• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata dasar yang dijadikan Perancang sebagai judul perencanaan rancangan adalah Restore yang berarti mengembalikan. Dengan judul perencanaan rancangan tersebut diharapkan dapat mengembalikan kembali nilai sejarah dan fungsi bangunan-bangunan yang berada dikawasan Royale Heritage ke bentuk semula seperti massa kejayaannya yang dulu. Sesuai dengan tujuan dari perencanaa penataan kawasan ini sebagai situs sejarah di Kota Medan.

Terdapat juga beberapa fasilitas tambahan untuk menunjang segala kebutuhan penghuni hotel maupun apartemen diantaranya pasar, convention hall, taman dan ruang terbuka. Sehingga tidak hanya penghuni hotel maupun apartemen yang dapat menikmati fasilitas semua ini tetapi masyarakat luar yang hanya ingin sekedar melihat-lihat juga bisa menikmatinya.

Pendekatan teori arsitektur yang digunakan dalam konsep perancangan bangunan pada lokasi Royale Heritage adalah Arsitektur Metafora. Arsitektur metafora merupakan arsitektur yang berasal dari analogi suatu objek atau benda yang kemudian diterapkan dalam bangunan sehingga ketika bangunan tersebut dilihat dengan mata secara visual terkesan berupa suatu bentuk. Menurut Anthony C. Antoniades (1990) dalam ”Poethic of Architecture” mengatakan bahwa "Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik dalam pembahasan. Dengan kata lain,menerangkan suatu subyek dengan subyek lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain.

Arsitektur metafora dibagi menjadi 3 bagian yaitu Tangible Metaphors, Intangible Metaphors dan Combined Metaphors. Tangible Methaphors adalah yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu konsep, sebuah ide, kondisi manusia atau kualitas - kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi dan budaya) - Intangible Metaphors adalah dapat dirasakan karakter visual atau material - Combined Metaphors adalah gabungan dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas dan dasar.

Analogi objek atau subjek yang digunakan untuk perencanaan pada bentuk bangunan adalah “peluru” (gambar 5.1). Benda kecil berbentuk selinder memiliki ujung yang runcing ini menyebabkan banyaknya korban meninggal akibat peperangan pada saat itu. Terjadi ketidakseimbangan senjata yang kita miliki dengan senjata lawan yang cendrung lebih modern dan canggih. Bangunan ini direncanakan nantinya dapat menjadi ikon baru Kota Medan sebagai bangunan unik yang masih jarang kita temui di Indonesia khususnya di Kota Medan.

Gambar 5.1 Analogi tema arsitektur yang digunakan (Sumber : https://faizrahmanblog.wordpress.com)

Dari analogi yang telah disebutkan maka arsitektur metafora masuk kedalam bagian Tangible Metaphors. Hal ini dikarenakan bangunan yang direncanakan ini nantinya akan dapat mengingatkan kita kembali akan sejarah perjuangan masa lalu dikarenakan bentuknya yang menyerupai peluru. Jika dilihat secara seksama pada gambar, peluru yang dimaksud seolah-olah dapat megingatkan kita kembali sejarah betapa bentuk kecil ini yang menyebabkan banyak korban jiwa yang gugur di medan pertempuran kala itu. Selain itu hotel itu nantinya dapat menjadi simbol baru Kota Medan seperti halnya menara petronas yang berada di Malaysia, Marina Bay Sand yang berada di singapure, Menara Pisa yang berada di Itali dan banyak lagi yang lain. Sehingga dengan kehadiran bangunan hotel bintang lima ini nantinya akan semakin meningkatkan eksistensi lokasi Royale Heritage sebagai tujuan pariwisata kota Medan.

Terdapat beberapa tahap yang dilakukan oleh perancang dalam perencanaan siteplan yaitu tahap awal pembagian zoning (gambar 5.2). Pada tahap ini perancang melihat kondisi lokasi yang cendrung simetris dan tidak ada masalah berarti baik kondisi tanah maupun bentuk site. Dimana lokasi hotel yang akan dibangun ini berada pada bagian kiri site, terdapat dua bangunan tua dibelakang dan disamping kanan site. Berdasarkan diskusi kelompok kami memutuskan lokasi ini terbagi menjadi 8 bagian yaitu zona A merupakan bangunan tua Monumen Nasional yang nantinya akan difungsikan sebagai Museum Kota Medan, zona B merupakan tempat podium hotel beserta tower hotelnya, zona C merupakan bekas Gedung Olahraga yang nantinya akan difungsikan sebagai Convention Hall, zona D merupakan royale garden, zona E merupakan pasar yang

terdiri dari pasar buah, sayur, daging dan kebutuhan lainnya, zona F merupakan taman rekreasi dan tempat pertunjukan nantinya,zona G merupakan tempat podium Apartemen nantinya sedangkan sisanya H dan yang lain dijadikan areal hijau serta tempat parkir.

Gambar 5.2 Penzoningan pada tapak

Setelah pembagian zona pada tapak selesai, tahap selanjutnya adalah pembagian ruang terbuka hijau yang direncanakan oleh perancang pada lokasi tapak. Tempat yang cocok dijadikan ruang terbuka hijau adalah pada bagian depan Gedung Nasional Pemuda dan disamping Gedung Olahraga (GOR) yang menjadi ruang publik. Untuk pola bentuk jalur pada ruang publik akan dibuat mengikuti teori arsitektur yang pernah dipakai sehingga bentuk dari jalur tersebut dirancang melengkung. Hal ini bertujuan agar bangunan dan ruang publik yang nantinya direncanakan pada Blockplan akan kelihatan seperti menyatu. Area publik ini dapat dinikmati oleh seluruh kalangan karena nantinya akan terkoneksi lansung dengan kedua bangunan bersejarah tersebut yaitu Gedung Nasional Pemuda dan Gelanggang Olahraga (GOR), sehingga pejalan kaki dapat menikmati suasana bangunan bersejarah sambil berjalan disepanjang pendestrian yang

disediakan. Akan terdapat dua akses masuk dan keluar menuju Royale Heritage bagi kendaraan baik mobil maupun motor untuk parkir basement dan parkir ground melalui fly over yang disediakan (gambar 5.3).

Gambar 5.3 Blockplan

Pada kawasan sekeliling site, eksisting bangunan memiliki ketinggian 1-4 lantai dan berdasarkan peraturan lahan Kecamatan masuk dalam blok peruntukan bangunan rendah (4 lantai), namun apabila dianalisa lagi dengan radius yang lebih jauh lagi terdapat beberapa bangunan yang berkembang dengan ketinggian lebih dari 20 lantai (gambar 5.4).

Akses kendaraan pengunjung tamu hotel dan pemilik apartemen akan masuk melalui gerbang utama yang telah disediakan. Gerbang tersebut selanjutnya akan diteruskan menuju fly over yang akan terintegrasi kelantai 3 podium yang terdapat lobby utama hotel. Akses ini hanya dikhususnya untuk kendaraan yang menuju hotel maupun apartemen khususnya mobil. Hal tersebut tentu akan memudahkan mereka untuk drop off dihotel maupun apartemen sehingga pengguna jalan yang lain merasa nyaman dan tidak terganggu (gambar 5.5).

Gambar 5.5 Rencana Sirkulasi

Dari segi struktur bangunannya sendiri untuk hotel menggunakan menggunakan sistem rangka kaku dan kantilever. Struktur rangka kaku adalah struktur yang terdiri atas elemen-elemen linier, umumnya balok dan kolom, yang saling dihubungkan pada ujung-ujungnya oleh joint yang dapat mencegah rotasi relatif diantara elemen struktur yang dihubungkannya. Sedangkan balok

(cantilever ) adalah suatu balok disangga atau dijepit hanya pada salah satu ujungnya sedemikian sehingga sumbu balok tidak dapat berputar pada titik tersebut,maka balok tersebut disebut balok gantung (cantilever beam).

Susunan yang digunakan untuk bangunan yang berbentuk lurus dan melengkung adalah susunan kolom persegi dan radial dengan menggunakan dua titik acuan sebagai acuan yang kemudian di tarik sesuai dengan jarak yang diinginkan. Untuk core bangunan direncanakan akan diletakan pada bagian tengah bangunan sebagai struktur intinya sehingga akan menambah kekuatan bangunan itu sendiri (gambar 5.6).

Gambar 5.6 Konsep Sistem Struktur Bangunan

Pada konsep massa bangunan akan mengikuti teori arsitektural yang berhubungan dengan peluru sebagai analoginya. Bentukan massa yang dibuat perancang tidak mengambil bentuk asli dari peluru yang berbentuk selinder dengan ujung yang runcing. Tetapi ditransformasi lagi menyerupai elips bertujuan untuk menghilangkan ruangan mati atau sisa ditengah nantinya, mengingat fungsi bangunan ini nantinya adalah hotel. Bentuk bangunan ini terbagi kedalam 3 bagian yaitu besar, sedang dan kecil yang artinya makin keatas bangunan ini akan semakin kecil. Sedangkan pada puncak bangunan ini nantinya akan diletakan dome atau kubah, sehingga pengunjung akan bisa merasakan bangunan ini secara

visual yang menyerupai peluru yang sangat besar meskipun dari jarak kejauhan (gambar 5.7).

Gambar 5.7 Ide atau Konsep bentuk dasar bangunan

Selanjutnya mengelaborasikan tema serta kebutuhan ruang dalam perencanaan ruang setiap lantai atau denah skematik. Untuk jalur masuk menuju hotel ada dua akses yakni melalui fly over dan juga basement. Untuk fly over dapat diakses melalui Jalan Veteran yaitu pintu masuk gerbang utama sedangkan untuk basement dapat diakses melalui Jalan Sutomo.

Perencanaan Groundplan sendiri dengan penambahan fasilitas bangunan pada lokasi Royale Heritage (gambar 5.8). Pada bagian kiri site merupakan podium hotel yang berada dilantai tiga dan empat sedangkan dibawah podium itu sendiri merupakan open space serta taman hijau yang terdapat di ground.

Gambar 5.8 Groundplan

Perancang merencanakan bahwa nantinya pengunjung semi private dapat masuk melalui Gedung Nasional Pemuda yang difungsikan sebagai museum sejarah Kota Medan yang terhubung lansung menuju Royale Garden terdapat banyak pilihan setelah mereka sampai disini, bisa menuju podium hotel, royale solace garden dan Convention Hall. Sedangkan untuk pengunjung private mereka dapat lansung menuju lobby utama hotel yang berada di podium hotel tepatnya lantai tiga melewati gerbang utama yang melewati fly over yang bisa diakses dari Jalan Veteran. Sedangkan untuk menuju Convention Hall dapat melalui pintu masuk utama sama dengan pintu masuk hotel bagi kendaraan, sedangkan bagi tamu hotel yang ingin menuju ke convention dapat diakses melalui podium hotel yang nantinya terdapat ruang konektifitas yang akan terhubung langsung ke convention hall melalui koridor yang telah disediakan.

Pembahasan mengenai perencanaan tata letak ruang hotel bintang lima pada lokasi Royale Heritage. Untuk kendaraan roda empat maupun roda dua, perancang

membagi dalam 3 bagian yaitu untuk kendaraan pengunjung masuk melalui pintu masuk utama yang bisa diakses melalui Jalan Veteran dan bagi pengunjung yang akan memarkirkan kendaraannya di basement dapat diakses melalui Jalan Sutomo sedangkan bagi kendaraan servis yang akan melakukan aktivitas bongkar muat pada loading dock berada dekat ramp menuju basement yang dapat diakses melalui Jalan Sutomo.

Pada areal basement merupakan parkir inap terutama bagi pengunjung hotel maupun apartemen. Terdapat parkir mobil sebanyak 100 unit, parkir motor sebanyak 50 unit, lift, ruang pompa, ruang genset dan underground watertank dll. Sedangkan untuk ramp masuk maupun keluar berada pada tempat yang sama, dengan lebar ramp masuk 3,5 m dan ramp keluar 3,5 m dan pembatas antar ramp naik dan turun 30 cm. Ramp ini sendiri memiliki panjang 28 m dengan ketinggian basement 3,3 m (gambar 5.9).

Pada lantai 1 bangunan yang berada dibawah podium perancang berencana menyediakan beberapa retail yang akan disewakan sebagai tempat kuliner bagi yang berkunjung kelokasi Royale Heritage dintaranya pizza hut, JCO, duncing donuts, kebab turki dan lain sebagainya, selain itu juga terdapat fasilitas umum yaitu toilet pria dan wanita . Sebagai fungsi publik lebar koridor pada lantai ini 4 m diharapkan pengunjung merasa lebih nyaman saat berjalan di tengah keramaian (gambar 5.10).

` Gambar 5.10 Denah lantai 1 dibawah podium

Pada lantai 2 bangunan yang berada dibawah podium perancang berencana Menempatkan sebagai pusat perkantoran segala urusan perhotelan. Diantaranya yaitu ruang administarsi, ruang karyawan dan tata graha selain itu juga terdapat fasilitas umum seperti musholla serta tempat istirahat yang dapat dipergunakan oleh semua pegawai hotel dan toilet pria serta wanita (gambar 5.11).

Gambar 5.11 Denah lantai 1 dibawah podium

Pada lantai 3 atau lantai 1 podium, direncanakan ketika pengunjung hotel masuk melalui pintu masuk gerbang utama, kemudian pengunjung akan memasuki bangunan podium yang berada dilantai 3 (gambar 5.12), terdapat diantaranya lobby hotel, lift serta tangga, restoran, lounge and bar, retail-retail dan lain sebagainya.

Lobby berada ditengah dekat dengan core bangunan sehingga pengunjung dapat lansung menuju lift setelah check-in. Pada lantai pertama podium hotel bintang lima ini perancang membagi zona menjadi 2 bagian yaitu pada bagian yang berdekatan dengan ruang pubik akan diletakkan restoran yaitu restoran Indonesia, Japanese dan Western. Restoran ini nantinya terdapat tiga view keluar sehingga pengunjung dapat menikmati hidangan makanan sambil melihat pemandangan disekitarnya.

Pada bagian lainnya perancang merencanakan untuk meletakkan retail, bussiness centre, office dan bar. Peletakan lounge and bar berdekatan dengan pintu masuk utama sehingga penghuni dapat melihat lansung saat memasuki lobby. Tidak jauh dari situ terdapat juga gudang umum untuk keperluan hotel, toilet pria dan wanita, ruang laktasi (ruang menyusui) serta poliklinik yang berada disampingnya. Sedangkan untuk menuju Convention hall pengunjung dapat melewati ruang konektifitas yang terdapat retail-retail disepanjang jalur tersebut.

Gambar 5.12 Denah Lantai 3 atau 1 pada podium hotel

Pada lantai kedua podium kita akan memasuki sarana fasilitas penunjang hotel bintang lima yang bersifat semi private diantaranya coffee shop, spa and sauna, fitness center, playground, swimming pool serta fasilitas penunjang lainnya. Selain itu juga terdapat 3 roof graden yang memenuhi lantai bangunan

ini. Untuk kolam renang sendiri terbentang lurus pada bagian sisi kanan podium yang berada di ketinggian atau sekitar 16 meter dari tanah. Mengingat skyline bangunan sekelilingnya memiliki ketinggian 12 m sampai dengan 16 m, sehingga pengunjung kolam renang ini akan dapat menikmati suasana Kota Medan dari ketiggian sambil berenang. Dikolam renang ini nantinya terdapat sekitar 25 tempat berjemur, loker pria dan wanita, tempat bilas pria dan wanita serta kolam renang untuk anak-anak dan dewasa selain itu disekeliling kolam renang ini terdapat pepohonan dan juga taman. (gambar 5.13).

Gambar 5.13 Denah Lantai 4 atau 2 pada Podium Hotel

Setelah melewati lantai pertama dan lantai kedua podium kita akan memasuki kamar hotel, pada lantai ketiga ini terdapat 20 unit kamar (gambar 5.14) yang terbagi kedalam 3 tipe yaitu : superior room (gambar 5.15) sebanyak 4 unit,

deluxe room (gambar 5.16) sebanyak 8 unit dan super deluxe room (gambar 5.17) sebanyak 8 unit. Untuk lantai 2 ini sendiri tipikal sampai ke kelantai 13 hotel. Sedangkan pada setiap sudut ruangan tiap-tiap lantai terdapat 4 lorong kecil sebagai cahaya masuk menuju koridor serta akses masuk tim pemadam kebakaran apabila terjadi kebakaran.

Gambar 5.15 Denah kamar Superior Room

Gambar 5.16 Denah Deluxe Room

Pada lantai 14 luas lantai lebih kecil dari lantai dibawahnya disebabnya makin keatas bangunan ini akan semakin kecil. Lantai 14 akan tipikal sampai dengan lantai 18 (gambar 5.18). Banyak fasilitas tambahan yang dapat menunjang segala kebutuhan penghuni kamar hotel diantaranya mini bar, kitchen serta kamar mandi yang dilengkapi ware pool. Setiap lantai pada bangunan ini terdapat 8 unit kamar suite yang sangat mewah diantaranya executive suite sebanyak 4 unit (gambar 5.19) dan junior suite (gambar 5.20) sebanyak 4 unit. Sedangkan pada setiap sudut ruangan terdapat 4 lorong kecil sebagai cahaya masuk menuju koridor serta akses masuk tim pemadam kebakaran apabila terjadi kebakaran.

Gambar 5.19 Denah kamar executive suite

Gambar 5.20 Denah kamar junior suite

Lanjut ke lantai 19, luas lantainya akan semakin lebih kecil lagi dari lantai sebelumnya (gambar 5.21). Lantai 19 ini sendiri akan tipikal dengan lantai dengan lantai 20. Setiap lantainya terdapat 2 unit kamar dengan tipe paling tinggi yaitu president suite (gambar 5.22). Sedangkan pada setiap sudut ruangan tiap-tiap lantai terdapat 4 lorong kecil sebagai cahaya masuk menuju koridor serta akses masuk tim pemadam kebakaran apabila terjadi kebakaran.

Gambar 5.21 Denah tipikal lantai 20 sampai lantai 21.

Pada puncak bangunan atau roof top perancang merencanakan penambahan

dome yang berbentuk setengah bola. Tidak ada fungsi khusus dari penambahan

dome ini hanya untuk mempercantik estetika bangunan. Selain itu penambahan

dome ini juga berfungsi untuk menguatkan kesan peluru pada bangunan itu sendiri (gambar 5.23).

Gambar 5.23 Dome pada roof top bangunan

Pada potongan A-A dan B-B (gambar 5.24) dapat kita lihat inti bangunan terdapat dua core yang masing-masing digunakan sebagai lift barang dan lift penumpang. Dengan tebal core masing-masing 30 cm. Sedangkan untuk koridornya sendiri mempunyai lebar 3 m dengan ukuran segitu diharapkan pengunjung nantinya merasa nyaman saat berpapasan dengan pengunjung lainnya. Apabila kita lihat dari potongan bangunan tower terdiri dari 3 bentuk yang berbeda yaitu besar, sedang dan kecil yang masing-masing tiap lantai mempunyai ketinggian 4 meter. Ruang bawah tanah yang direncanakan perancang adalah 1 lantai saja (sesuai dengan kebutuhan perhitungan kendaraan pada program ruang hotel) dengan perbandingan ramp 1:8 sehingga panjang ramp yang diperlukan 28 meter. Pada ruang bawah tanah lantai 1 dijadikan tempat parkir, dengan penambahan ruang seperti ruang generator dan ruangan yang bersifat memfasilitasi bangunan hotel.

Gambar 5.24 Potongan A-A dan B-B

Untuk potongan C-C dan D-D (gambar 5.25) merupakan potongan untuk bagian podium secara memanjang dan terkhusus untuk potongan kolam renang sebagai fasilitas hotel. Pada potongan dapat kita lihat tinggi kolam renang sekitar 2 m dari lantai podium. Sehingga apabila pengunjung ingin memasuki kolam renang ini harus melewati tangga yang telah disediakan. Mengingat kolam renang ini sendiri berada diatas lantai bangunan harus diantisipasi agar air kolam renang ini tidak merembes kelantai dibawahnya. Pada bagian lantai dasar kolam renang akan dipasang plat lantai sehingga tidak ada celah untuk air masuk. Setelah itu pada bagian bawah plat akan dicor beton lagi sehingga air tidak bisa meresap. Kolam renang ini sendiri memiliki kedalam 1,8 m untuk daerah yang paling dalam.

Gambar 5.25 Potongan C-C (atas) dan D-D (bawah)

Tampak bangunan merupakan unsur terpenting dalam suatu perancangan, dikarenakan tampak dari suatu bangunan akan mencerminkan apa yang diinginkan atau yang dimaksud oleh perancang kepada orang yang melihat dan menikmati bangunan secara visual (gambar 5.26), (gambar 5.27), (gambar 5.28), (gambar 5.29). Menurut perancang, apabila bangunan yang dirancang memiliki tema, maka perancang harus mengaplikasikan tema arsitektur yang dipilih ke proyek yang sedang dikerjakan dan harus memperhatikan latar belakang dari proyek yang sedang ditangani agar pengguna bangunan dapat merasakan apa yang telah direncanakan oleh perancang pada proyek tersebut, seperti tapak, tampak, sistem penataan ruangan dalam bangunan dan lain-lain.

Arsitektur metafora adalah arsitektur yang menggunakan suatu analogi yang kemudian diaplikasikan ke bangunan sehingga secara visual "pesan" yang diinginkan atau yang telah direncanakan oleh perancang dapat dirasakan dengan indra penglihatan (visual) oleh manusia. Analogi yang digunakan oleh perancang

untuk menyelesaikan tampak bangunan adalah menggunakan peluru, dimana seolah-olah bangunan hotel bisnis bintang lima ini nantinya menyerupai peluru dengan ukuran yang sangat besar. Hal tersebut tentunya agar dapat mengingatkan kita kembali tentang sejarah tempat tersebut sebagai kawasan sejarah perjuangan Kota Medan.

Gambar 5.26 Tampak depan

Gambar 5.28 Tampak samping kiri

Gambar 5.29 Tampak samping kanan

Jika lihat secara seksama, bangunan ini akan terlihat seperti peluru apabila dilihat dari sisi kanan dan sisi kirinya saja, sedangkan dari sisi belakang dan sisi depan bentuk bangunan ini cenderung rata apabila dilihat dari kejauhan. Selanjutnya ketinggian bangunan dari tanah (ground) ini sendiri yaitu 92 m atau 23 lantai. Dan pada puncaknya terdapat kubah dengan tinggi 15 m.

Ini adalah beberapa perspektif eksterior bangunan hotel bisnis yang diambil dari berbagai sudut (gambar 5.30), (gambar 5.31), (gambar 5.32), (gambar 5.33) dan (gambar 5.34).

Gambar 5.30 Perspektif bangunan hotel dari jalan Sutomo

Gambar 5.32 Perspektif bangunan hotel dari jalan M Yamin

Gambar 5.33 Perspektif ekterior pada roof garden

BAB VI

CONFLICT AND TOLERANCE

Setelah perancang mempresentasikan hasil rancangan, diadakan pengujian konsep rancangan. Adanya saran dari dosen penguji kepada perancang mengenai struktur bangunan yang akan digunakan pada hotel bintang lima. Bangunan hotel bintang lima yang didesain perancang mampunyai bentuk yang melengkung dari segi struktur dan teknologi bangunannya harus diperhatikan lagi konstruksinya. Pentingnya penjelasan mengenai sistem kantilever yang memerlukan struktur utama (vertical dan horizontal) sebagai penopang bangunan sehingga pada bagian kantilever dapat ditahan oleh struktur utamanya. Panjang kantilever pada bangunan ini mencapai 4 m. Sedangkan struktur kantilevernya sendiri berada pada lantai ke 15 sampai 19 dari podium hotel atau pada kelas kamar suite (gambar 6.1).

Gambar 6.1 Sistem katilever yang terdapat pada bangunan

Pada bagian kantilever ditopang oleh anak balok dan diteruskan kebalok utamanya. Sedangkan untuk bagian sekeliling bangunan yang berbentuk melengkung menggunakan balok penopang untuk tetap menjaga struktur

lengkung tersebut. Balok penopang yang panjang akan diberi balok anak dengan ukuran setengahnya. Pada gambar 6.2 merupakan tampak atas dari struktur bangunan sedangkan gambar 6.3 merupakan axometri struktur bangunan yang menggunakan kantilever.

Gambar 6.2 Tampak atas sistem struktur bangunan hotel

Gambar 6.3 Axonometric sistem struktur bangunan hotel

Keberadaan kolam renang yang sebelumnya berada dilantai 16 menemui kendala pada masalah strukturnya (gambar 6.4). Harus diperhatikan agar air dari kolam renang tidak merembes kebangunan dibawahnya. Serta nantinya dalam

pendistribusian air menuju kolam renang pada lantai 16 akan menjadi kendala baru terhadap keberadaan ruang yang sempit karena membutuhkan watertank dan ruang pemompa air secara khusus. Oleh sebab itu perancang memindahkan kolam renang ke lantai 2 podium yang penanganannya akan lebih mudah (gambar 6.5).

Gambar 6.4 Peletakan kolam renang pada lantai 16 sebelum perbaikan

Gambar 6.5 Peletakan kolam renang pada lantai 2 setelah perbaikan

Sedangkan pada bagian groundplan dosen penguji mengusulkan perbaikan

Dokumen terkait