Capaian iBangga
4) Level Maturitas Penilaian Mandiri Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
54
Penilaian mandiri maturitas SPIP di lingkungan BKKBN dilakukan terhadap kondisi penyelenggaran SPIP pada 58 Unit Kerja Eselon (UKE) II di tingkat pusat dan provinsi serta satu unit kerja di lingkungan Inspektorat Utama. Penilaian meliputi 5 unsur pengendalian intern dan 25 sub-unsur sebagaimana terurai dalam Peraturan Kepala BPKP No. 4 Tahun 2016 tentang Pedoman Penilaian dan Strategi Peningkatan Maturitas SPIP. Periode yang dinilai adalah penyelenggaran SPIP sampai dengan tahun berjalan atau tahun 2020.
Mekanisme penilaian maturitas melalui 3 (tiga) tingkatan, yaitu penilaian mandiri oleh unit kerja, pengujian bukti, dan penilaian sementara oleh Tim Asesor Internal dari Inspektorat Utama serta quality assurance oleh Tim QA dari BPKP. Berdasarkan hasil reviu Ketua Tim Assessor atau bertindak selaku Power Assessor, uraian skor akhir maturitas SPIP Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 3,976. Namun, nilai ini belum dilakukan quality assurance oleh Tim QA dari BPKP. Skor sementara ini diatas target tingkat maturitas SPIP BKKBN sebesar 3,695 atau diatas target tingkat maturitas SPIP BKKBN tahun 2020 sebesar 3,4.
Tabel 3.16 Level Maturitas SPIP Tahun 2020
Indikator Target BKKBN Skor Skor Capaian Provinsi Capaian Status
Level Maturitas Penilaian Mandiri Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
3.4 3.695 3.976
Sumber Data: Laporan Hasil SPIP, 2020
Adapun rincian frekuensi kategori maturitas dengan uraian sebagai berikut:
Tabel 3.17 Rincian Frekuensi Kategori Maturitas SPIP Tahun 2020
UNIT
KERJA SKOR
Rincian Frekuensi Kategori Maturitas Belum
ada Rintisan Berkembang Terdefinisi
Terkelola & Terukur
Level 0 Level 1 Level 2 Level 3 Level 4
Perwakilan BKKBN Provinsi
55
Sumber Data: Laporan Hasil SPIP, 2020
Dengan tingkat maturitas “terdefinisi”, maka karakteristik penyelenggaran SPIP secara umum menunjukkan bahwa Perwakilan BKKBN Sumatera Selatan telah menetapkan, mengkomunikasikan, dan melaksanakan kebijakan serta prosedur pengendalian kegiatan pokok organisasi. Namun, hal tersebut belum sepenuhnya melakukan evaluasi atas efektivitas pelaksanaan kebijakan dan prosedur pengendalian atas kegiatan pokok secara berkala, formal, dan terdokumentasi. Catatan bahwa sebagian kecil unit kerja belum secara konsisten mendokumentasikan sebagian pelaksanaan kebijakan dan prosedur pengendalian serta catatan bahwa sebagian kecil unit kerja belum secara konsisten mendokumentasikan sebagian pelaksanaan kebijakan dan prosuder pengendalian.
Upaya Peningkatan Maturitas SPIP untuk meningkatkan maturitas ke tingkat berikutnya, maka hal yang perlu diperbaiki secara umum pada tingkat “terdefinisi” adalah
a) Mengembangkan rencana pelaksanaan kegiatan pengendalian khususnya pada tiap kegiatan utama organisasi, termasuk atas risiko pengelolaan sumber daya (keuangan, aset, SDM, dan teknologi informasi) yang digunakan untuk mencapai tujuan utamanya dengan/ melalui penggunaan teknologi informasi yang terintegrasi sekaligus untuk mempermudah aktivitas pemantauan berkelanjutan;
b) Mengembangkan rencana pelaksanaan evaluasi (secara berkala, formal, dan terdokumentasikan) terhadap efektivitas keijakan/prosedur pengendalian kegiatan pokok organisasi.
Berdasarkan rincian skor pada tiap sub-unsur/ fokus maturitas, Area of impovement kegiatan pengendalian intern di lingkungan Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut:
a) Sub Unsur Kepemimpinan yang Kondusif Sumatera
56
Unit organisasi sepenuhnya belum dapat menunjukkan bukti hasil evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasikan terhadap kebijakan mengenai Sistem Manajemen Kinerja (SMK), yaitu bentuk Laporan Kinerja BKKBN minimal BB;
b) Sub Unsur Identifikasi Risiko
Unit organisasi belum dapat secara konsisten memantau pelaksanaan kebijakan identifikasi risiko, penetapan daftar risiko, serta belum memiliki rencana evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap pelaksanaan kebijakan identifikasi risiko dan penetapan daftar risiko;
c) Sub Unsur Analisis Risiko
Unit organisasi belum dapat secara konsisten memantau pelaksanaan kebijakan analisis risiko, penetapan Rencana Tindak Pengendalian (RTP), serta belum memiliki rencana evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap pelaksanaan kebijakan analisis risiko dan penetapan RTP;
d) Sub Unsur Reviu atas Kinerja Instansi Pemerintah
Unit organisasi belum sepenuhnya dapat menunjukkan bukti hasil evaluasi secra berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap kebijakan evaluasi kinerja dan tindak lanjut hasil evaluasi kinerja, yaitu bentuk perbaikan akuntabilitas kinerja yang ditunjukkan melalui peningkatan nilai Laporan Kinerja BKKBN minimal BB;
e) Sub Unsur Penetapan dan Reviu Indikator
Unit organisasi belum sepenuhnya dapat menunjukkan bukti hasil evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap kebijakan Indikator Kinerja Utama (IKU), yaitu bentuk perbaikan akuntabilitas kinerja yang ditunjukkan melalui peningkatan nilai Laporan Kinerja BKKBN minimal BB; f) Sub Unsur Otorisasi Transaksi dan Kejadian Penting
Unit organisasi belum sepenuhnya dapat menunjukkan bukti proses dan hasil evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap kebijakan yang terkait dengan otorisasi transaksi dan kejadian penting. Antara lain terkait/
57
mencakup transaksi keuangan termasuk pengadaan barang/ jasa, aset, kepegawaian, dan/atau kegiatan utama.
Dalam upaya mempertahankan tingkat maturitas pengendalian dengan kategori “terdefinisi” atau level 3 dan sebagai basis pengembangan maturitas pengendalian intern menuju level 4, diperlukan:
a) Penguatan mekanisme atau sistem pendokumentasian proses dan hasil pelaksanaan komunikasi, implementasi, pemantauan maupun evaluasi kebijakan, dan prosedur pengendalian intern melalui aplikasi yang dimaksudkan untuk memenuhi salah satu karakteristik level 3. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Edaran Deputi Bidang PPKD selaku Penanggung Jawab TKPP SPIP No. SE-002/D3/02/2018 tanggal 29 Juni 2018 perihal Penjelasan Teknis Parameter Pemenuhan Level Maturitas SPIP.
b) Perencanaan atas pembangunan sistem manajemen risiko yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas penjamin terhadap perencanaan strategis, pengambilan keputusan, dan pencapaian tujuan organisasi yang efektif, efisien, dan ekonomis serta meminimalisir kelemahan pengendalian yang material dari hasil pemeriksaan BPK dan APH; dan
c) Pengembangan kapabilitas APIP dengan penekanan pada aspek pengawasan terhadap risiko kualitas pencapaian kinerja organisasi.
Terkait uraian Area of Improvement untuk meningkatkan maturitas pengendalian intern BKKBN ke tingkat “terkelola dan terukur” atau level 4, secara umum upaya peningkatan unit organisasi Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan perlu menyusun rencana dan melaksanakan hal sebagai berikut :
a) Evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap kebijakan mengenai SMK, IKU, evaluasi kinerja, dan tindak lanjut hasil evaluasi kinerja sebagai bentuk perbaikan akuntabilitas kinerja untuk meningkatkan nilai Laporan Kinerja BKKBN Provinsi Sumatera Selatan minimal BB;
b) Pemantauan kemajuan pelaksanaan kebijakan penilaian risiko dan evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap kebijakan mengenai penilaian risiko (mencakup identifikasi risiko, penetapan daftar risiko, analisis risiko, penyusunan, pelaksanaan, dan perbaikan RTP);
58
c) Evaluasi secara berkala, formal, dan terdokumentasi terhadap kebijakan terkait otorisasi transaksi dan kejadian penting, misalnya terkait/mencakup transaksi keuangan termasuk pengadaan barang/jasat, aset, kepegawaian, dan/atau kegiatan utama.
A.3 Capaian Kinerja Output Proyek Prioritas Nasional