4. Angka Kelulusan:
2.3.2. Layanan Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar 1 Tenaga kerja
Pelayanan urusan tenaga kerja dilaksanakan oleh Dinas Sosial, tenaga kerja dan Transmigrasi dari kurun waktu 2013-2016 dan pada tahun 2017 seiring dengan pembentukan organisasi perangkat daerah, penanganan urusan tenaga kerja dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Tranmigrasi. Berikut capaian pelayanan urusan tenaga kerja sebagaimana tabel berikut.
Tabel 2.40. Ketenagakerjaan
Uraian 2013 2014 2015 2016
Tingkat partisipasi angkatan kerja (%) 64,22 60,67 66,21 62,69 Angka sengketa pengusaha-pekerja per
tahun (%) 17,78 10,71 13,85 14,67
Pencari kerja yang ditempatkan (%) 5,25 7,04 5,32 7,32
Tingkat pengangguran terbuka (%) 6,52 5,38 5,46 *
Keselamatan dan perlindungan (%) 6 4,82 4,15 3,60
Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap kebijakan pemerintah daerah
(%) 0 0 0 0
*Tidak dilakukan perhitungan dan Survey Angkatan Kerja Nasional secara nasional
Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan BPS Kota Tasikmalaya, 2017.
Gambaran umum pelayanan urusan pemberdayaan perempuan dan anak dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.41.
Pelayanan Umum Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Anak
Uraian
Tahun
2013 2014 2015 2016
Persentase partisipasi PNS perempuan Pemkot per angkatan kerja perempuan
4,68 2,27 2,08 n/a
Jumlah KDRT yang dilaporkan 20 12 4 n/a
Partisipasi angkatan kerja perempuan 43,29 45,45 47,50 n/a
Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan
100 100 100 n/a
Sumber : BPMP3A Kota Tasikmalaya, 2016.
2.3.2.3. Pangan
Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya,aman,beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.
Ketahanan pangan di suatu daerah mencakup empat komponen, yaitu: (1) kecukupan ketersediaan pangan; (2) stabilitas ketersediaan pangan tanpa fuktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun; (3) aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan; dan (4) kualitas/keamanan pangan.
Pangan strategis merupakan pangan yang diproduksi dan dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang apabila ketersediaan dan harganya terganggu dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi dan menimbulkan gejolak di masyarakat. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2015, jenis pangan strategis ditetapkan berdasarkan alokasi pengeluaran rumah tangga secara nasional untuk pangan tersebut tinggi, memiliki pengaruh tingkat infasi dan memiliki kandungan gizi tinggi untuk kebutuhan manusia. Adapun jenis pangan strategis antara lain : beras, tepung terigu, kacang kedelai, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, cabe, bawang merah, gula dan minyak goreng.
Kecukupan ketersediaan pangan strategis di Kota Tasikmalaya belum memadai secara kemandirian, situasi kemandirian pangan di Kota Tasikmalaya tahun 2017 adalah : dari segi ketersediaan energi Kota Tasikmalaya terpenuhi sebesar 1.001 kkal/kap/hari (41,7% AKE) dari angka kecukupan energi yang seharusnya dipenuhi sebesar 2.400 kkal/kap/hari, dari segi ketersediaan Protein Kota Tasikmalaya terpenuhi
sebesar 40,8 gr/kap/hari (64,7% AKP) dari angka kecukupan protein yang seharusnya dipenuhi sebesar 63 gr/kap/hari dan skor PPH 34. Saat ini 58% kebutuhan pangan untuk 659.606 orang penduduknya dipenuhi melalui impor. Adapun situasi ketersediaan pangan di Kota Tasikmalaya tahun 2017 adalah : sebesar dari segi ketersediaan energi Kota Tasikmalaya terpenuhi sebesar 2.332 kkal/kap/hari (97,1% AKE) dari angka kecukupan energi yang seharusnya dipenuhi sebesar 2.400 kkal/kap/hari, dari segi ketersediaan Protein Kota Tasikmalaya terpenuhi sebesar 68,8 gr/kap/hari (109,1% AKP) dari angka kecukupan protein yang seharusnya dipenuhi sebesar 63 gr/kap/hari, dan skor PPH 80.
Berkaitan dengan informasi pasokan yang belum ada sehingga menyulitkan dalam penentuan jumlah besarana ekspor dan impor pangan yang keluar masuk Kota Tasikmalaya. Untuk mengetahui jumlah pangan yang masuk dan keluar digunakan estimasi ekspor dan impor dengan standar defasi eror yang kecil. Data estimasi ekspor impor yang dimaksud merupakan hasil estimasi dari data konsumsi pangan yang bersumber dari data Susenas. Penghitungan estimasi dilakukan dengan menggunakan pendekatan menggunakan data pangan yang dikonsumsi namun tidak dapat diproduksi secara mandiri oleh daerah sehingga pangan tersebut di asumsikan di impor dari luar daearah dan sebaliknya apabila konsumsi terhadap jenis pangan tertentu lebih rendah dari produksinya maka over supplay diasumsikan sebagai ekspor.
Berkaitan dengan kualitas/keamanan pangan segar, pemerintah Kota Tasikmalaya secara rutin melakukan pengecekan sampel bahan pangan segar agar dapat dikonsumsi secara aman oleh masyarakat, namun belum dapat menjangkau seluruh kalangan masyarakat.
Kuantitas dan kualitas konsumsi pangan merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena kelebihan atau kekurangan terhadap satu atau beberapa jenis pangan akan mengakibatkan keadaan malnutrisi atau gizi salah serta penyakit. Tercapainya pencapaian penganekaragaman konsumsi pangan penduduk diukur melalui pencapaian nilai komposisi pola pangan dan gizi seimbang. Implementasi indikator kuantitatif tersebut disebut skor Pola Pangan Harapan (PPH), yaitu susunan keragaman pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama.
Berdasarkan hasil analisis konsumsi tahun 2016, PPH Kota Tasikmalaya belum mencapai nilai optimal, yaitu baru mencapai 67,4 masih berada di bawah nilai skor PPH ideal minimal 90, hal ini diakibatkan salahsatunya dengan kurangnya keberagaman konsumsi pangan oleh masyarakat Kota Tasikmalaya terutama kurangnya konsumsi sayuran dan buah dengan skor PPHnya hanya 14,8 dari skor idealnya 30 Dan konsumsi kacang-kacangan dengan skor PPHnya hanya 4,5 dari skor idealnya 10 serta konsumsi Umbi-umbian dengan skor PPHnya hanya 0.4 dari skor idealnya 2.5.
2.3.2.4. Pertanahan
Capaian layanan urusan pertanahan di kota Tasikmalaya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.42
Persentase luas lahan bersertifkat (%)
No Uraian Tahun 2013 2014 2015 2016 2017 1 Persentase luas lahan bersertifkat (%) 2,70 4,45 5,70 7,65 27,90 2 Penyelesaian kasus tanah negara (kasus)
n/a n/a n/a n/a 4
Sumber : Kantor Pertanahan Kota Tasikmalaya, 2017.
2.3.2.5. Lingkungan hidup
Perkembangan pelaksanaan urusan Lingkungan Hidup dalam kurun waktu tahun 2012 sampai dengan 2017 adalah sebagai berikut :
Tabel 2.43. Penanganan Sampah
No Indikator Kinerja Tahun
2012 2013 2014 2015 2016 2017 1 Persentase penanganan sampah (%) 38 39,8 33,11 52,01 54,1 56,43
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup, 2017.
Penanganan sampah selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan dengan asumsi volume timbulan sampah sebesar 2,5 lt/orang/hari. Volume sampah yang masuk ke TPA Ciangir sama dengan volume sampah terangkut, rata-rata pada tahun 2017 sebesar 163 Ton/hari.
Upaya untuk melindungi sumber mata air, menciptakan iklim mikro yang sejuk dan menambah luas Ruang Terbuka Hijau (RTH), telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya salah satunya dengan membebaskan gunung/bukit yang menjadi sumber mata air. Berikut ini merupakan gunung/bukit yang sudah dibebaskan.
Tabel 2.44. Pembebasan Gunung
NO NAMA GUNUNG LOKASI LUAS