• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga pendidikan Islam sesudah Indonesia Merdeka

BAB III PONDOK PESANTREN AR-RAUDHATUL HASANAH

3.1 Sejarah Pendidikan Islam di Jazirah Arab

3.2.1.2 Lembaga pendidikan Islam sesudah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka dan mempunyai Departemen Agama, maka secara instansional Departemen Agama diserahi kewajiban dan bertanggung jawab terhadap pembinaan dan

pengembangan pendidikan agama dalam lembaga-lembaga tersebut. Lembaga pendidikan agama Islam ada yang berstatus negri dan ada yang berstatus swasta.

Yang berstatus negri misalnya:

1) Madrasah Ibtidaiyah Negri (Tingkat Dasar).

2) Madrasah Tsanawiyah Negri (Tingkat Menengah Pertama). 3) Madrasah Aliyah Negeri (Tingkat Menengah Atas).

Dahulunya berupa Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN).

4) Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kemudian berubah menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri).

Telah diterangkan bahwa pendidikan agama Islam mulai diajarkan secara resmi di sekolah-sekolah umum negeri pada tahun 1946, dengan keluarnya SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai tindak lanjutnya ialah penyediaan dan pengadaan tenaga guru agama yang ditugaskan disekolah-sekolah umum negeri.

Departemen Agama juga mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Negeri setingkat dengan Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah Negeri sederajat dengan Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Aliyah Negeri setingkat dengan Sekolah Menengah

Atas. Tujuannya antara lan untuk memberikan bimbingan dan percontohan yang konkrit kepada masyarakat Islam tentang pengelolaan madrasah-madrasah swasta Islam yang jumlahnya sangat banyak. Pada madrasah-madrasah negeri itu diatur perbandingan-perbandingan antara pelajaran agama dan pelajaran umum, juga diatur administrasi pendidikannya.

3.2.2 Sistem Pendidikan Islam di Indonesia

Pada awal berkembangnya agama Islam di Indonesia, pendidikan Islam dilaksanakan secara informal. Didikan dan ajaran Islam mereka berikan dengan perbuatan, dengan contoh dan tiru teladan. Mereka berlaku sopan dan santun, ramah-tamah, tulus ikhlas, amanah dan kepercayaan, pengasih, pemurah, jujur dan adil, menepati janji serta menghormati adat istiadat anak negeri. Dengan demikian tertariklah penduduk negeri hendak memeluk agama Islam.44

Begitulah para pengajar agama Islam pada waktu itu melaksanakan penyiaran Islam kapan saja, di mana saja dan siapa saja setiap ada kesempatan, di pinggir kali sambil menunggu perahu yang akan mengangkut barang ke seberang, di perjamuan waktu kenduri, di padang rumput tempat pengembalaan ternak, di pasar , di warung kopi dan sebagainya. Disitulah agama Islam diajarkan kepada mereka dengan cara yang mudah dan dengan demikian orang akan dengan

44

mudah pula menerima dan melakukannya. Juga penyebaran Islam dilakukan juga dengan jalan perkawinan yang dapat menurunkan generasi Islam yang mendatang.

Pendidikan Islam informal ini ternyata membawa hasil yang sangat baik sekali, karena dengan berangsur-angsur tersiarlah agama Islam di seluruh kepulauan Indonesia, mulai Sabang sampai Maluku45

Adapun factor-faktor mengapa agama Islam dapat tersebar dengan cepat di seluruh Indonesia pada waktu itu adalah sebagai berikut:

.

a) Agama Islam tidak sempit dan tidak berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah diturut oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk Islam cukup dengan mengucap dua kalimat syahadat saja.

b) Sedikit tugas dan kewajiban dalam Islam.

c) Penyiaran Islam dilakukan dengan berangsur-angsur, sedikit demi sedikit.

d) Penyiaran Islam dilakukan dengan cara kebijaksanaan dan cara yang sebaik-baiknya.

e) Penyiaran Islam itu dilakukan dengan perkataan yang mudah di pahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah sampai ke golongan atas dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang

maksudnya : berbicaralah kamu dengan manusia menurut kadar akal mereka.

Sistem pendidikan Islam informal ini, terutama yang berjalan dilingkungan keluarga telah berjalan dengan baik. Anak-anak dididik dengan ajaran-ajaran agama sejak kecil dalam keluarganya. Mereka dibiasakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan ajaran Qur’an dan hadits. Anak-anak disuruh oleh orang tua mereka pergi ke langgar atau surau untuk mengaji kepada seorang guru ngaji atau guru agama. Mereka dilatih membaca Al-Qur’an, melakukan shalat dengan berjama’ah, berpuasa di bulan Ramadhan, dan lain-lain.

Usaha-usaha pendidikan agama di masyarakat ternyata mampu menyediakan kondisi yang sangat baik dalam menunjang keberhasilan pendidikan Islam dan memberi motivasi yang kuat bagi umat Islam untuk menyelenggarakan pendidikan agama yang lebih baik dan lebih sempurna.

Pada mulanya pendidikan agama Islam di surau atau langgar atau di mesjid masih sangat sederhana. Yang penting bagi guru agama ialah dapat memberikan ilmunya kepada siapa saja, terutama pada anak-anak. Di tempat pendidikan seperti ini berkumpul sejumlah murid, duduk di lantai, menghadap sang guru, belajar mengaji. Waktu mengajar biasanya diberikan pada waktu petang atau malam hari. Sebab pada waktu siangnya anak-anak membantu orang tuanya bekerja, sedangkan

sang guru juga bekerja mencari nafkah keluarganya sendiri. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan agama pada anak-anak tidak mengganggu pekerjaan sehari-hari, baik bagi orang tua anak-anak maupun bagi sang guru agama. Itulah sebabnya, pelajaran agama dan latihan beragama itu mendapat dukungan dari orang tua dan guru malahan dari seluruh masyarakat kampong atau desa itu.46

Tempat pendidikan Islam seperti inilah yang menjadi embrio terbentuknya system pendidikan pondok pesantren dan pendidikan Islam yang formal yang berbentuk madrasah atau sekolah yang berdasarkan keagamaan.

Pondok pesantren adalah tempat murid-murid (disebut santri) mengaji agama Islam dan sekaligus di asramakan di tempat itu. Murid-muridnya yang tinggal di pesantren itu bermacam-macam sebagai satu keluarga di bawah pimpinan gurunya. Mereka belajar hidup sendiri, mencuci sendiri dan mengurus kebutuhannya sendiri. Bahan-bahan keperluan hidup seperti beras dan sebagainya mereka bawa dari kampung sendiri.

System pendidikan pada pondok pesantren ini masih sama seperti system pendidikan surau, langgar atau masjid, hanya lebih intensif dan dalam kurun waktu yang lebih lama.

Usaha untuk menyelenggarakan pendidikan Islam menurut rencana yang teratur sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1476 dengan

46

berdirinya Bayangkara Islah di Bintara Demak yang ternyata merupakan organisasi pendidikan Islam yang pertama di Indonesia.

System pendidikan agama Islam mengalami perubahan sejalan dengan perubahan zaman dan pergeseran kekuasaan di Indonesia. Sejalan dengan itu pemerintahan belanda mulai mengenalkan system pendidikan formal yang lebih sistematis dan teratur yang mulai menarik kaum muslimin untuk memasukinya. Oleh karena itu system pendidikan Islam di surau, langgar atau mesjid atau tempat lain yang semacamnya, dipandang sudah tidak memadai lagi dan perlu di perbaharui dan disempurnakan.

Kemudian system klasikal mulai diterapkan, bangku, meja, papan tulis mulai digunakan dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran agama Islam. Pembagian jenjang kelas juga mulai diadakan. Demikianlah system pendidikan formal, seklolah atau madrasah, mulai tersebar di mana-mana, bahkan dikalangan pondok pesantren sudah diterapkan system sekolah atau madrasah ini, disamping system pendidikan dan pengajaran pondok pesanteren yang sudah ada.

Dalam perkembangannya system madrasah ini dibedakan menjadi dua macam yaitu madrasah yang khusus member pendidikan dan pengajaran agama disebut Madrasah Diniyah, dan madrasah yang disamping memberikan pendidikan dan pengajaran agama juga member pelajaran umum. Untuk tingkat dasar disebut Madrasah Ibtida’iyah,

untuk tingkat menengah pertama disebut Madrasah Tsanawiyah dan untuk tingkat menengah atas disebut Madrasah Aliyah.

3.2.3 Isi Pendidikan Islam di Indonesia.

Pada awal penyiaran agama Islam di Indonesia, maka para penganjur agama Islam menghendaki agar masyarakat, yang pada waktu itu masyarakat sudah menganut agama Hindu dan Budha, mau menerima agama Islam dan mau melakukan ajaran-ajaran Islam, atau mau memeluk agama Islam dan mau melakukan ajaran-ajaran Islam, atau mau memeluk agama Islam. Oleh karena itu isi pendidikan Islam adalah pokok-pokok aqidah agama Islam dan ajran-ajaran Islam yang mudah dipahami dan dilaksanakan.

Setelah agama Islam semakin tersebar luas dan banyak keluarga-keluarga yang memeluk agama Islam, mereka mulai merasakan perlunya pendidikan agama Islam pada anak-anak mereka. Mula-mula anak-anak dididik dalam lingkungan keluarga, kemudian anak-anak disuruh ke langgar, surau atau masjid untuk memperoleh pendidikan agama dari para guru agama.

Adapun isi pendidikan dan pengajaran agama Islam pada tingkat permulaan ini meliputi:

a) Belajar membaca Al-Qur’an. b) Pelajaran dan praketek shalat.

c) Pelajaran ketuhanan (teologis)

Pada tingkat yang lebih tinggi diajarkan pula bahasa Arab, mulai mempelajari ushul fiqh, misalnya taharah, shalat, zakat, puasa dan haji. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang mengenai aturan-aturan tentang nikah, talak , rujuk, waris.

Isi pendidikan dan pengajaran Islam seperti tersebut diatas, juga berlaku pada pondok pesantren, hanya saja karena murid-murid (para santri) bertempat tinggal bersama dengan kyai, maka pelajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan lebih intensif.

Adapun materi pelajaran yang diberikan di pondok pesantren ini, setelah murid dapat membaca Al-Qur’an, dilanjutkan dengan pelajaran ilmu sharaf dan nahwu kemudian ilmu fiqh, tafsir, ilmu kalam (tauhid) dan akhirnya sampai pada ilmu tasawuf.

Oleh karena sistem kelas belum diadakan dan cara mengajarnya masih menggunakan sistem halakah (lisan). Maka kemajuan murid dan kapan selesainya pelajaran, sangat tergantung pada kecerdasan dan kerajinan murid. Ada yang cepat, ada pula yang lambat dan bahkan tidak sedikit yang gagal dan drop out.

Setelah Islam mengalami babak baru dengan munculnya system madrasah, yang penyelenggaraanya lebih baik dan teratur. Agar anak-anak dapat menyesuaikan diri dalam alam yang modern maka selain di madrasah diajarkan agama juga diajarkan ilmu pengetahuan umum.

System pendidikan di madrasah-madrasah mulai dibenahi dan kurikulumnya tidak lagi mengkhususkan pada pendidikan agama, tetapi telah dimasukkan ilmu pengetahuan umum yang lebih disejajarkan dengan pengetahuan umum pada sekolah umum yang sederajat.