• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 3.1 Usaha Kecil Dan Kebutuhan Kredit

3.4. Lembaga Keuangan Mikro dan Peningkatan Pendapatan

Keuangan mikro telah sejak lama dikembangkan, sehingga hampir setiap negara memiliki sejarah lembaga keuangan mikro. Di Irlandia berdiri lembaga pemberi pinjaman dana (Kreditkassen) di sekitar tahun 1720-an, yang menekankan pada: pemantauan pinjaman yang ketat (peer monitoring), cicilan mingguan (weekly instalments), bebas bunga di awal cicilan, dan sumber dana dari donatur. Serta di Jerman pada sekitar tahun 1778 muncul sistem keuangan mikro, yang bersumber pada simpan pinjam berbasis masyarakat (community-based), dan koperasi kredit dan simpanan (savings and credit cooperatives). Lembaga keuangan mikro ini terus berkembang hingga sekarang ini. Perkembangan ini antara lain menunjukkan bahwa lembaga keuangan mikro yang digerakan oleh simpanan (savings-driven) dapat berkembang di perkotaan dan perdesaan, serta jika diawasi dan diatur sebagaimana mestinya (properly regulated and supervised) akan menjadi potensi yang besar bagi pembangunan dan pengurangan kemiskinan baik di perkotaan atau perdesaan (Seibel, 2003).

Keterkaitan antara kredit dari lembaga keuangan mikro dan peningkatan pendapatan rumah tangga merupakan salah satu karakteristik kegiatan produksi di

negara-negara berkembang. Keterkaitan ini menunjukkan peran kredit mikro dalam mengurangi kemiskinan terutama di wilayah perdesaan. Peranan lembaga keuangan mikro dalam membantu usaha mikro dan mengentaskan kemiskinan ditandai dengan berkembangnya skim kredit mikro yang dikembangkan oleh Grameen Bank tahun 1976 di Bangladesh. Sejak awal beroperasinya Grameen Bank tetap menjaga mandat untuk mengentaskan kemiskinan di perdesaan. Untuk itu bank tidak hanya mengutamakan kelompok peminjam perempuan, akan tetapi sejak tahun 1980-an bank lebih mengutamakan fokus pada kelompok perempuan. Hal ini karena asumsi bahwa perempuan mempunyai kontribusi besar terhadap kesejahteraan keluarga. Hipotesanya adalah perempuan selalu memprioritaskan investasi yang menguntungkan anak-anaknya, karenanya pinjaman kepada perempuan akan memberikan manfaat kualitatif terhadap keluarga yang lebih dibanding pinjaman kepada kaum laki-laki. Dalam masyarakat yang lebih besar ini merupakan bentuk pemberdayaan sosial-ekonomi (Rahman, 1999).

Grameen Bank dikenal sebagai sebuah bank bagi masyarakat miskin, yang dalam operasinalnya tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian (prudential

banking), dengan memahami kemampuan sumberdaya masyarakat miskin. Skim

kredit bank ini dinilai berhasil membantu masyarakat miskin di wilayah perdesaan di Bangladesh. Grameen Bank tidak mengharuskan masyarakat miskin untuk menyediakan agunan (collateral) yang merupakan syarat utama dalam praktek perbankan konvensional, yang umumnya tidak berpihak pada masyarakat miskin. Ketidakperpihakan perbankan konvensional pada masyarakat miskin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya (1) keharusan adanya agunan (collateral), sesuatu hal yang hampir pasti sulit dimiliki dan disediakan oleh masyarakat

miskin, (2) apabila tidak mungkin untuk menyediakan agunan, maka diperlukan orang (pihak ketiga) yang dapat menjadi penjamin. Pada kenyataannya kaum miskin sangat kecil peluangnya untuk mendapatkan orang yang bersedia menjadi penjamin kredit bagi orang miskin, dan (3) jarak lokasi lembaga bank komersial dengan wilayah perdesaan, sangat tidak memungkinkan kaum miskin untuk hadir ke kantor bank yang seringkali jarak cukup jauh sehingga memerlukan tambahan biaya yang memberatkan. Situasi ini yang antara lain mendorong Muhamad Yunus melakukan pilot proyek bank untuk kaum miskin. Dimulai tahun 1976 dengan pilot proyek selama hampir tujuh tahun, maka pada tahun 1983 berdirilah sebuah bank bagi kaum miskin di Bangladesh yang bernama Grameen Bank, yang artinya bank perdesaan (Syukur, 2002).

Sebagai sebuah bank yang melayani kaum miskin, Grameen Bank mengalami perkembangan yang sangat pesat di Bangladesh. Hal ini tidak terlepas oleh adanya beberapa elemen esensial (Syukur, 2002), yaitu: (1) sasaran penerima pinjaman ditentukan secara jelas dengan kriteria tertentu (exclusive targeting), misalnya: memiliki lahan kurang dari 0.5 acre atau memiliki kekayaan tidak lebih dari nilai sebidang lahan yang subur seluas 1.0 acre, (2) menekankan pada peminjam perempuan, yang umumnya lebih disiplin dan hanya menggunakan pinjaman untuk kegiatan produktif, (3) lembaga pelayanannya berada pada tingkat yang paling bawah (grassroot level), dengan membentuk kelompok dengan anggota lima orang dan kemudian membentuk enam kelompok, (4) peminjam dikenakan bunga komersial dan pinjaman hanya boleh digunakan untuk kegiatan produktif (income generating activities) dan pengajuannya tanpa agunan, (5) aplikasi dan prosedur pinjaman yang sederhana, serta jumlah pinjaman yang

terkontrol (manageable) dan dibayar mingguan, (6) penyaluran pinjaman baru (first loan) terhadap anggota dalam satu kelompok tersebut dilakukan secara bergiliran dengan pola 2-2-1, (7) terdapat sistem insentif dan pinalti, serta akuntabilitas transaksi pada pertemuan mingguan, (8) mobilisasi tabungan yang juga bertujuan untuk mendidik disiplin anggota, (9) otonomi dalam kegiatan operasional dilapangan, dan (10) pelatihan staf secara praktis, disiplin dan teliti, serta kepemimpinan yang memiliki komitmen yang tinggi.

Kredit mikro sebagai produk utama lembaga keuangan mikro diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan memperkuat kapasitas kelembagaan dari sistem keuangan tersebut dalam penyaluran pinjaman kepada rumahtangga miskin. Rumahtangga miskin ini mempunyai corak tersendiri yang berbeda dari yang dikehendaki oleh sistem perbankan komersial dalam hal agunan (collateral), tetapi kredit mikro ini telah mampu menggali kelembagaan baru yang mampu menekan resiko dan biaya menjadi lebih kecil pada pinjaman tanpa agunan (uncollateralized loans). Lembaga ini juga telah mampu melayani lebih banyak masyarakat miskin dibandingkan dengan yang dilayani oleh program-program bersubsidi (Morduch, 2000).

Selain itu menurut (Schreiner, 2002) keuangan mikro juga akan memberikan manfaat sosial (social benefits) bagi peningkatan kesejahteraan, jika mampu memperbaiki aspek jangkauan (outreach) dengan bidang yang luas dan lebar (wide breadth), jauh dan lama (long length), serta cukup beragam (ample). Menurut Yaron et al. (1996), untuk meningkatkan kinerja lembaga keuangan ini perlu memperkuat aspek jangkauan (outreach) dan keberlanjutan secra mandiri

(self-sustainability), sehingga memberikan dampak pembangunan pada peningkatan pendapatan dan pengurangan kemiskinan.

Morduch (2000) mengatakan tentang pentingnya menghindari kesalahan masa lalu dari program-program kredit bersubsidi, dimana lembaga keuangan tersebut pada akhirnya menghadapi masalah : (1) biaya transaksi yang tinggi ketika memberikan pinjaman pada usaha mikro dan kecil, (2) sulit sekali menentukan potensi resiko peminjam dan monitoring perkembangan klien kelompok masyarakat miskin dan bergerak di sektor informal, dan (3) rumahtangga berpendapatan rendah umumnya kekurangan aset untuk dijadikan agunan dalam memperoleh kredit.

Dokumen terkait