• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data dan Analisis

4.1.2 Aspek Sosial

4.1.2.2 Tingkat keberlanjutan Masyarakat Desa Ketep

Berdasarkan data Penilaian Keberlanjutan Masyarakat (PKM) dari Global Ecovillage Network (GEN), status masayarakat Desa Ketep sudah menunjukkan awal yang baik ke arah keberlanjutan. Kesimpulan ini didapat dari hasil pengolahan kuesioner PKM yang disebarkan kepada masyarakat saat di lapang. Data hasil pengolahan tersebut dapat dilihat di dalam Tabel 11.

Tabel 11.Total Perhitungan Nilai Keberlanjutan Masyarakat Desa Ketep

No Parameter Nilai

1 Bobot total aspek ekologi 223

2 Bobot total aspek sosial 292

3 Bobot total aspek spiritual 264

Bobot total keseluruhan aspek 779

Sumber : Hasil Analisis PKM (2009)

Dari tabel tersebut diketahui bahwa awal yang baik ke arah keberlanjutan masyarakat Desa Ketep berada pada posisi 779 dari skala 0-1000. Nilai ini mengindikasikan bahwa konsep-konsep ecovillage sedikit banyak telah mereka terapkan meskipun mereka sendiri belum mengetahui akan teorinya. Untuk itu, pengarahan-pengarahan dari pemerintah setempat diperlukan guna memantapkan kondisi demikian. Hal ini menjadi modal penting dalam merencanakan daerah tersebut menjadi daerah agrowisata ke depannya.

Nilai keberlanjutan masyarakat Desa Ketep diperoleh dari hasil penjumlahan dari ketiga aspek penyusun keberlanjutan masyarakat itu sendiri yaitu aspek ekologi, sosial dan spiritual. Aspek ekologi merupakan aspek yang membahas tentang pola interaksi masyarakat dengan lingkungannya. Selain itu aspek ini juga bisa memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan masyarakat tersebut secara langsung.

Aspek ekologis masyarakat Desa Ketep menunjukkan bobot total yang menunjukkan awal yang baik ke arah keberlanjutan. Ini merupakan modal awal dari pengembangan kawasan Ketep mengingat daerah ini sudah menjadi daerah tujuan wisata sebelumnya. Hal itu dapat kita lihat pada Tabel 12 dibawah ini.

Tabel 12.Total Perhitungan Nilai Keberlanjutan Masyarakat Desa Ketep pada Aspek Ekologi

No Parameter Bobot

1 Perasaan terhadap tempat 37

2 Ketersediaan, produksi dan distribusi makanan 33 3 Infrastruktur, bangunan fisik dan transportasi 35 4 Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat 20

5 Sumber air, mutu dan penggunaannya 42

6 Limbah cair dan pengelolaan polusi air 12

7 Sumber dan penggunaan energi 44

Total nilai untuk aspek ekologis 223

Sumber : Hasil Analisis PKM (2009)

Dari data diatas terlihat bahwa bobot parameter ke-6 aspek ekologis yaitu mengenai limbah cair dan pengelolaan polusi air pada Desa Ketep adalah yang terkecil dengan total nilai 12. Nilai ini diberikan mengingat pemahaman penduduk tentang pengolahan limbah cair yang baik secara umum masih rendah. Meskipun sebagaian besar masyarakat telah menggunakan septic tank sebagai salah satu teknologi pengolah limbah namun limbah cair lainnya dibuang secara langsung ke jurang-jurang yang ada tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu baik itu limbah rumah tangga ataupun limbah cair hasil peternakan yang ada. Kondisi ini sangat berbahaya karena wilayah ini terletak didataran tinggi yang memungkinkan limbah tersebut terbawa oleh aliran air ke daerah yang ada dibawahnya. Hal ini menandakan kalau diperlukan suatu tindakan untuk mencapai keberlanjutan.

Satu tingkat diatas parameter terkecil dari aspek ekologi adalah parameter ke-4 yaitu pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat. Parameter ke-4 juga

menunjukkan diperlukannya perlakuan untuk menuju kearah keberlanjutan. Itu dapat dijelaskan dari pola konsumsi masyarakat yang cenderung mengambil sumber daya dari luar wilayah seperti bahan pangan. Selain itu teknologi pengolahan limbah padat belum banyak dikenal oleh masyarakat sehingga sampah-sampah padat selain sampah organik yang dihasilkan dibuang begitu saja ke jurang-jurang tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Beberapa masukan yang dapat diaplikasikan untuk memperbaiki dampak parameter ke-4 dan ke-6 diantaranya adalah memperbaiki sistem pengolahan limbah padat dan cair. Ini bisa dilakukan dengan membuat saluran khusus yang diperuntukkan bagi limbah cair tersebut yang terhubung dengan pusat-pusat pengolahan limbah dan daerah peresapan. Bagi limbah padat, diperlukan pula adanya sistem pengolahan limbah secara mandiri mengingat jauhnya TPA yang ada baik berupa stasiun pengolahan limbah dengan kapsitas kecil yang berada di dalam desa. Selain itu, peningkatan program penyadaran masyarakat juga perlu untuk dilakukan secara teratur guna menimbulkan semangat dan kebiasaan yang baik terhadap pengolahan limbah kedepannya.

Data pada Tabel 12 juga menunjukkan adanya perameter dominan untuk nilai awal yang baik menuju keberlanjutan pada Desa Ketep. Parameter itu ada pada parameter ke-5 yakni sumber air, mutu dan penggunaannya dan ke-7 yakni sumber dan penggunaan energi. Meskipun demikian parameter yang lain juga menunjukkan hal yang sama hanya saja masih dalam nilai yang cukup.

Seperti yang tercantum di dalam Tabel 12 parameter ke-5, masyarakat Ketep sangat memperhatikan sumber air mereka. Hal ini ditandai dengan tetap terpeliharanya mata air yang ada di desa tersebut meskipun jumlahnya sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan. kondisi tersebut juga mendorong masyarakat setempat untuk menghemat air dengan penggunaan yang minim serta menghindari hilangnya air dari kebocoran pipa penyalur air ke rumah-rumah mereka. Didukung dengan kondisi tanah yang selalu mengandung air maka tanaman yang ada pun tidak membutuhkan penyiraman yang intensif termasuk juga tanaman pertanian. Kondisi ini perlu untuk selalu dipertahankan.

Parameter ke-7 menjelaskan kalau masyarakat setempat merasa betah dengan kondisi desa yang seperti yang mereka alami saat ini. Kondisi itu yang

memudahkan mereka dalam mengakses kebutuhan makanan secara alami terutama sayuran, serta keberadaan transportasi yang lebih memudahkan mereka dalam membangun ekonomi.

Aspek selanjutnya sebagai penyusun dari bobot keberlanjutan Desa Ketep yaitu aspek sosial. Dari data pada Tabel 13 terlihat bahwa parameter ke-5 dari aspek sosial menunjukkan angka yang terkecil. Kondisi itu diakibatkan sebagian besar masyarakat masih berpendidikan rendah dan jarang ada penduduk yang bersekolah tinggi. Itu disebabkan karena beberapa hal diantaranya terbatasnya infrastruktur pendidikan hanya pada jenjang sekolah dasar dan menengah. Selain itu, faktor keuangan dan dorongan masyarakat untuk belajar masih tergolong rendah meskipun pada prinsipnya mereka sangat menghormati ilmu pengetahuan. Hal ini menandakan kalau diperlukan suatu tindakan untuk mencapai keberlanjutan.

Untuk itu pemerintah setempat perlu untuk menambah infrastruktur atau sarana lainnya dalam bidang pendidikan mengingat pendidikan merupakan unsur penting dalam menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Sarana itu dapat berupa gedung atau model belajar yang informal yang memberi mereka motivasi belajar serta keterampilan baru yang dibutuhkan guna menyiapkan mereka dalam mendukung perencanaan agrowisata kedepannya. Selain itu, pengusahaan beasiswa belajar bagi penduduk setempat juga perlu dikuatkan terutama pada usia sekolah guna menjamin keberlangsungan proses belajar tersebut.

Data Tabel 13 juga menerangkan akan adanya bobot terbesar pada dua aspek sosial yaitu aspek keterbukaan, kepercayaan, keselamatan dan ruang bersama (parameter 1) serta aspek keberlanjutan sosial (parameter 4) pada Desa Ketep. Nilai dari parameter pertama ini diperlihatkan dari kuatnya hubungan yang terjalin antar sesama penduduk desa bahkan hingga tingkat tetangga yang mengakibatkan adanya sikap saling menjaga antara satu dengan yang lainnya. Kondisi ini menjamin keamanan bagi setiap penduduk desa baik remaja, wanita dan anak-anak. Selain itu interaksi pergaulan sosial pada masyarakat desa juga berlangsung setiap hari sehingga rasa kepercayaan antara satu dengan yang lainnya mudah terbentuk.

Tabel 13. Total Perhitungan Nilai Keberlanjutan Masyarakat Desa Ketep pada Aspek Sosial

No Parameter Bobot

1 Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan, ruang bersama 52

2 Komunikasi-aliran gagasan dan informasi 33

3 Pencapaian jaringan dan jasa 49

4 Keberlanjutan sosial 52

5 Pendidikan 23

6 Pelayanan kesehatan 45

7 Keberlajutan ekonomi-ekonomi lokal yang sehat 38

Total nilai untuk aspek sosial 292

Sumber : Hasil Analisis PKM (2009)

Lain halnya dengan parameter keempat. Meskipun memiliki nilai yang sama dengan parameter pertama tetapi nilai ini tercermin dari tingginya hubungan kekeluargaan dan sistem musyawarah dalam mengatasi setiap permasalahan desa. Lembaga musyawarah yang difasilitasi oleh pemerintah desa bekerja secara efektif dalam menyerap aspirasi dari warga. Dalam hal ini, warga pun senantiasa dengan bentuk musyawarah yang ada karena hal itu sejalan dengan tradisi masyarakat jawa yang mereka anut secara turun temurun. Itulah nilai positif yang menjadi tradisi bagi masyarakat setempat dan perlu untuk dipertahankan.

Tabel 14. Total Perhitungan Nilai Keberlanjutan Masyarakat Desa Ketep pada Aspek Spiritual

No Parameter Bobot

1 Keberlanjutan budaya 59

2 Seni dan kesenangan 23

3 Keberlanjutan spiritual 29

4 Keterikatan masyarakat 51

5 Gaya pegas masyrakat 21

6 Pandangan terhadap dunia 35

7 Perdamaaian dan kesadaran global 46

Total nilai untuk aspek spiritual 264

Sumber : Hasil Analisis PKM (2009)

Aspek terakhir dari penyusun bobot keseluruhan nilai keberlanjutan masyarakat Desa ketep adalah aspek spiritual. Aspek ini pun menunjukkan angka yang menunjukkan bahwa aspek spiritual desa juga akan berlanjut. Data dari penilaian aspek tersebut tertera pada Tabel 14.

Dari data di atas terlihat bahwa parameter aspek ke-5 merupakan angka terkecil. Hal itu disebabkan karena masyarakat Desa Ketep kurang berani dalam membuka diri untuk meningkatkan kemampuannya dalam menangani krisis atau

permasalahan yang muncul di desa mereka. Selain itu, meskipun mereka memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat akan tetapi mereka tidak dapat saling mendukung masyarakat marjinal yang ada di desa mereka. Hal ini membutuhkan pendekatan yang baik dari pemerintah setempat agar kesadaran bahwa mereka perlu bersatu tidak hanya terikat karena adat dan tradisi bisa lebih baik.

Parameter terkecil yang ke-2 adalah seni dan kesenangan. Hampir setiap hari warga berkecimpung dengan dunia pertanian dan jarang sekali memiliki waktu untuk berekreasi dan melakukan aktifitas kesenangan seperti olah raga, menyalurkan hobi dan bersantai. Ruang bersama untuk aktivitas seni juga terbatas. Penduduk desa hanya menggunakan momen-momen tertentu saja dalam kalender tahunan untuk menyalurkan jiwa seni mereka. Untuk itu diperlukan adanya sarana atau fasilitas lain yang berfungsi sebagai penyaluran seni tersebut.

Data parameter ke-1 dan ke-4 merupakan parameter dengan nilai tertinggi dari aspek spiritual. Keterikatan masyarakat dan keberlanjutan budaya merupakan parameter yang menunjukkan kemajuan sempurna menuju keberlanjutan. Disini warga senantiasa mengajarkan warisan budaya yang mereka miliki kepada anak-anak mereka. Kesadaran mereka terhadap budaya leluhur masih tinggi dan terpelihara. Hubungan yang terjalin dalam masyarakat baik sesama pria atau wanita, anak-anak dan orang dewasa sangat baik dengan tetap dipatuhinya norma-norma yang berlaku di masyarakat tersebut. Kondisi ini perlu untuk dipertahankan agar tradisi masyarakat tetap lestari.

Dokumen terkait