TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Terkait Variable Penelitian
1. Lembaga keuangan Mikro Syariah
Lembaga keuangan mikro (LKM) di Indonesia saat ini berkembang pesat dan mempunyai peran penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Pesatnya perkembangan LKM ini karena hampir 51,2 juta unit atau 99,9% pelaku usaha dalam perekonomian Indonesia didominasi oleh unit usaha mikro dan kecil (Ali Sakti: 2013).
LKM bisa dikatakan sebagai salah satu pilar penting dalam proses intermediasi keuangan yang dibutuhkan oleh masyarakat kecil dan menengah guna untuk konsumsi maupun produksi serta juga menyimpan hasil usaha mereka (Abdul Rasyid,2017).
Di Indonesia, LKM diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro. Menurut Pasal 1 (1) Undang-undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, yang dimaksud dengan LKM adalah: lembaga keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha yang tidak semata-mata mencari keuntungan.
Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa LKM merupakan lembaga keuangan yang berfungsi sebagai lembaga intermediary yang bertujuan tidak hanya semata-mata mencari keuntungan (profit motive) saja, tetapi mempunyai tujuan lain yakni tujuan sosial (social motive) yang kegiatannya lebih bersifat community development (I Gede Kajeng Baskara: 2013).
Selain menjalankan aktivitas secara konvensional, LKM juga bisa beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Khusus untuk lembaga keuangan mikro syariah (LKMS), kegiatan yang dilakukannya dalam bentuk
21
pembiayaan, bukan simpanan. Pembiayaan di sini diartikan sebagai penyediaan dana kepada masyarakat yang harus dikembalikan sesuai dengan yang diperjanjikan menurut prinsip syariah (Pasal 1 (4) UU-LKM).
LKMS dalam menjalankan usahanya harus merujuk kepada fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Di samping itu, LKMS juga wajib membentuk Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas memberi nasihat dan saran kepada direksi atau pengurus, dan mengawasi kegiatan LKM sesuai dengan prinsip syariah (Pasal 12 & 13 UU-LKM).
LKM sebelum beroperasi harus mendapat izin terlebih dahulu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (Pasal 9 UU-LKM). Bentuk badan hukumnya bisa berbentuk koperasi dan Perseroan terbatas (Pasal 5 UU-LKM). Kegiatan usaha LKM bisa meliputi jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha (Pasal 11 UU-LKM). LKM yang akan beroperasi harus mengajukan permohonan untuk mendapat izin usaha dari OJK semenjak diberlakukannya UU-LKM pada tanggal 8 januari 2015. Adapun bagi LKM yang selama ini telah beroperasi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro wajib memperoleh izin usaha dengan pengukuhan sebagai LKM oleh OJK selambat-lambatnya 8 Januari 2016 (Pasal 29 ayat 1 POJK nomor 12/POJK.05/2014 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Lembaga Keuangan Mikro). Saat ini, berdasarkan data OJK per 31 Januari 2017, terdapat 138 Lembaga Keuangan Mikro yang telah terdapat di OJK.
LKMS dalam menjalankan usahanya berada dalam satu wilayah desa/kelurahan, kecamatan, atau kabuapen/kota. Jika LKMS melakukan kegiatan usaha melebihi 1 (satu) wilayah kabupaten/kota maka ia wajib merubah bentuknya menjadi bank (Pasal 16 & 27 UU-LKM). Dalam hal pembinaan, pengaturan, dan pengawasan LKM, baik yang berbadan hukum koperasi dan perseroan terbatas, dilakukan oleh Otoritas Jasa
Keuangan (OJK). Terkait dengan pembinaan terhadap LKM berbadan hukum koperasi, OJK akan melakukan koordinasi dengan kementerian yang menyelenggarakan urusan koperasi.
Sebelum lahirnya Undang-undang No. 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, LKMS di Indonesia dikenal dengan nama Baitul Mal wa Tamwil (BMT) atau Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS). Lembaga tersebut di atas pada umumnya berbadan hukum koperasi. Berdasarkan Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasion yang secara spesifik diatur dalam Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 16/Per/M.KUM/IX/2015 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam dan Pembiayaan Koperasi, perihal perizinan, pendirian, pengawasan dan pembinaan badan koperasi jenis KSPPS harus dilakukan oleh Pemerintah. Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa BMT/KSPSS merupakan lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah yang berbadan hukum koperasi di bawah pegawasan kementerian koperasi dan usaha kecil dan menengah.(abdul rasyid, 2017).
a. Baitul Mal wa Tamwil (BMT)
BMT merupakan lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Baitul Maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dana dan penyaluran dana yang non profit, seperti zakat, infak, dan sedekah. sedangkan baitut tamwil sebagai usha pengumpulan dana dan penyaluran dana secara komersia. Usaha -usaha tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bmt sevagai lembaga pendukung kegiatan ekonomi masyarakat kecil dengan berlandaskan Syari’at islam. (Heri Sudarsono,2013).
Baitul Mal wa Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu adalah lembaga keuagan mikro yang beroperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh-kembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan
23
kaum faqir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh-tokoh mayarakat setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salam: keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan. (Sumar’in, 2012).
Baitul Mal wa Tamwil (BMT) tersusun atas dua kata golongan yang masing-masing mempunyai makna sendiri, yakni Baitul Mal dan Baituttamwil. Baitul Mal adalah lembaga keuangan yang berorientasi sosial keagamaan yang kegiatan utamanya menampung serta menyalurkan harta masyarakat berupa zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS), sesuai dengan ketentuan prinsip syariah.
Sedangkan baitul tamwil adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali dalam bentuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah (Ahmad Syaiful Anam, 2012).
Menurut M. Nur Rianto Al Arif (2012), Baitul Mal wa Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum faqir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal dari tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan sistem ekonomi yang salam: keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan. BMT sesuai namanya terdiri atas dua fungsi utama, yaitu sebagai berikut:
1. Baitul Tamwil (rumah pengembangan harta), melakukan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil, antara lain dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi.
2. Baitul mal (rumah harta), menerima titipan dana zakat, infaq, dan shodaqoh serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya.
BMT menjalankan tugas sosialnya dengan cara menghimpun dan membagikan dana masyarakat dalam bentuk zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS) tanpa mengambil keuntungan.
Disisi lain ia mencari dan memperoleh keuntungan melalui kegiatan kemitraan dengan nasabah baik dalam bentuk penghimpunan, pembiayaan, maupun layanan-layanan pelengkapnya sebagai suatu lembaga keuangan Islam.
Sumber dana BMT pada prinsipnya dikelompokkan menjadi 3 bagian, yakni dana pihak pertama (Modal), dana pihak kedua ( Pinjaman lain) ,dan dana pihak ketiga (tabungan atau simpanan). Adapun penjelasan nya sebagai berikut:
1. Dana Pihak Pertama
Adalah dana yang diperoleh dari modal penyertaan ( simpanan pokok khusus) yang dapat dimiliki oleh individu maupun instansi dengan jumlah penyimpanan tidak harus sama.
Kemudian dari simpanan pokok, yang merupakan simpanan yang harus dibayar saat menjadi anggota BMT dengan porsi yang sama.
selanjutnya dari dana simpanan wajib yang mana pada simpanan ini tidak ditentukan porsi nya seseuai kebutuhan permodalan dan anggotanya.
2. Dana Pihak Kedua
Yaitu dana yang bersumber dari pinjaman pihak luar. Nilai dana ini tidak terbatas, tergantung pada kemampuan BMT masing-masing dalam menanamkan kepercayaan pada investor.
3. Dana pihak Ketiga
Dana ini merupakan simpanan sukarela atau tabungan dari para anggota BMT. Jumlah dan sumber dana ini sangat luas dan tidak terbatas.
25
Menurut Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Namun kenyataanya bank syariah masih belum mampu menjangkau Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Melihat pembiayaan untuk kelompok UMKM memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan pembiayaan untuk non-UMKM.
NPF untuk UMKM secara total maupun per kelompok BUS maupun UUS jauh lebih tinggi dibandingkan dengan NPF untuk non-UMKM (ISEO, 2018).
Adapun Fungsi Baitul Maal wa Tamwil (BMT) :
a. Mengidentifikasi, Memobilisasi, Mengorganisir, Mendorong dan Mengembangkan Potensi Serta Kemampuan Ekonomi Anggota , Kelompok, Usaha Anggota Muamalat (Pokusma) dan Kerjanya.
b. Mempertinggi kualitas SDM anggota dan Pokusma menjadi lebih profesional dan islami sehingga makin utuh dan tangguh menghadapi tantangan global.
c. Menggalang dan mengorganisir potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota. (Andri soemitra,2010)
selain itu Baitul Maal wa Tamwil juga memiliki beberapa peran:
a. Menjauhkan masyarakat dari praktik ekonomi yang bersifat non islam melakukan sosialisasi di tengah masyarakat tentang arti penting sistem ekonomi islam. Hal ini bisa dilakukan dengan pelatihan-pelatihan mengenai cara-cara bertransaksi yang islami.
Misalnya ada bukti dalam bertransaksi, dilarang curang dalam menimbang barang, jujur terhadap konsumen, dan sebagainya.
b. Melakukan pembinaan dan pendanaan usaha kecil. BMT harus harus bersikap aktif menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan mikro, misalnya dengan jalan pendampingan, pembinaan, penyuluhan, dan pengawasan terhadap usaha-usaha nasabah.
c. Melepaskan ketergantungan pada rentenir, masyarakat yang masih tergantung rentenir disebabkan rentenir mampu memenuhi keinginan masyarakat dalam memenuhi dana dengan segera. Maka BMT harus mampu melayani masyarakat lebih baik, misalnya selalu tersedia dana setiap saat, birokrasi yang sederhana dan lain sebagainya.
d. Menjaga keadilan ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata. Fungsi BMT langsung berhadapan dengan masyarakat yang kompleks dituntut harus pandai bersikap, oleh karena itu langkah-langkah untuk melakukan evaluasi dalam rangka pemetaan skala prioritas yang harus diperhatikan, misalnya dalam masalah pembiayaan, BMT harus memperhatikan kelayakan usaha dalam hal golongan nasabah dan juga jenis pembiayaan yang dilakukan.(Nurul Huda dan Muhammad Haykal, 2010).
27
Operasional BMT menurut Nita Prinswee (2014), kegiatan yang dikembangkan BMT meliputi:
a. Menggalang dan menghimpun dana (funding) yang dipergunakan untuk membiayai usaha-usaha anggotanya.
Sumber dana BMT terdiri dari dana masyarakat, simpanan biasa, simpanan berjangka atau deposito dan melalui kerjasama dengan lembaga lain.
b. Para penyimpan akan memperoleh bagi hasil dengan mekanisme yang sudah diatur dalam BMT. Memberikan pembiayaan kepada anggota sesuai dengan kelayakan yang dilakukan oleh pengelola BMT bersama anggota yang bersangkutan.
c. Mengelola usaha simpanan-pembiayaan (financial/lending) itu secara profesional sehingga kegiatan BMT bisa menghasilkan keuntungan yang dapat dipertanggung jawabkan.
d. Mengembangkan usaha-usaha di sektor riil yang bertujuan untuk mencari keuntungan dan menunjang usaha anggota.
Perbedaan antara Baitul Maal wa Tamwil dan Bank adalah sebagai berikut:
No Perbedaan Bank BMT
1 Insentif Bunga Bagi Hasil
2 Landasan hukum orientasi
Hukum positif Syariat dan hukum positif
3 Kelembagaan Dunia Dunia dan akhirat 4 Laporan
keuangan
Accrual basis Cash basis
5 Sumber ajaran Paham kapitalisme
Al-qur’an, sunnah, dan ijtihad ulama 6 Fungsi uang Sebagai
komoditas
Bukan komoditas
7 Sector moneter versus riil
Pengawasan komisaris
Pengawasan dps dan komisaris
2. Kinerja Lembaga Keuangan Syariah
Pengukuran kinerja lembaga keuangan syariah atau LKS, seperti bank syariah, takaful atau BMT, yang segaris dengan karakteristik Lembaga Keuangan Syariah itu sendiri belum dikembangkan, sehingga pengukuran kinerja lembaga keuangan syariah masih menggunakan pengukuran kinerja klasik yang sangat terfokus pada aspek keuangan suatu lembaga intermediasi, seperti Return Of Asset yang disingkat ROA dan Return Of Equity atau yang disingkat ROE, serta aspek teknisnya , seperti biaya operasi di bagi pendapatan operasional atau biasa disebut BOPO, Non-Performing Financing yang biasa disebut NPF dan juga Financing to Deposit Ratio atau biasa disebut FDR, termasuk pengukuran efisiensi, seperti teknis dan efisiensi biaya.
29
Kinerja sering disebut dengan performance suatu perusahaan atau hasil kerja atas suatu instansi . lembaga keuangan syariah yang disingkat LKS sebagai lembaga keuangan yang menerapkan aturan-aturan sesuai syariat islam harus memiliki performance yang segaris dengan syariah juga layaknya mencapai mashlahahtan umat.
Indikator kinerja atau biasa disebut IK atau Performance Indicator yang disingkat PI adalah apa-apa yang harus dilakukan suatau lembaga atau perusahaan untuk mencapai tujuan atau keberhasilannya.
Adapun jenis indikator kinerja sebagai berikut : a. Indikator kualitatif
Dalam indikator ini angka diganti dengan menggunakan bentuk kualitatif nilai yang diperoleh berupa derajat kualitatif yang berurutan berbentuk rentang skala.
b. Indikator kuantitas absolut
Indikator ini cenderung menggunakan angka absolut yaitu angka bilangan positif nol dan negatif serta dalam bentuk desimal.
c. Indikator persentase
Indikator persentasei mengukur perbandingan atau proporsi sesuatu dengan total populasinya.
d. Indikator rasio
Indikator ini menggunakan perbandingan absolut dan suatu yang akan diukur dengan angka absolut lainnya yang terkait.
e. Indikator rata-rata
Biasanya indikator ini menggunakan bentuk rata-rata angka dari sejumlah kejadian atau populasi. Angka rata-rata ini berarti membagi total angka untuk sejumlah kejadian atau suatu populasi kemudian dibagi dengan jumlah kejadiannya atau jumlah populasinya.
f. Indikator indeks
Gabungan angka-angka indikator lainnya yang dihimpun melalui formula maupun pembobotan pada masing-masing variabelnya.
3. Laporan Keuangan
Laporan keuangan bank menunjukan kondisi keuangan bank secara keseluruhan. Laporan keuangan adalah laporan periodik yang dibuat sesuai prinsip-prinsip akuntansi yang menunjukan keuangan suatu perusahaan.(kasmir, 2012). Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang rasional (al-Arif & Rahmawati, 2015).
Selain memberi informasi keuangan, laporan keuangan juga menunjukan kelemahan dan kelebihan yang dimiliki serta kinerja manajemen perusahaan selama periode tertentu.pada umumnya laporan keuangan terdiri neraca, perhitungan laba rugi, kewajiban penyediaan modal minimum atau biasa disingkat KPMM, laporan arus kas, dan laporan rasio keuangan serta laporan perubahan ekuitas. Tambahan laporan keuangan lembaga syariah adanya laporan distribusi hasil dan laporan sumber dan penyaluran dana zakat.
31 4. Maqashid Syariah Index
Maqashid Syariah merupakan kata majemuk yang tergabung dari kata maqashid dan syariah. Secara bahasa maqashid erupakan bentuk jamak (plural) dari kata maqashid yang memiliki arti tujuan.
Adapun pengertian syariah adalah segala sesuatu yang telah di tetapkan dan dijelaskan oleh allah swt kepada hamba-Nya yang berkaitan dengan masalah hukum (Shidiq, 2009 ). Menurut ilmu syariat, al-maqashid dapat menunjukan beberapa makna yaitu seperti hadad (tujuan) al-garad (sasaran), al-matlub (hal yang diminati) atau al-gayah (tujuan akhir) dari hukum islami (audah,2013).
Menurut Tharir Ibnu Asyur (taufik,2012) maqashid syariah adalah makna-makna dan hikmah-hikmah yang telah dijaga oleh Allah SWT dalam segala ketentuan hukum syariah baik yang kecil maupun yang besar dan tidak ada pengkhususan dalam jenis tertentu dari hukum syari’ah.
Dr. Ahmad raysumi (Taufik,2012) mendefinisikan maqashid syariah sebagai tujuan -tujuan yang telah ditetapkan Allah SWT untuk merealisasikan kemaslahatan hamba.
‘Allal al-fasy mendefinisikan maqashid syariah dengan makna-makna dan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Allah SWT dalam setiap hukum. (Taufik,2012)
Menurut sahroni dan karim memaknai maqashid syariah sebagai tujuan atau target yang bersumber dari Allah SWT untuk kemaslahatan hidup manusia baik didunia maupun di akhirat.
Dapat dipahami bahwa aturan-aturan hukum yang Allah turunkan pada akhirnya adalah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. As-Syatibi kemudian membagi maslahat ini kepada tiga bagian penting yaitu dharuriyyat (primer), hajiyyat (sekunder), tahsiniyat (tersier) (Febriadi, 2017).
a. Ad-Dharuriyyat, merupakan suatu hal yang harus ada demi tercapainya kemaslahatan dunia dan akhirat. terdapat lima hal yang dimaksudkan di dalam Ad-Dharuriyyat yaitu, agama
(al-din), jiwa (an-nafs), keturunan (an-nasl), harta (al-mal), dan akal (al-aql).
b. Al-Hajiyat, dipahami sebagai hal-hal yang dibutuhkan agar dapat terwujudnya kemudahan dan menghilangkan kesulitan.
Sebagai contohnya dalam masalah ibadah seperti adanya rukhsah, shalat jama, dan qashar bagi musafir. Contoh lain dalam hal muamalah seperti diperbolehkannya jual beli yang merupakan pengecualian dari kaidah umum jual beli, seperti salam, ijarah, dan lainnya.
c. At-Tahsiniyat, didefinisikan sebagai kebiasaan-kebiasaan yang baik dan menghindari yang buruk. Jika sesuatu ini tidak ada, maka tidak akan menimbulkan kerusakan atau jika sesuatu itu hilang tidak akan menimbulkan masyaqqah dalam melaksanakannya, hanya saja dinilai tidak pantas dan tidak layak menurut ukuran tatakrama dan kesopanan (Febriadi, 2017).
Dari penjabaran terkait maqashid syariah, tujuan akhir dari ketentuan tersebut adalah teracapainya maslahah. Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa maqashid syariah adalah tujuan-tujuan akhir yang harus terealisasi dengan diaplikasikannya syari’at (Mu’ammar, 2012). Pengaplikasian syari’at dalam kehidupan dunia, adalah untuk menciptakan kemaslahatan atau kebaikan para makhluk di muka bumi, yang kemudian berimbas pada kemaslahatan atau kebaikan di akhirat (Mutakin, 2017).
Para ulama memiliki pandangan yang berbeda-beda dalam mengklasifikasikan maqashid atau tujuan dari syariah.
Al-Ghazali dalam karyanya Al-Mustasfa (1109/1937) menjabarkan tujuan syariah ke dalam lima bidang pokok, yaitu:
1) Menjaga iman.
2) Menjaga jiwa.
3) Menjaga akal.
4) Menjaga keturunan.
5) Menjaga kekayaan atau harta.
33
Sementara itu, Al-Najjar (2006) memperluas tujuan syariah yang dikemukakan Al-Ghazali menjadi empat bidang pokok yang masing-masing memiliki dua perincian, yaitu:
a) Memelihara nilai dari kehidupan manusia, meliputi agama dan hak asasi manusia.
b) Memelihara jiwa, meliputi jiwa dan akal
c) Menjaga nilai masyarakat, meliputi kesejahteraan dan entitas sosial
d) Memelihara lingkungan, meliputi harta dan lingkungan ekologi.
Tujuan syariah yang dikemukakan oleh Al-Ghazali terakhir dijabarkan secara rinci oleh Chapra dan sedikit diubah urutan prioritasnya menjadi:
1) menyegarkan jiwa 2) memperkaya agama 3) memperkaya akal 4) memperkaya keturunan 5) mengembangkan harta.
Kelima tujuan Syariah ini dijabarkan menjadi 42 elemen tujuan yang saling kait -mengkait dan interdependen, yang kemudian diklasifikasikan kembali oleh Bedoui (2012).
Menurut Ibn Ashur (1945/2006), pada akhirnya tujuan syariah mengerucut pada dua hal, yaitu untuk mencapai kesejahteraan ( Jalb al-masalahah ) dan mencegah keburukan atau kesengsaraan (Dar’a al-Mafasid). Sedangkan menurut Abu Zahrah (1997) mengklasifikasikan tujuan syariah menjadi tiga bidang pokok, yaitu:
1) Mendidik individu ( Tahzib al-Fard ).
2) Menegakkan keadilan ( Iqamah al-‘Adl ).
3) Mencapai kesejahteraan ( Jalb al- Maslahah )
Teori konsep maqashid syariah oleh Abu Zahrah (Mohammed, dkk., 2008) yang mencakup Tahzib al-Fard (Pendidikan Individu), Iqamah Al’Adl (Menegakkan Keadilan) dan Maslahah (Kesejahteraan). Melalui konsep sekaran, ketiga tujuan ini diterjemahkan menjadi Sembilan dimensi lalu diklasifikasikan menjadi sepuluh elemen (Mohammed, dkk., 2008) :
1) (D1) Advancement Knowledge Tidak hanya Bank Syariah, tetapi Baitul Maal wat Tamwil (BMT) juga dituntut untuk ikut berperan serta dalam mengembangkan pengetahuan tidak hanya anggota dan pegawainya tetapi juga masyarakat banyak. Peran ini dapat diukur melalui elemen seberapa besar BMT memberikan bantuan atau beasiswa pendidikan (E1. Education Grant) dan melakukan penelitian dan pengembangan (E2.
Research).
Rasio pengukurannya dapat diukur melalui seberapa besar dana beasiswa atau bantuan pendidikan terhadap total beban (R1.
Education Grant/Total Expense) dan rasio biaya penelitian terhadap total biayanya (R2. Research Expense/Total Expense).
Semakin besar dana beasiswa dan biaya penelitian yang dikeluarkan, menunjukkan bahwa BMT peduli terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat
2) (D2) Instilling New Skill and Improvement
BMT memiliki kewajiban untuk meningkatkan skill dan pengetahuan anggota dan pegawainya, hal ini ditunjukkan dengan seberapa besar perhatian BMT terhadap pelatihan bagi pegawainya (E3. Training). Rasio pengukurannya dapat diukur melalui seberapa besar biaya pelatihan terhadap total biayanya (R3. Training/Total Expense). Semakin besar rasio biaya training dikeluarkan BMT semakin besar kepeduliannya dalam mendidik pegawainya.
3) (D3) Creating Awareness of Islamic Banking
35
Peran BMT dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat khususnya tentang lembaga keuangan mikro syariah adalah dengan melakuka n sosialisasi dan publisitas dalam bentuk informasi terkait produk syariah, operasional dan sistem ekonomi syariah (E4. Publicity).
Hal ini dapat diukur melalui seberapa besar biaya publisitas atau promosi yang dikeluarkan terhadap total beban biaya yang dikeluarkannya (R4. Publicity Expense / Total Expense). Semakin besar promosi dan publis itas yang dilakukan BMT maka akan berdampak pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan ekonomi syariah khusus nya lembaga keuangan mikro syariah (BMT).
4) (D4) Fair Returns
Dituntut untuk dapat melakukan transaksi secara adil yang tidak merugikan nasabahnya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan hasil yang adil dan setara (fair return). Ukuran yang digunakan adalah rasio Profit (Laba Operasional) terhadap Total pendapatan operasional (R5. Profit /Total income).
5) (D5) Cheap Products and Services
Elemen pengukuran yang dilakukan adalah E6.
Functional Distribution dengan rasio kinerja pengukuran (R6.
Mudharabah or Musyarakah Modes / Total Investment Mode), Seberapa besar pembiayaan dengan skema bagi hasil mudharabah dan musyarakah terhadap seluruh model pembiayaan yang diberikan. Semakin tinggi model pembiayaan menggunakan mudharabah dan musyarakah menunjukkan bahwa BMT meningkatkan fungsinya untuk mewujudkan keadilan sosio ekonomi melalui transaksi bagi hasil..
6) (D6) Elimination of Injustices
Riba (suku bunga) merupakan salah satu instrumen yang dilarang dalam sistem perbankan dan keuangan syariah. Hal ini
disebabkan riba memberikan dampak buruk terhadap perekonomian dan menyebabkan ketidakadilan dalam transaksi ekonomi. Riba memberikan kesempatan yang luas kepada golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin. Semakin tinggi rasio investasi yang bebas riba terhadap total investasinya, akan berdampak positif terhadap berkurangnya kesenjangan pendapatan dan kekayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal
disebabkan riba memberikan dampak buruk terhadap perekonomian dan menyebabkan ketidakadilan dalam transaksi ekonomi. Riba memberikan kesempatan yang luas kepada golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin. Semakin tinggi rasio investasi yang bebas riba terhadap total investasinya, akan berdampak positif terhadap berkurangnya kesenjangan pendapatan dan kekayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal