegawai yang telah melaksanakan tugas dan fungsinya sesua standar dan target yang telah ditetapkan dalam kurun waktu 1 periode dibagi dengan jumlah seluruh pegawai yang ada di instansi dalam kurun waktu 1 periode
Frekuensi Pengumpulan
Data Tahunan
Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah pegawai yang telah menerapkan budaya berkinerja yang baik dalam 1 periode
Denominator Jumlah seluruh pegawai dalam dalam 1 periode
Ekslusi Kinerja pegawai
Formula Jumlah pegawai yang telah menerapkan budaya berkinerja yang
baik dalam 1 periode X 100 %
Jumlah seluruh pegawai dalam 1 periode
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Koordinator SDM dan DIklit
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
10 % 15 % 20 % 25 % 30 %
PIC Direktur Utama
42 KPI 16 : Persentase Tersusunnya Sistim Manajemen SDM
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Sasaran Strategis Terwujudnya manajemen SDM yang ekselen Judul KPI Persentase Tersusunnya Sistim Manajemen SDM Dimensi Mutu Efektivitas Pelayanan
Tujuan Tergambarnya sistim manajemen SDM
Definisi operasional Sistim manajemen SDM adalah suatu proses tata kelola SDM yang dibutuhkan oleh suatu instansi dengan menghitung beban kerja dan kompetensi SDM sesuai standar RS Khusus
Frekuensi Pengumpulan
Data Tahunan
Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah SDM yang tersedia dalam 1 periode Denominator Jumlah standar tenaga untuk RS dalam 1 periode
Ekslusi Tata kelola SDM
Formula Jumlah SDM yang tersedia dalam 1 periode
X 100 % Jumlah standar tenaga untuk RS dalam 1 periode
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Koordinator SDM dan DIklit
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
35 % 50 % 45 % 50 % 60 %
PIC Direktur Keuangan, SDM, dan Umum
43 KPI 17 : Persentase Kelengkapan Sarana Dan Prasarana RSK Mata Kelas A
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Sasaran Strategis Terwujudnya sarana dan prasarana yang handal RSK Mata Kelas A Unggulan Judul KPI Persentase Kelengkapan Sarana dan prasarana RSK Mata Kelas A
Dimensi Mutu Kelengkapan sarana pelayanan
Tujuan Tergambarnya kelengkapan sarana dan prasarana sesuai standar rumah sakit khusus
Definisi operasional Kelengkapan sarana dan prasarana RSK Mata kelas A adalah terpenuhi persyaratan kelengkapan sarana dan prasarana RS Mata Kelas A yang meliputi :
1. Rawat Inap 2. Ruang Rawat Jalan 3. Instalasi gawat darurat 4. Ruang OK
5. Instalasi penunjang seperti laboratorium, farmasi, impesa, gizi, kamar jenazah
6. Raung administrasi
7. Ruang medic dan perawatan 8. Ruang pertemuan
9. Pelataran parkir
10. Pengolahan sampah seperti incinerator, IPAL 11.Data peralatan medik Frekuensi Pengumpulan
Data Tahunan
Periode Analisa Tahunan
Numerator Jumlah sarana dan prasarana yang tersedia sesuai kurun waktu 1 periode Denominator Jumlah persyaratan sarana dan prasarana untuk rumah sakit mata type A Ekslusi Kelengkapan sarana dan prasana
Formula Jumlah sarana dan prasarana yang tersedia sesuai kurun waktu 1 periode
X 100 % Jumlah persyaratan sarana dan prasarana untuk rumah sakit
mata type A
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Koordinator Keuangan dan BMN
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
50 % 70 % 70 % 75 % 85 %
PIC Direktur SDM, Keuangan, dan Umum
44 KPI 18 : Persentase Road Map ICT Terimplementasi
Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Sasaran Strategis Terwujudnya sistem ICT yang terintegrasi Judul KPI Persentase Road Map ICT terimplementasi
Dimensi Mutu Efektivitas, Efisiensi dan Kesinambungan Pelayanan Tujuan Tergambarnya sistim perencanaan ICT terpadu
Definisi operasional Road map ICT adalah sistim perencana sarana ICT yang meliputi pengembangan software, pengadaan hardware, pengadaan jaringan yang terintegrasi guna mendukung mutu layanan
Frekuensi Pengumpulan
Data Bulanan
Periode Analisa Triwulanan
Numerator Jumlah sarana ICT yang terealisasi dalam kuraun waktu 1 periode Denominator Jumlah target sistim perencaan sarana ITC terintegrasi
Ekslusi Sarana ICT
Formula Jumlah sarana ICT yang terealisasi dalam kurun waktu 1 periode
X 100 % Jumlah target sistim perencaan sarana ITC terintegrasi
Bobot KPI 6 %
Sumber Data Instalasi SIM RS
Standar / Target 2020 2021 2022 2023 2024
30 % 50 % 65 % 80 % 100 %
PIC Direktur SDM, Keuangan, dan Umum
E. Roadmap 5 Tahun Ke Depan