• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Sosial Kemasyarakatan dan Pertanian

Tujuan Umum:

Mahasiswa memahami kelompok sosial dan kelembagaan, organisasi sosial, grup sosial di pedesaan, khususnya terkait aspek pertanian.

Teori Kelembagaan

Salah satu makna lembaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: "pola perilaku manusia mapan. terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevant Sedangkan kelembagaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan lembaga. Uphoff (1992b) dan Fowler (1992): "an institution is a complex of norms and behaviours that persists over time by serving some socially valued purpose, while an organization is a structure or recognized and accepted roles". Tiga kata kunci: sosial, nilai {norms), dan perilaku {behaviours). Suatu institusi atau kelembagaan dapat berbentuk organisasi atau sebaliknya. Menurut Chitambar Lembaga sosial merupakan seperangkat pola-pola perilaku yang diterima dalam pola ajar (socialization), termasuk peranan dan tata-cara (prosedur) yang diwajibkan. Lembaga-lembaga sosial mempunyai struktur masing-masing dan berfungsi sebagai satuan-satuan yang dapat dibedakan satu sama lain meskipun tidak jelas. Tiap-tiap lembaga sosial sarat dengan nilai-nilai, peranan-peranan tertentu dan tatacara bertingkah laku, ada yang berupa aturan tertulis, tetapi umumnya tidak tertulis dan tanpa disadari orang nyata memberi dorongan sosial pada warga masyarakat.

Pada dasarnya kelembagaan dapat dibedakan menjadi kelembagaan komunitas, pemerintah, dan pasar. Dari ketiga bentuk sifat dasar kelembagaan itu sesungguhnya suatu masyarakat menjurus pada dua bentuk yaitu masyarakat komunitas yang dicirikan oleh kelembagaan komunitasnya yang kuat dengan masyarakat pasar yang rohnya didominasi kelembagaan pasar.

Pada kelembagaan masyarakat komunitas, karakteristik hubungan sosial berdasarkan atas status, dimana posisi dan peran terbentuk secara otomatis melalui mekanisme yang baku. Fungsi pasar melekat dalam sistem kekerabatan dan kurang menerapkan prinsip ekonomi. Kelembagaan masyarakat komunitas memiliki multifungsi dan selalu berusaha mencapai seimbang antara hubungan horizontal dan vertikal. Masyarakat pasar memiliki karakteritik hubungan sosial berdasarkan kontrak dan mengutamakan pencapaian hal-hal baru.

Tabel 2. Perbedaan Karakteristik Kelembagaan antara Komunitas, Pemerintah, dan Pasar

Aspek Komunitas Pemerintah Pasar 1. Orientasi

utama kebutuhan hidupPemenuhan komunal Melayani penguasa dan masyarakat Keuntungan 2. Sifat kerja sistem sosialnya Demokratis berdasarkan kesetaraan Monopolis Kompetitif 3. Sandaran kontrol sosial

Kultural Pemaksaan Penuh

perhitungan 4. Bentuk

simbol yang diterapkan

Mistis Pseudorealis Realis

5. Bentuk norma utama

Komunal dan

kepatuhan Modifikasiperilaku Individualis Sumber : Uphoff, 1986

Selain sisi internal, perlu pula dipahami sisi eksternal kelembagaan. Lingkungan sosial dimana suatu kelembagaan hidup merupakan faktor pengaruh yang dapat menjadi pendorong dan sekaligus pembatas seberapa jauh sesuatu kelembagaan dapat beroperasi.

Lembaga Sosial

 Pengertian tentang lembaga sosial atau social institution banyak dijumpai dalam berbagai literatur. Disamping itu banyak juga ahli-ahli yang mengajukan berbagai istilah terjemahan atau artian dari social institutuion ini, misalnya pranata sosial, lembaga kemasyarakatan, dan bangunan sosial. Pembatasan pengertiannya tergambar antara lain dari definisi-definisi yang dikemukakan dalam contoh-contoh berikut :

Hurton : Lembaga sosial adalah suatu sistim hubungan- hubungan sosial yang terorganisasi, meliputi nilai-nilai dan tatacara yang dihayati bersama dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat.

Fitcher : suatu lembaga sosial adalah struktur pola- pola hubungan sosial dan peranan-peranan yang relatif mantap dimana orang-orang mengenakan sanksi-sanksi dan cara-cara tertentu untuk tujuan memuaskan kebutuhan- kebutuhan pokok masyarakat.

Landis : Lembaga-lembaga sosial adalah struktur kebudayaan formal yang dibina untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan sosial pokok.

Koentjaraningrat : pranata sosial adalah suatu sistim tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada serangkaian aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks kebutuhan khusus dalam kebidupan masyarakat.

Soerjono Soekanto: Lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan daripada norma-norma dari segala tingkatan yang

berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat.

Alvin L. Bertrand, menyatakan bahwa lembaga sosial merupakan tata abstraksi yang lebih tinggi dari kelompok, organisasi maupun sistim-sistim sosial lain. Ada pendapat bahwa wujud yang konkrit dari pada lembaga sosial adalah asosiasi (association). Jika suatu universitas adalah lembaga sosial, maka Universitas Satya Wacana, Universitas Diponegoro, dsb merupakan contoh-contoh asosiasi. Dari batasan-batasan diatas, tampak bahwa pokok persoalan dalam memahami lembaga sosial terletak pada tekanan akan kebutuhan pokok manusia dan sistem perilaku yang terorganisasi. Tekanan akan hal tersebut menunjukkan ciri yang membedakannya dari konsepsi-konsepsi lain, seperti kelompok dan organisasi.

Ada dua golongan pendapat dalam memahami lembaga sosial dan asosiasi, yaitu :

 Yang memandang baik lembaga maupun asosiasi sebagai bentuk-bentuk organisasi sosial, hanya lembaga bersifat lebih universal dan penting , sedangkan asosiasi bersifat kurang penting dan bertujuan lebih spesifik. Misalnya "negara" dan "keluarga" adalah lembaga, sedangkan perkumpulan sepak bola, ketoprak plesetan dan serikat-serikat buruh adalah asosiasi.

 Yang memandang lembaga sebagai kompleks peraturan dan peranan-peranan sosial secara abstrak, dan memandang asosiasi-asosiasi sebagai bentuk-bentuk orgasisasi secara konkrit.

Organisasi Sosial

• Organisasi mempunyai batasan-batasan yang tegas dan jelas. Dengan merumuskan tujuan-tujuan organisasi secara jelas, semua aktivitas dipusatkan untuk mencapai tujuan- tujuan tersebut. Suatu organisasi mungkin menemukan tujuan-tujuan baru untuk menjadi dasar kelanjutan hidupnya karena para anggota berusaha memenuhi tuntutan zaman yang berubah. Beragam organisasi dapat dibina untuk berbagai tujuan di beragam bidang kehidupan masyarakat.

• Organisasi mengenal keanggotaan yang formil, status dan peranan. Ada keanggotaan atas dasar sukarela : seseorang menjadi anggota terdorong karena kepentingan perorangan secara khusus. Ada keanggotaan yang dibatasi oleh persyaratan-persyaratan atas dasar penilaian, misalnya menurut jenis kelamin, kecakapan, lapangan pekerjaan, perhatian khusus dan lain-lain. Ada pula keanggotaan yang disertai hak-hak tertentu dan membawa keuntungan-keuntungan, tetapi sebaliknya juga membebankan kewajiban-kewajiban dan syarat kepatuhan pada berbagai peraturan dan pedoman kerja.

• Organisasi mempunyai struktur administrasi sendiri, dengan peranan-peranan dan fungsi-fungsinya yang ditentukan secara tegas.

• Organisasi menganut prinsip-prinsip dan beragam prosedur kerja dalam mencapai tujuan-tujuan yang dijabarkan secara nyata. Umumnya organisasi mempunyai suatu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang diwajibkan oleh undang-undang yang menjelaskan tujuan-tujuan, aturan- aturan dan tata-kerja organisasi.

• Organisasi membina sarana pengendalian sosial, wewenang dan cara mengambil keputusan. Peraturan- peraturan suatu organisasi menentukan dengan tegas wewenang, prosedur mengambil keputusan dan pedoman kerja bagi perilaku para anggotanya. Organisasi mendukung pula beberapa fungsi tambahan lainnya : Ia saluran bagi usaha orang dalam memenuhi kepentingan-kepentingan individu. Sekelompok orang dengan kepentingan-kepentingan bersama mendapat peluang kerjasama untuk mewujudkan kepentingan itu. Ia juga saluran bagi kegiatan secara berencana. Dengan mencapai tujuan-tujuannya, suatu organisasi dapat mempengaruhi keputusan-keputusan orang banyak dan mendorong pada perubahan sosial, (contoh : suatu organisasi petani dapat mendorong terwujudnya landreform.) Organisasi dapat berfungsi sebagai suatu wahana (arena) bagi suatu rencana kerja (program) baru, yang kemudian dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat secara lebih luas.

Organisasi Pertanian

Penelitian Wardhana (2009) tentang efektifitas kinerja Gapoktan di Kecamatan Karanganyar, didaptkan hasil bahwa fungsi-fungsi yang telah dilaksanakan dan dinilai baik oleh responden adalah fungsi unit usahatani dan fungsi unit usaha sarana dan prasarana produksi. Fungsi yang belum dilaksanakan dan dinilai kurang oleh responden yaitu fungsi unit usaha pengolahan, fungsi unit usaha pemasaran dan fungsi unit usaha keuangan mikro. Dari segi pencapaian tujuan berupa fungsi unit usahatani dan fungsi unit usaha sarana dan prasarana produksi yang telah dilaksanakan memberikan manfaat bagi anggota Gapoktan

Syahyuti (2004) dalam penelitiannya di lahan lebak, mendapatkan bahwa pengembangan kelompok tani menghadapi kendala lemahnya motivasi ekonomi dalam hubungan berkelompok, sehingga perlu dilakukan transformasi kelompok tani menjadi kelembagaan yang semakin kental nuansanya sebagai kelembagaan pasar

Santoso (2000) menyatakan penyuluh pertanian lapangan di Kecamatan Delanggu memiliki hubungan signifikan dengan efektivitas kelompok tani hamparan.

Diniyati (2003) berdasarkan hasil penelitiannya menyarankan bahwa untuk meningkatkan kedinamisan kelompok ke arah yang positif, diperlukan pembinan dan pengarahan supaya anggota kelompok tani dapat meningkat kapasitas dan kapabilitasnya sehingga menyadari kemampuan dan kekayaan yang dimilikinya, ini dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pelatihan sehingga diharapkan hasilnya dapat membentuk kelompok tani yang mandiri dan profesional. Selain itu, Keberhasilan pengembangan hutan rakyat sangat tergantung kepada kemandirian dari kelompok tani, oleh karena itu kelompok harus mandiri dan tidak tergantung pada bantuan-bantuan proyek dari luar, caranya yaitu dengan peningkatan aktivitas kegiatan kelompok melalui pendampingan tenaga ahli, baik dari perguruan tinggi, LSM dan lembaga penelitian.

Dokumen terkait