• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE

Dalam dokumen BALAI PENELITIAN DAN OBSERVASI LAUT (Halaman 35-42)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

3.2 CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

3.2.3 LEARNING AND GROWTH PERSPECTIVE

Capaian kinerja Balitbang KP pada Learning and Growth Perspective berasal dari 4 sasaran strategis diantaranya:

SASARAN STRATEGIS 6 : Tersedianya ASN IPTEK teknologi KP

Nilai sasaran strategis tersedianya ASN IPTEK teknologi KP Triwulan III TA 2015 adalah 12%, yang terdiri 1 (satu) indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis tersebut yaitu jumlah SDM BPOL yang dikembangkan kompetensinya.

IKU 13 : Jumlah SDM BPOL yang dikembangkan kompetensinya

Definisi dari IKU tersebut adalah SDM BPOL baik PNS maupun tenaga kontrak yang menempuh pendidikan gelar (tugas belajar), non gelar (diklat fungsional tertentu) dan pelatihan (kursus teknis) dalam rangka untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi untuk menunjang tugas dan fungsinya. IKU ini menggunakan klasifikasi

maximize dimana capaian yang diharapkan adalah melebihi target yang ditetapkan. Adapun

capaian IKU ini adalah sebagai berikut:

Tabel 23. Capaian Jumlah SDM BPOL yang Dikembangkan Kompetensinya

IKU Target Tahunan Target TW 3 Realisasi Tahunan Realisasi TW 3 Nilai Sasaran Strategis / NSS (Toleransi 0%) Jumlah SDM BPOL yang

dikembangkan kompetensinya

25 6 31 26

SDM BPOL baik PNS, CPNS maupun tenaga kontrak yang menempuh pendidikan gelar (tugas belajar dalam dan luar negeri) yang sedang berjalan dan baru, non gelar (diklat prajabatan, fungsional tertentu/diklatpim), dan pelatihan (kursus teknis dalam dan luar negeri) dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan kompetensi untuk menunjang tugas dan fungsinya. IKU ditetapkan untuk mengetahui jumlah ASN yang dikembangkan kompetensinya untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi/instansi. Berdasarkan tabel 23 dapat diketahui bahwa jumlah SDM BPOL yang dikembangkan kompetensinya pada Triwulan III tahun 2015 adalah sebanyak 26 orang. Dimana jumlah tersebut adalah pegawai yang mengikuti pelatihan selam sebanyak 4 orang pegawai, Diklatpim IV sebanyak 1 orang pegawai, pelatihan MATLAB sebanyak 11 orang pegawai dan 30 orang pegawai yang mengikuti pelatihan stastistik. Total pegawai yang dikembangkan kompetensinya sampai dengan triwulan III ini adalah sebanyak 31 orang.

SASARAN STRATEGIS 7 : Tersedianya informasi yang valid, handal dan mudah diakses

Sasaran strategis tersedianya informasi yang valid, handal dan mudah diakses terdiri dari 1 (satu) indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis tersebut yaitu indeks pemanfaatan informasi kelautan dan perikanan.

28

IKU 14 : Indeks pemanfaatan informasi kelautan dan perikanan

IKU ini bertujuan untuk mengetahui informasi KP yang telah menggunakan teknologi informasi dalam penyebarannya, dimana menggunkan klasifikasi maximize dimana capaian yang diharapkan adalah melebihi target yang ditetapkan. Adapun capaian IKU ini adalah sebagai berikut:

Tabel 24. Capaian Indeks Pemanfaatan Informasi KP (%)

IKU Target Tahunan Target TW 3 Realisasi Tahunan Realisasi TW 3 Nilai Sasaran Strategis / NSS (Toleransi 0%) Indeks pemanfaatan informasi KP 75% 75% 51,80% 65,37%

Indeks pemanfaatan informasi KP dapat didefinisikan sebagai data mengenai persentase jumlah pengunjung website yang melakukan download data dan informasi BPOL pada tahun berjalan atau dapat juga didefinisikan sebagai jumlah informasi yang berupa artikel, jurnal, bahan presentasi, laporan kegiatan, laporan ringkas, peta, data oseanografi yang dihitung berdasarkan yang diupload dan didownload pada tahun anggaran berjalan di web site BPOL.

Indeks pemanfaatan informasi KP (%) selama Triwulan III Tahun 2015 sebesar 65,37% dengan jumlah data yang diupload sebanyak 238 data yang terdiri dari peta prakiraan daerah penangkapan ikan (PPDPI) di Laut Sawu, Lombok, Peta PDPI Nasional, Peta PDPI PPN, Peta PDPI Tuna, Pelikan Cakalang, Pelikan Lemuru dan berita. Sedangkan jumlah pengunjung berjumlah 12168 orang pengunjung. Indeks pemanfaatan informasi KP tiap triwulannya mengalami fluktuasi. Pada triwulan III ini, indeks pemanfaatan informasi KP mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan II sebesar 63,36%. Rata-rata indeks pemanfaatan informasi KP sampai dengan triwulan III ini adalah sebesar 69,06%. Indeks ini masih dibawah dari target yang ingin dicapai.

SASARAN STRATEGIS 8 : Terwujudnya Reformasi Birokrasi

Capaian kinerja BPOL pada sasaran strategis terwujudnya reformasi birokrasi selama Triwulan III adalah 25%, yang berasal dari 4 (empat) indikator kinerja, yaitu

IKU 15 : Indeks Reformasi Birokrasi BPOL

Reformasi Birokrasi merupakan suatu proses untuk merubah bentuk birokrasi yang lama dengan bentuk birokrasi yang baru sehingga aparatur negara mampu bekerja secara lebih professional, efektif, dan akuntabel dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Penilaian atas implementasi RB di KKP dilaksanakan melalui Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) secara online oleh masing-masing unit yang telah di verifikasi oleh inspektorat jenderal. Upaya yang dilakukan terfokus pada:

a. Panel I PMPRB online b. Panel II PMPRB omline c. Panel III PMPRB online

Untuk mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik (good governance) dilakukan melalui dalam 8 (delapan) Area Perubahan Reformasi Birokrasi, yaitu:

29 a. Organisasi; yang tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing);

b. Tata Laksana; sistem, proses, dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, terukur, dan sesuai dengan prisip-prinsip good governance;

c. Peraturan Perundang-undangan; regulasi yang tertib, tidak tumpang tindih, dan kondusif;

d. SDM Aparatur; SDM aparatur yang berintegritas, netral, kompeten, kapabel, professional, berkinerja tinggi, dan sejahtera;

e. Pengawasan; meningkatnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN;

f. Akuntabilitas; meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi;

g. Pelayanan Publik; Pelayanan prima yang sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat h. Pola Pikir dan Budaya Kerja Aparatur; birokrasi dengan integritas dan kinerja

yang tinggi.

Tabel 25. Capaian Indeks Pemanfaatan Informasi KP (%)

IKU Target Tahunan Target TW 3 Realisasi Tahunan Realisasi TW 3 Nilai Sasaran Strategis / NSS (Toleransi 0%) Indeks RB BPOL 80 0 0 0

Profil PMPRB yang baik apabila komponen hasil lebih tinggi daripada komponen pengungkit. Komponen pengungkit adalah berbagai kriteria dan berbagai pendekatan yang telah dilakukan oleh suatu unit kerja untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Komponen hasil adalah : 1) capaian yang diperoleh dari hasil pengukuran atas persepsi pegawai dan masyarakat terhadap suatu unit kerja, 2) pengukuran atas indikator kinerja internal dan eksternal yang menunjukkan seberapa baik suatu unit kerja mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan.

Beberapa hal yang harus diperbaiki untuk peningkatan reformasi birokrasi adalah penerapan program RB BPOL secara menyeluruh dan dilakukan monev pelaksanaan RB BPOL secara berkala. Nilai capaian Indeks RB BPOL sampai dengan Triwulan III Tahun 2015 belum terealisasi, hal ini disebabkan karena penilaian masih dilakukan oleh Inspektorat Jenderal.

IKU 16 : Nilai/skor SAKIP BPOL

Nilai SAKIP merupakan penilaian atas akuntabilitas kinerja KKP. Akuntabilitas kinerja yaitu perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan yang telah diamanatkan para pemangku kepentingan dalam rangka mencapai misi organisasi secara terukur dengan sasaran/target kinerja yang telah ditetapkan melalui la[poran kinerja instansi pemerintah yang disusun secara periodik.

30

Tabel 26. Capaian Nilai/Skor SAKIP BPOL

IKU Target Tahunan Target TW 3 Realisasi Tahunan Realisasi TW 3 Nilai Sasaran Strategis / NSS (Toleransi 0%)

Nilai/skor SAKIP BPOL 80 0 0 0

Tujuan dari pengukuran nilai SAKIP ini adalah untuk mendapatkan nilai akuntabilitas kinerja instansi dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintah yang lebih berdaya guna, bersih dan bertanggung jawab serta mengukur kemampuan pemerintah dalam pencapaian visi, misi dan tujuan organisasi.

Penilaian akuntabilitas kinerja BPOL dilakukan oleh Inspektorat Jenderal selaku aparat pengawas internal pemerintah dengan indikator-indikator sebagai berikut:

a) Perencanaan Kinerja bobot 35%; b) Pengukuran Kinerja bobot 20%; c) Pelaporan Kinerja bobot 15%; d) Evaluasi kinerja bobot 10%; e) Pencapaian Kinerja bobot 20%.

IKU 17 : Indeks kepuasan masyarakat terhadap BPOL

Data dan informasi tentang tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif atas pendapat masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari aparatur penyelenggaran pelayanan public dengan membandingkan antara harapan dan kebutuhnannya. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kinerja unit pelayanan secara berkala sebagai bahan untuk menetapkan kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan public selanjutnya. Bagi masyarakat, Indeks Kepuasan Masyarakat dapat digunakan sebagai gambaran tentang kinerja pelayanan unit yang bersangkutan. Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dihitung dari nilai rata-rata tertimbang masing-masing unit pelayanan dalam penghitungan IKM terhadap 14 unsur pelayanan yang dikaji setiap unsure pelayanan memiliki unsur penimbang yang sama dengan rumus sebagai berikut:

Untuk memperoleh nilai IKM unit pelayanan di gunakan nilai pendekatan rata-rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut:

Untuk memudahkan nilai interpretasi terhadap nilai IKM (25-100) maka hasil penilaian tersebut dikonversikan dengan nilai dasar 25, dengan rumus :

31

Tabel 27. Capaian Indeks Kepuasan Masyarakat Terhadap BPOL

IKU Target Tahunan Target TW 3 Realisasi Tahunan Realisasi TW 3 Nilai Sasaran Strategis / NSS (Toleransi 0%) Indeks kepuasan masyarakat

terhadap BPOL 70,1 70,1 78,60 78,60

Kriteria penilaian kepuasan terhadap masyarakat meliputi pelaksanaan reformasi birokrasi, implementasi peraturan perundang-undangan, implementasi pelayan dan kenyamanan lingkungan kerja, implementasi SOP, kedisiplinan kerja pegawai dan perilaku pegawai, kinerja pegawai, pengelolaan keuangan, ketersediaan sarana dan prasarana.

Unsur pelayanan yang dianggap memuaskan adalah kemampuan petugas dalam memberikan pelayanan (rata-rata 3,27). begitu juga dengan kesamaan persyaratan pelayanan dengan jenis pelayanannya dan keadilan untuk mendapatkan pelayanan (rata-rata 3,03 dan 3,04). Diantara keempat belas unsur pelayanan, terdapat satu unsure pelayanan dengan nilai paling rendah dan masih perlu diperbaiki agar tingkat kepuasan masyarakat eksternal BalitbangKP dapat terpenuhi yaitu tentang kecepatan pelayanan (rata-rata 2,24).

Pada bulan Agustus 2015 telah dilaksanakan pengukuran kepuasan masyarakat melalui survey indeks kepuasan masyarakat dengan keseluruhan responden sebanyak 15 orang responden. Pengukuran capaian indeks kepuasan masyarakat terhadap Balitbang KP dilakukan dengan menggunakan panduan sesuai Keputusan KEMANPAN RB nomor : KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang pedoman umum penyusunan indeks kepuasan masyarakat unit pelayanan instansi pemerintah. Capaian indeks kepuasan masyarakat terhadap BPOL Triwulan III Tahun 2015 adalah 78,60.

IKU 18 : Jumlah usulan unit kerja berstatus Wilayah Bebas Korupsi (WBK)

Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) adalah sebutan atau predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja pada zona integritas yang memenuhi syarat indikator mutlak dan memperoleh hasil penilaian indikator operasional diantara 80 dan 90. Tujuan dari IKU ini adalah menjalankan instruksi presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang percepatan pemberantasan korupsi secara optimal oleh seluruh instansi pemerintah di pusat dan daerah melalui implementasi instruksi ke-5 yaitu melaksanakan program wilayah bebas dari korupsi (WBK) kepada seluruh pimpinan instansi pemerintah di pusat dan daerah.

Untuk mengukur Status Wilayah bebas Korupsi pada satker dilakukan berdasarkan PERMEN PAN RB No 20 tahun 2012 :

1. Indikator Mutlak

Indikator ini berupa minimum requirement yang harus dipenuhi sebagai pre

requisite untuk penilaian selanjutnya berdasarkan indikator operasional, dalam

arti bahwa apabila ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi, maka unit kerja yang bersangkutan dinyatakan gugur sebagai calon WBK dengan Indikator mutlak meliputi:

a. Nilai minimum indeks integritas berdasarkan penilaian KPK;

b. Nilai minimum indeks kepuasan masyarakat berdasarkan penilaian kementerian PAN dan RB;

32 c. Jumlah maksimum kerugian negara (KN) yang belum diselesaikan (%)

berdasarkan penilaian BPK;

d. Jumlah maksimum temuan in-efektif (%) berdasarkan penilaian APIP; e. Jumlah maksimum temuan in-efisien (%) berdasarkan penilaian APIP;

f. Persentase maksimum jumlah pegawai yang dijatuhi hukuman disiplin karena penyalahgunaan pengelolaan keuangan berdasarkan keputusan Pejabat Pembina Kepegawaian;

g. Persentase maksimum jumlah pengaduan masyarakat yang tidak diselesaikan berdasarkan hasil pemeriksaan APIP;

h. Persentase maksimum jumlah pegawai yang dijatuhi hukuman karena tindak pidana korupsi berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

2. Indikator Operasional

a. Indikator utama program pencegahan korupsi (komitmen pimpinan) dengan bobot 60%, terutama meliputi unsur-unsur :

Penandatanganan Dokumen Pakta Integritas;

LHKPN;

Akuntabilitas kinerja;

Laporan keuangan;

Kode etik;

Sistem perlindungan pelapor (whistle blower system);

Program pengendalian gratifikasi;

Kebijakan penanganan benturan kepentingan (conflict of interest);

Program inisiatif anti korupsi;

Kebijakan pembinaan purna tugas (Post employment policy);

Pelaporan transaksi keuangan yang tidak wajar oleh PPATK.

b. Indikator penunjang dengan bobot 40%, terutama meliputi unsur-unsur :

Promosi jabatan secara terbuka;

Rekruitment secara terbuka;

Mekanisme pengaduan masyarakat;

e-Procurement;

Pengukuran kinerja individu;

Keterbukaan informasi publik.

Tabel 28. Capaian Jumlah Usulan Unit Kerja Berstatus Wilayah Bebas Korupsi (WBK)

IKU Target

Tahunan Target TW 3 Realisasi Tahunan Realisasi TW 3 Nilai Sasaran Strategis / NSS (Toleransi 0%)

Jumlah usulan unit kerja berstatus

Wilayah Bebas Korupsi (WBK) 80 80 71,69 71,69

Untuk dapat ditetapkan sebagai WBK, nilai tertimbang kedua aspek indikator operasional harus lebih besar dari 80. Penilaian terhadap indikator mutlak maupun indikator operasional belum dilakukan dan akan dicapai pada akhir tahun, sehingga capaian untuk IKU ini masih 0%. Akan tetapi jika dilihat dari progress fisik maka IKU ini telah mencapai 100% yaitu dengan melakukan pengusulan

33 satker yang berstatus Wilayah Bebas Korupsi. BPOL merupakan salah satu satker yang dijadikan sebagai unit kerja di bawah Balitbang KP yang dijadikan pengukuran Wilayah Bebas Korupsi.

Menindaklanjuti Peraturan Menteri Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK/WBBM) di Lingkungan Instansi Pemerintah, dan kKeputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 100/KEPMEN-KP/SJ/2015 di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), telah dilaksanakan penilaian mandiri terhadap unit kerja yang telah diusulkan mendapat predikat WBK/WBBM di lingkungan KKP pada tanggal 18 – 21 Agustus 2015 dengan hasil:

1. 2 (dua) unit kerja yang sebelumnya telah mendapat predikat WBK pada tahun 2014 dapat diusulkan untuk dilakukan evaluasi oleh Tim Penilai Nasional dari Kementerian PAN&RB untuk mendapatkan predikat WBBM;

2. 8 (delapan) unit kerja dapat diusulkan untuk dilakukan review oleh Tim Penilai Nasional dari Kementerian PAN&RB untuk mendapatkan predikat WBK;

3. 3 (tiga) unit kerja tidak dapat diusulkan untuk dilakukan review oleh Tim Penilai Nasional dari Kementerian PAN&RB.

Hasil penilaian mandiri terhadap unit kerja yang diusulkan mendapat predikat menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) menyatakan bahwa Balai Penelitian dan Observasi Laut tidak dapat

diusulkan menjadi WBK dengan total nilai 71,69.

SASARAN STRATEGIS 9 : Terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien

Nilai sasaran strategis terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien triwulan I adalah 11%. Indikator kinerja yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan sasaran tersebut terdiri dari 1 (satu) IKU yaitu :

IKU 19 : Nilai efisiensi anggaran (%)

IKU ini didefinisikan sebagai persentase pelaksanaan anggaran dibanding dengan alokasi anggaran. Tujuan dari IKU ini adalah untuk menghasilkan output anggaran tertentu dengan input anggaran serendah-rendahnya, atau dengan input anggaran tertentu mampu menghasilkan output sebesar-besarnya. IKU ini menggunakan klasifikasi maximize, dimana capaian yang diharapkan adalah melebihi target yang ditetapkan. Formula yang digunakan untuk menghitung nilai efisiensi anggaran adalah sebagai berikut:

Keterangan:

E : Efisiensi RAK : Realisasi anggaran per keluaran RVK : Realisasi volume keluaran PAK : Pagu anggaran per keluaran TVK : Target volume keluaran n : Jumlah jenis keluaran

Dalam dokumen BALAI PENELITIAN DAN OBSERVASI LAUT (Halaman 35-42)

Dokumen terkait