PERAN DAN AKTIFITAS LEKRA
3.3 Lekra dan Warga Dunia
Lekra merupakan salah satu organisasi kebudayaan yang paling aktif menjalin seluruh kerjasama dan ikatan antar Negara-negara di Asia Afrika selama satu dasawarsa (1955-1965). Lekra menyepakati segala bentuk aktifitas kebudayaan yang
70Wawancara dengan Martin Aleida pada september 2018.
71
bertujuan memperkuat benteng pertahanaan Negara-negara Asia Afrika.Terhitung dua peristiwa kebudaayaan besar yang melibatkan dua benua ini, yakni Konferensi Film Asia Afrika dan Konferensi Sastrawan Asia Afrika.
Melihat perkembangan gerakan imperialisme yang terwujud dalam hasil-hasil kebudayaan dari Negara Barat dan Amerika tak bisa dilawan hanya dengan mengandalkan kekuatan dari negeri sendiri. Maka, diperlukan juga kerjasama internasional dari negara-negara sepaham. Momentum bertemunya negara-negara sepaham dalam taraf yang besar adalah Konferensi Asia Afrika pada 1955 yang berlangsung di Bandung. Sejak momentum itu, posisi Indonesia memang diperhitungkan dalam percaturan pertemuan antara Asia Afrika.
Konferensi asia Afrika melahirkan “Sepuluh Prinsip Bandung”. Dasasila Bandung yaitu suatu pernyataan politik berisi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.71 Adapun isi dari Dasasila Bandung :
1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil.
71Cheepy Hari Cahyono, Ensiklopedi Politika. Surabaya: Usaha Nasional, 1982, hal. 9-10
72
4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain.
5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB.
6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain.
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupunpenggunaankekerasan terhadap integritaswilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional.
Seperti yang dikatakan Moh.Yamin, Ketua Panitia Kebudayaan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menilai Konferensi Bandung sebagai lahirnya tenaga baru untuk menyuburkan peradaban Asia Afrika. Konferensi ini diwakilkan oleh 29 wakil dari pemerintah Bangsa-Bangsa Asia Afrika yang mewakili rakyat Asia Afrika menyepakati ikrar bersama: Menghukum mati kolonialisme dan rasialisme untuk
73
memajukan perdamain dunia. Konferensi Asia Afrika di serukan secara terus menerus hingga menjadi momentum bagi berlangsungnya kontak-kontak kesetiakawanan yang lebih spesifik. Termasuk dalam dunia sastra menurut Lekra “Adalah bunuh diri disebuah Negara jika sastrawan-sastrawannya berjuang sendiri tanpa ada kontak dengan Negara-negara sepaham”.
3. 3. 1 Konferensi Sastrawan Asia Afrika
Inilah bentuk lain dari jaringan humanisme berbasis kerakyatan yang coba ditegakkan dan dijagai Lekra sebagai agenda kebudayaan. Konferensi sastra Asia Afrika, sikap dan posisi Lekra adalah wajib ikut dan berpartisipasi secara aktif.72 Hal ini menjadi pertanggungjawaban bagi Lekra bahwa seni harus mengabdi kepada rakyat.H ingga Oktober 1965, tercatat baru dua kali konferensi sastrawan Asia Afrika berlangsung.
A. Konferensi Sastrawan Asia Afrika (KSAA) I : Uzbekistan
KSAA pertama berlangsung di Tasjkent, ibukota Republik Sosialis Uzbekistan pada 7 Oktober 1958 dan diikuti oleh sekitar 20 negara antara lain : Afganistan, Aljazair, Birma, Kamerun, Srilangka, Republik Rakyat Tiongkok, Ghana, India, Indonesia, Iran, Jepang, Mongolia, Nigeria, Pakistan, Muang thai, Tunisia, Turki, Uni Afrika Selatan, Republik Arab Persatuan dan Uni Soviet. Sedangkan Indonesia sendiri mengirimkan delegasinya yang diwakili antara lain : Pramodeya
72 Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit. hal. 139.
74
Ananta Toer, Rivai Apin, Hurustiati Subanrio, Dodong Djiwapradja, Joebaar Ajoeb, Utuy Tatang Sontani, Sitor Situmorang dan Asmara Hadi.73
Ide Konferensi ini bermula dari konferensi sastrawan Asia yang berlangsung di New Delhi, India, 1956.Belum ada bentuk konkrit dari konferensi ini selain persahabatan belaka. Kemudian menimbulkan ide untuk mengundang Afrika dalam konferensi selanjutnya dan kelak menjadi Konferensi Asia Afrika Pertama.
Pertemuan pertama para sastrawan ini menandai suatu pertemuan antar penulis yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa Asia Afrika, sebab mereka gandrung akan kemerdekaan tanpa investasi negara-negara adidaya.
Pada awalnya ditegaskan bahwa pertemuan sastrawan Asia Afrika bukan memperhadapkan Negara Asia-Afrika terhadap Barat, melainkan menciptakan kemungkinan-kemungkinan mempertemukan penulis-penulis Asia-Afrika dengan penulis Barat untuk menghubungkan kebenaran peradaban Asia dan Afrika dengan pembaruan besar Eropa. Sehingga sejak awal tidak ada batasan bahwa peserta yang hadir hanya dari kalangan sastrawan Asia-Afrika saja.
Muncul sebuah kesepahaman pada KSAA I dan diyakini bahwa konferensi pertama Oktober 1958 menjadi tanda-batas (mijlpaal) dalam sejarah kesetiakawanan Rakyat Asia Afrika dalam perjuangannya melawan Imperialisme dan Kolonialisme.
73Harian Rakyat. 23 Juni 1962.
75
Sekaligus untuk mempererat hubungan pengarang-pengarang kedua benua ini dalam soal usaha bersama guna menciptakan kemerdekaan, kesejahteraan, dan perdamaian.
B. Konferensi Sastrawan Asia Afrika (KSAA) II : Mesir
Pada 13 hingga 20 November 1962, diadakan KSAA II di Kairo, Mesir, Indonesia terlibat aktif, bahkan sejak persiapan. KSAA Kairo 1962 menetapkan perhatian terhadap: (I) Peranan pengarang dalam perjuangan Rakyat Asia-Afrika melawan imperialisme dan kolonialisme untuk mencapai kemerdekaan nasional dan perdamaian dunia; dan (II) Peranan penerjemahan dalam memperkuat semangat kesetiakawanan Rakyat Asia-Afrika dan dalam memajukan pertukaran kebudayaan antara Rakyat di kedua benua ini.74
Pengarang Asia-Afrika memberikan bukti dengan melibatkan diri menghantam imperialisme, yaitu tanggapan-tanggapan mereka dalam perkembangan politik di Kongo setelah PM Kongo Patrice Emery Lumumba dibunuh kelompok-kelompok reaksioner; sokongan perjuangan heroik Indonesia melawan agresi militer Belanda di Irian Barat; mengutuk kegiatan kriminal imperialisme Portugal atas pejuang-pejuang kemerdekaan di Angola; mengutuk imperialis Prancis di Aljazair;
mengutuk imperialis Prancis atas buka praktik usahanya di Kamerun; mengutuk intervensi imperialis di Laos.
74 Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit. hal. 143.
76
Sebelum melakukan KSAA II di Kairo, pengarang Asia Afrika telah mengadakan sidang darurat di Tokyo pada 27 hingga 30 Maret 1961.75 Delegasi Indonesia diwakilkan oleh Sitor Situmorang dan mendapatkan kesempatan berpidato dalam sidang tersebut. Nyaris tak ada perubahan selama setahun setelah sidang darurat. Pada konferensi berikutnya Indonesia mengirimkan delegasi utamanya, yakni sastrawan-sastrawan Lekra yang dalam konferensi ini menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi karya para pengarang Indonesia dalam bahasa Inggris yang bertemakan perjuangan dan kebangkitan Rakyat Asia-Afrika. Judul-judul puisi tersebut adalah: “Jang Mati Hidup Abadi” (Aidit), “Djamila” (S Anantaguna),
“Setelah Panmunjom” (Hr. Bandaharo), “Haiku variations” (Njoto), “Solidaritas Asia-Afrika” (Sitor Situmorang), dan “Peking” (Rivai Apin).76
Pada zaman itu, puisi memang dijadikan sebagai alat propaganda yang sangat massif digunakan dikarenakan sifatnya yang bersifat universal dan mudah dimengerti oleh rakyat. Semangat lekra dalam solidaritas Asia Afrika dapat dilihat dalam puisi-puisi yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan Lekra, salah satu nya puisi-puisi Merah Kesumba yang ditulis oleh Njoto.
75Ibid. 144.
76Ibid. 145.
77 Darah Lumumba Merah Kesumba Darah Lumumba Merah Kesumba Konggo!
Laparmu Lapar Kami Lapar Revolusi
Darah Lumumba Merah Kesumba Darah Lumumba Merah Kesumba Konggo!
Revolusimu Revolusi Kami Revolusimu Revolusi Kita Revolusi Dunia
Dalam puisinya ini Njoto merefleksikan kemarahan yang luar biasa atas pembunuhan PM Konggo itu, dengan mengatakan “darah Lumumba merah kesumba”
yang berarti darah Lumumba merah menyala. Perjuangan rakyat Konggo adalah perjuangan “kami”, bahkan perjuangan “kita” yang menunjukkan solidaritas yang tinggi bangsa Indonesia (pelopor persekutuan negara-negara Non Blok) terhadap Lumumba dan Konggo.
Joebaar Ajoeb dan Pramoedya Ananta Toer menjadi delegasi dalam Mimbar perwakilan Indonesia serta diberi kesempatan untuk menyampaikan sikap sastrawan Indonesia atas tema utama, yakni usaha konkrit menghalau agresi kebudayaan
78
Negara-negara pengekspor budak baru di Negara Asia-Afrika melalui jalur kebudayaan.77 Pramoedya Ananta Toer dalam pidatonya menyampaikan situasi politik nasional Indonesia dan Asia Tenggara dan bercokolnya kekuatan imperialisme lewat agen SEATO78 dan ANZUS.79 Serta pangkalan militer Amerika yang menciptakan kekacauan di Asia-Afrika dengan mensponsori senjata dalam pemberontakan PRRI-Permesta yang akhirnya gagal. Pram menyatakan pada dunia sastrawan mengenai peran etnik mereka menghadapi para pengacau kedaulatan sebuah Negara merdeka di Asia-Afrika.
Perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme oleh kalangan sastrawan, dalam hal ini Lekra, ternyata memiliki daya pukau luas. Kebenaran semata berada dalam seni itu sendiri. Berkarya untuk memuaskan diri sendiri dan para kritikus Barat. Sikap kepengarangan itulah yang diambil secara sadar dan matang untuk berpihak kepada keselamatan bangsa dan rakyat bukan sekedar untuk kesenangan biasa. Sikap itu bukan hanya bualan sastrawan atau budayawan di Lekra, melainkan sikap sastrawan di Asia dan Afrika.
77 Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit. hal 146.
78Southeast Asia Treaty Organization (SEATO) atau Pakta Pertahanan Asia Tenggara.
SEATO resmi berdiri pada 19 Februari 1955 di Bangkok, Thailand sebagai tindak lanjut dari penandatanganan Pakta Manila pada 8 September 1954. Anggotanya terdiri dari Australia, Perancis, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat.
79ANZUS (Australia, New Zealand, United States Security Treaty) adalah pakta pertahanan dan keamananAmerika Serikat, Selandia Baru dan Australia.
79 3. 3. 2 Festival film Asia Afrika (FFAA)
FFAA I dilangsungkan di Tasjkent pada 1958, FFAA II dilaksanakan di Kairo pada 1960 dan FFAA III di Jakarta masih melanjutkan rangkaian dari FFAA sebelumnya. Pada FFAA III, Menteri Olahraga Maladi ditunjuk sebagai Ketua Kehormatan Komite Nasional dan Nj. Utami Suryadarma ditunjuk sebagai Ketua Umum sekaligus Ketua I Komnas FFAA III yang akhirnya menjadi Ketua Panitia Aksi Pemboikatan Film Imperialis AS setelah festival usai digelar.80 Festival ini menarik karena menjadi peristiwa politik yang hiruk-pikuk, ketegasan dari pernyataan sikap atas kecendrungan orientasi politik, dan konsolidasi kekuatan.
Ketua umum FFAA III, Nj. Utami Suryadarma membagi dua kelompok besar film: Film The New Emerging Forces (Nefo) yang terdiri dari tritunggal: negeri sosialis, negeri baru merdeka dan kekuatan progresif di kekuatan kapitalis dan The Old Established Forces (Oldefo) yang terdiri dari kekuatan imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme, serta pembelanya. FFAA masuk dalam kelompok pertama, lantaran “festival ini yang tegas anti imperialisme, kolonialisme, anti-neokolonialisme, dan anti pula terhadap segala jang terbelakang, lapuk, dan reaksioner”.81
80Ibid., 242.
81Harian Rakyat. 22 April 1964.
80 A. Film Alat Setiakawanan Politik
Pergelaran FFAA III dibuka pada 19 April 1964 dan dilaksanakan di Istora Bung Karno Senayan Jakarta sekaligus menyanyikan lagu “Hallo-hallo Bandung” dan
“Asia Afrika Bersatu”. Festival dibuka oleh pidato Presiden Sukarno serta menekankan betapa sangat pentingnya kesetiakawanan AA (Asia-Afrika), kesetiakawanan AAA(Asia-Afrika-Amerika Latin) dan setiakawanan Nefo dalam perjuangan melawan imperialisme, kolonialisme, dan neokolonialisme.82 Dalam menyukseskan FFAA, Bung Karno mengharapkan adanya titik berat pada solidaritet politik, sebab menurut Bung Karno tak ada Revolusi di Negara-negara Asia-Afrika yang bisa sukses tanpa solidaritet. Bung Karno juga menyampaikan bahwa zaman itu adalah zaman yang ditandai oleh setiakawanan dan persatuan semua bangsa yang anti-imperialisme, kolonialisme, dan neokolonialisme.
Wakil Asia Satsui Yamamoto, menyatakan bahwa Rakyat Jepang telah membicarakan tujuan FFAA III. Mereka ikut serta dalam festival ini karena Semangat Bandung serta merasa memiliki lawan yang sama yaitu imperialisme AS juga untuk memperkokoh setiakawanan untuk mencapai kemerdekaan sejati. Wakil dari Afrika, Said Salim Abdullah dalam Semangat Bandung memberi semangat berupa penghargaan agar Rakyat Indonesia sukses melawan ambisi imperialisme AS yang membikin rakyat di seluruh dunia menerima “American way of life”, juga untuk kemerdekaan nasional.
82 Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit, hal. 243.
81
Bagi Lekra, arah sikap yang dijelaskan oleh Presiden Sukarno di pembuka FFAA dijalankan sebagai ideologi di dunia film Indonesia. Joebaar Ajoeb, Sekretaris Umum Lekra mencoba menemukan hubungan antara dengan politik perjuangan rakyat Asia dan Afrika ditengah sikap inferioritas seniman pekerja film dan bahkan politikus-politikusnya. Joebaar menyaksikan diperjalanan festival ini, bahwa film-film di Asia dan Afrika umumnya diciptakan ditengah-tengah api Revolusi Nasional Rakyat. Film yang memasukkan tradisi-tradisi artistik yang patriotik rakyatnya.
Joebaar membandingkan dengan film-film cowboy yang diproduksi Negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat.83 Menurut Joebaar, pertentangan dan perbedaan tidak hanya pada ideologi, tapi juga secara teknis artistik film-film cowboy berbeda dengan film-film tentang Revolusi Rakyat Asia-Afrika.
Sebelumnya, Joebaar sudah secara tegas mengatakan bahwa Festival Film ini adalah perang kebudayaan film. Serta pesertanya adalah Negara-negara penyokong dan pendukung ”Semangat Bandung”. Menteri Kebudayaan Republik Demokrat Vietnam Hoang Minh Gian sepakat dengan menyambut sedawarsa KAA-I di gedung Megaria mengatakan bahwa Vietnam mendukung penuh sikap Indonesia menghancurkan imperialisme.84
Kedekatan pada tiap Negara dalam festival ini telah membuka kesempatan bagi Indonesia untuk mengrimkan beberapa delegasinya ke Uni Soviet. Seperti yang
83Ibid., 244.
84Ibid., 245.
82
dikabarkan Harian Rakyatpada 1964 delegasi yang dikirimkan ialah : AW. Sardjono (Produser), Major Harmono (Dewan Film), dan Sari Narulita.85 Para delegasi juga sempat membangun aliansi kebudayaan dengan Sri Langka. Komunike FFAA III dikenal sebagai akhir Festival, tepatnya pada 30 April 1964.
Penghancuran kekuatan imperialisme dan komprador-kompradornya yang bekerja dalam dunia film bukan hanya perjuangan dari aktivis kebudayaan Lekra, melainkan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Setelah melahirkan Komunike Antar negara peserta Festival, Lekra turut mengumumkan ikrar mereka di hadapan Presiden Sukarno. Juru bicara atas nama artis dan pekerja film Indonesia adalah Rendra Karno. Salah satu bunyi ikrar tersebut adalah menjadikan tanggal “30 April”
sebagai Hari Film Nasional