• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Tindak Pidana

3. Lembaga Pemasyarakatan Anak/LAPAS Anak … 21

Mulyadi (2005) menjelaskan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Anak / Lapas Anak adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. Warga binaan Pemasyarakatan adalah Narapidana, Klien Pemasyarakatan, dan Anak Didik Pemasyarakatan.

Narapidana adalah seorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Klien Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut klien adalah seseorang yang berada dalam bimbingan BAPAS (Balai Pemasyarakatan). Anak didik Pemasyarakatan adalah:

a. Anak Pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lapas Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun; b. Anak Negara yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan

pada negara untuk dididik dan ditempatkan di Lapas Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun;

c. Anak Sipil yaitu anak yang atas permintaan orang tua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di Lapas Anak paling lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun.

Lembaga Pemasyarakatan Anak berfungsi untuk tempat pendidikan dan pembinaan bagi Anak Didik Pemasyarakatan yakni Anak Pidana, Anak Negara dan Anak Sipil. Lapas Anak mempunyai ciri, kekhasan dan motivasi tertentu seperti Lapas Wanita, Lapas Remaja, Lapas Narkotika yang rencananya sebentar lagi akan dibangun. Pada dasarnya, pembinaan Anak Didik Pemasyarakatan ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak yang harus terpisah dari orang dewasa.

Sebagai tempat yang berfungsi untuk pendidikan dan pembinaan bagi Anak Didik Pemasyaraktan maka Lapas Anak dibatasi jangka waktu pendidikan dan pembinaannya. Ketentutan Pasal 61, 62 UU 3/1997 menyebutkan bahwa seorang anak tidak berada di Lapas Anak bila :

a. Telah selesai menjalankan pidananya ;

b. Belum selesai menjalankan pidananya akan tetapi telah berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum mencapai 21 (dua puluh satu) tahun dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan yang penempatan secara terpisah dari orang yang telah mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun ;

c. Pembebasan bersyarat apabila telah menjalani pidana yang dijatuhkan dan sekurang-kurangnya ⅔ (dua per tiga) dari pidana yang dijatuhkan dan sekurang-kurangnya 9 (sembilan) bulan serta berkelakuan baik di bawah

pengawasan Jaksa dan Pembimbing Kemasyaraktan yang dilaksanakan oleh Balai Pemasyarakatan dan pengamatan serta Tim Pengamat Pemasyarakatan.

Sedangkan terhadap Anak didik Pemasyarakatan lainnya (Anak Negara) apabila telah menjalani masa pendidikannya dalam Lapas Anak paling sedikit 1 (satu) tahun dan berkelakuan baik sehingga tidak memerlukan pembinaan, kepala Lembaga Pemasyarakatan dapat mengajukan permohonan izin kepada Mentri Kehakiman agar anak tersebut dapat dikeluarkan dari Lapas Anak tanpa syarat umum dan khusus.

Kehidupan dalam penjara itu mempunyai kebudayaan sendiri. Di kalangan para narapidana terdapat norma-norma, hukum-hukum , kontrol, dan sanksi-sanksi sosial sendiri sehingga ada pengelompokan-pengelompokan dan stratifikasi yang heterogen sifatnya sehingga memungkinkan banyaknya konflik-konflik sosial (konflik terbuka) dan konflik-konflik batiniah yang serius (Kartono, 2003).

Di Lapas Anak, narapidana hanya dapat bebas selama kurang lebih 5 jam sehari ketika diadakan olah raga pagi, apel, mengambil air untuk keperluan kamar mandi, atau ketika waktu bimbingan belajar, selebihnya mereka berada dalam tahanan yang berukuran 5 x 10 meter dengan 22 tahanan lainnya. Pendidikan yang diberikan dalam Lapas juga jauh dari standar pendidikan pada umumnya, terlebih lebel yang diberikan masyarakat membuat ijasah Lapas menjadi hal yang tidak berguna.

Pemenjaraan selama jangka waktu yang pendek pada umumnya mengakibatkan peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

a. Dari penjahat kecil-kecilan, mereka bisa menjadi penjahat yang lebih ’lihai’ dengan keterampilan tinggi dan perilaku yang lebih kejam karena mendapatkan pelajaran tambahan dari sesama narapidana.

b. Sering timbul konflik-konflik batin yang serius, terutama pada narapidana yang baru pertama kali masuk penjara. Terjadi semacam trauma / luka psikis; atau berlangsung kejutan jiwani, sehingga mengakibatkan disintegrasi kepribadian bahkan dapat menimbulkan gangguan kejiwaan (gila).

c. Penjahat-penjahat individual dan situasional banyak sekali mengalami patah mental yang disebabkan oleh isolasi dalam penjara. Mereka merasa di kucilkan dan dikutuk oleh masyarakat penjara dan masyarakat dari luar pada umumnya.

Dari uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan penjara mempunyai peraturan dan kebudayaan sendiri dimana kenyamanan dan kemerdekaan menjadi masalah yang kompleks di kalangan para narapidana. Hukuman pemenjaraan yang lama sangat ditakuti oleh para penjahat sebab sukar sekali untuk merehabilitasi mental mereka karena pada umumnya mereka mempunyai rasa rendah diri yang hebat (Kartono, 2003). Selain itu, kontak yang minim dengan dunia luar karena lamanya isolasi mengakibatkan kemungkinan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat juga sedikit.

4. Tindak Kriminal Remaja

Kartono (2002) mengatakan bahwa juvenile delinquency ialah perilaku jahat / dursila, atau kejahatan / kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala

sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Delinquency selalu mempunyai konotasi serangan, pelanggaran, kejahatan dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah usia 22 tahun.

Pada umumnya jumlah anak laki-laki yang melakukan kejahatan dalam kelompok gang-gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang anak perempuan; sebab anak perempuan pada umumnya lebih banyak melakukan tindak pelacuran, promiskuitas (bergaul bebas dan seks bebas dengan banyak pria) dan menderita gangguan mental, serta perbuatan minggat dari rumah atau keluarganya.

Gejala kejahatan dalam diri remaja merupakan akibat dari proses pengembangan pribadi anak yang mengandung unsur dan usaha: (1) kedewasaan seksual; (2) pencarian suatu identitas kedewasaan (Erikson dalam Kartono, 2002); (3) adanya ambisi materiil yang tidak terkendali; serta (4) kurang atau tidak adanya disiplin diri.

Wujud perilaku delinquency yang biasa dilakukan oleh remaja adalah : a. Kebut-kebutan di jalanan yang mengganggu keamanan lalu lintas, dan

membahayakan jiwa sendiri dan orang lain.

b. Perilaku ugal-ugalan, brandalan, urakan yang mengacaukan ketentraman lingkungan sekitar. Tingkah laku ini bersumber pada kelebihan energi dan dorongan primitif yang tidak terkendali serta kesukaan untuk meneror lingkungan.

c. Perkelahian antar gang, antar kelompok, antar sekolah, antar suku, sehingga kadang-kadang membawa korban jiwa.

d. Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan, atau bersembunyi di tempat-tempat terpencil sambil melakukan eksperimen bermacam-macam kedurjanaan dan tindak a-susila.

e. Kriminalitas anak, remaja, dan adolesens antara lain berupa perbuatan mengancam, intimidasi, memeras, menjambret, menyerang, merampok, menggarong, melakukan pembunuhan dengan cara menyembelih korbannya, mencekik, meracun, tindak kekerasan, dan pelanggaran lainnya.

f. Berpesta pora sambil mabuk-mabukan, melakukan hubungan seks bebas, atau orgi (mabuk-mabukan dan menimbulkan keadaan yang kacau balau) yang mengganggu lingkungan.

g. Pemerkosaan, agresivitas seksual dan pembunuhan dengan motif seksual, atau didorong oleh reaksi-reaksi kompensatoris dari perasaan inferior, menuntut pengakuan diri, depresi hebat, rasa kesunyian, emosi balas dendam, kekecewaan ditolak cintanya oleh seorang wanita dan lain-lain.

h. Kecanduan dan ketagihan bahan narkotika

i. Tindak-tindak imoril seksual secara terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling, tanpa rasa malu dengan cara yang kasar.

j. Homoseksualitas, erotisme anal dan oral, dan gangguan seksual lain pada anak remaja disertai tindakan sadistis.

k. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lainnya dengan taruhan sehingga mengakibatkan akses kriminalitas.

l. Komersialisasi seks, pengguguran janin oleh gadis-gadis delikuen, dan pembunuhan bayi oleh ibu-ibu yang tidak dinikahi pasangannya.

m. Tindakan radikal dan ekstrim dengan cara kekerasan, penculikan dan pembunuhan yang dilakukan anak-anak remaja.

n. Perbuatan a-sosial dan anti-sosial lain disebabkan oleh gangguan kejiwaan pada anak-anak dan remaja psikopatik, psikotik, neurotik, dan menderita gangguan-gangguan jiwa lainnya.

o. Tindak kejahatan yang disebabkan oleh penyakit tidur (encephalitis lethargical), dan ledakan meningitis serta post-encephalitics; juga luka di kepala dengan kerusakan mental, sehingga orang yang bersangkutan tidak mampu melakukan kontrol diri.

p. Penyimpangan tingkah laku disebabkan oleh kerusakan pada karakter anak yang menuntut kompensasi, hal ini disebabkan adanya organ-organ yang inferior ( Adler dalam Kartono, 2002).

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak kriminal dikalangan remaja merupakan persoalan yang serius, dengan dampak psikologis yang luas terhadap tahap perkembangan pribadi mereka. Seiring dengan pencarian identitas diri, remaja seringkali tidak mendapat dukungan atau bahkan tidak terdeteksi oleh keluarga dan lingkungan. Tanda-tanda kenakalan pada remaja sering dipandang sebagai gejolak emosi yang wajar terjadi pada tahap perkembangan tersebut padahal pemahaman terhadap perilaku remaja dari keluarga dan lingkungan sangat penting untuk mendukung perkembangan emosi dan sosial mereka.

Dokumen terkait