• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III AKUNTABILITAS"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III AKUNTABILITAS

3.1 CAPAIAN KINERJA

Secara umum, target-target kinerja tri wulan I pada tahun 2020 telah tercapai.

Berdasarkan dashboard sistem aplikasi pengelolaan kinerja di www.kinerjaku.kkp.go.id, nilai pencapaian sasaran strategis (NPSS) Stasiun KIPM Cirebon sebesar 100.00%. Nilai NPSS tersebut diperoleh dari pencapaian indikator kinerja pada setiap sasaran strategis berdasarkan target yang ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja selama satu tahun. Capaian kinerja tersebut merupakan keberhasilan Stasiun KIPM Cirebon dalam melaksanakan program di bidang karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan dalam mendukung visi dan misi BKIPM - Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Gambar Dashboard Capaian IKU Tri WUlan I Tahun 2020 Pada Aplikasi Kinerjaku

(2)

Tabel Ikhtisar Capaian Kinerja Stasiun KIPM Cirebon Tri Wulan I Tahun 2020

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi %

Stakeholder Perspektive 1 Terwujudnya

kesejahteraan masyarakat KP

1 Unit Usaha Perikanan yang memenuhi persyaratan ekspor

5 16 100

Costumer Perspektive 2 Terwujudnya

kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan

2 Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan kelautan dan perikanan

80% - -

3 Jumlah kasus

penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra

2 0 100

3 Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan

4 Penyakit ikan karantina yang dicegah

penyebarannya ke dan antar wilayah RI

100% 100% 100

5 Nilai PNBP (Rp. Juta) 183 236 100 Internal Process Perspektive

4 Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar

6 Sertifikasi ekspor yang memenuhi standar

400 569 100

7 Sertifikasi kesehatan ikan domestik yang memenuhi standar

300 87 92

8 Impor hasil-hasil perikanan yang memenuhi

100% 100% 100

(3)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi % persyaratan mutu dan

keamanan hasil perikanan 9 Registrasi Unit

Pengolahan Ikan ke negara tujuan ekspor

35 35 100

10 Sertifikat CPIB Supplier/unit pengumpul

3 5 100

11 Lokasi Pengendalian mutu, keamanan hasil perikanan dari residu dan bahan berbahaya

1 4 100

12 Sertifikasi HACCP hasil perikanan

13 23 100

13 Lokasi sebaran jenis ikan dilarang dan/atau bersifat invasif yang diidentifikasi

2 - -

14 Jumlah Lokasi

sebaran penyakit ikan karantina yang

diidentifikasi

2 7 100

15 Jumlah instalasi karantina ikan yang memenuhi standar

1 2 100

16 Penerapan Sistem Manajemen Mutu yang Terintegrasi (ISO 17020, ISO 9001, ISO 17025)

- - -

(4)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi % 17 Pengawasan Mutu

Hasil Perikanan Domestik

2 4 100

5

Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara professional dan partisipatif

18 Penanganan kasus pelanggaran

perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan

0 0 0

19 Tingkat kepatuhan pelaksanaan operasional pemasukan dan pengeluaran

0 0 0

Learning and Growth Perspektive

6 Terwujudnya aparatur sipil negara yang kompeten,

professional dan berintegritas

20 Indeks profesionalitas ASN

0 0 0

7 Tersedianya manajemen

pengetahuan yang handal dan mudah diakses

21 Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

20 20 100

8 Terwujudnya pranata dan kelembagaan birokrasi yang efektif, efisien dan

22 Nilai Kinerja

Reformasi Birokrasi

0 0 0

23 Nilai Maturitas SPIP 0 0 0

24 Nilai AKIP 0 0 0

(5)

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi % berorientasi pada

layanan prima 9 Terkelolanya

anggaran

pembangunan secara efisien dan akuntabel

25 Nilai kinerja pelaksanaan anggaran

15 80 100

26 Batas Tertinggi Persentase Nilai Temuan LHP BPK Atas LK dibandingkan Realisasi Anggaran TA. 2019

0 0 0

Stakeholder Perspektive Sasaran Strategis 1

Terwujudnya kesejahteraan masyarakat KP

Kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan menjadi tolok ukur dari dampak keberhasilan program dan kegiatan Stasiun KIPM Cirebon. Nilai sasaran strategis ini pada tri wulan I tahun 2020 adalah sebesar 100%. Nilai ini diperoleh dari pencapaian indikator kinerja Unit Usaha Perikanan yang memenuhi persyaratan ekspor.

Penjelasan atas pencapaian Sasaran Strategis 1, yaitu terwujudnya kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan diuraikan secara rinci sebagai berikut:

IK1. Unit Usaha Perikanan yang memenuhi persyaratan ekspor

Unit Usaha Perikanan yang memenuhi persyaratan ekspor merupakan unit usaha yang telah menerapkan prinsip-prinsip HACCP dan CKIB. Pada unit usaha yang menerapkan prinsip HACCP dilakukan verifikasi terhadap pelaksanaan SSOP/GMP dan penerapan HACCP minimal satu kali dalam setahun. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa UPI tersebut secara konsisten menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, sebagaimana diamanatkan pada

(6)

Permen KP No.19/2010. Sedangkan unit usaha yang menerapkan prinsip CKIB adalah unit usaha pembudidayaan ikan (UUPI) yang telah melaksanakan manajemen kesehatan ikan berdasarkan standar biosecurity untuk menjamin ikan bebas dari HPIK/HPI. Indikator Unit Usaha Perikanan yang memenuhi persyaratan ekspor diukur dengan menghitung jumlah UPI yang telah bersertifikasi HACCP dan unit usaha pembudidayaan ikan yang bersertifikasi CKIB. Realisasi indikator ini sampai pada tri wulan I tahun 2020 mencapai 15 unit dari target 5 unit atau sebesar 100%.

Realisasi pencapaian indikator ini dari sejak tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dan selalu melebihi dari target yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya pemahaman stakeholder terkait persyaratan/

ketentuan ekspor ke negara mitra/ tujuan ekspor. Selain itu meningkatnya permintaan pasar Internasional sehingga mempengaruhi kegiatan ekspor produk perikanan serta perubahan regulasi yang memudahkan kegiatan ekspor produk perikanan.

Tabel Target dan Realisasi IK1 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Unit Usaha Perikanan yang memenuhi persyaratan ekspor

5 16 100 20 80 14 114

Costumer Perspektive Sasaran Strategis 2

Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan

(7)

Capaian kinerja Stasiun KIPM Cirebon pada Customer Perspective berasal dari dua sasaran strategis, yaitu 1) Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan; 2) Terwujudnya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan.

Keberhasilan pencapaian sasaran strategis terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan diperoleh dari pencapaian indikator persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha kelautan dan perikanan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra. Capaian nilai sasaran strategis ini pada tri wulan I tahun 2020 adalah sebesar 100,00%. Capaian atas target kedua indikator kinerja tersebut diuraikan sebagai berikut:

Tabel Capaian Sasaran Strategis 2 Berdasarkan Indikator Kinerjanya

Indikator Kinerja Capaian Target %

Terhadap Target 2019 Persentase kepatuhan (compliance) pelaku

usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan kelautan dan perikanan

- - -

Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra

0 - 120

IK2. Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan kelautan dan perikanan

Tingkat penilaian perilaku kepatuhan pelaku usaha dapat digolongkan menjadi 4 (empat) ketegori perilaku:

1. Tingkat kepatuhan tinggi, dengan rentang nilai > 81%; kategori apabila pelaku usaha taat dengan kesadaran sendiri secara sukarela dan mempunyai reputasi yang baik jika ditinjau dari profil pelaku usaha.

2. Tingkat kepatuhan sedang, dengan rentang nilai 62-80%; kategori apabila dengan tidak sengaja pelaku usaha sebagai akibat ketidaktahuan terhadap regulasi dan standar komoditas dan telah memperbaiki perilaku kepatuhannya dan tidak

(8)

pernah melanggar regulasi/prosedur/persyaratan, atau pelaku usaha yang dikenakan pembekuan sementara (internal suspend) dan telah menindaklanjuti hasil investigasi sebagai akibat adanya kejadian kasus penolakan ekspor.

3. Tingkat kepatuhan rendah, dengan rentang nilai 42-61%; kategori apabila pelaku usaha yang resisten untuk patuh atau memanfaatkan kesempatan (celah) untuk tidak patuh, dan mengulangi pelanggarannya, atau pelaku usaha yang dikenakan pembekuan (suspend) dan tidak dapat menindaklanjuti hasil investigasi akibat adanya kejadian kasus penolakan ekspor.

4. Tingkat kepatuhan sangat rendah, dengan rentang nilai < 41%; kategori pelaku usaha yang dengan sengaja dan terbukti melanggar ketentuan regulasi serta dilakukan penegakkan hukum terhadap pelanggaran yang terjadi.

Persentase kepatuhan pelaku usaha diukur melalui penjumlahan dari rata-rata kepatuhan pelaku usaha ekspor, pelaku usaha impor, pelaku usaha domestik masuk dan pelaku usaha domestik keluar, dengan rumusan:

Stasiun KIPM Cirebon melalui Subseksi Tata Pelayanan dan Subseksi Pengawasan dan Pengendalian Informasi pada Tri Wulan I Tahun 2020 belum melakukan pengukuran tingkat kepatuhan pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundangan undangan. Hal ini dikarenakan frekuensi laporan penghitungannya dilakukan dua kali dalam setahun (semesteran). Adapun beberapa hal yang telah dilakukan Stasiun KIPM Cirebon sebagai wujud nyata langkah awal untuk meningkatkan kepatuhan pengguna jasa , yaitu:

(9)

• Melakukan sosialisasi ketentuan peraturan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum karantina untuk mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan karantina serta meningkatkan kepatuhan penguna jasa karantina terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan karantina;

• Memperkuat kemitraan dengan instansi terkait dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum karantina;

• Meningkatkan pelayanan operasional perkarantinaan melalui pengembangan in- line inspection dan on-farm inspection;

• Meningkatkan teknologi informasi pelayanan karantina dalam rangka pencegahan dan pengendalian pelanggaran karantina.

Tabel Target dan Realisasi IK 2 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Persentase kepatuhan (compliance) pelaku usaha KP terhadap ketentuan peraturan perundang- undangan kelautan dan perikanan

- - - 80% - 80% -

(10)

IK3. Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra

Kontribusi Stasiun KIPM Cirebon dalam meningkatkan kinerja ekspor produk hasil perikanan di pasar internasional adalah dengan menekan jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per negara mitra agar tidak melampaui jumlah sepuluh (<10) per negara mitra. Dasar perhitungan indikator ini adalah kasus penolakan tertinggi yang terjadi per negara mitra, berdasarkan notifikasi penolakan yang diterima dari otoritas kompeten negara tersebut. Jumlah negara mitra berdasarkan Mutual Recognition Arrangement (MRA) adalah 28 negara anggota Uni Eropa, 5 negara anggota EEU (Rusia, Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kirgystan), Korea Selatan, China, Kanada, dan Vietnam.

Kasus penolakan ekspor hasil perikanan ke negara mitra yang terjadi sampai dengan Tri Wulan I Tahun 2020 tidak ada penolakan kasus. Sehingga capaian adalah sebesar 100%. Keberhasilan ini didukung oleh kinerja penjaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang telah dilakukan SKIPM Cirebon, melalui surveilan konsistensi penerapan GMP, SSOP, dan HACCP melalui in-process inspection di Unit Pengolahan Ikan dan pengujian terhadap produk akhir (end product testing). Di samping itu, keberhasilan ini juga didukung oleh kinerja laboratorium SKIPM Cirebon dalam melakukan pengujian kimia, mikrobiologi dan organoleptik dan peningkatan kompetensi inspektur mutu.

(11)

Tabel Target dan Realisasi IK 3 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Jumlah kasus penolakan ekspor hasil perikanan per

negara mitra

0 0 100 <10 100 <10 100

(12)

Sasaran Strategis 3

Terwujudnya pengelolaan SDKP yang partisipatif, bertanggungjawab, dan berkelanjutan

Nilai sasaran strategis terwujudnya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang partisipatif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan pada Tri Wulan I Tahun 2020 adalah sebesar 100%. Indikator kinerja yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis ini adalah penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya ke wilayah RI dan nilai PNBP Stasiun KIPM Cirebon.

Capaian setiap indikator kinerja dijelaskan pada tabel sebagai berikut:

Indikator Kinerja Capaian Target

% Terhadap

Target 2019 Penyakit ikan karantina yang dicegah

penyebarannya ke dan antar wilayah RI

100% 100% 100

Nilai PNBP (Rp. Juta) 183.087 236.142 100

IK4. Penyakit Ikan Karantina Yang Dicegah Penyebarannya Ke Wilayah RI

Upaya pencegahan masuk dan tersebarnya HPIK di Indonesia didasarkan pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Kepmen KP Nomor 91/2019 dan Kepmen KP Nomor 58/2016. Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut, terdapat 23 jenis penyakit Ikan Karantina dari kategori virus, 5 jenis dari golongan bakteri, 6 jenis golongan parasit dan 3 jenis golongan jamur yang dicegah pemasukannya ke dalam wilayah RI dan dari HPIK terdapat 13 jenis Penyakit Ikan Karantina yang tersebar di 141 lokasi kabupaten/kota di 34 Provinsi seluruh Indonesia. Indikator penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya ke wilayah RI diukur dengan membandingkan jumlah lokasi sebaran HPIK yang baru dan jumlah total lokasi sebaran HPIK berdasarkan Kepmen KP No.58/2016 dan Kepmen KP Nomor 91/2019. Realisasi pencapaian indikator ini dari sejak tahun 2015 hingga 2019 selalu mencapai target yang ditetapkan. Bahkan pada beberapa tahun capaiannya mencapai 100% atau dengan kata lain tidak ditemukan penyebaran penyakit ikan

(13)

eksotik dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia maupun penyebaran penyakit ikan karantina baru dari zona positif (tidak bebas) ke zona negatif (bebas).

Pencapaian ini diperoleh berdasarkan hasil kegiatan dan pemantauan sebaran HPIK yang dilakukan oleh UPT KIPM di seluruh Indonesia. ini menunjukkan bahwa setiap komoditas perikanan yang dilalulintaskan telah dilakukan pemeriksaan/uji laboratorium terhadap ancaman HPIK sesuai dengan daerah yang dituju. Khusus untuk tahun 2016 yang pencapaiannya tidak 100%, hanya 83,33% karena dari laporan kegiatan impor di 18 UPT KIPM, di mana terdapat penyebaran 4 jenis penyakit ikan eksotik yang tidak dilakukan pencegahan pemasukannya, yaitu: IPNV, VHSV, IHNV, dan Infection with Ostreid Herpesvirus-1 pada Balai KIPM Jakarta II serta VHSV pada Balai KIPM Semarang. Permasalahan tidak dilakukannya pencegahan terhadap 4 jenis penyakit tersebut adalah karena belum tersedianya bahan uji laboratorium untuk penyakit pada kedua lokasi UPT tersebut. Hal itu telah ditindaklanjuti dengan menglokasikan bahan uji pada UPT tersebut pada Tahun Anggaran 2017 sehingga tahun berikutnya capaian indikator ini berhasil mencapai 100%. Berdasarkan hasil kegiatan pemantauan sebaran HPIK tahun 2019 yang dilakukan oleh UPT KIPM di seluruh wilayah Indonesia, realisasi penyakit ikan yang dicegah penyebarannya adalah sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa setiap komoditas perikanan yang dilalulintaskan telah dilakukan pemeriksaan/uji laboratorium terhadap ancaman HPIK sesuai dengan daerah yang dituju. Tidak ada laporan penyebaran penyakit ikan eksotik dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia. Upaya dalam meningkatkan capaian dari Penyakit ikan karantina yang dicegah penyebarannya di wilayah RI adalah dengan tetap mengikuti perkembangan penyakit ikan, inang rentan dan sebaran di dunia (list aquatic animal disease OIE) yang sifatnya sangat dinamis sehingga perlu diwaspadai dalam rangka mengantisipasi masuk dan tersebarnya penyakit ikan melalui kegiatan lalu lintas media pembawa antar negara dan antar area di dalam wilayah RI. Meningkatkan capacity building pegawai dengan peningkatan kompetensi melalui pelatihan/workshop/prosiding seminar serta didukung oleh kinerja laboratorium UPT BKIPM yang telah terakreditasi ISO 17025.

(14)

Tabel Target dan Realisasi IK 4 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Penyakit ikan

karantina yang dicegah

penyebarannya ke dan antar wilayah RI

100% 100% 100 100% 100 100% 100

IK5. Nilai PNBP (Rp. Juta)

Tarif PNBP karantina ikan dan mutu hasil perikanan mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Kementerian Kelautan dan Perikanan. Stasiun KIPM Cirebon terus berusaha menggenjot penerimaan PNBP sehingga dapat meningkatkan PNBP Kelautan dan Perikanan secara keseluruhan.

Indikator nilai PNBP Stasiun KIPM Cirebon diukur dengan menghitung jumlah realisasi penerimaan PNBP periode tahun anggaran berjalan. Pada tri wulan I tahun 2020, Stasiun KIPM Cirebon berhasil merealisasikan PNBP sebesar Rp. 236 (juta) dari target Rp. 183 (juta) atau mencapai 100%. Realisasi PNBP Stasiun KIPM Cirebon ini didukung oleh adanya peningkatan sistem pengawasan ekspor, impor dan antar area terhadap komoditas perikanan yang dilalulintaskan serta implementasi e-payment yang sudah dilaksanakan.

(15)

Tabel Target dan Realisasi IK 5 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun

Sebelumnya

Target Realisasi %

Nilai PNBP (Rp.

Juta)

183,087 236,142 100 732,346 32,24 600,9 37

39,30

Internal Process Perspektive

Sasaran Strategis 4

Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar

Capaian kinerja Stasiun KIPM Cirebon pada Internal Process Perspective berasal dari dua sasaran strategis, yaitu 1) Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar; dan 2) Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara professional dan partisipatif.

Nilai sasaran strategis Terselenggaranya sistem perkarantiaan, mutu dan keamanan hasil perikanan yang sesuai standar pada tahun 2019 adalah sebesar 108,80%.

Indikator kinerja yang ditetapkan untuk mengukur keberhasilan sasaran strategis ini, yaitu sebagai berikut :

IK6. Sertifikasi ekspor yang memenuhi standar

Pencapaian indikator sertifikat kesehatan ikan ekspor yang memenuhi standar sertifikat diukur dengan menghitung sertifikat ekspor karantina dan mutu yang diterbitkan selama tri wulan I tahun 2020. Target sertifikasi ekspor yang memenuhi

(16)

standar tri wulan I tahun 2020 ditetapkan 400 sertifikat dan terealisasi 569 sertifikat atau 100%.

Tabel Target dan Realisasi IK 6 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Sertifikasi ekspor yang memenuhi standar

400 569 100 1600 36 1500 38

IK7. Sertifikasi kesehatan ikan domestik yang memenuhi standar

Sertifikasi kesehatan domestik dilakukan melalui tindakan karantina ikan dalam rangka mencegah tersebarnya HPIK antar area di dalam wilayah Negara RI. Hal ini bertujuan untuk memastikan dan memberikan jaminan bahwa media pembawa yang dilalulintaskan tidak tertular HPIK yang dipersyaratkan oleh daerah tujuan. Indikator kinerja diukur melalui verifikasi terhadap jumlah sertifikat kesehatan ikan domestik keluar yang diterbitkan oleh UPT BKIPM dan memenuhi standar.

Pada tri wulan I tahun 2020, Stasiun KIPM Cirebon mempunyai target sertifikat kesehatan ikan domestik sebanyak 87 sertifikat. Dari target yang ditentukan Stasiun KIPM Cirebon menerbitkan 92 sertifikat domestic atau 100%.

Tabel Target dan Realisasi IK 7 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Sertifikasi ekspor yang memenuhi standar

87 92 100 350 26 300 31

(17)

IK8. Impor hasil-hasil perikanan yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan

Pelaksanaan penanganan importasi produk perikanan dilakukan untuk menjamin keamanan hasil perikanan yang masuk ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia agar aman untuk dikonsumsi manusia. Selain itu, juga untuk memberikan perlindungan bagi usaha penangkapan ikan, usaha pembudidayaan ikan dan usaha pengolahan ikan serta agar dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Importir yang melakukan pemasukan hasil perikanan ke dalam wilayah RI harus memenuhi persyaratan legalitas dan berasal dari eksportir yang terdaftar di negara asal.

Indikator persentase produk perikanan yang masuk ke dalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan diukur berdasarkan penanganan importasi produk perikanan yang masuk ke wilayah RI, dengan rumusan:

(18)

Realisasi persentase produk perikanan yang masuk kedalam wilayah RI yang sesuai dengan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan pada tri wulan I tahun 2020 mencapai 100% dari target sebesar 100%.

Capaian indikator ini sejak tahun 2015 hingga tahun 2019 selalu mencapai target yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa jenis hasil perikanan yang masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia telah mengikuti aturan / regulasi yang berlaku.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan BKIPM sebagai langkah tindakan penanganan importasi tersebut, yaitu:

 Menyusun pedoman pengendalian produk perikanan yang masuk ke wilayah RI;

 Melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan pelaku usaha dan masyarakat mengenai peraturan importasi produk perikanan yang masuk ke wilayah RI;

 Melaksanakan koordinasi dengan Bea Cukai dan Ditjen PDS terkait importasi produk perikanan;

 Melakukan rekapitulasi data rekomendasi ijin pemasukan hasil perikanan (IPHP).

(19)

Tabel Target dan Realisasi IK 8 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Impor hasil- hasil

perikanan yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan

100% 100% 100 100 100 100 100

IK9. Registrasi Unit Pengolahan Ikan ke negara tujuan ekspor

Registrasi di negara mitra diperlukan bagi unit pengolahan ikan (UPI) agar tidak mengalami penahanan ataupun penolakan ketika mengirimkan produk perikanannya ke luar negeri. Adanya nomor registrasi menunjukkan telah dilakukannya verifikasi dan kerja sama dengan UPI yang telah ditunjuk. UPI yang teregistrasi di negara mitra diantaranya PT. Sumber Laut Bengindo, PD. Sambu, PD. Jaya Sakti, PT. Oriens, PT. Java Seafood, PT. Kemilau Bintang Timur, PT. Timur Jaya Cemerlang dan PT. Suri Tani Pemuka. Negara yang menjadi negara mitra dari UPI tersebut diantaranya China, Vietnam, Korea, Uni Eropa dan Kanada. Stasiun KIPM Cirebon pada tri wulan I tahun 2020 mendapat target registrasi UPI ke negara tujuan ekspor sebanyak 35 register atau 100%.

(20)

Tabel Target dan Realisasi IK 9 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Registrasi Unit

Pengolahan Ikan ke negara tujuan ekspor

35 35 100 35 100 34 103

IK10. Sertifikat CPIB Supplier/unit pengumpul

Dalam menghadapi persaingan global, setiap unit usaha pembudidayaan ikan (UUPI) wajib menerapkan cara penanganan ikan yang baik (CPIB) agar dapat bersaing dengan produk dari negara lain. Prinsip penerapan CPIB adalah adanya penerapan prinsip-prinsip biosekuriti serta adanya data-data terkait kesehatan ikan yang dapat ditelusuri. Pada tri wulan I tahun 2020, Stasiun KIPM Cirebon mempunyai target 3 Sertifikat CPIB dan realisasi sebanyak 5 Sertifikat CPIB atau 100%.

Tabel Target dan Realisasi IK 10 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Sertifikat

CPIB

Supplier/unit pengumpul

3 5 100 15 33 10 50

(21)

IK11. Lokasi Pengendalian mutu, keamanan hasil perikanan dari residu dan bahan berbahaya

Untuk menjamin kesegaran mutu ikan dari kandungan residu kimia dan bahan berbahaya sehingga ada penolakan hasil perikanan oleh negara mitra atau negara tujuan ekspor, sementara untuk di pasar domestik, masyarakat juga belum memperhatikan akan pentingnya mutu ikan maka Stasiun KIPM Cirebon melakaukan kegiatan surveilan kesegaran dan keamanan mutu hasil perikanan.

Pada tri wulan I tahun 2020, Stasiun KIPM Cirebon mempunyai target 1 lokasi dan terealisasi 4 lokasi atau 100%

Tabel Target dan Realisasi IK 11 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Lokasi

Pengendalian mutu,

kemanan hasil perikanan dari residu dan bahan berbahaya

1 4 100 4 100 2 200

IK12. Sertifikasi HACCP hasil perikanan

Sertifikat Hazard Analysis and Critical Points (HACCP) merupakan sertifikat yang dipersyaratkan dalam pengiriman produk pangan ke luar negeri. Produk pangan yang sudah bersertifikat HACCP merupakan produk yang sudah terjamin keamanannya melalui suatu sistem yang dirancang secara sistematis dan terintegrasi. Untuk dapat memperoleh sertifikat HACCP, perlu dilakukan inspeksi dan verifikasi pelaksanaan SSOP/GMP.

(22)

Target sertifikat HACCP hasil perikanan yang ditetapkan pada tri wulan I tahun 2020 sebanyak 13 sertifikat dan realisasi sebanyak 23 sertifikat atau 100%.

Tabel Target dan Realisasi IK 12 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Sertifikasi

HACCP hasil perikanan

13 23 100 55 42 50 46

IK13. Lokasi sebaran jenis ikan dilarang dan/atau bersifat invasif yang diidentifikasi

Masuknya spesies asing invasif merupakan salah satu penyebab menurunnya spesies lokal yang terdapat dalam suatu populasi. Penyebaran dan penggunaan baik secara sengaja maupun tidak dapat berakibat kerugian baik ekonomi maupun ekologi. Oleh karena itu, dilakukan pemetaan yang bertujuan menginventarisasi agen hayati pada suatu wilayah perairan Indonesia untuk mengetahui sebaran agen hayati yang tergolong dilindungi, dilarang maupun yang bersifat invasif. Indikatornya dilihat dengan jumlah lokasi perairan Indonesia (danau/waduk/rawa/sungai/anak sungai) di wilayah kerja UPT BKIPM yang dipantau dan dipetakan. Stasiun KIPM Cirebon pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan dikarenakan pengukurannya per semester.

Tabel Target dan Realisasi IK 13 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Lokasi

sebaran jenis ikan dilarang

- - - 2 - 2 -

(23)

dan/atau bersifat invasif yang diidentifikasi

IK14. Jumlah Lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang diidentifikasi

Pemetaan/pemantauan penyakit ikan karantina adalah serangkaian pemeriksaan sistematik suatu populasi ikan untuk mendeteksi hama dan penyakit ikan karantina dan memerlukan pengujian terhadap sampel yang berasal dari populasi tertentu.

Pemetaan bertujuan mengetahui sebaran penyakit ikan karantina pada ikan yang dibudidayakan di dalam maupun di luar kawasan minapolitan/perikanan budidaya di wilayah kabupaten/kota.

Indikator lokasi yang dipetakan dari penyebaran penyakit ikan karantina dihitung dengan cara menghitung jumlah kabupaten/kota yang dipetakan pada tahun berjalan di seluruh UPT BKIPM. Pada tri wulan I tahun 2020, Stasiun KIPM Cirebon berhasil mencapai 7 lokasi atau100% dari target yang ditetapkan yakni 2 lokasi. Lokasi yang dipetakan dari penyebaran penyakit ikan karantina terdiri dari kabupaten Cirebon, Indarmayu, Subang, Sumedang, Majalengka, Pangandaran, Kuningan, Ciamis dan kota Banjar dan Cirebon.

Tabel Target dan Realisasi IK 14 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Jumlah

Lokasi sebaran penyakit ikan karantina yang diidentifikasi

2 7 100 9 78 9 78

(24)

IK15. Jumlah instalasi karantina ikan yang memenuhi standar

Instalasi karantina ikan (IKI) merupakan tempat beserta segala sarana dan fasilitas yang ada di dalamnya yang digunakan untuk melaksanakan tindakan karantina ikan.

Tindakan karantina ikan bertujuan mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit ikan karantina dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya hama dan penyakit ikan dari dalam wilayah negara RI. IKI dibangun oleh kementerian di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran media seperti pelabuhan laut, bandara, kantor pos serta tempat-tempat lain yang dipandang perlu seperti sentra kegiatan perikanan. Pendirian IKI di sentra perikanan dapat diajukan oleh perorangan atau badan hukum dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 33/PERMEN- KP/2014 tentang Instalasi Karantina Ikan. Target Jumlah IKI yang memenuhi standar pada tri wulan I tahun 2020 adalah 1 unit dan berhasil terealisasi sebanyak 2 unit 100%.

Tabel Target dan Realisasi IK 15 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Jumlah

instalasi karantina ikan yang memenuhi standar

1 2 100 6 33 6 33

IK16. Penerapan SNI ISO/IEC 17020 : 2012

SNI ISO/IEC 17020 merupakan penilaian (akreditasi) bagi lembaga inspeksi.

Keberadaan lembaga inspeksi sebagai pihak independen di dalam sistem sertifikasi bertindak sebagai penengah antara produsen dan konsumen dalam pemastian mutu pekerjaan. Stasiun KIPM Cirebon berhasil memperoleh akreditasi ISO 17020 pada

(25)

tahun 2016 dan berhasil mempertahankan status akreditasi melalui Surveilen ISO 17020 pada tahun 2019. Capaian indikator Penerapan SNI ISO/IEC 17020:2012 pada tri wulan I belum dilakukan pengukuran dikarenakan pelaksanaanya di Tri Wulan III Tahun 2020.

Tabel Target dan Realisasi IK 16 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Penerapan

Sistem Manajemen Mutu yang Terintegrasi (ISO 17020, ISO 9001, ISO 17025)

- - - 1 - 1 -

IK17. Pengawasan Mutu Hasil Perikanan Domestik

Laboratorium Stasiun KIPM Cirebon sebagai laboratorium penguji mutu hasil perikanan domestik dengan wilayah administrasinya pada tri wulan I menargetkan 2 lokasi dan terealisasi sebanyak 4 lokasi atau 100%.

Tabel Target dan Realisasi IK 17 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1 Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Pengawasan

Mutu Hasil Perikanan Domestik

2 4 100 4 100 - -

(26)

Sasaran Strategis 5

Terselenggaranya pengendalian dan pengawasan sistem perkarantinaan, mutu dan keamanan hasil perikanan secara professional dan partisipatif

IK18. Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan

Kasus pelanggaran perkarantinaan ikan adalah peristiwa/kejadian pada pemasukan/pengeluaran media pembawa/hasil perikanan yang tidak memenuhi ketentuan perundangan perkarantinaan ikan dan peraturan perundangan lainnya yang dalam pelaksanaannya melibatkan karantina ikan. Kasus pelanggaran dinyatakan selesai apabila telah dilakukan:

a. Wascampulbaket dilanjutkan terbitnya Surat Perintah Penyidikan, jika kasus memenuhi unsur pidana Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992.

b. Wascampulbaket dilanjutkan serahkara, jika kasus memenuhi unsur pidana Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992.

c. Wascampulbaket dilanjutkan tindakan karantina pemusnahan atau penolakan disertai bukti pemuatan MP/HP yang ditolak.

d. Wascampulbaket dilanjutkan tindakan lainnya (pelepasliaran atau diserahkan ke konservasi).

Indikator ini diukur dengan membandingkan jumlah kasus pelanggaran yang diselesaikan dengan membandingkan jumlah kasus pelanggaran yang diselesaikan dengan jumlah total kasus yang terjadi. Pada tri wulan I tahun 2020, tidak ada kasus pelanggaran perkarantinaan yang terjadi di Stasiun KIPM Cirebon dan pengukuran serta pelaporannya dilakukan persemester dalam satu tahun.

Tabel Target dan Realisasi IK 18 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Penanganan

kasus pelanggaran

- - - 95 - 95 -

(27)

perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang

diselesesaikan

IK19. Tingkat kepatuhan pelaksanaan operasional pemasukan dan pengeluaran

Capaian indikator tingkat kepatuhan pelaksanaan operasional pemasukan dan pengeluaran diukur dengan membandingkan pelaksanaan pelayanan sertifikasi dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan perhitungan dari Pusat Standarisasi Sistem dan Kepatuhan, pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan karena frekuensi penghitungan dan pelaporannya tahunan.

Learning and Growth Perspektive

Sasaran Strategis 6

Terwujudnya aparatur sipil negara yang kompeten, professional dan berintegritas

Capaian kinerja Stasiun KIPM Cirebon pada Learning and Growth Perspective berasal dari empat sasaran strategis, yaitu terwujudnya aparatur sipil Negara yang kompeten, profesional dan berintegritas, tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses, terwujudnya pranata dan kelembagaan birokrasi yang efektif, efisien dan beroriantasi pada layanan prima, serta terkelolanya anggaran pembangunan secara efisien dan akuntabel.

Nilai sasaran strategis terwujudnya aparatur sipil negara Stasiun KIPM Cirebon yang kompeten, profesional dan berintegritas pada tri wulan I tahun 2020 belum dilakasankan karena frekuensi pelaksanaanya tahunan

(28)

IK20. Indeks Profesionalisme ASN

Profesionalitas adalah kualitas para anggota profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk melakukan tugas- tugasnya. Indeks Profesionalitas ASN adalah ukuran statistik yang menggambarkan kualitas ASN berdasarkan kesesuaian kualifikasi, kompetensi, kinerja dan kedisiplinan pegawai ASN dalam melaksanakan tugas jabatan (Permen PAN dan RB No. 38 Tahun 2018). Nilai Indeks Profesionalitas ASN BKIPM merupakan gambaran kualitas profesionalitas ASN BKIPM yang diukur setiap tahun oleh Biro SDMA, Sekretariat Jenderal dengan mengacu pada Peraturan Menteri PAN dan RB No. 38 Tahun 2018 tentang Peraturan Indeks Profesionalitas Aparatur Sipil Negara.

Berdasarkan Peraturan Badan Kepegawaian Negara RI Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pedoman Tata Cara dan Pelaksanaan Pengukuran Indeks Profesionalitas Aparatur Sipil Negara, Indeks Profesionalitas ASN adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur secara kuantitatif tingkat profesionalitas pegawai ASN yang hasilnya dapat digunakan sebagai dasar penilaian dan evaluasi dalam upaya pengembangan profesionalisme ASN.

Untuk menghitung indeks profesionalitas ASN ini, pengolahan data diambil dari database kepegawaian SIMPEG Online KKP dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

1. Nilai diukur setiap tahun dengan menggunakan 4 (empat) dimensi, meliputi:

a.Kualifikasi b.Kompetensi c.Kinerja d.Disiplin

2. Kualifikasi diukur dari indikator riwayat Pendidikan formal terakhir yang telah dicapai,meliputi:

a.Pendidikan S-3 (Strata-Tiga b.Pendidikan S-2 (Strata-Dua)

c.Pendidikan S-1 (Strata-Satu)/ D - 4(Diploma empat) d.Pendidikan D-3 (Diploma-Tiga)/ SM(Sarjana Muda)

e.Pendidikan D-1 (Diploma-Satu)/D-2(Diploma-Dua)/ SLTA Sederajat f.Pendidikan di bawah SLTA

(29)

Dengan formula sebagai berikut:

3. Kompetensi diukur dari indikator riwayat

pengembangan kompetensi yang telah dilaksanakan yang meliputi: Diklat Kepemimpinan, Diklat Fungsional/Diklat Teknis, Diklat 20 Jam Pelajaran (JP) satu tahun terakhir dan Seminar/Workshop/ Konferensi/Setara satu tahun terakhir dengan formula sebagai berikut:

4. Kinerja diukur dari indikator penilaian prestasi kerja PNS, yang meliputi:

a. Sasaran Kerja Pegawai (SKP), dan

(30)

b. Perilaku Kerja, dengan formula sebagai berikut:

5. Disiplin diukur dari indikator riwayat penjatuhan hukuman disiplin yang pernah dialami yang meliputi: a. Tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin, dan b. Pernah dijatuhi hukuman disiplin (ringan, sedang, berat), dengan formula sebagai berikut:

Sumber data pengukuran Indeks Profesionalitas ASN dapat diperoleh dari beberapa sumber yang tervalidasi meliputi:

a. Kualifikasi, dihitung dari kondisi tingkat Pendidikan terakhir dari pegawai dengan ketentuan sesuai SK Pangkat Terakhir atau SK Pencantuman Gelar yang sudah di Up date pada aplikasi SIMPEG Online KKP

b. Kompetensi, diolah datanya dari aplikasi SIMPEG Online KKP dengan ketentuan sebagai berikut:

• Perhitungan nilai DIKLAT PIM, Diklat Fungsional/Teknis, Diklat 20 JP dan seminar diwajibkan sesuai tingkat jabatannya

• Pejabat Struktural wajib sudah melaksanakan Diklat PIM sesuai dengan level terakhirnya, Diklat 20 JP dan Seminar dalam satu tahun terakhir dengan total bobot yaitu 40.

(31)

Indeks Profesionalitas ASN BKIPM dihitung dengan merata-ratakan nilai dari seluruh komponen. Target kinerja Indeks Profesionalitas ASN BKIPM pada tahun 2019 adalah 71% dengan nilai realisasi 73,48% atau mencapai 103,49%. Realisasi Indeks Profesionalitas ASN BKIPM tahun 2019 adalah sebesar 73,48 dengan capaian nilai per dimensi yaitu dimensi disiplin sebesar 4,94, dimensi kinerja sebesar 23,95, dimensi kompetensi sebesar 31,11 dan dimensi kualifikasi sebesar 13,62.

Penyumbang nilai terbesar dalam pencapaian nilai Indeks Profesionalitas BKIPM yaitu dimensi kompetensi. Dimensi kompetensi diukur dengan menggunakan riwayat pengembangan kompetensi. Adapun kendala yang dihadapi untuk pencapaian IKU ini salah satunya adalah terkait sisi peremajaan database kepegawaian. Dimana masih banyak data yang belum diperbaharui secara berkala oleh pengelola aplikasi ke pegawaian SIMPEG Online KKP. Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah dari dimensi kompetensi. Dimana masih banyak pejabat struktural yang belum melaksanakan diklatpim sesuai levelnya, diklat teknis 20 Jam Pelajaran (JP) dan seminar serta untuk staf pun masih banyak yang belum melaksanakan diklat 20 JP dan mengikuti seminar. Untuk mengantisipasi kendala-kendala tersebut, beberapa upaya telah dilakukan di antaranya dengan terus melakukan updating secara berkala, melakukan koordinasi dan bimtek updating data SIMPEG, serta mengembangkan aplikasi SIMPEG secara lebih user friendly dengan Pusdatin.

Sedangkan dari dimensi kompetensi, upaya koordinasi telah dilakukan dengan Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP untuk merencanakan pelatihan bagi pegawai BKIPM, diklat pelatihan dan pendidikan bagian pegawai.

Tabel Target dan Realisasi IK 20 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Indeks

profesionalitas ASN BKIPM

- - - 72 - 81 -

(32)

Sasaran Strategis 7

Tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses

Nilai sasaran strategis tersedianya manajemen pengetahuan yang handal dan mudah diakses pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan karena pelaksanaan kegiatannya tahunan dan dapat diuraikan sebagai berikut:

IK21. Persentase unit kerja yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar

Sistem manajemen pengetahuan merupakan suatu rangkaian yang memanfaatkan teknologi informasi yang dugunakan oleh instansi pemerintah atau swasta untuk mengidentfikasi, menciptakan, menjelaskan dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan kembali. Indikator persentase unit kerja BKIPM yang menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar merupakan cascading adopsi langsung dari level 0 KKP. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggunakan teknologi informasi Bitrix24 dalam penerapan manajemen pengetahuan di lingkungan KKP dengan alamat kinerjakkp.bitrix24.com.

Tabel Target dan Realisasi IK 21 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Persentase

unit kerja yang

menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang

terstandar

- - - 82 - 70 -

(33)

Sasaran Strategis 8

Terwujudnya pranata dan kelembagaan birokrasi BKIPM yang efektif, efisien dan berorientasi pada layanan prima

Nilai sasaran strategis terwujudnya birokrasi yang efektif, efisien dan beroriantasi pada layanan prima pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan dikarenakan pelaksanan kegiatan ini bersifat tahunan dan dapat diuraikan sebagai berikut:

IK22. Nilai kinerja reformasi birokrasi

Nilai kinerja reformasi birokrasi BKIPM merupakan nilai yang diperoleh dari proses penilaian baik secara mandiri oleh Inspektorat Jenderal melalui Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) maupun penilaian dari Kementerian PAN dan RB. Penilaian ini dilakukan terhadap pelaksanaan delapan area perubahan Reformasi Birokrasi. Penilaian Kinerja Reformasi Birokrasi BKIPM merupakan nilai yang diperoleh dari proses Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) secara internal dengan Inspektorat Jenderal selaku evaluator. Kategori Penilaian ini dilakukan terhadap pelaksanaan delapan area perubahan Reformasi Birokrasi dengan kategori hasil seperti disajikan pada Tabel dibawah ini

(34)

Tabel Target dan Realisasi IK 22 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Nilai

Kinerja Reformasi Birokrasi

- - - A (85) - A (81) -

IK23. Nilai Maturitas SPIP

Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemeritah (SPIP) di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus terus ditingkatkan kematangannya (maturitasnya) secara menyeluruh dan terintegrasi untuk mencapai tujuan, yaitu memberikan keyakinan atas tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

Tingkat maturitas penyelenggaraan SPIP adalah tingkat kematangan/kesempurnaan penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah dalam mencapai tujuan pengendalian intern di lingkungan unit kerja. Penilaian tingkat maturitas SPIP ini mengacu pada Peraturan Kepala BPKP Nomor 4/2016 tentang Pedoman Penilaian dan Strategi Peningkatan Maturitas SPIP. Nilai Maturitas SPIP terbagi dalam enam level, yaitu Level 0 (belum ada), Level 1 (rintisan), Level 2 (berkembang), Level 3 (terdefinisi), Level 4 (terkelola dan terukur), dan Level 5 (optimum) seperti disajikan pada tabel dibawah ini.

(35)

penilaian dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Hasil penilaian dari tim BPKP terhadap implementasi Sistem Pengendalian Intern (SPI) di lingkungan BKIPM. Pada tri wulan I tahun 2020 Nilai Maturitas SPIP belum dilaksanakan dikarenakan rencana pelaksanaan kegiatanya bersifat tahunan.

Tabel Target dan Realisasi IK 23 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Nilai

Maturitas SPIP

- - - Level 3 - Level 3 -

IK24. Nilai AKIP

Sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah(SAKIP) merupakan penerapan manajemen kinerja pada sektor publik yang sejalan dan konsisten dengan penerapan reformasi birokrasi, yang berorientasi pada pencapaian outcomes dan

(36)

upaya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Usaha-usaha penguatan akuntabilitas kinerja dan sekaligus peningkatannya, dilakukan antara lain melalui Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP).

Evaluasi dan penilaian SAKIP dilakukan atas komponen-komponen SAKIP sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pada kedua peraturan tersebut disebutkan bahwa komponen SAKIP terdiri dari rencana strategis, perjanjian kinerja, pengukuran kinerja, pengelolaan data kinerja, pelaporan kinerja, dan reviu dan evaluasi kinerja. Sedangkan pada tingkat eselon I KKP, penilaian terhadap SAKIP dilakukan oleh Itjen KKP. Pelaksanaan indicator kinerja Nilai AKIP pada tri wulan I tahun 2020 belum dilaksanakan dikarenakan pelaksanaanya bersifat tahunan.

Tabel Target dan Realisasi IK 24 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi %

Nilai AKIP - - - A (85) - A (85) -

Sasaran Strategis 9

Terkelolanya Anggaran Pembangunan Secara Efisien Dan Akuntabel

IK25. Nilai Kinerja Pelaksanaan Anggaran

IKPA adalah indikator yang telah ditetapkan oleh Kementerian Keuangan untuk mengukur kualitas kinerja pelaksanaan anggaran belanja Kementerian Negara/Lembaga dari sisi kesesuaian terhadap perencanaan, efektivitas pelaksanaan anggaran, efisiensi pelaksanaan anggaran, dan kepatuhan terhadap regulasi.

(37)

Nilai ini diperoleh dari data input dan output setiap Satuan Kerja lingkup BKIPM didalam aplikasi OMSPAN Kementerian Keuangan. Cara menghitung indikator tersebut dengan menggunakan Peraturan Menteri Keuangan No. 195/PMK.05/2018 tentang Monev Pelaksanaan Anggaran Belanja K/L. Evaluasi kinerja pelaksanaan anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a Permenkeu 195/2018 diwujudkan dalam bentuk pengukuran kualitas kinerja menggunakan IKPA. Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) merupakan suatu ukuran kuantitatif yang mencerminkan aspek teknis dan administratif dan tata kelola pelaksanaan anggaran yang dilakukan oleh satker K/L.

IKPA dapat dijadikan alat managerial untuk mendukung ketercapaian output (output delivery) atas penggunaan anggaran pemerintah secara tepat waktu dan tepat sasaran. Pengukuran dan evaluasi kinerja.

Pengukuran capaian Indikator Pelaksanaan Kegiatan Anggaran dilakukan atas penilaian dari berbagai aspek yaitu :

1. Revisi DIPA

a. Jenis revisi anggaran yang diperhitungkan adalah revisi dalam kewenangan pagu tetap (tidak masuk adalah revisi dalam kewenangan pagu berubah dan revisi administratif);

b. Frekuensi revisi hanya diperkenankan 1x dalam rentang triwulanan. Apabila dalam satu triwulan akan ada 2x revisi, maka revisi yang kedua agar diajukan pada triwulan berikutnya;

2. Deviasi Halaman III DIPA

a. Halaman III DIPA memuat Rencana Penarikan Dana (RPD) per bulan sepanjang tahun anggaran berjalan atas pelaksanaan anggaran yang dilakukan pada suatu satker;

b. Validitas dan keakuratan RPD pada Halaman III DIPA sangat penting untuk menjaga likuiditas Kas;

c. Negara guna memenuhi kebutuhan penyediaan dana bagi pencairan anggaran atas suatu DIPA;

d. Keakuratan Deviasi Halaman III pada IKPA dihitung untuk rencana yang dieksekusi sampai dengan bulan November tahun anggaran berjalan.

3. Pengelolaan UP

a. SPM GUP merupakan sarana pertanggungjawaban belanja atas penggunaan UP pada Bendahara Pengeluaran;

(38)

b. Jenis UP yang diperhitungkan dalam IKPA adalah UP Tunai (tidak termasuk UP yang menggunakan Kartu Kredit Pemerintah);

c. Pertanggungjawaban UP tepat waktu sangat penting agar belanja dapat segera dibebankan pada DIPA satker masing-masing sebagai realisasi anggaran.

4. LPJ Bendahara

a. LPJ Bendahara Pengeluaran merupakan sarana pertanggung jawaban atas uang yang dikelolanya;

b. LPJ dibuat oleh bendahara setiap bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya atau hari kerja sebelumnya jika tanggal 10 adalah hari libur kepada KPPN;

c. Penyampaian LPJ dilakukan dengan menu upload pada Aplikasi SPRINT, dan terhitung sejak Satker pertama kali melalukan upload tersebut.

5. Penyampaian Data Kontrak

a. Kontrak yang dihitung pada IKPA merupakan kontrak dengan nilai diatas Rp 200 Juta (bukan hasil pengadaan langsung menurut batasan Perpres No. 16/2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

b. ADK kontrak maksimal disampaikan ke KPPN 5 hari kerja sejak tanggal tanda tangan kontrak sampai dengan tanggal penyampaian/konversi di KPPN.

6. Penyelesaian Tagihan

a. Indikator ini diukur berdasarkan ketepatan waktu penyelesaian tagihan kontraktual (SPM LS Kontraktual Non-Belanja Pegawai) yang ADK nya telah disampaikan ke KPPN (dengan nilai kontrak diatas Rp 200 Juta);

b. Penyelesaian tagihan dihitung dengan ketentuan selambat-lambatnya selama 17 hari kerja setelah BAST/BAPP, satker telah diterbitkan SPM tagihan dimaksud ke KPPN.

7. Penyerapan Anggaran

a. Indikator ini dihitung dari pemenuhan realisasi anggaran secara proporsi penyerapan anggaran pada setiap triwulan: Triwulan I (15%), Triwulan II (40%),(60%), dan(90%).

b. Pagu anggaran pembagi diperhitungkan sebagai pagu efektif, dimana pagu anggaran DIPA dikurangi dengan pagu yang masih diblokir.

8. Retur SP2D

a. Indikator ini dihitung dari rasio SP2D yang diretur dengan jumlah SP2D total yang telah terbit.

(39)

b. Semakin sedikit SP2D yang diretur, maka indikator ini semakin bagus.

9. Perencanaan Kas

a. Indikator ini dihitung dari rasio ketepatan waktu penyampaian renkas/RPD Harian yang disampaikan ke KPPN untuk jenis transaksi besar (> Rp 1 Miliar).

b. Renkas tepat waktu akan mendukung terwujudnya likuiditas Kas Negara yang terencana dan terkendali.

10. Pengembalian/ Kesalahan SPM

a. Indikator ini dihitung dari besaran/ jumlah SPM yang terdapat kesalahan secara substantif dan dikembalikan oleh KPPN.

b. Pengembalian SPM secara substantive biasanya disebabkan oleh kesalahan pengisian data supplier, sehingga SPM harus diperbaiki oleh Satker.

c. Pengembalian SPM berpotensi menyebabkan tagihan tidak dapat dibayarkan secara tepat waktu.

11. Pagu Minus

a. Pagu Minus dihitung akhir tahun () untuk sesuai jenis belanja sampai dengan level 6 digit/akun.

b. Pagu minus dapat terjadi akibat kekurangan anggaran maupun karena pergeseran akun (revisi POK) yang belum dilakukan penyamaan data/revisi ke Kanwil DJPb.

12. Dispensasi SPM

a. Dispensasi SPM dihitung berdasarkan jumlah SPM yang terlambat disampaiakan melewati batasbatas akhir SPM pada akhir tahun anggaran.

b. Dikenakan penalti nilai sesuai dengan rentang SPM yang mendapat dispensasi.

Realisasi indikator ini pada tri wulan I tahun 2020 adalah 80% dari target 15%.

Tercapainya realisisasi indikator ini karena telah dilakukan tindak lanjut atas beberapa aspek yang dinilai, antara lain:

1. Revisi DIPA

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Satker lingkup BKIPM dihimbau agar sangat selektif dalam melakukan pergeseran anggaran dalam revisi DIPA (pagu tetap).

• Satker lingkup BKIPM agar dapat mengelola dan menghimpun kebutuhan revisi anggaran untuk kemudian dapat dijadwalkan dengan frekuensi revisi yang akan diajukan baik kepada DJA maupun Kanwil DJPb sebanyak 1 kali dalam 1 triwulan.

2. Deviasi Halaman III DIPA

(40)

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian pada indikator ini, seluruh Satker lingkup BKIPM yang memiliki deviasi tinggi, agar melakukan penyesuaian rencana kegiatan dan realisasi anggaran dengan mengajukan revisi administratif penyesuaian Halaman III DIPA ke Kanwil DJPb pada triwulan berjalan.

• Satker lingkup BKIPM agar lebih disiplin dalam melaksanakan kegiatan dan pencairan dananya, dan menjadikan RPD pada Halaman III DIPA sebagai plafon pencairan dana bulanan secara internal pada Satker.

3. Pengelolaan UP

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Seluruh satker lingkup BKIPM dihimbau untuk memperhatikan periode pengajuan SPM GUP dari SP2D UP/GUP terakhir paling lambat dalam rentang 30 hari kalender ( pengajuan GUP minimal sekali dalam sebulan ke KPPN) dan tidak menambah frekuensi SPM GUP yang terlambat.

4. LPJ Bendahara

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu dalam penyampaian LPJ sebelum tanggal 10 bulan berikutnya, dan memastikan data LPJ telah terverifikasi oleh KPPN pada Aplikasi SPRINT.

5. Penyampaian Data Kontrak

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu dalam penyampaian data kontrak sebelum 5 hari kerja setelah ditanda tangani dan dipastikan verifikasi kebenaran data kontraknya (approval) oleh KPPN.

6. Penyelesaian Tagihan

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu

dalam penyelesaian tagihan kontraktual (LS Non-Belanja Pegawai) paling lambat dalam 17 hari kerja setelah BAST ditanda- tangani sudah diajukan SPM-nya ke KPPN. Selain itu, satker agar teliti, lengkap, dan akurat dalam pengisian uraian pada SPM terutama untuk tanggal dan nomor BAST/BAPP.

(41)

7. Penyerapan Anggaran

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk mempertahankan capaian ini, maka Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa memperhatikan progres penyerapan anggaran secara proporsional dari pagu DIPA efektif.

• Memperbaiki perencanaan dan eksekusi kegiatan secara relevan dan terjadwal, tidak menumpuk pencairan anggaran pada akhir tahun.

8. Retur SP2D

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan ketelitian dalam memproses dokumen pembayaran dalam SPM terutama kebenaran dan keakuratan nama dan nomor rekening bank Pihak Ketiga/ penerima pembayaran.

• Diperlukan proses konfirmasi atas status aktif rekening penerima.

Apabila terjadi retur SP2D, satker agar berkoordinasi dengan KPPN untuk penyelesaiannya tidak lebih dari 7 hari kerja.

9. Perencanaan Kas

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan kedisiplinan, ketertiban, dan ketepatan waktu dalam penyampaian Renkas (RPD Harian) untuk transaksi pencairan dana dalam kategori besar (> Rp 1 Miliar) yang memerlukan penyampaian renkas dengan tidak lebih dari 5 hari kerja sejak tanggal APS pada Aplikasi SAS sampai dengan pengajuan SPM ke KPPN.

10. Pengembalian/ Kesalahan SPM Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Untuk meningkatkan nilai capaian indikator ini, Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa meningkatkan ketelitian dalam memproses dokumen pembayaran dalam SPM terutama kebenaran dan keakuratan data supplier yang telah dicocokkan dengan data yang ada pada OM SPAN maupun data identitas supplier yang terkonfirmasi dengan pihak bank agar SPM yang diajukan tidak tertolak oleh KPPN

9. Pagu Minus

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

(42)

• Satker-satker lingklup BKIPM yang memiliki pagu minus agar dapat segera menyelesaikan pagu minus dengan mempersiapkan revisi anggaran untuk menutup pagu minus tersebut.

10. Dispensasi SPM

Rencana aksi yang dilakukan antara lain:

• Satker lingkup BKIPM dihimbau agar senantiasa memantau progres penyelesaian kegiatan sesuai rencana, menetapkan mitigasi risiko penyelesaian pekerjaan dan pembayaran, dan menghitung prognosis belanja agar dapat dieksekusi tepat waktu untuk menghindari penumpukkan pencairan anggaran pada akhir tahun.

Tabel Target dan Realisasi IK 25 Tri Wulan I Tahun 2020

Indikator Kinerja

Triwulan 1

Target 2020

% thp Target Tahunan

Target 2019

% thp Target Tahun Sebelumnya

Target Realisasi % Nilai kinerja

pelaksanaan anggaran

15 80 100 Baik

(88)

91 Baik

(86)

93

IK26. Batas Tertinggi Persentase Nilai Temuan LHP BPK Atas LK dibandingkan Realisasi Anggaran TA. 2019

Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan adalah merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang didasarkan pada empat kriteria yakni kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), kepatuhan terhadap peraturan perundang- undangan, dan efektivitas sistem pengendalian intern.

Kategori opini terhadap laporan keuangan kementerian/lembaga yang diberikan oleh BPK, yaitu:

Referensi

Dokumen terkait

Jika kamu telah menikmati ( bersetubuh ) dengan perempuan itu, hendaklah kamu memberikan kepadanya mas kawin (ujur, Faridah ) yang telah kamu tetapkan” (Q.S an-Nissa ayat

Hasil uji sampel T-test Independen atau uji beda pada kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan menunjukkan hasil P value 0,008 &lt; α (α=0,05) yang berarti

Pembelajaran terpadu mengadopsi prinsip belajar PAKEM yaitu pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.. Dari buku di atas dapat diketahui bahwa pembelajaran

Adapun yang menjadi unit analisis penelitian ini sebagai actor adalah individu setiap pegawai dalam RAPJ dan para konsumen pengunjung RAPJ, sedangkan place atau tempat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) para pengrajin kesulitan mengembangkan kreativitas mencipta desain motif, desain produk batik dan pewarnaan untuk produk baru di luar

Hasil perhitungan uji Spearman Rho diperoleh simpulan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan upaya pencegahan kekambuhan pada penderita asma di wilayah

Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2005 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara

Pantulan air untuk sinar matahari tidak langsung menuju jendela kaca yang berada disetiap sisi bangunan Hasil rancangan ini menggunakan prinsip Keterbukaan, yang memberikan