• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

2.1 Letak Geografis dan Keadaan Alam

Desa Lau Kapur merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tiga Binanga Kabupaten Karo. Jarak antara Desa Lau Kapur dengan Kecamatan Tiga Binanga sekitar 8 km, sedangkan ke pusat Kabupaten sekitar 44 km. Desa Lau Kapur merupakan suatu desa yang terdapat di Kecamatan Tiga Binanga, dan Kecamatan Tiga Binanga juga terdiri dari 18 desa, yaitu Perbesi, Limang, Bunga Baru, Simpang Pergendangen Perlamben, Pergendangen, Gunung, Kuala, Kuta Bangun, Kuta Raya, Kuta Galoh, Kuta Buara, Kem-Kem, Simolap, Pertumbuken, Kutambaru Punti, Batu Mamak, Kuta Gerat dan Lau Kapur9

Lau Kapur adalah suatu desa yang penduduk aslinya adalah marga Ginting yang berasal dari daerah Naga

.

10

9 Kantor Camat Tiga Binanga , 12 Juli 2014

10 Wawancara: Selamat Ginting, Lau Kapur, 12 Juli 2014 ‘Naga’ merupakan suatu nama desa yang berada di

daerah Kecamatan Juhar yang merupakan asal marga Ginting yang tinggal di Desa Lau Kapur

, tidak ada bukti yang pasti mengenai tahun kedatangan marga Ginting ke daerah Lau Kapur akan tetapi dari informasi yang di dapat bahwa marga Ginting sudah mulai bermukim di daerah tersebut dan desa Lau Kapur mulai di kenal orang-orang di sekitar daerah tersebut pada tahun 1800 akan tetapi masyarakatnya terdiri dari beberapa keluarga saja dan kemudian disusul oleh marga Tarigan dan Sebayang.

Ketiga klen marga inilah yang membagun dan menetap di Desa Lau Kapur, marga inilah yang membawa sistem mata pencaharian hingga pemerintahan desa Lau Kapur tersebut. kebiasaan-kebiasaan adat yang turun temurun membentuk pola kehidupan masyarakat desa Lau Kapur sehingga dalam kesehariannya masyarakat desa memakai bahasa Karo dalam bahasa komunikasi mereka.

Desa Lau Kapur berada 710-800 M / DPL dari permukaan laut. Suhu udara di desa Lau Kapur antara 22° s/d 29° derajat celcius dengan kelembapan udaranya rata-rata 28°. Ada dua musim yang terdapat di desa Lau Kapur yaitu musim hujan dan kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan Maret sampai bulan Oktober. Hal ini disebabkan karena arah angin yang berhembus di desa Lau Kapur terbagi atas dua yaitu: pada musim hujan, angin berhembus dari arah Barat sedangkan pada musim kemarau angin Timur Tenggara berhembus dari arah Timur.

Desa Lau Kapur terletak di Kecamatan Tiga Binanga Kabupaten Karo yang berbatasan dengan :

 Sebelah Utara berbatasan dengan aliran sungai (lau bengap)

 Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tanah Pinem Desa Butar dan Desa Lau Riman

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tanah Pinem Desa Kuta Gamber dan Desa Liren.

 Sebelah Timur berbatasan dengan lahan Desa Gunung dan lahan Desa Kem-Kem.11

Pola pemukiman penduduk Desa Lau Kapur, pada umumnya berada di tepi jalan lintas desa, dan di antara rumah-rumah itu terdapat bangunan dengan pekarangan yang cukup luas. Biasanya di jadikan tempat untuk berbagai kegiatan yang disebut dengan jambur12

Dari hasil wawancara dengan penduduk setempat maupun petugas kecamatan pada umumnya rumah yang ada di desa tersebut adalah rumah yang beralaskan papan, dinding papan dan beratapkan ijuk, serta rumah adat yang di buat secara gotong royong dan didirikan sesuai dengan prinsip adat. Namun disebut rumah adat . Di sinilah tempat upacara pesta perkawinan, upacara kematian dan sebagainya yang dilakukan oleh masyarakat. Di pekarangan halaman desa ada dibangun lumbung-lumbung untuk menyimpan padi (dalam bahasa karo di sebut sapo page) dan lesung. Di daerah Karo lumbung padi juga sangat berfungsi sebagai tempat berkumpul atau tempat untuk tidur bagi pemuda. Karena disinilah masyarakat bisa berkumpul untuk menumbuk padi yang akan di masak untuk besoknya.

11

Kantor Camat Tiga Binanga, 12 Juli 2014.

12

Jambur adalah suatu tempat yang di jadikan oleh masyarakat untuk merayakan pesta perkawinan dan pesta

karena merupakan lambang perwujudan adat masyarakat gotong-royong dilihat dari pendiriannya, fungsinya, semuanya bersendikan kepada adat istiadat13

13Wawancara: Muat Perangin-angin, Lau Kapur, 16 Juli 2014

Karena secara tradisional kampung-kampung orang Karo didirikan di tempat yang di pilih strategis, yakni dengan memperhatikan segi keamanan, tidak hanya terhadap serangan sesama manusia, tetapi juga serangan atau gangguan binatang-binatang buas seperti Harimau, Beruang, Babi hutan dan sebagainya, maka diperkirakan rumah yang pertama kali di dirikan oleh manusia adalah Siwaluh jabu yang merupakan rumah adat orang Karo. Yang di huni oleh delapan keluarga, di mana kehidupan di dalamnya diatur berdasarkan adat.

Adapun sarana dan prasarana di desa ini sangat minim, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Di bidang kesehatan sebelum tahun 1974 puskesmas belum ada sehingga masyarakat yang sakit hanya berobat secara tradisional, kalau pun mau berobat secara medis akan menempuh jarak yang sangat jauh untuk menemukan puskesmas di Kecamatan. Sementara itu untuk bidang pendidikan di desa ini sama sekali tidak ada dan harus bersekolah ke Kecamatan. Mulai dari SD, Sekolah Lajutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), masyarakat harus menyekolahkan anaknya ke Kecamatan juga. Dengan berjalan kaki menyebrangi sungai.

Di desa Lau Kapur penduduk yang tidak produktif berdasarkan usia di bawah 25 tahun dan kelompok ini dianggap masih dalam taraf pendidikan. Kelompok yang lainnya adalah yang produktif berdasarkan usia 25 tahun ke atas dan tidak bersekolah lagi. Dan diatas 25 tahun ke atas dianggap sudah mempunyai penghasilan sendiri.

Pada umumnya untuk melangsungkan kehidupannya masyarakat yang tinggal di desa memiliki mata pencaharian sebagai petani. Bertani sudah mendarah daging dan dilakukan secara turun-temurun. Pertanian sudah menjadi kegiatan sehari-hari terutama bagi masyarakat yang tinggal di dekat pegunungan. Perekonomian masyarakat ini pada umumnya bergantung pada pertanian. Hal ini juga yang terjadi pada Desa Lau Kapur yang hanya menggantungkan perekonomiannya pada pertanian. Walaupun alamnya cukup subur dan menghasilkan berbagai tanaman yang laku di jual di pasaran, akan tetapi keuntungan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada awalnya sapi/ lembu dan kerbau merupakan hewan dimanfaatkan untuk membajak sawah masyarakat, karena populasinya yang cocok berkembang di daerah desa maka hewan tersebut salah satu hewan yang kemudian diternakan. Selain itu, hewan peliharaan lainnya yang diternakkan oleh masyarakat desa Lau kapur adalah kambing/ domba dan babi. Hewan-hewan ini sangat membantu perekonomian masyarakat desa termasuk juga untuk mencukupi kebutuhan disaat dilaksanakan pesta adat tanpa harus memesan hewan dari daerah lain.

Sebelum tahun 1974 mata pencaharian masyarakat Desa Lau Kapur menanam padi, cengkeh, tembakau, dan pisang adalah sebagai tanaman tambahan saja. Tingkat perekonomian yang hanya mengandalkan pertanian biasanya memiliki kehidupan perekonomian yang tergolong rendah. Pertanian yang seperti ini juga terkadang bergantung pada kondisi alam untuk mempertahankan hasil panen. Masyarakat Desa Lau Kapur dengan kondisi yang masih tertinggal melakukan pertanian dengan mengandalkan tenaga keluarga(aron) dan hanya menggunakan alat pertanian yang sederhana. Seperti cangkul, sabit, dan yang lainnya, sedangkan untuk membajak persawahan hanya menggunakan tenaga seadanya seperti tenaga hewan yaitu tenaga kerbau. Pengetahuan tentang pertanian juga masih berdasarkan pengalaman dari masyarakat setempat ataupun nenek moyang mereka.

Berikut ini ada beberapa tanaman pokok yang dijadikan masyarakat sebagai mata pencaharian utama :

Dokumen terkait