SOSIOLOGI PERTANIAN
Modul Perkuliahan
Ṧ
Ở
ᾎ
Oleh
Dr. Tinjung Mary Prihtanti, SP.MP.
FAKULTAS PERTANIAN DAN BISNIS
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
PENGANTAR
Deskripsi
Manusia selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, sejak bayi hingga tua. Oleh karena itu, manusia butuh hidup berkelompok, bermasyarakat dengan sesamanya. Ilmu Sosiologi mampu mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi di balik realitas sosial yang ada di dalam masyarakat. Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri namun sosiologi juga menjadi ilmu terapan (applied science). Dan Sosiologi Pertanian merupakan mata kuliah yang memberikan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat dalam lingkungan pertanian.
Materi mata kuliah sosiologi pertanian meliputi:
I. Ruang lingkup dan konsep sosiologi dan sosiologi pertanian II. Interaksi Sosial dan Proses Sosial
III. Pemahaman Desa dan Masyarakat Agraris IV. Moral Ekonomi Petani
V. Lembaga Sosial Masyarakat dan Pertanian VI. Perubahan Sosial Masyarakat Pertanian
VII. Ilmu Sosiologi dan pembangunan pertanian
DAFTAR ISI
Halaman Judul... Pengantar... Daftar Isi... I. Ruang lingkup dan konsep sosiologi dan sosiologi pertanian... II. Interaksi Sosial dan Proses Sosial... III. Pemahaman Desa dan Masyarakat Agraris... IV. Moral Ekonomi Petani... V. Lembaga Sosial Kemasyarakatan dan Pertanian... VI. Perubahan Sosial... VII. Keterkaitan interdisipliner ilmu tentang kemasyarakatan, negara,
I. RUANG LINGKUP dan KONSEP SOSIOLOGI dan SOSIOLOGI PERTANIAN
Tujuan Umum:
Mahasiswa dapat memahami definisi dan konsep-konsep dasar ilmu Sosiologi dan Sosiologi Pertanian serta memahami latar belakang berkembangnya ilmu sosiologi.
Masyarakat pelaku di bidang pertanian juga mengalami interaksi dengan sesama masyarakat dan membentuk kelompok untuk mencapai tujuan usahataninya. Di dalam masyarakat pertanian terdapat kerjasama, perselisihan, pertikaian, persaingan yang muncul akibat dari tindakan petani itu sendiri. Setiap tindakan (aksi) petani pasati akan mendapatkan reaksi, sehingga aksi + reaksi menghasilkan produk interaksi.
Latar Belakang Sosiologi
Sosiologi pertanian (perdesaan) sebagai suatu bagian dari sosiologi
terapan semakin pesat perkembangannya dewasa ini.
Hal ini dipicu dengan makin bertambahnya pemahaman bahwa sosiologi diperlukan bagi perkembangan dan aplikasi ilmu yang lain kepada masyarakat luas.
Dengan kata lain sosiologi pertanian merupakan pembuka untuk diterapkannya suatu ilmu kepada masyarakat.
Untuk itulah diperlukan pemahaman mengenai Konseptualisasi
sosiologi dan sosiologi Pertanian (Perdesaan).
SOCIUS = LOGOS =
Teman, bersama omongan, diskusi
SOCIOLOGY
Definisi Sosiologi
1928 Pitirin Sorokin = hubungan dan pengaruh timbal balik gejala sosial budaya dari sudut umum
1951 FF Cuber = hubungan timbal balik antar manusia
1955 RM Mc Iver & CH Page = hubungan sosial dan dengan seluruh jaringan hubungan itu (masyarakat)
1964 Selo Soemardjan & Soelaiman Soemantri = struktur (keseluruhan jalinan antara unsur-unsur yang pokok seperti kaidah-kaidah sosial, lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial) dan proses-proses sosial (berupa pengaruh timbal balik antara berbagai kehidupan bersama), termasuk perubahan sosial
1983 ER Babbie = telaah kehidupan sosial, mulai dari interaksi
sampai hubungan global antar bangsa.
Roucek & Warren = ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dalam kelompok-kelompok.
Max Weber = sosiologi adalah ilmu tindakan sosial
William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff = sosiologi adalah penelitian ilmiah interaksi sosial dan hasilnya.
JAA van Doorn dan CJ Lammers = sosiologi adalah ilmu tentang struktur dan proses kemasyarakatan yang stabil.
Paul B. Horton = sosiologi adalah ilmu kehidupan kelompok dan
produknya
Sorjono Soekamto = sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan umum
William Kornblum = sosiologi adalah upaya ilmiah mempelajari material, baik kelompok statis maupun dinamis.
Sosiologi mempelajari pola hubungan dan kehidupan manusia dalam masyarakat (cummunity, society) dalam berbagai aspek sosialnya objek sosiologi: masyarakat.
Perekembangan Ilmu Sosiologi
Sosiologi Klasik – lahir di Eropa pada saat revolusi industri dan revolusi Perancis dimana struktur masyarakat mengalami perubahan dari masyarakatt feodal ke masyarakat kapitalis. Revolusi diharapkan menghasilkan tatanan sosial yang penuh
keadilan, keterbukaan, persamaan, kebebasan, justru mengundang kekuatiran ke pola yang lebih buruk yaitu anarkis. Dari kekuatiran tersebut, ilmuwan berusaha mencari jawaban persoalan agar perubahan tidak terjerumus ke situasi yang buruk.
Sosiologi Modern – perkembangan dari sosiologi klasik di Amerika
membawa gejolak kehidupan sosial perkotaan mendorong sosiolog mencari jalan keluar persoalan tersebut.
Perkembangan Sosiologi di Indonesia
- Dalam sastra Jawa, ajaran “wulang reh” Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Kraton Surakarta mengajarkan pola hubungan antar anggota masyarakat Jawa dari kelas yang berbeda
- Ajaran Ki Hajar Dewantoro memberikan sumbangan pemikiran tentang dasar kepemimpinan dan keluarga dalam konsep ing ngarsa asung tulada, ing madya mbangun karsa, tut wuri handayani
- Sebelum PD II sosiologi sebagai pelengkap mata kuliah bidang hukum di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta meski tahun 1934-1935 justru dihilangkan
- Setelah PD II setelah Proklamasi Kemerdekaan Prof Mr. Soenario Kolopaking memberikan kuliah sosiologi di Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta
- Penerbitan buku-buku sosiologi olah Mr. Djody Gondokusumo dan sosiolog- Indonesia lainnya
Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan
Sosiologi sebagai ilmu memiliki ciri-ciri:
1. Bersifat empiris – didasarkan observasi kenyataan kehidupan manusia dan akal sehat tidakmengira-ira
2. Bersifat teoritis – berusaha menyusun abstraksi hasil observasi
3. Bersifat kumulatif – teori masing-masing ilmu dibentuk atas dasar teori yang sudah ada
Perspektif Sosiologi
Adalah asumsi sifat obyek kajian sosiologi, beberapa diantaranya:
1. Perspektif evolusionis – pada pola perubahan dan perkembangan di masyarakat
2. Perspektif interaksionis – pada interaksi sosial
3. Perspektif fungsionalis – masyarakat sebagai jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisir dan memiliki seperangkat aturan dan nilai
4. Perspektif konflik – pertentangan mdalam masyarakat adalah akibat produk interkasi itu sendiri
Metode dalam Sosiologi
1. Metode kualitatif dan kuantitatif – berdasar data
2. Metode induktif dan deduktif – mempelajari gejala untuk mendapatkan kaidah berlaku di lpangan yang lebih luas
3. Metode empiris dan rasional – menyandarkan pada keadaan di lainnya. Di Indonesia, sosiologi telah banyak digunakan sebagai alat untuk membantu atau memecahkan masalah sosial. Menurut Horton & Hunt (1984), peran sosiolog terbagi menjadi 5 yang mampu memberikan alternatif pengembangan karir sosiologi.
1. Sebagai Ahli Riset (Peneliti)
Tugas utama seorang sosiolog adalah mencari dan mengorganisasi ilmu pengetahuan tentang kehidupan sosial. Melalui penelitian sosial, seorang sosiolog akan menjelaskan segala hal yang terjadi di dalam masyarakat dengan metode ilmiah sehingga menjadi lebih jelas bukan lagi berdasar cerita-cerita fiktif atau tahayul semata. 2. Sebagai Konsultan Kebijakan (Pengamat)
Sosiolog dapat membantu meramalkan pengaruh dari suatu kebijaksanaan sehingga dapat memberikan sumbangan dalam pemilihan kebijakan untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Termasuk didalamnya pengaruh kebijakan tersebut bagi kehidupan masyarakat secara luas.
3. Sebagai Teknisi
khusus antara lain sosiologi pedesaan/perkotaan, sosiologi industri, psikologi sosial, sampai sosiologi organisasi.
4. Sebagai Guru
Kegiatan mengajar adalah karir utama bagi sosiolog, meskipun kenetralan nilai versus komitmen nilai masih menjadi perdebatan. Sosiologi harus mampu keluar dari “indoktrinasi” sebagai pengembangan kode etik sebagai guru.
5. Sebagai Relawan Sosial
Peran ini berkaitan dengan ciri sosiologi yang bebas nilai, yang mencoba menuntut peran utama dalam pengambilan keputusan tentang kebijaksanaan umum dan melibatkan diri dalam masalah utama masyarakat yaitu sebagai relawan sosial.
Sosiologi Pertanian sering disamakan dengan sosiologi pedesaan. Namun semakin sedikit khidupan manusia di desa ditandai oleh kegiatan pertanian, maka sosiologi pertanian dipisahkan dari sosiologi pedesaan.
Sosiologi Pedesaan
Rural= perdesaan, (karakteristik masyarakat)
Village= desa (suatu unit teritorial)
Suatu perdesaan (rural) dapat mencakup satu desa (village) atau sejumlah desa.
Konsep berdasarkan waktu: 1. Era sebelum modernisasi 2. Era pada saat modernisasi 3. Era globalisasi
Sosiologi Pedesaan (rural Sociology) berbeda dengan Sosiologi Pertanian (Agricultural Sociology). Sosiologi pedesaan – pertanian adalah sosiologi dari kehidupan pedesaan dan masyarakat pertanian ( Smith ).
Definisi Sosiologi Pedesaan:
1922 John Gillete = mempelajari komunitas–komunitas perdesaan
untuk mengungkapkan kondisi-kondisi serta kecenderungan-kecenderungannya dan merumuskan prinsip-prinsip kemajuan
1942 NL Sims = studi asosiasi antara orang-orang yang hidupnya banyak tergantung pada pertanian
1942 Dwight Sanderson = studi tentang kehidupan dalam
lingkungan perdesaan
1970 Lynn Smith & Paul Zopf = studi masyarakat perdesaan: organisasi & strukturnya, proses-prosesnya, sistem sosial, dan perubahan-perubahannya.
Objek Sosiologi Pedesaan:
"sosiologi pertanian" adalah keseluruhan penduduk yang bertani tanpa memperhatikan jenis tempat tinggainya
Dengan kata lain, sosiologi pedesaan seperti juga sosiologi perkotaan, merupakan sosiologi permukiman. Sosiologi ini membahas, dalam situasi dan keadaan lingkungan bagaimana manusia di pedesaan, tak peduli apakah ia petani atau bukan petani, pekerja atau yang sedang berlibur hidup dan bergaul dengan sesama mereka, bagaimana hubungan antara mereka dan dengan penduduk lainnya diatur, pada nilai, norma dan otoritas apa tindakan mereka berorientasi, dalam kelompok dan organisasi mana berlangsung kehidupan mereka, masalah mana yang muncul dan dengan bantuan proses sosial mana hal ini bisa diselesaikan.
Yang dipelajari dalam Sosiologi Pedesaan antara lain: 1. Struktur & organisasi sosial yang ada.
2. Sistem dasar masyarakat. 3. Proses perubahan sosial.
Latar Belakang Sosiologi Perdesaan:
Amerika abad 19 terjadi Ketimpangan dalam masyarakat pada masa
industri
1937 muncul Rural Sociology Society Sosiolog penelitian di Amerika Selatan
1957 Asosiasi Sosiologi Perdesaan di Eropa dan Jepang
Sosiologi Pertanian
Definisi SOSIOLOGI PERTANIAN (agricultural sociology): sering disamakan dgn sosiologi pedesaan (rural sociology). Ini hanya berlaku jika penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja.
Menfokuskan upaya sosiologinya bagi masyarakat desa yang menggeluti pertanian, meliputi :
1. Pola pertanian dan usaha bertani. 2. Kehidupan dan tingkatannya.
3. Undang-undang pertanian dan masalah sosial pertanian 4. Struktur sosial, adat dan kebiasaan penduduk.
5. Lembaga-lembaga/organisasi sosial pertanian yang ada dll.
Dalam perkembangannya yang dipelajari Sosiologi baru (kapitalis):
1978 Howard Newby = perubahan- perubahan yang dialami
pertanian di bawah dominasi produksi kapitalis.
Studi tentang bagaimana masyarakat desa menyesuaikan terhadap merasuknya sistem kapitalisme modern di tengah kehidupan mereka.
(tata kerja) dan oleh sistem ekonomi dan masyarakat yg ada di atas mereka (tata kekuasaan)
Perkembangan Sosiologi Pertanian
Sejarah sosiologi pertanian dimulai di Prancis dan Jerman pada akhir abad 18 dan 19 yaitu sejak banyaknya negarawan dan polisi, penyair dan filsuf serta ahli sosiologi mengeluarkan pendapat mengenai rakyat desa.
Di Amerika Serikat, penelitian kehidupan desa secara sistematis
baru dimulai ketika penelitian sosial desa di Jerman telah berlalu.
1952, didirikan Perhimpunan Peneliti untuk Politik Pertanian dan Sosiologi Pertanian.
1953, terbit setahun dua kali majalah sejarah pertanian dan sosiologi pertanian. Sosiologi pertanian diajarkan di semua fakultas pertanian di Jerman Barat.
Setelah Perang Dunia II, sosiologi pertanian bangkit di
negara-negara Eropa terutama di Belanda, Prancis, Norwegia, Inggris, Itali.
Di semua negara-negara Timur, paling lambat sejak tahun 1960-an sosiologi pertanian naik daun.
1957, didirikan Perhimpunan Sosiologi Pedesaan Eropa, yang
menyelenggarakan kongres dua tahun sekali dan menerbitkan majalah Sosiologia Ruralis dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman.
1913, terbit buku pelajaran sosiologi pertanian pertama yang ditulis oleh John M. Gillette
Sosiologi pertanian dikenal di Amerika Latin setelah PD II. Muncul sebagai prodi di Meksiko, Brasilia, dan Chili. Tahun 1969 didirikan perhimpunan sosiologi pedesaan Amerika Latin
Pelembagaan sosiologi Pertanian dan Pedesaan yang bersifat
internasional di Asia Tenggara terhambat karena kesulitan bahasa dan budaya serta kurangnya sarana.
Konferensi regional Asia untuk penelitian dan pengajaran sosiologi pedesaan di Los Banos Filipina (1971) merupakan langkah pertama di Asia Tenggara yang bsifat internasional.
Di negara-negara kepulauan Pasifik, terutama di Australia kurang ada keinginan membangun sosiologi pertanian dan pedesaan.
TUGAS 1:
Amati dan simpulkan proses interaksi antar anggota keluarga
anda, contoh: ayah-ibu, kakak-ayah, kakak-ibu ayah, adik-ibu, anda-ayah, anda-adik-ibu, dsb.
Lanjutkan observasi proses interaksi anggota keluarga dengan masyarakat sekitarnya.
II. INTERAKSI SOSIAL dan PROSES SOSIAL
Tujuan Umum:
Mahasiswa dapat memahami konsep-konsep dasar interaksi sosial dan proses sosial serta memahami permasalahan-permasalahan sosial di komunitas pertanian pada khususnya dan permasalahan sosial yang lebih luas pada umumnya.
Kemampuan memahami suatu masyarakat sangat diperlukan dalam
upaya melakukan interaksi dengan masyarakat tersebut. Keberhasilan dalam memahami masyarakat melalui pemahaman bentuk-bentuk proses sosial dalam masyarakat, baik dalam konteks masyarakat luas maupun dalam konteks suatu keluarga. Untuk memahami proses-proses sosial dalam masyarakat dan keluarga sangat diperlukan dalam upaya memahami suatu masyarakat.
Proses Sosial
Proses sosial dalam masyarakat merupakan suatu integrasi yang harmonis antara individu dengan individu dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Individu mencoba menyesuaikan diri dengan bermacam-macam hubungan sosial.
Dalam sosiologi pengetahuan akan proses-proses sosial sangat penting, karena pengetahuan ini memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengertian yang dalam mengenai segi dinamis masyarakat atau gerak masyarakat.
Proses-proses sosial berakar pada interaksi sosial. Seperti diketahui,
interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tidak akan ada kehidupan bersama. Interaksi sosial merupakan proses dasar dan pokok dalam setiap masyarakat, dan sifat-sifat masyarakat sangat dipengaruhi oleh tipe-tipe utama interaksi yang berlangsung di dalamnya. Tipe-tipe interaksi yang banyak muncul itu sangat ditentukan oleh norma-norma dalam masyarakat itu dan ini berkaitan dengan peran-peran sosial, status dan nilai.
Interaksi Sosial
Definisi: Hubungan sosial masyarakat yang bersifat dinamis, dimana syarat utama didalam masyarakat tersebut terjadi aktivitas sosial.
Syarat terjadinya interaksi :
1. Adanya kontak sosial baik menyangkut hubungan antar individu, antar kelompok, maupun antara individu dengan kelompok, bersifat positif, negatif, primer, dan sekunder.
2. Adanya komunikasi antar anggota masyarakat, yakni seseorang memberi arti pada perilaku/perasaan orang lain, dan komunikasi menjadi bahan reaksi yang dilakukan.
Faktor mempengaruhi Interaksi Sosial:
1. Imitasi : meniru perilaku dan tindakan orang lain 2. Sugesti : penerimaan pandangan, tingkah laku orang lain
3. Identifikasi : kecenderungan atau keinginan untuk menjadi sama dengan pihak lain
4. Simpati : perasaan memperhatikan dan memahami pihak lain
Produk interaksi adalah nilai-nilai sosial, norma-norma yang dianut oleh anggota-anggota masyarakat tersebut. Nilai merupakan sesuatu yang dianggap baik, patut, layak, pantas yang dicita-citakan dan diinginkan dalam kehidupan masyarakat bersama. Norma adalah pedoman atau petunjuk arah perilaku manusia dalam masyarakat yang berkaitan dengan hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
Bentuk Proses sosial akibat Interaksi Sosial:
Gillin dan Gillin mencoba melakukan penggolongan terhadap bentuk interaksi sosial. Ada dua macam proses sosial yang timbul akibat interaksi sosial
Proses sosial yang asosiatif (processes of association)
1. Kerjasama (cooperation) 2. akomodasi
3. asimilasi dan akulturasi
Proses yang disosiatif (processes of dissociation) 1. Persaingan (competition)
2. persaingan yang meliputi contravention dan pertentangan atau pertikaian (conflict).
Proses Sosial yang Assosiatif (mendekatkan):
a. Kerjasama (cooperation)
Motivasi kerjasama (Chitambar, 1973): 1. kepentingan pribadi,
4. tuntutan situasi, 5. gotong-royong, 6. tolong-menolong 7. musyawarah
b. Akomodasi
(proses) = menunjuk pada usaha orang atau grup untuk meredakan pertentangan, mencapai kestabilan atau kelangsungan hubungan antar grup
(hasil interaksi sosial) = menunjuk pada suatu keadan dimana
terdapat keseimbangan baru setelah pihak yang berkonflik berbaikan kembali
Bentuk akomodasi (Soekanto) : 1. paksaan,
2. kompromi, 3. mediasi, 4. konsiliasi, 5. toleransi
c. Asimilasi
Syarat : ada kelompok manusia yang berbeda kebudayaan, anggota kelompok saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama dan kebudayan masing-masing kelompok berubah dan saling menyesuaikan diri
A C B
Proses Sosial yang Dissosiatif (menjauhkan, mempertentangkan)
a. Persaingan
Tipe : persaingan bersifat pribadi dan tidak bersifat pribadi
Bentuk : persaingan di bidang ekonomi, kebudayaan, persaingan mendapatkan kedudukan dan peranan dalam masyarakat, persaingan perbedaan ras.
b. Konflik
c. Kontravensi
Bentuk : umum, sederhana, intensif, rahasia dan taktis
Faktor yang mempengaruhi : 1. Toleransi
2. Kesempatan seimbang dibidang ekonomi
3. Sikap saling menghargai antar orang dan budayanya 4. Sikap terbuka antar warga masyarakat
5. Adanya persamaan unsur mengenai kebudayaan 6. Terjadinya proses perkawinan
Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang, kelompok, organisasi atau komunitas. Ia dapat menyangkut struktur sosial, atau pola nilai dan norma serta peranan (istilah yang lebih lengkap mestinya "perobahan nilai sosial-kebudayaan" )
• Pola kebudayaan mencakup tiga kesatuan yang terdiri dari :
1. pola bersikap yang mendapat isi dan pengarahan dari nilai-nilai budaya (pandangan hidup) dan pola berpikir,
2. pola bertindak dan kelakuan dalam kegiatan bermasyarakat dan 3. pola sarana benda-benda (fisik).
Tiga wujud itu berturut-turut lebih sering dikenal dengan sebutan jiwa (misalnya jiwa sosialisme, jiwa gotong-royong, dsb), dan teknologi (yaitu "persambungan" anggota badan atau pikiran manusia dalam menguasai lingkungannya), misal dalam "sarana teknologi" dalam mengerjakan sesuatu melalui kegiatan gotong-royong (contoh : alat ani-ani dalam pekerjaan memotong pada secara beramai- ramai).
Tingkat Nilai Budaya Merupakan tingkatan "yang paling abstrak dan luas, mencakup ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat".
Nilai-nilai utama itu dapat diperjelas menurut orientasi (pengarahan)
masing-masing jika kita membedakan beragam bidang perhatiankehidupan atau masalah pokok (hakiki). Jumlah nilai budaya dalam suatu pola kebudayaan umumnya tak banyak (contoh 5 dalam Pancasila).
Kluckhon menunjuk pada 5 masalah pokok masing-masing dengan beragam pengarahannya (orientasi), yaitu masalah :
b. Hakekat karya manusia (untuk apa berkarya, untuk nafkahkedudukan, dsb)
c. Hakekat kedudukan manusia dalam ruang waktu (pandangan masa lampau, kini dan masa mendatang)
d. Hakekat hubungan manusia dengan lingkungan alam (tunduk atau menguasai alam)
e. Hakekat hubungan manusia dengan manusia lain (keterganngan pada sesama lapisan, pada lapisan atas atau swa-sembada).
Sistem masyarakat, pola kebudayaan dan struktur sosialnya, lebih tepat digambarkan dalam keseimbangan dinamik, dimana integrasi antar unsur-unsurnya tidak pernah tercapai sepenuhnya. Perobahan yang mengenai sesuatu unsur akan punya pengaruh pada unsur-unsur lain, dengan demikian pada keseimbangan sistem itu, dan ada kalanya disertai konflik. Konflik ini mungkin juga hasil suatu proses dimana suatu golongan justru bersikeras mengikuti norma-normanya sendiri , dengan akibat konflik yang sebelumnya mungkin tak terduga itu. Dapat dikatakan bahwa "masalah sosial" dapat menghasilkan perobahan sosial, sedangkan yang sebaliknya mungkin : perobahan sosial menghasilkan "masalah sosial".
• Pola kebudayaan mempersatukan segenap warga pendukung pola itu, yang terdidik dalam pola ajar pada masyarakat itu. Pola ajar itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sambil terjadi pula penyesuaian- penyesuaian baru. Pola kebudayaan itu dapat mengalami perobahan, karena penemuan sesuatu yang baru, yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri atau karena menerima unsur dari luar lewat penularan (difusi).
• Jika sesuatu unsur baru telah tampak diterima dalam suatu pola kebudayaan, dikatakan bahwa hal baru itu telah membudaya: dalam arti paling jauh, diterima karena dirasa sesuai dengan pandangan hidup masyarakat itu. Tapi sering salah satu wujud itu, suatu kelakuan, atau alat-alat (teknologi) walau tampak diikuti atau dipakai umum secara meluas, belum sampai diterima atau dihayati benar-benar oleh masyarakat itu.
Analisis Proses sosial ( Van Doorn & Lammers (1959)
1. satuan analisis: kejadian sosial, interaksi sosial antara 2 org atau lebih
3. Sejumlah interaksi sosial dapat diglongkan dalam beragam jenis hubungan sosial yang dibina oleh sejumlah orang, pelaku dari 1 atau 2 group
III. DESA DAN MASYARAKAT AGRARIS
Tujuan Umum:
Mahasiswa dapat memahami konsep-konsep interaksi sosial masyarakat desa dan petani, serta memahami permasalahan-permasalahan sosial di komunitas pertanian pada khususnya dan permasalahan sosial masyarakat desa yang lebih luas pada umumnya.
Desa
1948 Paul Landis :
1. statistik = < 2.500 orang,
2. sosio-psikologik = penduduknya memiliki hubungan yang akrab dan serba informal
3. ekonomik = pendapatan tergantung pada pertanian
1955 Egon Bergel = pemukiman para petani, desa perdagangan
Ciri : tempat tinggal kelompok masyarakat kecil (ada keterikatan warga dengan tempat tinggal)
1977 Koentjaraningrat = komunitas kecil yg menetap di suatu tempat
UU No. 5 th 1979, UU No 22 th 1999: Desa = suatu wilayah yang
ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumahtangganya sendiri dalam ikatan NKRI
Karakteristik desa :
1. Peranan kelompok primer sangat besar. 2. Hubungan bersifat intim/awet.
3. Homogen.
4. Mobilitas rendah.
5. Keluarga sebagai unit ekonomi.
6. Faktor geografis sebagai dasar pembentukan keluarga. 7. Populasi anak > dari kota.
Masyarakat
Unsur-unsur mengenai masyarakat : 1. Masyarakat yang hidup bersama
2. Bersama untuk waktu yang cukup lama 3. Sadar merupakan suatu kesatuan
4. Merupakan suatu sistem hidup bersama dengan segala konsekwensinya
Karakteristik Masyarakat Desa
Karaktersitik kehidupan masyarakat desa terutama nampak dengan adanya tata masyarakat dan ekonomi pertanian yang membedakan dengan tata masyarakat kota. Secara umum dapat dikemukakan bahwa perbedaan utama antara kehidupan masyarakat kota dengan masyarakat desa adalah dalam tuntutan kebutuhan dalam usaha-usaha memenuhi kebutuhan hidup.
Pada umumnya keluarga petani dapat memenuhi kebutuhan sendiri dalam melengkapi keperluan hidupnya. Mereka memproduksi pangannya sendiri, sekaligus memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang esensiil lainnya seperti sandang, peralatan dan lain-lain. Di daerah pedesaan kegiatan masyarakat sangat didominir oleh kegiatan pertanian atau perikanan. Dengan kata lain susunan masyarakatnya merupakan satuan yang bersifat lebih homogen dibanding dengan masyarakat di daerah perkotaan yang bersifat heterogen.
Pada umumnya keadaan masyarakat di desa bila dilihat dari segi sosial mempunyai sifat yang statis. Apabila menemukan suatu masalah mereka menyelesaikannya dengan cara ,musyawarah, karena mereka masih memiliki rasa kekeluargaan yang kuat.
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama anggota warga desa sehingga seseorang merasa dirinya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat ia hidup serta rela berkorban demi masyarakatnya, saling menghormati, serta mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama di dalam masyarakat terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama. Adapun yang dijadikan cirri- cirri masyarakat pedesaan antara lain sebagai berikut.
a. Setiap warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan
erat bila dibandingkan dengan warga masyarakat di luar batas- batas wilayahnya.
2. Rendahnya tingkat inovasi masyarakat.
3. Kepribadian masyarakat dengan filsafat hidup organis. 4. Pola kebiasaan hidup yang lamban.
5. Tebalnya kepercayaan terhadap takhayul. 6. Kebudayaan material yang bersahaja. 7. Rendahnya kesadaran akan waktu. 8. Bersifat praktis.
9. Standar moral yang kaku.
Pola Pertanian dan Bertani
Pola pertanian dipengaruhi oleh bentuk desa al:
1. Pra – desa, pemukiman sementara ( berpindah).
2. Swadaya ( sedenter ), sudah ada keluarga tertentu yang menetap, tetapi: Masih tradisional, Teknologi pertanian rendah, Pendidikan belum berkembang
3. Swakarya, tatanan kehidupan sudah mulai mengalami perubahan. 4. Swasembada, merupakan pola desa yang paling baik,
masyarakatnya sudah maju.
Salah satu pola pertanian adalah pola pertanian daerah rawa dengan sifat:
-. Perkampungan berpusat ditepi sungai. -. Sumber kehidupan utama perikanan. -. Bentuk perkampungan.
-. Tipe sawah pasang surut.
Peasant dan Subsistensi
Peasan diidentikan dengan petani kecil. Definisi :
1. Eric R. Wolf : peasan adalah petani yang mengerjakan tanah pertanian secara efektif bukan sebagai bisnis.
2. Raymond Firth : Peasan adalah petani yang mengusahakan usahatani dengan skala kecil, teknologi sederhana, subsisten dan nafkah hidup utamanya dari mengolah tanah.
Ciri-ciri umum peasan :
1. Petani produsen subsisten.
2. Cenderung pedesaan dan tradisional.
3. Jarang yang kebutuhannya sendiri sepenuhnya tercukupi.
Subsistensi :
1. Cara hidup yang minimalis ( utk tk. Hidup ).
2. Usaha yang dilakukan cenderung untuk sekedar hidup ( utk. produksi).
3. Derajat komersialisasi rendah.
5. Tidak ada pengguna, penghasil dan pelayanan dari luar.
Studi tentang peasan masih menarik karena ;
1. Jumlah peasan didunia masih sangat banyak dibandingkan dengan petani modern (agricultural entrepreneur).
2. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat.
3. Revolusi dan ketidakstabilan yang berpangkal pada peranan/pengaruh peasan.
Peasan dapat dilihat dari sudut pandang :
1. Fenomena kultural : peasan sebagai way of life. 2. Fenomena struktural :
-. Sempitnya pemilikan & penguasaan lahan. -. Tingkat kemiskinan & kebodohan yg tinggi.
-. Struktur politik dan ekonomi yang kurang mendukung sektor pertanian.
Penyebab rendahnya tingkat inovasi peasant : 1. Kurang berani mengambil resiko.
2. Penerapan teknologinya kurang tepat guna.
3. Rendahnya pengetahuan teknis dan sumberdaya.
Ciri2 peasantry menurut Everett M. Rogers : 1. Tidak mudah percaya satu dg yang lain.
2. Terbatasnya pandangan segala sesuatu didunia mengenai phisik dan non phisik.
3. Sikapnya kontroversial tetapi juga tergantung terhadap pemerintah. 4. Familiisme : ikatan keluarga yang erat.
5. Rendahnya inovasi.
6. Fatalisme : rendahnya kemampuan perorangan untuk mengendalikan masa depan
7. Tingkat aspirasi rendah.
8. Kurang terbiasa menangguhkan kepuasan 9. Pandangan yang sempit terhadap dunia. 10. Empati yang rendah.
Ciri no.1 untuk Indonesia tidak berlaku, karena kuatnya sifat gotong royong.
Peasan dan pola budaya masyarakat desa di Indonesia Petani Indonesia terbagi menjadi :
1. Petani Jawa, merupakan petani sawah dan banyak memenuhi kriteria peasan.
2. Petani Luar Jawa, merupakan petani ladang dan perkebunan.
Petani perkebunan terdiri dari ;
1. Petani tradisional, perkebunan rakyat.
Petani sawah di Jawa pedalaman peasantrynya lebih kelihatan karena: 1. Tanahnya subur.
2. Eksistensi kraton sebagai pusat kekuasaan yang kuat, sehingga kadang2 menciptakan sistem feodalisme.
3. Eksisnya budaya subsistensi.
4. Hubungan yang intensif antara peasan dan kekuatan supra desa.
Dualisme ekonomi Indonesia menurut Boeke : Pertanian Indonesia dibagi menjadi dua :
1. Perkebunan, yang merupakan jalur kapitalisme dan modern.
2. Petani sawah, ciri2 peasan melekat, tidak mengalami perkembangan, dan jumlah penduduk bertambah pesat.
Aspek kultural :
1. Peasan dominan di Jawa.
2. Cultural focus dengan agama/kepercayaan sebagai elemen pokok. 3. Adat istiadat atau tradisi diidentikkan dengan budaya bagi
masyarakat kelompok kecil.
Pola budaya desa ( Wartheim )
1. Sebagian besar Jateng dan Jatim, pola desanya adalah petani dengan lahan sawah. Petani disini mempunyai sifat tertutup, statis dan kurang berorientasi pada keuntungan.
2. Sepanjang pantai, daerah berkembang dan kota pelabuhan. Penduduk daerah pantai lebih terbuka dan cenderung berkembang. 3. Daerah pedalaman dengan pertanian ladang, masyarakatnya
kurang dapatmengadopsi program dengan baik.
Pola kebudayaan masyarakat desa berdasar faktor integrasi : 1. Ikatan darah, sifat-sifatnya :
-. Adat-istiadat/tradisi jelas dan kuat. -. Sistem kekerabatan yang jelas.
-. Masyarakat desanya disebut masyarakat seturunan. 2. Ikatan daerah, sifat-sifatnya :
-. Adat-istiadat kurang kuat.
-. Tidak terjalin hubungan kekerabatan. -. Lebih banyak terdapat di Jawa.
pelajaran apa yang dapat kau ambil dari perjalanan itu?” Tanya ayahnya cengan bangga. “Aku sadar bahwa kita punya dua anjing sedang mereka punya tempat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah kebun, sedang mereka mempunyai sungai yang tak memiliki bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai ke halaman depan, sedang mereka memiliki seluruh horizon. Kita memiliki tanah tempat tinggal yang kecil, mereka memiliki halaman sejauh mata memandang. Kita mempunyai pembantu-pembantu yang melayani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar yang mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka memiliki teman yang
melindungi mereka.”
TUGAS 2:
Buat kelompok, amati dan simpulkan kehidupan masyarakat pertanian di suatu tempat, antar kelompok mahasiswa mengobservasi jenis usahatani yang berbeda satu dengan yang lain.
Metode studi sosiologi masyarakat pertanian adalah metode kuantitatif yakni pendekatan yang berhubungan dengan angka-angka statistik dan dalam pengolahan datanya menggunakan tabel frekuensi sederhana.
Penggalian informasi melalui wawancara kepada petani antara lain: a. Identitas/karakteristik petani dan keluarganya
b. Pola bertani dan status sosial ekonomi petani (pola penguasaan lahan pertanian, produktivitas, pendapatan, dsb)
c. interaksi sosial (assosisatif dan dissosiatif)
d. adat dan kebiasaan penduduk, termasuk tradisi pertanian
e. stratifikasi sosial (orang-orang/kelompok yang paling berpengaruh terhadap kegiatan sosial dan pertanian, faktor-faktor penentu kekayaan/pengaruh di desa)
f. Lembaga-lembaga sosial yang ada (jenis, intensitas kegiatan, dan fasilitas yang diberikan pada masyarakat petani)
Contoh acuan pertanyaan (keusioner):
Tanggal pengisian & pewawancara : Kelompok responden
Desa ...Kec... Kabupaten ...
Identitas Responden (Petani)
No Nama
keluarga Usia sampinganPekerjaan Pendidikan formal Pengalamanbertani ketrampilan/penyuluhanKursus/
Pengusahaan lahan sawah dan Produksi
Luas rata-rata Jenis tanaman/ varietas
MT 1 MT 2 MT 3
Lahan/sawah milik sendiri Lahan/sawah sewa
Lahan/Sawah dengan sistem bagi hasil
Produksi Jumlah
produksi seranganTerkena OPT
Jumlah yang dijual
Dijual
kemana? Hargajual yang tidakJumlah dijual
Untuk apa saja yang tidak dijual Konsums
i RT
benih Sum-bangan
stok lainnya
Interaksi Sosial
No Interaksi Sosial Uraian Jumlah petani %
Assosiatif
1. Kerjasama 2.
Dissosiatif
1. Persaingan konflik 2.
IV. MORAL EKONOMI PETANI
Tujuan Umum:
Mahasiswa memahami moral ekonomi yang melatarbelakanhi tindakan ekonomi masyarakat pertanian.
Deskripsi
Moral ekonomi menjadi topik perbincangan yang semakin menarik akhir-akhir ini seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi. Dalam kajian sosiologi, Moral Ekonomi adalah suatu analisa tentang apa yang menyebabkan seseorang berperilaku, bertindak dan beraktivitas dalam kegiatan perekonomian. Hal ini dinyatakan sebagai gejala sosial yang berkemungkinan besar sangat berpengaruh terhadap tatanan kehidupan sosial. James C. Scott mengajukan sebuah analisa tentang kehidupan petani sedangkan H.D. Evers mengemukaakn teori tentang moral ekonomi pedagang.
Terdapat dua alasan mendaar yang menyebabkanisu moral ekonomi menjadi pusat perhatian banyak kalangan.
1. Berkaitan dengan semakin intensifnya praktik fair trade yang
menurut komitmen moral tinggi, baik di kalangan produsen maupun kalangan konsumen.
2. Praktik kehidupan sehari-hari, tidak terbatas di dunia bisnis, semakin
menjauhkan sisi-sisi moralitas dalam kalkulasi ekonomi.
Perspektif ini memegang teguh prinsip ekonomi yang melandasi setiap tindakan ekonomi, yaitu memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan biaya yang serendah-rendahnya. Persoalan yang menyentuh moral berkaitan dengan tindakan ekonomi yang di ambil menjadi biaya eksternal. Komitmen moral konsumen adalah dalam penggunaan hak-hak konsumen jika terdapat pelanggaran hukum maupun moral yang berkaitan dengan produksi barang.[4]
J.C. Scott menyatakan moral ekonomi sebagai pengertian petani tentang keadilan ekonomi dan defenisi kerja mereka tentang eksploitasi pandanga mereka tentang pungutan –pungutan terhadap hasil produksi mereka mana yang dapat ditolerir mana yang tidak dapat. Dalam mendefinisikan moral ekonomi, petani akan memperhatikan etika subsistensi dan norma resiprositas yang berlaku dalam masyarakat mereka. Etika subsistensi merupakan perspektif dari mana petani yang tipikal memandang tuntutan-tuntutan yang tidak dapat di letakkan atas sumber daya yang dimilikinya dari pihak sesama warga desa,tuan tanah atau pejabat.
tangga petani hidup begitu dekat dengan batas-batas substensi dan menjadi sasaran-sasaran permainan alam serta tuntutan dari pihak luar maka mereka meletekkan landasan etika subsistensi atas dasar pertimbangan prinsip safety first (dahulukan selamat).
Norma resiprositas merupakan rumus moral sentral bagi perilaku antarindivindu: antara petani dengan sesama warga desa, antara petani dengan tuan tanah, antara petani dengan negara.prinsip moral ini berdasarkan gagasan bahwa orang harus membantu mereka yang pernah membantu atau paling tidak jangan merugikan. Prisip moral ini mengandung arti bahwa satu hadiah atau jasa yang diterima menciptakan, bagi si penerima, satu kewajiban timbal balik untuk membalas satu hadiah atau jasa dengan nilai yang setidak-tidaknya membanding di kemudian hari. Ini berarti bahwa kewajiban untuk membalas budi merupakan satu prinsip moral yang paling utama yang berlaku bagi hubungan baik antara pihak-pihak sederajat. James scott (1976) telah meletakkan dasar stratifikasi sosial masyarakat petani atas tingkat keamanan subsistensi mereka, bukan pada penghasilan mereka. Keamanan subsistensi mereka di jamin oleh tuan tanah yang menjadi patron mereka.sedangkan lapisan terbawahnya adalah buruh. kewajiban timbal balik untuk membalas satu hadiah atau jasa dengan nilai
James C. Scott menambahkan bahwa para petani adalah manusia yang terikat sangat statis dan aktivitas ekonominya. Mereka dalam aktivitasnya sangat tergantung pada norma-norma yang ada. Penekanan utama adalah pada moral ekonomi petani yang dikemukakan oleh James C.Scott yang menekankan bahwa petani cenderung menghindari resiko dan rasionalitas.
Pasar Kapitalistik di Asia Tenggara mengacaukan “Moral Ekonomi”
Ekonomi Moral dengan Ciri Khas “Desa” dan “Ikatan Patron-Klien”
Pendekatan ekonomi-moral menunjuk “desa” dan “ikatan patron-klien” sebagai dua institusi kunci yang berperan dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan anggota komunitas. Fungsi operasional desa adalah menjamin suatu ‘pendapatan minimum’, dan meratakan kesempatan serta resiko hidup warganya dengan jalan memaksimumkan keamanan dan meminimalkan resiko warganya. Dalam fungsinya itu desa menerapkan aturan dan prosedur bagi terciptanya sebuah kondisi di mana warga desa yang miskin (siapa medapatkan apa) akan tetap memperoleh jaminan pemenuhan kebutuhan subsisten desa adalah ikatan patron-klien. Insitusi ini tercipta dalam kondisi sosial-ekonomi yang timpang: ada sebagian orang yang menguasai sumber-sumber kehidupan, sementara yang lainnya tidak. Ikatan patron-klien bersifat rangkap, yang meliputi hubungan timbal-balik antara dua orang yang dijalin secara khusus (pribadi) atas dasar saling menguntungkan, serta saling memberi dan menerima (Legg, 1983:10). Dalam ikatan ini pihak patron memiliki kewajiban untuk memberi perhatian kepada kliennya layaknya seorang bapak kepada anaknya. Dia juga harus tanggap terhadap kebutuhan-kebutuhan kliennya. Sebaliknya, pihak klien memiliki kewajiban untuk menunjukkan perhatian dan kesetiaan kepada patronnya layaknya seorang anak kepada bapaknya.
memenuhi kebutuhan hidup paling minimal. Perilaku seperti itu tidak lahir dengan sendirinya atau sudah demikian adanya (taken for granted), melainkan dibentuk oleh kondisi kehidupan, lingkungan alam dan sosial-budaya, yang menempatkan petani pada garis batas antara hidup dan mati, makan dan kelaparan.
Kondisi yang Membentuk Etika Subsistensi
Sebagai kelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sumber agraria, petani sangat rentan terhadap gangguan yang berasal dari alam, bencana, ancaman hama, cuaca dan sebagainya. Sementara sebagai warga komunitas desa, petani memiliki kewajiban untuk memenuhi tuntutan yang datang dari kekuatan supradesa, pungutan pajak, upeti dan sebagainya. Kondisi yang sudah melingkupi kehidupan petani selama berabad-abad lamanya itu pada akhirnya membentuk pandangan hidup mereka tentang dunia dan lingkungan sosialnya. Pandangan hidup inilah yang memberi arah kepada petani tentang bagaimana menyiasati, bukan mengubah kondisi dan tekanan yang datang dari lingkungan alam dan sosialnya melalui prinsip dan cara hidup yang berorientasi pada keselamatan prinsip mengutamakan selamat dan menghindari setiap resiko yang dapat menghancurkan hidupnya.
Kondisi yang membentuk karakter dan ciri khas petani pedesaan sebagaimana terurai di atas telah melahirkan apa yang oleh Scott (1983:3) dinamakan “etika subsistensi”, yakni kaidah tentang “benar dan salah”, yang membimbing petani dan warga komunitas desa mengatur dan mengelola sumber-sumber kehidupannya (agraria) dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka di dalam komunitas. Dalam pilihan tindakan secara kolektif, prinsip moral menekankan : (1) Pengorbanan yang harus dikeluarkan termasuk risikonya, (2) Hasil yang mungkin diterima, bila menguntungkan maka mereka akan ikut bila tidak mereka bersikap pasif (3) Proses aksi yaitu dipertimbangkan tingkat keberhasilannya apakah lebih bermanfaat secara kolektif atau tidak, (4) Kepercayaan pada kemampuan pemimpin atau dapatkah sang pemimpin dipercaya atau tidak. Dengan demikian aksi-aksi kolektif yang dapat dinilai mendatang keuntungan bagi mereka saja yang diikuti atau didukung.
Ada dua perilaku ekonomi terkait penulisan scott yang dikritik popkin, yaitu:
1. perilaku ekonomi subsisten (Scott)
Perilaku ekonomi subsisten adalah perilaku ekonomi yang hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup paling minimal. Perilaku seperti itu tidak lahir dengan sendirinya atau sudah demikian adanya (taken for granted), melainkan dibentuk oleh kondisi kehidupan lingkungan alam dan sosial-budaya yang menempatkan petani pada garis batas antara hidup dan mati, makan dan kelaparan.
Perilaku ekonomi rasional kecenderungan masyarakat petani untuk menganut pemikiran rational peasant. Seorang petani pemilik tanah yang rasional tentu akan lebih suka memperkerjakan tetangganya sendiri dengan dasar pertimbangan hubungan tolong menolong dan patron client, daripada mengambil buruh tani di pasar bebas. Akan tetapi, tidak berarti bahwa seorang pemilik tanah akan selalu tunduk kepada norma dan moral pedesaan. Semua tergantung pada situasi dan kondisi pada masa dan tempat tertentu. Meski mendapat kritik, tulisan Scott tetap menjadi sumber khas dalam penelitian moral ekonomi petani di kawasan Asia Tenggara khususnya untuk melihat etika subsistensi, sehingga mendapatkan perhatian besar dari peneliti lain (seperti: Samuel Popkin dan Sairin dkk) untuk mengkaji ulang penelitian Scott.
Moral ekonomi pedagang
Dalam moral ekonomi ini setuju dengan pendapat james scott (1976-176) yang menyatakan bahwa masyarakat petani umumnya dicirikan dengan tingkat solidaritas yang tinggi dan dengan suatu sistem nilai yang menekan kan tolong menolong, pemilikan bersama sumber daya dan keamanan subsistensi. Hak terhadap subsistensi merupakan suatu prinsip moral yang aktif dalam tradisi desa kecil. Dalam kondisi seperti ini pedagang menghadapi dilema yaitu memilih antara memenuhi kewajiban moral kepada kerabat-kerabat dan tetangga-tetangga untuk menikmati bersama pendapatan yang di perolehnya sendiri di satu pihak dan untuk mengakumulasikan modal dalam wujud barang dan uang di pihak lain.di luar desa para pedagang di hadapkan dengan tuntunan anonim yang sering bersifat anarkis dan berasal dari pasar terbuka dengan fluktuasi harga yang liar. Pedagang cendrung terperangkap ditengah dan dalam hal ini bisa disebut sebagai tengkulak karena mereka tidak hanya menaggung resiko kerugian secara ekonomi tetapi juga resiko terhadap diskriminasi dan kemarahan petani.
Para pedagang dalam masyarakat petani telah mencoba mengatasinya dengan cara-cara mereka sendiri. Evers (1994:10) telah menemukan 5 solusi atau jalan keluar yangberbada yang di lakukan oleh para pedagang menghadapi delema tersebut, yaitu:
1. Imigrasi pedagang minoritas
Kelompok minoritas baru dapat diciptakan melalui migrasi atau dengan etno-genesis, yaitu munculnya identintas etnis baru. Contoh yang menarik dari pemikiran ini adalah “pedagang kredit” yang sebagian berasal dari suku batak dan beragama kristen yang melakukan aktivitas dagangnya di sumatera barat.
2. Pembentukan kelompok-kelompok etnis atau religius
sebuah agama sebgaimana yang di gariskan oleh aturan-aturan yang di tentukan dengan memperlihatkan kegairahan dalam menjalankan aturan-aturan tersebut. Dan kemungkinan lain menekankan nilai-nilai budaya hingga batas menentukan identitas etnis milik sendiri. Hal ini berarti terdapat hubungan kerja sama yang saling menguntungkan antara masyarakat pendesaan sumatra barat dan pedagang kredit yang masing-masing memiliki komonitas moral tersendiri, yaitu agama islam dan dimiliki. Dengan kata lain, peningkatan akumulasi modal budaya berarti peningkatan derajat kepercayaan masyarakat sehingga memudahkan pedagang untuk melakukan aktivitasnya.
4. Munculnya perdagangan kecil dengan ciri” ada uang ada barang”
Dengan mengambil fenomena pedagang bakul di jawa, Evers melihat bahwa para pedagang bakul kurang di tundukan oleh tekanan solidaritas desa di bandingkan dengan pedagang yang lebih besar dan lebih kaya serta suka pamer. Perdagangan kecil yang diperlihatkan diatas merupakan ciri-ciri standar pada semua masyarakat petani.
5. Depersonalisasi (ketidakterlekatan) hubungan-hubungan ekonomi
Jika ekonomi pasar berkembang dan hubungan-hubungan ekonomi relatif tidak terlekat atau terdiferensiasi, maka dilema pedagang diteransformasikan kedalam dilema sosial semua pasar ekonomi.
Persoalan moral ekonomi menjadi topik perbincangan yang semakin menarik akhir-akhir ini seiring dengan semakin derasnya arus globalisasi. Konsep moral ekonomi itu secara khusus menurut mellah dan madsen (1991) dan block (2006) mendefinisikan moral ekonomi pertukaran ekonomi melalui sentimen-sentimen dan norma-norma moral.
Persoalan-persoalan moral ekonomi yang sering terjadi di masyarakat yaitu:
1. Seorang manajer pabrik pokok menghadapi delema moral ekonomi
antara menggunakan pilihan mekanisme pabrik sehingga berlangsung puluhan tahun dan dalam pelaksanaanya memakan biaya yang besar.
3. Segala macam bentuk suap, kolusi, korupsi, nepotisme, menipulasi
4. Berbagai bentuk moral hazzard (permanfaatan kesempatan sekecil
mungkin untuk tujuan memperkaya diri atau dalam bahasa jawa sering diekspresikan dengan ungkapan) merupakan persoalan moral ekonomi. Sebagai contoh dalam kebijakan pemerintah mengenai pengurangan subsidi BBM akan dilakukan pembedaan harga bensin untuk mobil dan motor.
5. Pada 1998, sesaat telah terjadinya krisis moneter, banyak masalah
sosial baru yang muncul, seperti anak jalanan.
V. LEMBAGA SOSIAL KEMASYARAKATAN DAN PERTANIAN
Tujuan Umum:
Mahasiswa memahami kelompok sosial dan kelembagaan, organisasi sosial, grup sosial di pedesaan, khususnya terkait aspek pertanian.
Teori Kelembagaan
Salah satu makna lembaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: "pola perilaku manusia mapan. terdiri atas interaksi sosial berstruktur di suatu kerangka nilai yang relevant Sedangkan kelembagaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan lembaga. Uphoff (1992b) dan Fowler (1992): "an institution is a complex of norms and behaviours that persists over time by serving some socially valued purpose, while an organization is a structure or recognized and accepted roles". Tiga kata kunci: sosial, nilai {norms), dan perilaku {behaviours). Suatu institusi atau kelembagaan dapat berbentuk organisasi atau sebaliknya. Menurut Chitambar Lembaga sosial merupakan seperangkat pola-pola perilaku yang diterima dalam pola ajar (socialization), termasuk peranan dan tata-cara (prosedur) yang diwajibkan. Lembaga-lembaga sosial mempunyai struktur masing-masing dan berfungsi sebagai satuan-satuan yang dapat dibedakan satu sama lain meskipun tidak jelas. Tiap-tiap lembaga sosial sarat dengan nilai-nilai, peranan-peranan tertentu dan tatacara bertingkah laku, ada yang berupa aturan tertulis, tetapi umumnya tidak tertulis dan tanpa disadari orang nyata memberi dorongan sosial pada warga masyarakat.
Pada dasarnya kelembagaan dapat dibedakan menjadi kelembagaan komunitas, pemerintah, dan pasar. Dari ketiga bentuk sifat dasar kelembagaan itu sesungguhnya suatu masyarakat menjurus pada dua bentuk yaitu masyarakat komunitas yang dicirikan oleh kelembagaan komunitasnya yang kuat dengan masyarakat pasar yang rohnya didominasi kelembagaan pasar.
Pada kelembagaan masyarakat komunitas, karakteristik hubungan sosial berdasarkan atas status, dimana posisi dan peran terbentuk secara otomatis melalui mekanisme yang baku. Fungsi pasar melekat dalam sistem kekerabatan dan kurang menerapkan prinsip ekonomi. Kelembagaan masyarakat komunitas memiliki multifungsi dan selalu berusaha mencapai seimbang antara hubungan horizontal dan vertikal. Masyarakat pasar memiliki karakteritik hubungan sosial berdasarkan kontrak dan mengutamakan pencapaian hal-hal baru.
Aspek Komunitas Pemerintah Pasar
Selain sisi internal, perlu pula dipahami sisi eksternal kelembagaan. Lingkungan sosial dimana suatu kelembagaan hidup merupakan faktor pengaruh yang dapat menjadi pendorong dan sekaligus pembatas seberapa jauh sesuatu kelembagaan dapat beroperasi.
Lembaga Sosial
Pengertian tentang lembaga sosial atau social institution banyak dijumpai dalam berbagai literatur. Disamping itu banyak juga ahli-ahli yang mengajukan berbagai istilah terjemahan atau artian dari social institutuion ini, misalnya pranata sosial, lembaga kemasyarakatan, dan bangunan sosial. Pembatasan pengertiannya tergambar antara lain dari definisi-definisi yang dikemukakan dalam contoh-contoh berikut :
Hurton : Lembaga sosial adalah suatu sistim hubungan- hubungan
sosial yang terorganisasi, meliputi nilai-nilai dan tatacara yang dihayati bersama dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat.
Fitcher : suatu lembaga sosial adalah struktur pola- pola hubungan sosial dan peranan-peranan yang relatif mantap dimana orang-orang mengenakan sanksi-sanksi dan cara-cara tertentu untuk tujuan memuaskan kebutuhan- kebutuhan pokok masyarakat.
Landis : Lembaga-lembaga sosial adalah struktur kebudayaan formal yang dibina untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan sosial pokok.
Koentjaraningrat : pranata sosial adalah suatu sistim tata
kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada serangkaian aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks kebutuhan khusus dalam kebidupan masyarakat.
berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat.
Alvin L. Bertrand, menyatakan bahwa lembaga sosial merupakan tata abstraksi yang lebih tinggi dari kelompok, organisasi maupun sistim-sistim sosial lain. Ada pendapat bahwa wujud yang konkrit dari pada lembaga sosial adalah asosiasi (association). Jika suatu universitas adalah lembaga sosial, maka Universitas Satya Wacana, Universitas Diponegoro, dsb merupakan contoh-contoh asosiasi. Dari batasan-batasan diatas, tampak bahwa pokok persoalan dalam memahami lembaga sosial terletak pada tekanan akan kebutuhan pokok manusia dan sistem perilaku yang terorganisasi. Tekanan akan hal tersebut menunjukkan ciri yang membedakannya dari konsepsi-konsepsi lain, seperti kelompok dan organisasi.
Ada dua golongan pendapat dalam memahami lembaga sosial dan asosiasi, yaitu :
Yang memandang baik lembaga maupun asosiasi sebagai
bentuk-bentuk organisasi sosial, hanya lembaga bersifat lebih universal dan penting , sedangkan asosiasi bersifat kurang penting dan bertujuan lebih spesifik. Misalnya "negara" dan "keluarga" adalah lembaga, sedangkan perkumpulan sepak bola, ketoprak plesetan dan serikat-serikat buruh adalah asosiasi.
Yang memandang lembaga sebagai kompleks peraturan dan peranan-peranan sosial secara abstrak, dan memandang asosiasi-asosiasi sebagai bentuk-bentuk orgasisasi secara konkrit.
Organisasi Sosial
• Organisasi mempunyai batasan-batasan yang tegas dan jelas. Dengan merumuskan tujuan-tujuan organisasi secara jelas, semua aktivitas dipusatkan untuk mencapai tujuan- tujuan tersebut. Suatu organisasi mungkin menemukan tujuan-tujuan baru untuk menjadi dasar kelanjutan hidupnya karena para anggota berusaha memenuhi tuntutan zaman yang berubah. Beragam organisasi dapat dibina untuk berbagai tujuan di beragam bidang kehidupan masyarakat.
• Organisasi mempunyai struktur administrasi sendiri, dengan peranan-peranan dan fungsi-fungsinya yang ditentukan secara tegas.
• Organisasi menganut prinsip-prinsip dan beragam prosedur kerja dalam mencapai tujuan-tujuan yang dijabarkan secara nyata. Umumnya organisasi mempunyai suatu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang diwajibkan oleh undang-undang yang menjelaskan tujuan-tujuan, aturan- aturan dan tata-kerja organisasi.
• Organisasi membina sarana pengendalian sosial, wewenang dan cara mengambil keputusan. Peraturan- peraturan suatu organisasi menentukan dengan tegas wewenang, prosedur mengambil keputusan dan pedoman kerja bagi perilaku para anggotanya. Organisasi mendukung pula beberapa fungsi tambahan lainnya : Ia saluran bagi usaha orang dalam memenuhi kepentingan-kepentingan individu. Sekelompok orang dengan kepentingan-kepentingan bersama mendapat peluang kerjasama untuk mewujudkan kepentingan itu. Ia juga saluran bagi kegiatan secara berencana. Dengan mencapai tujuan-tujuannya, suatu organisasi dapat mempengaruhi keputusan-keputusan orang banyak dan mendorong pada perubahan sosial, (contoh : suatu organisasi petani dapat mendorong terwujudnya landreform.) Organisasi dapat berfungsi sebagai suatu wahana (arena) bagi suatu rencana kerja (program) baru, yang kemudian dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat secara lebih luas.
Organisasi Pertanian
Penelitian Wardhana (2009) tentang efektifitas kinerja Gapoktan di Kecamatan Karanganyar, didaptkan hasil bahwa fungsi-fungsi yang telah dilaksanakan dan dinilai baik oleh responden adalah fungsi unit usahatani dan fungsi unit usaha sarana dan prasarana produksi. Fungsi yang belum dilaksanakan dan dinilai kurang oleh responden yaitu fungsi unit usaha pengolahan, fungsi unit usaha pemasaran dan fungsi unit usaha keuangan mikro. Dari segi pencapaian tujuan berupa fungsi unit usahatani dan fungsi unit usaha sarana dan prasarana produksi yang telah dilaksanakan memberikan manfaat bagi anggota Gapoktan
Syahyuti (2004) dalam penelitiannya di lahan lebak, mendapatkan bahwa pengembangan kelompok tani menghadapi kendala lemahnya motivasi ekonomi dalam hubungan berkelompok, sehingga perlu dilakukan transformasi kelompok tani menjadi kelembagaan yang semakin kental nuansanya sebagai kelembagaan pasar
VI. PERUBAHAN SOSIAL DI PERTANIAN
Tujuan Umum:
Mahasiswa memahami konsep perubahan sosial, penyebabnya, dan fenomena perubahan sosial yang dapat terjadi pada bidang maupun masyarakat pertanian.
Definisi Perubahan Sosial
Menurut Auguste Comte, sosiologi mempelajari statika dan dinamika masyarakat social meskipun perubahan kita terpusat pada aspek statika masyarakat, tetapi dalam kehidupan sehari – hari kita telah menyentuh perubahan.
Adapun definisi perubahan sosial menurut beberapa tokoh: 1. William F. Ogburn
Ruang lingkup perubahan sosial mencakup unsur kebudayaan material dan non material, terutama menekankan pengaruh yang besar dari unsur kebudayaan material terhadap unsur non material
2. Mac Iver
Perubahan sosial adalah terjadinya perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium)
3. Kingsley Davis
Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat
4. Gillin dan Gillin
Perubahan sosial merupakan variasi cara hidup yang telah diterima yang disebabkan karena kondisi geografis, kebudayaan, material, komposisi penduduk, ideology maupun adanya difusi ataupun penemuan baru dalam masyarakat
5. Samuel Koenig
Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi yang terjadi dalam pola kehidupan manusia karena sebab intern dan ekstern
6. Selo Soemarjan
Segala perubahan pada lembaga – lemabaga kemasyrakatan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai – nilai, sikap – sikap dan pola – pola perikelakuan diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat
Teori – Teori Perubahan Sosial
Menurut Lauer ada dua teori utama perubahan sosial: a. Teori Siklus
ada proses perubahan masyarakat secara bertahap sehingga batas antara pola hidup primitif, tradisional dan modern tidak jelas.
b. Teori Linier atau Teori Perkembangan
Perubahan sosial budaya bersifat linier atau berkembang menuju titik tertentu, dapat direncanakan atau diarahkan. Beberapa tokoh sosiologi mengemukakan tentang teori linier yaitu:
- Emile Durkheim: Masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik ke solidaritas organic
- Max Weber : Masyarakat berubah secara linier dari masyarakat yang diliputi oleh pemikiran mistik dan penuh tahayul menuju masyarakat yang rasional
- Herbert Spencer : mengembangkan teori Darwin, bahwa orang – orang yang cakap yang akan memenangkan perjuangan hidup Ketiga tokoh diatas menggambarkan bahwa setiap masyarakat berkembang melaui tahapan yang pasti
Teori Linier dibedakan menjadi: (i) Teori evolusi
Perubahan sosial budaya berlangsung sangat lambat dalam jangka waktu lama. Perubahan sosial budaya dari masyarakat primitif, tardisional dan bersahaja menuju masyarakat modern yang kompleks dan maju secara bertahap.
Beberapa teori Evolusi a) Teori Evolusi Unilinear
Masyarakat mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan tertentu, berawal dari bentuk sederhana, komplek hingga sempurna. Tokohnya antara lain, Comte, Spencer. Suatu Variasi dari teori ini adalah Cylical theories dari Vilfredo Pareto
b) Teori Evolusi Universal
Perkembangan masyarakat tidaklah perlu melalui tahapan tertentu tetapi mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Misal dari kelompok homogen ke kelompok yang heterogen sifat pencaharian dari berburu ke sistem pertanian atau terhadap sistem kekeluargaan dalam masyarakat yang bersangkutan (ii) Teori Revolusi
Perubahan sosial menurut teori revolusi adalah perubahan sosial budaya berlangsung secara drastic atau cepat yang mengarah pada sendi utama kehidupan masyarakat (termasuk kembaga kemasyarakatan)
berlangsung dengan didahului suatu pemberontakan (revolt rebellion). Adapun syarat revolusi adalah :
1. Ada keinginan umum mengadakan suatu perubahan
2. adanya kelompok yang dianggap mampu memimpin masyarakat
3. pemimpin harus mampu manampung keinginan masyarakat 4. pemimpin menunjukkan suatu tujuan yang konkret dan dapat
dilihat masyarakat
b. kualitas ahli- ahli dalam suatu kebudayaan
c. perangsang bagi aktivitas – aktivitas penciptaan dalam masyarakat
3. Konflik dalam masyarakat
4. Terjadi pemberontakan atau revolusi 5. perpecahan dari masyarakat tersebut
6. individu yang kreatif yang memiliki inisiatif baru 7. munculnya kelompok sosial yang inovatif dan kreatif 8. pemimpin yang progresif
Adapun menurut Soerjono Soekanto faktor eksternal (diluar masyarakat tersebut) penyebab perubahan sosial adalah :
1. sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik, misal gempa bumi, bencana alam
2. peperangan
3. Pengaruh kebudayaan lain, yaitu melalui difusi, akulturasi dan asimilasi. Adapun yang termasuk proses akulturasi adalah;
- Subtitusi yaitu unsur kebudayaan lama diganti dengan unsur kebudayaan baru yang lebih berdaya guna
- Sinkretisme, yaitu unsur budaya lama bercampur dengan budaya baru sehingga membentuk sistem baru
- Adisi, yaitu adanya unsur budaya baru yang ditambahkan kepada unsur lama yang masih berlaku
- Dekulturisasi, yaitu adanya unsur budaya lama yang hilang
- Originasi, yaitu masuknya unsur – unsur budaya yang sama sekali baru sehingga membawa perubahan yang sangat besar
2. Sistem pendidikan formal yang maju
3. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginanuntuk maju 4. Toleransi terhadap perbuatan yang menyimpang dan bukan
merupakan delik
5. Sistem lapisan masyarakat terbuka 6. Penduduk yang heterogen
7. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang –bidang kehidupan tertentu
8. Oreintasi ke masa depan
9. Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya
Faktor Penghambat Perubahan Sosial
1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain 2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat 3. Sikap masyarakat yang sangat tradisional
4. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat atau vested interest
5. Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan 6. Prasangka terhadap hal-hal yang baru atau asing atau sikap
tertutup
7. Hambatan –hambatan yang bersifat ideologis 8. Adat atau kebiasaan akomodasi. Adanya penyesuaian memungkinkan dicapainya tahap perkembangan sosial baru yang yang lebih maju dan lebih baik dari keadaan sebelumnya. Proses tersebut dapat dicapai melalui reorganisasi atau reintegrasi yaitu proses pembentukan norma – norma dan nilai-nilai baru agar serasi dengan lembaga – lembaga kemasyarakatan yang telah
mengalami perubahan
b. Dampak Negatif
Dampak negatif dari perubahan sosial adalah disintegrasi atau disorganisasi.
Kondisi tersebut meliputi hal sebagai berikut:
a. adanya disorientasi nilai dan norma. Oleh R.K. Merton disebut anomie
b. munculnya konflik sosial dan horizontal
c. tidak berfungsinya secara optimal berbagai pranata sosial yang ada d. terjadinya berbagai bentuk kerusakan lingkungan dan bencana
pencemaran
Adapun bentuk-bentuk disintegrasi sebagai dampak perubahan sosial menandai manusia dalam setiap masyarakat modern
2. Astrid S.Susanto: modernisasi adalah proses pembangunan yang diberikan oleh perubahan demi kemajuan
3. Oghburn dan Nimkoff : modernisasi tidak sama dengan reformasi yang menekankan pada factor – factor rehabilitasi. Modernisasi bersifat preventif dan konstruktif
4. Soerjono Soekanto : modernisasi adalah suatu bentuk perubahan sosial yang biasanya merupakan perubahan sosial yang terarah (directed change) yang didasarkan pada suatu perencanaan yang disebut sosial planning
5. J.W. Schoorl : modernisasi merupakan penggantian teknik produksi dari cara – cara tradisional ke cara-cara yang tertampung dalam pengertian revolusi industri. Schoorl merumuskan penerapan ilmu pengetahuan ilmiah yang ada kepada semua aktivitas merupakan factor penting dalam modernisasi
Dilihat dari definisi diatas modernisasi dapat dilihat sebagai suatu perubahan fisik yaitu cara – cara tradisional kearah modern atau penggunaan teknologi atau mesin serta dari pola pikir yaitu pola pikir tradisional menjadi pola pikir rasional. Praktis dan efisien
Syarat modernisasi menurut Soerjono Soekanto adalah : 1. cara berfikir yang ilmiah (scientific thinking)
2. sistem administrasi yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi
3. adanya sistem pengumpulan datayang baik dan teratur dan terpusat
4. penciptaan iklim yang favourable dari masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat – alat komunikasi massa 5. tingkat organisasi yang tinggi
6. sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial
Setiap modernisasi hal yang paling mendukung adalah sumber daya manusia modern. Adapun konsep manusia modern dikemukakan oleh Alex Inkeles adalah sebagai berikut:
2. Senantiasa siap menerima perubahan
3. Mempunyai kepekaan terhadap masalah – masalah yang dihadapi di sekitarnya
4. Senantiasa mempunyai informasi yang lengkap mengenai pendiriannya
5. Lebih banyak berorientasi ke masa kini dan masa mendatan 6. Senantiasa menyadari potensi-potensi yang ada pada dirinya 7. Tidak pasrah pada nasib
8. Percaya pada keampuhan iptek
9. Menyadari hak-hak, kewajiban serta kehormatan orang lain
GLOBALISASI
Pengertian Globalisasi menurut beberapa ahli adalah :
1. Selo Soemardjan : globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan globalisasi adalah untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama misalnya yerbentuknya PBB, OKI
2. Menurut Anthony Giddens (1989), proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakat dunia dinamakan dengan globalisasi. Ditandai oleh kesenjangan tingkat kehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga(yang pernah dijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian)
Masyarakat penerima globalisasi ada yang mampu menerima globalisasi tersebut atau ada yang menolak. Masyarakat yang menolak biasanya adalah:
1. kelompok masyarakat yang belum mapan/belum siap menerima perubahan
2. kelompok masyarakat tertinggal yang terasing
3. kelompok masyarakat dari kalangan generasi tua yang cenderung mencurigai globalisasi
Adapun kelompok masyarakat atau individu yang menerima globalisasi adalah
1. kelompok masyarakat yang kedudukan atau status sosialnya sudah mapan
2. kelompok masyarakat kota yang telah menikmati berbagai media komunikasi dan informasi globalisasi
Dampak Perubahan Sosial Budaya Akibat Modernisasi dan Globalisasi
Dampak positif modernisasi adalah:
1. Tercapainya kemajuan kebudayaan bangsa
2. Meningkatnya industri yang memungkinkan masyarakat lebih sejahtera (lapangan kerja, barang konsumsi, volume ekspor dan lain-lain)
3. Meningkatnya efesiensi dan efektifitas kerja, transportasi dan komunikasi
4. Meningkatnya sector ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kualitas sumber daya manusia
Dampak negatif modernisasi antara lain: 1. Pudarnya pengetahuan tradisional
2. Pudarnya sistem kepercayaan atau religi tradisional
3. Bergesernya nilai budaya akibat kemajuan di bidang teknologi dan pengetahuan
4. Melemahnya etos kerja tradisional
5. Meningkatnya angka kriminalitas dan kenakalan remaja 6. Meningkatnya tingkat pencemaran lingkungan
7. Menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi
Dampak positif globalisasi:
1. Masuknya nilai – nilai positif (disiplin, etos kerja, pentingnya pendidikan)
2. Mempercepat proses pembangunan karena perkembangan iptek
3. Menumbuhkan dinamika terbuka dan tanggap terhadap unsur –unsur pembaruan
Dampak negatif globalisasi:
1. Terjadinya cultural shock, yaitu masyarakat mengalami disorientasi dan frustasi karena tidak siap menerima kenyataan perubahan akibat globalisasi
2. Terjadinya cultural lag yaitu unsur – unsur globalisasi tidak berlangsung secara serempak
3. Anomi, yaitu keadaan tanpa nilai karena nilai dan norma lama telah ditinggalkan sedang nilai dan norma baru belum terbentuk.
Inovasi – Difusi