PERAN DAN AKTIFITAS LEKRA
3.1 Lembaga Kreatif Lekra
Berdasarkan hasil rekomendasi dari kongres nasional, maka ditetapkan lah upaya-upaya untuk membentuk lembaga-lembaga kreatif daripada lekra, yang pimpinan-pimpinan dari lembaga-lembaga kreatif ini diambil dari pimpinan pusat lekra sendiri. Lembaga-lembaga kreatif ini, antara lain:
a) Lembaga Seni Rupa Indonesia (Lesrupa)
Lesrupa dibentuk pada februari 1959, dan diketuai oleh Henk Ngantung.
Tugas dari Lembaga ini sebagai fasilitator berbagai kegiatan dibidang senirupa baik berupa pameran tunggal, atau pameran bersama. Dalam Konferensi Nasional I Lesrupa pada 24-26 Mei 1961 di Yogyakarta diserukan kepada seniman-seniman untuk menyokong pembangunan nasional semesta berencana, mendukung dan memperjuangkan kembalinya Irian Barat, mengembangkan senirupa Indonesia, serta menjalin kesetiakawanan anti kolonialisme kepada organ-organ kebudayaan sepaham.55
b) Lembaga Film Indonesia (LFI)
Terbentuk sekira Maret-April 1959 yang merupakan tindak lanjut dari Resolusi kongres Nasional I di Solo dengan Ketua Bachtiar Siagian dan Wakil
55Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit, hal 36.
60
Ketua Kotot Sukardi. LFI pertama kali mengadakan Konferensi Nasional pada 1960. Salah satu prestasi besar LFI adalah menjadi Tuan rumah yang baik bagi berlangsungnya Festifal Film Asia-Afrika III56 pada April 1964 yang diikuti oleh 27 negara. Ajang ini kemudian diikuti gerakan massif pemboikotan agen-agen perfilman imperialis Amerika. Dibawah bendera panitia pemboikotan Film Imperialis AS (PAPFIAS), gerakan nasional “tolak film imperialis” berdentang yang berakhir klimaks: badan distribusi film Amerika AMPAI dan vila-vilanya di Cisarua jatuh pada maret-april 1965, selain itu LFI berhasil meretul Dewan Film Indonesia dan mengubah komposisi panitia Sensor Film.57
c) Lembaga Sastra Indonesia ( Lestra)
Didirikan antara Maret-April 1959, yang merupakan tindak lanjut dari Resolusi Kongres Nasional I solo dengan Ketua Bakri Siregar dan wakil ketua Pramoedya Ananta Toer. Lestra melakukan Konferensi Nasional di Medan dari tanggal 22 sampai 25 maret 1963. Dalam konfernas ini membahas
“laporan umum” Ketua Lestra Bakri Siregar, dan “laporan Pengajaran Sastra”
yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer, dan “laporan Organisasi dan Pendidikan Ideologi” yang disampaikan S.Anantaguna. konferensi ini juga mendengar dan mendiskusikan “laporan-laporan pelengkap mengenai kesusasteraan Revolusioner dan Gerakan Revolusioner” yang dismpaikan
56Festifal ini yang menghasilkan rencana tindak lanjut yaitu boikot film AS.
57Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit, hal 37.
61
Nyoto, tentang Kritik Sastra oleh Joebaar Ajoeb, tentang Puisi oleh Hr.
Bandaharo, tentang “Drama” oleh Rivai Apin, tentang “Novel”oleh Agam Wispi, tentang “Hubungan Sasterawan Asia-Afrika dengan Gerakan Anti Imperialis” oleh Ibrahim Isa, dan tentang “Penulisan Skenario Film” oleh Bachtiar Siagian serta sambutan-sambutan lainnya dari Utuy Tatang Sontani dan Basuki Resobowo.58
d) Lembaga Seni Drama Indonesia (LSDI)
Lembaga ini diketuai oleh Rivai Apin dan Dhalia sebagai wakil ketua.
Sebagaimana tercermin dari manifesto-manifesto LSDI, senidrama yang hendak diperjuangkan adalah seni yang bersandar pada penguasaan Manipol Resopim serta situasi politik kekinian (nasional maupun internasional) yang membawa guna bagi pembebasan Rakyat. Revolusi menuntut dipanglimai politik dan berbuat sebanyak mungkin, dan senidrama adalah salah satu senjata ampuh menuju revolusi. Untuk mencapai revolusi maka diperluas rombongan drama di setiap daerah, dengan pengintegrasian kerja Rakyat yang meningkat dari folklore menjadi drama daerah. Lembaga ini mengurusi beberapa seni pertunjukan kerakyatan, antara lain ketoprak, ludruk, sandiwara, dan wayang orang. Untuk mengintensifkan seni pertunjukan itu, LSDI menyerukan untuk memproduksi naskah drama sebanyak-banyaknya, baik lewat cara memproduksi kisah-kisah lama seperti “Si Kabayan” dan “Si
58Ibid.,
62
Nandang”, maupun naskah hasil daya cipta kekinian yang merupakan hasil riset yang didapatkan dari Turba seperti “Orang-orang baru dari Banten”.59 e) Lembaga Musik Indonesia (LMI)
Lembaga ini adalah lembaga yang dibentuk kemudian setelah Lesrupa, Lestra, LFI, dan LSDI. LMI mengadakan konfernas I di markas besar Ganefo pada 31 Oktober 1964 dan dihadiri sekitar 38 orang seniman/senimati. Konfernas I mengupas beragam soal, antara lain “Hak cipta dalam seni dan bermusik”.
Secara tegas konfernas mengambil sikap pencaplokan lagu-lagu Indonesia secara membabi buta oleh Malaysia.60 Selain itu, LMI juga dibebani tugas mengangkat musik daerah sebagai peluru dan mesiu untuk mengganyang seteru-seteru yang melemahkan Revolusi. Penyempurnaan musik daerah menjadi musik Rakyat harus dikenalkan dengan kerja dan upaya. Tokoh musisi memiliki andil sebagai eksponen yang dapat membela musik untuk menyelamatkan musik Indonesia dari musik cengeng, ngak ngik ngok yang membawa pengaruh besar terhadap musik Indonesia. Maka langkah yang dilakukan oleh lembaga ini adalah melakukan pendataan yang komprehensif terhadap musik-musik daerah. Sebab dengan pendataan yang kuat, musik daerah bisa diselamatkan dari kepunahan alamiah maupun karena pencaplokan negara lain.61
59Ibid.,
60Harian Rakyat. 25 Januari 1964.
61Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit, hal 38.
63 f) Lembaga Senitari Indonesia
Sama dengan Lembaga musik, lembaga ini juga dibentuk belakangan. Bahkan lima tahun setelah rekomendasi Kongres Nasional I, lembaga ini melakukan Konferensi Nasional nya yang pertama pada 24 Maret 1964. Konferensi ini membahas ihwal penciptaan tari baru, membangun dan mengembangkan tari nasional sebagai senjata memenangkan revolusi. Tari-tari daerah coba direvitalisasi menjadi modal besar untuk membangkitkan solidaritas sosial.
Misalnya, bagaimana tari Lesno Maluku diangkat hingga tingkat nasional sebagai tari pergaulan karena menggabungkan antara gerak tari Rakyat yang diramu dengan gerak-gerak kerja kaum tani yang ceria.62
3. 2 LEKRA dan PKI
Lekra adalah sebuah gerakan kebudayaan nasional dan kerakyatan, yang di dalamnya memang ada orang-orang yang menjadi anggota PKI, tetapi yang sebagian besarnya, bukan. Lekra didirikan dan bekerja untuk kepentingan yang nasional dan kerakyatan di lapangan kebudayaan. Lekra, sebagaimana terlihat pada Mukaddimah nya, tidak mengazaskan kegiatannya pada pandangan klas dan atau Marxisme-Leninisme. Juga organisasi yang mengatur kegiatannya tidak berbau Leninisme sedikitpun. Bahwa ada karya di lingkungan Lekra yang dialamatkan langsung kepada kepentingan Partai Komunis Indonesia, ia sudah tentu secara langsung menjadi
62Ibid.,
64
tangungjawab pencipta karya itu, yang mungkin saja anggota PKI. Orang berhak memuliakan sesuatu yang ia anggap demikian, namun haknya itu hendaklah pula diperlakukan dengan adil ketika ia mempertanggungjawabkannya.
Adapun tanggung jawab Lekra, ia berada di lingkup selama karya itu tidak anti Rakyat dan tidak anti Revolusi Agustus 45, atau seperti yang dinyatakan dalam Mukaddimahnya, “Lekra menyetujui setiap aliran bentuk dan gaya, selama ia setia pada kebenaran, keadilan dan kemajuan, dan selama ia mengusahakan keindahan artistik yang setinggi-tingginya” dan “Lekra mengulurkan tangan kepada organisasi kebudayaan yang lain dari aliran atau keyakinan apapun untuk bekerjasama dalam pengabdian ini.”
Adapun PKI, sebuah partai politik. Politik merupakan pembidangan teoritis tersendiri, sama seperti seni, sastra, ilmu dan kebudayaan juga demikian.
Pengetahuan (ilmu) yang mengkategorasikan nya demikian, penjelasan sederhana ini untuk memudahkan kita memahami kenyataan yang sungguh luar biasa rumitnya, kenyataan itu hidup dan berubah, maka diperlukan pembatasan pengertian karakterisasi dan kategorisasi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesian, pengertian politik: sehubungan dengan ilmu adalah, pengetahuan mengenai kenegaraan, seperti sistem dasar-dasar pemerintahan. Pengertian kedua ialah, segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat,dsb) mengenai pemerintahan negara. Pengertian ketiga kebijaksanaan, cara
65
bertindak. Sementara menurut Imam Ghazali merumuskan: “segala yang menyangkut negara adalah politik”. Melihat pengertian politik diatas, dapat disimpulkan bagaimana pengertian politik itu bekerja dalam kenyataannya, pada sebuah kasus dalam hal ini Lekra dan PKI dua organisasi yang kait-mengait dalam kerjasama tetapi juga tentang menentang dalam pembentukan arah organisasi.
Salah satu pertentangan pandangan arah organisasi antara Lekra dan Partai adalah ketika PKI menyampaikan gagasan untuk memerahkan lekra (menjadikan Lekra sebagai underbouw resmi PKI). Jika tawaran tersebut diterima, maka hal itu akan diumumkan secara formal. Dalam pandangan Aidit, PKI membutuhkan organisasi resmi seniman sebagai motor pendulang suara. Maklum saja, kehadiran lekra sebagai lembaga kebudayaan yang dekat dengan rakyat dan banyak memiliki kantong-kantong massa didaerah-daerah membuat anggota partai bertambah pesat.
Secara tidak langsung Lekra memiliki peran dalam menambah jumlah anggota partai tersebut.
Menanggapi gagasan partai yang ingin memerahkkan Lekra ini dengan lantang ditolak oleh tokoh-tokoh teras pimpinan pusat lekra. Penolakan ini disampaikan dengan alasan yang sehat dan demokratis sejalan dengan cita-cita lekra dalam mengemban kerja-kerja kebudayaan. Nyoto yang Anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra adalah juga Wakil Ketua II CC PKI, ikut serta menolak gagasan mem-PKI-kan Lekra. Pada tubuh Lekra, sosok Njoto amat disegani karena
66
kemampuan orasi dan pengetahuan yang luas tentang kesenian. Pertimbangan Nyoto praktis saja, di Lekra juga turut bergabung seniman non-komunis yang bukan anggota partai, seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy tatang Sotani dan lainnya. Menurut Njoto membuat Lekra menjadi organ resmi partai hanya akan mendorong seniman-seniman terkenal dan berpengaruh itu hengkang.
Dapat dimengerti akibat-akibat yang timbul dari penolakan Lekra, jaman itu PKI sedang kuat-kuatnya. Oleh karena penolakan itu, PKI menggelar Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) sebagai penegasan bahwa tanpa Lekra PKI tetap didukung Oleh seniman-seniman kebudayaan.
Menarik untuk dihubungkan kemudian bagaimana relasi antara Lekra dan PKI dalam pelaksanaan KSSR. Hubungan ini membawa kita kepada muara seperti apa posisi lekra dalam kelembagaan PKI: sebagai Underbouw (mengikuti garis perintah partai) atau hanya sekawan dalam pemahaman ideologi di jalan kebudayaan. Hal pertama yang perlu ditegaskan bahwa penyelenggaraan KSSR sepenuhnya dilakukan oleh PKI dan bukan Lekra secara institusional. Walau dalam kenyataan, seniman dan budayawan Lekra berpartisipasi penuh dalam menyukseskan acara itu. Diantara seniman dan budayawan Lekra yang memberikan ucapan atau kata sambutan dalam KSSR ini tidak satupun menghubung-hubungkan Lekra secara Institusional dalam konferensi ini.
67
Berikut kutipan satu persatu seniman Lekra yang memberi sambutan pada Konferensi tersebut:
S Anantaguna, Anggota Pimpinan Pusat Lekra
Ia mengapresiasi KSSR dan dalam tulisannya selalu menyebut Aidit sebagai kawan ketua, tapi tak satu pun menyebut Lekra dalam tulisannya63
Agam Wispi, Anggota Pimpinan Pusat Lekra
Wispi menyoroti trik bagaimana mengatasi kemalasan berkreasi dengan menyampingkan berbagai alasan yang seharusnya diatasi. Dia tak lupa memberikan rekomendasi pentingnya mengolah bahan disekitar sastrawan yang cukup kaya. Kepada para sastrawan dan pekerja kebudayaan itu dianjurkan membuat semacam catatan harian untuk dasar tulisan. Kehadirannya bukan atas nama Lekra, dan tak pernah Membawa-bawa lekra dalam sambutannya.64
Hr Bandaharo, anggota Pimpinan Pusat Lekra
Dalam sambutannya menyatakan bahwa para sastrawan dan seniman harus memiliki emosi yang kuat, penuh gairah sehingga hasilnya bisa mengubah setiap hati manusia. Tak hanya penyair, tapi juga sarjana sastra, dosen fakultas sastra dan lain sebagainya.65
63Harian Rakyat, 11 oktober 1964.
64Harian Rakyat, 2 September 1964.
65Ibid.,
68
Bachtiar Siagian, anggota Pimpinan Pusat Lekra
Ia mempresentasikan seputar aksi-aksi boikot atas film-film Amerika Serikat66
Nurbakti, anggota Pimpinan Pusat Lekra
Menyorot pentingnya seni fotografi: sebagai bagian dalam perjuangan memenangkan revolusi dan mengusulkan dibentuknya lembaga fotografi.
Juga menguraikan tentang kekayaan folklore tanah air yang merupakan bahan-bahan mentah untuk kreasi.67
Sugiarti Siswadi, anggota Pimpinan Pusat Lekra
Menjelaskan pentingnya pendidikan ideologi untuk bisa menghasilkan karya-karya bermutu tinggi, pentingnya pengintegrasian diri dengan rakyat terutama kaum tani dan menyambut penulisan Revolusi agustus yang menjadi tugas sastrawan-sastrawan pada masa ini.68
Nyaris tidak ada satupun diantara anggota Lekra itu menyebutkan keikutsertaan Lekra sebagai institusi kebudayaan dalam KSSR. Harian rakyat pun hanya satu kali mengutip nama Lekra, setelah itu tak ada lagi kutipan baik sebagai lembaga kebudayaan yang sekawan maupun sebagai identitas dari pemrasaran.69 Ironisnya malah terjadi di tahun-tahun sesudah 1965. Banyak orang mem-PKI-kan
66Harian Rakyat. 31Agustus 1964.
67Ibid.,
68Ibid.,
69Rhoma Dwi Aria, 2008, op.cit, hal 60.
69
Lekra. Sehingga yang terjadi adalah, jika D.N. Aidit tidak berhasil, orang lain yang padahal atau tampak seperti anti PKI, malah “berhasil” mem-PKI-kan Lekra.
Saya ingin mengetuk perhatian anda bahwa mem-PKI-kan Lekra dapat membawa kerancuan dalam tubuh seni, sastra dan bahkan kebudayaan negeri ini karena penilaian dan penentangan yang tidak berujung pangkal.
Lekra begitu sering dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), dari segi ideologi dan prinsip kerakyatan dua organisasi ini memang banyak memiliki persamaan yang paling menonjol adalah kesamaan pandangan dalam menentang Imperialisme. Sulit mencari bukti bahwa Lekra adalah organ resmi PKI. Joebaar Ajoeb, Sekertaris Umum Lekra pada masa itu menulis “Mocopat Kebudayaan” yang ditulisnya, bahwa organisasi ini bersifat terbuka, anggotanya bisa siapa saja, bukan hanya seniman yang aktif di partai, bahkan yang tidak mendukung komunisme pun boleh. Kewajiban anggotanya hanya satu, yakni aktif di salah satu lembaga seni Lekra.Sementara PKI memiliki Kongres, Lekra juga menggelar Kongres dan punya anggaran dasar sendiri yang sekaligus menegaskan bahwa mereka tak ada kaitan formal dengan PKI.
Martin aleida menjelaskan perihal Hubungan Lekra dengan PKI yang sebenarnya awalnya hanya karena persamaan pandangan namun yang terjadi kemudian banyak anggota-anggota lekra di daerah yang mengamini bahwa antara PKI dengan Lekra itu sama secara organisasi, hanya bidang nya yang berbeda.
70
Kekeliruan yang sangat besar memang, mengingat para elit pimpinan Lekra secara tegas menolak penyeragaman tersebut70. Kenyataan yang terjadi pada jaman itu memang cukup kompleks. Kebudayaan sudah divulgarkan dengan kehidupan politik.
Popularitas Lekra yang luas membuat D.N. Aidit tertarik melegalkannya di bawah partai. Kerena itu Konferensi Nasional Sastra dan Seni Revolusioner yang dibuat oleh PKI, dan Aidit pun merumuskan “sastra dan seni revolusioner harus mengakui dan menaati pimpinan partai”. Inilah yang menjadi pembeda PKI dan Lekra. Meskipun begitu ceritanya, tapi tidak sedikit yang mengganggap Lekra sama dengan PKI misalnya sastrawan Ajip yang menuliskan buku Lekra bagian PKI.
Hingga pada suatu waktu, saat salah satu pendirinya, D.N Aidit, gagal untuk mem-PKI-kan Lekra, malah Lekra justru di-mem-PKI-kan oleh lawan-lawan politiknya di Orde Baru. Seniman Lekra disamakan dengan aktivis dan para petinggi PKI, sebagai dalih yang dipakai Soeharto untuk menumpas Komunis hingga akar-akarnya. Popularitas Lekra yang luas pada masa itu membuat Pimpinan PKI tertarik melegalkannya dibawah partai.