• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI

Dalam dokumen BAGIAN PERTAMA NASKAH AKADEMIS (Halaman 44-52)

BAB III HAK- HAK SAKSI

LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI

BAB V

LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI

Bagian Kesatu Status dan Kedudukan

Pasal 17

(1) Lembaga perlindungan saksi merupakan lembaga negara yang mandiri.

Penjelasan: Maksud dari kata mandiri disini adalah bahwa lembaga ini tidak berada atau dibawah struktur lembaga negara yang telah ada.

(2) Lembaga Perlindungan saksi bersifat sementara dan menjalankan tugas dan wewenangnya dalan jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak lembaga ini berdiri.

(3) Lembaga perlindungan saksi berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia dan dapat membentuk perwakilan di ibukota propinsi atau di daerah lain jika dianggap perlu oleh lembaga perlindungan saksi.

www.parlemen.net

Pasal 18

(1) Lembaga perlindungan saksi bertanggungjawab kepada Presiden.

(2) Lembaga perlindungan saksi membuat laporan pertanggungjawaban secara terbuka dan berkala kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) tahun.

Bagian Kedua Asas-asas

Pasal 19

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya lembaga perlindungan saksi berasaskan pada :

a. Kepastian hukum;

Penjelasan: Yang dimaksud dengan “kepastian hukum” adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan menjalankan tugas dan wewenang lembaga perlindungan saksi.

b. Akuntabilitas;

Penjelasan: Yang dimaksud dengan “akuntabilitas” adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil alkhir kegiatan lembaga perlindungan saksi harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. Keterbukaan; dan

Penjelasan: Yang dimaksud dengan “keterbukaan” adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang kinerja lembaga perlindungan saksi dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.

www.parlemen.net

d. Kerahasiaan dalam pemberian perlindungan demi kepentingan saksi

Bagian Ketiga Tugas dan Kewenangan

Pasal 20

Lembaga Perlindungan saksi mempunyai tugas :

a. Mempersiapkan unit khusus perlindungan saksi dibawah Kepolisian Republik Indonesia dalam jangka waktu 10 tahun.

b. Menerima permohonan untuk perlindungan terhadap saksi dan atau pihak lain yang terkait dengan saksi;

c. Memberikan perlindungan kepada saksi dan atau pihak lain yang terkait dengan saksi berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini;

d. Melaksanakan tugas-tugas administratif menyangkut perlindungan saksi dan orang yang terkait dengan saksi;

e. Melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang dan atau lembaga lain dalam rangka memberikan perlindungan saksi;

Penjelasan: Yang dimaksud dengan melakukan koordinasi adalah melakukan kerja sama dalam hubungan resmi sesuai dengan ketentuan undang-undang ini.

f. Melakukan pengumpulan data atau informasi terhadap suatu perkara dalam rangka perlindungan saksi;

Yang dimaksud dengan pengumpulan data atau informasi adalah proses pencarian segala bahan baik berupa informasi lesan maupun dokumen resmi dalam rangka proses pelaksanaan progran perlindungan saksi

g. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan saksi yang dilakukan oleh instansi yang berwenang dan atau lembaga lain;

Penjelasan: Yang dimaksud dengan melakukan pengawasan adalah segala proses pemantauan atas berjalannya program perlindungan saksi..

h. Mensosialisasikan perlunya perlindungan saksi kepada masyarakat;

i. Menyusun laporan tahunan dan menyampaikan kepada presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

www.parlemen.net

Pasal 21

Dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 20, Lembaga Perlindungan saksi memiliki kewenangan :

a. Menetapkan langkah-langkah dan tata cara tentang pembentukan unit khusus perlindungan saksi dibawah Kepolisian Republik Indonesia.

b. Menetapkan langkah-langkah dan tata cara bagaimana ketentuan undang-undang ini harus dijalankan oleh kantor perwakilannya;

Penjelasan: Yang dimaksud dengan “menetapkan langkah-langkah dan tata cara “ adalah bahwa lembaga perlindungan saksi berwenang membuat prosedur kerja dalam menjalankan organisasinya dan prosedur hubungan antara lembaga perlindungan saksi dengan perwakilannya di daerah.

c. Membuat perjanjian tentang perlindungan dan bantuan yang akan dilakukan terhadap saksi oleh orang-orang atau institusi atau organisasi lainnya dalam hal :

1. Lembaga perlindungan saksi diberikan kewenangan untuk menggunakan fasilitas atau kelengkapan milik atau dibawah penguasaan departemen (pemerintah), orang atau organisasi atau institusi lain; atau

2. Menyangkut berbagai hal yang akan membuat ketentuan-ketentuan dalam undang-undang ini dapat berjalan

d. Memerintahkan instansi yang terkait untuk memberikan perlindungan saksi;

e. Menunjuk tempat-tempat yang akan difungsikan sebagai tempat-tempat aman/rumah aman (safe house);

f. Mendapatkan akses atas informasi dan dokumen dalam setiap tahap penyelesaian perkara dalam rangka perlindungan saksi;

Penjelasan: Lembaga perlindungan saksi harus mendapatkan akses langsung dan penuh terhadap setiap acara persidangan dan pernyataan yang diungkapkan saksi, dan terhadap setiap bukti yang telah disampaikan dalam persidangan, dan Lembaga Perlindunan Saksi berhak mendapatkan salinan dari pernyataan atau bukti itu.

g. Meminta informasi kepada instansi yang terkait mengenai perkembangan perkara yang sedang ditangani oleh lembaga perlindungan saksi.

www.parlemen.net

Bagian Keempat

Keanggotaan, Prosedur Pemilihan Anggota dan

Pemberhentian Anggota Lembaga Perlindungan Saksi

Pasal 22

Keanggotaan Lembaga Perlindungan saksi terdiri atas 7 (tujuh) orang yang berasal dari unsur masyarakat sebanyak 4 (empat) orang dan unsur pemerintah sebanyak 3 (tiga) orang yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

Pasal 23

Syarat-syarat untuk dapat diangkat sebagai Anggota Lembaga Perlindungan saksi adalah sebagai berikut:

a. warga negara Republik Indonesia;

b. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; c. sehat jasmani dan rohani;

d. mempunyai wawasan di bidang hak asasi manusia;

e. berumur sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun dan setinggi-tingginya 60 (enam puluh) tahun pada proses pemilihan;

f. cakap, jujur, memiliki integritas moral yang tinggi, dan memiliki reputasi yang baik;

g. tidak pernah menjadi tersangka, terdakwa atau terpidana dalam perkara pidana.

h. tidak menjadi pengurus salah satu partai politik;

i. bersedia melepaskan jabatan struktural selama menjadi anggota Lembaga Perlindungan saksi; dan

j. mengumumkan kekayaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 24

(1) Anggota Lembaga Perlindungan saksi dari unsur pemerintah terdiri atas Kepolisian, Kejaksaan, dan Depertemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

(2) Anggota Lembaga Perlindungan saksi dari unsur pemerintah sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ditunjuk oleh pimpinan instansi yang bersangkutan.

www.parlemen.net

Penjelasan: Yang dimaksud dengan “ditunjuk” adalah kewenangan untuk menetapkan anggota lembaga perlindungan saksi dari institusi yang dimaksud ada pada pimpinan melalui mekanisme yang telah ditentukan oleh lembaga tersebut.

Pasal 25

(1) Anggota Lembaga perlindungan saksi dari unsur masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

(2) Tata cara pemilihan anggota lembaga perlindungan saksi diatur secara tersendiri oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

(3) Proses pencalonan dan pemilihan anggota lembaga perlindungan saksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan secara transparan dan melibatkan partisipasi masyarakat.

Penjelasan:

Yang dimaksud dengan “transparan” adalah masyarakat dapat mengikuti proses dan mekanisme pencalonan dan pemilihan anggota Lembaga Perlindungan Saksi.

Yang dimaksud dengan melibatkan partisipasi masyarakat adalah adanya mekanisme bagi publik untuk memberikan masukan dan informasi atas proses pencalonan dan pemilihan lembaga perlindungan saksi.

Pasal 26

Masa Jabatan Anggota Lembaga Perlindungan saksi adalah 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan

Pasal 27

(1) Anggota Lembaga Perlindungan saksi berhenti atau diberhentikan karena: a. meninggal dunia;

b. berakhir masa jabatannya;

c. berhalangan tetap atau secara terus menerus selama lebih dari 3 bulan tidak dapat melaksanakan tugasnya;

d. mengundurkan diri: atau

www.parlemen.net

e. dikenai sanksi pidana.

(2) Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh presiden

Pasal 28

Dalam hal terjadi kekosongan anggota Lembaga Perlindungan Saksi, prosedur pengajuan dan pemilihan calon anggota pengganti dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 25

Bagian Kelima Pimpinan Lembaga

Pasal 29

(1) Pimpinan Lembaga Perlindungan saksi terdiri dari seorang ketua dan seorang wakil ketua.

(2) Ketua dan wakil ketua lembaga perlindungan saksi dipilih dari dan oleh anggota lembaga perlindungan saksi.

Bagian Keenam Staff Lembaga

Pasal 30

(1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Lembaga Perlindungan Saksi dibantu oleh staf Lembaga Perlindungan Saksi.

(2) Staf Lembaga Perlindungan Saksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah warga negara Indonesia yang karena keahliannya diangkat sebagai staf dalam Lembaga Perlindungan Saksi.

Penjelasan: Keahlian disini adalah keahlian yang berkaitan dengan perlindungan dan keamanan saksi, keahlian yang berhubungan dengan hukum dan administrasi, keahlian dalam masalah anak-anak yang mengalami trauma, masalah orang tua atau manusia lanjut usia, masalah orang cacat atau tidak mampu melakukan hal-hal yang tidak mampu ia lakukan, masalah keanegaragaman gender dan

www.parlemen.net

kultural, dan keahlian penafsiran (interpretasi) dan penerjemahan.

(3) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara pengangkatan staf Lembaga Perlindungan saksi diatur lebih lanjut dengan keputusan Lembaga Perlindungan saksi. .

Bagian Ketujuh

Mekanisme Pengambilan Keputusan

Pasal 31

(1) Keputusan Lembaga Perlindungan saksi diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat.

(2) Dalam hal keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dicapai, maka keputusan diambil dengan suara terbanyak.

Penjelasan: Mekanisme dengan suara terbanyak ini juga disebut dengan mekanisme voting

Bagian Kedelapan

Hubungan Lembaga dengan Instansi Pemerintah dan Masyarakat

Pasal 32

(1) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan yang diberikan kepada lembaga perlindungan saksi berdasarkan undang-undang ini, Lembaga Perlindungan Saksi harus dibantu oleh lembaga negara atau instansi pemerintah yaitu:

a. Kejaksaan Agung RI; b. Polisi Republik Indonesia;

c. Departemen Kehakiman dan HAM; d. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia;

e. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Perempuan; f. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; g. Departemen Keuangan;

h. Departemen Dalam Negeri; i. Pemerintahan Daerah; dan atau

j. Departemen pemerintahnya lainnya dengan izin dari Presiden.

(2) Dalam menjalankan tugas, kewajiban dan kewenangan yang diberikan kepada lembaga perlindungan saksi berdasarkan undang-undang ini,

www.parlemen.net

Lembaga Perlindungan Saksi dapat dibantu oleh orang-orang dan atau institusi atau organisasi publik atau lainnya yang dapat membantu pelayanan atau perlindungan terhadap saksi.

Penjelasan: Yang dimaksud dengan “orang-orang dan atau institusi atau lembaga publik” adalah pihak-pihak non lembaga negara yang mempunyai kompetensi untuk melakukan perlindungan saksi dan atau selama ini telah melakukan upaya-upaya perlindungan terhadap saksi.

(3) Tata cara mengenai hubungan Lembaga Perlindungan saksi dengan instansi terkait atau pihak lainnya diatur dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kesembilan Pembiayaan Lembaga

Pasal 33

Anggaran pembiayaan Lembaga Perlindungan saksi diperoleh dari : a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

b. Bantuan dari masyarakat yang tidak mengikat baik dalam negeri maupun luar negeri.

BAB VI

Dalam dokumen BAGIAN PERTAMA NASKAH AKADEMIS (Halaman 44-52)

Dokumen terkait