• Tidak ada hasil yang ditemukan

Learning and Growth Perspektive

Dalam dokumen BAB III AKUNTABILITAS (Halaman 27-44)

Sasaran Strategis 6

Terwujudnya aparatur sipil negara yang kompeten, professional dan berintegritas

Capaian kinerja Stasiun KIPM Cirebon pada Learning and Growth Perspective berasal dari empat sasaran strategis, yaitu terwujudnya aparatur sipil Negara yang kompeten, profesional dan berintegritas, tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses, terwujudnya pranata dan kelembagaan birokrasi yang efektif, efisien dan beroriantasi pada layanan prima, serta terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel.

Nilai sasaran strategis terwujudnya aparatur sipil negara Stasiun KIPM Cirebon yang kompeten, profesional dan berintegritas pada tri wulan I tahun 2020 belum dilakasankan karena frekuensi pelaksanaanya tahunan

IK20. Indeks Profesionalisme ASN

Profesionalitas adalah kualitas para anggota profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk melakukan tugas-tugasnya. Indeks Profesionalitas ASN adalah ukuran statistik yang menggambarkan kualitas ASN berdasarkan kesesuaian kualifikasi, kompetensi, kinerja dan kedisiplinan pegawai ASN dalam melaksanakan tugas jabatan (Permen PAN dan RB No. 38 Tahun 2018). Nilai Indeks Profesionalitas ASN BKIPM merupakan gambaran kualitas profesionalitas ASN BKIPM yang diukur setiap tahun oleh Biro SDMA, Sekretariat Jenderal dengan mengacu pada Peraturan Menteri PAN dan RB No. 38 Tahun 2018 tentang Peraturan Indeks Profesionalitas Aparatur Sipil Negara.

Berdasarkan Peraturan Badan Kepegawaian Negara RI Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pedoman Tata Cara dan Pelaksanaan Pengukuran Indeks Profesionalitas Aparatur Sipil Negara, Indeks Profesionalitas ASN adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur secara kuantitatif tingkat profesionalitas pegawai ASN yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar penilaian dan evaluasi dalam upaya pengembangan profesionalisme ASN.

Untuk menghitung indeks profesionalitas ASN ini, pengolahan data diambil dari database kepegawaian SIMPEG Online KKP dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

1. Nilai diukur setiap tahun dengan menggunakan 4 (empat) dimensi, meliputi:

a.Kualifikasi b.Kompetensi c.Kinerja d.Disiplin

2. Kualifikasi diukur dari indikator riwayat Pendidikan formal terakhir yang telah dicapai,meliputi:

a.Pendidikan S-3 (Strata-Tiga b.Pendidikan S-2 (Strata-Dua)

c.Pendidikan S-1 (Strata-Satu)/ D - 4(Diploma empat) d.Pendidikan D-3 (Diploma-Tiga)/ SM(Sarjana Muda)

e.Pendidikan D-1 (Diploma-Satu)/D-2(Diploma-Dua)/ SLTA Sederajat f.Pendidikan di bawah SLTA

Dengan formula sebagai berikut:

3. Kompetensi diukur dari indikator riwayat

pengembangan kompetensi yang telah dilaksanakan yang meliputi: Diklat Kepemimpinan, Diklat Fungsional/Diklat Teknis, Diklat 20 Jam Pelajaran (JP) satu tahun terakhir dan Seminar/Workshop/ Konferensi/Setara satu tahun terakhir dengan formula sebagai berikut:

4. Kinerja diukur dari indikator penilaian prestasi kerja PNS, yang meliputi:

a. Sasaran Kerja Pegawai (SKP), dan

b. Perilaku Kerja, dengan formula sebagai berikut:

5. Disiplin diukur dari indikator riwayat penjatuhan hukuman disiplin yang pernah dialami yang meliputi: a. Tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin, dan b. Pernah dijatuhi hukuman disiplin (ringan, sedang, berat), dengan formula sebagai berikut:

Sumber data pengukuran Indeks Profesionalitas ASN dapat diperoleh dari beberapa sumber yang tervalidasi meliputi:

a. Kualifikasi, dihitung dari kondisi tingkat Pendidikan terakhir dari pegawai dengan ketentuan sesuai SK Pangkat Terakhir atau SK Pencantuman Gelar yang sudah di Up date pada aplikasi SIMPEG Online KKP

b. Kompetensi, diolah datanya dari aplikasi SIMPEG Online KKP dengan ketentuan sebagai berikut:

• Perhitungan nilai DIKLAT PIM, Diklat Fungsional/Teknis, Diklat 20 JP dan seminar diwajibkan sesuai tingkat jabatannya

• Pejabat Struktural wajib sudah melaksanakan Diklat PIM sesuai dengan level terakhirnya, Diklat 20 JP dan Seminar dalam satu tahun terakhir dengan total bobot yaitu 40.

Indeks Profesionalitas ASN BKIPM dihitung dengan merata-ratakan nilai dari seluruh komponen. Target kinerja Indeks Profesionalitas ASN BKIPM pada tahun 2019 adalah 71% dengan nilai realisasi 73,48% atau mencapai 103,49%. Realisasi Indeks Profesionalitas ASN BKIPM tahun 2019 adalah sebesar 73,48 dengan capaian nilai per dimensi yaitu dimensi disiplin sebesar 4,94, dimensi kinerja sebesar 23,95, dimensi kompetensi sebesar 31,11 dan dimensi kualifikasi sebesar 13,62.

Penyumbang nilai terbesar dalam pencapaian nilai Indeks Profesionalitas BKIPM yaitu dimensi kompetensi. Dimensi kompetensi diukur dengan menggunakan riwayat pengembangan kompetensi. Adapun kendala yang dihadapi untuk pencapaian IKU ini salah satunya adalah terkait sisi peremajaan database kepegawaian. Dimana masih banyak data yang belum diperbaharui secara berkala oleh pengelola aplikasi ke pegawaian SIMPEG Online KKP. Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah dari dimensi kompetensi. Dimana masih banyak pejabat struktural yang belum melaksanakan diklatpim sesuai levelnya, diklat teknis 20 Jam Pelajaran (JP) dan seminar serta untuk staf pun masih banyak yang belum melaksanakan diklat 20 JP dan mengikuti seminar. Untuk mengantisipasi kendala-kendala tersebut, beberapa upaya telah dilakukan di antaranya dengan terus melakukan updating secara berkala, melakukan koordinasi dan bimtek updating data SIMPEG, serta mengembangkan aplikasi SIMPEG secara lebih user friendly dengan Pusdatin.

Sedangkan dari dimensi kompetensi, upaya koordinasi telah dilakukan dengan Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP untuk merencanakan pelatihan bagi pegawai BKIPM, diklat pelatihan dan pendidikan bagian pegawai.

Tabel Target dan Realisasi IK 20 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator

Sasaran Strategis 7

Tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses

Nilai sasaran strategis tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan karena pelaksanaan kegiatannya tahunan dan dapat diuraikan sebagai berikut:

IK21. Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

Sistem manajemen pengetahuan merupakan suatu rangkaian yang memanfaatkan teknologi informasi yang dugunakan oleh instansi pemerintah atau swasta untuk mengidentfikasi, menciptakan, menjelaskan dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali. Indikator persentase unit kerja BKIPM yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar merupakan cascading adopsi langsung dari level 0 KKP. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggunakan teknologi informasi Bitrix24 dalam penerapan manajemen pengetahuan di lingkungan KKP dengan alamat kinerjakkp.bitrix24.com.

Tabel Target dan Realisasi IK 21 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator

Sasaran Strategis 8

Terwujudnya pranata dan kelembagaan birokrasi BKIPM yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima

Nilai sasaran strategis terwujudnya birokrasi yang efektif, efisien dan beroriantasi pada layanan prima pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan dikarenakan pelaksanan kegiatan ini bersifat tahunan dan dapat diuraikan sebagai berikut:

IK22. Nilai kinerja reformasi birokrasi

Nilai kinerja reformasi birokrasi BKIPM merupakan nilai yang diperoleh dari proses penilaian baik secara mandiri oleh Inspektorat Jenderal melalui Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) maupun penilaian dari Kementerian PAN dan RB. Penilaian ini dilakukan terhadap pelaksanaan delapan area perubahan Reformasi Birokrasi. Penilaian Kinerja Reformasi Birokrasi BKIPM merupakan nilai yang diperoleh dari proses Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) secara internal dengan Inspektorat Jenderal selaku evaluator. Kategori Penilaian ini dilakukan terhadap pelaksanaan delapan area perubahan Reformasi Birokrasi dengan kategori hasil seperti disajikan pada Tabel dibawah ini

Tabel Target dan Realisasi IK 22 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Nilai

Kinerja Reformasi Birokrasi

- - - A (85) - A (81) -

IK23. Nilai Maturitas SPIP

Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemeritah (SPIP) di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus terus ditingkatkan kematangannya (maturitasnya) secara menyeluruh dan terintegrasi untuk mencapai tujuan, yaitu memberikan keyakinan atas tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

Tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP adalah tingkat kematangan/kesempurnaan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah dalam mencapai tujuan pengendalian intern di lingkungan unit kerja. Penilaian tingkat maturitas SPIP ini mengacu pada Peraturan Kepala BPKP Nomor 4/2016 tentang Pedoman Penilaian dan Strategi Peningkatan Maturitas SPIP. Nilai Maturitas SPIP terbagi dalam enam level, yaitu Level 0 (belum ada), Level 1 (rintisan), Level 2 (berkembang), Level 3 (terdefinisi), Level 4 (terkelola dan terukur), dan Level 5 (optimum) seperti disajikan pada tabel dibawah ini.

penilaian dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Hasil penilaian dari tim BPKP terhadap implementasi Sistem Pengendalian Intern (SPI) di lingkungan BKIPM. Pada tri wulan I tahun 2020 Nilai Maturitas SPIP belum dilaksanakan dikarenakan rencana pelaksanaan kegiatanya bersifat tahunan.

Tabel Target dan Realisasi IK 23 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Nilai

Maturitas SPIP

- - - Level 3 - Level 3 -

IK24. Nilai AKIP

Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah(SAKIP) merupakan penerapan manajemen kinerja pada sektor publik yang sejalan dan konsisten dengan penerapan reformasi birokrasi, yang berorientasi pada pencapaian outcomes dan

upaya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Usaha-usaha penguatan akuntabilitas kinerja dan sekaligus peningkatannya, dilakukan antara lain melalui Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP).

Evaluasi dan penilaian SAKIP dilakukan atas komponen-komponen SAKIP sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pada kedua peraturan tersebut disebutkan bahwa komponen SAKIP terdiri dari rencana strategis, perjanjian kinerja, pengukuran kinerja, pengelolaan data kinerja, pelaporan kinerja, dan reviu dan evaluasi kinerja. Sedangkan pada tingkat eselon I KKP, penilaian terhadap SAKIP dilakukan oleh Itjen KKP. Pelaksanaan indicator kinerja Nilai AKIP pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan dikarenakan pelaksanaanya bersifat tahunan.

Tabel Target dan Realisasi IK 24 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator

Terkelolanya Anggaran Pembangunan Secara Efisien Dan Akuntabel

IK25. Nilai Kinerja Pelaksanaan Anggaran

IKPA adalah indikator yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan untuk mengukur kualitas kinerja pelaksanaan anggaran belanja Kementerian Negara/Lembaga dari sisi kesesuaian terhadap perencanaan, efektivitas pelaksanaan anggaran, efisiensi pelaksanaan anggaran, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Nilai ini diperoleh dari data input dan output setiap Satuan Kerja lingkup BKIPM didalam aplikasi OMSPAN Kementerian Keuangan. Cara menghitung indikator tersebut dengan menggunakan Peraturan Menteri Keuangan No. 195/PMK.05/2018 tentang Monev Pelaksanaan Anggaran Belanja K/L. Evaluasi kinerja pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a Permenkeu 195/2018 diwujudkan dalam bentuk pengukuran kualitas kinerja menggunakan IKPA. Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) merupakan suatu ukuran kuantitatif yang mencerminkan aspek teknis dan administratif dan tata kelola pelaksanaan anggaran yang dilakukan oleh satker K/L.

IKPA dapat dijadikan alat managerial untuk mendukung ketercapaian output (output delivery) atas penggunaan anggaran pemerintah secara tepat waktu dan tepat sasaran. Pengukuran dan evaluasi kinerja.

Pengukuran capaian Indikator Pelaksanaan Kegiatan Anggaran dilakukan atas penilaian dari berbagai aspek yaitu :

1. Revisi DIPA

a. Jenis revisi anggaran yang diperhitungkan adalah revisi dalam kewenangan pagu tetap (tidak masuk adalah revisi dalam kewenangan pagu berubah dan revisi administratif);

b. Frekuensi revisi hanya diperkenankan 1x dalam rentang triwulanan. Apabila dalam satu triwulan akan ada 2x revisi, maka revisi yang kedua agar diajukan pada triwulan berikutnya;

2. Deviasi Halaman III DIPA

a. Halaman III DIPA memuat Rencana Penarikan Dana (RPD) per bulan sepanjang tahun anggaran berjalan atas pelaksanaan anggaran yang dilakukan pada suatu satker;

b. Validitas dan keakuratan RPD pada Halaman III DIPA sangat penting untuk menjaga likuiditas Kas;

c. Negara guna memenuhi kebutuhan penyediaan dana bagi pencairan anggaran atas suatu DIPA;

d. Keakuratan Deviasi Halaman III pada IKPA dihitung untuk rencana yang dieksekusi sampai dengan bulan November tahun anggaran berjalan.

3. Pengelolaan UP

a. SPM GUP merupakan sarana pertanggungjawaban belanja atas penggunaan UP pada Bendahara Pengeluaran;

b. Jenis UP yang diperhitungkan dalam IKPA adalah UP Tunai (tidak termasuk UP yang menggunakan Kartu Kredit Pemerintah);

c. Pertanggungjawaban UP tepat waktu sangat penting agar belanja dapat segera dibebankan pada DIPA satker masing-masing sebagai realisasi anggaran.

4. LPJ Bendahara

a. LPJ Bendahara Pengeluaran merupakan sarana pertanggung jawaban atas uang yang dikelolanya;

b. LPJ dibuat oleh bendahara setiap bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya atau hari kerja sebelumnya jika tanggal 10 adalah hari libur kepada KPPN;

c. Penyampaian LPJ dilakukan dengan menu upload pada Aplikasi SPRINT, dan terhitung sejak Satker pertama kali melalukan upload tersebut.

5. Penyampaian Data Kontrak

a. Kontrak yang dihitung pada IKPA merupakan kontrak dengan nilai diatas Rp 200 Juta (bukan hasil pengadaan langsung menurut batasan Perpres No. 16/2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

b. ADK kontrak maksimal disampaikan ke KPPN 5 hari kerja sejak tanggal tanda tangan kontrak sampai dengan tanggal penyampaian/konversi di KPPN.

6. Penyelesaian Tagihan

a. Indikator ini diukur berdasarkan ketepatan waktu penyelesaian tagihan kontraktual (SPM LS Kontraktual Non-Belanja Pegawai) yang ADK nya telah disampaikan ke KPPN (dengan nilai kontrak diatas Rp 200 Juta);

b. Penyelesaian tagihan dihitung dengan ketentuan selambat-lambatnya selama 17 hari kerja setelah BAST/BAPP, satker telah diterbitkan SPM tagihan dimaksud ke KPPN.

7. Penyerapan Anggaran

a. Indikator ini dihitung dari pemenuhan realisasi anggaran secara proporsi penyerapan anggaran pada setiap triwulan: Triwulan I (15%), Triwulan II (40%),(60%), dan(90%).

b. Pagu anggaran pembagi diperhitungkan sebagai pagu efektif, dimana pagu anggaran DIPA dikurangi dengan pagu yang masih diblokir.

8. Retur SP2D

a. Indikator ini dihitung dari rasio SP2D yang diretur dengan jumlah SP2D total yang telah terbit.

b. Semakin sedikit SP2D yang diretur, maka indikator ini semakin bagus.

9. Perencanaan Kas

a. Indikator ini dihitung dari rasio ketepatan waktu penyampaian renkas/RPD Harian yang disampaikan ke KPPN untuk jenis transaksi besar (> Rp 1 Miliar).

b. Renkas tepat waktu akan mendukung terwujudnya likuiditas Kas Negara yang terencana dan terkendali.

10. Pengembalian/ Kesalahan SPM

a. Indikator ini dihitung dari besaran/ jumlah SPM yang terdapat kesalahan secara substantif dan dikembalikan oleh KPPN.

b. Pengembalian SPM secara substantive biasanya disebabkan oleh kesalahan pengisian data supplier, sehingga SPM harus diperbaiki oleh Satker.

c. Pengembalian SPM berpotensi menyebabkan tagihan tidak dapat dibayarkan secara tepat waktu.

11. Pagu Minus

a. Pagu Minus dihitung akhir tahun () untuk sesuai jenis belanja sampai dengan level 6 digit/akun.

b. Pagu minus dapat terjadi akibat kekurangan anggaran maupun karena pergeseran akun (revisi POK) yang belum dilakukan penyamaan data/revisi ke Kanwil DJPb.

12. Dispensasi SPM

a. Dispensasi SPM dihitung berdasarkan jumlah SPM yang terlambat disampaiakan melewati batasbatas akhir SPM pada akhir tahun anggaran.

b. Dikenakan penalti nilai sesuai dengan rentang SPM yang mendapat dispensasi.

Realisasi indikator ini pada tri wulan I tahun 2020 adalah 80% dari target 15%.

Tercapainya realisisasi indikator ini karena telah dilakukan tindak lanjut atas beberapa aspek yang dinilai, antara lain:

1. Revisi DIPA

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Satker lingkup BKIPM dihimbau agar sangat selektif dalam melakukan pergeseran anggaran dalam revisi DIPA (pagu tetap).

• Satker lingkup BKIPM agar dapat mengelola dan menghimpun kebutuhan revisi anggaran untuk kemudian dapat dijadwalkan dengan frekuensi revisi yang akan diajukan baik kepada DJA maupun Kanwil DJPb sebanyak 1 kali dalam 1 triwulan.

2. Deviasi Halaman III DIPA

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian pada indikator ini, seluruh Satker lingkup BKIPM yang memiliki deviasi tinggi, agar melakukan penyesuaian rencana kegiatan dan realisasi anggaran dengan mengajukan revisi administratif penyesuaian Halaman III DIPA ke Kanwil DJPb pada triwulan berjalan.

• Satker lingkup BKIPM agar lebih disiplin dalam melaksanakan kegiatan dan pencairan dananya, dan menjadikan RPD pada Halaman III DIPA sebagai plafon pencairan dana bulanan secara internal pada Satker.

3. Pengelolaan UP

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Seluruh satker lingkup BKIPM dihimbau untuk memperhatikan periode pengajuan SPM GUP dari SP2D UP/GUP terakhir paling lambat dalam rentang 30 hari kalender ( pengajuan GUP minimal sekali dalam sebulan ke KPPN) dan tidak menambah frekuensi SPM GUP yang terlambat.

4. LPJ Bendahara

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu dalam penyampaian LPJ sebelum tanggal 10 bulan berikutnya, dan memastikan data LPJ telah terverifikasi oleh KPPN pada Aplikasi SPRINT.

5. Penyampaian Data Kontrak

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu dalam penyampaian data kontrak sebelum 5 hari kerja setelah ditanda tangani dan dipastikan verifikasi kebenaran data kontraknya (approval) oleh KPPN.

6. Penyelesaian Tagihan

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu

dalam penyelesaian tagihan kontraktual (LS Non-Belanja Pegawai) paling lambat dalam 17 hari kerja setelah BAST ditanda- tangani sudah diajukan SPM-nya ke KPPN. Selain itu, satker agar teliti, lengkap, dan akurat dalam pengisian uraian pada SPM terutama untuk tanggal dan nomor BAST/BAPP.

7. Penyerapan Anggaran

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk mempertahankan capaian ini, maka Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa memperhatikan progres penyerapan anggaran secara proporsional dari pagu DIPA efektif.

• Memperbaiki perencanaan dan eksekusi kegiatan secara relevan dan terjadwal, tidak menumpuk pencairan anggaran pada akhir tahun.

8. Retur SP2D

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan ketelitian dalam memproses dokumen pembayaran dalam SPM terutama kebenaran dan keakuratan nama dan nomor rekening bank Pihak Ketiga/ penerima pembayaran.

• Diperlukan proses konfirmasi atas status aktif rekening penerima.

Apabila terjadi retur SP2D, satker agar berkoordinasi dengan KPPN untuk penyelesaiannya tidak lebih dari 7 hari kerja.

9. Perencanaan Kas

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu dalam penyampaian Renkas (RPD Harian) untuk transaksi pencairan dana dalam kategori besar (> Rp 1 Miliar) yang memerlukan penyampaian renkas dengan tidak lebih dari 5 hari kerja sejak tanggal APS pada Aplikasi SAS sampai dengan pengajuan SPM ke KPPN.

10. Pengembalian/ Kesalahan SPM Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan ketelitian dalam memproses dokumen pembayaran dalam SPM terutama kebenaran dan keakuratan data supplier yang telah dicocokkan dengan data yang ada pada OM SPAN maupun data identitas supplier yang terkonfirmasi dengan pihak bank agar SPM yang diajukan tidak tertolak oleh KPPN

9. Pagu Minus

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Satker-satker lingklup BKIPM yang memiliki pagu minus agar dapat segera menyelesaikan pagu minus dengan mempersiapkan revisi anggaran untuk menutup pagu minus tersebut.

10. Dispensasi SPM

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa memantau progres penyelesaian kegiatan sesuai rencana, menetapkan mitigasi risiko penyelesaian pekerjaan dan pembayaran, dan menghitung prognosis belanja agar dapat dieksekusi tepat waktu untuk menghindari penumpukkan pencairan anggaran pada akhir tahun.

Tabel Target dan Realisasi IK 25 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator

IK26. Batas Tertinggi Persentase Nilai Temuan LHP BPK Atas LK dibandingkan Realisasi Anggaran TA. 2019

Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan adalah merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada empat kriteria yakni kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan efektivitas sistem pengendalian intern.

Kategori opini terhadap laporan keuangan kementerian/lembaga yang diberikan oleh BPK, yaitu:

Pada triwulan I Tahun 2020, indikator Batas Tertinggi Persentase Nilai Temuan LHP BPK atas LK dibandingkan dengan Realisasi anggaran T.A 2019 belum diperoleh hasil karena pengukuran dilakukan secara tahunan..

REALISASI ANGGARAN

Alokasi anggaran Stasiun KIPM Cirebon pada tahun anggaran (T.A) 2020 adalah Rp. 9.643.247.000. Realisasi penyerapan anggaran Stasiun KIPM Cirebon pada tri wulan I tahun 2020 mencapai Rp. 1.502.158.390 atau sebesar 15,58%.

Realisasi penyerapan anggaran Stasiun KIPM Cirebon Tri Wulan I Tahun 2020 berdasarkan jenis kegiatan dan jenis belanja disajikan pada Tabel dibawah ini.

Tabel Penyerapan Anggaran per Kegiatan TW I 2020

No Kegiatan Target Realisasi TW I %

1. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BKIPM

7.092.897.000 1.093.911.410 15,42

2. Karantina Ikan 1.767.430.000 369.112.570 20,88 3. Penerapan Sistem Jaminan Mutu

dan Keamanan Hasil Perikanan

526.920.000 8.709.410 5,20

4. Standardisasi Sistem dan Kepatuhan

256.000.000 11.740.000 4,59

Tabel Penyerapan Anggaran per Jenis Belanja TW I 2020 JenisBelanja Pagu (Rp.) Realisasi (Rp.) Persen Belanja Pegawai 4.006.005.000 676.363.550 16,88%

Belanja Barang 2.835.025.000 456.651.840 16,11%

Belanja Modal 2.802.217.000 369.143.000 13,17%

Dalam dokumen BAB III AKUNTABILITAS (Halaman 27-44)

Dokumen terkait