• Tidak ada hasil yang ditemukan

AIR TANAH

III. KONDISI UMUM

4. Leakage Aquifer

Adalah suatu aquifer yang berada di bawah lapisan setengah kedap air (Semi permeable), sehingga aquifer ini diklasifikasikan juga di antara aquifer bebas dan aquifer tertekan. (Gambar 3.4).

h. Perched Aquifer : aquifer menggantung, merupakan aquifer yang mempunyai massa air tanah terpisah dari aliran induk oleh suatu lapisan yang relatif kedap air yang tidak begitu luas dan terletak di atas zona air jenuh.

Gambar 3.4. Potongan melintang beberapa aquifer (Davis and De Wiest, 1966 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2005) 3.6. Gambaran air tanah Kota Medan

Penelitian air tanah yang dilakukan masih bersifat kualitatif, namun untuk mengetahui gambaran umum, berikut penulis menguraikan secara singkat tata air tanah sebagai contoh di wilayah Medan.

3.6.1. Air tanah tak tertekan

Untuk mengetahui tata air tanah tak tertekan terdiri dari pasir, kerikil maupun pasir – lempungan yang merupakan bahan lepas hasil rombakan dari batuan yang lebih tua. Umumnya berkelulusan sedang hingga tinggi, dengan ketalan lebih dari 10 meter.

Kedudukan muka air tanah dekat permukaan, berkisar antara 0,5 – 4 m di bawah muka air tanah setempat. Aliran air tanah secara umum menuju ke pantai, dimana sungai-sungai dataran pantai sangat dipengaruhi pola kontur muka air tanah .

Air tanah tak tertekan yang tidak memenuhi persyaratan air minum, yang dicerminkan dari kandungan Cl- sebesar 600 mg/l tersebar di sepanjang dataran pantai pada jarak 2,5 km di bagian timur dan melebar hingga jarak 10 km di bagain barat. Tingginya kadar Cl- di daerah ini diyakinikarena pengaruh penyusupan air laut, hal ini di buktikan dari nilai perbandingan (R) antara klorida dengan karbonat dan bikarbonat yang terkandung dalam air tanah tak tertekan.

3.6.2 Air tanah tertekan

Untuk mengatahui tata air tanah tertekan, dipelajari segala hasil pemboran dalam yang ada di daerah penelitian dan tercatat kurang lebih sekitar 200 buah sumur bor yang hampir semuanya terletak pada Mandala air tanah dataran pantai.

Berdasyarkan hasil pemboran telah didapat bahwa Formasi Julu Rayeu dan Formasi Seurula merupakan aquifer endapan aluvium dan vulkanik

Berdasarkan telaahan hasil pemboran tersebut, kelompok aquifer endapan alivium digolongkan rendah produktivitasnya, dimana lapisan pengandung air tanah ditemukan sebagai air tanah tak tertekan ataupun semi tertekan dengan kedalama kurang dari 40 meter. (Girsang et al. 1992).

Kelompok aquifer endapan Kuarter, adalah merupakan lapisan pembawa air yang terdiri dari batuan asal gunungapi antara lain batuapung, tufa radiodasit, kerikil dan bongkah. Lapisan pembawa air dari kelompok ini dijumpai pada kedalaman beragam. Di Medan dan sekitarnya antara 50 – 150 meter terutama di daerah Binjai, Belawan antara 5 - 130 meter, sedangkan hamparan perak sampai Lubuk Pakam dan Pantai Labu dijumpai pada kedalam kurang dari 50 meter.

Di daerah Medan dan sekitarnya, sumur gali memiliki kedalaman yang bervariasi dari kedalaman 1 m hingga 8 meter di bawah muka tanah setempat, kedudukan muka air tanah antara 0.5 – 4 meter, sedangkan di wilayah bagian selatan muka air tanah lebih dari 4 meter, sementara di musim penghujan muka air tanah meningkat secara tajam mencapai 2 – 3 meter dari kedudukan semula, sehingga kedudukan muka air tanah di kota Medan dan sekitarnya dipengaruhi oleh curah hujan Aquifer di kota Medan terbagi menjadi 3 (tiga) kelompok antara lain :

1. Aquifer endapan aluvium berupa pasir dan kerikil berkelulusan sedang – tinggi, dengan ketebalan 20 – 30 meter, debit air yang dapat dihasilkan kurang dari 1 ℓ

/detik, berkedudukan muka air tanah sekitar bawah muka air tanah setempat.

2. Aquifer endapan Kwarter berupa pasir, kerikil dan Formasi Medan berkelulusan sedang – tinggi, dengan ketebalan lebih dari 50 meter, debit air yang dapat dihasilkan kurang dari 1 – 2 ℓ /detik, berkedudukan muka air tanah sekitar 5 – 7 m di bawah muka air tanah setempat.

3. Aquifer endapan Julurayeu dan Seureula berupa batu pasir dan konglomerat berkelulusan sedang – tinggi, dengan ketebalan pemboran 225 meter, debit air yang dapat dihasilkan kurang dari 10 ℓ/detik.

Aquifer yang tersusun oleh material batu pasir diperkirakan memiliki derajat kelulusan yang cukup tinggi dan apabila dipengaruhi intrusi air laut maka batu pasir akan lebih cepat terintrusi oleh air laut dibandingkan dengan material pasir atau kerikil, batu pasir bersifat lebih porous. Kemudian dengan melihat derajat kelulusan dari ketiga aquifer di atas maka aquifer endapan Julureyeu dan Seureula memilki debit air yang tertinggi dibandingkan kedua aquifer (aquifer endapan alluvium dan aquifer endapan kwarter)

Untuk kualitas air tanah ditentukan oleh lingkungan mulai dari batuan penyusun aquifer dan areal lintasan pada saat aliran air bergerak dari daerah timbulnya sampai ke tempat daerah penyimpanan cadangan air tanah atau aquifer, kualitas air tanah juga dipengaruhi oleh perilaku manusia terutama menyangkut limbah yang dihasilkan oleh aktifitas hidupnya (Hendrayana, 2002).

Air tanah tawar mengalir ke laut melewati aquifer di daerah pantai yang berhubungan dengan laut dalam keadaan alami, tetapi karena meningkatnya kebutuhan air tawar, maka aliran air tawar ke arah laut telah menurun atau bahkan sebaliknya air laut mengalir masuk ke dalam aquifer air tawar di daratan karena muka air tanah telah berada di bawah muka air laut yang disebabkan oleh pengambilan air tanah secara berlebihan, peristiwa ini dinamakan intrusi air laut (Kodoatie, 1996), karena aquifer telah dicemari air asin, maka air tidak dapat digunakan sesuai peruntukannya, dan untuk mengembalikan kondisi seperti pada awalnya sangat sulit dan membutuhkan waktu yang relatif lama.

Dari hasil analisis kimia yang diambil dari sumur gali di daerah pantai, maka diperkirakan kualitas air tanah yang rendah dengan ditujukan berupa rasa asin, selanjutnya didapatkan kadar klorida yang lebih besar dari 600 mg/L. Maka diperkirakan

telah terjadi penyusupan air laut di sepanjang pantai 4.5 – 8 km di bagian Utara Medan, kemudian melebar 6.5 – 12 km di bagian barat dan ke arah timur sampai Percut Sei Tuan berjarak 0.5 – 2 km (Girsang dan Siddik, 1992).

3.6 Kualitas Air Tanah

Untuk aspek kualitas, kata kunci permasalahan utama adalah pencegahan polusi atau lebih spesifik kita sebut pencemaran air, mendefinisikan pencemaran air sebagai: "Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya".

Perubahan terhadap kualitas air tanah sangat berpengaruh terhadap adanya pertumbuhan penduduk, industri, serta pembangunan lain yang memanfaatkan sumberdaya air tanah. baik dari kegiatan domestik maupun dari sektor perindustrian (industri berskala besar, sedang, maupun yang berskala home industri) prinsip bisnis yang mengejar keuntungan tinggi akan berakibat pada pola pikir menekan biaya produksi semaksimal mungkin, termasuk penyediaan sarana untuk pengendalian limbah sebelum dibuang ke perairan bebas/ badan air maupun lahan terbuka.

Dokumen terkait