• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN

5. Lembaga Penjamin Simpanan

Jaminan Simpanan Nasabah Berdasarkan Prinsip Syariah oleh LPS sesuai dengan Pasal 4 UU No. 24 Tahun 2004. LPS menjalankan fungsi untuk menjamin simpanan nasabah bank dan turut aktif dalam stabilitas. Berdasarkan Pasal 96, pelaksanaan fungsi LPS juga dilaksanakan bagi bank berdasarkan prinsip syariah, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah, yakni PP No. 39 Tahun 2005. LPS harus menjamin simpanan nasabah bank berdasarkan prinsip syariah, baik bank umum dan bank pengkreditan rakyat yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah maupun unit

27 Shidarta,Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia,(Jakarta:Grasindo,2006),hal 1-2

usaha syariah dari bank konvensional. Simpanan nasabah bank berdasarkan prinsip syariah yang dijamin oleh LPS berbentuk seperti berikut:

1) Giro berdasarkan prinsip wadiah.

2) Tabungan berdasarkan prinsip wadiah.

3) Tabungan berdasarkan prinsip mudharabah muthlaqah atau prinsip mudharabah muqayyadah yang risikonya ditanggung oleh bank.

4) Deposito berdasarkan prinsip mudharabah muthlaqah atau prinsip mudharabah muqayyadah yang risikonya ditanggung oleh bank 5) Simpanan berdasarkan prinsip syariah lainnya yang ditetapkan oleh

LPS setelah mendapat pertimbangan Lembaga Pengawas Perbankan.28

b. Fungsi LPS

Dalam Pasal 4 UU No. 24 tahun 2004. LPS menjalankan fungsi untuk menjamin simpanan nasabah bank dan turut aktif dalam stabilitas sistem perbankan. LPS harus menjamin simpanan nasabah bank berdasarkan prinsip syariah. Simpanan nasabah bank berdasarkan prinsip syariah yang dijamin LPS adalah, Giro wadiah, Tabungan, Tabungan Mudharabah Muthlaqah dan Mudharabah Muqayyadah, Deposito Mudharabah Muthlaqah dan Mudharabah Muqayyadah.

28Sutedi,Adrian,Perbankan Syariah,(Bogor:Galia Indonesia,2009),hal 156

c. Kepercayaan Nasabah

Kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasionalmerupakan salah satu kunci untuk memelihara stabilitas industri perbankan sehingga krisis tersebut tidak terulang.

Kepercayaan dapat diperoleh dengan adanya kepastian hukum dalam pengaturan dan pengawasan bank serta penjaminan simpanan nasabah bank untuk meningkatkan kelangsungan usaha bank secara sehat.

Kelangsungan usaha bank secara sehat dapat menjamin keamanan simpanan nasabah serta meningkatkan peran bank sebagai penyedia dana pembangunan dan pelayan jasa perbankan.

Apabila bank kehilangan kepercayaan dari masyarakat sehingga kelangsungan usaha bank yang dimaksud tidak dapat dilanjutkan, sehingga bank menjadi bank gagal yang berakibat dicabut izin usahanya. Untuk meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional sekaligus guna menghambat melemahnya nilai tukar rupiah, pemerintah memberikan jaminan atas seluruh kewajiban pembayaran bank, termasuk simpanan masyarakat (blanket guarantee).

Pemberian jaminan tersebut diatur dalam UU No. 21 Tahun 2008, Pasal 54 ayat (2) dan (3).29 Kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional merupakan salah satu kunci untuk

29Sutedi,Adrian,Perbankan Syariah,(Bogor:Galia Indonesia,2009),hal 153-154

memelihara stabilitas industri perbankan sehingga krisis terdahulu tidak terulang kembali. Kepercayaan nasabah dapat diperoleh dengan adanya kepastian hukum dalam pengaturan dan pengawasan bank serta penjaminan simpanan nasabah bank untuk meningkatkan kelangsungan usaha bank secara sehat.

1) Apabila tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dialami bank syariah, Bank Indonesia menyatakan bank syariah tidak dapat disehatkan dan menyerahkan penanganannya ke Lembaga Penjamin Simpanan untuk diselamatkan atau tidak diselamatkan (ayat 2).

2) Dalam hal Lembaga Penjamin Simpanan menyatakan Bank Syariah tidak dapat diselamatkan, Bank Indonesia atas permintaan Lembaga Penjamin Simpanan mencabut izin usaha bank syariah dan penanganan lebih lanjut dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (ayat 3).

Di dalam UU No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan ditetapkan bahwa penjamin simpanan nasabah bank yang diharapkan dapat memelihara kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dan dapat meminimalisir risiko yang membebani anggaran negara atau risiko yang menimbulkan moral hazard. Penjamin simpanan LPS. LPS sendiri memiliki dua fungsi, yaitu menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelesaian atau penanganan bank gagal. Penjamin

simpanan nasabah bank yang dilakukan LPS bersifat terbatas, tetapi dapat mencakup sebanyak-banyaknya nasabah. Setiap bank yang menjalankan usahanya di Indonesia diwajibkan untuk menjadi peserta dan membayar premi penjaminan.

Dalam hal bank tidak dapat melanjutkan usahanya dan harus dicabut izin usahanya, LPS akan membayar simpanan setiap nasabah bank tersebut sampai jumlah tertentu. Adapun simpanan yang tidak dijaminkan akan diselesaikan melalui proses likuidasi bank. Likuidasi ini merupakan tindak lanjut dalam penyelesaian bank yang mengalami kesulitan keuangan.

LPS melakukan tindakan penyelesaian atau penanganan bank yang mengalami kesulitan keuangan dalam kerangka mekanisme kerja yang terpadu, efisien, dan efektif untuk menciptakan ketahanan sektor keuangan Indonesia atau disebut Indonesia Financial Safety Net (IFSN). LPS bersama dengan Menteri Keuangan Bank Indonesia, dan Lembaga Pengawasan Perbankan menjadi anggota Komite Koordinasi.30

LPS memiliki dua fungsi, yaitu menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelesaian atau penanganan bank gagal. Penjamin simpanan nasabah bank yang dilakukan LPS bersifat terbatas, tetapi dapat mencakup sebanyak-banyaknya nasabah. Ketika bank tidak dapat melanjutkan usahanya dan harus dicabut izin usahanya, LPS akan membayar simpanan setiap nasabah tersebut sampai jumlah tertentu.

30Sutedi,Adrian,Perbankan Syariah,(Bogor:Galia Indonesia,2009),hal 154-156

Adapun simpanan yang tidak dijaminkan akan diselesaikan melalui proses likuidasi bank.

d. Hak dan Kewajiban Kelembagaan Hak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)31

1) Menetapkan dan memungut premi penjaminan.

2) Menetapkan dan memungut kontribusi pada saat bank pertama kali menjadi peserta.

3) Melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS.

4) Mendapatkan data simpanan nasabah, dan kesehatan bank, laporan keuangan bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak melanggar kerahasiaan bank.

5) Melakukan rekonsiliasi, verifikasi, dan konfirmasi atas data tersebut pada angka 4.

6) Menetapkan syarat, tata cara, dan ketentuan pembayaran klaim.

7) Menunjuk, menugaskan, dan menugaskan pihak lain untuk bertindak bagi kepentingan atas nama LPS, guna melaksanakan sebagian tugas tertentu.

8) Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang penjaminan simpanan.

9) Menjatuhkan sanksi administrasi.

Kewajiban Bank Peserta LPS

31 www.lps.go.id

1) Menyerahkan dokumen sebagai berikut:

a) Salinan anggaran dasar dan akta pendirian bank.

b) Salinan dokumen perizinan bank.

c) Surat keterangan tingkat kesehatan bank.

d) Surat pernyataan dari direksi, komisaris, pengendali, kantor pusat dan pemegang saham bank.

2) Membayar kontribusi kepesertaan.

3) Membayar premi penjaminan dan menyampaikan copy bukti pembayaran premi.

4) Menyampaikan perhitungan premi.

5) Menyampaikan laporan secara berkala.

6) Menyampaikan laporan perubahan alamat.

7) Menempatkan bukti kepesertaan di dalam kantor bank atau tempat lainnya sehingga dapat diketahui dengan mudah oleh masyarakat.

8) Menempelkan pengumuman pada seluruh kantor bank yang dapat diketahui dengan mudah oleh nasabah mengenai:

a) Maksimum tingkat bunga yang dianggap wajar yang ditetapkan LPS.

b) Maksimum nilai simpanan yang dijamin LPS KONTRIBUSI KEPESERTAAN

1. Setiap bank wajib membayar kontribusi kepesertaan.

2. Kontribusi kepesertaan ditetapkan sebesar 0,1% (satu per seribu) dari modal

disetor bank dan wajib disetorkan ke rekening LPS paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sejak kalender sejak bank melakukan kegiatan operasional.

3. Modal disetor untuk kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri merupakan modal bank sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum yang ditetapkan LPP.

4. Bank hasil penggabungan dan peleburan usaha dari beberapa Bank peserta penjaminan atau Bank yang melakukan perubahan kegiatan usaha dari konvensional menjadi syariah tidak dikenakan ketentuan membayar kontribusi kepesertaan.

Gambar 2.1

1. LPS dibentuk oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

2. LPS adalah badan hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

3. LPS merupakan lembaga yang independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.

4. LPS bertanggung jawab kepada Presiden.

5. LPS berkedudukan di Jakarta dan dapat mempunyai kantor perwakilan di wilayah negara Republik Indonesia.

Dokumen terkait