URAIAN TEORITIS
II. 1. Pengertian Komunikasi dan Proses Komunikasi
3. Jenis Iklan
2.5. Lembaga Yang Mengeluarkan Label Halal
Konsep makanan dalam Islam adalah halal dan baik. Bagi umat Islam 4 sehat 5 sempurna belumlah cukup, karena suatu makanan yang sehat belum tentu halal tetapi makanan yang halal sudah pasti sehat. Suatu makanan akan dikonsumsi umat Islam apabila umat Islam tersebut tidak ragu lagi tentang kehalalan dari makanan tersebut. Walau makanan itu enak dan murah tetapi umat Islam ragu akan kehalalannya maka makanan tersebut tidak akan dikonsumsi. Jika suatu makanan yang dijual diberitakan mengandung bahan haram maka umat Islam tidak akan memakannya, dan karena umat Islam adalah umat yang mayoritas maka makanan yang mengandung bahan haram tersebut tidak akan laku di pasar dan akan
menumpuk di gudang.
Label halal merupakan label yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia kepada suatu perusahaan makanan, minuman, kosmetika atau obat-obatan yang telah diperiksa asal bahan bakunya, sumber bahan bakunya, proses produksinya dan hasil akhirnya. Pemeriksaan ini dilakukan oleh Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI). Hasil pemeriksaan ini akan diseminarkan di depan rapat auditor LP POM MUI yang kemudian hasilnya akan diajukan kepada Komisi Fatwa halal. Kemudian fatwa halal ini diberikan kepada perusahaan yang mengajukan permohonan dalam bentuk label dengan menggunakan 3 (tiga) bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Label halal merupakan tulisan halal baik dalam huruf latin dan atau huruf arab yang ditempelkan pada kemasan makanan, minuman, obat-obatan atau kosmetika atas persetujuan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Label halal ini akan menunjukkan kepada konsumen bahwa makanan yang memiliki label halal tersebut memang telah diperiksa kehalalannya dan dijamin kehalalannya oleh lembaga yang memeriksanya.
Label halal akan menunjukkan kepada konsumen bahwa makanan atau minuman yang mempunyainya telah dinyatakan halal oleh MUI. Dengan label ini maka produsen dapat mengajukan permohonan pencantuman label halal pada kemasannya kepada departemen kesehatan. Label halal yang tercantum pada kemasan makanan tersebut akan mempermudah konsumen terutama konsumen muslim untuk memilih makanan yang halal.
Jika suatu makanan sudah diyakini kehalalannya maka umat Islam tidak akan ragu-ragu dalam memakannya. Jika umat Islam tidak ragu lagi memakannya maka
umat Islam akan menjadi pasar terbesar di Indonesia. Jika pasar yang besar tersebut sudah membeli produk halal maka hanya perusahaan yang memproduksi barang yang halal saja yang dapat hidup dan berkembang.
Sebaiknya jika suatu perusahaan diketahui memproduksi dan menjual barang yang tidak halal maka konsumen akan menjauhi produk tersebut. Akibatnya produk haram tersebut hanya dikonsumsi oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia. Jika hal ini yang terjadi maka omzet penjualan akan kecil dan perkembangan perusahaan juga akan lambat.
Di samping hal yang sudah dikemukakan di atas masih ada keuntungan lain bagi konsumen yaitu konsumen akan dengan mudah memilih makanan apa yang sudah dinyatakan halal oleh MUI. Misalnya jika seseorang ingin makan di suatu restoran maka orang tersebut tinggal menanyakan ada tidaknya label halal. Jika restoran tersebut memiliki label halal berarti restoran tersebut telah diperiksa dan telah dinyatakan halal oleh MUI, tetapi jika restoran tersebut tidak dapat menunjukkan foto kopi label halalnya maka restoran tersebut belum jelas kehalalannya walaupun yang menjual adalah orang Islam pada etalasenya tertulis halal.
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika dibentuk pada tanggal 6 Januari 1989 bertepatan dengan tanggal 28 Jumadil Awal 1409 H berdasarkan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia No. Kep. 018/MUI/I/1989. Berdasarkan SK tersebut LP-POM MUI menerima amanah dari MUI untuk melakukan tugas antara lain :
1. Mengadakan inventarisasi, klarifikasi dan pengkajian terhadap makanan, obat-obatan dan kosmetik yang beredar di masyarakat.
2. Mengkaji dan menyusun konsep yang berkaitan dengan peraturan mengenai penyelenggaraan rumah makan/restoran, perhotelan, hidangan dalam perjalanan, pemotongan hewan serta penggunaan berbagai jenis bahan bagi pengolahan pangan, obat-obatan dan kosmetik yang dipergunakan oleh masyarakat khususnya bagi umat Islam agar terjamin halal (Bisma, Medan, 2003 : 4).
Peringatan Allah SWT tentang pengharaman babi ternyata sangat melekat di hati sanubari umat Islam di Indonesia bahkan di dunia sehingga ketika dipublikasikannya hasil penelitian Dr. Ir. Tri Susanto dalam Buletin Canopy yang diterbitkan oleh Senat Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang pada bulan Januari 1988 tentang jenis-jenis makanan dan minuman yang mengandung lemak babi maka hebohlah seluruh umat Islam Indonesia sehingga terjadilah apa yang dikenal dengan istilah “lemak babi“. Isu ini sangat cepat tersebar ke masyarakat dan akhirnya menjalar ke sistem ekonomi Indonesia. Sistem perdagangan Indonesia dikejutkan dengan isu lemak babi karena seluruh makanan dan minuman yang terkena isu lemak babi tersebut praktis tidak dapat bergerak dari produsen ke konsumen karena tidak satupun konsumen muslim yang mau membeli produk tersebut sehingga produk-produk tersebut hanya tertimbun di gudang-gudang pabrik dan swalayan.
Ketika isu tersebut telah mencapai puncaknya dalam arti hampir tidak dapat dikendalikan maka Sekretaris Jenderal Departemen Agama Indonesia menemui Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Menurut Majelis Ulama Indonesia, ketika disampaikan apa yang telah terjadi akibat isu lemak babi tersebut maka dengan tenang Ketua MUI mengucapkan suatu kaidah ushul fiqih yaitu mencegah kerusakan lebih diutamakan untuk menjaga kemaslahatan/manfaat. Mendengar ucapan tersebut maka pemerintah melalui Departemen Agama menjadi tenang dan MUI mulai
memasuki masalah halal makanan secara aktif.
Ada 2 tindakan yang diambil oleh MUI dalam kaitan ini pada waktu itu, yaitu :
1. Bagaimana memperbaiki keadaan yang sedang berlangsung yang sudah menjurus kepada terganggunya stabilitas ekonomi dan,
2. Bagaimana supaya hal ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Untuk memperbaiki keadaan yang sedang berlangsung maka dibentuklah suatu komisi oleh MUI untuk meninjau beberapa pabrik yang dicurigai lalu terlihatlah di layar televisi, koran-koran dan majalah gambar para ulama meminum susu dan makan mie. Cara ini dapat mengatasi masalah yang terjadi pada waktu itu untuk sementara dan untuk mencegah agar isu semacam ini tidak terjadi lagi maka tanggal 6 Januari 1989 bertepatan dengan 28 Jumadil Awal 1409 H melalui SK Nomor : Kep. 018/MUI/I/1989 tentang pembentukan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetik MUI maka terbentuklah LP-POM MUI seperti yang dikenal dewasa ini tugas sebagai berikut:
1. Mengadakan inventarisasi, klarifikasi dan pengkajian terhadap makanan, obat-obatan dan kosmetika yang beredar dalam masyarakat,
2. Mengkaji dan menyusun konsep-konsep dalam upaya yang berkaitan dengan memproduksi, memperjualbelikan dan menggunakan makanan, obat-obatan dan kosmetika sesuai dengan ajaran Islam.
3. Mengkaji dan menyusun konsep-konsep yang berkaitan dengan peraturan-peraturan yang mengenai penyelenggaraan rumah makan, restoran, perhotelan, hidangan dalam pelayaran dan penerbangan, pemotongan hewan serta penggunaan berbagai jenis bahan bagi pengolahan pangan, obat-obatan dan kosmetika yang dipergunakan oleh masyarakat khususnya masyarakat Islam agar
terjamin halal.
4. Menyampaikan hasil-hasil pengkajian dan konsep-konsep kepada Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan kebijaksanaan yang berkaitan dengan pengolahan, memperjualbelikan dan penggunaan pangan obat-obatan dan kosmetika.
5. Dengan persetujuan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia lembaga mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka kerja sama dengan pemerintah dan swasta, serta melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia.
Tugas yang diemban oleh LP POM MUI bukanlah tugas yang ringan dan ternyata semakin hari LP POM MUI bekerja maka semakin meningkatlah permintaan label halal kepada MUI. Bukan hanya perusahaan yang berlokasi di Pulau Jawa saja tetapi sudah menjalar ke perusahaan yang terletak di luar Pulau Jawa termasuk Sumatera. Dengan alasan bahwa semakin padatnya pekerjaan LP POM MUI dan semakin beratnya biaya yang harus dipikul oleh perusahaan jika mengajukan permohonan label halal, maka MUI Pusat mengeluarkan surat keputusan yang memerintahkan MUI propinsi untuk membentuk LP POM MUI Propinsi. Untuk memenuhi kebutuhan ini maka MUI Sumatera Utara mengutus 2 orang anggotanya untuk dilatih menjadi tenaga auditor sertifikasi halal LP POM MUI di Bogor selama 1 bulan penuh.
Secara administratif sebenarnya keberadaan LP POM MUI SU yang sudah ada sejak tahun 1997. Tetapi karena tenaga yang ditugaskan untuk itu terbatas maka kegiatan LP POM MUI terhenti. Kemudian dengan telah adanya tenaga yang terlatih di MUI SU maka LP POM MUI SU kembali dibenahi. Dan akhirnya secara resmi terbentuklah LP POM MUI SU melalui SK MUI SU No.
18/KPTS/MUI-SU/VII/1999 tanggal 24 Rabiul Awal 1420 H bertepatan dengan 8 Juli 1999. SK ini kemudian diperbaharui kembali oleh karena DR. H. Mulkan Yahya sebagai Direktur LP POM MUI SU dipanggil Allah SWT untuk menghadap-Nya, lalu diangkatlah Prof. Dr. H. Urip Harahap. Apt, sebagai Direktur LP Pomk MUI SU melalui SK No. 08/KPTS/MUI-SU/IV/2000 tanggal 18 Dzulhijjah 1421 H bertepatan dengan tanggal 3 April 2000.
Tata cara pengajuan prosedur label halal dimulai dengan tahap awal dengan mengajukan permohonan dengan mengisi blangko permohonan yang sudah disiapkan oleh LP POM MUI. Selain mengisi permohonan sertifikasi halal, perusahaan yang menginginkan label halal MUI juga diwajibkan untuk mengisi pernyataan bahan baku dan bahan tambahan serta bahan pendukung yang dipergunakan dalam proses produksi. Pernyataan-pernyataan ini harus dilengkapi dengan dokumen pendukung yang menerangkan tentang bahan-bahan yang dipergunakan dalam proses produksi tersebut. Dokumen ini berupa label analisis dari bahan yang dipergunakan, dan atau dapat juga label halal dari bahan yang digunakan tersebut.
Permohonan dan dokumen pendukungnya dibuat dalam rangkap 4 dan masing-masing dimasukkan dalam sebuah map dan kemudian diserahkan kepada LP POM MUI SU. Setelah berkas permohonan tersebut diterima oleh LP POM MUI SU, kemudian LP POM MUI SU akan melakukan evaluasi terhadap berkas yang diserahkan tersebut. Pemeriksaan berkas permohonan tersebut bertujuan untuk menentukan apakah perusahaan tersebut layak untuk disertifikasi atau tidak, selain itu juga bertujuan untuk menentukan berapa besar biaya yang dibebankan kepada perusahaan tersebut. Setelah dinilai memenuhi persyaratan maka LP POM MUI SU akan melakukan pemeriksaan atau peninjauan langsung ke lokasi produksi. Hasil
pemeriksaan akan dicatat dalam pedoman laporan audit LP POM MUI SU dan akan diseminarkan di depan rapat auditor. Hasil rapat auditor akan diajukan ke komisi fatwa untuk mendapatkan fatwa halal. Setelah mendapatkan fatwa halal dari komisi fatwa maka MUI akan segera menerbitkan label halal yang ditanda tangani oleh Direktur LP POM MUI SU, ketua komisi fatwa, hukum dan perundang-undangan dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara.
Label halal MUI berlaku selama 2 tahun. Diantara interval waktu yang 2 tahun ini akan diadakan pemeriksaan mendadak terhadap perusahaan yang telah mendapatkan label halal tersebut. Sidak dilakukan paling sedikit 3 kali dalam interval waktu 2 tahun tersebut. Jika dalam sidak diketahui perusahaan tersebut melakukan pelanggaran perjanjian sertifikasi halal maka perusahaan tersebut akan diberi sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Jika masa berlakunya label sudah berakhir maka perusahaan berkewajiban mengembalikan label tersebut kepada MUI. Dan jika perusahaan ini tetap mendapatkan sertifikasi halal tersebut maka perusahaan tersebut diwajibkan untuk mengajukan permohonan sertifikasi halal kembali sesuai dengan prosedur awal yang tersebut di atas.