HASIL DAN PEMBAHASAN
7. Lembaga-lembaga yang terkait kurang berperan
Di daerah penelitian, lembaga-lembaga yang terkait kurang berperan. Misalnya saja kelompok tani yang ada (32 kelompok tani khusus bidang tanaman hias), keberadaannya tidak pernah dirasakan oleh petani sampel.
Untuk lebih jelasnya, masalah-masalah yang dihadapi petani dalam pengembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Masalah-Masalah yang Dihadapi Petani Berdasarkan Sumbernya (Internal/Eksternal) dan Klasifikasinya (Kelemahan/Ancaman)
Sumber Klasifikasi No. Masalah-Masalah
Internal Eksternal Kelemahan Ancaman
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Modal terbatas
Kurangnya Seni dan Hobby
Adanya persaingan dengan bunga plastik
Bunga melati tidak tahan lama
Serangan hama dan penyakit
Kurangnya penyuluhan Lembaga-lembaga yang terkait kurang berperan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Strategi yang Dilakukan untuk Mengatasi Masalah-Masalah yang Dihadapi dalam Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih
Menentukan Faktor-Faktor Strategi Eksternal
Adapun faktor-faktor strategi eksternal dalam pengembangan usahatani bunga melati putih di kota Medan adalah sebagai berikut :
a. Peluang
- Permintaan pasar terhadap bunga melati putih tinggi.
Dari hasil wawancara terhadap petani sampel dilapangan, diketahui bahwa petani masih sulit untuk memenuhi seluruh permintaan pelanggan mereka. Padahal permintaan tersebut masih untuk keperluan bunga tabur, dan roncean bunga pengantin saja belum sampai pemenuhan permintaan untuk kebutuhan campuran teh, parfum, cat, tinta, dan lain sebagainya sesuai dengan manfaat yang dapat diperoleh dari bunga melati putih yang telah diketahui sebelumnya.
- Informasi pasar tinggi.
Sebagaimana diketahui bahwa rata-rata tingkat pendidikan petani sampel bunga melati putih di Kota Medan adalah 13 tahun atau sederajat SMU, hal ini dapat menambah jumlah relasi yang mereka kenal. Sehingga petani lebih aktif dan mudah untuk mengetahui tingkat harga yang berlaku.
- Saluran pemasaran pendek
Petani sampel langsung menjual hasil panen setiap harinya kepada pedagang bunga dan bidan pengantin.
- Harga bunga melati relatif stabil.
Bunga melati termasuk barang mewah yang digunakan oleh sebagian besar kalangan ekonomi menengah ke atas.
- Petani mempunyai hubungan yang baik dengan pembeli.
Petani sudah sadar akan pasar dan juga pentingnya konsumen. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara yang dilakukan bahwa sebagian besar petani telah menyebarkan kartu nama kepada setiap pelanggan agar mudah untuk dihubungi.
b. Ancaman
- Adanya persaingan dengan bunga plastik.
Bunga plastik menjadi barang substitusi dan ancaman bagi petani dalam penjualan kuntum untuk roncean bunga pengantin namun tidak untuk kegunaan-kegunaan yang lain.
- Serangan hama dan penyakit.
Tanaman bunga melati memang membutuhkan perawatan yang intensif agar produksinya tinggi. Hama penyakit yang mengganggu adalah ulat
palpita, kutu hitam, kutu putih, dan jamur. Hal ini akan menambah besarnya biaya produksi yang berakibat pada penurunan pendapatan keluarga petani.
- Kurangnya penyuluhan
Penyuluhan yang kurang dirasakan oleh petani sampel mengakibatkan petani harus belajar sendiri tentang cara menanam bunga melati yaitu dengan membeli buku pedoman dalam berusahatani bunga melati. Hal ini tentu saja akan membutuhkan proses yang dapat menyita waktu dan biaya sehingga akan berdampak terhadap pendapatan keluarga.
- Lembaga-lembaga yang terkait kurang berperan
Kurang berperannya kelompok tani dapat mengakibatkan informasi-informasi penting seperti tentang pasar juga kurang. Petani juga tidak dapat berdiskusi tentang masalah yang dihadapi serta bagaimana mengatasi masalahnya. Hal ini juga akan berakibat terhadap kemajuan usahataninya.
Menentukan Faktor Strategi Internal
Adapun faktor-faktor strategi internal dalam pengembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan adalah sebagai berikut :
a. Kekuatan
- Tanaman bunga melati putih berbunga setiap hari.
Bunga melati yang indah, harum, dan multiguna adalah bunga yang unik, yang dapat berbunga setiap hari.
Dari satu tanaman bunga melati putih dewasa (< 1 tahun) sudah dapat menghasilkan 20-50 bibit baru dengan menyetek batang tanaman.
- Agroklimatnya sesuai untuk tanaman bunga melati putih.
Kota Medan terletak pada dataran rendah (2,5-37,5 m dpl), suhu maksimum 30,60C-33,90C dan suhu minimum 23,20C-24,10C menurut stasiun Polonia. Sebagaimana diketahui sebelumnya bahwa tanaman melati pada prinsipnya dapat ditanam pada semua jenis tanah pertanian, dapat tumbuh pada dataran rendah maupun dataran tinggi hingga ketinggian 1.000 m dpl, suhu siang hari 28-360C dan suhu malam hari 24-300C. Maka dapat disimpulkan bahwa agroklimat Kota Medan sesuai untuk tanaman bunga melati putih.
- Tingkat pengetahuan petani tinggi.
Hal ini didukung oleh tingkat pendidikan dan pengalaman bertani petani yang cukup tinggi.
b. Kelemahan
- Modal terbatas
Modal terbatas dapat diketahui dari input produksi yang dimiliki rata-rata petani sampel masih terbatas. Hal ini dapat mengakibatkan produktivitas usahatani mereka tidak optimal.
- Bunga melati tidak tahan lama
Bunga melati tidak tahan lama, dalam sehari saja bunga yang dipanen mekar sudah tampak coklat. Sedangkan kuntum dapat bertahan 2-3 hari. Salah satu petani sampel pernah mencoba mengekspor kuntum bunga roncean ke negara tetangga Malaysia beberapa kali. Meski bunga tidak
tahan lama, namun tetap harus dikarantina terlebih dahulu sehingga menyebabkan bunga tidak menarik lagi. Akhirnya karena proses yang berbelit-belit, perdagangan sulit untuk diteruskan.
- Kurangnya seni dan hobby
Kebanyakan petani tidak memiliki keterampilan, baik untuk memberi nilai tambah pada bunga melati maupun dalam merawat tanaman. Hal ini akan berdampak juga terhadap pendapatan petani.
Penentuan Alternatif Strategi
Penentuan alternatif strategi yang sesuai bagi pengembangan usahatani bunga melati putih adalah dengan cara membuat SWOT matriks. SWOT matriks ini dibangun berdasarkan faktor-faktor strategi baik eksternal maupun internal yang terdiri dari peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan.
Berdasarkan SWOT matriks maka dapat disusun empat strategi utama yaitu SO, WO, ST, dan WT. Alternatif strategi bagi pengembangan usahatani bunga melati putih dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Penentuan Strategi dengan SWOT Matriks
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
Internal
Eksternal
1.Tanaman bunga melati putih berbunga setiap hari 2. Bibit mudah diperoleh 2.Agroklimat sesuai untuk
tanaman bunga melati putih
3.Tingkat pengetahuan petani cukup tinggi
1.Modal terbatas
2.Bunga melati tidak tahan lama
3.Kurangnya seni dan hobby
Peluang (O) Strategi ’SO’ Strategi ’WO’
1. Permintaan pasar terhadap bunga melati putih tinggi 2. Informasi pasar
tinggi
3. Saluran pemasaran pendek
4. Harga bunga melati relatif stabil 5. Petani mempunyai hubungan yang baik dengan pembeli 1.Memperluas lahan usahatani bunga melati putih (S2, S3, S4, O1, O4) 2.Memperluas jaringan
pemasaran (S1, S4, O2, O3)
3.Menjaga hubungan baik dengan pelanggan (S4, O5)
1. Inisiatif kredit untuk menambah modal (W1, O1, O2, O3, O4, O5) 2. Bunga dipasarkan setiap hari (W2, O2, O5) 3. Mengikuti pelatihan-pelatihan untuk menambah kretivitas (W3, O2, O5)
Ancaman (T) Strategi ’ST’ Strategi ’WT’
1.Adanya persaingan dengan bunga plastik
2.Serangan hama dan penyakit
3.Kurangnya penyuluhan 4.Lembaga-lembaga
yang terkait kurang berperan
1.Menciptakan harga
kompetitif ( S4, T1) 2.Memanfaatkan
pengetahuan petani dalam memberikan sentuhan kretivitas agar bunga tetap menarik (S4, T1)
3.Menggunakan
pengetahuan yang ada dalam memberantas serangan hama dan penyakit (S4, T2) 4.Memfungsikan kembali kelompok tani (S4, T4) 1. Meminta pemerintah agar memaksimalkan tugas PPL (W1, T3, T4) 2. Mencari informasi dari koran, radio, dinas terkait untuk menambah
pengetahuan
tentang teknologi (W3, T1, T2)
Strategi ’SO’
Strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada, yaitu :
1.Memperluas lahan usahatani bunga melati putih (S2, S3, S4, O1, O4)
Bertujuan untuk meningkatkan hasil panen bunga melati putih untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi dengan didukung oleh harga yang relatif stabil sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.
2.Memperluas jaringan pemasaran (S1, S4, O2, O3)
Bertujuan agar produksi bunga melati putih yang dihasilkan dapat selalu ditampung oleh pasar dan juga untuk menghindarkan jenuhnya produk pada pasar lokal.
3.Menjaga hubungan baik dengan pelanggan (S4, O5)
Bertujuan agar pelanggan tidak beralih ke petani lain yang dapat menyebabkan kerugian bagi petani yang bersangkutan.
Strategi ’WO’
Strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dengan meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang yang ada, yaitu : 1.Inisiatif kredit untuk menambah modal (W1, O1, O2, O3, O4, O5)
Skala usaha yang lebih luas umumnya bermodal besar namun demikian dapat memperkecil biaya usahatani, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga.
2.Bunga dipasarkan setiap hari (W2, O2, O5)
Informasi pasar yang tinggi dengan didukung oleh hubungan yang baik dengan pembeli, dapat menyebabkan bunga melati putih yang dihasilkan setiap harinya terjual. Sehingga bunga melati yang tidak tahan lama tidak terlalu menjadi beban yang berat bagi petani.
3.Mengikuti pelatihan-pelatihan untuk menambah kretivitas (W3, O2, O5)
Petani dapat mengetahui bagaimana cara memberikan nilai tambah pada bunga melati putih sehingga petani dapat meningkatkan pendapatan keluarganya.
Strategi ’ST’
Strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk mengatasi ancaman yang ada, yaitu: 1.Menciptakan harga kompetitif ( S4, T1)
Bertujuan agar pasar bunga melati tetap ada, sehingga usahatani bunga melati putih tetap exist.
2.Memanfaatkan pengetahuan petani dalam memberikan sentuhan kretivitas agar bunga tetap menarik (S4, T1)
Bertujuan agar konsumen khususnya bagi pengantin tetap senang memakai rangkaian dari bunga melati putih.
3.Menggunakan pengetahuan yang ada dalam memberantas serangan hama dan penyakit (S4, T2)
Bertujuan agar produksi yang dihasilkan setiap harinya optimal sehingga keuntungan yang diperoleh petani maksimal.
4.Memfungsikan kembali kelompok tani (S4, T4)
Bertujuan agar terjalin kerjasama yang baik dan dapat memecahkan masalah secara bersama-sama, sehingga tujuan lebih mudah tercapai yaitu memperoleh laba yang maksimal.
Strategi ’WT’
Strategi pengembangan usahatani bunga melati putih di Kota Medan dengan meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman yang ada, yaitu : 1.Meminta pemerintah agar memaksimalkan tugas PPL (W1, T3, T4)
Bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada petani agar melaksanakan cara-cara budidaya yang benar, sehingga produksi optimal.
2.Mencari informasi dari koran, radio, dinas terkait untuk menambah pengetahuan tentang teknologi (W3, T1, T2)
Petani perlu mengetahui informasi tentang teknologi, terlebih karena bunga melati merupakan salah satu bahan baku industri (agroindustri) yang telah diterapkan di pulau Jawa seperti penggunaannya untuk parfum, campuran teh, cat, dan tinta. Sehingga dapat menjadi sebuah usaha yang berwawasan agribisnis, yang pada akhirnya juga akan menambah pendapatan keluarga.