• Tidak ada hasil yang ditemukan

Letak, Luas dan Batas Wilayah

Dalam dokumen WALIKOTA MAGELANG PROVINSI JAWA TENGAH (Halaman 27-34)

BAB VI KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH

2.1 KONDISI UMUM DAERAH

2.1.1 Aspek Geografi

2.1.1.1 Letak, Luas dan Batas Wilayah

Wilayah Kota Magelang tidaklah terlalu luas dibandingkan wilayah di sekitarnya. Berdasarkan Permendagri Nomor 64 Tahun 2017 tentang Batas Wilayah Kabupaten Magelang dengan Kota Magelang Propinsi Jawa Tengah, maka wilayah Kota Magelang mendapat luasan wilayah terkait dengan perluasan batas wilayah Kota Magelang seluas 41,64 km².

Jadi total Kota Magelang memiliki luas wilayah 1.853,64 Ha atau 18,54 km². Luas wilayah Kota Magelang dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 2.1

Peta Administrasi Kota Magelang Sumber : RTRW Kota Magelang 2011 – 2031

Kota Magelang secara administratif terbagi menjadi 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Magelang Utara, Kecamatan Magelang Tengah, dan Kecamatan Magelang Selatan serta 17 (tujuh belas) kelurahan yang masing-masing kelurahan memiliki luas wilayah rata-rata tidak lebih dari 2 km². Gambaran secara rinci luas tiap kecamatan/kelurahan di Kota Magelang sesuai dengan Permendagri Nomor 64 Tahun 2017, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1

Luas Kecamatan dan Kelurahan di Kota Magelang

No. Kecamatan dan Kelurahan Luas / Area (Km2) Persentase (%)

01. KEC. MAGELANG SELATAN 713.15 38,47

1. Kel. Jurangombo Utara 65.66 3.54

2. Kel. Jurangombo Selatan 212.07 11.44

3. Kel. Magersari 156.49 8.44

No. Kecamatan dan Kelurahan Luas / Area (Km2) Persentase (%)

4. Kel. Tidar Utara 110.11 5.94

5. Kel. Tidar Selatan 131.51 7,09

6. Kel. Rejowinangun Selatan 37.31 2,01

02. KEC. MAGELANG TENGAH 510.11 27.52

1. Kel. Magelang 123.67 6.67

2. Kel. Kemirirejo 85.81 4,63

3. Kel. Cacaban 85.75 4,63

4. Kel. Rejowinangun Utara 90.50 4.88

5. Kel. Panjang 35.52 1.92

6. Kel. Gelangan 88.87 4.79

03. KEC. MAGELANG UTARA 630.37 34.01

1. Kel. Wates 118.0 6,37

2. Kel. Potrobangsan 135.13 7,29

3. Kel. Kedungsari 132.33 7.14

4. Kel. Kramat Utara 99.78 5.38

5. Kel. Kramat Selatan 145.14 7.38

JUMLAH 1,853.64 100,00

Sumber: Modul Luas Daerah Kota Magelang menurut Kecamatan/Kelurahan, Tahun 2018.

Sebagai Kota terkecil di Jawa Tengah yang hanya menempati areal sebesar 0,66% dari keseluruhan luas Propinsi Jawa Tengah, Kota Magelang memiliki batas wilayah dengan Kabupaten Magelang yang telah ditetapkan melalui Permendagri 64 Tahun 2017 seperti ditunjukkan pada Gambar 2.2. Peraturan ini menjadi salah satu dasar bagi Pemerintah Kota Magelang dalam menjalakankan segala kegiatan pembangunan yang memiliki implikasi keruangan.

Gambar 2.2

Batas Wilayah Kota Magelang sesuai dengan Permendagri 64 Tahun 2017

2.1.1.2 Topografi

Secara topografi dan fisiografis, Kota Magelang merupakan wilayah dataran yang di kelilingi oleh Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing, Pegunungan Gianti, Menoreh, Andong dan Telomoyo. Dilihat dari ketinggiannya, Kota Magelang berada di ketinggian antara 375–500 mdpl dengan titik ketinggian tertinggi pada Gunung Tidar yaitu 503 mdpl. Keberadaan Gunung Tidar merupakan kekhasan (landmark) Kota Magelang yang tidak dimiliki oleh banyak wilayah lain. Selain sebagai kawasan lindung dengan kemiringan hingga 30–40% dan berada di sebelah timur

kompleks AKMIL, Gunung Tidar juga berfungsi sebagai paru-paru kota yang menjadikan iklim Kota Magelang selalu berhawa sejuk.

Tabel 2.2 Tabel Kemiringan Lereng

No Kemiringan lereng Luas (Ha) % 1 2 - 15% 1,164.671674 62.79 2 15 - 25% 421.3464476 22.72 3 25 - 40% 237.8845045 12.83 4 Lebih 40% 30.77723945 1.66

TOTAL 1,854.679865 100

Sumber: Dinas ESDM Jateng 2011

Kota Magelang termasuk dataran rendah dengan sudut kemiringan relatif bervariasi. Kemiringan topografi yang terjal berada di bagian barat (sepanjang Sungai Progo) dan di sebelah timur (di sekitar Sungai Elo) sampai dengan kemiringan 15-30%. Mayoritas wilayah kota Magelang adalah pada tingkat kemiringan 2-15% dan mencapai luasan 62,79% dari luas wilayah Kota Magelang. Wilayah dengan tingkat kemiringan 2-5% memiliki medan yang landai dan berelief sedang-halus. Wilayah ini berada di sekitar daerah timur kompleks AKMIL ke Utara hingga daerah di sekitar RSJ Magelang dengan kemiringan 2–5%.

Gambar 2.3 Peta Topografi Kota Magelang

Bentuk fisik Kota Magelang saat ini relatif memanjang mengikuti jaringan jalan arteri. Dengan kondisi fisik tersebut, kecenderungan pertumbuhan alamiah Kota Magelang adalah ke arah utara dan selatan dengan dominasi area terbangun di daerah yang mempunyai topografi relatif datar. Namun dengan keterbatasan wilayah, maka dimungkinan arah pengembangan permukiman ke daerah daerah yang bertopografi dan berkontur tajam.

Gambar 2.4 Pola Kelerengan Kota Magelang Sumber : RTRW Kota Magelang 2011 – 2031

2.1.1.3 Geologi

Kondisi geologi Kota Magelang tersusun dari batuan gunung api sehingga litologi yang menempati Kota Magelang sebagian besar batu pasir tufaan (lepas) dan breksi. Potensi kandungan tanah Kota Magelang sebagian besar berupa batu pasir lepas dan konglomerat hasil produksi gunung berapi yang merupakan endapan kwarter yang mempunyai sifat sangat poreous (kelulusan air tinggi), serta penurunan terhadap beban kecil, mendekati nol (0). Daya dukung terhadap bangunan berkisar antara 5kg/ cm2–19 kg/ cm².

Ditinjau dari satuan morfologi, pendataran alluvium tersebar sampai di bagian selatan dan tempat-tempat di pinggir Sungai Progo dan Sungai Elo. Tersusun oleh batuan hasil rombakan batuan yang lebih tua, yang bersifat lepas.

Umumnya berada pada ketinggian antara 250 – 350 m, berelief halus dengan kemiringan sebesar 3-8 %. Daerah ini dialiri oleh Sungai Progo dan Sungai Elo yang mengalir dengan pola Sum Meander.

2.1.1.4 Hidrologi

Sumber air di Kota Magelang dapat digolongkan dari air pemukaan dan air tanah. Yang dimaksud dengan air permukaan adalah air yang terkumpul di atas tanah atau di mata air, sungai, danau, lahan basah dan laut. Air permukaan tidak lepas dari air bawah tanah. Siklus hidrologi akan membuat sumber air terbarukan. Namun walaupun air merupakan sumber daya yang terbarukan, jumlah yang tersedia digunakan manusia saat ini terutama di Kota

Magelang dipengaruhi oleh beberapa ancaman, mulai dari polusi air, pertumbuhan perkotaan, perubahan lanskap, kekeringan dan perubahan iklim.

Air permukaan di Kota Magelang berupa sungai, saluran irigasi dan mata air. Kota Magelang memiliki 2 (dua) sungai yang cukup besar, yaitu Sungai Elo di sebelah timur dan Sungai Progo di sebelah barat. Kedua sungai tersebut juga menjadi batas alamiah yang menentukan letak administrasi Kota Magelang. Sedangkan potensi air tanah relatif bervariasi dengan kedalaman antara 5 meter sampai dengan 20 meter. Air tanah di Kota Magelang kurang menguntungkan jika dikembangkan mengingat air tanah yang ada mayoritas cukup dalam dengan aquifer yang dangkal, sehingga sulit untuk dikembangkan (dipompa).

Untuk kebutuhan air bersih Kota Magelang sampai saat ini bergantung pada sumber-sumber air yang ada di luar wilayah Kota Magelang yaitu dari mata air yang berada di wilayah Kabupaten Magelang dan satu-satunya mata air yang berada di Kawasan Kota Magelang adalah Mata Air Tuk Pecah. Sumber mata air tersebut adalah:

1. Mata air Wulung sebesar 60 lt/det.

2. Mata air Kalegen sebesar 40 lt/det.

3. Mata air Kalimas sebesar 210 lt/det 4. Mata air Kanoman sebesar 175 lt/det.

5. Mata air Tuk Pecah sebesar 100 lt/det.

Di kawasan Kota Magelang juga terdapat 2 (dua) saluran air yaitu: (i) Kali Bening (Kali Kota), dan (ii) Kali Progo Manggis. Saluran tersebut juga dapat berfungsi sebagai saluran irigasi teknis.

Berdasarkan data pemakaian air minum pada tahun 2016 sebesar 7.606.319 unit. Apabila di bandingkan dengan data tahun 2015 sebesar 7.434.942 unit maka terjadi kenaikan kebutuhan dari penggunaan air PDAM di Kota Magelang.

Sementara data tahun 2017 penggunaan air PDAM sebanyak 7.633.558 unit dan pada tahun 2018 jumlah pemakaian air minum adalah 7.851.440.00 unit. Jadi dari data diatas dapat di lihat jumlah pemakaian air minum terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat. Apabila perkiraan kebutuhan air bersih perorangan adalah sebesar 60 liter/hari maka jika dikalikan dengan jumlah penduduk Kota Magelang pada tahun 2017 kapasitas mata air yang tersedia masih mampu untuk mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat Kota Magelang walaupun masih mengandalkan sumber air yang berasal dari kabupaten Magelang. Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat semakin hari kebutuhan air bersih akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan air masih bergantung pada mata air yang berada di daerah lain.

2.1.1.5 Klimatologi

Secara klimatologi, Kota Magelang seperti kondisi umum di Indonesia yang mempunyai iklim tropik basah yang dipengaruhi oleh angin muson barat dan muson timur. Kota Magelang termasuk wilayah beriklim sejuk, yang memiliki curah hujan cukup tinggi pada musim penghujan. Data klimatologi menurut Badan Pengelolaan Sumber Daya Air, dalam kurun waktu Tahun 2019 total rata-rata curah hujan sebanyak 10,67 mm dengan jumlah total curah hujan sepanjang tahun sebanyak 128,00 mm. Sedangkan pada tahun 2018 total curah hujan sepanjang tahun sebanyak 141,00 mm. Pada tahun 2018 bahwa rata-rata curah hujan sebanyak 193.00 mm. Berdasarkan data iklim rata-rata curah hujan bulanan di kawasan Kota Magelang dalam jangka waktu lima tahun tersaji pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.3

Rata-Rata Curah Hujan Per Hari Kota Magelang (mm/hari)

Bulan 2015 2016 2017 2018 2019 Januari 24.00 28.00 24.00 24.00 28.00 Februari 21.00 22.00 23.00 23.00 23.00 Maret 22.00 32.00 17.00 17.00 22.00 April 22.00 21.00 21.00 13.00 17.00 Mei 8.00 14.00 6.00 9.00 5.00 Juni 3.00 11.00 10.00 5.00 -

Juli - 11.00 6.00 - -

Agustus - 10.00 - - -

Bulan 2015 2016 2017 2018 2019 September - 19.00 4.00 6.00 - Oktober - 12.00 18.00 2.00 2.00 November 15.00 20.00 25.00 19.00 11.00 Desember 22.00 19.00 18.00 23.00 20.00 Jumlah 137.00 219.00 171.96 141.00 128.00 Rata-rata 11.42 18.25 14.33 11.75 10.67

Sumber: Modul Banyaknya Curah dan Hari Hujan menurut Stasiun CBD 90 di Kota Magelang Tahun 2019

Dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir, rata-rata curah hujan per hari terjadi pada tahun 2016 sebanyak 18,25 mm/hari. Apabila dilihat dari tren yang ada, curah hujan rata-rata per hari semakin sedikit yakni pada tahun 2019 hanya sebanyak 10.67 mm/hr. Hal ini perlu disikapi agar keseimbangan antara kebutuhan air dan air yang diperoleh oleh masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.

Tingginya curah hujan pada bulan-bulan tertentu di sepanjang tahun meningkatkan upaya waspada terhadap akibat negatif yang ditimbulkan oleh kondisi dan situasi cuaca dan iklim yang ekstrim. Hal yang perlu diwaspadai misalnya terjadi banjir di beberapa ruas jalan yang disebabkan karena resapan yang kurang dan bencana pohon tumbang yang disebabkan hujan disertai anging kencang serta bencana longsor.

Dalam dokumen WALIKOTA MAGELANG PROVINSI JAWA TENGAH (Halaman 27-34)