• Tidak ada hasil yang ditemukan

LCA Beton Semi Pracetak (Semi PC)

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-45)

4.4. Analisis LCA

4.4.3 LCA Beton Semi Pracetak (Semi PC)

Diagram pohon (tree diagram) bahan bangunan penyusun rusunawa dengan beton semi pracetak (Lampiran 1) pada dasarnya hampir sama dengan tree diagram pada beton konvensional (Gambar 17). Seperti halnya dengan diagram pohon pada beton konvensional, selain semen dan besi beton, bata merah juga merupakan kontributor proses terbesar yang berdampak terhadap lingkungan (Gambar 28). Hal ini juga disebabkan proses pembuatan memerlukan energi yang cukup tinggi, baik energi listrik (electricity UCPTE high volta) yang banyak digunakan di negara-negara maju, maupun energi dari hasil pembakaran kayu di negara-negara berkembang.

Gambar 28 Hasil analisis diagram pohon tahapan proses daur hidup bata merah Analisis single score penggunaan beton semi pracetak menunjukkan secara lebih rinci dampak lingkungan yang diakibatkan setiap kontributor proses. Sama halnya dengan penggunaan beton konvensional, dampak lingkungan yang dikaji berjumlah 16 buah dengan subtansi item yang sama (Gambar 29). Berbeda terbalik dengan hasil pada penggunaan beton konvensional, hasil analisis skor tunggal penggunaan beton semi pracetak menunjukkan bahwa semen merupakan elemen yang bisa memberikan dampak paling besar (4,7 kPt), disusul oleh besi beton (3,59 kPt). Kontributor proses yang memberikan dampak paling kecil adalah air untuk beton (3,57 x 10-7 kPt) dan penggunaan truk (1,66 x 10-5 kPt).

Hampir seluruh kontributor proses juga berpotensi menimbulkan tiga dampak lingkungan dominan (impact categories), yaitu: (1) kandungan racun lingkungan perairan kronis; (2) kandungan racun lingkungan perairan akut; (3) kandungan racun lingkungan tanah kronis.

99

Gambar 29 Hasil analisis single score beton semi pracetak.

Hasil rincian single score ini disajikan dalam Tabel 27 yang menunjukkan besarnya skor setiap komponen terhadap setiap jenis dampak. Kontributor proses yang memberikan dampak paling besar terhadap setiap kategori adalah penggunaan semen (Gambar 30), besi beton (Gambar 31), dan bata merah (Gambar 32)

Gambar 30 Besarnya dampak penggunaan semen pada pembangunan rusunawa menggunakan beton semi pracetak untuk setiap kategori (Pt).

100

Gambar 31 Besarnya dampak penggunaan besi beton pada pembangunan rusunawa menggunakan beton semi pracetak untuk setiap kategori (Pt).

Gambar 32 Besarnya dampak penggunaan bata merah pada pembangunan rusunawa menggunakan beton semi pracetak untuk setiap kategori (Pt).

101

Pada Tabel 27 terlihat bahwa, semen, baja ringan, alumunium, baja scaffolding, bata merah dan keramik merupakan kontributor yang dapat menimbulkan pemanasan global cukup berarti. Hal ini terjadi karena pada produksi contributor- contributor tersebut diperlukan panas yang cukup tinggi, sehingga untuk memproduksinya dilakukan pembakaran sumberdaya alam terutama dari BBM. Di lain pihak hingga saat ini bahan bakar yang digunakan untuk tujuan tersebut adalah bahan bakar yang berasal fosil seperti batu bara, solar dan bensin.

Proses pembakaran ini akan menghasilkan emisi CO2 sebagai penyumbang terjadinya pemanasan global, yang pada akhirnya berujung pada terjadinya perubahan iklim global, sehingga menimbulkan berbagai bencana. Di lain pihak adanya pembakaran BBM pun juga akan menghasilkan dioksin dan furan (Suminar, 2003). Selain dioksin dan furan dari pembakaran BBM fosil, juga akan dihasilkan logam berat terutama timbal atau Pb (Volesky, 2000).

Terdapatnya dioksin, furan dan logam berat Pb di atmosfir ini dapat berdampak negatif pada manusia. Oleh karenanya maka sangat wajar jika pencemaran akan berimplikasi terhadap masalah kesehatan, yang pada akhirnya akan berakibat pada berkurangnya pendapatan. Hal ini sesuai dengan hasil analisis yang tertera pada Tabel 28 bahwa kontributor-kontributor yang digunakan untuk konstruksi rusunawa menyebabkan berbagai dampak lingkungan yang mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan pada manusia baik melalui air, tanah maupun udara

Tabel 28 Single score setiap kontributor terhadap setiap kategori dampak beton semi pracetak 6 Ecotoxicity Water

Chronic Pt 13,400 1.440,000 1.110,000 101,000 174,000 0,862 188,000 25,600 34,200 76,600 1,790 510,000 366,000 14,400 x

0,000 4.055,852 7 Ecotoxicity Water

Acute Pt 12,500 1.340,000 1.040,000 95,700 163,000 0,806 176,000 23,500 30,900 69,200 1,610 477,000 342,000 14,000 x

0,000 3.786,216 8 Ecotoxicity Soil

Chronic Pt 9,280 1.100,000 847,000 21,800 133,000 0,658 122,000 19,000 25,100 56,200 1,710 389,000 280,000 0,217 x

0,000 3.004,965 9 Human Toxicity

Air Pt 0,270 24,200 26,100 1,510 4,780 0,027 2,910 7,910 1,620 3,690 0,232 8,100 6,150 0,072 x

0,001 87,571 10 Human Toxicity

Water Pt 1,290 131,000 111,000 3,420 16,300 0,081 18,700 3,060 7,260 16,500 0,192 46,500 33,400 0,064 x

0,000 388,767 11 Human Toxicity

Soil Pt 3,020 272,000 229,000 20,200 48,700 0,269 37,900 6,020 7,470 16,800 3,560 95,300 68,400 3,000 x

Total Pt 43,591 4.695,330 3.592,070 253,745 575,640 2,883 575,031 90,963 113,606 254,851 11,043 1.616,488 1.164,889 32,245 0,0004 0,017 13.022,392

102

Tabel 29 menunjukkan bahwa kandungan racun lingkungan perairan dan tanah kronis berasal dari proses pembuatan semen dan besi beton. Sementara kandungan racun lingkungan perairan akut berasal dari kontributor proses semen dan bata merah. Dampak terbesar pada kandungan racun lingkungan perairan kronis disebabkan kontributor proses semen (1.440 pt) dan besi beton (1.110 pt).

Tabel 29 Kontributor utama untuk kategori dampak beton semi pracetak No Kategori Dampak

Lingkungan Kontributor Proses Skor (pt) 1 Kandungan racun lingkungan

perairan kronis

semen 1.440

besi beton 1.110

2 Kandungan racun lingkungan perairan akut

semen 1.340

bata merah 477

3 Kandungan racun lingkungan tanah kronis

semen 1.100

besi beton 847

Hasil pembobotan menunjukkan bahwa dampak terbesar berupa kandungan racun lingkungan perairan kronis sebesar 4,06 kPt, disusul oleh kandungan racun lingkungan perairan akut sebesar 3,79 kPt, dan kandungan racun lingkungan tanah kronis sebesar 3,00 kPt (Gambar 33). Dampak yang cukup menonjol lainnya adalah kandungan racun tanah bagi manusia (0,811 kPt) dan pemanasan global (0,441 kPt). Selain semen dan besi beton, kontributor proses yang cukup menonjol lainnya adalah bata merah, serta keramik dan sanitari.

Adanya racun kronis tersebut dapat difahami karena selain dari racun yang berasal dari bahan yang terkandung di dalam bahan tersebut, kandungan racun juga berasal dari pembakaran yang suhu pembakarannya kurang dari 8000C, karena berpotensi untuk menghasilkan senyawa dioksin dan furan (Bramono 2004). Hal ini sesuai dengan pernyataan Widyatmoko (1999) yang mengatakan bahwa emisi dioksin dan furan juga malah terjadi pada pembuangan akhir sampah atau TPA serta Connell dan Miller (1995) yang mengatakan bahwa dioksin dan furan tidak diproduksi secara sengaja, tapi dihasilkan sebagai produk samping pada proses pembakaran dan beberapa proses industri. Pernyataan tersebut diperkuat oleh pernyataan Smit (2004) yang menyatakan bahwa senyawa dioksin dan furan akan terbentuk bila terdapat kondisi suhu pembakaran antara 200–800

104

oC, namun suhu pembakaran paling ideal untuk menghasilkan dioksin dan furan adalah 200– 400 oC. Adapun yang dimaksud dengan senyawa dioksin dan furan adalah senyawa organoklor yang terdiri atas klor dan fenil (gugus cincin benzena). Senyawa ini mempunyai daya urai baik di tanah, udara, dan air yang sangat lambat (Gorman dan Tynan, 2003). Racun yang cukup menonjol dari semen dan besi beton, bata merah, serta keramik dan sanitari diduga karena selain dari bahan yang terkandung pada bahan bakunya juga karena pada produksi bahan-bahan tersebut dilakukan dengan pembakaran yang sangat intensif. Selain itu dari bahan bakar sendiri akan dihasilkan bahan pencemar logam berat terutama Pb (Volesky, 2000).

Gambar 33 Hasil pembobotan (weighting) dampak lingkungan penggunaan beton semi pracetak.

Hasil karakterisasi dan normalisasi menunjukkan hal yang sejalan dan mendukung hasil analisis sebelumnya. Hasil karakterisasi (Gambar 34) menunjukkan bahwa penggunaan beton semi pracetak memerlukan tambahan baja cetakan dan baja scafolding, tetapi di sisi lain mereduksi secara signifikan penggunaan kayu. Penggunaan kayu hanya dibutuhkan untuk pemasangan panel pintu saja. Hasil ini juga menunjukkan bahwa semua kontributor proses tidak berpotensi menimbulkan limbah berbahaya dan limbah radioaktif.

105

Gambar 34 Hasil karakterisasi setiap kontributor proses beton semi pracetak.

Hasil rincian karakterisasi ini disajikan dalam Tabel 29 yang menunjukkan besarnya hasil karakterisasi setiap komponen terhadap setiap jenis kategori dampak. Hasil normalisasi tidak jauh berbeda dengan hasil skor tunggal dan hasil pembobotan. Hasil normalisasi menunjukkan kandungan racun lingkungan perairan kronis, kandungan racun lingkungan perairan akut, dan kandungan racun lingkungan tanah kronis sebagai dampak lingkungan terbesar akibat penggunaan beton semi pracetak (Gambar 35).

Gambar 35 Hasil normalisasi pada setiap jenis dampak lingkungan penggunaan beton semi pracetak.

Hasil rincian normalisasi ini disajikan dalam Tabel 31 yang menunjukkan besarnya hasil normalisasi setiap komponen terhadap setiap jenis kategori dampak.

Tabel 30 Hasil karakterisasi setiap kontributor terhadap setiap kategori dampak beton semi pracetak

(GWP 100) g CO2 1.60E+03 9.89E+07 2.20E+07 1.16E+08 4.93E+07 2.84E+08 1.11E+07 6.55E+08 5.94E+05 1.82E+07 5.68E+06 2.18E+08 6.69E+05 3.20E+07 1.44E+09 3.65E+03 2 Ozone Depletion g CFC x 1.62E+01 1.74E+00 9.20E+00 3.89E+00 2.72E+01 6.51E-01 5.86E+01 4.55E-02 2.78E+00 9.00E-02 1.93E+01 2.83E+00 1.61E+01 7.61E+01 1.74E-03 3 Acidification g SO2 x 5.90E+05 1.47E+05 6.89E+05 3.30E+05 1.76E+06 9.23E+04 4.20E+06 3.48E+03 1.14E+05 6.90E+04 1.32E+06 4.28E+03 1.74E+04 7.27E+06 4.82E+01 4 Eutrophication g NO3 x 2.82E+05 8.34E+04 3.74E+05 1.88E+05 8.79E+05 9.88E+04 2.24E+06 1.92E+03 5.37E+04 5.94E+04 6.85E+05 4.00E+03 1.65E+05 5.36E+06 8.42E+01 5 Photochemical

Smog g ether x 3.19E+03 3.86E+03 1.79E+04 8.81E+03 9.13E+03 5.66E+02 3.78E+04 6.53E+01 6.73E+02 7.83E+02 7.95E+03 1.44E+02 2.12E+03 3.61E+04 6.32E-01 6 Ecotoxicity Water

Chronic m3/g x 3.84E+07 6.97E+06 3.56E+07 1.56E+07 1.04E+08 2.74E+06 2.27E+08 1.76E+05 5.23E+06 3.66E+05 7.48E+07 2.94E+06 2.05E+07 2.94E+08 2.85E+01 7 Ecotoxicity Water

Acute m3/g x 3.68E+06 6.46E+05 3.40E+06 1.45E+06 9.97E+06 2.61E+05 2.17E+07 1.68E+04 4.91E+05 3.37E+04 7.16E+06 2.93E+05 2.00E+06 2.81E+07 2.69E+00 8 Ecotoxicity Soil

Chronic m3/g x 1.59E+06 3.28E+05 1.74E+06 7.34E+06 5.07E+06 1.21E+05 1.11E+07 8.59E+03 2.48E+05 3.23E+04 3.65E+06 2.83E+03 2.84E+05 1.43E+07 4.50E-01 9 Human Toxicity

Air m3/g x 9.54E+09 5.32E+09 1.57E+10 1.21E+10 2.65E+10 8.84E+08 8.55E+10 8.76E+07 2.59E+10 7.61E+08 2.01E+10 2.36E+08 4.96E+09 7.93E+10 1.80E+06 10 Human Toxicity

Water m3/g x 4.43E+05 1.72E+05 3.86E+05 3.90E+05 1.10E+06 3.05E+04 2.63E+06 1.92E+03 7.25E+04 4.53E+03 7.91E+05 1.51E+03 8.09E+04 3.10E+06 3.79E+00 11 Human Toxicity

Soil m3/g x 4.70E+03 9.25E+02 6.03E+03 2.08E+03 1.18E+04 3.74E+02 2.83E+04 3.33E+01 7.46E+02 4.41E+02 8.47E+03 3.71E+02 2.50E+03 3.36E+04 1.73E+00 12 Bulk Waste kg 1.45E-01 6.58E+03 1.81E+03 9.45E+03 4.05E+03 2.76E+04 8.46E+02 6.12E+04 4.67E+01 1.71E+03 9.61E+01 2.10E+04 x 1.08E+03 7.91E+04 x

13 Hazardous Waste kg x x x x x X x x x x x x x x x x

Tabel 31 Hasil normalisasi setiap kontributor terhadap setiap kategori dampak beton semi pracetak

(GWP 100) g CO2 1.84E-04 1.14E+01 2.53E+00 1.33E+01 5.67E+00 3.27E+01 1.28E+00 7.53E+01 6.83E-02 2.09E+00 6.53E-01 2.51E+01 7.70E-02 3.68E+00 1.65E+02 4.20E-04 2 Ozone Depletion g CFC x 8.02E-02 8.59E-03 4.55E-02 1.92E-02 1.34E-01 3.22E-03 2.90E-01 2.25E-04 1.38E-02 4.46E-04 9.57E-02 1.40E-02 7.99E-02 3.77E-01 8.61E-06 3 Acidification g SO2 x 4.76E+00 1.18E+00 5.55E+00 2.66E+00 1.42E+01 7.44E-01 3.39E+01 2.80E-02 9.17E-01 5.56E-01 1.06E+01 3.45E-02 1.40E+00 5.86E+01 3.88E-04 4 Eutrophication g NO3 x 9.46E-01 2.80E-01 1.26E+00 6.31E-01 2.95E+00 3.32E-01 7.52E+00 6.44E-03 1.80E-01 2.00E-01 2.30E+00 1.34E-02 5.55E-01 1.80E+01 2.83E-04

5 Photochemical

Smog g ether x 1.59E-01 1.93E-01 8.97E-01 4.41E-01 4.56E-01 2.83E-02 1.89E+00 3.26E-03 3.36E-02 3.91E-02 3.97E-01 7.22E-03 1.06E-01 1.80E+00 3.16E-05 6 Ecotoxicity

Water Chronic m3/g x 8.17E+01 1.49E+01 7.58E+01 3.33E+01 2.22E+02 5.83E+00 4.83E+02 3.75E-01 1.11E+01 7.80E-01 1.59E+02 6.27E+00 4.37E+01 6.26E+02 6.08E-05 7 Ecotoxicity

Water Acute m3/g x 7.66E+01 1.34E+01 7.08E+01 3.01E+01 2.07E+02 5.42E+00 4.51E+02 3.50E-01 1.02E+01 7.00E-01 1.49E+02 6.10E+00 4.16E+01 5.85E+02 5.60E-05 8 Ecotoxicity Soil

Chronic m3/g x 5.30E+01 1.09E+01 5.78E+01 2.44E+01 1.69E+02 4.03E+00 3.68E+02 2.86E-01 8.26E+00 7.42E-01 1.22E+02 9.44E-02 9.47E+00 4.77E+02 1.50E-05 9 Human Toxicity

Air m3/g x 1.04E+00 5.80E-01 1.71E+00 1.32E+00 2.89E+00 9.63E-02 9.32E+00 9.54E-03 2.82E+00 8.29E-02 2.20E+00 2.57E-02 5.41E-01 8.64E+00 1.97E-04 10 Human Toxicity

Water m3/g x 7.49E+00 2.90E+00 6.52E+00 6.59E+00 1.86E+01 5.15E-01 4.44E+01 3.25E-02 1.22E+00 7.66E-02 1.34E+01 2.56E-02 1.37E+00 5.35E+01 6.40E-04 11 Human Toxicity

Soil m3/g

1.08E-04 1.52E+01 2.99E+00 1.95E+01 6.71E+00 3.81E+01 1.21E+00 9.16E+01 1.08E-01 2.41E+00 1.42E+00 2.73E+01 1.20E+00 8.09E+00 1.09E+02 5.57E-03 12 Bulk Waste kg x 4.88E+00 1.34E+00 7.00E+00 3.00E+00 2.04E+01 6.27E-01 4.53E+01 3.46E-02 1.27E+00 7.12E-02 1.56E+01 x 8.01E-01 5.86E+01 X

13 Hazardous Waste kg x x x x x x x x x x x x x x x X

14 Radioactive

Waste kg x x x x x x x x x x x x x x x X

15 Slag/Ashes kg x x 2.65E-04 x 5.98E-04 x 5.94E-03 1.75E+01 x x 1.44E-03 1.92E-03 x x x X Total kg x 0.00E+00 - 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00 0.00E+00

107

108

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 35-45)

Dokumen terkait