• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data dan Analisis

4.1.1 Aspek Biofisik

4.1.1.1 Letak geografis, luas, dan batas tapak

Secara geografis, Desa Ketep berada pada 110o 21’50”BT-110o23’20”BT dan 7o29’10”LS-7o31’0”LS (Bakosurtanal, 2001). Daerah ini termasuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Desa Ketep berbatasan dengan Desa Wulunggunung di sebelah Utara, Desa Banyuroto di sebelah Timur, Desa Wonolelo di sebelah Selatan dan Desa Kapuhan di sebelah Barat.

Batas di sebelah Utara dan Selatan merupakan batas alam yang terdiri dari ladang-ladang penduduk yang diselingi tanaman besar yang berkelompok. Sedangkan batas sebelah barat dan timur, batas wilayah terlihat jelas dengan adanya gapura desa di sebelah barat dan gapura Desa Banyuroto di sebelah timur terutama pada jalan menuju masuk desa. Tetapi meskipun demikian, pada kanan kiri dari jalan tersebut batas desa sudah kembali tersamarkan dengan banyaknya ladang milik penduduk. Untuk itu diperlukan gapura penanda terutama pada perbatasan Desa Ketep dengan Desa Kapuhan dan Desa Ketep dengan Desa Wonolelo agar keberadaan desa lebih mudah untuk dikenali.

Desa dengan luas 418.925 ha dan berada pada ketinggian 1.110-1.125 mdpl ini merupakan salah satu desa yang dilalui oleh Jalur Solo-Selo-Borobudur yang sering dilalui kendaraan dari Boyolali ke Magelang atau sebaliknya. Desa Ketep yang terdiri dari 5 dusun yaitu Dusun Ketep, Dusun Dadapan, Dusun

Gondang Sari, Dusun Gintung dan Dusun Puluhan ini pun memiliki bentang alam lahan pertanian yang luas dan panorama alam yang bagus sehingga dapat mendukung berkembangnya tapak sebagai kawasan agrowisata.

4.1.1.2 Aksesibilitas

Desa Ketep berada pada jalur penting Solo-Selo-Borobudur. Ibu kota kecamatan, Tlatar, berjarak 5,3 km dari desa ini. Jarak Desa Ketep dengan ibukota kabupaten (Mungkid) adalah 24 km sedangkan dengan ibukota provinsi (Semarang) adalah 102 km. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju ibukota kecamatan adalah 15 menit dan satu jam untuk mencapai ibukota kabupaten (DSPM Jateng, 2007).

Pengunjung dapat mencapai desa ini dengan berbagai jenis kendaraan baik angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Kendaraan umum yang tersedia berupa angkot sedangkan angkutan pribadi yang memungkinkan untuk melalui Ketep yaitu sepeda motor, mobil dan bus dengan ukuran sedang serta besar. Pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi dapat mencapai desa tersebut melalui ketiga jalur yang ada. Apabila menggunakan kendaraan umum, pengunjung dapat menumpang kendaraan umum (angkutan perkotaan) seperti pada Gambar 5 dari Pasar Talun menuju Desa Banyuroto atau Pasar Jrabat sekitar 30 menit perjalanan. Sebelum mendapati angkutan tersebut pengunjung harus menumpang terlebih dahulu angkutan kota dari arah pertigaan simpang Ketep (Blabak) menuju Tlatar sekitar 30 menit perjalanan. Kendaraan umum tersebut hanya tersedia bagi pengunjung yang menggunakan jalur Barat.

Secara umum jalan yang ada telah beraspal terutama jalan kabupaten yang membelah kedua desa tersebut. Lebar badan jalan sudah mencapai 6-8 meter pada jalan kabupaten. Sedangkan pada jalan desa hanya berkisar antara 4-5 meter. Jalan-jalan desa yang ada juga relatif bagus meskipun belum teraspal. Jalan-jalan ini sangat penting mengingat jalan ini adalah jalur produksi bagi warga. Selain itu keberadaan jalan ini juga menjadi vital untuk dipertahankan bahkan dikembangkan karena dari sanalah ide pengembangan lanskap ini dalap dimunculkan. Ilustrasi kondisi jalan dan jenis angkutan umum dari penjelasan di atas dapat dilihat pada Gambar 4.

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 4. Jenis - Jenis Kendaraan Umum Menuju Desa Ketep (a) angkot, (b) bus sedang, (c) bus besar, (d) ojek

Meskipun akses jalan menuju desa sudah bagus tetapi ada beberapa faktor yang mengakibatkan jalan menjadi rawan kecelakan. Hal itu dapat kita lihat dari hasil analisis kondisi jalan pada Tabel 4. Dari sana kita dapat menduga bahwa faktor topografi menjadi salah satu faktor yang menentukan mengingat jalan akan berkelok, naik turun dan bertikungan curam sehingga memungkinkan kendaraan hilang kendali. Selain itu kondisi jalan yang belum memiliki pedestrian dan lampu jalan juga menambah rawan jalan ini jika kabut telah turun. Oleh karena itu penambahan fasilitas jalan seperti rambu-rambu lalu lintas, lampu penerangan, pedestrian dan dinding pembatas jalan sangat diperlukan guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna tapak.

Desa Ketep dapat diakses melalui tiga jalur seperti yang tertera pada Gambar 5 yaitu jalur barat (melewati ibu kota kecamatan Sawangan), melalui jalur timur (melewati kecamatan Pakis dan Desa Banyuroto) dan melalui jalur selatan (melalui perbatasan Magelang-Boyolali). Jalur barat dapat ditempuh dengan menelusuri jalan provinsi Magelang-Yogyakarta yang dilanjutkan dengan

Kondisi Jalan Potensi Kendala Solusi 1. Akses masuk dan jalur

wisatawan

 Terdapat 3 akses masuk ke dalam tapak

Penggunaan alur yang sama antara masyarakat dan wisatawan

Pemberian gapura penanda di masing-masing pintu masuk desa

2. Badan jalan  Dilalui oleh jalan Kabupaten dengan kondisi beraspal

 Tidak adanya pedestrian  Jalan desa yang belum

beraspal dan sempit

 Penyediaan jalur pedestrian di tempat yang berpotensi untuk pejalan kaki tinggi

 Pemberian fasilitas pendukung jalan seperti rambu jalan, dan lampu penerangan

 Pengaspalan jalan atau pemadatan jalan desa serta pelebaran jalan.

3. Pohon pelindung  Sudah ada beberapa pohon pengarah jalan akan tetapi belum seluruhnya

 Jalan desa langsung bersentuhan dengan pemukiman

 Penambaha pohon pelindung dan pengarah jalan

 Penanaman pohon pada jalan di permukiman warga.

4. Fasilitas jalan Kurangnya fasilitas

pendukung jalan baik jalan utama ataupun jalan desa

Pemberian fasilitas pendukung jalan seperti rambu jalan, lampu penerangan, dan papan informasi.

jalan kabupaten menuju arah Boyolali pada pertigaan Blabak. Jalur sebelah timur dapat ditempuh dari kabupaten Salatiga ke arah selatan melewati Kecamatan Ngablak dan Pakis. Selain itu desa ini dapat ditempuh melalui jalur selatan yang diawali dari Kabupaten Boyolali yang selanjutnya menelusuri jalur Solo-Selo-Borobudur.

4.1.1.3 Iklim

Desa Ketep yang termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sawangan mempunyai tipe iklim basah dengan pola hujan IIIA. Kondisi iklim terdiri dari 8 bulan basah (Oktober-Mei) dan 4 bulan kering (Juni-September) Suhu rata-rata kawasan adalah 16-18oC (Galih, 2009). Sedangkan curah hujan kawasan ini yaitu 3.310 mm/tahun dengan banyaknya hari hujan 125 hari (BPS, 2007).

Berdasarkan ketinggiannya yaitu 1.110-1.250 mdpl menurut klasifikasi Junghun wilayah ini termasuk ke dalam iklim sedang karena daerah ini berada pada ketinggian 600-1.500 mdpl. Berdasarkan hal itu, jenis tanaman yang cocok pada wilayah seperti ini yaitu tembakau, teh, kopi, kakau, kina dan berbagai jenis sayuran. Jenis tanaman seperti ini akan sangat menunjang konsep pengembangan kawasan yang akan dijadikan sebagai agrowisata.

4.1.1.4 Tanah

Jenis tanah daerah ini didominasi oleh Andisol dan Inseptisol. Kedalaman solum tanah di wilayah Desa Ketep 50% kurang dari 50 cm dan 50% antara 50-100 cm (Deptan, 2005). Andisol merupakan tanah yang memiliki sifat umum yaitu berwarna cokelat sampai hitam, sangat porous, sangat gembur, tidak plastis, tidak lekat, struktur granuler, pH 4,5-6, mengandung bahan organik antara 2-8 %, kejenuhan basa rendah, memiliki KPK tinggi, rendah kadar P dan kelembaban tanah lebih dari 15 %. Sedangkan Inseptisol adalah tanah yang memiliki epipedon okrik dan horison albik (Rachim, 2002). Hal ini menandakan kalau daerah ini tergolong daerah yang subur terutama untuk menunjang kegiatan budi daya tanaman.

Kondisi topografi dari Desa Ketep sangat bervariasi. Desa ini tidak memiliki lahan datar. Kondisi itu lebih disebabkan karena letak desa yang berada diperbukitan sehingga corak umum dari kemiringan tanah berkisar antara bergelombang hingga sangat curam. Hal itu dapat diketahui dari Tabel 5 yang merupakan hasil analisis dari data peta topografi Bakosurtanal tahun 2001.

Tabel 5. Persentase Kemiringan Tanah pada Tapak

Kelas Kemiringan (%) Luas (ha) Persentase Luas (%) Lereng Permukaan A 0 - 3 0 0 datar B 3 - 8 88,32 20 landai C 8 - 15 108,8 30 agak miring D 15 - 45 153,709 36 curam E > 45 68,096 14 sangat curam

Sumber: Hasil Analisis Tapak (2010)

Tabel tersebut menunjukkan bahwa lahan di Desa Ketep didominasi oleh lahan curam (36%). Hal ini mengindikasikan agar penggunaan area ini tidak seintensif daerah yang lebih landai darinya mengingat area ini sangat mudah longsor. Akan tetapi daerah ini pun memiliki potensi untuk dikembangkan mengingat persebarannya yang lebih strategis dari pada yang lainnya karena posisinya yang dilalui oleh jalan.

Tabel tersebut juga menerangkan bahwa 14% dari luas desa ini terdiri dari lahan sangat curam. Berdasarkan peta tata guna lahan dari Bakosurtanal yang tertera pada Gambar 7, sebagian besar wilayah tersebut terdapat pada lembah-lembah yang berada diantara bebukitan desa. Keberadaan daerah ini sangat penting, terutama sebagai daerah resapan air hujan dan pelindung tanah sehingga peluang untuk terjadinya longsor dapat diperkecil. Oleh karena itu daerah ini cocok untuk dijadikan area konservasi yang keberadaannya perlu untuk dipertahankan.

Menurut analisis literatur, daerah pada desa ini yang berpotensi untuk dikembangkan yaitu pada daerah dengan kemiringan landai (3-8%) dan agak miring (8-15%). Pada daerah ini dapat dikembangkan apa saja seperti pemukiman, dan sarana penunjang wisata lainnya seperti bangunan tempat istirahat, tempat duduk-duduk, shelter. Akan tetapi mengingat jumlahnya yang sedikit dan penyebaran yang acak tentu hanya daerah yang dianggap strategislah yang akan

dikembangkan. Letak kemiringan dapat dikatakan strategis bila mudah diakses dan memiliki cukup luasan. Pola penyebaran kemiringan lahan pada desa ini dapat dilihat pada Gambar 6.

Secara spasial penyebaran zona kemiringan lahan tidak merata atau terpecah-pecah. Pada bagian Barat, desa ini lebih didominasi oleh daerah dengan kelas B (landai). Pada bagian Selatan, desa ini didominasi oleh daerah dengan kelas E dan C. Sedangkan bagian Utara didominasi oleh kelas D. Bagian tengah dari desa didominasi oleh kelas D yang merupakan puncak desa yaitu Ketep Pass. Selanjutnya pada bagian Timur didominasi oleh kelas C dan D mengingat wilayah ini sudah mendekati Desa Banyuroto yang memiliki kemiringan lahan yang landai.

Setiap kelas kemiringan dan pola penyebarannya yang tertera pada Gambar 6 memiliki pola penggunahan lahan yang berbeda-beda pula. Perbedaan tersebut akan tampak jelas jika dilihat dari Gambar 7. Dari gambar tersebut kita dapat mengetahui bahwa penggunaan lahan pada desa ini terbagi menjadi 3 yaitu permukiman, tegalan dan kebun serta semak belukar. Hal ini sesuai dengan data dari BPS Kabupaten tahun 2007. Jika dianalisis lebih jauh dengan meng-overlay-kan peta tata guna lahan dengan peta zonasi kemiringan maka kita ameng-overlay-kan mengetahui bahwa tegalan permukiman pada kelas dan kebun berada pada kelas kemiringan B, C, D lalu permukiman pada kelas keiringan B, C, D serta semak belukar pada kelas kemiringan E.

Selain pola penggunaan lahan, kita juga dapat mengetahui luasan dari penggunaan lahan tersebut. Penggunaan lahan merupakan gambaran dari aktivitas warga dalam memanfaatkan lahan yang ada di lingkungan mereka. Secara tertulis luasan penggunaan lahan pada tapak tersaji pada Tabel 6.

Tabel 6. Persentase Penggunaan Lahan pada Tapak

Peruntukan lahan Luas (ha) Persentase luas (%)

Permukiman 20,48 4,88

Semak belukar 194,56 46,42

Tegalan/kebun 203,885 48,7

Dari data yang ada, proporsi terbesar dari penggunaan lahan pada tapak adalah untuk tegalan dan kebun yaitu seluas 203,885 ha. Ini menunjukkan bahwa alokasi lahan untuk kegiatan produksi dan pencukupan kebutuhan sangatlah tinggi. Selain itu, data tersebut memberitahukan bahwa penggerak utama roda perekonomian masyarakat berasal dari sektor pertanian yang dalam hal ini sangat sesuai dan mendukung dari konsep agrowisata yang akan dikembangkan.

Proporsi terbesar kedua dari pola penggunaan lahan adalah semak belukar yaitu seluas 194,56 ha. Data ini menunjukkan bahwa daerah yang tidak bisa bahkan sulit untuk dibangun dan dimanfaatkan juga sangat tinggi. Hal ini terjadi karena area ini memegang peranan penting sebagai pelindung tanah serta daerah resapan air mengingat letaknya yang berada pada lembah-lembah perbukitan. Selain itu akses menuju area ini juga tergolong sulit karena hanya tersedia jalan setapak yang cukup terjal.

Jika dibandingkan antara data pertama dengan kedua maka akan terlihat bahwa daerah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agrowisata tidak jauh berbeda dengan daerah konservasi yang harus dilindungi. Hal ini merupakan sinyal agar pengembangan lanskap agrowisata harus hati-hati serta memperhatikan keseimbangan terhadap alam.

Secara umum, lahan pada daerah Ketep yang dapat dikembangkan menjadi daerah agrowisata berada pada kelas B, C dan D. Pada lahan subur tersebut memungkin diadakannya bangunan infrastruktur wisata pertanian. Akan tetapi luasan daerah yang digunakan juga sangat ditentukan dari ada atau tidaknya atraksi pada daerah tersebut baik berupa pemandangan ataupun aktivitas masyarakat, potensi dan juga kemudahan akses dalam menjangkau tempat tersebut serta kemungkinan bahaya mengingat daerah ini juga memiliki area konsevasi yang cukup luas dan tersebar.

Dokumen terkait